28 Mar 2025 • Kulit
Pendahuluan: Gonorrhea: Tantangan Resistensi dan Pilihan Terapi.
Infeksi Neisseria gonorrhoeae, atau yang lebih dikenal sebagai Gonorrhea, merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) yang prevalensinya terus meningkat secara global dan menjadi perhatian serius di bidang kesehatan masyarakat.1
Peningkatan kasus ini mengkhawatirkan karena infeksi Gonorrhea yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada wanita, seperti penyakit radang panggul, kehamilan ektopik, dan infertilitas.
Selain itu, infeksi ini juga dapat meningkatkan risiko penularan human immunodeficiency virus (HIV).1 Kemampuan bakteri N.
gonorrhoeae untuk mengembangkan resistensi terhadap berbagai jenis antibiotik merupakan tantangan utama dalam upaya pengendalian infeksi ini dan secara langsung memengaruhi rekomendasi pengobatan yang berlaku 1.
Seiring berjalannya waktu, pedoman terapi untuk Gonorrhea terus mengalami evolusi sebagai respons terhadap munculnya resistensi antibiotik.
Resistensi yang meluas terhadap antibiotik yang dulunya efektif, seperti penisilin, tetrasiklin, dan fluoroquinolon, telah secara signifikan mempersempit pilihan terapi yang dapat diandalkan.2
Bahkan, azitromisin, yang sebelumnya merupakan komponen penting dalam regimen terapi kombinasi untuk Gonorrhea, kini juga menghadapi masalah peningkatan resistensi, yang menyebabkan penurunan efektivitasnya1.
Dalam konteks historis pengobatan Gonorrhea, kanamycin, yang termasuk dalam golongan antibiotik aminoglikosida 3, pernah digunakan sebagai salah satu pilihan terapi, terutama pada era sebelum munculnya resistensi yang meluas terhadap antibiotik lain yang saat ini lebih umum digunakan 4.
Kanamisin terbukti efektif dalam beberapa penelitian di masa lalu, terutama terhadap strain N. gonorrhoeae yang telah mengembangkan resistensi terhadap penisilin.6
Mengingat pedoman terapi terkini dan potensi risiko reaksi alergi terhadap kanamycin, pemahaman yang jelas mengenai hal ini sangat krusial untuk praktik klinis yang aman dan efektif.
Tantangan resistensi antibiotik pada Gonorrhea yang terus meningkat mengharuskan dokter umum untuk selalu memperbarui pengetahuan mereka tentang protokol pengobatan terkini.
Status Kanamisin dalam Pedoman Terapi Gonorrhea Terkini.
Untuk menjawab pertanyaan mengenai penggunaan kanamycin dalam pengobatan Gonorrhea saat ini, penting untuk meninjau pedoman pengobatan terkini yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan terkemuka seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan World Health Organization (WHO).
Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual pada tahun 2016 merekomendasikan penggunaan sefiksim 400mg dosis tunggal, per oral dengan pilihan pengobatan lainnya berupa kanamisin 2g injeksi intramuscular dosis tunggal atau seftriakson 250mg injeksi intramuscular dosis tunggal.
Sementara itu, pedoman WHO tahun 2016 merekomendasikan terapi kombinasi lini pertama untuk infeksi genital dan anorektal dengan menggunakan salah satu dari dua pilihan berikut: ceftriaxone 250 mg IM plus azitromisin 1 g oral dosis tunggal, atau cefixime 400 mg oral plus azitromisin 1 g oral dosis tunggal 10.
Pedoman WHO juga mencantumkan terapi alternatif seperti spektinomisin jika ceftriaxone tidak tersedia atau terdapat kontraindikasi 10.
Secara signifikan, baik pedoman dari CDC maupun WHO saat ini tidak merekomendasikan penggunaan kanamycin sebagai terapi lini pertama maupun alternatif untuk infeksi genital pada orang dewasa 2.
Meskipun demikian, penting untuk meninjau kembali peran historis kanamycin dalam pengobatan Gonorrhea 4.
Studi-studi di masa lalu memang menunjukkan bahwa kanamycin efektif dalam mengobati infeksi N. gonorrhoeae, terutama pada era sebelum resistensi terhadap antibiotik lain yang saat ini lebih sering digunakan menjadi masalah utama. Kanamisin bahkan terbukti efektif terhadap strain yang resisten terhadap penisilin 6.
Dosis kanamycin yang digunakan dalam studi-studi terdahulu untuk pengobatan Gonorrhea pada orang dewasa bervariasi, termasuk dosis tunggal 2 gram IM dan regimen multidosis dengan total dosis 3 gram 4
Uji Kulit Kanamisin: Rekomendasi dan Pertimbangan.
Mengingat status kanamycin dalam pedoman terapi Gonorrhea terkini, pertanyaan selanjutnya adalah apakah uji kulit (skin test) diperlukan sebelum pemberian injeksi kanamycin untuk pengobatan Gonorrhea pada orang dewasa.
Penelusuran literatur ilmiah yang terindeks di PubMed tidak menemukan adanya rekomendasi rutin untuk melakukan uji kulit sebelum pemberian injeksi kanamycin untuk indikasi ini 13.
Meskipun tidak ada rekomendasi khusus untuk uji kulit kanamycin dalam konteks pengobatan Gonorrhea pada orang dewasa, penting untuk mempertimbangkan potensi reaksi alergi terhadap antibiotik golongan aminoglikosida, yang mana kanamycin termasuk di dalamnya 13.
Reaksi alergi terhadap aminoglikosida dilaporkan jarang terjadi, yaitu kurang dari 2% kasus, namun potensi terjadinya reaksi hipersensitivitas tetap ada.
Reaksi ini dapat berupa reaksi kulit seperti dermatitis kontak, ruam, dan urtikaria, hingga reaksi yang lebih serius seperti angioedema dan anafilaksis sistemik 13.
Selain itu, perlu diingat adanya potensi cross-reactivity di antara berbagai jenis aminoglikosida seperti neomisin, gentamisin, tobramisin, dan amikasin.
Pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap salah satu jenis aminoglikosida mungkin juga berisiko mengalami reaksi alergi terhadap kanamycin 13.
Evaluasi terhadap ketersediaan dan validitas uji kulit untuk mendeteksi alergi terhadap aminoglikosida menunjukkan bahwa saat ini tidak ada uji kulit yang terstandarisasi dan divalidasi secara universal untuk mendiagnosis hipersensitivitas segera terhadap semua jenis aminoglikosida 14.
Uji kulit dapat dipertimbangkan dalam kasus-kasus tertentu di mana terdapat kecurigaan kuat terhadap alergi yang dimediasi oleh IgE dan riwayat klinis yang menunjukkan risiko tinggi terjadinya anafilaksis 15.
Mengingat bahwa kanamycin saat ini bukan merupakan terapi lini pertama untuk pengobatan Gonorrhea pada orang dewasa dan insiden reaksi alergi terhadap aminoglikosida secara umum relatif rendah, tidak ada rekomendasi untuk melakukan uji kulit secara rutin sebelum pemberian kanamycin dalam konteks pengobatan Gonorrhea.
Namun, dokter umum tetap perlu secara seksama menggali riwayat alergi pasien, terutama yang berkaitan dengan antibiotik golongan aminoglikosida.
Jika pasien memiliki riwayat alergi terhadap aminoglikosida lain, penggunaan kanamycin harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati, dan pilihan terapi alternatif yang tidak termasuk golongan aminoglikosida sebaiknya diprioritaskan.
Protokol Uji Kulit Kanamisin (Jika Direkomendasikan).
Apabila uji kulit kanamycin dipertimbangkan (misalnya, atas rekomendasi ahli alergi), protokol umum untuk uji kulit antibiotik dapat diadaptasi 19.
Waktu pengamatan hasil uji kulit untuk reaksi alergi segera (tipe IgE) umumnya adalah 15-20 menit setelah aplikasi atau injeksi 19.
Reaksi hipersensitivitas tipe lambat mungkin muncul setelah 48-72 jam, namun hal ini tidak dibahas secara spesifik untuk kanamycin dalam informasi yang tersedia.
Jika uji kulit kanamycin dilakukan, penting untuk mengikuti prinsip-prinsip umum uji kulit antibiotik, termasuk penggunaan kontrol positif dan negatif untuk interpretasi yang akurat.
Konsentrasi kanamycin yang tepat untuk uji kulit harus ditentukan dengan hati-hati, idealnya oleh ahli alergi, untuk menghindari hasil positif palsu akibat iritasi.
Hasil uji kulit harus diamati dalam jangka waktu 15-20 menit untuk mendeteksi reaksi alergi tipe cepat.
Dokter juga harus memberikan instruksi kepada pasien mengenai potensi munculnya reaksi alergi tipe lambat yang mungkin terjadi dalam beberapa hari setelah pengujian.
Interpretasi Hasil Positif Uji Kulit Kanamisin.
Tanda-tanda yang menunjukkan hasil positif pada uji kulit kanamycin dan mengindikasikan kemungkinan alergi meliputi:
Gejala sistemik yang mungkin menyertai reaksi alergi dan memerlukan perhatian medis segera adalah:
Hasil positif pada uji kulit kanamycin, terutama jika disertai dengan pembentukan wheal yang besar dan flare yang jelas, mengindikasikan adanya sensitivitas terhadap obat tersebut.
Munculnya gejala sistemik merupakan tanda reaksi alergi yang lebih serius dan memerlukan penanganan yang tepat.
Dosis Obat Gonorrhea: Dosis Kanamisin dalam Pengobatan Gonorrhea (Jika Relevan).
Berdasarkan studi-studi terdahulu yang terindeks di PubMed 4:
Pedoman WHO tahun 2016 merekomendasikan dosis kanamycin sebesar 25 mg/kg (maksimum 75 mg) IM sebagai dosis tunggal untuk pengobatan konjungtivitis gonokokal pada neonatus 12.
Penting untuk dicatat bahwa tidak ada dosis kanamycin yang direkomendasikan secara spesifik untuk pengobatan infeksi genital pada orang dewasa dalam pedoman terapi Gonorrhea terkini dari organisasi kesehatan terkemuka seperti CDC dan WHO, karena kanamycin bukan lagi merupakan pilihan terapi utama untuk indikasi ini 12.
Dosis kanamycin yang digunakan untuk pengobatan Gonorrhea pada orang dewasa di masa lalu bervariasi dalam literatur ilmiah, namun pedoman terapi saat ini tidak mencantumkan rekomendasi dosis spesifik untuk indikasi ini karena adanya pilihan terapi lain yang lebih disukai dan kurangnya data terkini tentang efektivitas kanamycin.
Jika dalam situasi yang sangat jarang dan spesifik kanamycin dipertimbangkan untuk pengobatan Gonorrhea pada orang dewasa (misalnya, karena alergi berat terhadap seftriakson dan hasil uji sensitivitas yang sesuai),
Dosis yang digunakan dalam studi-studi terdahulu dapat menjadi pertimbangan, namun keputusan mengenai dosis yang tepat sebaiknya diambil melalui konsultasi dengan ahli penyakit menular.
Tabel 1: Perbandingan Pedoman Terapi Gonorrhea Terkini (Infeksi Genital Dewasa)
Organisasi | Terapi Lini Pertama | Terapi Alternatif | Penyebutan Kanamisin (Ya/Tidak, Konteks) |
CDC (2021) | Ceftriaxone 500 mg IM dosis tunggal (1 g jika ≥ 150 kg) | Tidak disebutkan secara spesifik untuk infeksi genital dewasa. Jika koinfeksi Chlamydia tidak dapat disingkirkan, tambahkan doxycycline 100 mg oral 2 kali sehari selama 7 hari. | Tidak |
WHO (2016) | Ceftriaxone 250 mg IM + Azitromisin 1 g oral dosis tunggal; atau Cefixime 400 mg oral + Azitromisin 1 g oral dosis tunggal | Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal; Cefixime 400 mg oral dosis tunggal; Spectinomycin 2 g IM dosis tunggal (jika resistensi lokal rendah) | Ya, untuk pengobatan konjungtivitis gonokokal pada neonatus (25 mg/kg IM, maks 75 mg). Tidak direkomendasikan untuk infeksi genital dewasa karena kurangnya data surveilans terkini. |
Update to CDC's Treatment Guidelines for Gonococcal Infection, 2020 - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33332296/
Management of Neisseria gonorrhoeae in the United States ..., accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35416971/
Kanamycin | C18H36N4O11 | CID 6032 - PubChem, accessed March 21, 2025, https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Kanamycin
[Kanamycin levels in treating patients with acute and subacute gonorrhea] - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2730218/
[Treatment of gonorrheal urethritis in men using kanamycin and vibramycin] - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/813568/
Efficacy of gentamicin and kanamycin in the treatment of uncomplicated gonococcal urethritis in Zambia - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3890228/
Kanamycin in the treatment of gonococcal urethritis in males - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6672557
Kanamycin in the treatment of penicillinase-producing gonococcai infections - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/115448/
The Management of Gonorrhea in the Era of Emerging Antimicrobial ..., accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38331480/
Current and future antimicrobial treatment of gonorrhoea – the rapidly evolving Neisseria gonorrhoeae continues to challenge - PMC, accessed March 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4546108/
Gonorrhea - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed March 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK558903/
RECOMMENDATIONS FOR TREATMENT OF GONOCOCCAL ..., accessed March 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK379222/
Aminoglycoside Allergic Reactions - PMC - PubMed Central, accessed March 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6789510/
Immediate and Delayed Hypersensitivity Reactions to Antibiotics: Aminoglycosides, Clindamycin, Linezolid, and Metronidazole - PMC, accessed March 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9156451/
Antibiotic Skin Testing in the Intensive Care Unit: A Systematic Review - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31961941/
Gentamicin induced Anaphylaxis, a case report - PMC - PubMed Central, accessed March 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4407115/
Aminoglycoside Allergic Reactions - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31470509/
Immediate and Delayed Hypersensitivity Reactions to Antibiotics: Aminoglycosides, Clindamycin, Linezolid, and Metronidazole - PubMed, accessed March 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34910281/
The Current Practice of Skin Testing for Antibiotics in Korean Hospitals - PMC, accessed March 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2880696/
Allergy Testing - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed March 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537020/
Bergabung dengan Dokter Post Untuk Karier Anda 🌟