Tinjauan Klinis Komprehensif: Diagnosis dan Tatalaksana Batuk Kronis pada Populasi Lansia: Sebuah Sintesis Berbasis Bukti untuk Praktisi Klinis

5 Feb 2026 • Emergency Medicine

Deskripsi

Tinjauan Klinis Komprehensif: Diagnosis dan Tatalaksana Batuk Kronis pada Populasi Lansia: Sebuah Sintesis Berbasis Bukti untuk Praktisi Klinis

Pendahuluan: Batuk Kronis sebagai Sindrom Geriatri

Batuk kronis merupakan salah satu keluhan yang paling sering membawa pasien dewasa ke fasilitas layanan kesehatan primer dan sekunder. Meskipun sering dianggap sebagai gejala tunggal, pada populasi lansia, batuk kronis menampilkan kompleksitas yang jauh lebih besar. 

Manifestasinya yang multifaktorial, dampaknya yang signifikan terhadap fungsi dan kualitas hidup, serta prevalensinya yang tinggi pada kelompok usia ini menuntut pergeseran paradigma. Batuk kronis pada lansia lebih tepat dipandang bukan sebagai gejala terisolasi, melainkan sebagai sebuah sindrom geriatri yang memerlukan pendekatan holistik dan terstruktur.

Definisi dan Dimensi Epidemiologis pada Lansia

Secara konsensus, batuk kronis pada orang dewasa didefinisikan sebagai batuk yang berlangsung selama delapan minggu atau lebih. Definisi durasi ini menjadi titik awal krusial dalam evaluasi klinis untuk membedakannya dari batuk akut (<3 minggu) dan subakut (3-8 minggu) yang umumnya memiliki etiologi dan alur tatalaksana yang berbeda.

Data epidemiologis secara konsisten menunjukkan bahwa batuk kronis merupakan masalah yang sangat relevan pada populasi geriatri. Prevalensi global pada populasi dewasa umum diperkirakan berkisar antara 5-11%, namun angka ini menunjukkan puncak yang jelas pada rentang usia 60 hingga 80 tahun. 

Berbagai studi populasi mengonfirmasi tren ini. Sebagai contoh, studi China Pulmonary Health (CPH) menemukan peningkatan prevalensi batuk kronis dari 2.4% pada kelompok usia 20-49 tahun menjadi 6.0% pada mereka yang berusia 50 tahun ke atas. 

Demikian pula, Studi Rotterdam di Eropa menunjukkan peningkatan prevalensi yang sejalan dengan pertambahan usia pada subjek berusia 45 tahun ke atas. Fakta ini menggarisbawahi bahwa setiap praktisi klinis yang melayani pasien lansia akan sering dihadapkan pada tantangan diagnostik dan terapeutik dari kondisi ini.

Dampak Multidimensi terhadap Kualitas Hidup (QoL)

Jauh dari sekadar keluhan minor, batuk kronis pada lansia dapat menyebabkan morbiditas fisik dan emosional yang substansial. Dampak negatifnya terhadap kualitas hidup (QoL) dilaporkan sebanding dengan yang dialami oleh pasien dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) derajat berat, sebuah perbandingan yang menyoroti tingkat keparahan penderitaan pasien.

Komplikasi fisik yang dapat timbul sangat beragam dan sering kali memperburuk kondisi kerapuhan (frailty) yang sudah ada pada lansia. Komplikasi ini meliputi sinkop akibat batuk, inkontinensia urin stres (terutama menjadi masalah signifikan pada wanita lansia), fraktur iga, hernia inguinalis, dan gangguan tidur berat yang dapat memicu atau memperburuk delirium. 

Di luar dampak fisik, beban psikologis dan sosial juga sangat signifikan. Pasien sering melaporkan perasaan depresi, isolasi sosial, dan kecemasan, terutama kekhawatiran akan adanya penyakit serius yang mendasari seperti kanker.

Membedakan Entitas Klinis: Batuk Kronis vs. Batuk Berulang (Recurrent Cough)

Dalam praktik klinis, penting untuk membedakan antara batuk kronis sejati (satu episode berkelanjutan >8 minggu) dengan entitas klinis lain yang disebut batuk berulang atau recurrent cough. Batuk berulang didefinisikan sebagai tiga atau lebih episode batuk dalam satu tahun, di mana setiap episode berlangsung setidaknya selama satu minggu, namun tidak memenuhi kriteria durasi delapan minggu secara kontinu pada saat konsultasi.

Meskipun definisinya berbeda, studi menunjukkan bahwa faktor risiko untuk kedua kondisi ini sangat mirip, meliputi asma, rinosinusitis kronis, dan gastroesophageal reflux disease (GERD). Hal ini mengisyaratkan kemungkinan adanya landasan patofisiologis yang tumpang tindih. 

Pengenalan konsep batuk berulang ini penting secara klinis karena pasien dengan kondisi ini mungkin tidak terdiagnosis dengan benar jika klinisi terlalu kaku berpegang pada definisi durasi delapan minggu. Pasien-pasien ini tetap memerlukan evaluasi diagnostik yang sama komprehensifnya.

Pergeseran Paradigma: Dari Gejala ke Sindrom

Secara tradisional, batuk kronis dipandang sebagai gejala yang harus ditelusuri penyebab tunggalnya. Namun, bukti yang semakin kuat mendorong pergeseran paradigma untuk melihat batuk kronis, terutama pada lansia, sebagai sebuah sindrom klinis atau bahkan entitas penyakit tersendiri. 

Kerangka kerja ini didukung oleh beberapa observasi kunci: etiologinya sering kali multifaktorial (melibatkan komorbiditas, polifarmasi, dan perubahan fisiologis terkait penuaan), dampaknya signifikan terhadap fungsi fisik dan psikososial, dan prevalensinya sangat tinggi pada populasi lansia. Karakteristik ini sejajar dengan definisi klasik dari sindrom geriatri lainnya seperti jatuh, delirium, atau inkontinensia. 

Landasan dari paradigma baru ini adalah pemahaman patofisiologis mengenai cough hypersensitivity syndrome, sebuah konsep yang akan dibahas lebih lanjut. Mengadopsi kerangka "sindrom geriatri" ini memiliki implikasi praktis yang mendalam. Ini mendorong klinisi untuk beralih dari pendekatan reduksionis yang mencari satu "peluru perak" menjadi pendekatan penilaian geriatri komprehensif yang mempertimbangkan interaksi kompleks antara berbagai faktor yang berkontribusi terhadap manifestasi batuk pada pasien lansia.

Etiologi Khas Batuk Kronis pada Lansia: Perbedaan dan Pertimbangan Khusus

Lanskap etiologi batuk kronis pada populasi geriatri memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari populasi dewasa yang lebih muda. Meskipun penyebab-penyebab klasik tetap relevan, terdapat pergeseran signifikan dalam distribusi dan probabilitas diagnostik yang harus menjadi perhatian utama setiap klinisi. Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk melakukan evaluasi yang efisien dan efektif.

Tiga Penyebab Utama (The Big Three) dan NAEB: Fondasi yang Tetap Relevan

Fondasi diagnostik untuk batuk kronis pada pasien dengan foto toraks normal yang tidak merokok dan tidak mengonsumsi obat penghambat enzim pengonversi angiotensin (ACE-inhibitor) tetap bertumpu pada tiga penyebab utama, yang sering disebut The Big Three. Ketiga penyebab ini adalah:

  1. Upper Airway Cough Syndrome (UACS): Sebelumnya dikenal sebagai post-nasal drip syndrome, UACS adalah penyebab paling umum dari batuk kronis. Ini merujuk pada batuk yang disebabkan oleh kondisi rinosinus, seperti rinitis alergi atau non-alergi dan sinusitis.

  2. Asma: Batuk bisa menjadi satu-satunya manifestasi dari asma, suatu kondisi yang dikenal sebagai cough-variant asthma (CVA).

  3. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD): Refluks isi lambung ke esofagus dapat memicu batuk melalui aspirasi mikro atau melalui refleks esofagobronkial.

Bersama-sama, UACS, asma, dan GERD menyumbang sebagian besar kasus batuk kronis, mencapai 85% hingga 100% pada populasi lansia yang terseleksi (foto toraks normal, non-perokok, non-pengguna ACE-inhibitor). Selain itu,

Non-Asthmatic Eosinophilic Bronchitis (NAEB) diakui sebagai penyebab penting keempat. NAEB ditandai oleh inflamasi eosinofilik pada saluran napas tanpa adanya hiperresponsivitas jalan napas yang menjadi ciri khas asma.

Pergeseran Distribusi Etiologi: Ciri Khas Populasi Lansia

Meskipun The Big Three tetap menjadi pilar, ciri khas batuk kronis pada lansia adalah peningkatan dramatis prevalensi penyebab iatrogenik dan terkait GERD. Sebuah studi komparatif yang penting secara langsung menyoroti perbedaan ini antara pasien lansia (didefinisikan sebagai usia ≥60 tahun) dan non-lansia :

  • Batuk Akibat ACE-inhibitor (ACEi): Insidennya secara signifikan jauh lebih tinggi pada kelompok lansia. Studi tersebut menemukan prevalensi 16.3% pada kelompok lansia, dibandingkan dengan hanya 1.7% pada kelompok non-lansia. Perbedaan yang mencolok ini menggarisbawahi betapa pentingnya tinjauan obat sebagai langkah diagnostik pertama. Faktor risiko klinis lain untuk batuk akibat ACEi termasuk jenis kelamin wanita dan usia di atas 65 tahun.

  • Gastroesophageal Reflux Disease (GERD): Prevalensi GERD sebagai penyebab batuk juga ditemukan secara signifikan lebih tinggi pada lansia, yaitu 10.6% dibandingkan dengan 3.7% pada non-lansia.

Peningkatan prevalensi kedua kondisi ini pada lansia secara fundamental mengubah pendekatan diagnostik. Hal ini menyiratkan bahwa polifarmasi bukan hanya menjadi tantangan dalam tatalaksana, tetapi juga merupakan pendorong etiologis utama batuk kronis pada populasi ini. 

Terdapat rantai kausal yang jelas: prevalensi tinggi komorbiditas seperti hipertensi dan gagal jantung pada lansia menyebabkan tingginya peresepan obat seperti ACE-inhibitor, yang kemudian secara langsung menyebabkan efek samping berupa batuk kronis. Dengan demikian, tinjauan obat yang cermat dan potensi deprescribing (penghentian obat yang tidak perlu) beralih dari sekadar langkah rutin menjadi sebuah intervensi diagnostik dan terapeutik dengan hasil tinggi (high-yield).

Peran Komorbiditas yang Sering Terabaikan

Kompleksitas diagnosis pada lansia diperparah oleh adanya berbagai komorbiditas yang dapat menyebabkan atau memperburuk batuk kronis. Beberapa di antaranya sering terabaikan dalam evaluasi awal:

  • Gagal Jantung Kongestif: Ini adalah diagnosis banding yang krusial dan tidak boleh dilewatkan. Sebuah laporan kasus yang instruktif mendemonstrasikan bagaimana batuk kronis dan efusi pleura berulang bisa menjadi manifestasi utama dari gagal jantung akibat perikarditis konstriktif yang tersembunyi pada pasien lansia dengan komorbiditas kompleks, bahkan ketika temuan ekokardiografi awal tampak normal. Adanya tanda klinis seperti peningkatan tekanan vena jugularis (JVP) dan kadar brain-type natriuretic peptide (BNP) yang tinggi merupakan petunjuk penting yang harus memicu evaluasi kardiak lebih lanjut.

  • Asosiasi Baru dengan Kondisi Metabolik dan Gastrointestinal: Penelitian terbaru telah mengidentifikasi hubungan yang sebelumnya tidak dikenali antara batuk kronis pada lansia dengan kondisi lain:

  • Diabetes Melitus Tidak Terkontrol: Kadar HbA1c ≥ 8% ditemukan memiliki hubungan positif yang signifikan dengan batuk pada lansia. Mekanisme yang dihipotesiskan adalah neuropati diabetik yang memengaruhi fungsi otonom, menyebabkan gangguan motilitas esofagus atau refluks laringofaringeal yang kemudian memicu batuk.

  • Konstipasi: Secara mengejutkan, konstipasi juga ditemukan sebagai kondisi komorbid yang berhubungan secara independen dengan batuk pada lansia. Mekanisme yang mungkin adalah peningkatan tekanan intra-abdomen kronis akibat konstipasi, yang dapat memicu atau memperburuk GERD.

Penyebab Lain yang Relevan

Selain penyebab-penyebab di atas, klinisi harus tetap waspada terhadap kondisi lain yang relevan, terutama pada konteks klinis yang spesifik:

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) / Bronkitis Kronis: Sangat relevan pada pasien dengan riwayat merokok yang signifikan. Setiap perubahan dalam pola atau karakteristik batuk kronis pada seorang perokok harus segera meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan keganasan paru.

  • Penyebab Lainnya: Termasuk bronkiektasis (sering memerlukan CT-scan toraks untuk diagnosis), kanker paru, aspirasi kronis (terutama pada pasien dengan riwayat stroke, penyakit Parkinson, atau gangguan neurologis lainnya), dan penyakit paru interstisial.

Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai pergeseran probabilitas diagnostik, tabel berikut menyajikan perbandingan prevalensi penyebab utama batuk kronis antara populasi lansia dan non-lansia.

Tabel 1. Perbandingan Etiologi Batuk Kronis pada Populasi Lansia vs. Non-Lansia

Penyebab

Prevalensi pada Lansia (≥60 tahun) (%)

Prevalensi pada Non-Lansia (%)

Catatan Klinis Penting

Batuk Akibat ACE-inhibitor

16.3

1.7

Peningkatan hampir 10 kali lipat. Tinjauan obat adalah langkah diagnostik krusial.

GERD

10.6

3.7

Prevalensi hampir 3 kali lipat lebih tinggi pada lansia.

Asma Varian Batuk (CVA)

34.6

41.5

Tetap menjadi penyebab utama di kedua kelompok usia.

Upper Airway Cough Syndrome (UACS)

19.3

23.5

Tetap menjadi penyebab umum di kedua kelompok usia.


Patofisiologi Modern: Sindrom Hipersensitivitas Batuk (Cough Hypersensitivity Syndrome)

Selama beberapa dekade, pendekatan terhadap batuk kronis berfokus pada identifikasi dan pengobatan penyakit yang mendasarinya. Namun, pendekatan ini sering kali menemui jalan buntu, di mana batuk tetap bertahan meskipun pemicu yang dicurigai telah diobati secara optimal. Fenomena ini telah mendorong pengembangan konsep patofisiologis baru yang merevolusi pemahaman kita tentang batuk kronis: Cough Hypersensitivity Syndrome.

Konsep Inti: Hipersensitivitas Saraf Vagal Aferen

Cough Hypersensitivity Syndrome adalah sebuah istilah payung yang diajukan untuk menjelaskan fenomena klinis utama yang diamati pada pasien dengan batuk kronis: adanya sensitivitas yang berlebihan terhadap berbagai stimulus pemicu batuk. Landasan neurofisiologis dari sindrom ini adalah hipersensitivitas pada jalur saraf aferen vagal yang mempersarafi laring, trakea, dan bronkus.

Secara sederhana, konsep ini dapat dianalogikan dengan alarm kebakaran yang terlalu sensitif. Pada individu normal, diperlukan stimulus yang signifikan (misalnya, asap tebal dari api) untuk memicu alarm. Namun, pada pasien dengan cough hypersensitivity syndrome, bahkan stimulus tingkat rendah yang seharusnya tidak berbahaya (misalnya, uap dari pancuran air panas, perubahan suhu udara, aroma parfum, atau bahkan tindakan berbicara atau tertawa) sudah cukup untuk memicu "alarm" batuk yang hebat dan persisten. Konsep ini memberikan penjelasan fisik yang kuat dan memvalidasi keluhan pasien yang sering kali dianggap berlebihan atau psikogenik di masa lalu.

Implikasi Klinis dari Konsep Hipersensitivitas

Pengenalan konsep hipersensitivitas batuk memiliki implikasi klinis yang mendalam dan mengubah cara klinisi mendiagnosis, berkomunikasi dengan pasien, dan merencanakan tatalaksana.

Pertama, konsep ini menjelaskan mengapa batuk sering kali menjadi "refrakter" atau bertahan lama. Sebuah pemicu awal, seperti infeksi virus saluran napas atas, mungkin telah memulai proses sensitisasi saraf. Meskipun infeksi tersebut telah sembuh total, jalur saraf batuk tetap berada dalam keadaan "siaga tinggi" atau tersensitisasi. 

Akibatnya, batuk terus berlanjut, dipicu oleh rangsangan sehari-hari yang normal. Ini menjelaskan mengapa banyak kasus batuk kronis didefinisikan sebagai refrakter atau idiopatik, bukan karena kegagalan diagnostik, melainkan karena patofisiologi hipersensitivitas yang menetap.

Kedua, ini memberikan dasar rasional untuk strategi terapi baru yang menargetkan hipersensitivitas itu sendiri. Jika batuk disebabkan oleh saraf yang terlalu aktif, maka pengobatan harus ditujukan untuk "menenangkan" atau memodulasi aktivitas saraf tersebut. 

Ini membuka jalan bagi penggunaan terapi neuromodulator (seperti gabapentin atau amitriptyline) bukan sebagai "tembakan dalam gelap", tetapi sebagai terapi yang ditargetkan secara patofisiologis pada kasus-kasus yang tidak merespons pengobatan berbasis etiologi.

Ketiga, konsep ini menjadi alat komunikasi yang sangat kuat bagi klinisi. Menjelaskan kepada pasien bahwa "saraf batuk Anda menjadi terlalu sensitif" adalah narasi yang lebih memberdayakan dan tidak menghakimi dibandingkan "kami tidak dapat menemukan penyebab batuk Anda". 

Ini membantu memvalidasi penderitaan pasien, membangun aliansi terapeutik, dan menetapkan ekspektasi yang realistis bahwa tujuan pengobatan mungkin bukan "penyembuhan" total, melainkan "pengendalian" sensitivitas dan pengurangan frekuensi serta intensitas batuk.

Terakhir, ada bukti bahwa wanita memiliki refleks batuk yang lebih sensitif terhadap rangsangan seperti capsaicin dibandingkan pria. Perbedaan berbasis gender dalam sensitivitas saraf ini mungkin menjadi salah satu penjelasan mengapa wanita, terutama wanita paruh baya dan lansia, secara tidak proporsional lebih banyak mencari pertolongan medis untuk batuk kronis di klinik spesialis.

Pendekatan Diagnostik Algoritmik pada Pasien Lansia

Menghadapi pasien lansia dengan batuk kronis memerlukan pendekatan yang sistematis, pragmatis, dan disesuaikan dengan geriatri. Sebuah alur kerja algoritmik dapat membantu klinisi menavigasi kompleksitas diagnostik, memastikan kondisi serius tidak terlewatkan, dan menggunakan sumber daya secara rasional. Pendekatan ini harus dimulai dengan fondasi klinis yang kuat, diikuti oleh investigasi yang ditargetkan dan uji coba terapi empiris yang berurutan.

Langkah 1: Fondasi - Anamnesis Terstruktur, Tinjauan Obat, dan Pemeriksaan Fisik

Langkah awal ini adalah yang paling penting dan sering kali paling informatif.

  • Anamnesis Terstruktur: Anamnesis harus fokus pada durasi dan karakteristik batuk (kering atau produktif), waktu terjadinya (siang atau malam), faktor pemicu spesifik (misalnya, saat berbaring, setelah makan, paparan udara dingin), dan ada tidaknya gejala penyerta seperti dispnea, gejala refluks, atau gejala hidung tersumbat dan post-nasal drip. Riwayat merokok, paparan lingkungan atau pekerjaan, dan riwayat perjalanan juga harus digali.

  • Tinjauan Obat Menyeluruh: Pada populasi lansia, ini adalah intervensi diagnostik dengan hasil tertinggi. Identifikasi secara spesifik dan teliti semua obat yang dikonsumsi pasien, dengan fokus utama pada ACE-inhibitor. Mengingat prevalensi batuk akibat ACEi yang sangat tinggi pada lansia (16.3%), penghentian obat ini (dan penggantian dengan alternatif seperti Angiotensin II Receptor Blocker atau ARB) harus dianggap sebagai langkah diagnostik-terapeutik lini pertama.

  • Identifikasi Tanda Bahaya (Red Flags): Sangat penting untuk secara aktif mencari tanda-tanda bahaya yang mungkin mengindikasikan penyakit serius yang mendasarinya. Adanya salah satu dari tanda-tanda ini memerlukan investigasi segera dan sering kali rujukan ke spesialis.

  • Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan harus difokuskan pada area yang menjadi sumber aferen refleks batuk, yaitu THT (mencari tanda-tanda rinosinusitis), paru-paru (mencari mengi, ronki, atau tanda konsolidasi), dan jantung (mencari tanda-tanda gagal jantung seperti peningkatan JVP, edema perifer, atau irama gallop).

Tabel 2. Tanda Bahaya (Red Flags) pada Pasien Batuk Kronis yang Memerlukan Investigasi Segera

Tanda Bahaya

Kemungkinan Implikasi Klinis

Tindakan yang Direkomendasikan

Hemoptisis

Kanker paru, Bronkiektasis, Tuberkulosis, Emboli paru

CT Toraks, Bronkoskopi, Rujuk ke Spesialis Paru

Dispnea Progresif

Gagal jantung, Penyakit Paru Interstisial, PPOK berat, Keganasan

Foto Toraks, Spirometri, EKG, BNP, Rujuk

Penurunan Berat Badan, Demam, Keringat Malam

Keganasan, Infeksi kronis (misalnya, Tuberkulosis)

Foto Toraks, Pemeriksaan Darah Lengkap, Kultur Sputum, Rujuk

Suara Serak (Hoarseness)

Kanker laring, Penekanan saraf laringeus rekuren oleh tumor

Rujuk ke Spesialis THT atau Paru

Perubahan Karakteristik Batuk pada Perokok >45 tahun

Kanker Paru

Foto Toraks, CT Toraks, Rujuk

Disfagia

Keganasan esofagus, Gangguan motilitas, Aspirasi

Rujuk ke Spesialis Gastroenterologi


Langkah 2: Investigasi Awal yang Rasional

Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik (dan dengan asumsi tidak ada tanda bahaya yang memerlukan tindakan segera), investigasi awal yang direkomendasikan secara universal adalah foto toraks dan spirometri.

  • Foto Toraks: Pemeriksaan ini esensial untuk menyingkirkan atau mengidentifikasi kondisi patologis intratoraks yang signifikan seperti keganasan, infeksi (misalnya, TB), efusi pleura, atau tanda-tanda gagal jantung kongestif. Pada sebagian besar kasus batuk kronis, hasil foto toraks akan normal.

  • Spirometri (dengan uji bronkodilator): Ini adalah pemeriksaan wajib untuk mengevaluasi fungsi paru dan mendeteksi adanya obstruksi jalan napas yang reversibel (menunjukkan asma) atau persisten (menunjukkan PPOK).

Langkah 3: Uji Coba Terapi Empiris Bertarget dan Berurutan

Jika tidak ada tanda bahaya, foto toraks normal, dan pasien bukan pengguna ACE-inhibitor, pendekatan selanjutnya adalah uji coba terapi empiris. Penting untuk menghindari uji coba kortikosteroid inhalasi (ICS) secara acak dan tidak terarah. Sebaliknya, lakukan uji coba yang ditargetkan dan berurutan berdasarkan etiologi yang paling mungkin:

  1. Target UACS: Mengingat UACS adalah penyebab paling umum, obati secara spesifik terlebih dahulu. Terapi dapat mencakup kortikosteroid semprot hidung, antihistamin generasi baru (untuk mengurangi efek sedatif pada lansia), atau dekongestan (dengan hati-hati pada pasien hipertensi). Respons klinis biasanya mulai terlihat dalam 2 minggu, tetapi perbaikan maksimal mungkin memerlukan waktu beberapa bulan.

  2. Target Asma/NAEB: Jika terapi UACS gagal, pertimbangkan diagnosis asma atau NAEB. Lakukan uji coba terapi anti-inflamasi dengan ICS selama 4 hingga 8 minggu. Perbaikan batuk yang signifikan dengan terapi ini sangat mendukung diagnosis penyakit saluran napas eosinofilik.

  3. Target GERD: Jika batuk tetap ada, pertimbangkan GERD sebagai penyebabnya, bahkan tanpa gejala refluks yang khas. Uji coba terapi dengan proton pump inhibitor (PPI) dosis tinggi (misalnya, dua kali sehari) selama minimal 8-12 minggu, dikombinasikan dengan modifikasi gaya hidup (elevasi kepala tempat tidur, menghindari makan sebelum tidur), adalah langkah berikutnya.

Langkah 4: Investigasi Lanjutan dan Penilaian Objektif

Jika batuk tetap bertahan meskipun serangkaian uji coba terapi empiris di atas telah dilakukan (batuk refrakter), maka rujukan ke spesialis dan investigasi lebih lanjut diindikasikan. Investigasi ini mungkin meliputi:

  • Uji Provokasi Bronkus dengan Metakolin: Sangat berguna untuk menyingkirkan diagnosis asma jika hasilnya negatif.

  • Analisis Sputum Induksi: Untuk mencari eosinofilia (≥3%), yang merupakan kunci diagnosis NAEB.

  • CT-scan Toraks Resolusi Tinggi (HRCT): Untuk mencari penyakit yang mungkin tidak terlihat pada foto toraks biasa, seperti bronkiektasis atau penyakit paru interstisial tahap awal.

  • Pemantauan pH-Impedansi Esofagus 24 Jam: Dianggap sebagai baku emas untuk mendiagnosis GERD, terutama refluks non-asam, dan biasanya dilakukan setelah gagal terapi PPI.

  • Nasoendoskopi: Dilakukan oleh spesialis THT untuk evaluasi visual saluran napas atas.

Untuk memantau perkembangan secara lebih objektif, klinisi dapat menggunakan alat sederhana seperti Visual Analogue Scale (VAS) di mana pasien menandai tingkat keparahan batuk mereka pada skala 0-100 mm. Untuk penilaian yang lebih komprehensif, kuesioner kualitas hidup spesifik batuk seperti Leicester Cough Questionnaire (LCQ) sangat direkomendasikan untuk mengukur dampak batuk dan respons terhadap terapi.

Gambar 1. Ringkasan Pendekatan diagnostik


Tatalaksana Komprehensif Batuk Kronis pada Lansia

Tatalaksana batuk kronis pada lansia memerlukan pendekatan yang seimbang, menggabungkan terapi yang ditargetkan pada etiologi spesifik dengan strategi inovatif untuk kasus refrakter. Pertimbangan keamanan, terutama terkait polifarmasi dan risiko efek samping obat, harus menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan terapeutik.

Manajemen Berbasis Etiologi (Treatable Traits)

Prinsip dasar tatalaksana adalah mengobati penyebab spesifik yang dapat diobati (treatable traits) yang telah teridentifikasi selama proses diagnostik. Pendekatan ini memastikan terapi yang rasional dan menghindari penggunaan obat yang tidak perlu.

  • Untuk UACS: Tatalaksana berfokus pada pengendalian kondisi rinosinus yang mendasarinya. Ini termasuk menghindari iritan atau alergen yang diketahui, melakukan lavase hidung dengan larutan salin, penggunaan kortikosteroid semprot hidung secara teratur, dan pemberian antihistamin (lebih disukai generasi kedua yang non-sedatif pada lansia).

  • Untuk Asma dan NAEB: Terapi anti-inflamasi adalah landasan utama. Kortikosteroid inhalasi (ICS) adalah obat pilihan pertama. Penting untuk diingat bahwa bronkodilator kerja singkat atau panjang (beta-agonis) pada asma harus selalu diberikan dalam kombinasi dengan ICS, tidak sebagai monoterapi. Pada beberapa kasus, penambahan antagonis muskarinik kerja panjang seperti tiotropium dapat membantu memperbaiki fungsi paru dan mengurangi gejala.

  • Untuk GERD: Selain terapi farmakologis dengan Proton Pump Inhibitors (PPI), modifikasi gaya hidup tetap krusial. Ini termasuk meninggikan kepala tempat tidur, menghindari makan 2-3 jam sebelum tidur, dan mengurangi konsumsi makanan pemicu refluks. Pedoman terbaru juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan refluks non-asam, di mana agen promotilitas mungkin lebih bermanfaat daripada terapi penekan asam saja.

Manajemen Batuk Kronis Refrakter atau Idiopatik: Menargetkan Hipersensitivitas

Ketika tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi atau ketika batuk tetap bertahan meskipun pengobatan optimal untuk kondisi yang mendasarinya telah diberikan, diagnosisnya adalah batuk kronis refrakter atau idiopatik. Pada titik ini, fokus terapi beralih dari mengobati pemicu menjadi menargetkan patofisiologi inti: hipersensitivitas neuronal.

  • Terapi Non-Farmakologis (Lini Pertama pada Lansia): Mengingat profil keamanannya yang superior, terapi non-farmakologis harus menjadi pertimbangan utama atau komplementer pada populasi lansia. Terapi wicara dan fisioterapi, yang sering disebut sebagai cough control therapy, terbukti sangat efektif. Terapi ini, jika dilakukan oleh praktisi yang terlatih, dapat mengajarkan pasien teknik untuk mengenali sensasi pemicu batuk dan menggunakan manuver supresif untuk mencegah episode batuk.

  • Terapi Neuromodulator: Obat-obatan ini bekerja dengan menstabilkan saraf yang terlalu aktif. Penggunaannya pada lansia memerlukan kehati-hatian yang ekstrem karena potensi efek samping.

  • Gabapentin dan Pregabalin: Dianjurkan oleh banyak pedoman untuk batuk refrakter. Namun, efek samping seperti pusing, sedasi, ataksia, dan kebingungan sangat umum dan secara signifikan meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Prinsip "mulai dari dosis rendah, tingkatkan secara perlahan" (start low, go slow) harus diterapkan dengan ketat.

  • Amitriptyline: Sebagai antidepresan trisiklik, obat ini juga dapat digunakan, namun dengan perhatian yang sama terhadap efek samping antikolinergik (mulut kering, retensi urin, konstipasi) dan sedatif yang dapat menjadi masalah pada lansia.

  • Opioid Dosis Rendah: Morfin dosis rendah (misalnya, 5 mg dua kali sehari) terbukti sangat efektif dalam menekan batuk pada subkelompok pasien yang resisten terhadap pengobatan lain. Namun, penggunaannya harus dipertimbangkan dengan cermat karena risiko sedasi, konstipasi, dan depresi napas.

  • Terapi Masa Depan: Penelitian yang sedang berlangsung berfokus pada target yang lebih spesifik pada jalur saraf batuk. Antagonis reseptor P2X3 (misalnya, Gafapixant) telah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan dalam uji klinis untuk mengurangi frekuensi batuk dengan menargetkan hipersensitivitas saraf secara langsung, dan mungkin menawarkan profil efek samping yang lebih baik di masa depan.

Paradoks klinis yang muncul dalam tatalaksana batuk refrakter pada lansia adalah bahwa obat-obatan yang paling sering digunakan (neuromodulator) termasuk dalam kelas obat berisiko tinggi yang sering menjadi target deprescribing karena risiko jatuh dan sedasi. Dilema ini memperkuat argumen bahwa terapi non-farmakologis harus diprioritaskan secara agresif pada populasi ini. Keputusan untuk memulai terapi farmakologis harus didasarkan pada diskusi risiko-manfaat yang eksplisit dengan pasien dan keluarga.

Tabel 3. Pilihan Terapi Neuromodulator untuk Batuk Kronis Refrakter pada Lansia

Obat

Dosis Awal yang Direkomendasikan (Geriatri)

Jadwal Titrasi

Efek Samping Utama yang Perlu Diwaspadai

Catatan Pemantauan

Gabapentin

100 mg sekali sehari (malam hari)

Tingkatkan 100 mg setiap 3-7 hari sesuai toleransi

Pusing, somnolen, ataksia, kebingungan, edema perifer

Pantau risiko jatuh, fungsi kognitif, dan fungsi ginjal

Pregabalin

25-50 mg sekali sehari (malam hari)

Tingkatkan 25-50 mg setiap 3-7 hari sesuai toleransi

Serupa dengan gabapentin: pusing, somnolen, penglihatan kabur

Pantau risiko jatuh, fungsi kognitif, dan fungsi ginjal

Amitriptyline

10 mg sekali sehari (malam hari)

Tingkatkan 10 mg setiap 1-2 minggu sesuai toleransi

Efek antikolinergik (mulut kering, retensi urin, konstipasi), sedasi, hipotensi ortostatik

Pantau tekanan darah, gejala antikolinergik, risiko jatuh


Tantangan Utama: Polifarmasi dan Deprescribing pada Pasien Geriatri dengan Batuk Kronis

Polifarmasi, atau penggunaan beberapa obat secara bersamaan, adalah fenomena yang sangat umum pada lansia dan merupakan tantangan sentral dalam manajemen batuk kronis. Alih-alih hanya menjadi tugas tambahan, tinjauan pengobatan dan proses deprescribing (penghentian obat yang tidak perlu atau tidak sesuai) harus dipandang sebagai intervensi terapeutik inti dan sering kali menjadi langkah pertama yang paling berdampak.

Prevalensi dan Dampak Polifarmasi

Polifarmasi, yang secara umum didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara teratur, sangat lazim pada populasi geriatri. Sebuah studi kohort besar di Swedia menemukan bahwa prevalensi polifarmasi (≥5 obat) adalah 44.0%, dan polifarmasi berlebihan (≥10 obat) mencapai 11.7% pada individu berusia ≥65 tahun. Angka-angka ini kemungkinan serupa atau bahkan lebih tinggi di banyak negara lain.

Konsekuensi dari polifarmasi sangat luas dan merugikan. Ini secara signifikan meningkatkan risiko efek samping obat (adverse drug reactions - ADR), interaksi obat-obat, dan interaksi obat-penyakit. Selain itu, polifarmasi dikaitkan dengan penurunan kepatuhan pengobatan, peningkatan risiko sindrom geriatri seperti jatuh dan delirium, peningkatan jumlah rawat inap, dan biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi. Dalam konteks batuk kronis, polifarmasi bukan hanya masalah umum, tetapi juga penyebab langsung, seperti yang terlihat pada tingginya insiden batuk akibat ACE-inhibitor.

Deprescribing sebagai Intervensi Terapeutik Lini Pertama

Deprescribing adalah proses yang terencana dan diawasi untuk menghentikan obat-obatan yang mungkin menyebabkan kerugian, atau tidak lagi memberikan manfaat. Proses ini terbukti aman dan dapat meningkatkan hasil kesehatan tanpa menyebabkan efek merugikan jangka panjang yang signifikan.

Pada pasien lansia yang datang dengan keluhan batuk kronis, deprescribing ACE-inhibitor adalah langkah diagnostik dan terapeutik pertama yang paling logis, paling aman, dan paling berdampak tinggi. Mengganti ACE-inhibitor dengan obat dari kelas lain (misalnya, ARB) dapat secara definitif menghilangkan batuk pada sebagian besar pasien yang terkena, sehingga menghindari serangkaian investigasi dan uji coba terapi yang mahal dan memakan waktu. 

Lebih jauh lagi, keluhan batuk kronis dapat berfungsi sebagai "kuda Troya" atau titik masuk yang ideal bagi klinisi untuk melakukan tinjauan pengobatan komprehensif (Comprehensive Medication Review), yang merupakan pilar utama dalam kedokteran geriatri. 

Pasien datang dengan keluhan spesifik, dan proses diagnostik yang benar untuk keluhan tersebut secara alami mengarah pada tinjauan seluruh daftar obat pasien. Dengan demikian, dengan menangani batuk secara benar, seorang klinisi tidak hanya mengobati satu gejala, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesehatan dan keselamatan pasien secara keseluruhan dengan mengurangi beban polifarmasi secara umum.

Pendekatan Sistematis untuk Deprescribing

Proses deprescribing tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pendekatan yang sistematis dan berpusat pada pasien sangat dianjurkan. Salah satu model yang diusulkan mencakup lima langkah :

  1. Rekonsiliasi Obat: Buat riwayat pengobatan yang komprehensif dan akurat, termasuk obat resep, obat bebas, dan suplemen herbal.

  2. Identifikasi Obat yang Berpotensi Tidak Sesuai (Potentially Inappropriate Medications - PIMs): Tinjau setiap obat untuk indikasi, efektivitas, keamanan, dan beban pengobatan. Pertimbangkan apakah manfaatnya masih lebih besar daripada risikonya pada kondisi pasien saat ini.

  3. Tentukan Prioritas Penghentian: Tentukan apakah obat dapat dihentikan dengan aman. Prioritaskan obat yang paling mungkin menyebabkan kerugian atau memberikan manfaat paling kecil.

  4. Rencanakan dan Laksanakan Penghentian: Buat rencana penghentian (langsung atau tapering) dan laksanakan dengan pengawasan.

  5. Pantau, Dukung, dan Dokumentasikan: Pantau pasien untuk melihat adanya perbaikan gejala, munculnya efek samping penghentian obat, atau kembalinya kondisi yang mendasari. Berikan dukungan dan dokumentasikan perubahan dalam rekam medis.

Untuk membantu mengidentifikasi PIMs, klinisi dapat menggunakan alat bantu skrining berbasis kriteria eksplisit seperti Kriteria STOPP/START atau Kriteria Beers, yang menyediakan daftar obat-obatan yang umumnya harus dihindari atau digunakan dengan hati-hati pada lansia.

Kriteria Rujukan dan Kesimpulan Klinis

Manajemen batuk kronis pada lansia adalah proses yang dinamis yang sering kali dapat dikelola dengan baik di tingkat layanan primer. Namun, mengetahui kapan harus mencari bantuan spesialis adalah bagian penting dari praktik yang aman dan efektif. Pendekatan kolaboratif antara dokter umum, spesialis paru, dan spesialis lainnya sering kali diperlukan untuk mencapai hasil terbaik.

Panduan Praktis untuk Rujukan

Rujukan ke spesialis harus dipertimbangkan dalam beberapa skenario klinis yang jelas:

  • Rujukan ke Spesialis Paru: Rujukan ini diindikasikan secara kuat jika:

  • Terdapat tanda bahaya (red flags), terutama hemoptisis, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau kecurigaan kuat akan keganasan.

  • Ada temuan abnormal pada investigasi awal, seperti lesi pada foto toraks atau obstruksi signifikan pada spirometri, yang memerlukan evaluasi lebih lanjut seperti bronkoskopi atau CT toraks resolusi tinggi.

  • Batuk tetap refrakter terhadap uji coba terapi empiris yang terstruktur dan adekuat untuk UACS, asma, dan GERD.

  • Rujukan ke Spesialis Lain:

  • Spesialis THT: Dipertimbangkan jika UACS dicurigai kuat berdasarkan gejala klinis tetapi tidak merespons terapi awal, untuk evaluasi lebih lanjut dengan nasoendoskopi.

  • Spesialis Gastroenterologi: Dipertimbangkan jika GERD dicurigai kuat tetapi batuk tidak membaik dengan terapi PPI dosis tinggi, untuk evaluasi lebih lanjut dengan endoskopi atau pemantauan pH-impedansi 24 jam.

  • Pertimbangan Rujukan Geriatri-spesifik: Pada pasien yang sangat rapuh (frail) atau dengan polifarmasi yang sangat kompleks, rujukan atau konsultasi dengan seorang geriatris atau apoteker klinis sangat bermanfaat. Mereka dapat membantu dalam melakukan tinjauan pengobatan komprehensif dan menimbang keseimbangan risiko-manfaat dari setiap intervensi farmakologis.

Ringkasan Poin-Poin Kunci untuk Praktik Sehari-hari

Untuk membantu praktisi klinis dalam menavigasi kompleksitas batuk kronis pada lansia, berikut adalah poin-poin kunci yang dapat dibawa pulang untuk praktik sehari-hari:

  1. Ubah Kerangka Berpikir: Pandang batuk kronis pada lansia sebagai sindrom geriatri yang multifaktorial, bukan sebagai keluhan tunggal yang sepele.

  2. Prioritaskan Tinjauan Obat: Selalu pertimbangkan penyebab iatrogenik (terutama ACE-inhibitor) dan kardiak (gagal jantung) di awal evaluasi.

  3. Jadikan Deprescribing sebagai Intervensi: Deprescribing bukan hanya tugas administratif, melainkan intervensi diagnostik dan terapeutik lini pertama yang paling berdampak pada populasi ini.

  4. Gunakan Pendekatan Algoritmik: Ikuti pendekatan diagnostik yang terstruktur dan berurutan (Anamnesis & Tinjauan Obat → Investigasi Awal → Uji Coba Terapi Empiris Bertarget).

  5. Edukasi Pasien dengan Konsep Hipersensitivitas: Gunakan konsep hipersensitivitas batuk untuk menjelaskan gejala kepada pasien, memvalidasi penderitaan mereka, dan memberikan dasar rasional untuk terapi pada kasus refrakter.

  6. Prioritaskan Keamanan: Pada kasus refrakter, prioritaskan terapi non-farmakologis (terapi wicara/fisioterapi) karena profil keamanannya yang unggul pada lansia.

  7. Hati-hati dengan Neuromodulator: Saat menggunakan neuromodulator (misalnya, gabapentin), terapkan prinsip "mulai dari dosis rendah, tingkatkan secara perlahan" dan pantau efek samping, terutama risiko jatuh, dengan sangat ketat.

Referensi

  1. From a prospective study of chronic cough: diagnostic and therapeutic aspects in older adults - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9625401/

  2. Cough - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 23, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493221/

  3. Chronic Cough: Evaluation and Management - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39172674/

  4. Evaluation and management of chronic cough in adults - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37919844/

  5. Chronic Cough - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 23, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430791/

  6. Managing patients with chronic cough: challenges and solutions ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5995432/

  7. Worldwide prevalence, risk factors and burden of chronic cough in the general population: a narrative review, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10183506/

  8. Recommendations for the management of cough in adults - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2080754/

  9. Cough hypersensitivity and chronic cough - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9244241/

  10. Chronic Cough - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9059861/

  11. Recurrent Cough in the Elderly: A Forgotten Entity - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37964136/

  12. Recurrent Cough in the Elderly: A Forgotten Entity - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10673973/

  13. Cough in the Elderly Population: Relationships with Multiple ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3804463/

  14. ERS guidelines on the diagnosis and treatment of chronic cough in ..., accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31515408/

  15. Chronic Cough in Adults: Make the Diagnosis and Make a ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6966942/

  16. Chronic Cough: Evaluation and Management - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29094873/

  17. Comparison of cause distribution between elderly and non-elderly ..., accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18596372/

  18. 68-Year-Old Woman With Chronic Cough and Recurrent Pleural ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2861978/

  19. Acute Cough in the Elderly: Aetiology, Diagnosis and Therapy - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7100077/

  20. ERS guidelines on the diagnosis and treatment of chronic cough in adults and children - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6942543/

  21. Clinical Practice Guidelines for Diagnosis and Management of Cough—Chinese Thoracic Society (CTS) Asthma Consortium - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6297434/

  22. The epidemiology of polypharmacy in older adults: register-based prospective cohort study, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5856059/

  23. Polypharmacy Management in the Older Adults: A Scoping Review ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8661120/

  24. Polypharmacy in Older People With Heart Failure: Roles of the Geriatrician and Pharmacist, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9987511/

  25. Polypharmacy Management in Older Patients - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33413822/

  26. Deprescribing in older people - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7450772/

  27. Polypharmacy Management in the Older Adults: A Scoping Review of Available Interventions - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34899294/