3 Feb 2026 • Farmakologi
Ulkus varikosum, atau yang secara internasional dikenal sebagai Venous Leg Ulcer (VLU), merupakan tantangan klinis signifikan yang sering dihadapi dalam praktik dokter umum. Kondisi ini merepresentasikan manifestasi klinis paling parah dari Penyakit Vena Kronis (Chronic Venous Disease - CVD), diklasifikasikan sebagai stadium C6 dalam sistem Clinical-Etiology-Anatomy-Pathophysiology (CEAP).
Penting untuk dipahami bahwa VLU bukanlah sekadar luka kulit yang sulit sembuh; ia adalah titik akhir dari sebuah proses penyakit vaskular yang progresif dan telah berlangsung lama. Penatalaksanaan yang berhasil menuntut pemahaman mendalam tidak hanya pada perawatan luka lokal, tetapi juga pada koreksi patofisiologi yang mendasarinya.

Secara definitif, ulkus varikosum adalah diskontinuitas epidermis pada tungkai bawah yang bertahan selama empat minggu atau lebih, disebabkan oleh insufisiensi vena kronis. Prevalensinya di populasi umum diperkirakan mencapai 1% hingga 3%, dengan insidensi yang meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia dan lebih sering ditemukan pada wanita. Angka ini menggarisbawahi beban penyakit yang substansial dan relevansinya dalam layanan primer.
Sifat VLU yang kronis dan sangat rentan terhadap rekurensi menjadi masalah utama, yang secara signifikan menurunkan kualitas hidup pasien dan membebankan biaya sosioekonomi yang besar pada sistem kesehatan. Data menunjukkan bahwa rata-rata waktu dari diagnosis awal CVD hingga terjadinya ulserasi adalah sekitar lima tahun. Jendela waktu ini merupakan periode kritis bagi dokter umum untuk melakukan intervensi dini dan pencegahan progresi penyakit pada pasien dengan tanda-tanda awal seperti varises atau edema.
Gambar 1. Ulkus varikosum tungkai bawah

Pemahaman patofisiologi VLU adalah kunci untuk merasionalisasi strategi terapi. Proses ini merupakan sebuah kaskade yang diawali oleh disfungsi katup vena atau obstruksi aliran vena (misalnya, akibat sindrom pasca-trombotik), yang menyebabkan aliran darah balik atau refluks vena. Refluks ini menimbulkan kondisi patologis sentral yang dikenal sebagai hipertensi vena ambulatori.
Hipertensi vena yang berkelanjutan, diperburuk oleh kegagalan pompa otot betis untuk memompa darah kembali ke jantung secara efektif, menyebabkan tekanan tinggi yang abnormal pada sistem kapiler tungkai bawah. Tekanan ini merusak dinding kapiler, meningkatkan permeabilitasnya, dan menyebabkan kebocoran molekul besar seperti fibrinogen serta sel darah merah ke dalam ruang interstisial. Kebocoran ini secara klinis bermanifestasi sebagai edema pitting, dan deposit hemosiderin dari sel darah merah yang lisis menyebabkan hiperpigmentasi kecoklatan yang khas di sekitar pergelangan kaki.
Kebocoran fibrinogen membentuk "selubung fibrin perikapiler" yang menghalangi pertukaran oksigen dan nutrisi ke jaringan, sementara keberadaan sel-sel darah yang ekstravasasi memicu respons inflamasi kronis. Lingkungan pro-inflamasi ini, yang ditandai dengan peningkatan kadar sitokin seperti Interleukin-1 (IL-1) dan Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α), semakin merusak jaringan, menghambat proses penyembuhan normal, dan pada akhirnya menyebabkan kerusakan epidermis serta terbentuknya ulkus.
Rantai patofisiologis ini menyoroti dualitas fundamental dari VLU: sebuah masalah mekanis (hipertensi vena) yang memicu kaskade biologis (inflamasi dan kerusakan jaringan). Konsekuensinya, strategi tatalaksana yang efektif harus secara simultan menargetkan kedua aspek ini. Terapi kompresi, misalnya, bukanlah sekadar "membalut kaki", melainkan sebuah intervensi mekanis esensial untuk melawan hipertensi vena.
Sementara itu, perawatan luka modern dan farmakoterapi ajuvan menargetkan konsekuensi biologis pada tingkat jaringan. Pendekatan yang hanya berfokus pada salah satu aspek, seperti penggunaan balutan canggih tanpa kompresi yang adekuat, secara inheren tidak akan berhasil karena gagal mengatasi akar penyebab mekanisnya.
Kemampuan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi merupakan langkah pertama dalam pencegahan dan manajemen dini. Faktor-faktor risiko ini dapat dikategorikan menjadi non-modifiable dan modifiable.
Faktor Risiko Non-Modifiable:
Usia lanjut
Jenis kelamin perempuan
Riwayat keluarga dengan CVD
Riwayat trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis - DVT) atau emboli paru
Multiparity
Faktor Risiko Modifiable:
Obesitas (Indeks Massa Tubuh atau IMT > 33 kg/m² terbukti berhubungan dengan penyembuhan luka yang lebih lambat)
Gaya hidup sedenter atau imobilitas
Merokok
Dengan mengenali faktor-faktor ini, dokter umum dapat secara proaktif memberikan edukasi dan konseling kepada pasien dengan CVD tahap awal, mendorong modifikasi gaya hidup untuk memperlambat progresi penyakit dan mencegah terjadinya ulkus.
Diagnosis ulkus varikosum pada dasarnya bersifat klinis, namun memerlukan pendekatan sistematis untuk menyingkirkan etiologi lain yang memerlukan tatalaksana berbeda dan berpotensi berbahaya jika salah didiagnosis. Proses diagnostik ini bertumpu pada anamnesis yang terarah, pemeriksaan fisik yang cermat, dan pemeriksaan penunjang esensial.
Anamnesis yang komprehensif adalah langkah pertama untuk mengarahkan diagnosis ke etiologi vena. Dokter harus secara aktif menanyakan gejala-gejala khas insufisiensi vena kronis, yang meliputi :
Rasa nyeri seperti pegal (aching), berdenyut (throbbing), atau berat pada tungkai.
Pruritus atau gatal di sekitar area ulkus atau pergelangan kaki.
Kram otot, terutama pada malam hari.
Gejala yang khas memburuk menjelang sore atau setelah berdiri atau duduk lama, dan membaik dengan elevasi tungkai.
Selain itu, riwayat ulkus itu sendiri sangat penting untuk digali, mencakup durasi ulkus saat ini, riwayat ulkus sebelumnya, kecepatan penyembuhan, dan frekuensi rekurensi. Riwayat medis yang relevan seperti DVT, selulitis berulang pada tungkai, atau riwayat pembedahan vena sebelumnya juga harus ditanyakan.
Temuan pemeriksaan fisik seringkali sangat sugestif untuk VLU. Penilaian harus mencakup karakteristik ulkus dan kondisi kulit di sekitarnya.
Lokasi Ulkus: Lokasi paling klasik adalah di "area gaiter" (gaiter area), yaitu sepertiga distal tungkai, terutama di atas maleolus medialis.
Karakteristik Ulkus: Ulkus vena biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Dangkal (shallow) dengan dasar luka yang menunjukkan jaringan granulasi.
Tepi ulkus yang tidak teratur (irregular atau shaggy).
Seringkali tertutup oleh selaput fibrin (slough) berwarna kuning.
Eksudat yang bervariasi dari sedang hingga banyak (moderate to heavy).
Stigmata Kulit Akibat Insufisiensi Vena Kronis: Kehadiran tanda-tanda ini di sekitar ulkus sangat memperkuat diagnosis :
Edema pitting pada tungkai.
Hiperpigmentasi hemosiderin (perubahan warna kulit menjadi kecoklatan atau brawny discoloration).
Dermatitis stasis atau eksem vena.
Lipodermatosklerosis (pengerasan dan fibrosis jaringan subkutan, sering digambarkan sebagai bentuk "botol sampanye terbalik").
Atrophie blanche (area parut berwarna putih porselen, seringkali menjadi prekursor ulserasi).
Mengingat bahwa ulkus pada tungkai bawah dapat disebabkan oleh berbagai etiologi, penting bagi dokter umum untuk mempertimbangkan diagnosis banding utama, terutama ulkus arteri dan neuropatik. Kesalahan diagnosis, khususnya menganggap ulkus arteri sebagai ulkus vena dan menerapkan terapi kompresi, dapat mengakibatkan iskemia tungkai yang katastrofik. Tabel berikut merangkum perbedaan kunci untuk membantu diagnosis banding di layanan primer.
Gambar 2. Contoh penyakit vena kronis. (a) Telangiectasis, (b) Varicose vein, (c) Edema, (d) Eczema, (e)Lipodermatosclerosis

Tabel 1. Diferensial Diagnosis Ulkus Tungkai Bawah
Fitur Klinis | Ulkus Varikosum (Vena) | Ulkus Arteri | Ulkus Neuropatik (Diabetik) |
Lokasi Tipikal | Area gaiter, terutama maleolus medialis | Titik tekanan, ujung jari kaki, maleolus lateralis, tumit | Telapak kaki, titik tumpuan berat badan (mis., kepala metatarsal) |
Karakteristik Nyeri | Nyeri pegal, membaik dengan elevasi | Nyeri hebat, terutama malam hari (nyeri istirahat), memburuk dengan elevasi, membaik dengan posisi dependen | Biasanya tidak nyeri atau sensasi berkurang (neuropati) |
Bentuk Ulkus | Tidak teratur, dangkal | Punched-out, tepi tajam, dasar pucat atau nekrotik | Tepi menebal (kalus), bentuk bulat |
Dasar Ulkus | Dasar granulasi kemerahan, sering dengan slough fibrin | Dasar nekrotik hitam, pucat, atau terekspos tendon, sedikit atau tanpa granulasi | Dasar granulasi atau nekrotik, tergantung status vaskular |
Eksudat | Sedang hingga banyak | Minimal atau tidak ada (kering) | Bervariasi, seringkali purulen jika terinfeksi |
Kulit Sekitar | Edema, hiperpigmentasi, dermatitis stasis, lipodermatosklerosis | Kulit tipis, atrofi, mengkilap, tanpa rambut, dingin saat disentuh, pucat saat elevasi, rubor dependen | Kulit kering, pecah-pecah, kalus, deformitas kaki (mis., Charcot foot) |
Denyut Nadi Distal | Biasanya teraba | Lemah atau tidak teraba | Biasanya teraba (kecuali ada penyakit arteri komorbid) |
Meskipun diagnosis VLU sebagian besar bersifat klinis, pemeriksaan penunjang objektif sangat penting untuk mengkonfirmasi diagnosis, menyingkirkan penyakit arteri komorbid, dan memandu tatalaksana yang aman dan efektif.
Pemeriksaan Ankle-Brachial Pressure Index (ABPI atau ABI) adalah investigasi yang wajib dan tidak dapat ditawar untuk dilakukan pada setiap pasien dengan ulkus tungkai bawah sebelum memulai terapi kompresi. Rasionale di balik kewajiban ini sangat kuat: sekitar 20% pasien dengan VLU juga memiliki Penyakit Arteri Perifer (Peripheral Arterial Disease - PAD). Menerapkan kompresi tinggi pada tungkai dengan aliran arteri yang sudah terganggu dapat menyebabkan iskemia kritis dan bahkan amputasi.
ABPI dihitung dengan membagi tekanan darah sistolik tertinggi di pergelangan kaki (diukur pada arteri dorsalis pedis atau tibialis posterior) dengan tekanan darah sistolik tertinggi di lengan (arteri brakialis). Hasil ABPI adalah data objektif yang paling krusial yang akan dihasilkan oleh dokter umum, karena secara langsung menentukan keamanan dan jenis terapi kompresi yang dapat diberikan.
Tabel 2. Interpretasi Ankle-Brachial Pressure Index (ABPI) dan Implikasi Tatalaksana
Nilai ABPI | Interpretasi Klinis | Implikasi Tatalaksana Kompresi |
> 1.3 | Arteri tidak dapat dikompresi (kaku), seringkali karena kalsifikasi (mis., pada diabetes atau penyakit ginjal kronis) | Kontraindikasi Relatif. Hasil tidak valid. Rujuk segera ke spesialis vaskular untuk evaluasi lebih lanjut (mis., Toe-Brachial Index, Duplex Arteri). |
1.0 – 1.3 | Normal | Aman untuk kompresi standar/tinggi. Lanjutkan dengan terapi kompresi multi-lapis. |
0.8 – 0.9 | Penyakit Arteri Perifer Ringan | Aman untuk kompresi standar/tinggi. Dapat melanjutkan terapi, namun tetap waspada terhadap gejala arteri. |
0.5 – < 0.8 | Penyakit Arteri Perifer Sedang | Kompresi standar/tinggi merupakan kontraindikasi. Diperlukan kompresi yang dimodifikasi (tekanan lebih rendah) dan dilakukan di bawah pengawasan ketat, idealnya setelah konsultasi dengan spesialis. |
< 0.5 | Penyakit Arteri Perifer Berat | Kontraindikasi Absolut untuk terapi kompresi. Pasien memerlukan rujukan segera ke spesialis vaskular untuk restorasi aliran arteri. |
Duplex Ultrasound adalah pemeriksaan baku emas (gold standard) untuk mengevaluasi anatomi dan patofisiologi sistem vena tungkai. Pemeriksaan non-invasif ini dapat secara akurat mengidentifikasi lokasi dan tingkat keparahan refluks pada sistem vena superfisial dan profunda, mendeteksi vena perforator yang inkompeten, serta menyingkirkan adanya obstruksi atau sisa trombosis. Informasi ini sangat krusial bagi spesialis bedah vaskular untuk merencanakan terapi intervensi yang bertujuan mengoreksi masalah vena yang mendasarinya.
Bagi dokter umum, indikasi untuk merujuk pasien untuk pemeriksaan Duplex Ultrasound meliputi:
Konfirmasi diagnosis pada kasus atipikal atau ketika ada keraguan klinis.
Sebagai bagian dari evaluasi pre-intervensi pada semua pasien dengan VLU yang terkonfirmasi, untuk memetakan refluks vena yang perlu dikoreksi.
Pada kasus ulkus yang tidak kunjung sembuh meskipun telah mendapat terapi kompresi yang adekuat, untuk mencari penyebab vena yang belum teridentifikasi.
Biopsi Luka: Biopsi harus dipertimbangkan untuk setiap ulkus yang memiliki penampilan atipikal (misalnya, tepi yang menonjol, pertumbuhan berlebihan) atau yang gagal menunjukkan tanda-tanda penyembuhan setelah 3 bulan terapi standar yang optimal. Tujuannya adalah untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan, seperti karsinoma sel skuamosa (ulkus Marjolin), atau kondisi inflamasi lainnya seperti vaskulitis.
Swab Bakteriologi: Pengambilan swab dari dasar ulkus untuk kultur bakteri secara rutin tidak direkomendasikan. Semua luka kronis terkolonisasi oleh bakteri, dan hasil kultur tidak dapat membedakan antara kolonisasi dan infeksi klinis. Swab hanya diindikasikan jika terdapat tanda-tanda infeksi klinis yang jelas, seperti selulitis yang meluas, peningkatan nyeri yang signifikan, bau busuk, atau keluarnya nanah (discharge purulen).
Tatalaksana ulkus varikosum adalah proses jangka panjang yang memerlukan pendekatan multi-modalitas yang terstruktur. Berdasarkan bukti ilmiah yang ada, terdapat hierarki efektivitas yang jelas dalam intervensi yang tersedia. Banyak dokter, yang mungkin dipengaruhi oleh promosi industri, keliru memfokuskan perhatian pada puncak piramida (jenis balutan) daripada dasarnya yang paling fundamental (terapi kompresi). Pendekatan yang benar adalah membangun tatalaksana dari dasar piramida ke atas, memprioritaskan intervensi dengan dampak terbesar dan tingkat bukti tertinggi.
Tabel 3. Hirarki Tatalaksana Ulkus Varikosum Berbasis Bukti
Tingkat Hirarki | Intervensi | Tingkat Bukti | Peran Dokter Umum |
DASAR (Fundamental & Wajib) | Terapi Kompresi | A | Inisiasi dan manajemen. Memastikan ABPI aman, memilih sistem kompresi, dan mengaplikasikannya dengan benar. |
TINGKAT 2 (Ajuvan & Suportif) | Perawatan Luka Modern (Debridement, Pemilihan Balutan) | B/C | Manajemen. Memilih balutan berdasarkan karakteristik luka (terutama eksudat), bukan merek. Melakukan debridement jika terlatih. |
Farmakoterapi Sistemik (MPFF, Pentoxifylline) | A | Pemberian resep. Sebagai terapi tambahan untuk mempercepat penyembuhan bersama kompresi. | |
Modifikasi Gaya Hidup & Terapi Suportif (Elevasi, Latihan, Nutrisi) | B/C | Edukasi dan konseling. Memberdayakan pasien untuk berperan aktif dalam penyembuhan. | |
PUNCAK (Korektif & Pencegahan Rekurensi) | Intervensi Vena (Ablasi Endovena, Skleroterapi) | A | Rujukan. Merujuk ke spesialis bedah vaskular untuk mengoreksi refluks vena dan mencegah rekurensi. |
Terapi kompresi adalah pilar utama, landasan, dan standar perawatan emas (gold standard) untuk tatalaksana ulkus varikosum. Ini bukan pilihan, melainkan keharusan. Mekanisme kerjanya langsung menargetkan patofisiologi inti dengan melawan hipertensi vena, mengurangi edema, meningkatkan fungsi pompa otot betis, dan memperbaiki mikrosirkulasi. Sebuah meta-review menegaskan bahwa terapi kompresi secara signifikan meningkatkan laju penyembuhan dibandingkan tanpa kompresi (Risk Ratio 1.55).
Jenis Sistem Kompresi:
Sistem Perban Multi-komponen Bertekanan Tinggi: Ini adalah pilihan lini pertama untuk VLU tanpa komplikasi pada pasien dengan ABPI ≥ 0.8. Sistem ini terbukti lebih unggul dalam penyembuhan dibandingkan sistem perban lapis tunggal. Sistem ini biasanya terdiri dari beberapa lapisan, termasuk lapisan pelindung (padding) dan lapisan kompresif elastis.
Perban Elastis vs. Inelastis: Perban elastis memberikan tekanan yang berkelanjutan baik saat istirahat maupun beraktivitas, sedangkan perban inelastis (misalnya, Unna boot) memberikan tekanan tinggi hanya saat beraktivitas (ambulasi) dan tekanan rendah saat istirahat.
Pesan Kunci Berbasis Bukti: Sebuah meta-review penting menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam tingkat penyembuhan antara berbagai jenis sistem kompresi (misalnya, perban 4 lapis vs. kurang dari 4 lapis, atau perban elastis vs. inelastis). Hal ini membawa implikasi klinis yang sangat penting:
teknik aplikasi yang benar dan pencapaian tekanan terapeutik yang berkelanjutan jauh lebih penting daripada merek atau jenis sistem perban yang spesifik. Ini memberdayakan dokter umum untuk fokus pada pelatihan keterampilan aplikasi yang baik daripada terjebak dalam kebingungan memilih produk.
Stoking Kompresi: Stoking kompresi medis dengan tekanan tinggi (misalnya, 35 mmHg atau lebih) merupakan alternatif yang baik untuk perban, terutama untuk pasien yang tidak dapat mentolerir perban atau sebagai terapi pemeliharaan jangka panjang untuk mencegah rekurensi setelah ulkus sembuh.
Perawatan luka lokal harus dipandang sebagai terapi suportif yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi penyembuhan untuk terjadi di bawah terapi kompresi yang efektif.
Debridement: Prinsip utamanya adalah mengubah luka kronis menjadi luka akut dengan membuang jaringan nekrotik atau slough. Jaringan mati ini menghambat penyembuhan dengan menjadi media bagi pertumbuhan bakteri dan sumber enzim proteolitik yang merusak.
Metode: Di layanan primer, debridement dapat dilakukan secara autolitik (dengan menggunakan balutan oklusif atau semi-oklusif yang mempertahankan kelembaban untuk memungkinkan enzim tubuh sendiri bekerja) atau secara mekanis (misalnya, dengan curette atau gauze, yang harus dilakukan oleh praktisi yang terlatih). Debridement bedah diindikasikan untuk jaringan nekrotik yang luas atau infeksi berat.
Pemilihan Balutan (Dressing Selection):
Pesan paling krusial dari berbagai tinjauan sistematis adalah: tidak ada bukti kuat yang mendukung keunggulan satu jenis balutan di atas yang lain dalam hal mempercepat penyembuhan VLU. Kebingungan yang sering terjadi akibat banyaknya produk di pasaran dapat diatasi dengan kembali ke prinsip dasar perawatan luka.
Pemilihan balutan harus didasarkan pada karakteristik luka, bukan pada merek atau teknologi yang diiklankan. Tujuannya adalah untuk mengelola eksudat, menjaga kelembaban yang seimbang, dan memberikan kenyamanan bagi pasien.
Untuk luka dengan eksudat banyak: Gunakan balutan yang sangat menyerap (absorbent) seperti foam (busa) atau alginat.
Untuk luka kering atau dengan nekrosis hitam: Gunakan hydrogel untuk memberikan kelembaban dan memfasilitasi debridement autolitik.
Prinsip Umum: Pilih balutan yang sederhana, tidak lengket pada luka, biaya efektif, dan dapat diterima oleh pasien.
Penggunaan Antiseptik Topikal: Penggunaan antiseptik harus dilakukan dengan hati-hati.
Hidrogen peroksida (H2O2) berpotensi toksik terhadap fibroblas dan keratinosit (sel-sel penting untuk penyembuhan) dan harus dihindari.
Bukti ilmiah untuk mendukung penggunaan rutin balutan yang mengandung perak (silver) untuk mempercepat penyembuhan VLU masih kurang atau lemah.
Produk yang mengandung Cadexomer iodine dapat dipertimbangkan untuk mengurangi beban bakteri pada luka yang terkolonisasi berat atau terinfeksi.
Beberapa obat sistemik telah terbukti efektif sebagai terapi tambahan (adjunct) untuk terapi kompresi, yang bekerja dengan memperbaiki mikrosirkulasi dan mengurangi inflamasi.
Micronized Purified Flavonoid Fraction (MPFF): Obat venoaktif ini, seperti Daflon, memiliki tingkat rekomendasi tertinggi dalam pedoman klinis terbaru untuk mempercepat penyembuhan VLU, terutama pada ulkus yang besar atau sudah berlangsung lama. MPFF bekerja dengan mengurangi reaksi inflamasi yang dipicu oleh hipertensi vena.
Pentoxifylline: Obat ini terbukti efektif (Tingkat Bukti A) dalam meningkatkan laju penyembuhan VLU bila digunakan bersama dengan terapi kompresi.
Obat lain seperti aspirin, sulodexide, atau suplemen zinc belum memiliki bukti yang cukup kuat untuk direkomendasikan secara rutin dalam tatalaksana VLU.
Peran aktif pasien sangat penting untuk keberhasilan terapi. Dokter umum memiliki peran kunci dalam memberikan edukasi mengenai langkah-langkah suportif berikut:
Elevasi Tungkai: Menganjurkan pasien untuk meninggikan tungkai di atas level jantung sesering mungkin, terutama saat beristirahat, adalah cara sederhana namun efektif untuk mengurangi edema dan tekanan vena.
Latihan Fisik: Latihan yang mengaktifkan pompa otot betis, seperti berjalan kaki atau latihan resistensi progresif, sangat dianjurkan untuk membantu memompa darah kembali ke sirkulasi sentral.
Manajemen Nutrisi: Pasien dengan VLU seringkali mengalami defisiensi nutrisi mikro seperti zinc, vitamin C, dan vitamin D, yang penting untuk penyembuhan luka. Penilaian status gizi dan suplementasi jika diperlukan dapat membantu. Pada luka dengan eksudat yang sangat banyak, asupan protein yang lebih tinggi mungkin diperlukan.
Manajemen Berat Badan dan Berhenti Merokok: Mengontrol berat badan dan menghentikan kebiasaan merokok adalah intervensi fundamental untuk meningkatkan kesehatan vaskular secara keseluruhan dan mendukung proses penyembuhan.
Meskipun terapi konservatif yang dipimpin oleh dokter umum sangat efektif dalam menyembuhkan VLU, peran spesialis bedah vaskular menjadi krusial dalam siklus perawatan, terutama untuk mencegah masalah utama: rekurensi.
Di sinilah letak pemahaman klinis yang paling penting bagi dokter umum: terapi kompresi menyembuhkan ulkus, tetapi intervensi untuk mengoreksi refluks vena yang mendasarilah yang mencegah ulkus kembali lagi. Tanpa mengatasi sumber masalah (katup vena yang rusak), VLU memiliki tingkat rekurensi yang sangat tinggi.
Studi penting seperti ESCHAR trial menunjukkan bahwa penambahan intervensi bedah pada terapi kompresi dapat mengurangi tingkat rekurensi hingga setengahnya dibandingkan dengan terapi kompresi saja. Oleh karena itu, penyembuhan ulkus bukanlah akhir dari terapi, melainkan awal dari fase pencegahan rekurensi.
Dokter umum perlu mengetahui opsi intervensi yang tersedia agar dapat memberikan informasi yang akurat kepada pasien saat merujuk. Opsi modern berfokus pada prosedur minimal invasif:
Ablasi Endovena (Laser atau Radiofrekuensi): Ini adalah standar perawatan saat ini untuk mengatasi refluks pada vena superfisial utama (misalnya, Vena Saphena Magna). Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam vena yang rusak dan menggunakan energi panas untuk menutup vena tersebut. Prosedur ini sangat efektif, aman, mempercepat penyembuhan, dan secara signifikan mengurangi rekurensi.
Skleroterapi (terutama Foam Sclerotherapy): Prosedur ini melibatkan penyuntikan zat kimia (sklerosan), seringkali dalam bentuk busa, ke dalam vena yang rusak untuk menyebabkannya menutup dan terserap oleh tubuh. Ini adalah alternatif yang sangat baik, terutama untuk vena varikosa yang berkelok-kelok, vena perforator yang inkompeten, atau pada pasien yang lebih tua dan rapuh.
Prosedur Bedah Terbuka: Ligasi tinggi dan stripping vena secara tradisional kini lebih jarang dilakukan tetapi masih memiliki peran dalam kasus-kasus tertentu.
Terapi Lanjutan untuk Ulkus Refrakter: Untuk ulkus yang tidak kunjung sembuh, spesialis memiliki opsi lanjutan seperti terapi luka tekanan negatif (Negative Pressure Wound Therapy - NPWT), cangkok kulit (skin grafting), atau terapi seluler dan biologis lainnya.
Untuk memastikan pasien menerima perawatan yang tepat pada waktu yang tepat, berikut adalah pemicu yang jelas untuk merujuk pasien dengan ulkus tungkai ke spesialis bedah vaskular:
Diagnosis Tidak Pasti: Jika presentasi klinis ulkus atipikal atau ada kecurigaan kuat adanya komponen arteri yang signifikan (ulkus campuran arteri-vena).
Hasil ABPI Abnormal: Setiap pasien dengan ABPI < 0.8 memerlukan evaluasi vaskular sebelum kompresi dimodifikasi dapat dipertimbangkan. Pasien dengan ABPI > 1.3 juga memerlukan rujukan karena indeks ini menunjukkan kekakuan arteri dan memerlukan pemeriksaan vaskular lebih lanjut.
Kegagalan Penyembuhan (Failure to Heal): Jika ulkus tidak menunjukkan pengurangan ukuran yang berarti (misalnya, < 20-30%) setelah 4 hingga 6 minggu terapi kompresi yang optimal dan patuh, atau jika ulkus tidak sembuh sepenuhnya dalam 12 minggu.
Indikasi Intervensi Pencegahan Rekurensi: Ini adalah indikasi yang paling sering terlewatkan. Semua pasien dengan ulkus varikosum (baik yang aktif maupun yang baru sembuh) yang memiliki bukti refluks vena superfisial atau perforator pada Duplex Ultrasound harus dipertimbangkan untuk dirujuk ke spesialis. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan opsi intervensi guna mencegah rekurensi di masa depan.
Kecurigaan Keganasan: Setiap ulkus yang secara klinis mencurigakan atau gagal sembuh dan memerlukan biopsi.
Ulkus varikosum adalah kondisi kronis yang kompleks yang penatalaksanaannya memerlukan pemahaman yang kuat tentang patofisiologi dan pendekatan berbasis bukti yang terstruktur. Keberhasilan tidak hanya diukur dari penyembuhan luka, tetapi juga dari pencegahan rekurensi jangka panjang.
Poin-Poin Kunci untuk Praktik Klinis:
Ulkus varikosum adalah manifestasi akhir dari penyakit vena kronis, bukan masalah kulit lokal. Tatalaksana harus menargetkan hipertensi vena yang mendasarinya.
Diagnosis klinis harus selalu didahului oleh pemeriksaan ABPI sebagai langkah keamanan yang tidak dapat dinegosiasikan sebelum memulai terapi kompresi.
Terapi kompresi adalah landasan mutlak dari semua tatalaksana. Fokuskan upaya dan edukasi pasien pada kepatuhan terhadap terapi ini.
Balutan luka berperan sebagai pendukung untuk mengelola lingkungan luka (terutama eksudat), bukan sebagai pendorong utama penyembuhan. Pemilihannya harus pragmatis dan berbasis karakteristik luka.
Farmakoterapi ajuvan (MPFF, pentoxifylline) dapat membantu mempercepat penyembuhan bila dikombinasikan dengan kompresi yang baik.
Rujukan ke spesialis bedah vaskular adalah bagian integral dari siklus perawatan, terutama untuk mengoreksi patologi vena yang mendasari dan secara drastis mengurangi risiko rekurensi yang melemahkan.
Dengan mengikuti alur kerja yang sistematis—mulai dari diagnosis yang cermat, implementasi terapi kompresi yang aman dan efektif, hingga rujukan yang tepat waktu—dokter umum dapat secara signifikan meningkatkan hasil klinis, mengurangi beban penyakit, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan ulkus varikosum.
Alur Kerja Praktis yang Disarankan:
Pasien dengan Ulkus Tungkai Bawah → Lakukan Anamnesis & Pemeriksaan Fisik terarah.
Lakukan Pemeriksaan ABPI pada semua pasien.
Analisis Hasil ABPI:
Jika ABPI < 0.8 atau > 1.3 → RUJUK ke Spesialis Vaskular. Jangan terapkan kompresi standar.
Jika ABPI 0.8 - 1.3 → Diagnosis VLU terkonfirmasi dan aman untuk kompresi.
Inisiasi Tatalaksana Konservatif Komprehensif:
Terapi Kompresi: Aplikasikan sistem perban multi-komponen bertekanan tinggi.
Perawatan Luka: Pilih balutan berdasarkan eksudat. Lakukan debridement jika perlu.
Terapi Ajuvan: Pertimbangkan MPFF atau Pentoxifylline.
Edukasi Pasien: Tekankan elevasi, latihan, dan modifikasi gaya hidup.
Monitor Progres Penyembuhan secara Berkala (mis., setiap 2-4 minggu):
Jika ada perbaikan yang baik → Lanjutkan terapi hingga sembuh. Setelah sembuh, RUJUK ke Spesialis Vaskular untuk evaluasi intervensi pencegahan rekurensi.
Jika tidak ada perbaikan setelah 4-6 minggu → Evaluasi ulang kepatuhan dan teknik kompresi. Pertimbangkan RUJUKAN ke Spesialis Vaskular untuk evaluasi lebih lanjut dan kemungkinan terapi lanjutan.
The Most Severe Stage of Chronic Venous Disease: An Update on the Management of Patients with Venous Leg Ulcers, accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7004438/
Review of the current evidence for topical treatment for venous leg ulcers - PubMed, accessed July 22, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34171531/
Venous Leg Ulcer - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 22, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK567802/
Venous Leg Ulcers: A Review of Published Assessment and Treatment Algorithms - PMC, accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8573799/
Strategies and challenges in the treatment of chronic venous leg ..., accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7674718/
Evidence-Based Clinical Practice Points for the Management of ..., accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5991028/
Venous Leg Ulcers: Advanced Therapies and New Technologies - PMC, accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8615583/
Wound Care for Venous Ulceration - PMC, accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8175111/
Cytokines and Venous Leg Ulcer Healing-A Systematic Review - PubMed, accessed July 22, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35742965/
Standard guidelines for management of venous leg ulcer - PMC, accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4144254/
Venous leg ulcer: Topical treatment, dressings and surgical debridement - PMC, accessed July 22, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4144245/
A meta-review of the impact of compression therapy on venous leg ulcer healing - PubMed, accessed July 22, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35855678/
Dressings and topical agents for treating venous leg ulcers - PubMed, accessed July 22, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29906322/