Dokter Post - Diagnosis & Tatalaksana Hemoroid Interna di Faskes Primer: Panduan Praktis Dokter Umum

Diagnosis dan Tatalaksana Komprehensif Hemoroid Interna di Faskes Primer: Panduan Praktis untuk Dokter Umum (Termasuk Dosis Obat)

28 Aug 2025 • Interna

Deskripsi

Diagnosis dan Tatalaksana Komprehensif Hemoroid Interna di Faskes Primer: Panduan Praktis untuk Dokter Umum (Termasuk Dosis Obat)

Hemoroid interna merupakan kondisi yang umum terjadi akibat pelebaran dan distensi pleksus vena hemoroidalis superior, yang terletak di atas linea dentata di dalam kanalis analis. Penting untuk dipahami bahwa hemoroid sejatinya adalah struktur vaskular normal yang berfungsi dalam mekanisme kontinensia. 

Kondisi ini baru dianggap patologis atau disebut sebagai penyakit hemoroid (hemorrhoidal disease) ketika menimbulkan gejala. Prevalensi penyakit hemoroid cukup tinggi dalam populasi umum, mencapai hingga 39% pada beberapa laporan, dan dapat signifikan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Frekuensi kejadian ini menjadikan hemoroid sebagai salah satu masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh dokter umum di fasilitas kesehatan primer (faskes primer).

Dokter umum memegang peran sentral dan krusial dalam penanganan awal hemoroid interna. Peran ini mencakup kemampuan untuk melakukan diagnosis yang akurat, memberikan tatalaksana konservatif yang efektif dan berbasis bukti, serta mengidentifikasi kasus-kasus yang memerlukan rujukan ke spesialis secara tepat waktu. 

Pemahaman yang komprehensif mengenai Diagnosis dan Terapi hemoroid interna di faskes primer menjadi esensial untuk optimalisasi layanan, mencegah komplikasi lebih lanjut, dan mengurangi beban yang ditanggung pasien. Seringkali, pasien datang dengan keluhan yang mereka sebut sebagai "wasir" atau "ambeien" untuk berbagai masalah anorektal. 

Oleh karena itu, kemampuan dokter umum untuk melakukan diferensiasi diagnostik dan memberikan edukasi yang tepat sangatlah penting. Meskipun prevalensinya tinggi, tidak semua individu dengan hemoroid mencari pertolongan medis, sebagian karena gejala yang ringan atau miskonsepsi mengenai kondisi tersebut. Ini menegaskan posisi faskes primer sebagai garda terdepan dalam menangani kasus-kasus yang baru terdiagnosis maupun yang sudah lama diderita namun baru dikonsultasikan.

Menegakkan Diagnosis Hemoroid Interna di Faskes Primer

Penegakan diagnosis hemoroid interna di faskes primer memerlukan pendekatan sistematis yang meliputi anamnesis cermat, pemeriksaan fisik yang teliti, dan pemahaman akan klasifikasi serta diagnosis bandingnya.

Anamnesis Kunci dan Gejala Khas Hemoroid Interna

Anamnesis yang terarah merupakan langkah awal yang penting. Gejala paling khas dari hemoroid interna adalah perdarahan saat atau setelah buang air besar (BAB). Darah yang keluar biasanya berwarna merah segar, dapat terlihat pada feses, menempel pada tisu toilet, atau menetes ke dalam kloset, dan umumnya tidak disertai rasa nyeri. 

Prolaps, atau sensasi adanya benjolan yang keluar dari anus saat BAB, juga merupakan gejala umum. Prolaps ini bisa masuk kembali secara spontan atau memerlukan bantuan dorongan manual untuk masuk kembali ke dalam anus.

Gejala lain yang dapat menyertai meliputi iritasi pada area perianal, rasa tidak nyaman atau sensasi penuh pada anus, keluarnya lendir (mukus), dan kesulitan dalam menjaga kebersihan area anus (soiling). Penting untuk ditekankan bahwa nyeri hebat bukanlah gejala tipikal dari hemoroid interna, kecuali jika terjadi komplikasi seperti trombosis, strangulasi, atau adanya kondisi penyerta lain seperti fisura ani.

Dalam anamnesis, tanyakan juga mengenai faktor risiko seperti riwayat konstipasi kronis, diare kronis, kebiasaan mengejan terlalu lama saat BAB, sering duduk lama di toilet (misalnya sambil membaca atau menggunakan telepon genggam), diet rendah serat, riwayat kehamilan (pada wanita), dan riwayat keluarga dengan keluhan serupa.

Gambar 1. Foto Klinis hemoroid. (A) pre operatif, (B) Post-operatif

Fig. 1.

Pemeriksaan Fisik: Inspeksi, Colok Dubur (DRE), dan Peran Anoskopi

Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi perianal. Pasien diposisikan dalam dekubitus lateral atau litotomi. Perhatikan adanya tanda-tanda prolaps hemoroid (minta pasien mengejan bila perlu), skin tag (lipatan kulit sisa hemoroid eksterna yang pernah trombosis), fisura, fistula, atau iritasi kulit lainnya.

Colok dubur (Digital Rectal Examination - DRE) merupakan pemeriksaan penting untuk menyingkirkan adanya massa rektum atau kelainan lain di kanalis analis. Hemoroid interna yang tidak mengalami prolaps biasanya tidak teraba saat DRE. Pada DRE, evaluasi juga tonus sfingter ani dan adanya nyeri tekan.

Anoskopi adalah prosedur kunci dan dianggap sebagai standar emas di faskes primer untuk visualisasi langsung hemoroid interna. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk menentukan lokasi, jumlah, dan derajat hemoroid, mengidentifikasi sumber perdarahan aktif, serta melihat adanya patologi anorektal lain seperti fisura atau polip kecil. 

Tanpa anoskopi, diagnosis hemoroid interna seringkali bersifat presumtif dan berisiko melewatkan kondisi lain yang lebih serius; bahkan dilaporkan hingga 50% perdarahan rektal dapat salah diatribusikan ke hemoroid tanpa pemeriksaan internal yang adekuat.

Untuk melakukan anoskopi, persiapkan pasien dengan menjelaskan prosedur dan posisikan pasien (umumnya dekubitus lateral). Gunakan lubrikan, idealnya yang mengandung anestesi lokal seperti lidokain jeli, pada anoskop. Masukkan anoskop yang telah dilubrikasi secara perlahan dan hati-hati ke dalam kanalis analis. 

Setelah obturator dilepas, observasi mukosa rektum dan kanalis analis secara sistematis saat anoskop ditarik perlahan sambil diputar untuk melihat seluruh kuadran. Hemoroid interna tipikal biasanya ditemukan pada posisi jam 3, 7, dan 11 (kanan anterior, kanan posterior, dan kiri lateral) jika pasien dalam posisi litotomi. Kontraindikasi anoskopi meliputi nyeri hebat yang tidak memungkinkan pemeriksaan, perdarahan aktif masif yang menghalangi visualisasi, abses perianal akut, atau stenosis anal berat.

Klasifikasi Goligher dan Relevansinya untuk GP

Klasifikasi Goligher digunakan secara luas untuk menentukan derajat hemoroid interna berdasarkan tingkat prolapsnya. Pemahaman klasifikasi ini membantu dokter umum dalam menentukan pilihan tatalaksana awal dan kebutuhan rujukan.

  • Derajat I: Penonjolan hemoroid ke dalam lumen kanalis analis, tidak ada prolaps keluar anus. Gejala utama biasanya perdarahan.

  • Derajat II: Hemoroid prolaps keluar anus saat mengejan, namun dapat masuk kembali secara spontan setelah selesai mengejan.

  • Derajat III: Hemoroid prolaps keluar anus saat mengejan dan memerlukan reduksi manual (didorong kembali dengan jari) untuk masuk ke dalam kanalis analis.

  • Derajat IV: Hemoroid prolaps secara permanen dan tidak dapat direduksi kembali ke dalam kanalis analis, meskipun dengan bantuan manual.

Secara umum, hemoroid interna derajat I dan II dapat ditatalaksana secara konservatif di faskes primer. Kasus derajat III simtomatik dan derajat IV biasanya memerlukan pertimbangan rujukan untuk tindakan lebih lanjut.

Tabel 1: Klasifikasi Goligher untuk Hemoroid Interna dan Implikasi Klinis Awal

Derajat

Deskripsi Prolaps

Gejala Umum yang Sering Muncul

Implikasi Tatalaksana Awal di Faskes Primer

I

Penonjolan ke lumen anus, tidak prolaps keluar

Perdarahan merah segar saat/setelah BAB, tanpa nyeri

Tatalaksana konservatif (modifikasi diet & gaya hidup, obat topikal/oral simtomatik)

II

Prolaps saat mengejan, reduksi spontan

Perdarahan, prolaps yang masuk sendiri, gatal

Tatalaksana konservatif. Jika gagal, pertimbangkan rujukan untuk prosedur non-bedah (misal, ligasi)

III

Prolaps saat mengejan, perlu reduksi manual

Perdarahan, prolaps yang perlu didorong, rasa tidak nyaman, soiling

Tatalaksana konservatif dapat dicoba. Seringkali memerlukan rujukan untuk prosedur non-bedah atau bedah

IV

Prolaps permanen, tidak dapat direduksi

Prolaps menetap, rasa tidak nyaman, nyeri (jika ada komplikasi), soiling, iritasi

Umumnya memerlukan rujukan untuk tindakan bedah


Meskipun Klasifikasi Goligher merupakan standar, penting untuk diingat bahwa klasifikasi ini memiliki keterbatasan, terutama dalam hal variabilitas antar pemeriksa (interobserver variability), khususnya untuk membedakan derajat II dan III. Selain itu, klasifikasi ini hanya berfokus pada derajat prolaps dan tidak secara komprehensif mencakup spektrum gejala lain seperti intensitas perdarahan, nyeri, atau dampak terhadap kualitas hidup pasien. 

Oleh karena itu, dokter umum harus menggunakan klasifikasi ini sebagai panduan, namun tetap mempertimbangkan gambaran klinis secara keseluruhan dan keluhan subjektif pasien dalam menentukan rencana tatalaksana dan keputusan rujukan.

Waspada Diagnosis Banding: Fisura Ani, IBD, dan Keganasan Kolorektal

Perdarahan rektal, meskipun khas pada hemoroid, dapat juga menjadi gejala dari kondisi lain yang lebih serius. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap diagnosis banding sangat penting.

  • Fisura Ani: Ditandai dengan nyeri hebat saat BAB, sering digambarkan seperti teriris kaca, dan dapat disertai sedikit darah segar pada tisu toilet. Pada pemeriksaan, DRE mungkin sangat nyeri dan sulit dilakukan.

  • Inflammatory Bowel Disease (IBD - Kolitis Ulseratif, Penyakit Crohn): Perdarahan rektal pada IBD seringkali disertai dengan diare kronis (kadang berdarah atau berlendir), nyeri perut kram, penurunan berat badan, dan demam.

  • Keganasan Kolorektal (Kanker Kolorektal): Ini adalah diagnosis banding yang paling krusial untuk disingkirkan, terutama pada pasien usia di atas 40-50 tahun atau dengan faktor risiko lain. Gejalanya bisa berupa perdarahan rektal (darah samar, darah segar, atau tercampur dengan feses), perubahan pola BAB yang baru dan persisten (konstipasi atau diare), penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, anemia defisiensi besi, atau adanya riwayat keluarga dengan kanker kolorektal. Gejala klasik hemoroid interna berupa perdarahan tanpa nyeri tidak boleh membuat dokter lengah, terutama jika terdapat faktor risiko keganasan.

  • Kondisi Lain: Prolaps rekti (seluruh dinding rektum keluar dari anus), polip rekti (bisa berdarah dan prolaps), abses atau fistula ani (biasanya disertai nyeri, bengkak, dan keluarnya nanah) juga perlu dipertimbangkan.

Strategi Tatalaksana Konservatif Hemoroid Interna oleh Dokter Umum

Tatalaksana konservatif merupakan lini pertama penanganan hemoroid interna, terutama untuk derajat I dan II, serta beberapa kasus derajat III awal dengan gejala ringan. Pendekatan ini berfokus pada modifikasi gaya hidup dan diet, serta penggunaan obat-obatan untuk meredakan gejala. Ini adalah domain utama dari Terapi hemoroid interna di faskes primer.

Fondasi Utama: Modifikasi Gaya Hidup dan Diet

Modifikasi gaya hidup dan diet adalah pilar utama dalam tatalaksana konservatif dan pencegahan rekurensi hemoroid.

  • Peningkatan Asupan Serat: Target asupan serat harian adalah 25-35 gram. Serat dapat diperoleh dari buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Jika asupan serat dari diet tidak mencukupi, dapat diberikan suplemen serat seperti psyllium husk atau methylcellulose. Meta-analisis menunjukkan bahwa suplementasi serat dapat mengurangi risiko perdarahan akibat hemoroid hingga 50%.

  • Asupan Cairan yang Cukup: Konsumsi cairan minimal 6-8 gelas (sekitar 2 liter) per hari sangat penting untuk membantu kerja serat dalam melunakkan feses dan mencegah konstipasi.

  • Perubahan Kebiasaan BAB: Edukasi pasien untuk menghindari mengejan secara berlebihan saat BAB, tidak menunda keinginan untuk BAB, dan menghindari duduk terlalu lama di toilet (misalnya sambil membaca atau menggunakan telepon genggam). Melatih kebiasaan BAB yang teratur juga dianjurkan.

  • Aktivitas Fisik Teratur: Olahraga secara teratur dapat membantu meningkatkan motilitas usus dan fungsi pencernaan secara keseluruhan.

  • Menghindari Iritan: Sebaiknya hindari konsumsi makanan pedas berlebihan dan alkohol, karena dapat memperburuk gejala pada beberapa individu.

Kepatuhan pasien terhadap modifikasi gaya hidup dan diet ini merupakan faktor kunci keberhasilan tatalaksana konservatif jangka panjang. Dokter umum perlu meluangkan waktu untuk memberikan edukasi yang komprehensif, motivasi, dan melakukan pemantauan untuk memastikan kepatuhan pasien, karena kegagalan terapi konservatif seringkali bukan disebabkan oleh ketidakefektifan modalitasnya, melainkan karena kurangnya kepatuhan pasien.

Terapi Farmakologis Topikal untuk Meredakan Gejala

Obat-obatan topikal bertujuan untuk meredakan gejala akut hemoroid seperti nyeri ringan, gatal, dan inflamasi. Penggunaannya bersifat simtomatik dan umumnya dianjurkan untuk jangka pendek. Penting untuk mengedukasi pasien bahwa terapi topikal ini tidak menyembuhkan hemoroid secara permanen dan tidak menggantikan pentingnya modifikasi gaya hidup dan diet.

  • Kortikosteroid Topikal: Misalnya, krim atau supositoria hidrokortison 1%. Obat ini bekerja dengan mengurangi inflamasi dan rasa gatal. Dianjurkan untuk digunakan 1-2 kali sehari, dan tidak lebih dari 7-14 hari untuk menghindari risiko efek samping seperti atrofi kulit perianal.

  • Anestesi Lokal Topikal: Misalnya, krim yang mengandung lidokain atau pramoxine 1%. Obat ini berfungsi untuk meredakan nyeri dan gatal secara lokal. Dapat digunakan tunggal atau dikombinasikan dengan hidrokortison. Digunakan sesuai kebutuhan, beberapa kali sehari setelah BAB dan membersihkan area anus.

  • Pelindung (Protectants) / Astringen: Misalnya, sediaan yang mengandung zinc oxide atau witch hazel. Bahan-bahan ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung di atas mukosa yang meradang, sehingga mengurangi iritasi dan kontak langsung dengan feses. Supositoria zinc oxide dapat digunakan 1-2 kali sehari.

  • Topikal Nitroglycerin (GTN): Salep nitroglycerin 0.2% hingga 0.4% lebih sering diindikasikan untuk fisura ani karena kemampuannya merelaksasi sfingter ani interna dan meningkatkan aliran darah ke area tersebut, yang mendukung penyembuhan. Beberapa literatur menyebutkan penggunaannya pada hemoroid, terutama jika disertai nyeri akibat spasme sfingter atau pada kasus trombosis hemoroid eksterna. Efek samping yang paling umum adalah sakit kepala. Jika digunakan, aplikasikan tipis-tipis pada area perianal 2-3 kali sehari.

Peran Obat Flebotonik Oral (Venoaktif)

Obat flebotonik atau venoaktif bekerja dengan memperbaiki tonus pembuluh darah vena, mengurangi permeabilitas kapiler, meningkatkan drainase limfatik, dan memiliki efek antiinflamasi.

  • Micronized Purified Flavonoid Fraction (MPFF): Merupakan kombinasi dari diosmin (90%) dan hesperidin (10%) yang telah dimikronisasi untuk meningkatkan absorpsinya. MPFF terbukti bermanfaat dalam mengurangi gejala hemoroid akut seperti perdarahan, nyeri, gatal, serta mengurangi durasi dan frekuensi serangan akut.

  • Dosis Obat hemoroid interna di faskes primer (MPFF):

  • Untuk Serangan Akut: Dosis yang dianjurkan adalah 3000 mg per hari, terbagi dalam beberapa dosis (misalnya, 2 tablet @500mg tiga kali sehari, atau 1 tablet @1000mg tiga kali sehari) selama 4 hari pertama. Kemudian dosis diturunkan menjadi 2000 mg per hari, terbagi dalam beberapa dosis (misalnya, 2 tablet @500mg dua kali sehari, atau 1 tablet @1000mg dua kali sehari) selama 3 hari berikutnya. Pemahaman akan perbedaan dosis akut dan pemeliharaan ini sangat penting untuk mencapai efikasi yang optimal.

  • Untuk Terapi Pemeliharaan atau Gejala Kronis: Dosis yang dianjurkan adalah 1000 mg per hari (misalnya, 2 tablet @500mg sekali sehari, atau 1 tablet @1000mg sekali sehari). Terapi pemeliharaan dapat dilanjutkan selama 1-3 bulan atau lebih lama, tergantung pada respons klinis dan kebutuhan pasien.

  • Efek samping MPFF umumnya ringan dan jarang terjadi, yang paling sering dilaporkan adalah gangguan gastrointestinal ringan.

Tabel 2: Pilihan dan Dosis Obat Topikal serta Oral untuk Hemoroid Interna di Faskes Primer

Jenis Obat (Golongan)

Contoh Zat Aktif

Sediaan Umum

Dosis dan Cara Pemberian

Durasi Penggunaan Tipikal

Catatan Penting (Efek Samping Utama, Peringatan)

Kortikosteroid Topikal

Hidrokortison asetat

Krim 1%, Supositoria

Oleskan tipis 1-2 kali/hari pada area yang sakit; 1 supositoria 1-2 kali/hari

Maksimal 7-14 hari

Atrofi kulit jika penggunaan jangka panjang, iritasi lokal.

Anestesi Lokal Topikal

Lidokain HCl, Pramoxine HCl

Krim 1-5%

Oleskan tipis pada area yang sakit hingga 3-4 kali/hari, terutama setelah BAB

Sesuai kebutuhan, jangka pendek

Reaksi alergi (jarang), iritasi.

Pelindung / Astringen

Zinc Oxide

Salep, Supositoria

Oleskan pada area yang sakit setelah BAB; 1 supositoria 1-2 kali/hari

Sesuai kebutuhan

Umumnya aman, iritasi minimal.

Nitrat Topikal

Glyceryl Trinitrate (GTN)

Salep 0.2% - 0.4%

Oleskan tipis pada area perianal 2-3 kali/hari

Sesuai petunjuk (biasanya <6 minggu)

Sakit kepala (sering), pusing, hipotensi postural. Lebih utama untuk fisura ani.

Flebotonik Oral (Venoaktif)

Micronized Purified Flavonoid Fraction (MPFF) (Diosmin 90% + Hesperidin 10%)

Tablet 500mg, 1000mg

Akut: 3000mg/hari selama 4 hari, lalu 2000mg/hari selama 3 hari (dosis terbagi). Pemeliharaan: 1000mg/hari (dosis tunggal atau terbagi).

Akut: 7 hari. Pemeliharaan: 1-3 bulan+

Gangguan GI ringan (mual, diare), sakit kepala. Umumnya ditoleransi dengan baik.

Manfaat Sitz Bath (Rendam Duduk)

Sitz bath atau rendam duduk adalah tindakan merendam area perianal dalam air hangat (bukan panas) selama 10-15 menit, dilakukan 2-3 kali sehari, dan sangat dianjurkan terutama setelah BAB. Manfaat utama dari sitz bath adalah untuk meredakan gejala seperti nyeri, gatal, iritasi, dan membantu merelaksasi spasme sfingter ani yang mungkin menyertai. 

Meskipun beberapa studi menunjukkan bukti yang terbatas mengenai manfaat signifikan sitz bath dalam kondisi tertentu seperti pasca-hemoroidektomi , prosedur ini tetap direkomendasikan secara luas sebagai bagian dari terapi simtomatik yang aman, murah, dan mudah dilakukan oleh pasien di rumah.

Indikasi Rujukan ke Spesialis: Kapan GP Harus Merujuk?

Meskipun sebagian besar kasus hemoroid interna dapat ditangani secara efektif di faskes primer, terdapat situasi di mana rujukan ke dokter spesialis (Bedah Umum, Bedah Digestif, atau Gastroenterologi) diperlukan. Keputusan rujukan ini penting untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan yang optimal dan untuk menyingkirkan kondisi lain yang lebih serius.

Indikasi rujukan meliputi:

  • Kegagalan Tatalaksana Konservatif: Jika gejala hemoroid derajat I atau II tidak membaik atau bahkan memburuk setelah periode tatalaksana konservatif yang adekuat (misalnya, 4-8 minggu). Kegagalan ini bisa juga disebabkan oleh ketidakpatuhan pasien terhadap modifikasi gaya hidup atau diagnosis awal yang kurang tepat, sehingga evaluasi ulang sebelum merujuk adalah penting.

  • Derajat Hemoroid Lanjut:

  • Hemoroid interna derajat III yang simtomatik dan tidak memberikan respons terhadap terapi konservatif, atau jika pasien menginginkan intervensi yang lebih definitif.

  • Hemoroid interna derajat IV, yang umumnya memerlukan tindakan bedah untuk penanganannya.

  • Gejala Berat dan Persisten: Perdarahan yang masif atau berulang hingga menyebabkan anemia, nyeri hebat yang tidak terkontrol meskipun sudah diberikan analgesik, atau prolaps yang sangat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari pasien.

  • Keraguan Diagnosis atau Kecurigaan Kondisi Lain yang Lebih Serius: Jika terdapat keraguan dalam diagnosis, atau jika gejala yang ada tidak khas untuk hemoroid dan menimbulkan kecurigaan adanya kondisi lain seperti keganasan kolorektal atau Inflammatory Bowel Disease (IBD). Rujukan dalam konteks ini bukan hanya untuk terapi definitif hemoroid, tetapi krusial untuk eksklusi diagnosis banding yang mengancam jiwa.

  • Adanya "Red Flags" (Tanda Bahaya): Kehadiran satu atau lebih tanda bahaya berikut memerlukan investigasi lebih lanjut oleh spesialis, seringkali melalui kolonoskopi :

  • Perdarahan rektal pada pasien berusia di atas 40-50 tahun tanpa diagnosis pasti sebelumnya atau yang baru pertama kali mengalaminya.

  • Perubahan pola buang air besar yang baru dan persisten (misalnya, konstipasi atau diare yang tidak biasa).

  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.

  • Anemia defisiensi besi yang tidak diketahui penyebabnya.

  • Riwayat keluarga yang kuat dengan kanker kolorektal (terutama pada keluarga tingkat pertama).

  • Terabanya massa pada pemeriksaan colok dubur atau pemeriksaan abdomen.

  • Komplikasi Hemoroid: Meskipun lebih sering terjadi pada hemoroid eksterna atau hemoroid interna yang mengalami prolaps kronis, komplikasi seperti trombosis yang luas atau strangulasi memerlukan penanganan segera oleh spesialis.

  • Kondisi Komorbid Khusus: Pasien dengan kondisi medis penyerta tertentu, seperti IBD yang aktif, status imunosupresi berat (misalnya HIV/AIDS), atau sirosis hati dengan varises rektum, mungkin memerlukan pendekatan multidisiplin dan pertimbangan khusus dalam penanganan hemoroidnya.

Tabel 3: "Red Flags" dan Indikasi Rujukan Pasien Hemoroid Interna ke Spesialis (Bedah/Gastroenterologi)

Kategori Indikasi

Kriteria Spesifik untuk Rujukan

Kegagalan Terapi Konservatif

Gejala menetap atau memburuk setelah 4-8 minggu terapi konservatif optimal pada hemoroid derajat I-II.

Derajat Hemoroid

Hemoroid interna derajat III simtomatik yang tidak merespon terapi konservatif atau pasien memilih intervensi lebih lanjut. Hemoroid interna derajat IV.

Gejala Berat/Persisten

Perdarahan masif/berulang yang menyebabkan anemia. Nyeri hebat yang tidak terkontrol. Prolaps yang sangat mengganggu kualitas hidup.

"Red Flags" / Kecurigaan Keganasan

Usia >40-50 tahun dengan perdarahan rektal baru/tidak jelas. Perubahan pola BAB baru & persisten. Penurunan berat badan tanpa sebab. Anemia defisiensi besi. Riwayat keluarga kuat kanker kolorektal. Massa teraba pada DRE/abdomen.

Keraguan Diagnosis

Gejala atipikal. Kecurigaan IBD atau kondisi anorektal lain yang memerlukan evaluasi spesialis.

Komplikasi Hemoroid

Trombosis luas, strangulasi, ulserasi, atau infeksi sekunder yang signifikan.

Kondisi Komorbid Khusus

Pasien dengan IBD aktif, imunosupresi berat, sirosis hati dengan varises rektum, atau gangguan koagulasi yang memerlukan pertimbangan multidisiplin.


Kesimpulan: Optimalisasi Peran Dokter Umum dalam Penanganan Hemoroid Interna

Dokter umum di faskes primer memiliki peran yang sangat strategis dalam penanganan hemoroid interna. Kemampuan untuk melakukan diagnosis yang akurat, termasuk melalui pemeriksaan anoskopi, membedakan hemoroid dari kondisi anorektal lainnya, dan memberikan tatalaksana awal yang komprehensif adalah kunci utama. Pendekatan holistik yang melibatkan edukasi pasien secara mendalam mengenai kondisi dan pentingnya modifikasi gaya hidup serta diet tinggi serat menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

Farmakoterapi yang rasional, baik topikal maupun oral, dapat membantu meredakan gejala akut dan meningkatkan kenyamanan pasien. Pemahaman yang baik mengenai pilihan obat, termasuk Dosis Obat hemoroid interna di faskes primer seperti MPFF untuk serangan akut dan pemeliharaan, akan sangat membantu dalam praktik sehari-hari.

Selain itu, kewaspadaan yang tinggi terhadap diagnosis banding, terutama kemungkinan keganasan kolorektal, dan pengenalan "red flags" untuk melakukan rujukan yang tepat waktu ke spesialis adalah aspek kritikal yang tidak boleh diabaikan. 

Dengan pemahaman yang mendalam dan penerapan panduan berbasis bukti mengenai Diagnosis dan Terapi hemoroid interna di faskes primer, dokter umum dapat secara signifikan meningkatkan kualitas hidup pasien, mencegah komplikasi, mengurangi rujukan yang tidak perlu, dan pada akhirnya menurunkan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan. 

Edukasi pasien yang efektif mengenai perubahan perilaku dan pentingnya kepatuhan terhadap terapi merupakan komponen vital yang seringkali menentukan keberhasilan tatalaksana jangka panjang.

Referensi

  1. A New Classification for Hemorrhoidal Disease: The Creation of the “BPRST” Staging and Its Application in Clinical Practice - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7508483/

  2. Rectal Bleeding - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK563143/

  3. Hemorrhoids: Modern Remedies for an Ancient Disease - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3057743/

  4. Hemorrhoids - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2780175/

  5. Is the Goligher classification a valid tool in clinical practice and ..., accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9018630/

  6. fascrs.org, accessed May 26, 2025, https://fascrs.org/ascrs/media/files/downloads/Clinical%20Practice%20Guidelines/cpg_management_of_hemorrhoids.pdf

  7. Hemorrhoidectomy - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK549864/

  8. Benign anorectal disease: hemorrhoids, fissures, and fistulas - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6928486/

  9. Hemorrhoids | Piles - MedlinePlus, accessed May 26, 2025, https://medlineplus.gov/hemorrhoids.html

  10. Hemorrhoids - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3140328/

  11. Treatment of hemorrhoids: A coloproctologist's view - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4541377/

  12. Anoscopy - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459324/

  13. Hemorrhoids: Diagnosis and Treatment Options - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29431977/

  14. Latest Research Trends on the Management of Hemorrhoids - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12035339/

  15. Guideline for referral of patients with suspected colorectal cancer by family physicians and other primary care providers - PubMed Central, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4131960/

  16. Colorectal Surgery Review for Primary Care Providers - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7144705/

  17. Eating, Diet, & Nutrition for Hemorrhoids - NIDDK, accessed May 26, 2025, https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/hemorrhoids/eating-diet-nutrition

  18. Diagnosis and Management of Internal Hemorrhoids: A Brief Review ..., accessed May 26, 2025, https://ej-med.org/index.php/ejmed/article/view/1014

  19. Hemorrhoids in pregnancy - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2278306/

  20. Label: MAYINGLONG HEMORRHOIDS- zinc oxide suppository - DailyMed, accessed May 26, 2025, https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/search.cfm?adv=1&query=8VRP283387

  21. Proctofoam HC, Analpram E (hydrocortisone topical/pramoxine topical) dosing, indications, interactions, adverse effects, and more - Medscape, accessed May 26, 2025, https://reference.medscape.com/drug/analpram-e-hydrocortisone-topical-pramoxine-topical-999527

  22. Zinc Oxide Rectal: Uses, Side Effects, Interactions, Pictures, Warnings & Dosing - WebMD, accessed May 26, 2025, https://www.webmd.com/drugs/2/drug-78012/zinc-oxide-rectal/details

  23. Anal Fissures - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526063/

  24. Treatment of benign anal disease with topical nitroglycerin - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7736873/

  25. Phlebotonics for haemorrhoids | Request PDF - ResearchGate, accessed May 26, 2025, https://www.researchgate.net/publication/230678734_Phlebotonics_for_haemorrhoids

  26. Evaluation of the Efficacy and Safety of a Compound of Micronized Flavonoids in Combination With Vitamin C and Extracts of Centella asiatica, Vaccinium myrtillus, and Vitis vinifera for the Reduction of Hemorrhoidal Symptoms in Patients With Grade II and III Hemorrhoidal Disease: A Retrospective Real-Life Study - Frontiers, accessed May 26, 2025, https://www.frontiersin.org/journals/pharmacology/articles/10.3389/fphar.2021.773320/full

  27. Micronised purified flavonoid fraction: a review of its use in chronic venous insufficiency, venous ulcers and haemorrhoids - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12487623/

  28. Conservative Treatment of Hemorrhoids: Results of an Observational Multicenter Study, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6223991/

  29. Efficacy and safety of micronized purified flavonoid fractions for the treatment of postoperative hemorrhoid complications: A systematic review and meta-analysis - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35752073/

  30. Clinical acceptability study of micronized purified flavonoid fraction 1000 mg tablets versus 500 mg tablets in patients suffering acute hemorrhoidal disease - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27404053/

  31. The Efficacy of Sitz Baths as Compared to Lateral Internal Sphincterotomy in Patients with Anal Fissures: A Systematic Review - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9622030/

  32. Warm sitz bath does not reduce symptoms in posthaemorrhoidectomy period: a randomized, controlled study - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18380741/

  33. Sitz bath: where is the evidence? Scientific basis of a common practice - PubMed, accessed May 26, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15981059/

  34. Anorectal emergencies - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4948271/

Review of Hemorrhoid Disease: Presentation and Management - PMC, accessed May 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4755769/