Tatalaksana Komprehensif Status Asmatikus pada Anak: Panduan Klinis Berbasis Bukti untuk Praktisi Medis

14 Feb 2026 • Pediatri

Deskripsi

Tatalaksana Komprehensif Status Asmatikus pada Anak: Panduan Klinis Berbasis Bukti untuk Praktisi Medis

Pendahuluan: Memahami Status Asmatikus sebagai Kegawatdaruratan Pediatri

Status asmatikus (SA) merupakan manifestasi terberat dari eksaserbasi asma akut dan menjadi salah satu kegawatdaruratan pediatri yang paling sering menyebabkan admisi ke unit perawatan intensif anak (PICU). Kondisi ini menuntut penilaian yang cepat, intervensi yang agresif, dan pemahaman mendalam mengenai patofisiologi yang mendasarinya untuk mencegah morbiditas dan mortalitas. 

Panduan ini bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja klinis yang komprehensif dan berbasis bukti, mulai dari diagnosis awal hingga tatalaksana di tingkat perawatan intensif, yang dirancang khusus untuk praktisi medis di lini pertama.

Gambar 1. Patofisiologi dan terapi eksaserbasi akut

Definisi, Terminologi, dan Spektrum Klinis

Secara klasik, status asmatikus didefinisikan sebagai episode eksaserbasi asma akut yang berat, di mana obstruksi bronkial tidak menunjukkan perbaikan atau terus memburuk meskipun telah diberikan terapi standar yang adekuat, seperti agonis beta-2 kerja cepat (SABA) inhalasi, sehingga berpotensi berlanjut menjadi gagal napas. Kondisi ini merepresentasikan sebuah kegagalan respons terhadap terapi lini pertama dan merupakan keadaan darurat medis yang mengancam jiwa.

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran terminologi dalam literatur medis. Istilah seperti "asma kritis pediatri" (pediatric critical asthma) atau "asma akut berat" (severe acute asthma) semakin sering digunakan secara bergantian dengan status asmatikus. Pergeseran ini bukan sekadar perubahan semantik, melainkan mencerminkan pemahaman yang lebih dalam mengenai asma sebagai suatu penyakit dengan spektrum keparahan yang berkelanjutan. 

Pandangan modern ini menjauh dari konsep bahwa status asmatikus adalah suatu kejadian biner (terjadi atau tidak terjadi), dan lebih mengarah pada model di mana kondisi ini merupakan ujung ekstrem dari sebuah kontinum keparahan. Pemahaman ini memiliki implikasi penting bagi praktik klinis, yaitu mendorong intervensi yang lebih dini dan strategi eskalasi terapi yang lebih mulus, alih-alih menunggu titik krisis untuk mengaktifkan protokol yang kaku.

Patofisiologi Inti: Trias Inflamasi, Bronkokonstriksi, dan Sumbatan Mukus

Tatalaksana yang efektif untuk status asmatikus harus menargetkan tiga proses patofisiologis inti yang saling terkait dan membentuk lingkaran setan. Ketiga komponen ini adalah:

  1. Inflamasi Jalan Napas: Asma pada dasarnya adalah penyakit inflamasi kronis. Selama status asmatikus, proses inflamasi ini menjadi sangat akut dan parah, menyebabkan edema signifikan pada dinding jalan napas. Hal ini menjadi dasar rasionalitas penggunaan kortikosteroid sistemik sebagai salah satu pilar utama terapi.

  2. Bronkokonstriksi (Bronkospasme): Kontraksi hebat pada otot polos bronkial menyebabkan penyempitan jalan napas yang parah dan merupakan komponen yang paling segera mengancam jiwa karena menyebabkan obstruksi aliran udara berat. Ini adalah target utama dari terapi agonis beta-2.

  3. Sumbatan Mukus (Mucous Plugging): Peningkatan produksi mukus yang kental disertai dengan gangguan pada mekanisme pembersihan mukosiliar menyebabkan terbentuknya sumbatan mukus. Sumbatan ini memperparah obstruksi jalan napas, menyebabkan ketidaksesuaian ventilasi-perfusi (V/Q mismatch), dan dapat memicu atelektasis.

Gambar 2. Patofisiologi Asthma


Heterogenitas Asma dan Faktor Risiko Eskalasi Menjadi Status Asmatikus

Penting untuk disadari bahwa "asma" bukanlah penyakit tunggal, melainkan sindrom klinis yang heterogen dengan berbagai fenotipe dan endotipe yang mendasarinya. Heterogenitas ini menjelaskan mengapa respons terhadap pengobatan bervariasi dan mengapa sebagian anak lebih rentan mengalami eksaserbasi berat.

Kegagalan respons terhadap terapi awal, yang menjadi ciri khas status asmatikus, kemungkinan besar berakar pada endotipe asma spesifik pasien. Sebagai contoh, pasien dengan endotipe non-Tipe 2 (seringkali neutrofilik dan kurang responsif terhadap steroid) mungkin secara inheren lebih resisten terhadap terapi standar. 

Meskipun penentuan endotipe tidak dapat dilakukan di unit gawat darurat, kerangka konseptual ini membantu klinisi memahami mengapa seorang pasien mungkin refrakter terhadap pengobatan. Hal ini menyiratkan bahwa eskalasi ke terapi non-steroid (seperti magnesium, ketamin, atau agonis beta-2 intravena) bukan hanya sekadar menambah "kekuatan tembak", melainkan secara fundamental mengalihkan mekanisme terapeutik untuk melewati jalur resistensi steroid.

Identifikasi faktor risiko sangat penting untuk kewaspadaan klinis. Faktor risiko utama untuk berkembang menjadi status asmatikus meliputi :

  • Riwayat eksaserbasi berat sebelumnya yang mengancam jiwa.

  • Riwayat admisi ke PICU atau riwayat intubasi karena asma.

  • Penggunaan kortikosteroid oral saat ini atau baru-baru ini (sebagai penanda penyakit dasar yang berat).

  • Faktor sosial (status sosioekonomi rendah), komorbiditas (atopi, obesitas), dan paparan lingkungan (asap rokok, polusi udara) juga meningkatkan risiko.

  • Infeksi virus pernapasan, terutama Rhinovirus (HRV) dan Respiratory Syncytial Virus (RSV), merupakan pemicu paling umum untuk eksaserbasi akut yang memerlukan rawat inap.

Diagnosis Cepat dan Penilaian Tingkat Keparahan

Penilaian yang cepat dan akurat di awal merupakan kunci untuk menentukan urgensi dan tingkat intervensi yang diperlukan. Diagnosis status asmatikus pada dasarnya bersifat klinis , dengan tujuan langsung untuk mengonfirmasi diagnosis, menentukan tingkat keparahan, dan mengidentifikasi faktor risiko perburukan.

Pendekatan Diagnostik: Anamnesis Terfokus dan Pemeriksaan Fisik Kunci

Pendekatan diagnostik harus cepat dan terarah pada informasi yang paling relevan.

  • Anamnesis Terfokus: Tanyakan riwayat eksaserbasi berat sebelumnya, admisi PICU, riwayat intubasi, penggunaan steroid saat ini atau baru-baru ini, pemicu yang diketahui, dan efektivitas obat-obatan penyelamat (rescue medication) yang digunakan di rumah.

  • Pemeriksaan Fisik Kunci: Fokus pada penilaian fungsional dari obstruksi jalan napas. Elemen-elemen kunci yang harus dievaluasi meliputi:

  • Status Mental: Agitasi, rasa kantuk, atau kebingungan merupakan tanda hipoksemia serebral dan menunjukkan tingkat keparahan yang ekstrem.

  • Kemampuan Berbicara: Kemampuan pasien untuk berbicara dalam kalimat lengkap, frasa pendek, atau hanya kata-kata tunggal adalah indikator sederhana namun kuat untuk menilai tingkat distres pernapasan.

  • Upaya Napas (Work of Breathing - WOB): Amati penggunaan otot bantu napas (sternokleidomastoideus, skalenus), adanya retraksi interkostal dan substernal, pernapasan cuping hidung, dan gerakan paradoksal torako-abdominal.

  • Auskultasi: Catat intensitas dan ada tidaknya mengi (wheezing), baik saat ekspirasi maupun inspirasi.

Tanda Bahaya: Mengenali Gagal Napas yang Mengancam

Identifikasi tanda-tanda bahaya sangat krusial untuk intervensi segera.

  • "Silent Chest" (Dada Hening): Ini adalah temuan yang paling kritis dan seringkali kontraintuitif. Penurunan atau hilangnya suara mengi pada pasien yang tampak sangat sesak adalah tanda yang sangat berbahaya (ominous sign). Ini mengindikasikan aliran udara yang sangat minimal atau bahkan tidak ada sama sekali dan menandakan ancaman gagal napas yang akan segera terjadi. Temuan ini menuntut intervensi yang paling agresif dan segera. Pemahaman mengenai kaskade kausal di balik tanda ini sangat penting: obstruksi yang semakin parah menyebabkan aliran udara menjadi sangat terbatas, hingga tidak cukup untuk menghasilkan suara turbulen (mengi). Aliran udara yang minimal berarti pertukaran gas yang minimal pula, yang secara langsung menyebabkan hipoksemia berat, hiperkarbia, dan pada akhirnya, henti napas. Memahami alur ini membantu klinisi menalar signifikansi dada hening, bukan hanya menghafalnya sebagai "tanda buruk", sehingga mencegah kesalahan interpretasi katastrofik bahwa dada yang tenang berarti perbaikan.

  • Tanda Lain Gagal Napas yang Mengancam: Termasuk perubahan status mental (mengantuk, bingung), sianosis sentral, dan kelelahan atau penurunan upaya napas yang terlihat.

Pemanfaatan Skoring Klinis Objektif untuk Stratifikasi dan Monitoring

Untuk mengurangi variabilitas penilaian yang bergantung pada masing-masing praktisi, banyak institusi telah mengadopsi sistem skoring klinis yang tervalidasi. Alat-alat ini menerjemahkan temuan subjektif menjadi skor numerik untuk memandu terapi secara bertahap dan objektif. Contohnya termasuk Pediatric Asthma Score (PAS) , skor WARME , dan Respiratory Assessment Score (RAS). 

Skor-skor ini biasanya menggabungkan parameter seperti laju pernapasan, suara mengi, dan tingkat retraksi. Penggunaan skor ini untuk penilaian serial (misalnya, setiap 1-2 jam) sangat berguna untuk memandu keputusan eskalasi atau de-eskalasi terapi, seperti kapan harus memulai atau menyapih (weaning) albuterol nebulisasi kontinu. 

Tren menuju penggunaan sistem skoring ini mencerminkan pergeseran filosofi dalam perawatan kritis, dari yang sebelumnya berbasis "seni kedokteran" individual menjadi "sistem perawatan" yang terprotokolisasi dan berbasis bukti. Hal ini memberdayakan perawat dan terapis pernapasan untuk melakukan penyesuaian terapi dalam parameter yang telah ditentukan, sehingga menciptakan sistem perawatan yang lebih andal, aman, dan efisien.

Peran Pemeriksaan Penunjang: Oksimetri, Gas Darah, dan Pencitraan

Meskipun diagnosis utama bersifat klinis, pemeriksaan penunjang memiliki peran penting dalam monitoring dan menyingkirkan komplikasi.

  • Oksimetri Nadi (Pulse Oximetry, SpO2): Wajib untuk semua pasien. Ini adalah alat pemantauan non-invasif yang kritis. Nilai SpO2 ≤ 92% saat datang (sebelum terapi oksigen atau bronkodilator) berhubungan dengan morbiditas yang lebih tinggi dan risiko rawat inap yang lebih besar. Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan SpO2 >92-95%.

  • Laboratorium dan Pencitraan: Pemeriksaan ini bersifat suportif, bukan alat diagnostik utama. Foto toraks tidak diindikasikan secara rutin, tetapi harus dipertimbangkan jika ada kecurigaan komplikasi (misalnya, pneumotoraks, pneumonia) atau diagnosis alternatif. Analisis gas darah arteri tidak diperlukan untuk kasus ringan-sedang, namun pemasangan jalur arteri (arterial line) sangat berharga untuk pemantauan berkelanjutan pada pasien sakit kritis yang menggunakan ventilasi mekanis.

  • Arus Puncak Ekspirasi (Peak Flow) / Spirometri: Meskipun merupakan ukuran objektif dari obstruksi, pemeriksaan ini seringkali sulit atau tidak dapat diandalkan untuk dilakukan pada anak kecil atau mereka yang sedang dalam distres berat.

Tabel 1: Klasifikasi Tingkat Keparahan Serangan Asma Akut pada Anak

Gambaran Klinis

Ringan

Sedang

Berat

Mengancam Gagal Napas (Kritis)

Status Mental

Normal

Mungkin agitasi

Biasanya agitasi

Mengantuk atau bingung

Kemampuan Berbicara

Kalimat

Frasa

Kata-kata

Tidak mampu berbicara

Upaya Napas

Retraksi interkostal minimal

Retraksi interkostal dan substernal

Distres signifikan; semua otot bantu terlibat, mungkin ada napas cuping hidung, gerakan paradoksal

Distres sangat berat ATAU kelelahan/upaya napas menurun

Wheezing

Sedang, akhir ekspirasi

Keras, pan-ekspirasi dan inspirasi

Mengi terdengar tanpa stetoskop

Dada hening (Silent Chest)

SpO2

>94%

91–94%

<90%

<90%

Arus Puncak Ekspirasi

>80% dari nilai terbaik

60–80% dari nilai terbaik

<60% dari nilai terbaik

Tidak mampu melakukan


Tatalaksana Lini Pertama: Fondasi Intervensi di Unit Gawat Darurat

Intervensi segera di unit gawat darurat bertujuan untuk menstabilkan pasien dengan cepat, meredakan bronkospasme, dan mengurangi inflamasi. Tatalaksana lini pertama ini merupakan fondasi dari seluruh rangkaian perawatan.

Terapi Oksigen dan Suportif Cairan: Prinsip dan Perhatian Khusus

  • Oksigen: Harus dianggap sebagai obat utama dan diberikan segera kepada setiap anak dengan distres sedang hingga berat atau hipoksemia. Tujuannya adalah untuk mempertahankan saturasi oksigen (SpO2) di atas 92-95%. Oksigen harus digunakan sebagai gas pendorong untuk nebulizer dengan laju 6-8 L/menit untuk memastikan penghantaran obat yang optimal. Tidak ada bukti bahwa pemberian oksigen dapat menekan dorongan napas (
    respiratory drive) pada anak dengan asma berat.

  • Cairan: Pasien dengan status asmatikus sering mengalami dehidrasi akibat asupan oral yang buruk dan peningkatan kehilangan cairan tak kasat mata (insensible water loss). Resusitasi cairan intravena untuk mengembalikan kondisi normovolemia diindikasikan. Namun, keseimbangan kritis harus dijaga:
    hindari hidrasi berlebihan. Overhidrasi dapat memperburuk edema paru karena fluktuasi tekanan intratorakal yang besar dan risiko terjadinya Syndrome of Inappropriate Antidiuretic Hormone (SIADH). Cairan isotonik atau salin normal setengah dengan dekstrosa lebih disukai.

Bronkodilator Agonis Beta-2 Kerja Cepat (SABA): Protokol Pemberian

Agonis beta-2 kerja cepat (SABA), seperti albuterol (salbutamol), adalah terapi lini pertama untuk mengatasi bronkokonstriksi.

  • Dosis Intermiten: Tatalaksana awal melibatkan pemberian dosis berulang setiap 20 menit selama satu jam pertama.

  • Nebulizer: Dosis 0.15 mg/kg/dosis (minimal 2.5 mg, maksimal 5 mg).

  • MDI dengan Spacer: Dosis 4-8 semprotan (puffs) tergantung pada berat badan.

  • Nebulisasi Kontinu: Untuk pasien dengan eksaserbasi berat atau mereka yang tidak merespons terapi intermiten, nebulisasi kontinu terbukti lebih unggul. Terapi ini memberikan efek bronkodilatasi yang lebih konsisten dan berhubungan dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang lebih tinggi. Keputusan untuk beralih ke nebulisasi kontinu merupakan titik eskalasi penting dalam terapi lini pertama, yang menandakan bahwa tingkat keparahan bronkospasme membutuhkan tekanan terapeutik konstan yang tidak dapat dicapai dengan terapi intermiten.

  • Dosis: Dapat berbasis berat badan (0.15–0.5 mg/kg/jam, maksimal 10–20 mg/jam) atau mengikuti protokol dosis tetap (misalnya, 10-15 mg/jam).

  • Efek Samping: Takikardia dan hipokalemia adalah efek samping yang umum dan memerlukan pemantauan.

Kortikosteroid Sistemik: Pilihan Agen, Rute, dan Waktu Pemberian

Kortikosteroid adalah pilar terapi yang menargetkan inflamasi jalan napas. Pemberian dini sangat krusial dan terbukti mengurangi angka rawat inap.

  • Rute Oral (PO): Merupakan pilihan utama jika pasien dapat menoleransinya.

  • Prednison/Prednisolon: Dosis 1–2 mg/kg/hari (maksimal 60 mg/hari) selama 3–5 hari.

  • Deksametason: Dosis 0.6 mg/kg (maksimal 16 mg) untuk 1–2 hari. Seringkali lebih disukai di UGD karena waktu paruhnya yang lebih panjang dan efek muntah yang lebih sedikit dibandingkan prednison.

  • Rute Intravena (IV): Diperlukan untuk pasien yang muntah, dalam distres berat, atau dengan ancaman gagal napas.

  • Metilprednisolon: Dosis 1–2 mg/kg/hari dibagi setiap 6–12 jam (maksimal 60 mg/hari).

  • Hidrokortison: Dosis 5–7 mg/kg/dosis setiap 6 jam.

Penting untuk dicatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kortikosteroid dosis tinggi lebih efektif daripada dosis konvensional. Pilihan antara rute oral dan IV menyoroti prinsip pragmatisme dalam kedokteran darurat. Rute terbaik adalah yang paling andal. Jika ada keraguan tentang kemampuan anak untuk menyerap obat oral secara efektif (misalnya karena muntah atau distres berat), rute IV adalah pilihan yang lebih aman untuk memastikan obat masuk ke dalam sistem.

Antikolinergik Inhalasi (Ipratropium Bromida) sebagai Terapi Adjuvan

Ipratropium bromida memberikan efek bronkodilatasi tambahan melalui mekanisme yang berbeda (antagonisme muskarinik). Penggunaannya direkomendasikan sebagai terapi tambahan (adjunct) bersama SABA untuk eksaserbasi sedang hingga berat, terutama selama satu jam pertama pengobatan.

  • Dosis: 250–500 mcg melalui nebulizer (dapat dicampur dengan albuterol) atau 4–8 semprotan melalui MDI dengan spacer, diberikan setiap 20 menit hingga total 3 dosis.

Tabel 2: Dosis Obat Lini Pertama untuk Status Asmatikus Pediatri

Obat

Rute

Dosis

Frekuensi / Catatan

Oksigen

Inhalasi

Sesuai kebutuhan

Pertahankan SpO2 >92-95%. Gunakan sebagai pendorong nebulizer (6-8 L/menit).

Albuterol (Salbutamol)

MDI + Spacer

4-8 semprotan (tergantung BB)

Setiap 20 menit untuk 1 jam pertama, lalu sesuai kebutuhan.

Nebulizer (Intermiten)

0.15 mg/kg (min 2.5 mg, max 5 mg)

Setiap 20 menit untuk 1 jam pertama, lalu sesuai kebutuhan.

Nebulizer (Kontinu)

0.15–0.5 mg/kg/jam (max 10-20 mg/jam) ATAU 10-15 mg/jam

Untuk kasus berat/refrakter. Memerlukan monitoring di HCU/PICU.

Ipratropium Bromida

Nebulizer / MDI

Neb: 250-500 mcg; MDI: 4-8 semprotan

Setiap 20 menit, maksimal 3 dosis. Diberikan bersama albuterol.

Prednison / Prednisolon

Oral

1–2 mg/kg/hari (max 60 mg/hari)

Diberikan selama 3–5 hari.

Deksametason

Oral

0.6 mg/kg/hari (max 16 mg/hari)

Diberikan selama 1–2 hari. Waktu paruh panjang, muntah lebih sedikit.

Metilprednisolon

IV

1–2 mg/kg/hari dibagi setiap 6-12 jam (max 60 mg/hari)

Untuk pasien yang tidak bisa minum obat per oral atau dalam kondisi berat.


Eskalasi Terapi untuk Kasus Refrakter: Tatalaksana Lini Kedua dan Ketiga

Ketika pasien gagal menunjukkan perbaikan dengan terapi lini pertama yang maksimal, eskalasi ke terapi lini kedua dan ketiga menjadi suatu keharusan. Intervensi ini umumnya dicadangkan untuk pasien yang dirawat di unit perawatan tingkat tinggi (High Care Unit - HCU) atau PICU. 

Beragamnya pilihan terapi lini kedua ini mencerminkan kurangnya bukti komparatif berkualitas tinggi yang menunjukkan keunggulan satu agen di atas yang lain. Akibatnya, pilihan terapi seringkali didasarkan pada preferensi institusional dan pengalaman klinisi. Hal ini menggarisbawahi pentingnya konsultasi dini dengan spesialis anak konsultan perawatan intensif, daripada mencoba menavigasi lanskap terapi yang kompleks ini sendirian.

Gambar 3. Tahapan ekskalasi terapi Asthma akut berat

Magnesium Sulfat Intravena: Mekanisme, Indikasi, dan Protokol Dosis

  • Mekanisme: Magnesium (MgSO4​) bekerja sebagai bronkodilator dengan cara menghambat masuknya kalsium ke dalam sel otot polos jalan napas, sehingga menyebabkan relaksasi.

  • Indikasi: Direkomendasikan untuk pasien dengan eksaserbasi sedang hingga berat yang tidak merespons terapi awal dengan SABA dan kortikosteroid sistemik dalam satu jam pertama.

  • Dosis Bolus: Pendekatan standar adalah pemberian bolus IV tunggal sebesar 25–75 mg/kg (maksimal 2 g) yang diinfuskan selama 20–30 menit. Terapi ini terbukti dapat memperbaiki fungsi paru dan mengurangi angka rawat inap.

  • Infus Kontinu: Untuk pasien sakit kritis di PICU, infus magnesium kontinu terkadang digunakan, namun protokolnya sangat bervariasi dan belum terstandarisasi. Dosis dapat berkisar antara 15–50 mg/kg/jam, seringkali didahului oleh dosis muatan, dan memerlukan pemantauan ketat terhadap kadar magnesium serum serta efek samping seperti hipotensi dan kelemahan otot. Munculnya praktik infus magnesium kontinu ini mencerminkan pencarian akan efek terapeutik yang berkelanjutan untuk pasien yang paling kritis, serupa dengan evolusi dari albuterol intermiten ke kontinu. Namun, praktik ini telah melampaui bukti ilmiah yang ada, menciptakan skenario klinis berisiko tinggi dengan kesenjangan pengetahuan yang signifikan.

Bronkodilator Sistemik: Agonis Beta-2 IV dan Metilxantin

  • Agonis Beta-2 IV (Terbutalin/Salbutamol): Dipertimbangkan untuk pasien dengan ancaman gagal napas yang tidak membaik meskipun telah diberikan albuterol nebulisasi kontinu. Ini merupakan eskalasi terapi yang signifikan dan memerlukan pemantauan di PICU karena risiko tinggi efek samping kardiovaskular (takikardia, aritmia, hipotensi).

  • Terbutalin: Dosis muatan IV 10 mcg/kg diikuti dengan infus 0.1–10 mcg/kg/menit.

  • Salbutamol: Bolus IV 15 mcg/kg diikuti dengan infus 1–5 mcg/kg/menit.

  • Metilxantin (Aminofilin/Teofilin): Dahulu sering digunakan, namun sekarang dianggap sebagai agen lini kedua atau ketiga karena indeks terapeutiknya yang sempit dan risiko toksisitas yang signifikan (kejang, aritmia). Penggunaannya kontroversial, dan beberapa panduan utama tidak lagi merekomendasikannya. Jika digunakan, terapi ini memerlukan admisi ke PICU dan pemantauan kadar obat dalam serum.

  • Aminofilin: Dosis muatan IV (5–6 mg/kg) diikuti dengan infus (0.5–1 mg/kg/jam).

Peran Ketamin sebagai Agen Bronkodilator dan Sedatif

Ketamin adalah agen anestesi disosiatif yang memiliki sifat bronkodilator intrinsik, menjadikannya terapi tambahan yang berharga pada kasus status asmatikus yang berat dan refrakter. Obat ini sangat berguna untuk memfasilitasi toleransi pasien terhadap ventilasi non-invasif (NIV) atau sebagai agen sedatif untuk prosedur intubasi pada pasien asma.

  • Dosis: Bolus IV 1–2 mg/kg diikuti dengan infus kontinu 20–60 mcg/kg/menit. Penggunaannya memerlukan pemantauan di PICU.

Tabel 3: Dosis Obat Lini Kedua dan Adjuvan untuk Status Asmatikus Pediatri Refrakter

Obat

Rute

Dosis

Indikasi / Catatan Penting

Magnesium Sulfat

IV (Bolus)

25–75 mg/kg (max 2 g) selama 20-30 menit

Untuk eksaserbasi sedang-berat yang tidak responsif terhadap terapi awal. Monitor tekanan darah (TD).

IV (Kontinu)

Dosis muatan diikuti infus 15-50 mg/kg/jam

Eksklusif untuk PICU. Protokol sangat bervariasi. Monitor TD dan kadar Mg serum.

Terbutalin

IV

Dosis muatan 10 mcg/kg, diikuti infus 0.1–10 mcg/kg/menit

Gagal napas yang mengancam. Risiko tinggi aritmia dan hipotensi. Memerlukan monitoring EKG dan TD kontinu di PICU.

Salbutamol

IV

Bolus 15 mcg/kg, diikuti infus 1–5 mcg/kg/menit

Alternatif terbutalin IV. Risiko dan pemantauan serupa.

Aminofilin

IV

Dosis muatan 5-6 mg/kg, diikuti infus 0.5–1 mg/kg/jam

Lini ketiga, kontroversial. Indeks terapi sempit, risiko toksisitas tinggi (kejang, aritmia). Wajib monitor kadar obat dalam serum di PICU.

Ketamin

IV

Bolus 1–2 mg/kg, diikuti infus 20–60 mcg/kg/menit

Memiliki efek bronkodilator dan sedatif. Berguna untuk memfasilitasi NIV atau intubasi. Eksklusif untuk PICU.


Manajemen di Unit Perawatan Intensif Pediatri (PICU)

Perawatan di PICU dicadangkan untuk pasien dengan status asmatikus yang paling berat, yang memerlukan pemantauan invasif, dukungan pernapasan canggih, dan terapi penyelamatan.

Kriteria Transfer ke PICU dan Monitoring Intensif

Rujukan ke PICU harus dipertimbangkan untuk setiap anak yang gagal membaik atau memerlukan nebulisasi albuterol kontinu. Indikasi yang jelas untuk admisi PICU meliputi:

  • Tanda-tanda gagal napas yang mengancam (perubahan status mental, dada hening, kelelahan).

  • Kebutuhan akan obat-obatan intravena lini kedua (misalnya, terbutalin, aminofilin, ketamin).

  • Kebutuhan akan dukungan pernapasan canggih (NIV atau ventilasi mekanis).

Perawatan di PICU melibatkan pemantauan kardiorespirasi kontinu, akses intravena (seringkali sentral), dan kemungkinan pemasangan jalur arteri untuk analisis gas darah berulang.

Dukungan Ventilasi: Dari Non-Invasif hingga Invasif

  • Ventilasi Non-Invasif (NIV): Dapat digunakan untuk mendukung pernapasan, mengurangi upaya napas, dan memperbaiki pertukaran gas dalam upaya untuk menghindari intubasi. NIV dapat diberikan melalui Bilevel Positive Airway Pressure (BiPAP) atau Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

  • Intubasi dan Ventilasi Mekanis: Ini adalah intervensi penyelamat jiwa sebagai pilihan terakhir, karena berhubungan dengan risiko yang signifikan pada pasien asma. Tujuan utama dari semua terapi sebelumnya adalah untuk mencegah kebutuhan akan intubasi.

Strategi Ventilasi Protektif: Controlled Hypoventilation dan Permissive Hypercapnia

Paradigma ventilasi mekanis pada status asmatikus secara fundamental berbeda dari kondisi lain. Tantangan utamanya adalah hiperinflasi dinamis (perangkap udara atau air trapping) yang disebabkan oleh limitasi aliran udara ekspirasi yang parah. Ventilasi tekanan positif dapat memperburuk kondisi ini, yang berisiko menyebabkan barotrauma (misalnya, pneumotoraks) dan hipotensi (akibat penurunan aliran balik vena).

Oleh karena itu, strategi ventilasi yang direkomendasikan adalah hipoventilasi terkontrol (controlled hypoventilation), yang bertujuan untuk memprioritaskan pengosongan paru dan mencegah perangkap udara lebih lanjut. Prinsipnya adalah :

  • Menggunakan laju pernapasan (respiratory rate) yang rendah.

  • Menggunakan volume tidal yang rendah.

  • Memberikan waktu ekspirasi yang panjang (rasio I:E yang tinggi, misal 1:3 atau 1:4).

Strategi ini seringkali menyebabkan peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah, suatu kondisi yang secara sengaja ditoleransi dan dikenal sebagai hiperkapnia permisif (permissive hypercapnia). Ini adalah konsep yang sangat penting dan seringkali kontraintuitif bagi klinisi non-intensivis: pada penyakit spesifik ini, angka ventilator yang "normal" justru berbahaya, dan angka gas darah yang "abnormal" (PCO2 tinggi) seringkali menjadi tujuan terapeutik untuk mencegah cedera paru iatrogenik.

Terapi Penyelamatan (Salvage Therapy): Anestesi Inhalasi, Heliox, dan ECMO

Untuk pasien yang gagal membaik bahkan dengan ventilasi mekanis, beberapa terapi penyelamatan dapat dipertimbangkan :

  • Anestesi Inhalasi: Anestesi volatil seperti isofluran adalah bronkodilator poten dan dapat diberikan melalui sirkuit ventilator.

  • Heliox: Campuran helium dan oksigen memiliki densitas yang lebih rendah daripada udara, yang dapat memperbaiki aliran laminar melalui jalan napas yang sempit, sehingga mengurangi upaya napas dan meningkatkan penghantaran obat nebulisasi.

  • Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO): Pada kasus gagal napas refrakter yang paling ekstrem, ECMO dapat digunakan untuk mengambil alih fungsi pertukaran gas sementara paru-paru diberi waktu untuk pulih.

Protokol De-eskalasi dan Rencana Pemulangan Pasien

Transisi dari perawatan akut kembali ke manajemen kronis adalah fase kritis yang seringkali terabaikan. Fase ini memerlukan strategi penyapihan yang terstruktur dan rencana pemulangan yang komprehensif untuk mencegah kekambuhan.

Strategi Penyapihan (Weaning) Terapi Berbasis Protokol

De-eskalasi terapi harus sama terstrukturnya dengan eskalasi. Inisiatif perbaikan mutu di banyak pusat medis berfokus pada pengembangan protokol standar untuk penyapihan albuterol kontinu. Protokol ini sering menggunakan skor klinis objektif (misalnya, skor WARME) untuk memungkinkan perawat dan terapis pernapasan menyapih infus dengan peningkatan yang telah ditentukan (misalnya, mengurangi 5 mg/jam) ketika skor pasien turun di bawah ambang batas tertentu. 

Tujuan dari protokol ini adalah untuk mengurangi variasi praktik dan berpotensi mempersingkat durasi terapi kontinu serta lama rawat di ICU, meskipun bukti mengenai dampak pada lama rawat masih bervariasi.

Kriteria Pemulangan dan Komponen Rencana Aksi Asma (Asthma Action Plan)

Rawat inap karena status asmatikus bukanlah peristiwa yang terisolasi, melainkan penanda kritis dari penyakit berisiko tinggi. Peristiwa ini harus dilihat sebagai kegagalan manajemen kronis dan sebuah kesempatan emas untuk mengoptimalkan perawatan di masa depan. Periode pasca-pemulangan adalah jendela kesempatan krusial untuk secara fundamental mengubah lintasan penyakit jangka panjang pasien.

  • Kriteria Pemulangan: Pasien harus stabil dengan SABA intermiten (misalnya, setiap 4 jam), mempertahankan saturasi oksigen normal di udara ruangan, dan memiliki rencana tindak lanjut yang jelas.

  • Rencana Aksi Asma (Asthma Action Plan - AAP): AAP yang dipersonalisasi adalah komponen esensial dari pemulangan. AAP memberikan instruksi yang jelas kepada keluarga mengenai:

  • Obat pengontrol (controller) harian.

  • Cara mengidentifikasi gejala yang memburuk.

  • Langkah-langkah spesifik yang harus diambil selama serangan akut, termasuk kapan harus menggunakan obat penyelamat dan kapan harus mencari pertolongan darurat.

Sejumlah besar anak dengan asma tidak memiliki AAP, yang merupakan kesenjangan besar dalam perawatan yang dapat dicegah. Edukasi kepada keluarga mengenai teknik inhaler yang benar, penghindaran pemicu, dan penggunaan AAP adalah hal yang mutlak diperlukan. 

Bagi dokter umum yang kemungkinan besar akan mengelola tindak lanjut pasien, perannya bukan hanya melanjutkan resep. Perannya adalah memimpin tinjauan pasca-serangan yang komprehensif, mengevaluasi kembali kesesuaian terapi pengontrol, memperkuat edukasi, dan memastikan keluarga diberdayakan dengan AAP yang solid. Rawat inap harus diperlakukan sebagai peristiwa penting (sentinel event) yang memicu tingkat manajemen penyakit kronis yang lebih tinggi.

Kesimpulan

Status asmatikus pada anak adalah kegawatdaruratan medis yang kompleks dan dinamis, yang memerlukan pendekatan sistematis dan berbasis bukti. Keberhasilan tatalaksana bergantung pada pengenalan dini, penilaian keparahan yang cepat menggunakan alat klinis objektif, dan intervensi agresif yang menargetkan trias patofisiologi inti: inflamasi, bronkokonstriksi, dan sumbatan mukus.

Perawatan merupakan sebuah kontinum yang dimulai dengan fondasi terapi lini pertama—oksigen, SABA, kortikosteroid sistemik, dan ipratropium—di unit gawat darurat. Untuk pasien yang refrakter, eskalasi yang terstruktur ke terapi lini kedua seperti magnesium sulfat intravena dan agen lainnya harus dilakukan dalam lingkungan yang memungkinkan pemantauan ketat, idealnya di PICU. Di tingkat perawatan intensif, strategi ventilasi yang berfokus pada pencegahan cedera paru, seperti hipoventilasi terkontrol dan hiperkapnia permisif, menjadi sangat penting dan seringkali berlawanan dengan intuisi.

Akhirnya, rawat inap karena status asmatikus tidak boleh dilihat sebagai akhir dari sebuah episode akut, melainkan sebagai awal dari fase baru dalam manajemen penyakit kronis. De-eskalasi terapi yang terstruktur dan, yang terpenting, rencana pemulangan yang komprehensif yang berpusat pada Rencana Aksi Asma (AAP) yang dipersonalisasi dan edukasi pasien/keluarga, adalah kunci untuk memutus siklus eksaserbasi dan mencegah kejadian yang mengancam jiwa di masa depan.

Referensi

  1. Pediatric status asthmaticus - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23537669/

  2. [Management of status asthmaticus in children] - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/1777092/

  3. Status Asthmaticus in the Pediatric ICU: A Comprehensive Review of Management and Challenges - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39189288/

  4. Severe Acute Asthma Exacerbation in Children: A Stepwise ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3668947/

  5. Refractory Status Asthmaticus: A Case for Unconventional Therapies - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6201647/

  6. Status asthmaticus in children: a review - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11399724/

  7. Management of status asthmaticus in children - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23578933/

  8. Implementation of a Nurse-Driven Asthma Pathway in the Pediatric Intensive Care Unit, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8677970/

  9. Pharmacological Management of Pediatric Critical Asthma - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39348943/

  10. Paediatrics: how to manage acute asthma exacerbations - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8166724/

  11. Advances in the pathogenesis and personalised treatment of paediatric asthma - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10568124/

  12. Status Asthmaticus in the Pediatric ICU: A Comprehensive Review ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11348376/

  13. Metabolomics in Childhood Asthma – a Promising Tool to Meet Various Clinical Needs, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12062110/

  14. Childhood asthma phenotypes and endotypes: a glance into the mosaic - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10469115/

  15. Systemic Corticosteroid Responses in Children with Severe Asthma: Phenotypic and Endotypic Features - PMC - National Institutes of Health (NIH) |, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5346343/

  16. Managing the paediatric patient with an acute asthma exacerbation ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3381918/

  17. Diagnosis and management of asthma in children - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9045042/

  18. Childhood asthma: pathogenesis and phenotypes | European Respiratory Society, accessed July 23, 2025, https://publications.ersnet.org/content/erj/59/6/2100731

  19. Respiratory Viral and Bacterial Factors That Influence Early Childhood Asthma - Frontiers, accessed July 23, 2025, https://www.frontiersin.org/journals/allergy/articles/10.3389/falgy.2021.692841/full

  20. Implementation of a Critical Asthma Protocol in a Pediatric ICU - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9993982/

  21. Emergency presentation and management of acute severe asthma in children - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2749010/

  22. Pediatric Asthma - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed July 23, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551631/

  23. Comparison of two continuous nebulized albuterol doses in critically ill children with status asthmaticus - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31119958/

  24. Contemporary treatment of children with critical and near-fatal asthma - PMC, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4943055/

  25. Treatment of status asthmaticus in children with high doses and conventional doses of methylprednisolone - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/353682/

  26. Adjunct Therapies for Refractory Status Asthmaticus in Children - PubMed, accessed July 23, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28546381/

  27. Continuous Magnesium Sulfate Infusions for Status Asthmaticus in ..., accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8983002/

  28. Anti-inflammatory dosing of theophylline in the treatment of status asthmaticus in children, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5066866/

  29. Management of severe asthma exacerbation: guidelines from the Société Française de Médecine d'Urgence, the Société de Réanimation de Langue Française and the French Group for Pediatric Intensive Care and Emergencies - PubMed Central, accessed July 23, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6787133/