8 May 2026 •
Herpes Zoster Ophtalmicus (HZO) merupakan manifestasi klinis akibat reaktivasi virus Varicella-Zoster (VZV) laten yang terjadi pada divisi oftalmika (V1) nervus trigeminus. Kondisi ini menyumbang sekitar 10-25% dari seluruh kasus herpes zoster (HZ) dan merupakan suatu kegawatdaruratan dalam bidang oftalmologi.

Potensi komplikasi serius seperti nyeri neuropatik kronis yang hebat (post-herpetic neuralgia/PHN) dan kehilangan penglihatan permanen menjadikan HZO tantangan diagnostik dan terapeutik yang signifikan. Oleh karena itu, diagnosis dini dan penatalaksanaan yang tepat dan cepat sangat krusial untuk meminimalkan morbiditas visual dan nyeri jangka panjang.
Artikel ilmiah populer ini dirancang khusus untuk Dokter Umum (GP) berusia 25-35 tahun, bertujuan memberikan panduan praktis berbasis bukti (evidence-based) mengenai diagnosis HZO, dosis obat antivirus sistemik yang relevan, serta membahas perbandingan antara formulasi terapi topikal (salep versus tetes mata/gel) berdasarkan data dari jurnal ilmiah terindeks PubMed.
Mengingat GP seringkali menjadi lini pertama yang ditemui pasien , pemahaman komprehensif mengenai HZO esensial untuk tata laksana awal yang adekuat dan pengambilan keputusan rujukan yang tepat waktu ke spesialis mata.
Gambar 1. Lesi pada kulit yang disebabkan oleh infeksi herpes zoster

Diagnosis HZO seringkali dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan anamnesis dan temuan fisik khas. GP perlu mengenali tanda dan gejala kunci berikut:
Gambar 2. Herpes Zoster Opthalmicus

1. Gejala Prodromal:
Fase ini umumnya berlangsung 1-5 hari sebelum munculnya ruam kulit, meskipun pada kasus atipikal bisa lebih lama. Pasien mungkin mengeluhkan gejala mirip flu seperti malaise, demam, dan sakit kepala. Gejala paling khas adalah nyeri neuropatik unilateral pada area yang akan terkena ruam (dermatoma V1).
Nyeri ini sering digambarkan sebagai rasa terbakar, tertusuk, atau kesemutan (parestesia). Nyeri prodromal ini dapat mendahului ruam beberapa hari dan terkadang menyulitkan diagnosis awal karena dapat menyerupai kondisi lain seperti migrain atau neuralgia trigeminal.
2. Evolusi Ruam Kulit:
Ruam HZO klasik bersifat unilateral dan terbatas pada dermatoma V1 (dahi, kelopak mata atas, sisi dan ujung hidung). Ruam dimulai sebagai makula atau papul eritematosa yang dengan cepat berkembang menjadi vesikel-vesikel berkelompok di atas dasar kulit yang merah dan bengkak. Vesikel ini kemudian dapat menjadi pustul, lalu pecah, mengering, dan membentuk krusta dalam waktu 7-10 hari. Penyembuhan biasanya terjadi dalam 2-4 minggu pada individu imunokompeten.
3. Tanda Hutchinson (Hutchinson's Sign):
Ini adalah tanda klinis yang sangat penting. Tanda Hutchinson merujuk pada adanya lesi vesikular HZ pada ujung, sisi, atau pangkal hidung. Kehadiran tanda ini mengindikasikan keterlibatan cabang nasosiliaris dari nervus V1, yang juga mempersarafi struktur internal mata seperti kornea dan uvea.
Tanda Hutchinson merupakan prediktor kuat (beberapa sumber menyebut hingga 100%) adanya keterlibatan okular yang signifikan. Oleh karena itu, GP harus secara aktif memeriksa area hidung pada setiap pasien suspek HZO. Kehadiran Tanda Hutchinson merupakan red flag yang menandakan urgensi tinggi untuk rujukan ke spesialis mata. Mengabaikan tanda ini dapat berakibat serius pada penglihatan pasien.
Gambar 3. Herpes Zoster Opthalmicus: Terapi, Komplikasi dan pencegahan

4. Tanda Awal Keterlibatan Mata (Early Ocular Signs):
Sekitar 50% pasien HZO akan mengalami komplikasi pada mata. GP perlu mewaspadai tanda-tanda awal berikut:
Kelopak Mata: Seringkali tampak bengkak (edema), merah (hiperemia), dan bisa disertai ptosis jika pembengkakan cukup hebat.
Konjungtivitis: Mata tampak merah (injeksi konjungtiva), bengkak (kemosis), dan mungkin disertai perdarahan kecil (petekie) atau selaput (pseudomembran).
Keratitis Epitelial: Ini adalah keterlibatan kornea paling awal. Dapat berupa lesi punctata (bintik-bintik kecil yang menyerap pewarna fluorescein) atau pseudodendrit. Pseudodendrit HZO tampak seperti cabang pohon namun berbeda dari dendrit pada Herpes Simplex Virus (HSV). Pseudodendrit HZO merupakan plak mukus yang menimbul, menyerap pewarna fluorescein secara minimal, dan tidak memiliki penebalan di ujungnya (terminal bulb). Lesi ini menandakan adanya virus aktif di epitel kornea.
Episkleritis/Skleritis: Peradangan pada lapisan luar sklera (bagian putih mata), menyebabkan kemerahan sektoral atau difus.
Meskipun diagnosis HZO seringkali klinis, pemeriksaan mata awal oleh GP (minimal inspeksi eksternal, penilaian visus jika memungkinkan) sangat penting. Adanya Tanda Hutchinson atau keluhan mata apapun (mata merah, nyeri, silau, pandangan kabur) merupakan indikasi mutlak untuk rujukan segera ke spesialis mata.
Perlu diwaspadai juga kemungkinan presentasi atipikal HZO. Zoster sine herpete adalah kondisi nyeri neuropatik khas HZ pada dermatoma V1 tanpa disertai munculnya ruam kulit. Selain itu, fase prodromal dapat berlangsung lebih lama dari biasanya. Pada sebagian kecil kasus, keterlibatan okular bisa menjadi manifestasi yang dominan bahkan sebelum ruam muncul atau dengan ruam yang minimal.
Hal ini menekankan pentingnya kecurigaan klinis yang tinggi terhadap HZO pada pasien (terutama lansia atau imunokompromais) dengan nyeri kepala atau wajah unilateral yang baru, bahkan tanpa ruam klasik. Keterlambatan diagnosis pada kasus atipikal dapat menunda terapi antivirus dan meningkatkan risiko komplikasi.
Manajemen HZO bertujuan untuk mengatasi infeksi virus, meredakan nyeri, dan mencegah komplikasi jangka panjang, terutama pada mata dan saraf.
1. Pilar Utama: Antivirus Sistemik Dini
Terapi antivirus sistemik merupakan landasan utama (mainstay) penatalaksanaan HZO. Pemberian antivirus harus dimulai sesegera mungkin, idealnya dalam 72 jam pertama sejak onset ruam kulit. Terapi dini terbukti secara signifikan mengurangi durasi dan keparahan penyakit akut, mempercepat penyembuhan lesi kulit, mengurangi intensitas nyeri akut, dan yang terpenting, menurunkan risiko komplikasi okular kronis dari sekitar 50% menjadi 20-30%.
Pemberian antivirus masih dipertimbangkan meskipun onset ruam sudah lebih dari 72 jam, terutama jika masih muncul lesi vesikel baru (menandakan replikasi virus masih aktif) atau jika sudah terdapat keterlibatan okular (HZO).
Pilihan obat antivirus oral standar untuk dewasa imunokompeten dirangkum dalam Tabel 1.
Tabel 1: Dosis Standar Antivirus Oral untuk HZO pada Dewasa Imunokompeten
Obat (Drug) | Dosis (Dosage) | Frekuensi (Frequency) | Durasi (Duration) | Catatan (Notes) |
Acyclovir | 800 mg | 5 kali sehari | 7-10 hari | Bioavailabilitas oral rendah (~15-30%). Penyesuaian dosis ginjal mutlak diperlukan. |
Valacyclovir | 1000 mg | 3 kali sehari | 7 hari | Prodrug Acyclovir, bioavailabilitas lebih baik (~54%). Penyesuaian dosis ginjal diperlukan. |
Famciclovir | 500 mg | 3 kali sehari | 7 hari | Bioavailabilitas baik. Penyesuaian dosis ginjal diperlukan. |
Valacyclovir dan famciclovir memiliki efikasi yang sebanding dengan acyclovir dalam studi HZO dan menawarkan keuntungan jadwal dosis yang lebih nyaman (3 kali sehari) dibandingkan acyclovir (5 kali sehari). Hal ini berpotensi meningkatkan kepatuhan pasien, terutama pada populasi lansia yang sering mengalami HZO. Pilihan ini mungkin lebih disukai dalam praktik klinis, meskipun acyclovir tetap menjadi standar yang efektif jika diminum sesuai aturan.
Sangat penting untuk memperhatikan fungsi ginjal pasien sebelum meresepkan antivirus, terutama acyclovir dan valacyclovir, karena keduanya diekskresikan primer melalui ginjal. Gangguan fungsi ginjal dapat secara dramatis meningkatkan waktu paruh obat dan risiko toksisitas (nefrotoksisitas akibat deposisi kristal atau nefritis interstisial, dan neurotoksisitas).
GP harus secara proaktif menilai fungsi ginjal (minimal estimasi Laju Filtrasi Glomerulus/eLFG) dan melakukan penyesuaian dosis sesuai panduan berdasarkan klirens kreatinin (CrCl) untuk mencegah efek samping serius. Kelalaian dalam penyesuaian dosis merupakan risiko iatrogenik yang signifikan. Acyclovir intravena (misalnya, 10 mg/kg berat badan ideal, setiap 8 jam) diindikasikan pada pasien imunokompromais, HZO yang berat atau mengancam penglihatan (seperti nekrosis retina akut), atau pasien yang memerlukan perawatan rawat inap.
2. Manajemen Nyeri
Nyeri pada HZO, baik akut maupun kronis (PHN), seringkali bersifat neuropatik dan bisa sangat hebat. Manajemen nyeri multimodal sangat penting:
Analgesik: Dimulai dengan analgesik sederhana seperti parasetamol atau Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS). Untuk nyeri sedang hingga berat, opioid seperti tramadol, oxycodone, atau morphine mungkin diperlukan.
Obat Adjuvan (Nyeri Neuropatik): Karena sifat nyeri yang neuropatik, penambahan agen seperti Antidepresan Trisiklik (TCA), misalnya Amitriptyline atau Nortriptyline (dosis rendah, dimulai malam hari), atau Antikonvulsan seperti Gabapentin atau Pregabalin, seringkali sangat membantu. Obat-obat ini dapat dimulai pada fase akut untuk membantu mengontrol nyeri dan berpotensi mengurangi risiko berkembangnya PHN, meskipun bukti pencegahan PHN oleh antivirus sendiri tidak selalu konsisten. Nortriptyline seringkali lebih ditoleransi daripada amitriptyline pada lansia.
Terapi Topikal Nyeri: Untuk nyeri yang terlokalisir, terutama pada PHN, patch Lidocaine 5% atau krim Capsaicin dapat dipertimbangkan.
3. Terapi Suportif Okular
Terapi ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan melindungi permukaan mata:
Lubrikan (Air Mata Buatan): Penggunaan tetes mata lubrikan tanpa pengawet sangat penting untuk menjaga kelembaban permukaan mata, mengurangi iritasi, dan melindungi kornea, terutama jika terdapat keratitis atau penurunan sensasi kornea (neurotrophic keratitis).
Sikloplegik: Jika terdapat peradangan di dalam mata (uveitis anterior), spesialis mata mungkin akan meresepkan tetes mata sikloplegik (misalnya Atropine 1%, Homatropine 2%, atau Cyclopentolate 1%). Obat ini bekerja melebarkan pupil dan melumpuhkan otot siliaris untuk mengurangi nyeri akibat spasme otot, mencegah perlekatan antara iris dan lensa (sinekia posterior), dan membantu menstabilkan peradangan.
Kompres Dingin: Dapat membantu mengurangi bengkak dan nyeri pada kelopak mata.
4. Peran Kortikosteroid Sistemik
Penggunaan kortikosteroid sistemik (oral) pada HZO akut masih menjadi perdebatan. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid bersamaan dengan antivirus dapat mempercepat penyembuhan ruam dan mengurangi nyeri akut, namun tidak terbukti konsisten dalam mencegah PHN. Mengingat potensi efek sampingnya (terutama pada lansia atau pasien dengan penyakit penyerta), penggunaannya harus dipertimbangkan secara hati-hati dan biasanya atas indikasi spesifik oleh spesialis.
Terapi okular topikal pada HZO memiliki peran penting, namun perlu dipahami bahwa terapi ini bersifat adjuvan atau tambahan, dan tidak dapat menggantikan terapi antivirus sistemik. Terapi topikal ditujukan untuk mengatasi manifestasi spesifik pada mata.
1. Antivirus Topikal
Indikasi Utama: Penggunaan antivirus topikal diindikasikan terutama untuk pengobatan keratitis epitelial aktif yang disebabkan oleh replikasi virus VZV di permukaan kornea, seperti lesi punctata atau pseudodendrit. Ada bukti kasus yang menunjukkan bahwa Ganciclovir gel 0.15% efektif untuk mengobati pseudodendrit HZO yang tidak merespon terhadap terapi antivirus oral.
Pilihan Agen dan Formulasi:
Acyclovir 3% Salep Mata: Merupakan pilihan di beberapa negara. Dosis lazim adalah 5 kali sehari sampai lesi sembuh, diikuti penurunan frekuensi secara bertahap.
Ganciclovir 0.15% Gel Mata: Alternatif yang lebih baru dan tersedia lebih luas di beberapa wilayah. Dosis serupa, 5 kali sehari hingga sembuh, lalu diturunkan bertahap.
Perbandingan Efikasi Salep vs. Gel/Tetes:
Studi perbandingan langsung pada HZO masih terbatas. Namun, data dari studi keratitis Herpes Simplex Virus (HSV), yang relevan untuk membandingkan sifat formulasi, menunjukkan bahwa Ganciclovir 0.15% gel memiliki efikasi yang tidak inferior (setara) dengan Acyclovir 3% salep dalam menyembuhkan ulkus dendritik.
Penting untuk dicatat, sebuah studi pada HZO dini menemukan bahwa pemberian Acyclovir salep topikal saja justru menghasilkan luaran yang lebih buruk (lebih banyak komplikasi okular seperti uveitis dan hipestesi kornea) dibandingkan dengan pemberian Acyclovir oral 800mg 5 kali sehari. Hal ini secara tegas menunjukkan bahwa antivirus topikal tidak cukup sebagai monoterapi HZO dan tidak memiliki nilai pencegahan komplikasi dibandingkan terapi sistemik.
Meta-analisis juga mengkonfirmasi superioritas Acyclovir oral dibandingkan Acyclovir topikal dalam penanganan uveitis anterior terkait VZV. Ini menggarisbawahi bahwa penetrasi sistemik diperlukan untuk mengendalikan virus di jaringan mata yang lebih dalam dan mencegah komplikasi inflamasi. Antivirus topikal utamanya bekerja di permukaan kornea untuk mengobati lesi epitel yang sudah ada.
Perbandingan Tolerabilitas & Kepatuhan (Salep vs. Gel):
Formulasi salep (Acyclovir 3%) diketahui lebih sering menyebabkan pandangan kabur setelah aplikasi, dan efek kabur ini bisa bertahan lebih lama dibandingkan formulasi gel (Ganciclovir 0.15%).
Ganciclovir 0.15% gel umumnya ditoleransi lebih baik oleh pasien. Studi klinis melaporkan lebih sedikit keluhan iritasi mata, rasa menyengat atau terbakar, dan lebih rendahnya insiden keratitis punctata superfisial toksik dibandingkan dengan Acyclovir salep.
Tolerabilitas yang lebih baik dari formulasi gel, terutama berkurangnya gangguan penglihatan kabur, dapat secara signifikan meningkatkan kepatuhan pasien terhadap rejimen pengobatan yang intensif (misalnya 5 kali sehari). Ketidaknyamanan akibat salep dapat menyebabkan pasien melewatkan dosis atau menghentikan pengobatan terlalu dini.
Tabel 2: Perbandingan Formulasi Antivirus Topikal untuk Keratitis HZO
Agen (Agent) | Formulasi (Formulation) | Indikasi Utama (Main Indication) | Efikasi Relatif (vs Ointment) | Tolerabilitas Utama (Key Tolerability Issue) |
Acyclovir | 3% Salep (Ointment) | Keratitis Epitelial (Pseudodendrit) | Setara dengan Gel (untuk HSV) | Pandangan kabur signifikan setelah aplikasi |
Ganciclovir | 0.15% Gel | Keratitis Epitelial (Pseudodendrit) | Setara dengan Salep (untuk HSV) | Pandangan kabur minimal, iritasi lebih jarang |
2. Kortikosteroid Topikal
Indikasi: Kortikosteroid topikal (biasanya dalam bentuk tetes mata) digunakan untuk mengendalikan respons inflamasi pada mata yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan permanen. Indikasi utamanya meliputi keratitis stroma (inflamasi pada lapisan tengah kornea), keratitis disiformis (edema kornea berbentuk cakram), uveitis anterior (peradangan di bilik mata depan), dan trabekulitis (peradangan pada saluran keluar cairan mata yang menyebabkan peningkatan tekanan intraokular/TIO).
Pentingnya Pengawasan Spesialis Mata: Penggunaan kortikosteroid topikal pada HZO mutlak memerlukan diagnosis pasti dan pengawasan ketat oleh spesialis mata. Obat ini adalah "pedang bermata dua". Di satu sisi, mereka sangat efektif menekan peradangan yang merusak. Di sisi lain, penggunaannya membawa risiko signifikan, termasuk peningkatan TIO (glaukoma akibat steroid), pembentukan katarak, dan potensi memperburuk infeksi virus jika tidak disertai terapi antivirus yang adekuat.
Pilihan Agen: Berbagai jenis kortikosteroid topikal tersedia dalam bentuk tetes mata (suspensi atau larutan), seperti Prednisolone acetate 1% (dianggap poten), Dexamethasone 0.1%, dan steroid yang lebih "lunak" (soft steroids) seperti Loteprednol etabonate 0.5% atau Fluorometholone 0.1%, yang memiliki risiko lebih rendah dalam meningkatkan TIO. Pemilihan jenis dan frekuensi pemberian (bisa sangat sering pada awal, lalu diturunkan perlahan/tapering) ditentukan oleh spesialis mata berdasarkan tingkat keparahan inflamasi dan respons TIO pasien.
Kapan Harus Dihindari/Hati-hati: Kortikosteroid topikal umumnya tidak boleh digunakan pada kasus keratitis epitelial aktif (lesi dendritik/punctata) tanpa disertai terapi antivirus topikal atau sistemik yang adekuat, karena dapat memperburuk replikasi virus. Penggunaannya harus selalu dipertimbangkan bersamaan dengan atau setelah dimulainya terapi antivirus.
Berikut adalah rangkuman poin-poin penting bagi GP dalam menangani pasien suspek atau terdiagnosis HZO:
Diagnosis Cepat dan Tepat: Waspadai gejala prodromal (nyeri neuropatik V1 unilateral, malaise, demam), kenali pola ruam dermatomal V1 yang khas, dan selalu periksa Tanda Hutchinson di hidung. Lakukan pemeriksaan mata dasar (inspeksi kelopak mata, konjungtiva).
Prioritaskan Antivirus Sistemik Dini: Segera mulai terapi antivirus oral (Acyclovir, Valacyclovir, atau Famciclovir) dengan dosis standar (lihat Tabel 1), idealnya dalam 72 jam onset ruam. Ingat untuk memeriksa fungsi ginjal dan sesuaikan dosis jika diperlukan, terutama pada lansia atau pasien dengan komorbiditas.
Rujukan Wajib ke Spesialis Mata: Semua kasus HZO harus dirujuk ke spesialis mata sesegera mungkin. Rujukan bersifat urgent jika terdapat Tanda Hutchinson, keluhan mata (nyeri, merah, silau, kabur), atau tanda-tanda keterlibatan okular pada pemeriksaan awal. Keterlambatan rujukan dapat menyebabkan komplikasi ireversibel.
Manajemen Nyeri Adekuat: Berikan analgesik yang sesuai dengan tingkat nyeri pasien. Pertimbangkan penambahan obat untuk nyeri neuropatik (Gabapentin, Pregabalin, TCA dosis rendah) jika nyeri hebat atau menetap.
Terapi Suportif Awal: Anjurkan pasien menggunakan kompres dingin untuk meredakan bengkak dan nyeri kelopak mata, serta menggunakan tetes mata lubrikan (air mata buatan) tanpa pengawet secara teratur.
Peran GP dalam Terapi Topikal: GP umumnya tidak menginisiasi antivirus topikal atau kortikosteroid topikal untuk HZO. Tanggung jawab ini berada pada spesialis mata setelah evaluasi lengkap. Peran GP adalah memahami indikasi umum, potensi efek samping (terutama kortikosteroid), dan perbedaan tolerabilitas formulasi (salep vs. gel, lihat Tabel 2) untuk mendukung kepatuhan pasien terhadap terapi yang diresepkan spesialis mata dan membantu mengenali kemungkinan komplikasi atau efek samping terapi.
Edukasi Pasien: Jelaskan kepada pasien mengenai diagnosis HZO, pentingnya menyelesaikan seluruh kursus antivirus sistemik, potensi komplikasi pada mata, dan keharusan untuk follow-up teratur dengan spesialis mata sesuai jadwal yang ditentukan. Kepatuhan berobat dan follow-up masih menjadi tantangan.
Herpes Zoster Ophtalmicus (HZO) adalah kondisi serius yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari Dokter Umum. Diagnosis cepat berdasarkan gejala prodromal, ruam V1 unilateral, dan Tanda Hutchinson, diikuti dengan inisiasi terapi antivirus sistemik dini (Acyclovir, Valacyclovir, atau Famciclovir dengan penyesuaian dosis ginjal jika perlu) dan manajemen nyeri yang adekuat, merupakan kunci penatalaksanaan awal.
Terapi topikal okular, baik antivirus (salep atau gel) maupun kortikosteroid (tetes mata), memiliki peran penting sebagai terapi tambahan untuk mengatasi komplikasi mata spesifik seperti keratitis dan uveitis, namun penggunaannya harus selalu di bawah pengawasan spesialis mata.
Formulasi gel antivirus topikal umumnya lebih ditoleransi pasien dibandingkan salep karena lebih sedikit menyebabkan pandangan kabur, namun efikasinya setara dan keduanya tidak dapat menggantikan peran vital terapi antivirus sistemik dalam mencegah komplikasi jangka panjang.
Kolaborasi yang erat dan komunikasi yang baik antara Dokter Umum dan spesialis mata sangat esensial untuk memastikan pasien HZO mendapatkan evaluasi komprehensif dan penatalaksanaan optimal, sehingga risiko komplikasi yang mengancam penglihatan dapat diminimalkan. Rujukan tepat waktu ke spesialis mata pada semua kasus HZO adalah langkah krusial yang tidak boleh ditunda.
Evaluation and management of herpes zoster ophthalmicus - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12449270/
Herpes zoster: A Review of Clinical Manifestations and ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8876683/
Herpes Zoster Ophthalmicus: Presentation, Complications ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11219696/
Herpes Zoster - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441824/
Herpes Zoster Ophthalmicus - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557779/
Herpes Zoster Ophthalmicus: Presentation, Complications ... - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38834857/
Treatment of herpes zoster and postherpetic neuralgia - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1125653/
Variations in herpes zoster manifestation - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5555057/
Herpes Zoster Ophthalmicus - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2672268/
Herpes zoster in the older adult - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5724974/
Eye and Periocular Skin Involvement in Herpes Zoster Infection - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5087099/
Herpes Zoster and Post-Herpetic Neuralgia—Diagnosis, Treatment, and Vaccination Strategies - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11280284/
How to manage herpes zoster ophthalmicus - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7205171/
Overview of antiviral medications used in ophthalmology - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7205172/
Treatment of herpes zoster - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2278354/
Antiviral therapy of varicella-zoster virus infections - Human Herpesviruses - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK47401/
Population Pharmacokinetics of Intravenous and Oral Acyclovir and Oral Valacyclovir in Pediatric Population To Optimize Dosing Regimens - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7674054/
Acyclovir - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542180/
ACYCLOVIR - DailyMed, diakses April 26, 2025, https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/fda/fdaDrugXsl.cfm?setid=96fcc438-fc47-456c-bf31-6df278b12244
Treatment of herpes zoster ophthalmicus: a systematic review and Canadian cost-comparison - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29631821/
Valacyclovir versus acyclovir for the treatment of herpes zoster ophthalmicus in immunocompetent patients - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6464932/
Pharmacokinetics of acyclovir after intravenous and oral administration - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6355048/
Acute kidney injury due to acyclovir - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5411519/
Clinical pharmacokinetics of oral acyclovir in patients on continuous ambulatory peritoneal dialysis - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8893152/
A Case Report Highlighting the Importance of Prevention, Detection, and Treatment of Acyclovir-Induced Nephropathy - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2939444/
Concurrent Nephrotoxicity and Neurotoxicity Induced by Oral Valacyclovir in a Patient With Previously Normal Kidney Function - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9060728/
Herpes zoster antivirals and pain management - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18243927/
Presentation and Management of Herpes Zoster (Shingles) in the ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3684190/
Management of herpes zoster and post-herpetic neuralgia - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23456596/
Dual-neuromodulation strategy in pain management of herpes zoster ophthalmicus: retrospective cohort study and literature review - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10836271/
Herpes Zoster Ophthalmicus | Shingles | Geeky Medics, diakses April 26, 2025, https://geekymedics.com/herpes-zoster-ophthalmicus/
Herpes Zoster and Postherpetic Neuralgia: Practical Consideration for Prevention and Treatment - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4500781/
Herpes zoster ophthalmicus - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21063920/
Herpes zoster keratouveitis with hypopyon and hyphema - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7158927/
Medical Management of Uveitis – Current Trends - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3744780/
Iritis - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430909/
Uveitis - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK540993/
Corticosteroids for preventing postherpetic neuralgia - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10696631/
Corticosteroids for herpes zoster: what do they accomplish? - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12358552/
Comparison of topical and oral acyclovir in early herpes zoster ..., diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7867830/
Treatment of pseudodendrites in herpes zoster ophthalmicus with ..., diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24322809/
Herpes zoster ophthalmicus: acute keratitis - PubMed, diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29794881/
Ganciclovir ophthalmic gel 0.15% for the treatment of acute herpetic ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4149409/
Acute Herpetic Keratitis: What is the Role for Ganciclovir Ophthalmic ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3619435/
Antiviral Therapy for Varicella Zoster Virus (VZV) and Herpes ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8284188/
Practice Patterns and Opinions in the Management of Recurrent or ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3729033/
Uveitis (acute anterior) - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4429848/
Topical Anti-Inflammatory Agents for Non-Infectious Uveitis: Current Treatment and Perspectives - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9717596/
Current approach in diagnosis and management of anterior uveitis - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2841369/
Practice Patterns in the Initial Management of Herpes Zoster ..., diakses April 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36952627/