19 Feb 2026 •
Sebagai dokter umum di lini terdepan, Anda sering kali menjadi penentu awal dalam tatalaksana cedera muskuloskeletal akut. Kemampuan untuk melakukan imobilisasi fraktur secara tepat bukan hanya keterampilan teknis, tetapi sebuah intervensi kritis yang memengaruhi luaran pasien.
Artikel ini menyajikan panduan klinis berbasis bukti mengenai teknik pemasangan bidai pada fraktur, yang dirancang khusus untuk memperkuat kompetensi Anda dalam menghadapi kasus-kasus di unit gawat darurat maupun praktik sehari-hari, dengan merujuk secara eksklusif pada literatur ilmiah terindeks PubMed.

Tujuan utama imobilisasi pada kasus fraktur melampaui sekadar menjaga fragmen tulang tetap pada posisinya. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi nyeri, melindungi jaringan lunak dan struktur neurovaskular dari kerusakan lebih lanjut, serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penyembuhan. Dalam konteks penanganan akut, keputusan paling fundamental adalah memilih antara bidai (splint) dan gips (cast).
Gambar 1. Thumb spica cast

Bidai merupakan alat imobilisasi non-sirkumferensial, yang berarti tidak melingkari ekstremitas secara penuh. Sebaliknya, gips bersifat sirkumferensial. Perbedaan fundamental ini menjadikan bidai pilihan yang superior pada fase akut cedera. Setiap fraktur akut akan memicu respons inflamasi yang menyebabkan pembengkakan (edema) signifikan.
Desain bidai yang terbuka memungkinkan ruang untuk pembengkakan ini, sehingga mencegah peningkatan tekanan intrakompartemen yang berbahaya. Keunggulan ini, ditambah dengan kemudahan aplikasi dan pelepasan untuk inspeksi luka, menjadikan bidai sebagai alat pilihan utama untuk stabilisasi awal fraktur di setting gawat darurat. Gips, dengan imobilisasi yang lebih rigid, umumnya baru diaplikasikan setelah fase bengkak akut mereda, sering kali sebagai tatalaksana definitif oleh spesialis ortopedi.
Prinsip universal yang harus dipegang adalah imobilisasi harus mencakup "satu sendi di atas dan satu sendi di bawah" lokasi fraktur. Sebagai contoh, fraktur pada pertengahan lengan bawah (radius/ulna) memerlukan bidai yang mengimobilisasi sendi pergelangan tangan dan sendi siku untuk mengontrol rotasi secara efektif.
Kesuksesan pemasangan bidai sangat bergantung pada persiapan yang cermat. Tahapan ini merupakan fase pencegahan komplikasi iatrogenik.
Sebelum aplikasi, lakukan pemeriksaan menyeluruh pada ekstremitas yang cedera dan dokumentasikan temuan Anda. Penilaian ini harus diulang setelah bidai terpasang.
Kulit: Periksa adanya fraktur terbuka, laserasi, atau kontusio. Luka terbuka harus diirigasi dan ditutup dengan pembalut steril sebelum dibidai.
Status Neurovaskular: Ini adalah langkah yang tidak bisa ditawar. Periksa denyut nadi distal, waktu pengisian kapiler (capillary refill), sensasi (termasuk diskriminasi dua titik), dan fungsi motorik. Adanya defisit neurovaskular merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi bedah segera.
Jaringan Lunak: Perhatikan tingkat pembengkakan dan ketegangan pada kompartemen otot.
Gambar 2. Volar Splint

Reduksi dan imobilisasi fraktur merupakan prosedur yang menyakitkan. Analgesia yang adekuat penting untuk kenyamanan pasien dan relaksasi otot, yang akan mempermudah prosedur. Salah satu teknik yang sangat efektif di layanan primer adalah blok hematoma (hematoma block).
Teknik ini dilakukan dengan menyuntikkan 5-10 mL anestesi lokal (misalnya Lidocaine) langsung ke dalam lokasi fraktur setelah aspirasi hematoma. Konfirmasi posisi jarum yang tepat adalah dengan teraspirasinya darah dan butiran lemak (fat droplets). Perlu diingat, blok hematoma merupakan kontraindikasi pada fraktur terbuka.
Siapkan semua peralatan sebelum memulai: stockinette, bantalan kapas (padding), material bidai (plaster of Paris atau fiberglass), air dingin/suam-suam kuku dalam baskom, dan perban elastis.
Plaster vs. Fiberglass: Plaster lebih mudah dibentuk (pliable) dan waktu pengerasannya lebih lambat, memberikan lebih banyak waktu untuk molding. Fiberglass lebih ringan, lebih kuat, dan lebih cepat kering.
Suhu Air dan Reaksi Eksotermik: Proses pengerasan material bidai adalah reaksi eksotermik yang melepaskan panas. Menggunakan air hangat atau panas akan mempercepat pengerasan secara signifikan, namun meningkatkan produksi panas dan risiko luka bakar termal pada kulit pasien. Oleh karena itu, sangat direkomendasikan untuk menggunakan air dingin atau suhu ruangan, terutama untuk fiberglass, guna meminimalkan risiko ini.
Teknik pemasangan bidai yang benar mengikuti sistem pelapisan protektif, di mana setiap lapisan memiliki fungsi spesifik.
Aplikasi Stockinette: Pasang stockinette yang pas (tidak terlalu ketat) untuk menutupi area yang akan dibidai, dengan menyisakan kelebihan sekitar 10 cm di setiap ujungnya. Ratakan semua kerutan untuk mencegah titik tekan.
Pemasangan Bantalan (Padding): Lilitkan bantalan kapas secara sirkumferensial dari distal ke proksimal, dengan tumpang tindih 50% pada setiap lapisan untuk memastikan ketebalan yang merata (minimal 2 lapis). Berikan bantalan ekstra pada semua tonjolan tulang (misalnya, maleolus, olekranon, stiloid ulna) untuk mencegah ulkus tekan, salah satu komplikasi paling umum.
Aplikasi Material Bidai: Ukur panjang material bidai pada sisi ekstremitas yang sehat. Untuk plaster, gunakan 8-10 lapis untuk ekstremitas atas dan 10-12 lapis untuk ekstremitas bawah. Celupkan material ke dalam air, peras kelebihan air, lalu letakkan secara halus di atas bantalan.
Fiksasi dengan Perban Elastis: Gunakan perban elastis untuk menahan bidai, lilitkan dari distal ke proksimal. Lilitan harus cukup kencang untuk menahan bidai, tetapi tidak boleh terlalu ketat untuk memberi ruang bagi pembengkakan. Hindari kontak langsung antara perban elastis dengan kulit.
Molding dan Posisi Fungsional: Selama material mengeras, bentuk (mold) bidai sesuai kontur anatomi dan pertahankan ekstremitas dalam posisi fungsional. Contohnya, pergelangan tangan dalam sedikit ekstensi (20-30 derajat) atau pergelangan kaki dalam posisi netral 90 derajat (neutral dorsiflexion). Lipat kembali kelebihan stockinette untuk menciptakan tepi yang empuk.
Penilaian Pasca-Pemasangan: Segera periksa kembali status neurovaskular. Edukasi pasien mengenai tanda-tanda bahaya dan instruksi perawatan.
Pemilihan jenis bidai bergantung pada lokasi dan pola fraktur. Memahami rasional biomekanik di balik setiap desain akan meningkatkan ketepatan tatalaksana Anda.
Jenis Bidai | Indikasi Fraktur Utama | Batas Anatomis Kunci | Posisi Fungsional Kunci |
Volar Forearm Splint | Fraktur distal radius (mis., Colles'), fraktur karpal (kecuali scaphoid) | Dari lipatan palmar distal hingga lengan bawah proksimal | Pergelangan tangan ekstensi 20-30 derajat |
Thumb Spica Splint | Fraktur scaphoid (terduga atau terkonfirmasi), fraktur metakarpal I | Melingkupi ibu jari hingga melewati sendi interphalangeal | Ibu jari abduksi ("memegang kaleng soda") |
Ulnar Gutter Splint | Fraktur metakarpal IV & V ("Boxer's fracture"), fraktur phalanx jari IV & V | Mengimobilisasi jari IV & V, sisi ulnar lengan bawah | Sendi MCP fleksi 50-90 derajat, sendi IP ekstensi |
Sugar-Tong Splint (Forearm) | Fraktur lengan bawah (radius/ulna), fraktur distal radius yang tidak stabil | Berbentuk 'U' dari palmar, melingkari siku, hingga dorsal tangan | Lengan bawah posisi netral, siku fleksi 90 derajat |
Posterior Ankle Splint | Fraktur malleolus terisolasi, fraktur distal tibia/fibula stabil | Dari kepala metatarsal (plantar) hingga di bawah fosa poplitea | Pergelangan kaki netral 90 derajat |
Ankle Stirrup Splint | Fraktur pergelangan kaki yang memerlukan stabilitas medial-lateral | Berbentuk 'U' dari sisi medial tungkai, bawah tumit, ke sisi lateral | Pergelangan kaki netral 90 derajat |
Meskipun merupakan prosedur rutin, pemasangan bidai memiliki risiko komplikasi. Studi menunjukkan tingkat kesalahan teknis bisa mencapai 92% pada aplikasi yang dilakukan oleh non-spesialis, menyoroti pentingnya edukasi. Komplikasi paling berbahaya yang harus diwaspadai adalah sindrom kompartemen.
Sindrom Kompartemen: Sebuah Keadaan Darurat Bedah!
Sindrom kompartemen terjadi ketika tekanan di dalam kompartemen otot yang tertutup fasia meningkat hingga mengganggu sirkulasi darah, menyebabkan iskemia dan nekrosis jaringan.17 Kerusakan otot dan saraf yang ireversibel dapat terjadi hanya dalam beberapa jam.19
Diagnosisnya bersifat klinis. Tanda "6P" klasik sering diajarkan, namun urutan kemunculannya sangat penting untuk deteksi dini:
Pain (Nyeri): Tanda paling awal dan paling sensitif. Nyeri ini dideskripsikan sebagai "nyeri yang tidak sebanding dengan cederanya" (pain out of proportion), terasa dalam, dan semakin hebat meskipun telah diimobilisasi dan diberi analgesik. Tanda patognomonik adalah nyeri hebat saat peregangan pasif otot-otot di kompartemen tersebut.
Paresthesia (Kesemutan/Mati Rasa): Tanda awal iskemia saraf.
Pressure (Tekanan): Kompartemen terasa tegang dan keras seperti kayu saat dipalpasi.
Pallor (Pucat), Pulselessness (Nadi Hilang), dan Paralysis (Kelumpuhan): Ini adalah tanda-tanda TERLAMBAT dan menandakan kerusakan yang mungkin sudah ireversibel. Jangan pernah menunggu hingga nadi hilang untuk mendiagnosis sindrom kompartemen.
Gambar 3. Fasciotomy Sindroma kompartemen akut

Jika Anda mencurigai sindrom kompartemen:
SEGERA longgarkan atau buka semua balutan sirkumferensial hingga ke kulit, termasuk perban elastis dan bantalan.
Posisikan ekstremitas setinggi jantung (jangan dielevasi, karena dapat memperburuk perfusi arteri).
Lakukan KONSULTASI BEDAH ORTOPEDI SEGERA. Waktu adalah otot dan saraf.
Tanda/Gejala ("Red Flag") | Kemungkinan Komplikasi | Tindakan Segera untuk Dokter | Instruksi untuk Pasien |
Nyeri hebat yang memburuk, tidak mereda dengan obat | Sindrom Kompartemen | Longgarkan semua balutan, posisikan ekstremitas setinggi jantung, KONSULTASI BEDAH SEGERA. | "Segera kembali ke UGD jika nyeri semakin parah, bukan membaik." |
Jari/kaki bengkak, pucat, kebiruan, atau dingin | Gangguan vaskular, bidai terlalu ketat | Longgarkan balutan, periksa ulang status neurovaskular. | "Perhatikan perubahan warna atau suhu pada ujung jari/kaki Anda." |
Mati rasa, kesemutan, atau rasa terbakar yang baru/memburuk | Kompresi saraf, Sindrom Kompartemen | Periksa status neurologis, longgarkan balutan, pertimbangkan konsultasi. | "Rasa kebas atau kesemutan yang bertambah parah tidak normal, segera hubungi kami." |
Luka, lecet, atau nyeri tajam di bawah bidai | Ulkus tekan, iritasi kulit | Lepaskan bidai untuk inspeksi, perbaiki bantalan. | "Laporkan jika ada rasa nyeri seperti tertusuk di satu titik di bawah bidai." |
Pemasangan bidai adalah keterampilan fundamental dalam praktik medis. Walaupun tampak sederhana, penguasaan teknik pemasangan bidai pada fraktur yang benar menuntut pemahaman prinsip biomekanik, persiapan yang teliti, dan kewaspadaan tinggi terhadap potensi komplikasi. Dengan menerapkan panduan berbasis bukti ini, Anda tidak hanya memberikan tatalaksana yang tepat tetapi juga secara aktif melindungi pasien dari komplikasi yang dapat dicegah, menegaskan peran krusial Anda dalam rantai perawatan muskuloskeletal akut.
Principles of Casting and Splinting - AAFP, diakses Juli 25, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2009/0101/p16.html
Joint Immobilization - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557703/
Splinting - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557673/
Principles of casting and splinting - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19145960/
Splints and casts: indications and methods - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19725490/
Acute hand injury splinting – the good, the bad and the ugly - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5838697/
Volar Splinting - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK482429/
Wrist Splint - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557630/
Ankle Splinting - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507726/
Forearm Splinting - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499980/
Assessment of Splinting Quality: A Prospective Study Comparing Different Practitioners, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34552418/
Assessment of Splinting Quality: A Prospective Study Comparing Different Practitioners, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8259183/
Wrist Splint - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK557630/
Allergic Contact Dermatitis in the Right Forearm Following Splint Application for Distal Radius Fracture: A Rare Case of Plaster Cotton Allergy - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10846668/
Volar Splinting - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482429/
Hand Splint - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470462/
Compartment syndrome: a complication of acute extremity trauma - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7989693/
Acute Compartment Syndrome - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448124/
Compartment Syndrome of the Lower Leg and Foot - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2835588/
Compartment Syndrome: Diagnosis, Management, and Unique Concerns in the Twenty-First Century, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4071472/