Peran Kortikosteroid dalam Tata Laksana Infeksi Saluran Pernapasan Akut: Sintesis Berbasis Bukti untuk Praktisi Klinis

6 Feb 2026 • Pulmonologi

Deskripsi

Peran Kortikosteroid dalam Tata Laksana Infeksi Saluran Pernapasan Akut: Sintesis Berbasis Bukti untuk Praktisi Klinis

Pendahuluan: Pedang Bermata Dua di Layanan Primer

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu alasan paling umum pasien mencari pertolongan medis di fasilitas layanan primer di seluruh dunia. Beban klinis ini sering kali mengarah pada peresepan antibiotik yang tinggi dan tidak jarang kurang tepat, mengingat mayoritas ISPA, seperti faringitis dan rinosinusitis, disebabkan oleh virus yang bersifat swasirna (self-limiting). 

Tingginya peresepan antibiotik ini berkontribusi pada masalah resistansi antimikroba yang semakin mengkhawatirkan. Dalam konteks ini, manajemen gejala, terutama nyeri dan inflamasi, menjadi pilar utama tata laksana.

Kortikosteroid, dengan efek anti-inflamasi potennya, telah diusulkan sebagai opsi terapeutik untuk meredakan gejala ISPA dengan menargetkan proses peradangan yang mendasarinya. Namun, penggunaannya dalam konteks infeksi akut secara historis dipandang dengan hati-hati karena potensi imunosupresinya. 

Bukti ilmiah yang ada menunjukkan gambaran yang kompleks dan sering kali bertentangan, dengan manfaat yang bervariasi tergantung pada jenis ISPA, rute pemberian, dosis, dan populasi pasien. Laporan ini bertujuan untuk membedah secara kritis bukti ilmiah yang bersumber dari literatur terindeks PubMed mengenai penggunaan kortikosteroid pada berbagai manifestasi ISPA, termasuk faringitis akut, rinosinusitis akut, dan common cold

Dengan menyajikan analisis pro dan kontra yang mendalam, laporan ini dirancang untuk memberikan landasan berbasis bukti yang kuat bagi para praktisi klinis, khususnya dokter umum, dalam membuat keputusan terapi yang rasional dan mengedepankan keamanan pasien.

Gambar 1. Isu praktik penggunaan kortikosteroid ada faringitis akut

Bagian 1: Dilema Klinis Kortikosteroid pada Faringitis Akut

Penggunaan kortikosteroid pada faringitis akut merupakan salah satu area yang paling banyak diperdebatkan dalam tata laksana ISPA. Bukti yang ada menunjukkan adanya manfaat yang signifikan secara statistik, namun sering kali dengan signifikansi klinis yang lebih sederhana. Hal ini telah memicu evolusi dan perbedaan dalam rekomendasi panduan praktik klinis, menciptakan dilema bagi para klinisi di garda terdepan.


1.1. Efikasi dalam Meredakan Gejala: Manfaat yang Terkuantifikasi

Sejumlah besar tinjauan sistematis dan meta-analisis telah mengkaji peran kortikosteroid sistemik sebagai terapi ajuvan pada faringitis akut. Temuan utamanya konsisten: kortikosteroid memberikan percepatan dalam peredaan nyeri.

  • Resolusi Nyeri: Pasien yang menerima kortikosteroid sistemik (oral atau intramuskular) bersamaan dengan terapi standar (sering kali termasuk antibiotik) menunjukkan kemungkinan resolusi nyeri total yang lebih tinggi dalam 24 hingga 48 jam. Sebuah meta-analisis berkualitas tinggi yang dipublikasikan di BMJ menemukan bahwa pasien yang diberi kortikosteroid memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengalami resolusi nyeri pada 24 jam (relative risk 2.2; 95% confidence interval [CI] 1.2 hingga 4.3). Meta-analisis lain mengonfirmasi adanya perbedaan risiko rata-rata yang signifikan sebesar 0.22 pada 24 jam, meskipun manfaat ini tidak lagi signifikan secara statistik pada 48 jam dan diwarnai oleh heterogenitas studi yang sangat tinggi. Dari perspektif klinis, angka ini setara dengan
    Number Needed to Treat (NNT) sekitar 4, yang berarti seorang klinisi perlu merawat empat pasien dengan kortikosteroid agar satu pasien tambahan mengalami resolusi nyeri total pada 24 jam.

  • Percepatan Waktu Meredanya Nyeri: Manfaat yang paling konsisten dilaporkan adalah percepatan waktu hingga tercapainya peredaan nyeri yang bermakna secara klinis. Berbagai meta-analisis melaporkan bahwa kortikosteroid mempercepat peredaan nyeri rata-rata antara 4.5 hingga 6 jam dibandingkan dengan plasebo.

  • Besaran Pengurangan Nyeri: Meskipun signifikan secara statistik, besaran absolut pengurangan nyeri pada skala analog visual (VAS) 0-10 poin pada 24 jam tergolong kecil, berkisar antara 0.90 hingga 1.3 poin. Ini menunjukkan bahwa pasien mungkin merasa lebih baik lebih cepat, tetapi tingkat kenyamanan akhirnya mungkin tidak jauh berbeda.

  • Efek pada Populasi Spesifik: Manfaat kortikosteroid tampaknya lebih nyata pada pasien dengan gejala yang lebih berat, seperti faringitis eksudatif, dan pada pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi Group A beta-haemolytic Streptococcus (GABHS). Dalam analisis subkelompok pasien GABHS-positif, efek percepatan peredaan nyeri tetap signifikan dan heterogenitas statistik antar studi menurun drastis, menunjukkan efek yang lebih konsisten pada populasi ini.


1.2. Dosis, Rejimen, dan Evolusi Panduan Klinis

Rejimen yang paling sering diteliti dan direkomendasikan dalam uji klinis acak terkontrol (RCT) adalah dosis tunggal kortikosteroid sistemik dengan potensi rendah hingga sedang.

  • Rejimen Umum: Dosis yang paling umum digunakan dan terbukti efektif adalah dexamethasone 10 mg oral atau intramuskular untuk dewasa, atau 0.6 mg/kg (dosis maksimal 10 mg) untuk anak-anak. Opsi lain yang juga diteliti meliputi prednisone, betamethasone, dan cortisone, namun tidak ada bukti kuat yang menunjukkan keunggulan satu agen atau rute pemberian dibandingkan yang lain.

  • Evolusi Panduan Praktik: Rekomendasi klinis telah mengalami pergeseran signifikan seiring dengan munculnya bukti-bukti baru.

  • Sikap Terdahulu: Panduan dari Infectious Diseases Society of America (IDSA) tahun 2012 secara eksplisit merekomendasikan untuk tidak menggunakan kortikosteroid pada faringitis bakteri akut. Sikap ini didasarkan pada bukti yang saat itu dianggap belum cukup kuat untuk menjustifikasi potensi risiko.

  • Uji Klinis TOAST sebagai Katalisator: Sebuah uji klinis besar bernama TOAST (Treatment Options without Antibiotics for Sore Throat) menjadi titik balik penting. Uji klinis ini melibatkan lebih dari 500 pasien di layanan primer yang tidak langsung diberi antibiotik dan menemukan adanya manfaat dari pemberian kortikosteroid. Temuan ini mendorong evaluasi ulang terhadap peran kortikosteroid.

  • Rekomendasi "Lemah" yang Baru: Berdasarkan meta-analisis terbaru yang menyertakan data dari uji klinis TOAST, panel BMJ Rapid Recommendations mengeluarkan rekomendasi lemah yang mendukung penggunaan dosis tunggal kortikosteroid oral untuk sebagian besar pasien (usia ≥5 tahun) dengan nyeri tenggorokan akut. Rekomendasi ini berlaku tanpa memandang tingkat keparahan atau dugaan etiologi (virus atau bakteri) dan menekankan pentingnya pengambilan keputusan bersama (shared decision-making). Panduan pediatrik dari Australia juga menyarankan untuk mempertimbangkan dosis tunggal dexamethasone (0.15 mg/kg) atau prednisolone (1 mg/kg) pada anak dengan nyeri hebat yang tidak merespons analgesik sederhana.


1.3. Tinjauan Kritis terhadap Bukti: Heterogenitas dan Relevansi Klinis

Di balik angka-angka statistik yang menjanjikan, terdapat beberapa pertimbangan kritis yang harus dipahami oleh setiap klinisi sebelum menerapkan bukti ini dalam praktik sehari-hari.

  • Masalah Heterogenitas yang Pervasif: Hampir setiap meta-analisis mengenai topik ini melaporkan adanya heterogenitas statistik yang signifikan, sering kali dengan nilai I2 melebihi 75%. Nilai I2 yang tinggi menunjukkan bahwa variasi hasil antar studi yang dianalisis bukan hanya karena kebetulan, melainkan karena adanya perbedaan nyata dalam efek pengobatan. Perbedaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh variasi dalam jenis, dosis, dan durasi kortikosteroid yang digunakan ; perbedaan populasi pasien (misalnya, pasien di UGD versus di praktik dokter keluarga) ; dan perbedaan tingkat keparahan faringitis awal. Akibatnya, estimasi efek gabungan (misalnya, rata-rata percepatan peredaan nyeri selama 4.5 jam) menjadi kurang andal dan sulit untuk diterapkan secara seragam pada setiap individu pasien. Para penulis tinjauan sistematis sendiri mengakui keterbatasan ini, yang menjadi alasan utama mengapa penggunaan rutin tidak didukung secara universal. Bagi dokter umum, ini berarti manfaat "rata-rata" yang dilaporkan mungkin tidak akan dialami oleh pasien spesifik mereka; pasien dengan faringitis ringan mungkin tidak merasakan manfaat sama sekali, sementara pasien dengan tonsilitis eksudatif berat mungkin merasakan efek yang lebih besar.

  • Dilema "Signifikansi Statistik vs. Signifikansi Klinis": Sebuah temuan penting yang sering terabaikan adalah bahwa meskipun kortikosteroid dapat mempercepat peredaan nyeri, manfaat ini tidak selalu berlanjut menjadi perbaikan pada luaran lain yang penting bagi pasien. Bukti menunjukkan bahwa penggunaan kortikosteroid tidak mengurangi jumlah hari absen dari sekolah atau kerja, serta tidak menurunkan risiko kekambuhan gejala. Manfaat utamanya terbatas pada percepatan peredaan gejala (misalnya, merasa lebih baik pada malam hari alih-alih keesokan paginya). Hal ini menimbulkan pertanyaan klinis yang krusial: apakah percepatan peredaan nyeri yang sederhana ini sepadan dengan potensi risiko, biaya, dan efek samping dari obat sistemik? Dilema inilah yang menjadi inti mengapa rekomendasi BMJ bersifat "lemah". Keputusan ini sangat bergantung pada preferensi pasien (preference-sensitive). Sebagian pasien mungkin sangat menghargai peredaan nyeri yang lebih cepat, sementara yang lain mungkin lebih memilih untuk menghindari obat tambahan. Peran klinisi bergeser dari sekadar pemberi resep menjadi fasilitator dalam percakapan ini, sebuah keterampilan kunci dalam praktik kedokteran berbasis bukti modern.

Tabel 1: Ringkasan Bukti untuk Kortikosteroid pada Faringitis Akut

Luaran

Resolusi Nyeri Total pada 24 jam

Waktu Onset Peredaan Nyeri

Pengurangan Nyeri Absolut (VAS)

Hari Absen Kerja/Sekolah

Efek Samping Serius (dalam Uji Klinis)


Bagian 2: Membedakan Strategi Kortikosteroid pada Rinosinusitis Akut

Tata laksana rinosinusitis akut (RSA) sering kali menjadi sumber kebingungan terkait penggunaan kortikosteroid. Penting untuk membedakan secara tegas antara bukti untuk kortikosteroid topikal (intranasal) dan sistemik (oral). Analisis yang cermat menunjukkan adanya landasan bukti yang kuat untuk penggunaan terapi lokal, sementara bukti untuk terapi sistemik jauh lebih lemah dan problematik.


2.1. Kortikosteroid Intranasal (INS): Pilar Utama Pereda Gejala

Mekanisme dasar RSA adalah inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal, yang menyebabkan obstruksi dan stasis sekresi. Oleh karena itu, penggunaan kortikosteroid intranasal (INS) yang memiliki efek anti-inflamasi lokal menjadi pilihan terapi yang sangat logis untuk mengurangi pembengkakan mukosa dan memfasilitasi drainase sinus.

  • Efikasi: INS direkomendasikan secara luas oleh berbagai panduan praktik klinis sebagai monoterapi atau terapi ajuvan untuk meredakan gejala pada rinosinusitis virus maupun rinosinusitis bakteri akut (RSBA). Bukti dari tinjauan sistematis menunjukkan bahwa INS memberikan efek yang kecil namun bermanfaat terhadap perbaikan gejala secara keseluruhan, terutama jika digunakan selama 15-21 hari. Efeknya paling terasa pada gejala nyeri wajah dan hidung tersumbat.

  • Profil Keamanan dan Bioavailabilitas: Keunggulan utama INS modern terletak pada profil keamanannya yang sangat baik, yang secara langsung berkaitan dengan absorpsi sistemiknya yang rendah. Pemahaman mengenai farmakokinetik ini sangat penting bagi klinisi. Terdapat perbedaan bioavailabilitas sistemik yang signifikan antar agen INS: mometasone furoate memiliki bioavailabilitas kurang dari 0.1% dan fluticasone propionate kurang dari 1%, sementara agen yang lebih tua seperti triamcinolone acetonide (46%) dan beclomethasone dipropionate (44%) memiliki absorpsi yang jauh lebih tinggi. Rendahnya bioavailabilitas pada agen modern inilah yang menjelaskan mengapa risiko efek samping sistemik yang dikhawatirkan dari kortikosteroid—seperti supresi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), retardasi pertumbuhan pada anak, atau penurunan densitas mineral tulang—hampir tidak ditemukan pada penggunaan INS. Ini merupakan perbedaan fundamental dibandingkan dengan kortikosteroid oral yang memiliki bioavailabilitas 100%. Pengetahuan ini memungkinkan dokter umum untuk dengan percaya diri meyakinkan pasien tentang keamanan INS modern dan membedakannya dari "steroid" secara umum. Efek samping yang dilaporkan umumnya bersifat lokal (misalnya, epistaksis, iritasi hidung) dan tingkat kejadiannya serupa dengan plasebo.


2.2. Peran Terbatas dan Kontroversial Kortikosteroid Sistemik

Berbeda dengan INS, peran kortikosteroid sistemik (oral) dalam tata laksana RSA jauh lebih terbatas dan didukung oleh bukti yang lebih lemah.

  • Sebagai Monoterapi: Sebuah tinjauan sistematis Cochrane menyimpulkan dengan tegas bahwa kortikosteroid oral yang digunakan sendiri (sebagai monoterapi) tampaknya tidak efektif untuk rinosinusitis akut yang didiagnosis secara klinis. Ini adalah temuan negatif yang kuat dan harus menjadi dasar praktik klinis.

  • Sebagai Terapi Ajuvan: Bukti untuk penambahan kortikosteroid oral pada terapi antibiotik juga lemah dan hanya menunjukkan manfaat jangka pendek yang sederhana. Sebuah meta-analisis menemukan bahwa pasien yang diobati dengan kombinasi kortikosteroid oral dan antibiotik sedikit lebih mungkin mengalami resolusi gejala jangka pendek (RR 1.3), dengan NNT sebesar 7. Namun, temuan "positif" ini harus ditafsirkan dengan sangat hati-hati karena adanya risiko bias yang tinggi. Sebagian besar uji klinis dilakukan di layanan sekunder (poliklinik THT), bukan di layanan primer, dan sering kali menggunakan kriteria inklusi radiologis yang tidak praktis dan tidak direkomendasikan untuk praktik rutin. Lebih penting lagi, tinjauan Cochrane secara eksplisit menyatakan bahwa data luaran yang hilang dalam uji klinis tersebut mungkin telah menimbulkan bias atrisi (
    attrition bias), dan analisis skenario terburuk (worst-case scenario) menunjukkan tidak ada lagi manfaat yang signifikan secara statistik dari kortikosteroid oral. Oleh karena itu, dokter umum harus memandang bukti untuk kortikosteroid oral ajuvan dengan skeptisisme yang tinggi. Landasan buktinya tidak cukup kuat untuk mendukung penggunaan rutin, sangat kontras dengan bukti yang konsisten untuk INS. Pesan klinis yang dapat diambil adalah untuk lebih mengutamakan INS dan menghindari kortikosteroid oral pada sebagian besar kasus rinosinusitis akut.

Tabel 2: Perbandingan Efikasi dan Keamanan Kortikosteroid pada Rinosinusitis Akut

Strategi

Kortikosteroid Intranasal (mis., Mometasone, Fluticasone)

Kortikosteroid Sistemik (mis., Prednisone)


Bagian 3: Common Cold: Indikasi di Mana Kortikosteroid Tidak Memberikan Manfaat

Pertanyaan mengenai penggunaan kortikosteroid untuk common cold atau selesma sering muncul dalam praktik klinis. Namun, bukti ilmiah memberikan jawaban yang sangat jelas dan definitif: kortikosteroid tidak memiliki tempat dalam tata laksana kondisi ini dan bahkan berpotensi merugikan.

  • Bukti Negatif yang Jelas: Beberapa tinjauan sistematis Cochrane yang telah diperbarui secara berkala secara konsisten menyimpulkan bahwa kortikosteroid intranasal tidak efektif untuk meredakan gejala common cold.

  • Tidak Ada Dampak pada Gejala: Uji klinis yang ada tidak menunjukkan adanya manfaat dalam mengurangi durasi atau tingkat keparahan gejala common cold (seperti hidung meler, hidung tersumbat, atau batuk) dibandingkan dengan plasebo. Satu studi bahkan menemukan bahwa durasi nyeri tenggorokan justru lebih lama pada kelompok yang menerima kortikosteroid dibandingkan dengan kelompok plasebo.

  • Potensi Bahaya melalui Perpanjangan Pelepasan Virus (Viral Shedding): Di luar sekadar kurangnya efikasi, terdapat bukti yang menunjukkan potensi bahaya. Sebuah uji klinis berkualitas tinggi menemukan bahwa persentase partisipan yang tetap positif terinfeksi rhinovirus (berdasarkan kultur virus) pada akhir masa studi secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang menggunakan kortikosteroid intranasal. Kortikosteroid adalah agen imunosupresan yang bekerja dengan menekan fungsi berbagai sel imun. Secara biologis, penggunaan imunosupresan langsung di lokasi infeksi virus dapat mengganggu proses pembersihan virus oleh tubuh. Temuan klinis dari studi tersebut memberikan bukti yang mendukung plausibilitas biologis ini. Meskipun dalam uji klinis tersebut hal ini tidak berujung pada gejala yang lebih lama, ini merepresentasikan potensi bahaya yang patut diwaspadai. Hal ini memberikan alasan mekanistik yang kuat untuk menghindari kortikosteroid pada common cold, bukan hanya karena tidak efektif, tetapi juga karena potensi risiko memperpanjang masa infeksius pasien, yang memiliki implikasi kesehatan masyarakat.


Bagian 4: Profil Keamanan Sistemik: Menyeimbangkan Keuntungan Sederhana dengan Kerugian yang Sering Diremehkan

Bagian ini merupakan inti dari pertimbangan klinis dalam penggunaan kortikosteroid sistemik untuk ISPA. Analisis keamanan harus melampaui data yang dilaporkan dalam uji klinis ISPA skala kecil dan melihat gambaran yang lebih besar dari studi farmakoepidemiologi dan meta-analisis di berbagai kondisi untuk memahami profil risiko yang sebenarnya.


4.1. Efek Samping dalam Uji Klinis ISPA Jangka Pendek: Gambaran yang Terlihat Aman Namun Menipu

Sebagian besar RCT yang menguji kortikosteroid untuk faringitis atau rinosinusitis melaporkan gambaran keamanan yang meyakinkan. Studi-studi ini umumnya tidak menemukan perbedaan signifikan dalam tingkat efek samping antara kelompok kortikosteroid dan plasebo. 

Komplikasi serius jarang terjadi dan insidensnya serupa di kedua kelompok. Namun, penting untuk menyadari bahwa gambaran yang terlihat aman ini bisa menipu. Uji klinis tersebut memiliki ukuran sampel yang kecil, durasi yang singkat, dan yang terpenting, tidak memiliki kekuatan statistik (power) untuk mendeteksi efek samping yang jarang namun serius. Keterbatasan metodologis ini adalah sebuah peringatan penting.


4.2. Pandangan yang Lebih Luas: Risiko Terkuantifikasi dari Bukti Skala Besar

Untuk mendapatkan pemahaman risiko yang lebih akurat, kita harus beralih dari uji klinis kecil ke studi observasional skala besar yang dirancang untuk mengevaluasi keamanan obat di dunia nyata.

  • Profil Risiko Rawat Jalan: Dari Abstrak menjadi Konkret: Sebuah studi kohort besar yang menggunakan data lebih dari 1.5 juta orang dewasa dari database asuransi komersial di Amerika Serikat memberikan bukti yang mengejutkan. Dengan menggunakan desain self-controlled case series yang kuat untuk meminimalkan bias, studi ini menemukan bahwa penggunaan kortikosteroid oral jangka pendek (<30 hari) secara signifikan meningkatkan risiko kejadian efek samping serius dalam 30 hari pertama setelah inisiasi terapi. Risiko sepsis meningkat 5 kali lipat (incidence rate ratio 5.30), risiko tromboemboli vena (VTE) meningkat lebih dari 3 kali lipat (IRR 3.33), dan risiko fraktur meningkat hampir 2 kali lipat (IRR 1.87). Temuan ini mengubah diskusi risiko-manfaat secara fundamental. Risiko bukan lagi kemungkinan teoretis yang samar, melainkan ancaman yang nyata dan terkuantifikasi. Lebih lanjut, studi ini mengungkap betapa masifnya penggunaan obat ini: satu dari lima orang dewasa dalam populasi studi tersebut menerima resep kortikosteroid oral jangka pendek selama periode tiga tahun. Yang paling mengkhawatirkan adalah peningkatan risiko ini tetap signifikan bahkan pada dosis rendah (ekuivalen prednisone <20 mg/hari) , rentang dosis yang sama dengan yang digunakan untuk banyak kondisi terkait ISPA. Ketika seorang dokter umum mempertimbangkan untuk meresepkan dexamethasone untuk nyeri tenggorokan (dengan manfaat percepatan peredaan nyeri yang sederhana), mereka kini harus menimbangnya dengan peningkatan risiko VTE 3 kali lipat dan sepsis 5 kali lipat pada bulan berikutnya. Ini adalah implikasi mendalam untuk keamanan pasien dan proses informed consent.

  • Efek Metabolik: Kerugian yang Paling Pasti dan Dapat Diprediksi: Efek samping metabolik adalah konsekuensi yang paling dapat diprediksi dari terapi kortikosteroid. Sebuah meta-analisis besar dari RCT pada pasien kritis (sepsis, ARDS, pneumonia komunitas) memberikan bukti berkualitas tinggi bahwa kortikosteroid secara signifikan meningkatkan risiko hiperglikemia (RR 1.21; Peningkatan Risiko Absolut 5.4%). Meta-analisis yang sama juga menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko hipernatremia (RR 1.59; Peningkatan Risiko Absolut 2.3%) dengan tingkat kepastian sedang. Efek-efek ini bergantung pada dosis dan durasi, tetapi dapat terjadi bahkan dengan penggunaan jangka pendek dan harus diantisipasi, terutama pada pasien dengan riwayat atau risiko diabetes melitus, gagal jantung, atau hipertensi.


4.3. Menafsirkan Bukti yang Berbeda dari Perawatan Kritis

Meskipun dokter umum tidak merawat pasien dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), data dari perawatan kritis memberikan pelajaran penting tentang sifat kortikosteroid.

  • Paradoks RCT vs. Studi Observasional: Pada kondisi berat seperti ARDS, RCT sering kali menunjukkan manfaat mortalitas dengan kortikosteroid dosis rendah , sementara studi observasional sering kali menunjukkan peningkatan mortalitas. Perbedaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh confounding by indication (pasien yang lebih sakit cenderung menerima steroid dalam praktik nyata), tetapi ini menggarisbawahi kompleksitas bukti.

  • Pentingnya Dosis dan Jenis: Manfaat pada penyakit kritis sering kali terkait dengan rejimen dosis rendah (bukan dosis tinggi) dan agen spesifik seperti hidrokortison atau metilprednisolon. Ini menyoroti bahwa tidak semua kortikosteroid dapat dianggap sama.

  • Pelajaran dari Perawatan Kritis untuk Dokter Umum: Kortikosteroid adalah imunomodulator kuat dengan efek yang kompleks dan bergantung pada konteks. Peran mereka pada influenza berat sangat kontroversial, dengan beberapa data menunjukkan peningkatan mortalitas. Fakta bahwa dosis, waktu pemberian, dan etiologi yang mendasari (misalnya, influenza) secara dramatis mengubah keseimbangan risiko-manfaat pada infeksi berat harus menjadi peringatan besar untuk penggunaannya pada infeksi rawat jalan yang lebih ringan dan swasirna. Jika kortikosteroid dapat meningkatkan mortalitas pada ARDS terkait influenza, apa potensi risiko (meskipun belum terukur) dari memberikannya kepada pasien dengan nyeri tenggorokan sederhana yang mungkin disebabkan oleh influenza? Data dari perawatan kritis berfungsi sebagai "uji stres" untuk terapi kortikosteroid. Hasil yang bertentangan dan potensi bahaya pada pasien yang paling sakit harus menanamkan kehati-hatian yang mendalam pada dokter umum, memperkuat perlunya menyimpan kortikosteroid sistemik hanya untuk situasi dengan manfaat yang jelas, terbukti, dan substansial yang melebihi potensi bahayanya.

Tabel 3: Risiko Terkuantifikasi dari Penggunaan Kortikosteroid Sistemik Jangka Pendek (Konteks Rawat Jalan)

Efek Samping

Sepsis

Tromboemboli Vena (VTE)

Fraktur

Hiperglikemia

Hipernatremia


Bagian 5: Sintesis dan Rekomendasi yang Dapat Ditindaklanjuti untuk Praktik Umum

Bagian penutup ini menerjemahkan bukti-bukti kompleks yang telah dibahas menjadi kerangka kerja yang jelas dan pragmatis bagi dokter umum. Penekanan utama adalah pada pentingnya ketepatan diagnostik dan penerapan pengambilan keputusan bersama (shared decision-making) sebagai inti dari praktik yang rasional.


5.1. Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Berdasarkan Kondisi: Lakukan, Pertimbangkan, Jangan Lakukan

  • LAKUKAN: Untuk Rinosinusitis Akut

  • Rekomendasikan kortikosteroid intranasal untuk meredakan gejala hidung tersumbat dan nyeri wajah pada pasien dengan rinosinusitis virus atau bakteri. Rekomendasi ini didukung oleh bukti kuat dan berbagai panduan klinis.

  • PERTIMBANGKAN: Untuk Faringitis Akut Berat

  • Pertimbangkan pemberian dosis tunggal kortikosteroid oral dosis rendah (misalnya, dexamethasone 10 mg) untuk pasien dewasa dengan nyeri hebat atau odinofagia, setelah melalui diskusi pengambilan keputusan bersama yang terperinci.

  • Diskusi ini harus secara eksplisit mencakup perbandingan antara manfaat yang sederhana (misalnya, peredaan nyeri lebih cepat sekitar 5 jam) dengan risiko dunia nyata yang terkuantifikasi dari efek samping sistemik (VTE, sepsis, hiperglikemia).

  • JANGAN LAKUKAN: Untuk Sebagian Besar ISPA Lainnya

  • Jangan gunakan kortikosteroid dalam bentuk apa pun untuk common cold. Terapi ini tidak efektif dan berpotensi memperpanjang pelepasan virus.

  • Jangan gunakan kortikosteroid oral sebagai monoterapi untuk rinosinusitis akut. Terapi ini terbukti tidak efektif.

  • Jangan gunakan kortikosteroid secara rutin untuk faringitis ringan hingga sedang. Profil risiko-manfaat tidak mendukung penggunaannya.


5.2. Imperatif Pengambilan Keputusan Bersama (Shared Decision-Making)

Pemahaman yang benar tentang istilah "rekomendasi lemah" sangat penting dalam menerapkan bukti ini. Rekomendasi dari panel BMJ untuk penggunaan steroid pada faringitis secara eksplisit bersifat "lemah". Dalam kerangka kerja GRADE (Grading of Recommendations, Assessment, Development and Evaluations), rekomendasi lemah tidak berarti penelitiannya buruk. 

Sebaliknya, ini adalah sebutan spesifik yang digunakan ketika bukti menunjukkan keseimbangan yang tipis antara manfaat dan bahaya, dan/atau ketika nilai-nilai dan preferensi pasien kemungkinan besar bervariasi dan menjadi penentu keputusan.

Dalam kasus ini, manfaatnya sederhana (peredaan nyeri lebih cepat) dan tidak semua luaran yang penting bagi pasien membaik (misalnya, waktu absen kerja), sementara risikonya, meskipun rendah, bersifat serius. Oleh karena itu, tidak ada satu jawaban yang "benar" untuk semua pasien. 

Tindakan terbaik bergantung pada bagaimana seorang individu pasien menimbang pro dan kontra. Peran dokter umum bergeser dari "pemberi resep" menjadi "konselor". Rekomendasi lemah adalah mandat eksplisit untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan bersama. Laporan ini, terutama Tabel 1 dan 3, dirancang untuk membekali klinisi dengan data spesifik yang diperlukan untuk percakapan tersebut.


5.3. Menerjemahkan Bukti untuk Penemuan Digital (Pertimbangan SEO)

Untuk membantu pengguna dalam menyusun artikel ilmiah populer yang dituju, berikut adalah beberapa saran untuk mengoptimalkan konten agar mudah ditemukan oleh target pembaca (dokter umum) melalui mesin pencari.

  • Kata Kunci: "Diagnosis dan Terapi ISPA"

  • Strukturkan artikel berdasarkan tiga diagnosis yang berbeda: Faringitis, Rinosinusitis, dan Common Cold.

  • Untuk setiap diagnosis, nyatakan dengan jelas terapi yang direkomendasikan (atau tidak direkomendasikan) terkait steroid. Ini secara langsung menghubungkan diagnosis dengan terapi.

  • Contoh judul bagian: "Terapi ISPA: Kapan Steroid Bermanfaat pada Radang Tenggorokan (Faringitis)?"

  • Kata Kunci: "Penggunaan Steroid pada ISPA"

  • Buat bagian khusus "Pro vs. Kontra" atau "Risiko vs. Manfaat".

  • Gunakan data dari Tabel 1 dan 3 untuk membuat poin-poin yang sederhana dan mudah dicerna.

  • Contoh judul bagian: "Penggunaan Steroid pada ISPA: Menimbang Manfaat dan Risiko".

  • Tekankan perbedaan mendasar antara "steroid semprot hidung" (untuk sinusitis) dan "steroid minum/suntik" (untuk faringitis) untuk mengatasi nuansa klinis yang paling penting ini. Ini akan sangat meningkatkan kejelasan dan nilai praktis artikel bagi dokter umum.

Referensi

  1. Efficacy of Corticosteroids for Sore Throat Management in Adults: A ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11421831/

  2. Corticosteroids for treatment of sore throat: systematic review and meta-analysis of randomised trials - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5605780/

  3. Corticosteroids for treatment of sore throat: systematic review and meta-analysis of randomised trials, accessed July 23, 2025, https://www.bumc.bu.edu/emergencymedicine/files/2017/12/steroids-for-sore-throat.pdf

  4. Intranasal Corticosteroids in Management of Acute Sinusitis: A ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3354974/

  5. Intranasal corticosteroids in the treatment of acute rhinosinusitis - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18417055/

  6. Efficacy of Corticosteroids for Sore Throat Management in Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Trials - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39318911/

  7. Corticosteroids for the Treatment of Sore Throat - AAFP, accessed July 23, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2014/0101/p14.html

  8. Clinical Conundrums: Should I Provide Patients with Pharyngitis a Dose of Corticosteroids, accessed July 23, 2025, https://rebelem.com/clinical-conundrums-should-i-provide-patients-with-pharyngitis-a-dose-of-corticosteroids/

  9. Effectiveness of corticosteroid treatment in acute pharyngitis: a systematic review of the literature - NCBI, accessed July 23, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK80097/

  10. Effectiveness of corticosteroid treatment in acute pharyngitis: a systematic review of the literature - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20536799/

  11. Corticosteroids for Sore Throat: BMJ Rapid Recommendation - AAFP, accessed July 23, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2018/0615/p821.html

  12. Corticosteroids for sore throat: a clinical practice guideline - The BMJ, accessed July 23, 2025, https://www.bmj.com/content/358/bmj.j4090

  13. Clinical Practice Guidelines : Sore throat - The Royal Children's Hospital, accessed July 23, 2025, https://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/sore_throat/

  14. Adult Sinusitis - Clinical Practice Guideline - AAFP, accessed July 23, 2025, https://www.aafp.org/family-physician/patient-care/clinical-recommendations/all-clinical-recommendations/adult-sinusitis.html

  15. AAO-HNSF Updated Clinical Practice Guideline: Adult Sinusitis – Press Release & Fact Sheet, accessed July 23, 2025, https://www.entnet.org/resource/aao-hnsf-updated-cpg-adult-sinusitis-press-release-fact-sheet/

  16. Clinical practice guideline (update): adult sinusitis - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25832968/

  17. Safety of intranasal corticosteroids in acute rhinosinusitis - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7115254/

  18. Acute Rhinosinusitis in Adults - AAFP, accessed July 23, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2011/0501/p1057.html

  19. Systemic corticosteroids for acute sinusitis - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24664368/

  20. Corticosteroid Adverse Effects - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 23, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK531462/

  21. Corticosteroids for the common cold - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8734596/

  22. Corticosteroids for the common cold - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26461493/

  23. Corticosteroids for the common cold - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22895973/

  24. Infection Risk and Safety of Corticosteroid Use - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4751577/

  25. Adverse Effects Related to Corticosteroid Use in Sepsis, Acute Respiratory Distress Syndrome, and Community-Acquired Pneumonia: A Systematic Review and Meta-Analysis - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38567382/

  26. Short term use of oral corticosteroids and related harms among adults in the United States: population based cohort study - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6284230/

  27. Efficacy of corticosteroids in patients with acute respiratory distress ..., accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39165240/

  28. Corticosteroid therapy for acute lung injury, acute respiratory distress syndrome, and severe pneumonia: a meta-analysis of randomized controlled trials - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19896324/

  29. Exploring the heterogeneity of effects of corticosteroids on acute respiratory distress syndrome: a systematic review and meta-analysis - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4056095/

  30. Steroid treatment in patients with acute respiratory distress syndrome: a systematic review and network meta-analysis - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34757498/

  31. Impact of different corticosteroids on severe community-acquired pneumonia: a systematic review and meta-analysis - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38262670/

  32. Efficacy and safety of corticosteroids for the treatment of community-acquired pneumonia: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38128217/

  33. Corticosteroids as adjunctive therapy in the treatment of influenza - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6387789/

  34. A systematic review of corticosteroid use in infections - PMC - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1550829