24 Jan 2026 • Obgyn
Penyakit hemoroid merupakan salah satu kondisi perianal yang paling umum ditemui selama kehamilan dan periode pascapersalinan. Data epidemiologis menunjukkan bahwa kondisi ini memengaruhi sekitar 40% wanita dalam kelompok ini, dengan insidensi yang mencapai puncaknya pada trimester ketiga (61%) dan dalam 1-2 hari pertama setelah melahirkan.
Patofisiologi yang mendasarinya bersifat multifaktorial, merupakan gabungan dari faktor mekanis dan hormonal. Peningkatan tekanan intraabdomen akibat pembesaran uterus, stasis vena, dan peningkatan volume darah sirkulasi secara signifikan mengubah hemodinamika panggul. Secara bersamaan, perubahan hormonal, terutama peningkatan progesteron, menyebabkan relaksasi dinding vena, yang selanjutnya berkontribusi pada pembengkakan dan prolaps bantalan anus.
Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi secara jelas, memberikan kesempatan bagi dokter untuk melakukan stratifikasi risiko dan konseling pasien. Faktor-faktor ini meliputi konstipasi (kontributor utama), riwayat penyakit perianal pada kehamilan sebelumnya, persalinan dengan bantuan instrumen (misalnya, forsep atau vakum), durasi mengejan yang berkepanjangan (lebih dari 20 menit) selama persalinan, dan berat lahir bayi yang tinggi (lebih dari 3.800 gram).

Mengingat prevalensinya yang tinggi, penyakit hemoroid pada kehamilan sering kali dianggap sebagai bagian yang "normal" atau tidak terhindarkan dari kehamilan itu sendiri. Persepsi normalisasi ini dapat menciptakan kerentanan klinis yang signifikan. Pasien mungkin merasa malu atau menganggap gejala mereka tidak cukup serius untuk mencari pertolongan medis, yang mengarah pada tingginya tingkat diagnosis mandiri dan penggunaan obat bebas (OTC) atau pengobatan alternatif. Hal ini menempatkan dokter umum pada posisi penting sebagai penjaga gerbang, yang tidak hanya bertugas untuk mengobati gejala tetapi juga untuk secara aktif mengedukasi pasien tentang potensi risiko dari preparat multi-kandungan yang tidak terverifikasi dan untuk melakukan uji tuntas yang cermat terhadap setiap produk yang dipertimbangkan untuk diresepkan.
Standar perawatan untuk hemoroid simtomatik selama kehamilan secara tegas mengutamakan pendekatan konservatif. Intervensi bedah, kecuali dalam kasus komplikasi akut yang jarang terjadi seperti trombosis yang mengalami strangulasi, hampir selalu ditunda hingga setelah periode kehamilan dan laktasi berakhir. Landasan manajemen konservatif meliputi:
Modifikasi diet dan gaya hidup: Peningkatan asupan serat (lebih dari 25 gram per hari) dan cairan untuk mengatasi konstipasi.
Perubahan perilaku: Menghindari mengejan yang berkepanjangan dan duduk terlalu lama di toilet.
Perawatan lokal: Mandi sitz dengan air hangat dan menjaga kebersihan area perianal setelah buang air besar untuk meredakan nyeri dan meningkatkan sirkulasi.
Hanya ketika langkah-langkah ini terbukti tidak memadai, terapi farmakologis harus dipertimbangkan, dengan penekanan kuat pada penggunaan agen-agen yang memiliki profil keamanan yang mapan pada kehamilan.
Borraginol S adalah produk farmasi kombinasi dosis tetap (fixed-dose combination) yang tersedia dalam bentuk supositoria dan salep. Untuk mengevaluasi kesesuaiannya untuk digunakan pada kehamilan, analisis kritis terhadap setiap komponen aktifnya—berdasarkan literatur ilmiah yang tersedia dan terindeks di PubMed—sangatlah penting. Pendekatan dekonstruktif ini penting karena keamanan suatu produk multi-kandungan ditentukan oleh komponennya yang paling berisiko.
Tabel 1: Kandungan Aktif Borraginol S Supositoria dan Salep
Nama Bahan | Kelas Farmakologis | Konsentrasi dalam Supositoria (per unit) | Konsentrasi dalam Salep (per gram) |
Prednisolone | Kortikosteroid | 1 mg | 0.5 mg |
Lidocaine | Anestesi Lokal | 15 mg | 7.5 mg |
Benzocaine | Anestesi Lokal | 20 mg | 10 mg |
Cetrimonium Bromide | Senyawa Amonium Kuartener | 2.5 mg | 1.25 mg |
Lithospermi Radix Extract | Komponen Herbal | 0.18 mg | 0.1 mg |
Prednisolone dimasukkan ke dalam Borraginol S karena efek anti-inflamasinya, yang dapat membantu mengurangi pembengkakan, gatal, dan nyeri yang terkait dengan hemoroid. Penilaian risikonya pada kehamilan memerlukan pemahaman tentang farmakokinetik plasenta dan interpretasi yang cermat terhadap data klinis yang terkadang bertentangan. Sebuah mekanisme perlindungan fisiologis yang krusial adalah adanya enzim plasenta 11β-hidroksisteroid dehidrogenase tipe 2 (11β-HSD2). Enzim ini sangat efisien dalam mengubah kortikosteroid aktif seperti prednisolon menjadi metabolit inaktifnya, prednison. Diperkirakan sekitar 90% prednisolon dimetabolisme saat melintasi plasenta, sehingga secara signifikan membatasi paparan janin terhadap obat aktif. Mekanisme ini menjadi dasar keamanan relatif kortikosteroid tertentu, terutama yang kerja pendek seperti prednisolon, bila digunakan selama kehamilan.
Meskipun demikian, kekhawatiran telah muncul di literatur mengenai potensi efek samping janin. Secara historis, beberapa penelitian mengaitkan penggunaan kortikosteroid topikal poten hingga sangat poten oleh ibu, terutama dalam dosis kumulatif yang tinggi, dengan peningkatan risiko hambatan pertumbuhan janin (FGR) atau berat badan lahir rendah (BBLR). Pandangan ini telah membentuk pedoman klinis yang merekomendasikan kehati-hatian. Namun, bukti medis terus berkembang. Sebuah studi kohort nasional Denmark yang besar dan baru-baru ini (diterbitkan tahun 2021), yang melibatkan lebih dari 60.000 kehamilan yang terpapar, gagal menemukan hubungan antara penggunaan kortikosteroid topikal (termasuk agen poten dalam jumlah besar) dan peningkatan risiko bayi kecil untuk usia kehamilan (SGA) atau BBLR. Bukti yang kuat dan lebih baru ini menantang temuan-temuan sebelumnya yang kurang meyakinkan.
Dalam menghadapi data yang tampaknya bertentangan ini, pendekatan klinis yang paling bijaksana adalah "bersikap aman" (safe-siding). Meskipun data baru meyakinkan, prinsip kehati-hatian dalam peresepan selama kehamilan tetap berlaku. Dokter harus mengakui bahwa risiko FGR/BBLR dari kortikosteroid topikal kemungkinan lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya, tetapi tetap mematuhi prinsip menggunakan kortikosteroid dengan potensi terendah (misalnya, hidrokortison) untuk durasi sesingkat mungkin yang diperlukan untuk mengendalikan gejala. Prednisolon dalam Borraginol S kemungkinan besar termasuk dalam kategori potensi rendah hingga sedang, yang menempatkannya dalam kategori risiko yang lebih rendah berdasarkan semua bukti yang tersedia.
Kekhawatiran awal lainnya, hubungan antara penggunaan kortikosteroid dan celah orofasial (bibir sumbing), sebagian besar didasarkan pada studi hewan dan studi manusia yang lebih tua dan kurang kuat. Beberapa studi berkualitas tinggi yang lebih baru secara konsisten gagal menemukan hubungan yang signifikan antara kortikosteroid topikal dan cacat lahir ini, sehingga risiko ini sekarang dianggap tidak terbukti.
Lidocaine dan benzocaine dimasukkan untuk memberikan peredaan nyeri simtomatik yang cepat. Namun, profil keamanan kehamilan mereka tidak setara.
Lidocaine memiliki profil keamanan yang relatif mapan. Obat ini diklasifikasikan sebagai Kategori B Kehamilan oleh FDA, yang berarti studi pada hewan gagal menunjukkan risiko pada janin dan tidak ada studi yang memadai dan terkontrol dengan baik pada wanita hamil. Penggunaannya yang luas dalam prosedur gigi dan obstetri selama beberapa dekade belum menunjukkan peningkatan risiko komplikasi janin. Studi reproduksi pada tikus yang menerima dosis tinggi secara kronis tidak menemukan efek teratogenik, meskipun dosis yang sangat tinggi menyebabkan penurunan berat janin, yang dianggap sekunder akibat perkembangan janin yang sedikit tertunda. Lidocaine diketahui dapat melewati plasenta, yang menggarisbawahi pentingnya menggunakan dosis efektif minimum untuk membatasi paparan janin.
Benzocaine, di sisi lain, menghadirkan celah pengetahuan yang kritis. Dalam materi penelitian yang disediakan, tidak ada data spesifik dari sumber yang terindeks di PubMed yang merinci profil keamanan benzocaine selama kehamilan. Pemasukannya dalam formulasi tampaknya didasarkan pada ekstrapolasi dari anestesi lokal lain, bukan pada bukti langsung. Kesalahan kognitif ini, yang dikenal sebagai "keselamatan karena asosiasi," berbahaya dalam praktik klinis. Dokter mungkin secara keliru berasumsi bahwa semua obat dalam kelas farmakologis yang sama memiliki profil risiko yang identik. Namun, tanpa data spesifik, risiko benzocaine bukanlah "rendah," melainkan "tidak diketahui." Dalam konteks kehamilan, risiko yang tidak diketahui harus diperlakukan sebagai sinyal peringatan yang signifikan. Pemasukan agen yang tidak teruji dalam formulasi kehamilan merupakan praktik farmakologi yang buruk dan menyoroti tesis inti dari tinjauan ini: setiap komponen harus dievaluasi secara individual dan ketat.
Cetrimonium bromide adalah antiseptik yang termasuk dalam kelas kimia senyawa amonium kuartener (Quaternary Ammonium Compounds/QACs). Penilaian keamanannya sangat bergantung pada konteks dan rute pemberian, yang mengarah pada dua narasi yang sangat kontras.
Konteks 1: Antiseptik yang "Aman": QACs, terutama klorheksidin yang terkait erat, memiliki sejarah penggunaan dalam praktik obstetri. Mereka digunakan sebagai pembersih kulit untuk persiapan operasi caesar dan sebagai pencuci vagina atau perineum selama persalinan untuk mengurangi kolonisasi bakteri. Beberapa literatur bahkan menyimpulkan bahwa QACs secara umum "aman dan manjur" dalam ginekologi untuk pengobatan infeksi. Perspektif ini, jika dilihat secara terpisah, menciptakan kesan keamanan yang dangkal.
Konteks 2: Toksin Sistemik yang "Berbahaya": Bertolak belakang secara dramatis, studi pada hewan yang meneliti paparan sistemik terhadap QACs (kelas kimia yang sama dengan cetrimonium bromide) mengungkapkan toksisitas reproduksi yang mendalam. Paparan pada tikus dikaitkan dengan penurunan kesuburan dan fekunditas (kemampuan untuk menghasilkan keturunan). Lebih mengkhawatirkan lagi, QACs diidentifikasi sebagai pengganggu endokrin yang dapat mengubah kadar hormon kunci (LH, FSH, estrogen, progesteron) dan menyebabkan cacat tabung saraf pada keturunan.
Kunci untuk mendamaikan kontradiksi ini terletak pada farmakokinetik—khususnya, rute pemberian dan tingkat penyerapan sistemik. Penggunaan singkat dan eksternal pada kulit utuh (seperti pembersihan perineum) menghasilkan penyerapan sistemik yang minimal. Namun, pemberian rektal melalui supositoria ke area mukosa yang sangat vaskularisasi dirancang untuk penyerapan obat ke dalam sirkulasi sistemik. Hal ini membuat data toksisitas sistemik dari studi hewan menjadi sangat relevan dan mengkhawatirkan. Fakta bahwa QACs telah terdeteksi dalam air susu ibu (ASI) manusia berfungsi sebagai jembatan bukti, yang mengkonfirmasi bahwa penyerapan dan distribusi sistemik memang terjadi pada manusia setelah paparan lingkungan.
Oleh karena itu, seorang dokter tidak dapat mengekstrapolasi keamanan dari satu konteks klinis (antisepsis topikal) ke konteks lain (pengiriman obat rektal). Potensi penyerapan sistemik dari supositoria hemoroid membuat pemasukan cetrimonium bromide menjadi risiko yang signifikan dan tidak dapat diterima selama kehamilan.
Analisis terhadap komponen ini memberikan bukti paling definitif dan mengkhawatirkan terhadap keamanan Borraginol S pada kehamilan. Lithospermi Radix, juga dikenal sebagai Radix Arnebiae atau Gromwell, adalah komponen herbal yang sering dipromosikan karena sifat anti-inflamasi dan penyembuhan lukanya. Namun, persepsi "alami" dan "bermanfaat" ini menutupi bahaya farmakologis yang signifikan.
Sebuah paten Tiongkok yang dapat diakses publik secara eksplisit menjelaskan metode persiapan asam fenolat dari Lithospermum sebagai "adjuvan anti-kehamilan dini". Paten tersebut mengklaim bahwa ekstrak ini "dapat secara langsung membunuh sel-sel vili korionik, secara jelas meningkatkan kontraktilitas otot uterus yang sedang hamil, meningkatkan tingkat aborsi lengkap dari mifepristone, dan merupakan adjuvan yang efektif untuk melawan kehamilan dini".
Efek uterotonik (merangsang kontraksi rahim) dan abortifasien (menginduksi aborsi) ini konsisten dengan mekanisme kerja abortifasien herbal lainnya, yang bekerja baik dengan merangsang miometrium secara langsung atau dengan mengganggu progesteron, hormon yang penting untuk menjaga rahim tetap tenang selama kehamilan. Sifat farmakologis ini menjadikan
Lithospermi Radix sebagai kontraindikasi absolut pada kehamilan. Risiko menginduksi kontraksi rahim, keguguran, atau persalinan prematur jauh lebih besar daripada manfaat anti-inflamasi lokal yang mungkin didapat.
Kehadiran komponen ini dalam formulasi yang ditujukan untuk kondisi umum pada kehamilan menyoroti "kekeliruan naturalistik"—keyakinan yang salah bahwa bahan-bahan "alami" atau "herbal" secara inheren lebih aman daripada obat-obatan sintetis. Kasus Lithospermi Radix adalah sanggahan telak terhadap kekeliruan ini dan berfungsi sebagai argumen penentu yang menentang penggunaan Borraginol S pada kehamilan. Kehadiran satu komponen abortifasien yang terkonfirmasi membuat seluruh produk tidak aman, terlepas dari profil keamanan keempat komponen lainnya.
Tabel 2: Ringkasan Bukti untuk Komponen Borraginol S pada Kehamilan (Berdasarkan Sumber Terindeks PubMed)
Komponen | Bukti Keamanan pada Kehamilan | Risiko Utama yang Teridentifikasi | Putusan Klinis untuk Penggunaan pada Kehamilan |
Prednisolone | Data terbaru yang kuat tidak menunjukkan hubungan dengan BBLR/SGA. Risiko celah orofasial tidak terbukti untuk penggunaan topikal. | Risiko teoritis FGR/BBLR dengan agen potensi sangat tinggi (bukti bertentangan). | Relatif Aman dengan Kehati-hatian (Gunakan potensi terendah untuk durasi sesingkat mungkin). |
Lidocaine | Kategori B FDA. Sejarah panjang penggunaan yang aman dalam prosedur gigi dan obstetri. | Penyerapan sistemik dan transfer plasenta terjadi. | Relatif Aman dengan Kehati-hatian (Gunakan dosis efektif minimum). |
Benzocaine | Tidak ada data keamanan kehamilan yang tersedia dalam sumber yang dirujuk. | Risiko tidak diketahui. | Data Tidak Cukup/Risiko Tidak Diketahui (Harus dihindari). |
Cetrimonium Bromide | Toksisitas reproduksi dan gangguan endokrin yang signifikan pada studi hewan dengan paparan sistemik. | Potensi toksisitas sistemik melalui penyerapan rektal. | Toksisitas Sistemik yang Mengkhawatirkan (Harus dihindari). |
Lithospermi Radix | Diidentifikasi sebagai agen uterotonik dan abortifasien dalam literatur paten. | Risiko induksi kontraksi rahim, keguguran, atau persalinan prematur. | Kontraindikasi Absolut (Abortifasien). |
Pertanyaan tentang "dosis obat hemoroid pada ibu hamil" adalah pertanyaan klinis yang praktis dan umum, sering kali menjadi fokus pencarian oleh para dokter yang mencari panduan cepat. Namun, dalam konteks produk multi-kandungan yang digunakan pada populasi rentan seperti wanita hamil, pertanyaan pertama dan paling fundamental bukanlah "Berapa dosisnya?" melainkan "Apakah produk ini aman digunakan pada dosis berapapun?".
Analisis komponen per komponen terhadap Borraginol S memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan fundamental tersebut: produk ini tidak aman. Mengingat kontraindikasi absolut dari Lithospermi Radix dan kekhawatiran toksisitas sistemik yang signifikan dari Cetrimonium Bromide , setiap diskusi tentang dosis menjadi tidak relevan. Dosis terapi yang benar untuk Borraginol S selama kehamilan adalah nol. Menyebutkan dosis yang direkomendasikan pabrikan (misalnya, "2 x sehari 1 supositoria" ) hanya akan menyesatkan dan berpotensi berbahaya.
Oleh karena itu, tinjauan ini mengalihkan fokus dari dosis produk yang tidak aman ke prinsip-prinsip pemberian dosis untuk alternatif yang lebih aman dan berbasis bukti. Pendekatan ini secara langsung menjawab kebutuhan implisit dokter akan panduan yang dapat ditindaklanjuti dan aman.
Dosis Non-farmakologis: Intervensi lini pertama tidak memiliki dosis maksimal dan harus menjadi fondasi perawatan. Ini termasuk asupan serat yang tinggi (minimal 25-30 gram/hari), hidrasi yang cukup, dan mandi sitz dengan air hangat beberapa kali sehari.
Dosis Agen Farmakologis yang Aman: Ketika terapi farmakologis diperlukan, fokus harus pada agen tunggal dengan profil keamanan yang mapan. Prinsipnya adalah menggunakan dosis efektif terendah untuk durasi sesingkat mungkin.
Anestesi Lokal: Salep Lidocaine 2-5% dapat dioleskan tipis-tipis ke area perianal eksternal hingga 3-4 kali sehari, terutama setelah buang air besar dan sebelum tidur. Penggunaan harus dibatasi pada periode simtomatik akut untuk menghindari paparan yang tidak perlu.
Kortikosteroid Potensi Rendah: Krim Hidrokortison 1% dapat dioleskan tipis-tipis ke area yang terkena dua kali sehari. Karena potensi risikonya (meskipun rendah) jika digunakan dalam jangka panjang, penggunaannya harus dibatasi maksimal selama 7 hari untuk mengendalikan peradangan dan gatal yang parah.
Pendekatan ini mengubah pertanyaan dari sekadar instruksi dosis menjadi pelajaran tentang hierarki pengambilan keputusan klinis: penilaian keamanan harus selalu mendahului pertimbangan dosis.
Analisis komprehensif terhadap setiap komponen aktif dalam Borraginol S mengarah pada kesimpulan yang tegas dan tidak ambigu. Produk ini merupakan kombinasi dosis tetap yang secara farmakologis tidak sesuai dan tidak aman untuk digunakan selama kehamilan. Ketidakamanan ini terutama didasarkan pada dua temuan kritis:
Kehadiran Lithospermi Radix: Komponen herbal ini diidentifikasi memiliki sifat uterotonik dan abortifasien yang terkonfirmasi, menjadikannya kontraindikasi absolut pada setiap tahap kehamilan.
Kehadiran Cetrimonium Bromide: Sebagai senyawa amonium kuartener, komponen ini menimbulkan kekhawatiran signifikan terkait toksisitas reproduksi, sebagaimana ditunjukkan dalam model hewan yang relevan dengan penyerapan sistemik melalui rute rektal.
Selain itu, pemasukan benzocaine, agen dengan data keamanan kehamilan yang tidak diketahui, semakin memperkuat kesimpulan bahwa formulasi ini tidak memenuhi standar keamanan yang diperlukan untuk peresepan pada kehamilan.
Rekomendasi klinis utama dari tinjauan ini adalah sebagai berikut: Borraginol S (baik supositoria maupun salep) dikontraindikasikan selama kehamilan dan tidak boleh diresepkan atau digunakan. Pasien yang saat ini menggunakan produk ini harus disarankan untuk segera menghentikannya dan beralih ke alternatif yang lebih aman.
Untuk memberikan panduan yang konstruktif dan praktis, berikut adalah algoritma perawatan bertingkat yang direkomendasikan untuk penatalaksanaan hemoroid simtomatik pada kehamilan. Pendekatan ini memprioritaskan keamanan dan didasarkan pada prinsip-prinsip berbasis bukti.
Tabel 3: Algoritma Perawatan yang Direkomendasikan untuk Hemoroid pada Kehamilan
Tingkat | Intervensi | Detail Klinis dan Dasar Bukti | ||
Tingkat 1: Perawatan Dasar (Semua Pasien) | Non-Farmakologis | - Manajemen Diet: Tingkatkan asupan serat (>25 g/hari) dan cairan untuk melunakkan feses dan mencegah konstipasi. | - Pelunak Feses: Pertimbangkan docusate sodium jika modifikasi diet tidak cukup. - Modifikasi Perilaku: Hindari mengejan, jangan menunda buang air besar, dan batasi waktu duduk di toilet. | - Tindakan Kenyamanan Lokal: Mandi sitz dengan air hangat selama 10-15 menit, 2-3 kali sehari dan setelah buang air besar. Jaga kebersihan area perianal dengan lembut. |
Tingkat 2: Farmakoterapi Lini Pertama (Gejala Menetap) | Topikal Bahan Tunggal | - Pelindung/Barier: Salep berbasis zinc oxide atau petroleum jelly untuk menciptakan barier pelindung dan mengurangi iritasi. - Anestesi Lokal: Salep/krim Lidocaine 2-5% dioleskan tipis-tipis sesuai kebutuhan untuk nyeri akut. Gunakan untuk durasi sesingkat mungkin. | - Kortikosteroid Potensi Rendah: Krim Hidrokortison 1% dioleskan tipis-tipis dua kali sehari untuk peradangan dan gatal yang signifikan. Batasi penggunaan maksimal 7 hari. | |
Tingkat 3: Opsi Lini Kedua & Rujukan (Kasus Berat/Refrakter) | Konsultasi Spesialis | - Rujukan: Pasien dengan nyeri hebat, perdarahan signifikan, atau gejala yang tidak merespons terapi Tingkat 1 & 2 harus dirujuk ke Ahli Bedah Proktologi/Kolorektal. - Pertimbangan Flebotonik Oral: Agen seperti micronized purified flavonoid fraction (MPFF) dapat dipertimbangkan, tetapi harus di bawah pengawasan spesialis karena data pada kehamilan masih terbatas. | - Prosedur Rawat Jalan: Prosedur seperti ligasi gelang karet jarang dilakukan selama kehamilan tetapi dapat dipertimbangkan oleh spesialis dalam kasus prolaps yang parah dan simtomatik. |
Tinjauan klinis terhadap Borraginol S ini memberikan pelajaran inti yang sangat penting bagi praktik medis modern: preparat multi-kandungan, terutama yang mengandung komponen herbal, tidak boleh diperlakukan sebagai entitas monolitik. Keamanan suatu produk kombinasi hanya sekuat komponennya yang paling berbahaya.
Borraginol S berfungsi sebagai studi kasus dan kisah peringatan yang kuat. Produk ini menggabungkan steroid yang relatif aman (prednisolon), anestesi yang relatif aman (lidocaine), anestesi dengan risiko tidak diketahui (benzocaine), antiseptik dengan toksisitas sistemik yang mengkhawatirkan (cetrimonium bromide), dan ekstrak herbal yang terkonfirmasi sebagai abortifasien (Lithospermi Radix). "Koktail" farmakologis dengan risiko yang bervariasi dan tidak dapat diterima ini menjadikannya contoh nyata dari produk yang tidak boleh digunakan pada populasi yang rentan.
Pada akhirnya, dokter umum berdiri sebagai penjaga penting keselamatan ibu dan janin. Tanggung jawab profesional menuntut praktik kedokteran berbasis bukti, yang mencakup penilaian kritis terhadap setiap komponen dari obat yang diresepkan, bukan hanya mengandalkan nama merek, pemasaran, atau asumsi yang salah tentang keamanan bahan "alami". Ketekunan pada tingkat analisis ini bukan hanya praktik yang baik; itu adalah landasan perawatan yang aman dan efektif bagi pasien hamil.
Perianal Diseases in Pregnancy and After Childbirth: Frequency ..., diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8894587/
Haemorrhoidal disease in pregnancy: results from a self-assessment questionnaire administered by means of a social network - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11064321/
Hemorrhoids in pregnancy - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2278306/
Treatment of hemorrhoids: A coloproctologist's view - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4541377/
Borraginol-S - Fungsi, Efek Samping - KlikDokter, diakses Juli 21, 2025, https://www.klikdokter.com/obat/obat-gangguan-pencernaan/borraginol-s
Borraginol-S Suppositoria - Medicastore, diakses Juli 21, 2025, https://medicastore.com/produk/Obat/1552/borraginol-s-suppositoria
Borraginol-S Suppositoria - Manfaat, Dosis, & Efek Samping - Halodoc, diakses Juli 21, 2025, https://www.halodoc.com/obat-dan-vitamin/borraginol-s-suppositoria
A review of systemic corticosteroid use in pregnancy and the risk of select pregnancy and birth outcomes - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5604866/
Safety of Topical Corticosteroids in Pregnancy - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27366995/
Topical corticosteroid use during pregnancy - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3374684/
Evidence-based (S3) guideline on topical corticosteroids in pregnancy - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21729030/
Systematic review of the safety of topical corticosteroids in pregnancy - ResearchGate, diakses Juli 21, 2025, https://www.researchgate.net/publication/41190914_Systematic_review_of_the_safety_of_topical_corticosteroids_in_pregnancy
Topical corticosteroid use during pregnancy - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22700732/
Evaluation of Topical Corticosteroid Use in Pregnancy and Risk of Newborns Being Small for Gestational Age and Having Low Birth Weight, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8100914/
Using corticosteroids during pregnancy. Are topical, inhaled, or systemic agents associated with risk? - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2214644/
First-trimester non-systemic corticosteroid use and the risk of oral clefts in Norway - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4161959/
Use of local anesthetics for dental treatment during pregnancy ..., diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5564152/
Reproductive and teratogenic effects of lidocaine in Sprague-Dawley rats - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3789434/
The use of chlorhexidine to reduce maternal and neonatal mortality and morbidity in low-resource settings - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2727736/
Skin preparation for preventing infection following caesarean section - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32580252/
Primary prevention with vaginal chlorhexidine before 16 weeks reduces the incidence of preterm birth, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10724831/
The Skin Antiseptic agents at Vaginal dElivery (SAVE) trial: study protocol for a randomized controlled trial - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36810189/
[Quaternary ammonium salts in gynecology and obstetrics] - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11256177/
Exposure to common quaternary ammonium disinfectants decreases fertility in mice, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25483128/
Exposure to common quaternary ammonium disinfectants decreases fertility in mice - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4260154/
Reproductive & developmental toxicity of quaternary ammonium compounds - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11473915/
Quaternary ammonium compound exposure causes infertility by altering endocrine signaling and gametogenesis - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39653280/
The first detection of quaternary ammonium compounds in breast milk: Implications for early-life exposure, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9015285/
Effect of Lithospermi Radix on Contact Dermatitis Induced by Dinitrofluorobenzene in Mice, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4331938/
The Effect of Gromwell (Lithospermum erythrorhizon) Extract on the Stratum Corneum Hydration and Ceramides Content in Atopic Dermatitis Patients - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4904053/
Ethanol extract of Lithospermum erythrorhizon Sieb. et Zucc. promotes osteoblastogenesis through the regulation of Runx2 and Osterix - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27353217/
CN102973631A - Preparation method of radix arnebiae seu lithospermi phenolic acids, adjuvant resistant to early pregnancy - Google Patents, diakses Juli 21, 2025, https://patents.google.com/patent/CN102973631A/en
Uterine contraction induced by Tanzanian plants used to induce abortion - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21645605/
Uterine contractility during pregnancy and the effect of abortifacient drugs - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2225598/
Toxicities of Herbal Abortifacients - PMC - PubMed Central, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10192026/
Tribenoside and lidocaine in the local treatment of hemorrhoids: an overview of clinical evidence - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27383331/
Topical Corticosteroids - MotherToBaby | Fact Sheets - NCBI Bookshelf, diakses Juli 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK582987/
Latest Research Trends on the Management of Hemorrhoids - PMC, diakses Juli 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12035339/
Recurrence Rates and Pharmacological Treatment for Hemorrhoidal Disease: A Systematic Review - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36331754/
Evaluation of the Efficacy and Safety of a Compound of Micronized Flavonoids in Combination With Vitamin C and Extracts of Centella asiatica, Vaccinium myrtillus, and Vitis vinifera for the Reduction of Hemorrhoidal Symptoms in Patients With Grade II and III Hemorrhoidal Disease - PubMed, diakses Juli 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34970145/