11 Jun 2026 • Obgyn
Sepsis maternal didefinisikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kondisi disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat respons tubuh yang tidak terregulasi terhadap infeksi selama masa kehamilan, saat persalinan, pasca-aborsi, atau dalam periode pascapartum. Kondisi ini merupakan penyebab kematian maternal ketiga terbanyak secara global, menyumbang sekitar 11% dari seluruh kematian ibu di dunia.
Definisi sepsis sendiri telah mengalami evolusi, dengan konsensus internasional ketiga (Sepsis-3) dan definisi WHO untuk sepsis maternal menjadi acuan terkini yang penting dipahami oleh klinisi, karena hal ini memengaruhi kriteria identifikasi dan pendekatan tatalaksana.
Syok septik, sebagai bentuk sepsis yang lebih berat, ditandai dengan abnormalitas sirkulasi, seluler, dan metabolik yang mendalam, yang secara substansial meningkatkan risiko mortalitas dibandingkan sepsis saja. Secara klinis, syok septik diidentifikasi dengan adanya hipotensi yang memerlukan terapi vasopresor untuk mempertahankan tekanan arteri rerata (MAP) >65 mmHg dan kadar laktat serum >2 mmol/L meskipun resusitasi cairan adekuat telah diberikan dan tidak ada hipovolemia.
Diagnosis dini dan tatalaksana yang cepat serta tepat adalah krusial pada ibu hamil yang mengalami sepsis. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal secara global. Di Amerika Serikat, misalnya, sepsis menyumbang sekitar 12.7% kematian terkait kehamilan, dan banyak di antaranya sebenarnya dapat dicegah.
Onset sepsis maternal seringkali bersifat insidious atau tersembunyi; pasien dapat tampak relatif stabil sebelum mengalami perburukan kondisi secara cepat menjadi syok septik atau disfungsi multiorgan. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi pada sepsis maternal dapat berakibat fatal dan memiliki konsekuensi yang jauh lebih berat serta progresif dibandingkan pada populasi umum. Hal ini disebabkan oleh perubahan fisiologis selama kehamilan yang dapat menutupi tanda-tanda awal infeksi, serta kerentanan janin terhadap dampak sistemik pada ibu.
Dampak sepsis tidak hanya mengancam jiwa ibu tetapi juga berisiko signifikan terhadap janin. Sepsis maternal dapat memicu persalinan prematur, infeksi pada janin atau neonatus, dan bahkan kematian perinatal. S
ebuah studi menunjukkan bahwa sepsis maternal berhubungan dengan peningkatan risiko persalinan prematur dengan odds ratio (OR) 2.81 dan angka kematian perinatal yang tinggi dengan OR 5.78. Ancaman ganda ini, baik bagi ibu maupun janin, menambah lapisan urgensi dalam penanganan setiap kasus dugaan sepsis maternal.

Mendiagnosis sepsis selama kehamilan memiliki tantangan unik. Perubahan fisiologis normal yang terjadi pada tubuh ibu hamil, seperti peningkatan denyut jantung, peningkatan volume plasma yang menyebabkan hemodilusi, leukositosis fisiologis (peningkatan jumlah sel darah putih), dan penurunan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2) akibat hiperventilasi kompensatorik, dapat menyerupai atau bahkan menutupi tanda-tanda awal sepsis.
Sebagai contoh, denyut jantung normal pada ibu hamil bisa mencapai >100 kali/menit, PaCO2 bisa berada di angka 32-34 mmHg, dan jumlah leukosit bisa meningkat hingga 14.000-30.000/mm³ tanpa adanya infeksi. Parameter-parameter ini, jika berdiri sendiri, dapat memenuhi beberapa kriteria Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), yang sering digunakan sebagai alat skrining awal sepsis. Akibatnya, diagnosis definitif sepsis pada kehamilan seringkali menjadi sulit dan berpotensi tertunda.
Oleh karena itu, dokter umum harus memiliki indeks kecurigaan yang sangat tinggi terhadap sepsis pada setiap ibu hamil yang menunjukkan tanda-tanda infeksi, bahkan jika beberapa parameter vital tampak "normal" untuk kondisi kehamilan atau hanya menunjukkan perubahan minimal. Penilaian klinis yang cermat dan pemahaman mendalam akan perubahan fisiologis kehamilan menjadi sangat esensial.
Gejala dan tanda klinis awal yang harus diwaspadai meliputi demam dengan suhu tubuh ≥38.0 °C (meskipun pada sepsis berat suhu bisa subnormal atau ≤36.0 °C), takikardia (denyut jantung ≥110 kali/menit pada kehamilan, namun beberapa sistem skor peringatan dini menggunakan ambang batas >120 kali/menit), takipnea (laju pernapasan ≥24 kali/menit), perubahan status mental seperti kebingungan atau penurunan kesadaran, mual dan muntah, serta nyeri yang lokasinya bergantung pada sumber infeksi.
Tanda-tanda lain yang mungkin muncul adalah kulit yang teraba dingin, lembap, atau tampak mottled (berbercak), dan hipotensi. Sangat penting untuk mengenali tanda-tanda disfungsi organ, seperti oliguria (produksi urin berkurang), perubahan status mental yang baru terjadi, takipnea yang signifikan, dan hipotensi persisten.
Dokter umum harus secara aktif mencari sumber infeksi yang umum terjadi pada kehamilan ketika seorang wanita hamil datang dengan gejala sistemik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti untuk melokalisasi infeksi sangat penting. Fokus infeksi tersering pada kehamilan meliputi:
Infeksi saluran kemih (ISK), terutama pielonefritis.
Infeksi intra-amnion (korioamnionitis).
Endometritis, terutama pascapartum atau pasca-aborsi.
Infeksi luka, misalnya pasca-operasi caesar.
Mastitis.
Pneumonia.
Beberapa alat skrining dan kriteria diagnostik dapat membantu dalam identifikasi awal sepsis di layanan primer, meskipun masing-masing memiliki keterbatasan pada populasi ibu hamil:
SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome): Didefinisikan dengan adanya dua atau lebih dari kriteria berikut: suhu >38°C atau <36°C; denyut jantung >90x/menit; laju respirasi >20x/menit atau PaCO2 <32 mmHg; hitung leukosit >12.000/mm³, <4.000/mm³, atau >10% sel batang (pita). Pada kehamilan, SIRS memiliki sensitivitas yang tinggi (sekitar 0.93) namun spesifisitasnya rendah (sekitar 0.63) karena tumpang tindih dengan perubahan fisiologis normal.
qSOFA (quick Sequential Organ Failure Assessment): Didefinisikan dengan adanya dua atau lebih dari kriteria berikut: laju respirasi $\geq 22$x/menit; perubahan status mental; tekanan darah sistolik ≤100 mmHg. Alat ini memiliki spesifisitas yang tinggi (sekitar 0.95) tetapi sensitivitasnya rendah (sekitar 0.50) pada populasi umum, yang berpotensi melewatkan kasus sepsis pada tahap awal. Lebih lanjut, beberapa parameter seperti tekanan darah sistolik ≤100 mmHg bisa jadi normal pada wanita hamil muda yang sehat. Modifikasi obstetrik dari qSOFA (omSOFA) telah diusulkan untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifisitas pada pasien hamil, dengan laporan peningkatan sensitivitas dari 37.5% menjadi 81.2% dan spesifisitas dari 72.2% menjadi 75%.
MEWS (Maternal Early Warning System) / MEOWS (Modified Early Obstetric Warning System): Sistem skor ini dirancang khusus untuk mengidentifikasi wanita dengan risiko berbagai morbiditas maternal, termasuk sepsis. Sebuah studi menunjukkan MEW memiliki sensitivitas 0.82 dan spesifisitas 0.87 dalam mengidentifikasi sepsis maternal. Parameter yang dinilai meliputi tekanan darah sistolik dan diastolik, denyut jantung, laju respirasi, saturasi oksigen, tingkat kesadaran, dan produksi urin. Kanada merekomendasikan adopsi nasional MEOWS sebagai langkah kunci untuk deteksi dini perburukan klinis maternal.
Tidak ada alat skrining tunggal yang sempurna untuk sepsis maternal. SIRS cenderung terlalu sensitif, sedangkan qSOFA kurang sensitif. MEWS/MEOWS tampak lebih seimbang dan karena dirancang khusus untuk populasi obstetrik, mungkin lebih berguna bagi dokter umum sebagai alat bantu triase dan pemicu kewaspadaan. Meskipun demikian, penilaian klinis yang komprehensif tetap menjadi landasan utama dalam diagnosis.
Pemeriksaan laboratorium kunci juga memegang peranan penting, namun interpretasinya pada ibu hamil memerlukan kehati-hatian khusus:
Laktat Serum: Merupakan penanda hipoperfusi jaringan dan disfungsi organ, serta menjadi bagian dari kriteria syok septik Sepsis-3 (jika >2 mmol/L). Peningkatan kadar laktat, terutama >4 mmol/L, dikaitkan dengan prognosis yang buruk dan memerlukan tindakan segera. Perlu diingat bahwa kadar laktat dapat meningkat secara fisiologis selama proses persalinan, khususnya pada kala II aktif akibat kerja otot. Sebuah studi menemukan bahwa 40.8% wanita dalam persalinan memiliki kadar laktat ≥2 mmol/L, namun 95.3% di antaranya memiliki kadar <4 mmol/L. Dengan demikian, kadar laktat >4 mmol/L kemungkinan masih merupakan penanda keparahan yang berguna pada ibu hamil dengan dugaan sepsis.
Prokalsitonin (PCT): Merupakan biomarker yang lebih spesifik untuk infeksi bakteri dibandingkan C-Reactive Protein (CRP) atau hitung leukosit. PCT dapat membantu membedakan infeksi bakteri dari penyebab inflamasi lain dan berpotensi memandu terapi antibiotik. Meskipun ada bukti validitasnya pada kehamilan, PCT masih jarang digunakan dalam praktik obstetri rutin.
C-Reactive Protein (CRP): Adalah penanda inflamasi non-spesifik yang dapat meningkat karena berbagai sebab selain infeksi. Pada kehamilan dan periode peripartum, kadar CRP bisa meningkat akibat proses persalinan itu sendiri, terutama setelah tindakan operasi caesar. Hal ini mengurangi nilai CRP sebagai penanda spesifik infeksi selama persalinan dan pascapartum.
Hitung Leukosit (White Blood Cell Count - WBC): Leukositosis fisiologis umum terjadi pada kehamilan dan persalinan, dengan jumlah sel darah putih bisa mencapai 14.000 hingga 30.000/mm³ tanpa adanya infeksi. Kondisi ini membuat interpretasi hitung leukosit sebagai tanda infeksi menjadi sulit dan kurang spesifik.
Kultur Darah dan Kultur dari Fokus Infeksi: Tetap menjadi standar emas untuk identifikasi patogen penyebab dan penentuan sensitivitas antibiotik. Pengambilan sampel kultur harus dilakukan sebelum pemberian antibiotik.
Secara keseluruhan, penanda laboratorium standar untuk sepsis perlu diinterpretasikan dengan sangat hati-hati pada ibu hamil. Kadar laktat >4 mmol/L tetap menjadi temuan yang signifikan. Prokalsitonin memiliki potensi sebagai penanda yang lebih baik dibandingkan CRP atau leukosit untuk infeksi bakteri. Perubahan fisiologis kehamilan sangat memengaruhi kadar CRP dan leukosit, sehingga mengurangi spesifisitas kedua pemeriksaan tersebut dalam konteks diagnosis infeksi. Kultur tetap menjadi pemeriksaan definitif untuk identifikasi patogen.
Sepsis dan syok septik merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan tatalaksana dan resusitasi segera. Kepatuhan terhadap bundel tatalaksana sepsis terbukti meningkatkan luaran pasien. Dokter umum harus familiar dengan komponen-komponen bundel ini dan menginisiasinya sesegera mungkin sebelum merujuk pasien. Bundel 1 jam dari Surviving Sepsis Campaign (SSC) meliputi langkah-langkah berikut :
Ukur kadar laktat (ulangi pemeriksaan jika kadar awal >2 mmol/L).
Ambil kultur darah sebelum pemberian antibiotik.
Berikan antibiotik spektrum luas.
Mulai resusitasi cairan kristaloid sebanyak 30 mL/kgBB jika terdapat hipotensi atau kadar laktat ≥4 mmol/L (dengan pertimbangan modifikasi dosis pada kehamilan).
Berikan vasopresor jika hipotensi persisten selama atau setelah resusitasi cairan untuk mempertahankan MAP ≥65 mmHg.
Cairan kristaloid, seperti NaCl 0.9% atau Ringer Laktat, adalah pilihan pertama untuk resusitasi. Beberapa panduan menyarankan penggunaan kristaloid seimbang (seperti Ringer Laktat) daripada saline normal untuk menghindari asidosis hiperkloremik. Albumin dapat dipertimbangkan jika volume kristaloid yang besar telah diberikan. Penggunaan hydroxyethyl starches (HES) dan gelatin tidak direkomendasikan.
Volume awal resusitasi cairan yang direkomendasikan oleh panduan SSC umum adalah minimal 30 mL/kgBB dalam 3 jam pertama untuk kondisi hipoperfusi atau syok septik. Namun, pada kehamilan, terutama pada trimester ketiga, terdapat risiko edema paru yang lebih tinggi akibat perubahan fisiologis. Oleh karena itu, beberapa panduan obstetri, seperti dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), menyarankan bolus awal yang lebih konservatif, yaitu 20 mL/kgBB.
Hidrasi agresif sebesar 20 mL/kg normal saline dalam jam pertama juga disebutkan dalam literatur lain. Resusitasi cairan pada ibu hamil memerlukan keseimbangan yang cermat antara mengatasi hipovolemia dan menghindari overload cairan. Pemantauan ketat terhadap respons pasien sangat penting.
Target resusitasi cairan meliputi perbaikan perfusi jaringan (ditandai dengan penurunan kadar laktat, perbaikan waktu pengisian kapiler/CRT, dan peningkatan produksi urin hingga ≥0.5 mL/kg/jam) serta perbaikan hemodinamik (target MAP ≥65 mmHg). Pengukuran dinamis, seperti respons terhadap manuver passive leg raising atau fluid challenge yang terukur, lebih dianjurkan untuk memandu pemberian cairan lebih lanjut guna menghindari kelebihan cairan.
Pemberian antibiotik yang cepat, idealnya dalam 1 jam pertama setelah diagnosis sepsis atau syok septik ditegakkan, merupakan intervensi kunci yang dapat menyelamatkan nyawa. Setiap jam keterlambatan dalam pemberian antibiotik pada syok septik berhubungan dengan penurunan angka kelangsungan hidup.
Pemilihan antibiotik spektrum luas secara empiris harus didasarkan pada dugaan sumber infeksi, patogen tersering yang mungkin terlibat, pola resistensi mikroba lokal, dan kondisi klinis pasien. Mengingat perubahan farmakokinetik pada kehamilan (seperti peningkatan volume distribusi dan peningkatan klirens ginjal), beberapa antibiotik mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi atau frekuensi pemberian yang lebih sering untuk mencapai kadar terapeutik yang adekuat. Keamanan antibiotik terhadap janin juga merupakan pertimbangan utama.
Berikut adalah panduan umum untuk pemilihan dan dosis antibiotik empiris pada beberapa kondisi umum penyebab sepsis maternal, beserta pertimbangan keamanannya:
Tabel 1: Pilihan dan Dosis Antibiotik Empiris Umum pada Sepsis Maternal (berdasarkan dugaan sumber infeksi)
Sumber Infeksi (Dugaan) | Patogen Tersering | Pilihan Antibiotik Lini Pertama (IV) | Dosis pada Kehamilan (IV) | Catatan (Keamanan/Alternatif/Penyesuaian Dosis) |
Korioamnionitis | Polimikroba (Gram positif, Gram negatif, Anaerob) | Ampisilin + Gentamisin | Ampisilin 2 g setiap 6 jam + Gentamisin 5 mg/kgBB setiap 24 jam (atau 1.5 mg/kgBB setiap 8 jam) | Tambahkan Klindamisin 900 mg setiap 8 jam atau Metronidazol 500 mg setiap 8 jam jika dilakukan operasi caesar. Ampisilin & Gentamisin umumnya aman. Klindamisin aman. Metronidazol umumnya aman setelah trimester pertama. |
Pielonefritis | E. coli, Klebsiella spp., Proteus spp., Gram positif | Ceftriakson | Ceftriakson 1-2 g setiap 24 jam | Alternatif: Piperasilin-Tazobaktam 3.375-4.5 g setiap 6 jam, atau Ertapenem 1 g setiap 24 jam. Sefalosporin umumnya aman. Piperasilin-Tazobaktam & Ertapenem dapat digunakan jika ada indikasi kuat. |
Endometritis Pascapartum / Abortus Septik | Polimikroba (termasuk Anaerob) | Klindamisin + Gentamisin | Klindamisin 900 mg setiap 8 jam + Gentamisin 5 mg/kgBB setiap 24 jam | Alternatif: Ampisilin 2 g setiap 6 jam + Gentamisin 5 mg/kgBB setiap 24 jam + Klindamisin 900 mg setiap 8 jam atau Metronidazol 500 mg setiap 8 jam. |
Sepsis Berat / Syok Septik (sumber tidak jelas atau risiko MDR) | Spektrum luas | Piperasilin-Tazobaktam ATAU Karbapenem (misalnya, Meropenem) | Piperasilin-Tazobaktam 3.375 g setiap 6-8 jam (infus diperpanjang) atau 4.5 g setiap 6 jam ATAU Meropenem 1 g setiap 8 jam | Pertimbangkan penambahan Vancomycin 15-20 mg/kgBB (dosis muatan), disesuaikan kadar lembah (target 15-20 mcg/mL), jika ada risiko MRSA. Karbapenem dan Vancomycin dapat digunakan jika ada indikasi kuat. |
Catatan: Dosis dapat memerlukan penyesuaian berdasarkan fungsi ginjal dan berat badan aktual. Selalu konsultasikan dengan panduan lokal dan/atau spesialis penyakit infeksi jika tersedia. MDR: Multi-Drug Resistant. MRSA: Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus.
Keamanan Antibiotik pada Kehamilan:
Umumnya Dianggap Aman/Dapat Digunakan dengan Pertimbangan: Penicillin, Sefalosporin, Klindamisin, Metronidazol (penggunaan sistemik umumnya dihindari pada trimester pertama jika memungkinkan), Azitromisin, Eritromisin, Vankomisin, Karbapenem, dan Aminoglikosida (seperti Gentamisin, dengan pemantauan ketat fungsi ginjal dan pendengaran janin jika penggunaan jangka panjang) umumnya dapat digunakan jika terdapat indikasi klinis yang kuat dan manfaatnya melebihi potensi risiko.
Umumnya Dihindari (kecuali tidak ada alternatif yang lebih aman): Tetrasiklin (risiko pewarnaan gigi dan gangguan tulang janin), Fluorokuinolon (kekhawatiran terkait artropati, meskipun data pada manusia terbatas), dan Sulfonamid (terutama pada trimester pertama karena risiko defek tuba neural dan pada akhir kehamilan karena risiko kernikterus pada neonatus) sebaiknya dihindari jika memungkinkan.
Sebelum pemberian antibiotik, sangat penting untuk mengambil sampel kultur dari darah (minimal dua set, aerob dan anaerob), urin, dan dari fokus infeksi lain yang dicurigai (misalnya, usap serviks, usap luka) untuk memandu terapi definitif nantinya. Pengukuran dan pemantauan kadar laktat juga merupakan bagian dari bundel 1 jam dan penting untuk menilai respons terhadap terapi.
Terapi vasopresor diindikasikan jika hipotensi (MAP <65 mmHg) menetap meskipun telah dilakukan resusitasi cairan yang adekuat. Norepinefrin adalah vasopresor lini pertama yang direkomendasikan. Vasopresin dapat ditambahkan jika target MAP tidak tercapai dengan norepinefrin saja, atau epinefrin dapat digunakan sebagai alternatif atau agen tambahan jika kondisi refrakter. Dobutamin dapat dipertimbangkan jika terdapat bukti adanya disfungsi miokard.
Target terapi vasopresor adalah untuk mencapai dan mempertahankan MAP ≥65 mmHg. Meskipun administrasi dan titrasi vasopresor umumnya dilakukan di unit perawatan intensif (ICU), dokter umum perlu mengenali indikasinya agar dapat segera merujuk pasien ke fasilitas dengan kemampuan perawatan yang lebih tinggi.
Identifikasi dan eliminasi fokus infeksi merupakan komponen krusial dan seringkali menjadi langkah definitif dalam tatalaksana sepsis. Penundaan dalam mengontrol sumber infeksi dapat menyebabkan kegagalan terapi meskipun antibiotik yang adekuat telah diberikan.
Waktu dan Cara Persalinan: Jika sumber infeksi adalah intrauterin, seperti pada korioamnionitis, maka persalinan seringkali merupakan bagian penting dari kontrol sumber. Setelah diagnosis korioamnionitis ditegakkan, persalinan harus dipertimbangkan tanpa memandang usia kehamilan. Namun, penting untuk ditekankan bahwa persalinan emergensi pada ibu yang tidak stabil akibat sepsis (yang sumbernya bukan intrauterin) sebaiknya dihindari; stabilisasi kondisi ibu adalah prioritas utama. Keputusan mengenai waktu dan mode persalinan harus bersifat individual, melibatkan tim multidisiplin, dan mempertimbangkan usia gestasi, kondisi ibu, serta status janin.
Intervensi Bedah: Jika diindikasikan, intervensi bedah mungkin diperlukan, seperti drainase abses (misalnya, abses payudara, luka, atau panggul) , debridemen jaringan nekrotik (misalnya, pada kasus necrotizing fasciitis) , atau evakuasi uterus untuk mengangkat sisa produk konsepsi (RPOC) jika menjadi sumber infeksi. Histerektomi dapat dipertimbangkan sebagai upaya terakhir pada infeksi uterus yang tidak terkontrol dan mengancam jiwa, meskipun ini jarang menjadi pertimbangan di tingkat layanan primer.
Dokter umum berperan dalam mengenali kapan sumber infeksi memerlukan intervensi di luar terapi antibiotik dan merujuk pasien secara tepat dan cepat.
Setelah hasil kultur dan uji sensitivitas antibiotik tersedia, dan kondisi klinis pasien menunjukkan perbaikan, terapi antibiotik spektrum luas yang diberikan secara empiris harus ditinjau kembali. Jika memungkinkan, antibiotik harus disesuaikan atau "dipersempit" ke agen yang lebih spesifik dan efektif terhadap patogen yang berhasil diidentifikasi. Praktik ini, yang dikenal sebagai de-eskalasi, bertujuan untuk mengurangi risiko perkembangan resistensi antibiotik, meminimalkan efek samping obat, dan menekan biaya perawatan.
Meskipun sebuah tinjauan sistematis menyatakan belum ada bukti langsung dari uji klinis acak terkontrol mengenai efektivitas dan keamanan de-eskalasi pada sepsis secara umum , praktik ini dianjurkan oleh banyak panduan dan ahli sebagai bagian penting dari program antibiotic stewardship. Dokter umum yang menerima pasien rujukan balik atau melanjutkan perawatan pasca-akut perlu memahami dan menerapkan prinsip ini.
Beberapa terapi suportif tambaShan penting dalam manajemen sepsis maternal:
Terapi Oksigen: Diberikan untuk mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat, umumnya dengan target SpO2 ≥94−95%.
Kontrol Glikemik: Pemantauan dan pengendalian kadar glukosa darah sangat penting, terutama pada pasien dengan riwayat diabetes gestasional atau diabetes melitus pregestasional. Kontrol glikemik yang buruk pada diabetes gestasional terbukti meningkatkan risiko infeksi neonatal.
Profilaksis VTE (Venous Thromboembolism): Kehamilan itu sendiri dan kondisi sepsis merupakan faktor risiko terjadinya VTE. Pertimbangkan pemberian profilaksis farmakologis (misalnya, Low Molecular Weight Heparin - LMWH) sesuai dengan panduan penilaian risiko, terutama pada pasien yang imobilisasi atau dalam kondisi kritis.
Dukungan Nutrisi: Penting pada pasien kritis untuk mendukung proses pemulihan, meskipun detail manajemen nutrisi lanjut biasanya dilakukan di ICU.
Dokter umum dapat menginisiasi beberapa dari terapi suportif ini (seperti pemberian oksigen dan pemantauan glukosa awal) dan harus menyadari kebutuhan akan intervensi lain (seperti profilaksis VTE) saat merujuk pasien atau dalam perawatan bersama dengan spesialis.
Pemantauan ketat dan berkelanjutan terhadap kondisi ibu dan janin adalah kunci untuk mendeteksi perburukan secara dini dan menyesuaikan terapi secara tepat waktu.
Parameter Pemantauan Kondisi Ibu: Meliputi pemantauan tanda vital secara berkelanjutan (tekanan darah, denyut jantung, laju respirasi, suhu, saturasi oksigen), penilaian status mental dan tingkat kesadaran, pemantauan produksi urin, serta pemeriksaan laboratorium serial (kadar laktat, fungsi ginjal, fungsi hati, parameter koagulasi, hitung darah lengkap) sesuai indikasi klinis. Penggunaan skor peringatan dini maternal (MEWS/MEOWS) secara berkala dapat membantu dalam deteksi dini perburukan kondisi. Di fasilitas dengan sumber daya terbatas, dokter umum dapat fokus pada pemantauan klinis dasar dan identifikasi tanda bahaya sebelum merujuk.
Aspek Pemantauan Kesejahteraan Janin: Pemantauan denyut jantung janin (DJJ), baik secara berkelanjutan maupun intermiten, penting dilakukan tergantung pada usia gestasi dan kondisi ibu. Sepsis maternal dapat menyebabkan gawat janin akibat hipoksia, asidosis, atau infeksi langsung pada janin. Keputusan untuk melakukan intervensi obstetri, seperti persalinan, juga dipandu oleh status janin, namun harus selalu didahului oleh upaya stabilisasi kondisi ibu. Kesejahteraan janin sangat terkait erat dengan kondisi ibu; stabilisasi kondisi ibu seringkali akan memperbaiki kondisi janin. Pemantauan janin membantu dalam pengambilan keputusan obstetri tetapi tidak boleh menunda resusitasi maternal yang adekuat.
Sepsis maternal adalah kondisi serius yang memerlukan kewaspadaan tinggi, diagnosis cepat, dan tatalaksana agresif serta tepat waktu. Dokter umum memegang peran vital di garis depan dalam mengenali tanda dan gejala awal sepsis pada ibu hamil, menginisiasi langkah-langkah resusitasi awal sesuai bundel tatalaksana (termasuk pemberian antibiotik empiris dengan dosis yang tepat untuk kehamilan dan resusitasi cairan yang disesuaikan), serta mengidentifikasi kebutuhan akan kontrol sumber infeksi.
Mengingat kompleksitas dan potensi perburukan yang cepat pada sepsis maternal, rujukan yang tepat waktu ke fasilitas dengan kemampuan perawatan definitif, termasuk unit perawatan intensif (ICU) jika diindikasikan, menjadi sangat krusial.
Penanganan sepsis maternal yang optimal memerlukan kerja sama tim multidisiplin yang solid, melibatkan spesialis Obstetri dan Ginekologi, spesialis Penyakit Dalam atau Perawatan Kritis, spesialis Anak (untuk penanganan neonatus), ahli mikrobiologi, dan apoteker klinis.
Dokter umum adalah bagian integral dari tim ini, terutama dalam deteksi awal, stabilisasi, dan memastikan transisi perawatan yang lancar. Dengan pemahaman yang komprehensif mengenai diagnosis dan terapi sepsis pada ibu hamil, diharapkan dokter umum dapat berkontribusi signifikan dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas akibat kondisi yang mengancam jiwa ini.
Obstetric Sepsis: A Review Article - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9732161/
Towards a consensus definition of maternal sepsis: results of a ..., diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5450299/
The global, regional, and national burdens of maternal sepsis and other maternal infections and trends from 1990 to 2021 and future trend predictions: results from the Global Burden of Disease study 2021 - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11907898/
The Impact of the SEPSIS-3 Septic Shock Definition on Previously Defined Septic Shock Patients - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5693309/
Sepsis in pregnancy and early goal-directed therapy - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4989756/
Sepsis in the Parturient - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9108791/
Risk Factors, Etiologies, and Screening Tools for Sepsis in Pregnant ..., diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7543988/
Severe sepsis and septic shock in pregnancy - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22914482/
Maternal sepsis incidence, aetiology and outcome for mother and ..., diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24862293/
Maternal sepsis - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8015781/
Surviving maternal sepsis: Clinical, laboratory, and treatment features - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38379448
Epidemiology and clinical features of maternal sepsis: A ..., diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9543042/
Maternal Sepsis: The Diagnostic Challenge in a Comorbid Patient in Mexico - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11782685/
Prioritizing Maternal Sepsis: National Adoption of an Obstetric Early Warning System to Prevent Morbidity and Mortality - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32171506/
How should we interpret lactate in labour? A reference study - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9804290/
Assessment of the diagnostic significance of pentraxin-3 in conjunction with procalcitonin (PCT) and C-reactive protein (CRP) for neonatal sepsis - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11934617/
SMFM Consult Series #47: Sepsis during pregnancy and the puerperium - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30684460/
Surviving sepsis campaign: international guidelines for ..., diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8486643/
Fluid resuscitation in sepsis: the great 30 mL per kg hoax - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32148924/
Antibiotic Considerations in the Treatment of Maternal Sepsis - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12024307/
Management of clinical chorioamnionitis: an evidence-based ..., diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33007269/
Urinary Tract Infection in Pregnancy - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 27, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537047/
Antibiotic regimens for postpartum endometritis - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7050613/
A review of antibiotic safety in pregnancy—2025 update - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11998890/
Chorioamnionitis - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 27, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532251/
Successful management of a 24-year-old pregnant woman with ..., diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5775787/
Necrotizing Fasciitis - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 27, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430756/
Conservative Management for Retained Products of Conception in Late Pregnancy - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9859269/
Antibiotics for treating septic abortion - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27364644/
Epidemiology and Outcomes of Antibiotic De-escalation in Patients With Suspected Sepsis in US Hospitals - PubMed, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39657050/
De‐escalation of antimicrobial treatment for adults with sepsis, severe sepsis or septic shock - PMC - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6517189/
Acute respiratory distress and amniotic fluid embolism in pregnancy - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9264283/
Management of Diabetes in Pregnancy: A Review of Clinical Guidelines and Practices, diakses Mei 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40125239/
Early neonatal complications in pregnant women with gestational diabetes mellitus and the effects of glycemic control on neonatal infection - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10523229/
Venous thromboembolism still leads on maternal death - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11992579/
Venous thromboembolism prophylaxis for women at risk during pregnancy and the early postnatal period - PubMed Central, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8092635/
WHO recommendations on antenatal nutrition: an update on multiple micronutrient supplements - PMC, diakses Mei 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7394017/
Fetal Monitoring - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 27, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK589699/
Large-scale Implementation of Community Co-led Maternal Sepsis Care Practices to Reduce Morbidity and Mortality from Maternal Infection - NIH RePORTER, diakses Mei 27, 2025, https://reporter.nih.gov/project-details/10919234