6 Jan 2026 •
Vaginosis Bakterialis (VB) merupakan kondisi yang paling sering menjadi penyebab keluhan duh (keputihan) pada vagina selama usia reproduktif. Namun, memandangnya hanya sebagai infeksi ringan adalah sebuah kekeliruan klinis yang signifikan, terutama dalam konteks kehamilan.
VB secara fundamental bukanlah sebuah infeksi klasik yang disebabkan oleh satu patogen tunggal, melainkan sebuah sindrom polimikroba yang kompleks, atau lebih tepatnya, sebuah disbiosis ekosistem vagina. Kondisi ini ditandai oleh pergeseran dramatis dari mikrobiota vagina yang sehat dan didominasi oleh spesies Lactobacillus protektif, menjadi suatu kondisi di mana terjadi pertumbuhan berlebih dari beragam bakteri anaerob.
Prevalensi VB pada wanita hamil cukup tinggi, berkisar antara 10% hingga lebih dari 40%, bervariasi tergantung pada populasi yang diteliti dan kriteria diagnostik yang digunakan. Keberadaan VB selama kehamilan telah menarik perhatian besar dari komunitas klinis dan ilmiah karena hubungannya yang kuat dan konsisten dengan berbagai
komplikasi Vaginosis Bakterialis dalam kehamilan yang merugikan, baik bagi ibu maupun janin. Hubungan ini menempatkan VB sebagai salah satu faktor risiko infeksius yang paling signifikan dalam praktik obstetri modern.
Meskipun asosiasi antara VB dan luaran kehamilan yang buruk telah terbukti kuat, sebuah paradoks klinis yang membingungkan tetap ada: intervensi terapeutik yang efektif dalam memberantas bakteri penyebab VB ternyata secara konsisten gagal dalam mencegah komplikasi utamanya, yaitu persalinan prematur. Tinjauan klinis ini bertujuan untuk memberikan sintesis komprehensif berbasis bukti yang ditujukan bagi para praktisi klinis, khususnya Dokter Umum di lini pertama.
Laporan ini akan membedah secara mendalam patofisiologi VB, mengkuantifikasi risiko komplikasi obstetri mayor, menganalisis paradoks klinis yang kompleks seputar skrining dan terapi, serta mengeksplorasi arah manajemen di masa depan, yang seluruhnya didasarkan pada literatur ilmiah terkini yang terindeks di PubMed.

Untuk memahami spektrum komplikasi Vaginosis Bakterialis dalam kehamilan, pemahaman mendalam mengenai patofisiologinya menjadi esensial. Proses ini bukanlah invasi bakteri sederhana, melainkan sebuah kaskade biologis kompleks yang dimulai dari perubahan ekosistem vagina dan berujung pada respon inflamasi maternal yang merusak.
Vagina yang sehat (eubiosis) merupakan sebuah ekosistem yang didominasi oleh spesies Lactobacillus. Bakteri ini memainkan peran krusial dalam pertahanan dengan memproduksi asam laktat, yang menjaga pH vagina tetap asam (di bawah 4.5), serta menghasilkan senyawa protektif lain seperti hidrogen peroksida. Lingkungan asam ini bersifat menghambat pertumbuhan mayoritas bakteri patogen.
VB merepresentasikan sebuah pergeseran ekologis yang drastis (disbiosis), di mana terjadi penurunan tajam populasi Lactobacillus dan peningkatan konsentrasi bakteri anaerob hingga 1.000 kali lipat. Organisme kunci yang mendominasi pada kondisi VB antara lain Gardnerella vaginalis, Fannyhessea vaginae (sebelumnya dikenal sebagai Atopobium vaginae), dan spesies Prevotella.
Gambar 1. Perubahan gaya hidup berhubungan dengan penurunan Risiko VB

Salah satu ciri patogenik utama VB adalah pembentukan biofilm polimikroba yang padat dan terstruktur, yang melekat erat pada sel epitel vagina. Biofilm ini, yang arsitek utamanya Adalah G. vaginalis, berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi komunitas bakteri patogenik. Ia melindungi bakteri dari sistem imun pejamu dan, yang lebih penting secara klinis, dari penetrasi agen antimikroba. Persistensi biofilm ini diyakini menjadi penyebab utama tingginya angka kegagalan terapi dan rekurensi VB.
Jalur utama yang menghubungkan VB dengan komplikasi pada traktus genitalis atas adalah melalui mekanisme asendens (naiknya infeksi) dari vagina ke serviks, kavum uteri, selaput ketuban, dan cairan amnion. Proses invasi ini difasilitasi oleh berbagai faktor virulensi poten yang diproduksi oleh bakteri-bakteri terkait VB. Beberapa enzim kunci antara lain:
Sialidase: Diproduksi oleh bakteri seperti G. vaginalis, enzim ini mampu mendegradasi asam sialat, komponen penting dari mukus serviks yang protektif. Degradasi ini melemahkan barier mukus, membuka jalan bagi bakteri untuk naik ke traktus genitalis atas. Tingginya aktivitas sialidase di vagina terbukti berhubungan dengan peningkatan risiko persalinan prematur.
Gambar 2. Model degradasi Sialoglikan oleh bakteri vaginal

Vaginolysin (VLY): Sebuah toksin pembentuk pori dari keluarga cholesterol-dependent cytolysin (CDC) yang diproduksi oleh G. vaginalis. VLY mampu melisiskan (menghancurkan) sel pejamu, termasuk sel epitel vagina dan sel imun, yang berkontribusi pada kerusakan jaringan dan memicu inflamasi.
Protease: Enzim seperti IgAse dan kolagenase mampu mendegradasi pertahanan imunologis pejamu (seperti Imunoglobulin A) dan merusak integritas struktural kolagen pada selaput ketuban, yang secara langsung berkontribusi pada terjadinya Ketuban Pecah Dini Prematur (KPDP).
Mekanisme utama yang memicu persalinan prematur bukanlah aksi langsung bakteri terhadap uterus, melainkan respon inflamasi berlebihan dari pejamu itu sendiri. Proses ini dapat diuraikan sebagai berikut:
Pemicu Awal: Komponen dinding sel bakteri, seperti lipopolysaccharide (LPS) dari bakteri Gram-negatif, berfungsi sebagai Pathogen-Associated Molecular Patterns (PAMPs). PAMPs ini dikenali oleh reseptor imun bawaan pejamu yang disebut Toll-Like Receptors (TLRs), terutama TLR2 dan TLR4, yang diekspresikan pada sel imun dan sel epitel di serviks dan uterus.
Aktivasi Sinyal: Ikatan antara PAMPs dan TLRs memicu kaskade sinyal intraseluler yang kuat, terutama melalui jalur MyD88 dan Nuclear Factor-kappa B (NF-κB).
Badai Sitokin: Aktivasi jalur ini berujung pada produksi dan pelepasan masif dari berbagai mediator pro-inflamasi, termasuk sitokin seperti Interleukin-1 beta (IL-1β), IL-6, IL-8, dan Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α).
Efektor Akhir: "Badai sitokin" ini secara langsung merangsang sintesis prostaglandin (misalnya, PGE2) di dalam jaringan uterus dan selaput ketuban. Prostaglandin adalah mediator biokimia poten yang menyebabkan pematangan serviks dan kontraksi miometrium, yang pada akhirnya memicu proses persalinan prematur.
Dengan demikian, bakteri VB bertindak sebagai "pemantik api", sementara sistem imun pejamu menyediakan "bahan bakar" (sitokin), dan prostaglandin menjadi "ledakan" yang memulai persalinan. Pemahaman ini krusial karena menjelaskan mengapa terapi antibiotik saja mungkin tidak cukup jika kaskade inflamasi sudah berjalan dan menjadi mandiri.
Hubungan antara VB dan luaran kehamilan yang merugikan telah terbukti secara konsisten melalui berbagai studi observasional dan meta-analisis. Bagi seorang praktisi klinis, memahami besaran risiko dari setiap komplikasi Vaginosis Bakterialis dalam kehamilan sangat penting untuk konseling pasien dan kewaspadaan klinis.
VB adalah salah satu faktor risiko infeksius yang paling kuat dan terdokumentasi dengan baik untuk persalinan prematur spontan (PTB).
Peningkatan Risiko: Meta-analisis secara konsisten menunjukkan bahwa VB meningkatkan risiko PTB (kelahiran <37 minggu) sekitar dua kali lipat. Sebuah meta-analisis komprehensif tahun 2022 menemukan Odds Ratio (OR) sebesar 1.76 (95% Confidence Interval [CI] 1.32–2.35).
Pentingnya Waktu Deteksi: Risiko ini tampaknya lebih tinggi jika VB terdeteksi pada awal kehamilan. Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa risiko PTB menjadi sangat tinggi (OR 7.55; 95% CI 1.80–31.65) ketika VB didiagnosis sebelum usia kehamilan 16 minggu.
Dampak pada Berat Lahir: Sebagai konsekuensi langsung dari PTB, VB juga sangat terkait dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR, <2500 gram), dengan besaran risiko yang serupa (OR 1.73; 95% CI 1.41–2.12).
Pecahnya selaput ketuban sebelum waktunya adalah komplikasi serius lainnya yang sangat terkait dengan VB. Mekanisme yang mendasarinya adalah degradasi enzimatik pada selaput ketuban oleh protease yang dihasilkan bakteri VB.
Besaran Risiko: Sebuah meta-analisis terkini menunjukkan bahwa VB meningkatkan risiko PPROM lebih dari dua setengah kali lipat (OR 2.59; 95% CI 1.39–4.82). Beberapa studi bahkan melaporkan rasio risiko yang jauh lebih tinggi, mencapai 7.3.
Kaitan antara VB dan keguguran juga signifikan, terutama pada trimester kedua.
Risiko Keseluruhan: VB secara keseluruhan dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran (OR 2.34; 95% CI 1.18–4.64).
Trimester Kedua: Asosiasi ini paling kuat untuk keguguran pada trimester kedua (setelah usia kehamilan 12-16 minggu).
Kehamilan Preklinis: Menariknya, sebuah meta-analisis juga menemukan hubungan signifikan antara VB dan keguguran pre-klinis (OR 2.36), meskipun tidak signifikan untuk keguguran trimester pertama.
VB merupakan prekursor langsung dari korioamnionitis (infeksi pada selaput ketuban dan cairan amnion) melalui jalur infeksi asendens.
Mikrobiologi yang Sama: Mikroorganisme yang ditemukan pada cairan amnion wanita dengan korioamnionitis (seperti Gardnerella, bakteri anaerob, dan Mycoplasma hominis) adalah mikroorganisme yang sama yang menjadi ciri khas VB.
Korioamnionitis Histologis: Bahkan pada pasien yang tidak menunjukkan gejala klinis, dampak VB bisa terdeteksi. Satu studi menemukan bahwa lebih dari separuh (55.6%) wanita hamil dengan VB memiliki bukti korioamnionitis histologis pada pemeriksaan patologi plasenta. Sebuah meta-analisis menemukan OR sebesar 2.26 (95% CI 1.44–3.56) untuk infeksi intrauterin secara umum.
Flora disbiosis pada VB dapat naik ke dalam rongga rahim selama atau setelah persalinan, yang secara signifikan meningkatkan risiko endometritis postpartum.
Risiko Pasca-Sectio Caesarea: Risikonya meningkat secara dramatis setelah persalinan sesar. Satu studi melaporkan adjusted odds ratio sebesar 5.8 (95% CI 3.0–10.9) untuk endometritis pasca-sesar pada wanita dengan VB.
Risiko Pasca-Persalinan Pervaginam: Bahkan pada persalinan normal pervaginam, risikonya tetap meningkat. Sebuah studi kohort menunjukkan Relative Risk (RR) sebesar 3.26 untuk endometritis postpartum pada wanita yang memiliki VB di awal kehamilan.
Konsekuensi VB pada janin tidak hanya dimediasi oleh prematuritas. Bukti yang kuat menunjukkan bahwa lingkungan intrauterin yang inflamatorik akibat VB dapat membahayakan janin secara langsung, terlepas dari usia kehamilan saat lahir.
Peningkatan Risiko pada Bayi Cukup Bulan: Sebuah studi kohort besar di Washington State secara spesifik meneliti luaran pada bayi yang lahir cukup bulan. Setelah disesuaikan untuk berbagai faktor perancu, VB pada ibu secara independen dikaitkan dengan peningkatan risiko pada bayi cukup bulan untuk:
Membutuhkan bantuan ventilasi/mengalami sindrom gawat napas (adjusted RR = 1.28)
Masuk ke Unit Perawatan Intensif Neonatal (NICU) (adjusted RR = 1.42)
Sepsis neonatal (adjusted RR = 1.60).
Konfirmasi dari Studi Lain: Temuan ini didukung oleh studi lain yang juga melaporkan angka masuk NICU (41.7% vs 19.0%) dan sindrom gawat napas (33.3% vs 9.0%) yang secara signifikan lebih tinggi pada neonatus yang terpapar VB.
Temuan ini sangat penting karena memisahkan risiko neonatal dari risiko prematuritas. Ini menunjukkan bahwa VB bukan hanya "faktor risiko untuk PTB", tetapi juga "faktor risiko untuk kerusakan janin/neonatus secara langsung". Hal ini memperkuat alasan klinis untuk mengobati VB simtomatik pada kehamilan, bahkan jika kemampuannya untuk mencegah PTB masih diperdebatkan.
Tabel 1. Ringkasan Risiko Relatif Komplikasi Kehamilan Terkait VB (berdasarkan Meta-analisis)
Komplikasi | Ukuran Risiko (OR/RR) | 95% Confidence Interval |
Persalinan Prematur (<37 minggu) | OR: 1.76 | 1.32–2.35 |
Persalinan Prematur (deteksi <16 minggu) | OR: 7.55 | 1.80–31.65 |
Berat Badan Lahir Rendah (<2500 g) | OR: 1.73 | 1.41–2.12 |
Ketuban Pecah Dini Prematur (PPROM) | OR: 2.59 | 1.39–4.82 |
Keguguran Spontan (semua) | OR: 2.34 | 1.18–4.64 |
Keguguran Pre-klinis | OR: 2.36 | 1.24–4.51 |
Infeksi Intrauterin | OR: 2.26 | 1.44–3.56 |
Endometritis Postpartum (pasca-SC) | aOR: 5.8 | 3.0–10.9 |
Endometritis Postpartum (umum) | RR: 3.26 | 1.38–7.71 |
Sepsis Neonatal (bayi cukup bulan) | aRR: 1.60 | 1.13–2.27 |
Masuk NICU (bayi cukup bulan) | aRR: 1.42 | 1.11–1.82 |
OR: Odds Ratio; RR: Relative Risk; aOR/aRR: Adjusted Odds/Relative Risk
Meskipun hubungan antara VB dan komplikasi kehamilan sangat kuat, manajemen klinisnya dipenuhi dengan kontroversi dan sebuah paradoks sentral yang seringkali membingungkan para praktisi. Memahami dilema ini adalah kunci untuk memberikan konseling yang akurat dan membuat keputusan klinis yang tepat.
Mengingat risiko yang signifikan, melakukan skrining rutin untuk VB pada semua wanita hamil tampak seperti langkah yang logis. Namun, badan-badan profesional kesehatan terkemuka di dunia bersikap hati-hati dan seringkali tidak merekomendasikannya, terutama pada wanita asimtomatik. Sikap ini bukan karena kurangnya penelitian, tetapi justru karena hasil penelitian berkualitas tinggi yang mengungkapkan sebuah paradoks.
U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF): Secara tegas merekomendasikan untuk tidak melakukan skrining VB pada wanita hamil asimtomatik yang berisiko rendah untuk persalinan prematur (Rekomendasi D). Untuk wanita yang berisiko tinggi (misalnya, riwayat PTB sebelumnya), USPSTF menyimpulkan bahwa bukti saat ini tidak cukup untuk menilai keseimbangan manfaat dan kerugian dari skrining (Pernyataan I).
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG): Sejalan dengan USPSTF, ACOG menyatakan bahwa data tidak cukup untuk merekomendasikan skrining rutin bagi wanita asimtomatik, baik yang berisiko rendah maupun tinggi.
Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada (SOGC): Mengambil posisi yang sedikit lebih bernuansa, SOGC menyarankan bahwa wanita dengan peningkatan risiko PTB mungkin mendapat manfaat dari skrining dan pengobatan. Namun, mereka setuju bahwa wanita asimtomatik berisiko rendah tidak boleh diskrining secara rutin.
Untuk wanita hamil yang menunjukkan gejala VB (duh vagina, bau amis), pengobatan sangat dianjurkan untuk meredakan gejala dan karena asosiasinya dengan luaran kehamilan yang merugikan. Pedoman dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberikan beberapa opsi terapi yang efektif.
Terapi Oral (Sistemik):
Metronidazole 500 mg per oral, dua kali sehari selama 7 hari.
Clindamycin 300 mg per oral, dua kali sehari selama 7 hari.
Terapi Vaginal (Topikal):
Metronidazole gel 0.75%, satu aplikator penuh (5 g) intravaginal, sekali sehari selama 5 hari.
Clindamycin cream 2%, satu aplikator penuh (5 g) intravaginal, saat tidur selama 7 hari.
Dalam konteks kehamilan, terapi oral (sistemik) seringkali lebih disukai karena kemampuannya untuk mengobati potensi infeksi subklinis di traktus genitalis atas, yang tidak dapat dijangkau oleh terapi topikal.
Di sinilah letak paradoks klinis yang paling krusial. Sejumlah besar uji klinis acak terkontrol (Randomized Controlled Trial/RCT) dan meta-analisis telah menunjukkan bahwa antibiotik (baik metronidazole maupun clindamycin) sangat efektif untuk mencapai penyembuhan mikrobiologis—artinya, bakteri penyebab VB berhasil diberantas dari vagina. Namun, keberhasilan mikrobiologis ini secara mengecewakan tidak berbanding lurus dengan pencegahan persalinan prematur.
Sebuah meta-analisis besar tahun 2023 yang menggunakan data partisipan individual (metode analisis paling kuat) mengkonfirmasi hal ini secara definitif. Setelah menganalisis data dari ribuan wanita, kesimpulannya jelas: pengobatan VB dengan metronidazole atau clindamycin selama kehamilan tidak mengurangi angka PTB atau memperpanjang usia kehamilan.
Kegagalan ini mendasari keengganan badan profesional untuk merekomendasikan skrining universal. Logikanya sederhana: tidak ada gunanya melakukan skrining massal untuk suatu kondisi jika pengobatan standar untuk kondisi tersebut tidak terbukti dapat mencegah luaran utama yang ingin dihindari. Beberapa hipotesis telah diajukan untuk menjelaskan paradoks ini:
Waktu Intervensi yang Terlambat: Kaskade inflamasi yang berujung pada PTB mungkin sudah dimulai jauh di awal kehamilan. Pengobatan yang diberikan pada trimester kedua atau ketiga mungkin sudah terlambat untuk menghentikan proses yang sudah berjalan.
Persistensi Biofilm: Antibiotik mungkin efektif membunuh bakteri planktonik (yang bebas), tetapi gagal memberantas biofilm yang melekat erat pada epitel vagina. Biofilm ini dapat bertindak sebagai reservoir untuk infeksi berulang dan stimulus inflamasi yang persisten.
Kerusakan Inflamasi yang Menetap: Luaran yang merugikan mungkin lebih didorong oleh respon inflamasi pejamu daripada kehadiran bakteri itu sendiri. Begitu terpicu, proses peradangan ini bisa menjadi mandiri dan tidak dapat dihentikan hanya dengan menghilangkan bakteri pemicunya.
Penargetan Mikroba yang Tidak Lengkap: Antibiotik spektrum luas mungkin tidak menargetkan semua patogen yang relevan (misalnya, strain G. vaginalis atau A. vaginae yang sangat virulen) atau, lebih buruk lagi, dapat semakin merusak populasi Lactobacillus yang sehat, sehingga menghambat pemulihan ekosistem vagina yang normal.
Tabel 2. Regimen Terapi Antibiotik untuk VB pada Kehamilan (Rekomendasi CDC)
Obat | Rute | Dosis & Durasi | Catatan Klinis |
Metronidazole | Oral | 500 mg, 2x/hari selama 7 hari | Regimen sistemik yang umum digunakan. Hindari konsumsi alkohol. |
Clindamycin | Oral | 300 mg, 2x/hari selama 7 hari | Alternatif sistemik, terutama jika ada intoleransi terhadap metronidazole. |
Metronidazole Gel 0.75% | Vaginal | 1 aplikator (5 g), 1x/hari selama 5 hari | Efektif untuk gejala lokal, tetapi mungkin tidak mengatasi infeksi subklinis di traktus atas. |
Clindamycin Cream 2% | Vaginal | 1 aplikator (5 g), saat tidur selama 7 hari | Basis minyaknya dapat melemahkan kondom lateks atau diafragma. |
Sumber:
Tabel 3. Ringkasan Rekomendasi Skrining VB dari Berbagai Badan Profesional
Badan Profesional | Rekomendasi untuk Populasi Risiko Rendah Asimtomatik | Rekomendasi untuk Populasi Risiko Tinggi Asimtomatik |
USPSTF | Tidak direkomendasikan (Rekomendasi D) | Bukti tidak cukup (Pernyataan I) |
ACOG | Tidak direkomendasikan | Bukti tidak cukup untuk merekomendasikan skrining rutin |
SOGC | Tidak direkomendasikan | Mungkin mendapat manfaat dari skrining dan pengobatan |
Meskipun dihadapkan pada paradoks terapi, praktisi klinis tidak sepenuhnya tanpa pilihan. Manajemen yang cermat, diagnosis yang akurat, dan pemahaman tentang cakrawala terapi baru dapat meningkatkan perawatan pasien.
Meskipun standar emas untuk penelitian adalah Skor Nugent (pewarnaan Gram), metode ini tidak praktis untuk penggunaan klinis sehari-hari di tingkat layanan primer. Oleh karena itu, Kriteria Amsel menjadi alat diagnostik yang paling dapat diakses dan berguna secara klinis bagi Dokter Umum. Diagnosis VB ditegakkan jika ditemukan
tiga dari empat kriteria berikut:
Duh vagina yang tipis, homogen, berwarna putih keabuan.
pH vagina > 4.5.
Tes "whiff" positif (tercium bau amis seperti ikan setelah penambahan 10% KOH pada sampel duh vagina).
Ditemukannya clue cells (>20% dari sel epitel) pada pemeriksaan mikroskopis sediaan basah..
Meskipun lebih sederhana, kriteria Amsel masih memerlukan mikroskop untuk identifikasi clue cells. Namun, perlu dicatat bahwa keberadaan clue cells saja memiliki spesifisitas yang sangat tinggi (98%) untuk VB. Tes point-of-care (POC) yang lebih baru, seperti tes aktivitas sialidase atau tes amplifikasi asam nukleat (NAATs), juga tersedia tetapi direkomendasikan untuk digunakan hanya pada wanita simtomatik.
Angka rekurensi VB sangat tinggi, mencapai lebih dari 50-60% dalam satu tahun setelah pengobatan. Hal ini menjadi sumber frustrasi yang besar bagi pasien dan klinisi. Beberapa faktor utama yang diyakini berperan adalah:
Persistensi Biofilm: Seperti yang telah dibahas, biofilm polimikroba yang resisten terhadap antibiotik menjadi reservoir utama untuk kekambuhan.
Reinfeksi dari Pasangan Seksual: Peran transmisi seksual dalam VB adalah area penelitian yang berkembang pesat. Secara historis, pengobatan pasangan tidak direkomendasikan karena uji klinis awal gagal menunjukkan manfaat. Namun, tinjauan ulang menunjukkan bahwa uji coba tersebut memiliki kelemahan metodologis yang signifikan. Sebaliknya, sebuah RCT berkualitas tinggi yang baru-baru ini dilakukan (uji coba StepUp) memberikan hasil yang mengubah paradigma. Dalam studi ini, pengobatan pasangan pria dengan kombinasi metronidazole oral dan clindamycin topikal secara signifikan menurunkan angka kekambuhan VB pada wanita dalam 12 minggu (35% pada kelompok terapi pasangan vs 63% pada kelompok perawatan standar). Temuan ini menantang dogma lama dan menunjukkan bahwa reinfeksi dari pasangan adalah faktor kunci dalam siklus kekambuhan VB.
Penting untuk diingat bahwa VB bukan hanya faktor risiko untuk komplikasi obstetri, tetapi juga secara signifikan meningkatkan kerentanan seorang wanita untuk tertular Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya. Lingkungan disbiosis dan peradangan yang disebabkan oleh VB merusak integritas barier mukosa vagina. Meta-analisis telah menunjukkan bahwa VB dikaitkan dengan peningkatan risiko penularan HIV (RR 1.6), Chlamydia, dan Gonorrhea. Oleh karena itu, semua wanita yang didiagnosis dengan VB harus mendapatkan konseling dan dipertimbangkan untuk menjalani skrining IMS lainnya.
Dampak VB, terutama yang berulang, terhadap kualitas hidup wanita seringkali diremehkan dalam praktik klinis. Studi kualitatif secara konsisten melaporkan bahwa wanita dengan VB mengalami perasaan malu, cemas, rendah diri, dan frustrasi. Kondisi ini secara negatif memengaruhi hubungan sosial, profesional, dan intim, yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup mereka. Memahami dan mengakui beban psikososial ini adalah bagian penting dari perawatan yang berpusat pada pasien.
Keterbatasan terapi antibiotik konvensional telah mendorong penelitian ke arah terapi yang berfokus pada restorasi ekosistem vagina. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari model antimikroba murni ke model ekologis.
Probiotik: Penggunaan strain Lactobacillus spesifik (misalnya, L. rhamnosus GR-1, L. reuteri RC-14) bertujuan untuk mengkolonisasi kembali vagina dan mengembalikan kondisi sehat. Meskipun hasil dari berbagai studi masih beragam, banyak yang menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam meningkatkan angka kesembuhan dan mengurangi kekambuhan, terutama bila digunakan sebagai terapi tambahan setelah antibiotik.
Transplantasi Mikrobiota Vagina (VMT): Ini adalah pendekatan mutakhir yang melibatkan transfer cairan vagina dari donor sehat yang telah diskrining ketat ke pasien dengan VB rekuren. Studi kasus awal dan uji klinis menunjukkan tingkat keberhasilan yang luar biasa dalam mengatasi VB yang sulit diobati, dengan pembentukan mikrobioma sehat yang tahan lama. Dalam beberapa kasus, VMT bahkan telah berhasil memungkinkan kehamilan yang sukses pada wanita dengan riwayat keguguran berulang yang terkait dengan disbiosis. VMT berpotensi menjadi perubahan paradigma dalam pengobatan VB di masa depan.
Vaginosis Bakterialis pada kehamilan adalah sebuah entitas klinis yang kompleks dan signifikan. Ini bukan sekadar infeksi vagina ringan, melainkan sebuah kondisi disbiosis mikrobiota yang terbukti kuat meningkatkan risiko serangkaian komplikasi maternal dan fetal yang serius, termasuk persalinan prematur, PPROM, keguguran trimester kedua, korioamnionitis, dan endometritis postpartum. Lebih jauh lagi, dampak inflamasi dari VB dapat menyebabkan morbiditas neonatal secara langsung, bahkan pada bayi yang lahir cukup bulan.
Namun, manajemen klinisnya dihadapkan pada sebuah paradoks besar: terapi antibiotik yang efektif dalam memberantas bakteri penyebab VB, secara konsisten gagal menunjukkan manfaat dalam mencegah persalinan prematur dalam uji klinis skala besar. Paradoks inilah yang mendasari rekomendasi yang berhati-hati dan seringkali bertentangan dari badan-badan profesional mengenai skrining universal pada wanita hamil asimtomatik.
Berdasarkan sintesis bukti ilmiah yang komprehensif, berikut adalah rekomendasi praktis yang dapat diterapkan oleh Dokter Umum dalam praktik sehari-hari:
Fokus pada Wanita Simtomatik: Selalu lakukan pemeriksaan dan pengobatan pada wanita hamil yang datang dengan gejala vaginitis (misalnya, duh vagina abnormal, bau amis). Tujuannya adalah untuk meredakan gejala dan berdasarkan asosiasi kuat VB dengan luaran kehamilan yang merugikan. Gunakan Kriteria Amsel sebagai alat diagnostik utama di klinik.
Hindari Skrining Rutin pada Wanita Asimtomatik: Sejalan dengan pedoman utama internasional (USPSTF, ACOG), jangan melakukan skrining rutin untuk VB pada wanita hamil asimtomatik (baik yang berisiko rendah maupun tinggi) dengan tujuan tunggal untuk mencegah persalinan prematur. Praktik ini tidak didukung oleh bukti ilmiah berkualitas tinggi saat ini.
Lakukan Konseling Risiko yang Akurat dan Seimbang: Ketika seorang wanita hamil didiagnosis dengan VB, jelaskan risiko-risiko terkait (PTB, PPROM) dengan bahasa yang jelas dan dapat dimengerti. Namun, sangat penting untuk juga menjelaskan paradoks terapi: sampaikan bahwa meskipun pengobatan penting untuk kesehatan vagina ibu dan dapat mengurangi gejala, pengobatan tersebut belum terbukti secara meyakinkan dapat mengurangi risiko kelahiran prematur. Ini membantu mengelola ekspektasi pasien dan mencegah jaminan palsu.
Pertimbangkan Implikasi yang Lebih Luas: Mengingat VB meningkatkan kerentanan terhadap IMS lain, pertimbangkan untuk menawarkan skrining IMS pada semua wanita yang didiagnosis dengan VB. Selain itu, akui dan berikan dukungan empatik terhadap dampak psikososial yang signifikan dari VB, terutama pada kasus yang berulang, karena hal ini sangat memengaruhi kualitas hidup pasien.
Tetap Terinformasi tentang Terapi Baru: Dunia manajemen VB sedang berevolusi. Tetaplah mengikuti perkembangan bukti ilmiah mengenai terapi pasangan untuk mencegah kekambuhan, serta potensi peran probiotik dan Transplantasi Mikrobiota Vagina (VMT) di masa depan. Ini akan memposisikan Anda sebagai sumber informasi yang terpercaya dan terkini bagi pasien Anda.
Bacterial vaginosis in pregnancy - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10804540/
Bacterial Vaginosis Biofilms: Challenges to Current Therapies and Emerging Solutions, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4718981/
Bacterial vaginosis: a review of approaches to treatment and prevention - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10264601/
Bacterial Vaginosis - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459216/
Introduction - Screening for Bacterial Vaginosis in Pregnant Adolescents and Women to Prevent Preterm Delivery - NCBI, accessed July 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555835/
Antibiotics for treating bacterial vaginosis in pregnancy - PMC - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4164464/
Screening for bacterial vaginosis in pregnancy - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11306234/
Prevalence, risk factors, and adverse outcomes of bacterial vaginosis among pregnant women: a systematic review - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11744995/
Prevalence, risk factors, and adverse outcomes of bacterial vaginosis among pregnant women: a systematic review - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39833700/
The Vaginal Microenvironment: The Physiologic Role of Lactobacilli - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6008313/
Current Treatment of Bacterial Vaginosis—Limitations and Need for Innovation - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4957510/
The Role of Antimicrobial Resistance in Refractory and Recurrent Bacterial Vaginosis and Current Recommendations for Treatment - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9024683/
Fighting polymicrobial biofilms in bacterial vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37042412/
Chorioamnionitis - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532251/
Chorioamnionitis and bacterial vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8357045/
Vaginal sialoglycan foraging by Gardnerella vaginalis: mucus barriers as a meal for unwelcome guests? - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8252861/
Large-scale characterisation of the pregnancy vaginal microbiome and sialidase activity in a low-risk Chinese population, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8688454/
Functional and Phylogenetic Characterization of Vaginolysin, the Human-Specific Cytolysin from Gardnerella vaginalis - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2395025/
Premature rupture of membranes and bacterial vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8357046/
Toll-Like Receptors at the Maternal–Fetal Interface in Normal Pregnancy and Pregnancy Disorders - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3025804/
Immunity and inflammation in the uterus - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22827398/
Vaginal Microbiota and Cytokine Levels Predict Preterm Delivery in Asian Women - Frontiers, accessed July 21, 2025, https://www.frontiersin.org/journals/cellular-and-infection-microbiology/articles/10.3389/fcimb.2021.639665/full
Bacterial vaginosis as a risk factor for preterm delivery: a meta-analysis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12861153/
Effect of bacterial vaginosis on preterm birth: a meta-analysis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36251068/
Systematic review and meta-analysis of maternal and fetal outcomes among pregnant women with bacterial vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37611538/
Association between bacterial vaginosis or chlamydial infection and miscarriage before 16 weeks' gestation: prospective community based cohort study, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC137811/
Bacterial vaginosis in association with spontaneous abortion and ..., accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27756985/
The role of infection in miscarriage - PMC - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4664130/
Risks associated with bacterial vaginosis in infertility patients: a systematic review and meta-analysis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23543384/
Bacterial vaginosis: a problematic infection from both a perinatal and neonatal perspective - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19362525/
Maternal and fetal outcomes of pregnant women with bacterial vaginosis - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9968788/
Bacterial vaginosis as a risk factor for post-cesarean endometritis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2296423/
Bacterial vaginosis in early pregnancy may predispose for preterm birth and postpartum endometritis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12421167/
Bacterial vaginosis and adverse outcomes among full-term infants: a cohort study - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5034665/
Bacterial vaginosis and adverse outcomes among full-term infants: a cohort study - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27658456/
What are the Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) guidelines for bacterial vaginosis? - Dr.Oracle, accessed July 21, 2025, https://www.droracle.ai/articles/91076/bacterial-vaginosis-rcog-guidelines-
Routine screening of abnormal vaginal flora during pregnancy reduces the odds of preterm birth: a systematic review and meta-analysis - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10457371/
The role of antibiotics in the prevention of preterm birth - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2920706/
Bacterial-Vaginosis-Pregnancy-QandA.pdf - RxFiles, accessed July 21, 2025, https://rxfiles.ca/rxfiles/uploads/documents/Bacterial-Vaginosis-Pregnancy-QandA.pdf
Screening and management of Bacterial Vaginosis in pregnancy - CiteSeerX, accessed July 21, 2025, https://citeseerx.ist.psu.edu/document?repid=rep1&type=pdf&doi=d76a1fc0ebb60bbf175b4e269e10a0ccfae4405b
Bacterial Vaginosis - STI Treatment Guidelines - CDC, accessed July 21, 2025, https://www.cdc.gov/std/treatment-guidelines/bv.htm
Bacterial vaginosis: review of treatment options and potential clinical indications for therapy, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10028110/
Interventions for treating bacterial vaginosis in pregnancy - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10796189/
Antibiotics for treating bacterial vaginosis in pregnancy - PMC - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11307253/
Antibiotic treatment of bacterial vaginosis to prevent preterm delivery: Systematic review and individual participant data meta-analysis - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10171232/
Antimicrobials for Preterm Birth Prevention: An Overview - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3296158/
Antibiotic treatment of bacterial vaginosis to prevent preterm delivery ..., accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36651636/
High Atopobium vaginae and Gardnerella vaginalis Vaginal Loads Are Associated With Preterm Birth | Clinical Infectious Diseases | Oxford Academic, accessed July 21, 2025, https://academic.oup.com/cid/article/60/6/860/497834
Gardnerella diversity and ecology in pregnancy and preterm birth - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11338264/
Amsel Criteria - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31194459/
Diagnostic Value of Amsel's Clinical Criteria for Diagnosis of Bacterial Vaginosis - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4802101/
Amsel Criteria - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542319/
Bacterial Vaginosis: Current Diagnostic Avenues and Future Opportunities - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7431474/
Systematic review of randomized trials of treatment of male sexual partners for improved bacteria vaginosis outcomes in women - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23007709/
Treatment of male partners and recurrence of bacterial vaginosis: a randomised trial - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1195855/
Male-Partner Treatment to Prevent Recurrence of Bacterial Vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40043236/
Getting Everyone on Board to Break the Cycle of Bacterial Vaginosis (BV) Recurrence: A Qualitative Study of Partner Treatment for BV - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11985585/
Bacterial vaginosis: a synthesis of the literature on etiology, prevalence, risk factors, and relationship with chlamydia and gonorrhea infections - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4752809/
Sexual Risk Factors and Bacterial Vaginosis: A Systematic Review and Meta-Analysis | Clinical Infectious Diseases | Oxford Academic, accessed July 21, 2025, https://academic.oup.com/cid/article/47/11/1426/282043?login=true
Bacterial vaginosis and HIV acquisition: a meta-analysis of published studies - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18614873/
Evidence of African-American women's frustrations with chronic recurrent bacterial vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20132368/
The Burden of Bacterial Vaginosis: Women's Experience of the Physical, Emotional, Sexual and Social Impact of Living with Recurrent Bacterial Vaginosis, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3770676/
Psychosocial impact of recurrent urogenital infections: a review - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38099456/
Psychosocial impact of recurrent urogenital infections: a review - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10725120/
Effects of Pro/Prebiotics Alone over Pro/Prebiotics Combined with Conventional Antibiotic Therapy to Treat Bacterial Vaginosis: A Systematic Review, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9159122/
Effects of probiotics on the recurrence of bacterial vaginosis: a review - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24299970/
Prenatal Probiotics: The Way Forward in Prevention of Preterm Birth | Dhanasekar | Journal of Clinical Gynecology and Obstetrics, accessed July 21, 2025, https://jcgo.org/index.php/jcgo/article/view/571/371
The potential for probiotics to prevent bacterial vaginosis and preterm labor - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14586379/
Synthetic bacterial consortia transplantation for the treatment of Gardnerella vaginalis-induced bacterial vaginosis in mice - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10026434/
Vaginal microbiota transplantation is a truly opulent and promising edge: fully grasp its potential - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10995359/
Antibiotic-free vaginal microbiota transplant with donor engraftment, dysbiosis resolution and live birth after recurrent pregnancy loss: a proof of concept case study - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37528843/
Vaginal microbiota transplantation for the treatment of bacterial vaginosis: a conceptual analysis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30715301/
Bacterial vaginosis in pregnancy and risk of spontaneous preterm delivery - Nordic Federation of Societies of Obstetrics and Gynecology, accessed July 21, 2025, https://nfog.org/wp-content/uploads/2019/03/190225NU-BV-guideli