Telemedicine, sudah sangat berkembang di dunia barat… Terutama di USA
Ternyata di negara sebesar USA, persebaran dokter spesialis masih belum merata. Sehingga kadang di suatu negara bagian, ada dokter spesialis yang untuk janjian konsultasi waktu tunggunya bisa berhari-hari hingga berminggu-minggu
Akhirnya berkembanglah teknologi IT, Telemedicine. Intinya pasien bisa langsung konsultasi ke dokter spesialis, cukup melalui video call misalnya.
Dan, salah satu yang paling berkembang adalah Teledermatologi,…
suatu bentuk layanan telemedicine yang mempertemukan pasien dengan dokter spesialis dermatologi (SpKK)…
Teledermatologi sangat berkembang karena kemudahannya. Pasien tinggal menyampaikan keluhannya, dan kirim foto lesinya. Diagnosis dibuat, dan terapi diberikan. Keren kan? Layanan teledermatologi sangat hype di USA
Sayang, di Indonesia regulasinya masih belum jelas. Dokter harus bertemu langsung dengan pasien untuk membuat diagnosis dan memberikan resep.
13 Sep 2018
Salah satu tujuan utama tatalaksana Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) adalah mencegah komplikasi kardiovaskuler, baik komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler. HbA1c merupakan salah satu indikator keberhasilan pengendalian gula darah pada pasien DMT2. Pada kenyataannya banyak pasien DMT2 yang gagal mencapai kadar HbA1c < 7%, sehingga beresiko lebih tinggi mengalami komplikasi kardiovaskuler.
Prof. Dr. Ketut Suastika, dr, SpPD-KEMD dalam Bali Endocrine Update 2018, menyampaikan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan banyak pasien gagal mencapai target HbA1c < 7% adalah pendekatan terapi diabetes yang konservatif di masa lalu. Pasien DMT2 diterapi dengan diet dan latihan fisik terlebih dahulu, bila tidak berhasil baru diterapi dengan monoterapi, jika tidak berhasil diberi terapi kombinasi 2 obat, dan seterusnya. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa paradigma tatalaksana DMT2 mengacu pada beberapa Guideline terbaru (ADA 2018 dan AACE 2017) saat ini lebih progresif.
Pendekatan terapi yang lebih progresif didasarkan pada kenyataan bahwa sering kali pasien saat didiagnosis sudah menderita DMT2 dalam waktu yang lama, dan sudah mengalami berbagai komplikasi dengan variabilitas spektrum yang luas. Hal tersebut seyogyanya dipahami oleh dokter di Faskes Primer untuk lebih optimal dalam mencapai target hiperglikemik, terutama HbA1c.
16 Aug 2018
"Ngomong2 ttg hba1c . misal ada px DM. Hasil hba1c 10,5 %. gdp gdpp nya nggak bagus2 banget. Tapi masih dibawah 250 lah dgn obat oral. Tekanan darah bagus terus. Belum ada tanda2 komplikasi. Apa iya harus dimulai insulin?"
Well, ini bagus banget pertanyaannya. Sering banget kita temui dalam praktek sehari-hari.
Dan, sayangnya kita sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan (dokter di faskes primer), sering kali terlambat memulai terapi insulin. Masih banyak mental block yang menghambat keputusan kita memulai insulin bagi pasien.
3 Aug 2018
Terapi medika mentosa yang lain yang disarankan adalah terapi steroid. Terapi steroid diberikan pada meningitis TB dan perikarditis TB karena telah terbukti efektif untuk mencegah komplikasi jangka panjang yaitu hidrosefalus dan perikarditis konstiktiva.
Untuk meningitis TB diberikan deksametason 12 mg/hari atau 0,4 mg/kgBB/hari selama 3 minggu, kemudian dosis diturunkan secara bertahap dalam 3-5 minggu kemudian, dengan mengevaluasi perbaikan klinis.
Pada perikarditis TB diberikan prednison 60 mg/hari atau 1 mg/kgBB/hari selama 3 minggu, selanjutnya dosis diturunkan secara bertahap selama 3-5 minggu. Walaupun pada efusi pleura pemberian steroid dapat penymbuhan dan mempercepat perbaikan klinis, namun tidak dapat mencegah komplikasi fibrosis atau penebalan pleura. Pada peritonitis Tb dan TB Saluran Kemih pemberian steroid tidak disarankan karena efektivitasnya dalam mencegah terjadinya komplikasi obstruksi usus dan komplikasi stenosis ureter belum terbukti.
2 Aug 2018