Kombinasi beberapa abnormalitas metabolik pada seorang pasien dengan risiko kardiovaskuler yang tinggi sudah dikenal sejak lama. Reaven dalam Banting Lecture di Annual Meeting American Diabetes Association tahun 1988 menggunakan istilah “Syndrome X†untuk menjelaskan fenomena tersebut. Peneliti lain menggunakan istilah “Insulin Resistant Syndrome†untuk menggambarkan kemungkinan penyebab dari sindrom tersebut. Sebagian besar peneliti sepakat bahwa sindrom tersebut dapat menyebabkan komplikasi yang serius dan menduga resistensi insulin sebagai faktor patogenesis utama. Dalam perkembangannya, saat ini sindrom tersebut dikenal luas sebagai "Metabolic Syndrome".
19 Sep 2018
Kasus pioderma, khususnya folikulitis/furunkel/karbunkel adalah salah satu diagnosis yang paling banyak ditanyakan TS di Group Diskusi Klinis FKTP (DKFKTP). Meskipun sederhana, namun tidak jarang TS mengalami kesulitan untuk membedakan apakah lesi yang muncul karena alergi, infeksi jamur atau bakteri.
Di bawah ini adalah beberapa kasus yang berhasil dirangkum dari jawaban konsul kasus kulit dr Ardsari, SpKK, khususnya kasus pioderma.
Kasus 1
16 Sep 2018
Telemedicine, sudah sangat berkembang di dunia barat… Terutama di USA
Ternyata di negara sebesar USA, persebaran dokter spesialis masih belum merata. Sehingga kadang di suatu negara bagian, ada dokter spesialis yang untuk janjian konsultasi waktu tunggunya bisa berhari-hari hingga berminggu-minggu
Akhirnya berkembanglah teknologi IT, Telemedicine. Intinya pasien bisa langsung konsultasi ke dokter spesialis, cukup melalui video call misalnya.
Dan, salah satu yang paling berkembang adalah Teledermatologi,…
suatu bentuk layanan telemedicine yang mempertemukan pasien dengan dokter spesialis dermatologi (SpKK)…
Teledermatologi sangat berkembang karena kemudahannya. Pasien tinggal menyampaikan keluhannya, dan kirim foto lesinya. Diagnosis dibuat, dan terapi diberikan. Keren kan? Layanan teledermatologi sangat hype di USA
Sayang, di Indonesia regulasinya masih belum jelas. Dokter harus bertemu langsung dengan pasien untuk membuat diagnosis dan memberikan resep.
13 Sep 2018
Salah satu tujuan utama tatalaksana Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) adalah mencegah komplikasi kardiovaskuler, baik komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler. HbA1c merupakan salah satu indikator keberhasilan pengendalian gula darah pada pasien DMT2. Pada kenyataannya banyak pasien DMT2 yang gagal mencapai kadar HbA1c < 7%, sehingga beresiko lebih tinggi mengalami komplikasi kardiovaskuler.
Prof. Dr. Ketut Suastika, dr, SpPD-KEMD dalam Bali Endocrine Update 2018, menyampaikan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan banyak pasien gagal mencapai target HbA1c < 7% adalah pendekatan terapi diabetes yang konservatif di masa lalu. Pasien DMT2 diterapi dengan diet dan latihan fisik terlebih dahulu, bila tidak berhasil baru diterapi dengan monoterapi, jika tidak berhasil diberi terapi kombinasi 2 obat, dan seterusnya. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa paradigma tatalaksana DMT2 mengacu pada beberapa Guideline terbaru (ADA 2018 dan AACE 2017) saat ini lebih progresif.
Pendekatan terapi yang lebih progresif didasarkan pada kenyataan bahwa sering kali pasien saat didiagnosis sudah menderita DMT2 dalam waktu yang lama, dan sudah mengalami berbagai komplikasi dengan variabilitas spektrum yang luas. Hal tersebut seyogyanya dipahami oleh dokter di Faskes Primer untuk lebih optimal dalam mencapai target hiperglikemik, terutama HbA1c.
16 Aug 2018