28 Feb 2026 • radiologi
Skrotum akut, yang ditandai dengan nyeri, bengkak, dan kemerahan pada skrotum, merupakan salah satu tantangan diagnostik di unit gawat darurat dan praktik dokter umum. Kondisi ini mencakup spektrum patologi yang luas, mulai dari proses inflamasi seperti epididymo-orchitis hingga kegawatdaruratan urologi sejati seperti torsi testis.
Presentasi klinis yang tumpang tindih, di mana nyeri dan pembengkakan sering kali membuat pemeriksaan fisik menjadi sulit dan tidak dapat diandalkan, menuntut adanya modalitas pencitraan yang cepat dan akurat untuk memandu tatalaksana.
Dalam konteks ini, ultrasonografi (USG) resolusi tinggi yang dilengkapi dengan Color dan Power Doppler telah menjadi modalitas pencitraan pilihan utama. Sifatnya yang non-invasif, tanpa radiasi, ketersediaan yang luas, dan kemampuannya memberikan informasi anatomis dan vaskular secara real-time menjadikannya alat yang tak ternilai.
Fungsi strategis USG melampaui sekadar konfirmasi diagnostik; ia secara fundamental mengubah alur manajemen pasien. Di hadapan pasien dengan skrotum akut, seorang dokter dihadapkan pada keputusan krusial: memberikan terapi medis konservatif atau merujuk untuk eksplorasi bedah segera. Keputusan yang salah dapat berakibat fatal, seperti kehilangan testis akibat torsi yang terlewatkan atau orchiectomy yang tidak perlu pada kasus inflamasi.

USG Doppler menjawab dilema ini dengan memberikan data definitif mengenai perfusi testis—pembeda utama antara inflamasi yang ditandai dengan hiperemia (peningkatan aliran darah) dan torsi yang ditandai dengan iskemia (ketiadaan aliran darah). Dengan demikian, laporan USG berfungsi sebagai alat triase yang kuat, yang mampu meredefinisi kondisi gawat darurat bedah menjadi kondisi medis yang dapat ditangani secara konservatif.
Sebuah studi retrospektif oleh Zitek et al. (2020) secara tegas menggarisbawahi peran sentral USG. Studi tersebut menyimpulkan bahwa diagnosis pada pasien dengan nyeri skrotum "terutama didorong oleh hasil ultrasonografi". Studi ini melaporkan sensitivitas USG untuk epididymo-orchitis sebesar 78.8% dan spesifisitas yang sangat tinggi sebesar 98.1%. Data ini memiliki implikasi klinis yang penting bagi dokter umum.
Spesifisitas 98.1% berarti bahwa temuan positif untuk orchitis pada USG sangat dapat diandalkan, memberikan kepercayaan tinggi untuk memulai terapi medis. Sebaliknya, sensitivitas 78.8% mengindikasikan bahwa sekitar 21% kasus, terutama pada tahap awal inflamasi sebelum edema dan hiperemia yang signifikan berkembang, mungkin tidak terdeteksi.
Oleh karena itu, jika kecurigaan klinis terhadap orchitis sangat kuat meskipun hasil USG awal normal atau meragukan, penilaian klinis tetap menjadi yang utama dan pemeriksaan USG lanjutan atau uji coba terapi mungkin dapat dipertimbangkan.
Memahami gambaran sonografi klasik dari epididymo-orchitis bakterial akut adalah fondasi untuk interpretasi yang akurat. Temuan-temuan ini merupakan manifestasi visual langsung dari proses patofisiologi inflamasi yang mendasarinya.
Pemeriksaan B-mode mengevaluasi morfologi dan tekstur jaringan. Pada epididymo-orchitis, proses inflamasi—yang melibatkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler—menyebabkan ekstravasasi cairan dan edema. Hal ini secara sonografis diterjemahkan menjadi beberapa temuan kunci:
Pembesaran (Enlargement): Epididimis dan/atau testis yang terkena akan tampak membesar dan bengkak. Infeksi paling sering menyebar secara retrograd dari uretra atau kandung kemih, sehingga epididimis, terutama bagian kauda (ekor) atau kaput (kepala), sering kali menjadi struktur pertama yang menunjukkan perubahan. Keterlibatan testis (orchitis) biasanya menandakan infeksi yang lebih lanjut atau parah.
Perubahan Ekhogenisitas (Echogenicity Changes): Jaringan yang meradang menjadi edematosa. Karena cairan bersifat hipoekoik (tampak lebih gelap pada gambar USG), parenkim testis dan/atau epididimis yang terkena akan menunjukkan penurunan ekhogenisitas dibandingkan dengan sisi kontralateral yang sehat. Tampilannya bisa berupa hipoekoik difus (merata) atau menjadi heterogen (tidak merata) seiring perkembangan inflamasi. Pada beberapa kasus, dapat terbentuk area hipoekoik fokal yang batasnya tidak tegas.
Temuan Terkait (Associated Findings): Proses inflamasi tidak terbatas pada testis dan epididimis saja. Peningkatan permeabilitas vaskular juga menyebabkan akumulasi cairan di sekitar testis, yang dikenal sebagai hidrokel reaktif. Dinding skrotum juga dapat mengalami edema dan tampak menebal pada USG. Jika cairan hidrokel tampak kompleks, mengandung septa internal atau debris, hal ini harus menimbulkan kecurigaan adanya piosel (akumulasi pus), yang menandakan infeksi yang lebih berat.
Gambar 1. Epididimoorchitis kanan pada pasien 61 tahun dengan scrotal pain

Jika B-mode menunjukkan perubahan struktural, maka Doppler menilai status vaskular, yang merupakan kunci dalam diagnosis banding skrotum akut.
Hiperemia (Hyperemia): Ini adalah temuan patognomonik untuk proses inflamasi. Vasodilatasi yang terjadi sebagai respons terhadap infeksi secara dramatis meningkatkan aliran darah ke jaringan yang terkena. Pada Color atau Power Doppler, ini akan terlihat sebagai peningkatan sinyal warna yang nyata di dalam parenkim epididimis dan/atau testis yang meradang, jika dibandingkan dengan sisi yang sehat. Temuan hiperemia ini adalah tanda paling andal untuk membedakan orchitis dari torsi testis akut.
Analisis Spektral (Spectral Analysis): Pemeriksaan Doppler spektral memberikan analisis kuantitatif dari aliran darah. Pada orchitis, vasodilatasi menurunkan resistensi terhadap aliran darah. Hal ini menghasilkan bentuk gelombang arteri intratestikular dengan resistensi rendah, yang ditandai dengan peningkatan aliran diastolik. Secara kuantitatif, ini diukur sebagai Indeks Resistif (Resistive Index/RI) yang rendah, sering kali di bawah 0.5 atau 0.6. Pola aliran resistensi rendah ini sangat kontras dengan aliran resistensi tinggi atau tidak adanya aliran sama sekali yang terlihat pada torsi.
Dengan memahami hubungan antara patofisiologi dan temuan sonografi, seorang dokter dapat melihat kumpulan gambaran USG (pembesaran, hipoekogenisitas, hiperemia, hidrokel) bukan sebagai daftar periksa, melainkan sebagai narasi visual yang koheren dari sebuah proses biologis inflamasi.
Kemampuan untuk secara akurat membedakan epididymo-orchitis dari mimik utamanya—torsi testis dan tumor testis—adalah kompetensi inti dalam manajemen skrotum akut. Kerangka "Four T's" (Torsion, Trauma, Tumor, dan 'Testiculitis') sering digunakan untuk mengkategorikan diagnosis banding ini.
Ini adalah diagnosis banding yang paling kritis karena implikasi tatalaksananya yang sangat berbeda. Torsi testis adalah kegawatdaruratan bedah yang memerlukan intervensi segera untuk menyelamatkan testis, sedangkan orchitis ditangani secara medis.
Vaskularitas sebagai Pembeda Absolut: Color Doppler adalah penentu utama. Epididymo-orchitis ditandai dengan peningkatan aliran darah (hiperemia) yang nyata. Sebaliknya, torsi testis akut, di mana korda spermatika terpelintir dan memotong suplai darah, ditandai dengan tidak adanya aliran darah intratestikular pada pemeriksaan Doppler. Perlu dicatat bahwa pada torsi inkomplit atau intermiten, mungkin masih ada sedikit aliran darah yang terdeteksi, namun alirannya akan berkurang secara signifikan atau menunjukkan pola resistensi tinggi (aliran diastolik yang berkurang atau terbalik), yang tetap sangat berbeda dari hiperemia masif pada orchitis.7 Akurasi Color Doppler dalam membedakan kedua kondisi ini sangat tinggi, dengan sensitivitas dilaporkan antara 84-89% dan spesifisitas 92-100%.
Petunjuk Klinis Pendukung: Meskipun pencitraan adalah kunci, anamnesis dapat memberikan petunjuk. Torsi sering kali memiliki onset yang sangat mendadak dan parah, sering disertai mual dan muntah, dan terkadang ada riwayat episode nyeri serupa yang sembuh spontan. Orchitis mungkin memiliki onset yang lebih bertahap dan lebih mungkin disertai dengan gejala saluran kemih seperti disuria.
Ini merupakan jebakan diagnostik yang signifikan. Sekitar 10% tumor testis dapat muncul secara akut dengan gejala nyeri dan bengkak yang menyerupai peradangan, dan baik orchitis fokal maupun tumor dapat muncul sebagai lesi hipoekoik intratestikular pada USG.7
Dilema Diagnostik: Tantangannya terletak pada kenyataan bahwa kedua kondisi tersebut dapat tampak sebagai massa hipoekoik yang hipervaskular pada Color Doppler. Hal ini membuat pembedaan berdasarkan satu pemeriksaan USG tunggal menjadi sangat sulit.
Fitur Pembeda (dengan Keterbatasan): Meskipun tidak ada yang absolut, beberapa petunjuk dapat membantu. Tumor testis cenderung berupa massa solid dengan batas yang relatif tegas dan sirkumskrip. Sebaliknya, orchitis fokal mungkin memiliki batas yang kurang tegas, berbentuk bulan sabit, atau tidak teratur, terutama jika berdekatan dengan epididimis yang juga meradang. Namun, fitur-fitur ini tidak dapat diandalkan sepenuhnya.
Peran Kritis USG Lanjutan (Follow-up): Ini adalah langkah manajemen yang paling penting dan tidak boleh dilewatkan ketika dihadapkan pada dilema ini. Lesi inflamasi (orchitis) harus menunjukkan perbaikan yang signifikan atau resolusi lengkap setelah pemberian terapi antibiotik dan/atau anti-inflamasi yang adekuat. Pemeriksaan USG lanjutan yang dilakukan dalam 2 hingga 4 minggu akan mengkonfirmasi hal ini. Sebaliknya, tumor testis akan tetap stabil atau bahkan membesar. Oleh karena itu, setiap lesi fokal intratestikular yang terdeteksi pada skenario akut
wajib dievaluasi ulang dengan USG lanjutan untuk mencegah orchiectomy yang tidak perlu pada penyakit jinak atau diagnosis kanker yang terlewatkan.
Tabel berikut merangkum fitur-fitur pembeda utama:
Meskipun gambaran umum orchitis sering kali non-spesifik, dalam beberapa kasus, pola sonografi dapat memberikan petunjuk mengenai etiologi yang mendasarinya. Ini memungkinkan dokter untuk mempersempit diagnosis banding klinis dan memandu penyelidikan lebih lanjut.
Orchitis Viral (Mumps/Gondongan): Orchitis adalah komplikasi paling umum dari infeksi mumps pada pria pasca-pubertas. Secara sonografis, mumps epididymo-orchitis sering kali menunjukkan pembesaran testis yang nyata, penurunan ekhogenisitas, dan hiperemia yang sangat jelas dengan nilai RI yang rendah. Salah satu fitur pembeda yang menarik yang dicatat dalam sebuah studi adalah
tidak adanya hidrokel yang signifikan, berbeda dengan orchitis bakterial non-spesifik di mana hidrokel reaktif lebih umum ditemukan. Jika laporan USG pada pasien dengan orchitis akut menyebutkan hiperemia masif tanpa hidrokel yang berarti, terutama pada pasien yang tidak divaksinasi dengan riwayat parotitis, diagnosis mumps orchitis harus sangat dipertimbangkan dan dikonfirmasi dengan serologi.
Orchitis Granulomatosa (misalnya, Tuberkulosis, Brucellosis): Infeksi ini cenderung memiliki presentasi yang lebih subakut atau kronis. Epididimitis tuberkulosis (TB) memiliki gambaran sonografi yang cukup khas, yaitu pembesaran epididimis yang sangat nyata dan heterogen, dengan predileksi kuat pada bagian kauda (ekor). Keterlibatan testis dapat bermanifestasi sebagai penurunan ekhogenisitas difus atau nodul hipoekoik fokal. Temuan lain seperti kalsifikasi, pembentukan abses, penebalan dinding skrotum, atau adanya saluran sinus akan semakin memperkuat kecurigaan TB. Laporan USG yang menggambarkan pola ini harus mendorong dokter untuk menanyakan riwayat TB, gejala konstitusional, dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Infeksi Terkait COVID-19: Bukti yang muncul menunjukkan bahwa virus SARS-CoV-2 dapat menyebabkan infeksi pada testis. Sebuah studi dari Wuhan, Tiongkok, menemukan bahwa 22.5% dari pasien pria yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 menunjukkan tanda-tanda sonografis epididymo-orchitis. Temuan ini meliputi pembesaran testis, ekhogenisitas heterogen, penebalan tunika albuginea, dan hidrokel. Risiko ini ditemukan lebih tinggi pada pasien usia lanjut dan mereka yang menderita penyakit COVID-19 yang parah. Temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan orchitis sebagai salah satu manifestasi ekstrapulmoner dari COVID-19.
Dengan demikian, deskripsi sonografi yang rinci dapat bertindak sebagai pemandu, mengubah laporan USG dari sekadar tes "ya/tidak" untuk peradangan menjadi alat yang membantu mempersempit diagnosis banding penyebab peradangan tersebut.
Jika tidak ditangani secara adekuat atau pada kasus yang sangat parah, epididymo-orchitis dapat menyebabkan komplikasi serius yang dapat dideteksi dan dipantau dengan USG.
Abses Testis: Inflamasi yang intens dapat menyebabkan nekrosis likuefaktif dan pembentukan abses. Pada USG, abses akan tampak sebagai koleksi cairan yang kompleks, seringkali dengan debris internal, yang tidak menunjukkan aliran darah di dalamnya (avaskular). Abses ini biasanya dikelilingi oleh dinding yang tebal dan tidak teratur yang menunjukkan hiperemia (peningkatan aliran darah) pada Color Doppler.
Infark Testis: Ini adalah komplikasi yang parah dan merupakan jebakan diagnostik yang signifikan. Pembengkakan hebat pada testis dan epididimis dapat meningkatkan tekanan di dalam tunika albuginea yang kaku, sebuah selubung yang tidak dapat meregang. Peningkatan tekanan intratekstikular ini dapat melebihi tekanan perfusi arteri, menyebabkan "sindrom kompartemen" pada testis yang berujung pada iskemia dan infark. Secara sonografis, area yang mengalami infark akan tampak sebagai regio fokal atau difus yang avaskular pada Color Doppler, yang secara efektif meniru gambaran torsi testis. Kunci untuk membedakannya adalah konteks klinis dan sonografis: infark sekunder akibat orchitis terjadi di dalam skrotum yang secara global menunjukkan tanda-tanda peradangan berat (misalnya, epididimis yang sangat besar dan hiperemik, piosel), sedangkan torsi primer terjadi akibat pelintiran korda spermatika. Pemahaman ini penting untuk menginterpretasikan laporan USG yang kompleks di mana testis avaskular tidak selalu berarti torsi primer.
Atrofi Testis: Ini adalah sekuele jangka panjang yang paling umum, terutama setelah orchitis virus yang parah (seperti mumps) atau infeksi bakteri yang merusak. USG lanjutan setelah beberapa bulan akan menunjukkan penurunan volume testis yang signifikan dibandingkan dengan sisi kontralateral. Testis yang atrofi mungkin tampak heterogen, terkadang dengan pulau-pulau hiperekoik (lebih terang) dan vaskularitas yang berkurang secara permanen.
Pemantauan Respons Terapi: Seperti yang telah dibahas, USG lanjutan sangat penting untuk menyingkirkan tumor pada kasus lesi fokal. Selain itu, USG juga berguna untuk mendokumentasikan respons terhadap pengobatan. Perbaikan klinis harus diiringi dengan perbaikan sonografis, yang ditandai dengan berkurangnya ukuran testis dan epididimis, penurunan tingkat hiperemia, dan normalisasi bertahap dari ekhotekstur parenkim.
Ultrasonografi Doppler adalah pilar utama dalam evaluasi dan manajemen pasien dengan skrotum akut. Bagi dokter umum di lini pertama, kemampuan untuk menginterpretasikan laporan USG secara akurat dan mengintegrasikannya dengan temuan klinis sangat penting untuk memastikan hasil yang optimal bagi pasien.
Berikut adalah rekomendasi klinis utama yang disintesis dari bukti yang ada:
Percayai Color Doppler untuk Membedakan Inflamasi dari Torsi: Andalkan USG Color Doppler sebagai alat utama untuk membedakan epididymo-orchitis dari torsi testis. Adanya hiperemia (peningkatan aliran darah) adalah tanda paling andal dari peradangan, sedangkan tidak adanya aliran adalah ciri khas torsi akut.
Curigai Tumor pada Setiap Lesi Fokal: Setiap lesi intratestikular yang tampak solid dan fokal pada USG awal harus dianggap sebagai potensi neoplasma hingga terbukti sebaliknya, bahkan jika pasien datang dengan gejala inflamasi.7
USG Lanjutan adalah Wajib untuk Kasus Meragukan: Untuk setiap temuan fokal atau meragukan, jadwalkan USG lanjutan setelah 2-4 minggu terapi. Resolusi lesi mengkonfirmasi diagnosis inflamasi. Lesi yang menetap atau membesar memerlukan rujukan urologi segera.
Integrasikan Data Klinis dan Sonografi untuk Menentukan Etiologi: Gunakan nuansa dalam laporan USG (misalnya, pola keterlibatan, ada/tidaknya hidrokel, heterogenitas) untuk membantu mempersempit diagnosis banding penyebab orchitis (bakteri, virus, granulomatosa) dan memandu pemeriksaan lebih lanjut.
Waspadai Komplikasi: Pahami bahwa orchitis yang parah dapat menyebabkan infark. Testis avaskular dalam konteks peradangan skrotum yang hebat kemungkinan besar merupakan komplikasi infeksi, bukan torsi primer.
Jadikan USG sebagai Pemandu Tatalaksana: Laporan USG bukan hanya alat konfirmasi, tetapi merupakan instrumen pengambilan keputusan yang secara aktif memandu triase pasien antara manajemen medis konservatif dan rujukan bedah darurat, yang pada akhirnya menentukan nasib testis pasien.
Diagnostic imaging of patients with acute scrotal pain - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8623698/
Sonography of the acute scrotum: the four T's of testicular imaging, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16399236/
Clinical predictors for differential diagnosis of acute scrotum - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15543483/
Acute scrotal ultrasound: A practical guide - ResearchGate, diakses Juli 25, 2025, https://www.researchgate.net/publication/226859502_Acute_scrotal_ultrasound_A_practical_guide
Sonography of the Scrotum | Radiology - RSNA Journals, diakses Juli 25, 2025, https://pubs.rsna.org/doi/abs/10.1148/radiol.2271001744?journalcod
The dilemma in the diagnosis of acute scrotum: clinical clues for ..., diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22483426/
The changes seen on high-resolution ultrasound in orchitis - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10650105/
Assessing the Utility of Ultrasound and Urinalysis for Patients with ..., diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32214857/
Granulomatous epididymo-orchitis: sonographic features and ..., diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9598496/
Scrotal Imaging | Concise Medical Knowledge - Lecturio, diakses Juli 25, 2025, https://www.lecturio.com/concepts/scrotal-imaging/
Tuberculous epididymitis and epididymo-orchitis: sonographic findings, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8510282/
Mumps epididymo-orchitis: sonography and color Doppler ... - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10823460/
Sonographic features of focal orchitis - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2664210/
Ultrasound Imaging Findings of Acute Testicular Infection in Patients ..., diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33174632/
Ultrasound of the patient with acute scrotal pain at the emergency department - ESR EPOS, diakses Juli 25, 2025, https://epos.myesr.org/poster/esr/ecr2022/C-14465/references
Echo color Doppler findings in postpubertal mumps epididymo-orchitis, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11758024/
Torsion of the spermatic cord: the main gray-scale and doppler ..., diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18709404/
Testicular Germ Cell Tumours-The Role of Conventional Ultrasound, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36010875/
Multimodal ultrasound diagnosis of epididymo-orchitis with secondary testicular infarction: A case report - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38624174/
Testicular atrophy after mumps orchitis: ultrasonographic findings - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32299198/