Diagnosis dan Terapi Hidrokel: Panduan Klinis Komprehensif untuk Praktik Umum Berbasis Bukti dari Jurnal Terindeks PubMed

24 Feb 2026 • urologi

Deskripsi

Diagnosis dan Terapi Hidrokel: Panduan Klinis Komprehensif untuk Praktik Umum Berbasis Bukti dari Jurnal Terindeks PubMed

Bagian 1: Tinjauan Fundamental Hidrokel: Patofisiologi dan Klasifikasi

1.1. Definisi dan Epidemiologi Hidrokel pada Pria Dewasa

Hidrokel didefinisikan sebagai akumulasi abnormal cairan serosa di antara lapisan parietal dan viseral tunika vaginalis, yaitu membran yang secara langsung mengelilingi testis dan funikulus spermatikus. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab paling umum dari pembengkakan skrotum yang ditemui dalam praktik klinis. Hidrokel didapat (acquired) diperkirakan memengaruhi sekitar 1% pria dewasa, dengan insiden yang cenderung meningkat pada pria berusia di atas 40 tahun.

Secara umum, prevalensi hidrokel pada populasi pria dewasa dilaporkan sekitar 100 per 100.000 individu. Meskipun secara patologis hidrokel merupakan kondisi jinak dan seringkali tidak menimbulkan nyeri, dampaknya terhadap kualitas hidup pasien tidak boleh diremehkan. Ukuran hidrokel yang besar dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, berat, kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari, dan masalah kosmetik yang signifikan, yang seringkali menjadi alasan utama pasien untuk mencari pertolongan medis. 

Oleh karena itu, tantangan klinis bagi dokter di layanan primer tidak hanya terbatas pada penegakan diagnosis, tetapi juga mencakup evaluasi cermat terhadap dampak subjektif kondisi ini pada pasien untuk memandu keputusan antara observasi atau rujukan untuk tatalaksana definitif.

1.2. Patofisiologi Inti: The Spectrum of Processus Vaginalis Obliteration and Fluid Imbalance

Mekanisme patofisiologis fundamental yang mendasari pembentukan hidrokel adalah ketidakseimbangan antara sekresi dan reabsorpsi cairan oleh membran tunika vaginalis. Asal-usul ketidakseimbangan ini dapat dipahami melalui spektrum kegagalan obliterasi prosesus vaginalis (PV), suatu evaginasi peritoneum yang menyertai penurunan testis ke dalam skrotum selama perkembangan janin.

Normalnya, PV akan mengalami obliterasi (penutupan) setelah lahir, memutus hubungan antara rongga peritoneum dan skrotum. Namun, variasi dalam proses obliterasi ini melahirkan berbagai jenis hidrokel. Pada hidrokel komunikan, yang umum pada anak-anak, PV gagal menutup sepenuhnya, sehingga memungkinkan aliran bebas cairan peritoneum ke dalam kantung tunika vaginalis. Pada hidrokel non-komunikan atau hidrokel dewasa, PV telah menutup di bagian proksimal, namun akumulasi cairan tetap terjadi di dalam kantung tunika vaginalis yang terisolasi. Penyebabnya bisa bersifat idiopatik atau sekunder akibat inflamasi, trauma, atau infeksi yang mengganggu keseimbangan cairan lokal.

Kerangka konseptual yang lebih terpadu adalah memandang berbagai jenis hidrokel primer sebagai manifestasi dari "Spektrum Patensi Prosesus Vaginalis". Dalam model ini, diagnosis klinis yang berbeda—seperti hidrokel komunikan, hidrokel infantil, atau hidrokel korda terkista (encysted hydrocele of the cord)—bukanlah entitas yang terpisah, melainkan ekspresi fenotipik yang berbeda yang ditentukan oleh lokasi dan tingkat kegagalan penutupan PV. 

Sebagai contoh, PV yang paten sepenuhnya akan bermanifestasi sebagai hidrokel komunikan dengan volume yang berfluktuasi. Sebaliknya, jika hanya segmen tengah PV yang tetap paten sementara bagian proksimal dan distal menutup, maka akan terbentuk hidrokel korda terkista yang volumenya tetap. Pemahaman ini menyederhanakan konsep embriologis yang kompleks dan membantu dokter memprediksi perilaku klinis dari pembengkakan skrotum yang dihadapi.

1.3. Klasifikasi Klinis: A Framework for Diagnosis dan Terapi Hidrokel

Klasifikasi hidrokel yang akurat merupakan landasan untuk pendekatan diagnostik dan terapeutik yang tepat. Secara klinis, hidrokel dibagi berdasarkan etiologi dan anatomi komunikasinya.

Hidrokel Primer (Idiopatik) vs. Sekunder (Didapat)

  • Hidrokel Primer: Terjadi tanpa adanya patologi intra-skrotum lain yang dapat diidentifikasi. Ini adalah jenis yang paling umum pada orang dewasa, di mana PV telah menutup namun terjadi akumulasi cairan idiopatik di dalam tunika vaginalis.

  • Hidrokel Sekunder: Terjadi sebagai respons terhadap kondisi patologis yang mendasarinya. Penyebabnya dapat berupa infeksi (misalnya, epididimitis, tuberkulosis, filariasis), trauma, torsio testis, tumor testis atau paratestikular, atau sebagai komplikasi pasca-operasi (misalnya, setelah herniorafi).

Pentingnya pembedaan ini terletak pada implikasi klinisnya. Diagnosis hidrokel sekunder pada orang dewasa harus memicu kewaspadaan tinggi dan pencarian aktif terhadap penyebab yang mendasarinya. Sebuah hidrokel yang baru muncul pada pria dewasa tidak boleh dianggap sebagai temuan jinak sampai patologi serius, terutama keganasan, telah disingkirkan.

Laporan kasus menunjukkan bahwa hidrokel sekunder dapat menutupi keganasan paratestikular yang agresif seperti rhabdomyosarcoma, di mana keterlambatan diagnosis dapat berakibat fatal. Dengan demikian, hidrokel pada konteks ini berfungsi sebagai "tanda bahaya" (red flag) yang menuntut evaluasi diagnostik yang cermat, terutama melalui ultrasonografi.

Hidrokel Komunikan vs. Non-Komunikan

  • Hidrokel Komunikan: Terdapat hubungan paten (terbuka) antara rongga peritoneum dan tunika vaginalis melalui PV yang tidak menutup. Karakteristik utamanya adalah adanya variasi ukuran pembengkakan skrotum, yang cenderung membesar saat pasien dalam posisi tegak atau saat melakukan manuver Valsalva, dan mengecil saat berbaring.

  • Hidrokel Non-Komunikan: Tidak ada hubungan dengan rongga peritoneum. Kategori ini mencakup beberapa subtipe berdasarkan lokasi obliterasi PV :

  • Hidrokel Vaginalis (Hidrokel Dewasa Tipikal): PV telah menutup secara normal, namun terjadi akumulasi cairan di dalam kantung tunika vaginalis yang mengelilingi testis.

  • Hidrokel Infantil: PV menutup di tingkat anulus inguinalis profundus, tetapi bagian distalnya tetap paten dan terisi cairan, meluas dari skrotum hingga ke kanalis inguinalis.

  • Hidrokel Korda Terkista (Encysted Hydrocele of the Cord): Segmen tengah dari PV tetap paten dan terisi cairan, sementara bagian proksimal dan distalnya telah menutup. Secara klinis, ini teraba sebagai massa kistik yang licin dan terpisah dari testis di sepanjang funikulus spermatikus.

Bagian 2: Alur Diagnosis Hidrokel: Dari Anamnesis hingga Pencitraan

2.1. Anamnesis Terarah dan Pemeriksaan Fisik

Langkah awal dalam diagnosis hidrokel adalah anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik yang sistematis.

Anamnesis: Pasien dengan hidrokel umumnya datang dengan keluhan utama berupa pembengkakan skrotum yang tidak nyeri dan membesar secara perlahan. Pertanyaan kunci yang harus digali meliputi :

  • Onset dan Durasi: Kapan pembengkakan pertama kali disadari? Apakah muncul secara tiba-tiba atau perlahan?

  • Variasi Ukuran: Apakah ukuran pembengkakan berubah-ubah tergantung posisi (berbaring vs. berdiri) atau aktivitas? Jawaban "ya" sangat mengarah pada hidrokel komunikan.

  • Nyeri: Apakah ada rasa nyeri? Nyeri akut dan hebat merupakan tanda bahaya untuk torsio testis atau tension hydrocele, sementara nyeri tumpul bisa terkait epididimitis.

  • Riwayat Terkait: Apakah ada riwayat trauma skrotum, infeksi saluran kemih, atau operasi di daerah inguinal sebelumnya?

Pemeriksaan Fisik: Pemeriksaan harus dilakukan pada pasien dalam posisi berdiri dan berbaring. Tiga pertanyaan kunci yang diusulkan oleh para ahli dapat memandu pemeriksaan fisik secara efektif :

  1. Apakah mungkin untuk meraba bagian atas dari pembengkakan? Jika jari pemeriksa tidak dapat melampaui batas atas pembengkakan di dalam skrotum, kemungkinan besar diagnosisnya adalah hernia inguinoskrotal, bukan hidrokel murni. Pada hidrokel, funikulus spermatikus di atas pembengkakan biasanya dapat diraba dengan normal.

  2. Apakah pembengkakan tersebut mengelilingi testis dan epididimis? Hidrokel tipikal cenderung mengelilingi testis dan epididimis, membuatnya sulit atau tidak mungkin untuk dipalpasi secara terpisah.

  3. Apakah pembengkakan tersebut transiluminan? Tes transiluminasi adalah manuver diagnostik klasik. Dalam ruangan yang digelapkan, sumber cahaya (misalnya, senter pena) ditempelkan di bagian posterior skrotum. Jika cahaya dapat menembus pembengkakan dan skrotum tampak bersinar kemerahan, tes ini positif dan sangat sugestif untuk hidrokel.

Meskipun tes transiluminasi sangat berguna, penting untuk memahami keterbatasannya. Tes ini bukanlah alat diagnostik yang sempurna. Hasil positif yang cemerlang memang sangat mendukung diagnosis hidrokel simpel. Namun, hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis, karena hidrokel dengan dinding yang sangat tebal, atau adanya darah (hematokel) atau pus (piokel) di dalamnya, tidak akan transiluminan.

Sebaliknya, hasil positif tidak selalu berarti kondisi yang sepenuhnya jinak; beberapa kasus hidrokel abdominoskrotal juga dapat menunjukkan transiluminasi. Oleh karena itu, transiluminasi harus dianggap sebagai bagian dari evaluasi klinis keseluruhan, bukan sebagai tes definitif.

2.2. Peran Sentral Ultrasonografi Skrotum

Ultrasonografi (USG) skrotum adalah modalitas pencitraan pilihan dan dianggap sebagai standar emas dalam evaluasi pembengkakan skrotum. Indikasi untuk melakukan USG skrotum sangat luas, mencakup setiap kasus di mana terdapat nyeri skrotum atau ketika anatomi testis tidak dapat didelineasi dengan jelas melalui palpasi karena adanya pembengkakan.

Peran USG dalam diagnosis hidrokel bersifat ganda dan sama pentingnya: konfirmasi dan eksklusi.

  • Peran Konfirmasi: USG dapat dengan mudah mengonfirmasi keberadaan hidrokel, yang tampak sebagai koleksi cairan anekoik (hitam) atau hipoekoik yang mengelilingi testis.

  • Peran Eksklusi: Ini adalah fungsi USG yang paling krusial. Alat ini memberikan visualisasi detail parenkim testis dan struktur paratestikular lainnya dengan resolusi tinggi. Hal ini memungkinkan dokter untuk secara definitif menyingkirkan patologi serius yang dapat bermanifestasi sebagai atau disertai dengan hidrokel, seperti tumor testis, epididimo-orkitis dengan pembentukan abses, atau hernia.

Dengan demikian, nilai utama USG dalam konteks dugaan hidrokel bukanlah sekadar untuk "memastikan adanya cairan". Fungsi yang lebih vital adalah untuk melakukan survei anatomi yang teliti guna "menyingkirkan kanker testis dan patologi serius lainnya". Kerangka berpikir ini menggarisbawahi pentingnya USG sebagai bagian dari standar perawatan dan membenarkan penggunaannya secara rutin bahkan pada kasus-kasus yang secara klinis tampak "jelas" sebagai hidrokel. Ini adalah jaring pengaman diagnostik yang esensial.

Gambar 1. USG menunjukkan Hidrokel kiri besar.

2.3. Indikasi Pencitraan Lanjutan (CT/MRI)

Computed Tomography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk hidrokel simpel. Penggunaannya terbatas pada kasus-kasus yang kompleks atau atipikal, dan biasanya diindikasikan setelah konsultasi dengan spesialis urologi. Indikasi spesifik meliputi:

  • Dugaan Hidrokel Abdominoskrotal (ASH): CT atau MRI diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis, mendelineasi komponen abdominal dan skrotal yang berbentuk seperti jam pasir, dan mengevaluasi komplikasi terkait tekanan pada struktur sekitarnya.

  • Kecurigaan Transformasi Ganas atau Komplikasi Vaskular: MRI lebih unggul dalam mengevaluasi jaringan lunak dan dapat diindikasikan jika ada kecurigaan keganasan atau komplikasi vaskular seperti trombosis vena dalam (DVT) yang disebabkan oleh kompresi dari massa hidrokel yang besar.

  • Hidrokel Kanalis Nuck: Pada pasien wanita dengan pembengkakan inguinal yang tidak jelas, CT atau MRI dapat digunakan untuk memvisualisasikan lesi kistik di kanalis inguinalis dan mengonfirmasi diagnosis hidrokel Kanalis Nuck.

Gambar 2. MRI menunjukkan hidrokel kiri

Bagian 3: Diagnosis Banding Kunci pada Pembengkakan Skrotum

Kemampuan untuk membedakan hidrokel dari penyebab lain pembengkakan skrotum adalah keterampilan fundamental bagi setiap dokter di layanan primer. Kesalahan diagnosis dapat menunda penanganan kondisi darurat atau serius. Berikut adalah diagnosis banding utama dan fitur pembedanya.

3.1. Membedakan Hidrokel dari Entitas Umum dan Kegawatdaruratan

  • Hernia Inguinalis: Seringkali tidak dapat diraba batas atasnya di dalam skrotum, dapat direduksi (dapat didorong kembali ke perut), memiliki impuls batuk positif (terasa dorongan saat pasien batuk), dan tidak transiluminan.

  • Varikokel: Dideskripsikan secara klasik sebagai "sekantong cacing" (bag of worms) saat palpasi. Pembengkakan ini terdiri dari vena-vena pleksus pampiniformis yang berdilatasi dan biasanya lebih jelas saat pasien berdiri atau melakukan manuver Valsalva.

  • Spermatokel: Merupakan kista retensi berisi sperma yang berasal dari kepala epididimis. Saat palpasi, spermatokel terasa sebagai massa kistik yang licin, teraba terpisah, dan terletak di atas dan di belakang testis. USG akan menunjukkannya sebagai struktur kistik yang berasal dari epididimis.

  • Torsio Testis: Merupakan kegawatdaruratan urologi. Ditandai dengan nyeri skrotum yang hebat dan mendadak, testis yang bengkak, posisinya lebih tinggi dari normal (high-riding testis), dan seringkali terletak horizontal. Refleks kremaster (kontraksi otot kremaster dan elevasi testis saat paha bagian dalam digores) biasanya tidak ada pada sisi yang terkena. USG Doppler akan menunjukkan tidak adanya aliran darah ke testis.

  • Epididimo-orkitis: Adalah peradangan pada epididimis dan/atau testis. Onsetnya biasanya lebih subakut dibandingkan torsio. Pasien mengeluh nyeri dan bengkak, dan bisa disertai demam atau gejala infeksi saluran kemih. Pada pemeriksaan, epididimis teraba bengkak dan sangat nyeri. Refleks kremaster biasanya ada. USG Doppler akan menunjukkan peningkatan aliran darah (hiperemia) ke struktur yang meradang. Hidrokel reaktif (hidrokel sekunder akibat peradangan) sering menyertai kondisi ini.

  • Tumor Testis: Biasanya muncul sebagai massa yang keras, tidak nyeri, dan irregular di dalam substansi testis itu sendiri. Massa ini tidak dapat dipisahkan dari testis dan tidak transiluminan. Setiap massa padat intra-testikular pada USG harus dianggap ganas sampai terbukti sebaliknya.

Untuk membantu proses pengambilan keputusan klinis, matriks diagnosis banding berikut merangkum fitur-fitur kunci dari kondisi-kondisi tersebut.

Tabel 1: Matriks Diagnosis Banding Pembengkakan Skrotum untuk Praktik Umum


Fitur Klinis

Hidrokel

Hernia Inguinalis

Varikokel

Spermatokel

Torsio Testis (Darurat)

Epididimo-orkitis

Tumor Testis

Onset

Perlahan

Bervariasi

Perlahan

Perlahan

Akut, mendadak

Subakut

Perlahan

Nyeri

Umumnya tidak ada

Bervariasi

Nyeri tumpul

Umumnya tidak ada

Sangat hebat

Sedang-hebat

Umumnya tidak ada

Palpasi

Kistik, licin, testis sulit diraba, bisa meraba di atasnya

Lunak, bisa direduksi, tidak bisa meraba di atasnya

"Sekantong cacing"

Kistik, licin, terpisah di atas/belakang testis

Testis bengkak, keras, posisi tinggi

Epididimis bengkak, sangat nyeri

Massa keras, irregular, intra-testikular

Transiluminasi

Positif

Negatif

Negatif

Positif

Negatif

Negatif (hidrokel reaktif bisa positif)

Negatif

Impuls Batuk

Negatif

Positif

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

Refleks Kremaster

Ada

Ada

Ada

Ada

Tidak ada

Ada

Ada

Temuan Kunci USG

Cairan anekoik mengelilingi testis normal

Usus/omentum di kanalis/skrotum

Vena >2.5 mm dengan refluks

Kista anekoik dari kepala epididimis

Tidak ada aliran darah ke testis

Peningkatan aliran darah ke epididimis/testis

Massa hipoekoik padat di dalam testis


Bagian 4: Tatalaksana dan Terapi Hidrokel: Pendekatan Berbasis Bukti

4.1. Manajemen Konservatif: The "Watchful Waiting" Protocol

Tidak semua hidrokel memerlukan intervensi. Karena sebagian besar hidrokel pada orang dewasa bersifat asimtomatik dan jinak, pendekatan konservatif atau observasi (watchful waiting) adalah pilihan yang valid dan seringkali menjadi pilihan pertama. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip bahwa jika hidrokel tidak menyebabkan gejala yang mengganggu atau komplikasi, risiko dan biaya pembedahan mungkin tidak sebanding dengan manfaatnya.

Manajemen konservatif diindikasikan untuk pasien dengan hidrokel yang:

  • Asimtomatik (tidak ada nyeri atau rasa tidak nyaman yang signifikan).

  • Ukurannya stabil atau membesar sangat lambat.

  • Tidak menimbulkan masalah kosmetik yang mengganggu bagi pasien.

  • Telah dipastikan melalui USG bahwa tidak ada patologi intra-skrotum lain yang mendasarinya.

Pasien yang menjalani observasi perlu diedukasi untuk memantau gejala dan segera kembali jika hidrokel menjadi nyeri, membesar dengan cepat, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

4.2. Indikasi Intervensi Bedah

Keputusan untuk melanjutkan ke tatalaksana definitif, yaitu pembedahan, haruslah merupakan keputusan bersama antara dokter dan pasien. Indikasi untuk intervensi tidak didasarkan pada ukuran absolut hidrokel, melainkan pada dampak subjektifnya terhadap pasien. Bukti dari literatur menunjukkan bahwa pembedahan dipertimbangkan ketika hidrokel "mengganggu kehidupan sehari-hari" atau "berdampak pada aktivitas".

Secara ringkas, indikasi untuk rujukan ke spesialis urologi untuk pertimbangan hidroselektomi (operasi hidrokel) meliputi:

  • Gejala yang Mengganggu: Nyeri, rasa berat, atau ketidaknyamanan yang signifikan.

  • Ukuran Besar: Hidrokel yang ukurannya menyulitkan aktivitas fisik, olahraga, atau hubungan seksual.

  • Masalah Kosmetik: Penampilan skrotum yang membesar menyebabkan tekanan psikologis atau rasa malu pada pasien.

  • Kecurigaan Patologi Penyerta: Jika hidrokel diduga sekunder akibat hernia inguinalis atau patologi lain yang memerlukan koreksi bedah.

  • Komplikasi: Terjadinya komplikasi seperti tension hydrocele atau infeksi.

  • Keinginan Pasien: Setelah mendapat penjelasan lengkap mengenai pilihan tatalaksana, pasien memilih untuk menjalani operasi.

4.3. Tinjauan Teknik Bedah (Hidroselektomi)

Hidroselektomi adalah standar emas untuk tatalaksana definitif hidrokel pada orang dewasa. Tujuan dari operasi ini adalah untuk menghilangkan akumulasi cairan dan mencegah kekambuhannya. Terdapat dua teknik utama yang umum digunakan :

  1. Prosedur Plikasi (Teknik Lord): Teknik ini cocok untuk hidrokel dengan dinding kantung yang tipis. Setelah cairan dievakuasi melalui insisi kecil, kantung tunika vaginalis tidak dieksisi, melainkan dijahit dan dikerutkan (di-plikasi) di sekitar testis dan funikulus spermatikus. Keuntungannya adalah diseksi jaringan yang minimal, sehingga mengurangi risiko hematoma (kumpulan darah) dan infeksi pasca-operasi.

  2. Prosedur Eksisi dan Eversi (Teknik Jaboulay): Teknik ini lebih disukai untuk hidrokel yang besar dan memiliki dinding kantung yang tebal dan fibrotik. Sebagian besar kantung tunika vaginalis dieksisi (dipotong dan dibuang), dan sisa kantung yang ada kemudian dijahit dalam posisi terbalik (eversi) di belakang testis. Ini mencegah permukaan sekretorik kantung untuk kembali berkontak dan mengakumulasi cairan.

Pendekatan bedah dapat dilakukan melalui insisi skrotal (paling umum untuk hidrokel non-komunikan) atau insisi inguinal. Pendekatan inguinal lebih diutamakan pada kasus hidrokel komunikan (untuk memungkinkan ligasi PV yang paten di kanalis inguinalis) dan pada hidrokel abdominoskrotal (untuk mendapatkan akses ke komponen abdominal dan skrotal). Teknik-teknik minimal invasif dengan insisi yang lebih kecil juga terus dikembangkan untuk mengurangi morbiditas pasca-operasi.

Peran aspirasi (menyedot cairan) sebagai terapi tunggal sangat terbatas karena angka kekambuhan yang sangat tinggi. Aspirasi yang dikombinasikan dengan skleroterapi (injeksi zat sklerosan untuk merusak lapisan sekretorik tunika vaginalis) dapat menjadi pilihan pada pasien yang bukan kandidat baik untuk pembedahan, namun memiliki risiko komplikasi seperti nyeri dan peradangan kimiawi.

Bagian 5: Skenario Klinis Khusus dan Entitas Langka

5.1. Hidrokel Abdominoskrotal (ASH): The "Hourglass" Swelling

Hidrokel abdominoskrotal (ASH) adalah varian hidrokel yang sangat jarang, dengan insiden kurang dari 1% dari semua kasus hidrokel. Kondisi ini ditandai dengan adanya dua kantung cairan yang saling berhubungan: satu di skrotum dan satu lagi di rongga abdomen (biasanya ekstraperitoneal), yang terhubung melalui kanalis inguinalis yang melebar. Hal ini menciptakan gambaran klasik seperti "jam pasir" atau "dumbbell" pada pencitraan.

Meskipun jarang, ASH memiliki tanda-tanda klinis yang khas yang dapat dikenali oleh dokter yang waspada:

  • Palpasi Massa Gabungan: Teraba massa kistik di skrotum dan massa kistik lain di kuadran bawah abdomen pada sisi yang sama.

  • Fluktuasi Silang (Cross-fluctuation): Menekan salah satu komponen (misalnya, skrotum) akan menyebabkan komponen lainnya (abdomen) menjadi lebih tegang atau menonjol.

  • Tanda "Springing Back Ball": Tanda ini dianggap lebih spesifik. Saat komponen skrotal ditekan, cairan akan berpindah ke komponen abdominal, membuatnya lebih menonjol. Ketika tekanan dilepaskan, cairan akan "memantul kembali" ke skrotum, mengembalikan ukurannya semula.

Diagnosis dikonfirmasi dengan USG atau CT scan. Resolusi spontan pada orang dewasa hampir tidak pernah terjadi. Oleh karena itu, intervensi bedah melalui pendekatan inguinal sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi akibat efek tekanan dari komponen abdominal, seperti hidronefrosis, trombosis vena dalam, atau edema tungkai.

5.2. Hidrokel Tegang (Tension Hydrocele): Mengenali Keadaan Darurat

Tension hydrocele adalah komplikasi hidrokel yang sangat langka namun kritis. Ini adalah kondisi darurat urologi di mana tekanan cairan di dalam kantung tunika vaginalis meningkat secara drastis hingga melebihi tekanan perfusi arteri testikular. Akibatnya, aliran darah ke testis terganggu, menyebabkan iskemia dan berpotensi nekrosis—mekanisme yang serupa dengan sindrom kompartemen.

Secara klinis, tension hydrocele mematahkan paradigma bahwa hidrokel selalu tidak nyeri. Pasien akan datang dengan gambaran "skrotum akut": nyeri hebat yang mendadak pada skrotum yang bengkak, sangat mirip dengan presentasi torsio testis. Diagnosis yang cepat dan intervensi bedah darurat (dekompresi kantung hidrokel) sangat penting untuk menyelamatkan testis. Keberadaan entitas ini menggarisbawahi pesan penting: setiap pasien dengan riwayat hidrokel yang datang dengan keluhan nyeri skrotum akut harus dievaluasi secara darurat untuk menyingkirkan torsio testis dan tension hydrocele.

5.3. Hidrokel Kanalis Nuck pada Wanita

Hidrokel Kanalis Nuck adalah analog dari hidrokel pada pria, yang terjadi pada wanita. Kanalis Nuck adalah evaginasi peritoneum yang menyertai ligamentum rotundum uteri ke dalam kanalis inguinalis pada wanita, setara dengan prosesus vaginalis pada pria. Jika kanalis ini gagal menutup setelah lahir, cairan peritoneum dapat terperangkap di dalamnya, membentuk hidrokel.

Kondisi ini jarang terjadi dan biasanya bermanifestasi sebagai pembengkakan yang tidak nyeri dan tidak dapat direduksi di daerah inguino-labial. Seperti pada pria, hidrokel ini dapat diklasifikasikan sebagai terkista (Tipe 1), komunikan (Tipe 2), atau kombinasi (Tipe 3, berbentuk jam pasir). USG adalah modalitas pencitraan pilihan untuk diagnosis. Tatalaksana definitifnya adalah eksisi bedah dari kantung hidrokel. Penting bagi dokter untuk memasukkan Hidrokel Kanalis Nuck dalam diagnosis banding pembengkakan di daerah inguinal pada pasien wanita.

Bagian 6: Kesimpulan dan Poin Kunci untuk Praktik Klinis

6.1. Ringkasan Alur Kerja Diagnosis dan Terapi Hidrokel

Alur kerja untuk dokter di layanan primer dalam menangani pasien dengan dugaan hidrokel dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Presentasi Pasien: Pasien datang dengan keluhan utama pembengkakan skrotum.

  2. Evaluasi Awal (GP): Lakukan anamnesis terarah (onset, nyeri, variasi ukuran) dan pemeriksaan fisik sistematis (palpasi, tes transiluminasi, pemeriksaan refleks kremaster).

  3. Diagnosis Banding: Pertimbangkan diagnosis banding kunci (hernia, varikokel, tumor, torsio, infeksi). Jika ada tanda bahaya (nyeri akut, massa keras, refleks kremaster absen), segera rujuk ke UGD.

  4. Pencitraan Wajib: Rujuk pasien untuk USG skrotum untuk mengonfirmasi diagnosis hidrokel DAN, yang lebih penting, untuk mengevaluasi parenkim testis dan menyingkirkan patologi yang mendasarinya.

  5. Pengambilan Keputusan Manajemen:

  • Jika hidrokel asimtomatik dan USG normal: Tawarkan manajemen konservatif (observasi) dengan edukasi.

  • Jika hidrokel simtomatik (nyeri, mengganggu aktivitas, masalah kosmetik) atau ada temuan patologis lain pada USG: Rujuk ke Spesialis Urologi untuk pertimbangan tatalaksana definitif.

  1. Tatalaksana Spesialis: Spesialis Urologi akan melakukan evaluasi lebih lanjut dan, jika diindikasikan, melakukan hidroselektomi.

6.2. Pesan Kunci (Take-Home Messages) untuk Dokter Umum

  • Hidrokel adalah Tanda Klinis, Bukan Selalu Diagnosis Akhir: Terutama pada orang dewasa dengan onset baru, hidrokel bisa menjadi manifestasi sekunder dari kondisi lain. Selalu pertahankan indeks kecurigaan yang tinggi.

  • Ultrasonografi Skrotum adalah Wajib: Jangan pernah menganggap remeh pembengkakan skrotum. USG adalah jaring pengaman diagnostik untuk menyingkirkan keganasan, bahkan pada kasus yang secara klinis tampak "jelas" sebagai hidrokel.

  • Keputusan Bedah Berpusat pada Pasien: Pada hidrokel idiopatik, indikasi utama untuk operasi adalah dampak gejala terhadap kualitas hidup pasien, bukan ukuran absolut hidrokel.

  • Waspadai Tanda Bahaya: Nyeri skrotum akut pada pasien dengan riwayat hidrokel bisa jadi merupakan tension hydrocele, suatu keadaan darurat. Setiap komponen yang teraba keras atau tidak transiluminan memerlukan eksklusi tumor secara mendesak.

  • Kenali Varian Langka: Mengenali tanda-tanda klinis khas dari entitas seperti hidrokel abdominoskrotal (tanda "springing back ball") atau hidrokel Kanalis Nuck (pembengkakan inguinal pada wanita) dapat memfasilitasi rujukan yang akurat dan tepat waktu.

  • Kriteria Rujukan yang Jelas: Rujuk pasien ke Spesialis Urologi untuk kondisi berikut: (1) Ketidakpastian diagnostik; (2) Adanya atau kecurigaan patologi yang mendasari (tumor, hernia); (3) Hidrokel simtomatik yang memerlukan intervensi bedah; (4) Semua varian khusus dan komplikasi (misalnya, ASH, tension hydrocele).

Referensi

  1. Hydrocele - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32644551/

  2. Hydrocele - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Juli 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559125/

  3. Diagnosis and management of testicular compartment syndrome caused by tension hydrocele - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9065616/

  4. Encysted Hydrocele of Spermatic Cord in Adult: A Rare Case Report - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10679791/

  5. Individualized minimally invasive treatment for adult testicular ..., diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6448079/

  6. Hydrocele in Pediatric Population - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32771069/

  7. Pediatric hernias and hydroceles. The urologist's perspective - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7855948/

  8. Abdominoscrotal hydrocele in an infant boy - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5614248/

  9. Pleomorphic rhabdomyosarcoma of the spermatic cord and a secondary hydrocele testis: A case report - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7322420/

  10. The Acute Scrotum in Childhood and Adolescence - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3392007/

  11. Evaluation and Management of Chronic Scrotal Content Pain—A Common Yet Poorly Understood Condition - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6864917/

  12. Scrotal Swelling in the Neonate - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4914382/

  13. (PDF) A case series of adult abdominoscrotal hydrocele: A rare ..., diakses Juli 25, 2025, https://www.researchgate.net/publication/379500406_A_case_series_of_adult_abdominoscrotal_hydrocele_A_rare_condition

  14. Acute epididymo-orchitis: staging and treatment - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3921787/

  15. (PDF) Abdominoscrotal Hydrocele: An Uncommon Cause of ..., diakses Juli 25, 2025, https://www.researchgate.net/publication/353172965_Abdominoscrotal_Hydrocele_An_Uncommon_Cause_of_Abdominoscrotal_Cystic_Swelling

  16. Hydrocele of Canal of Nuck - Role of Radiological Imaging - Fortune Journals, diakses Juli 25, 2025, http://www.fortunejournals.com/articles/hydrocele-of-canal-of-nuck--role-of-radiological-imaging.html

  17. Hydroceles of the Canal of Nuck in Adults-Diagnostic, Treatment and Results of a Rare Condition in Females - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33322831/

  18. Scrotal pain: Evaluation and management - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4294852/

  19. Abdominoscrotal hydrocele: A systematic review - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27421822/

  20. Adolescent de novo hydroceles - should they be dealt with by inguinal or scrotal approach?, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30231973/