Tinjauan Klinis Komprehensif: Efektivitas, Keamanan, dan Dosis Metronidazole untuk Vaginosis Bakterialis dalam Kehamilan Berdasarkan Analisis Bukti Terkini

16 Jan 2026 • Obgyn

Deskripsi

Tinjauan Klinis Komprehensif: Efektivitas, Keamanan, dan Dosis Metronidazole untuk Vaginosis Bakterialis dalam Kehamilan Berdasarkan Analisis Bukti Terkini

Bagian 1: Vaginosis Bakterialis dalam Kehamilan: Rasionalisasi Klinis untuk Intervensi Terapeutik

1.1. Definisi dan Asosiasi Klinis Vaginosis Bakterialis

Vaginosis Bakterialis (VB) didefinisikan sebagai suatu kondisi disbiotik, yaitu ketidakseimbangan flora normal vagina yang ditandai oleh pertumbuhan berlebih bakteri anaerob dan hilangnya atau berkurangnya flora laktobasilus yang bersifat protektif. 

Kondisi ini merupakan salah satu infeksi vagina yang paling umum terjadi pada wanita usia reproduktif, termasuk selama masa kehamilan. Manifestasi klinisnya dapat bervariasi; sebagian wanita mengalami gejala khas berupa keputihan abnormal, sementara sebagian besar lainnya, hingga 50%, bersifat asimtomatik.

Signifikansi klinis VB dalam konteks kehamilan terletak pada asosiasinya yang kuat dengan berbagai luaran perinatal yang merugikan. Sejumlah besar studi observasional secara konsisten mengaitkan keberadaan VB selama kehamilan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur (PTB), keguguran trimester lanjut, dan ketuban pecah dini prematur. 

Asosiasi ini begitu signifikan sehingga beberapa panduan klinis menyarankan dilakukannya skrining VB pada semua wanita hamil yang memiliki risiko tinggi untuk persalinan prematur. Hubungan antara VB dan komplikasi kehamilan inilah yang menjadi dasar rasionalisasi klinis untuk melakukan penelitian ekstensif mengenai strategi skrining dan pengobatan, dengan harapan bahwa intervensi terapeutik dapat memitigasi risiko-risiko tersebut.

Gambar 1. Skrining BV pada Wanita hamil

1.2. Efikasi Metronidazole dalam Eradikasi Vaginosis Bakterialis (Penyembuhan Mikrobiologis)

Terlepas dari perdebatan mengenai dampaknya terhadap luaran kehamilan, efektivitas metronidazole dalam mengobati infeksi VB itu sendiri tidak diragukan lagi. Bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa metronidazole, sebagai agen antibiotik, sangat efektif dalam memberantas bakteri anaerob penyebab VB dan mengembalikan keseimbangan flora vagina. 

Sebuah tinjauan sistematis Cochrane yang komprehensif menunjukkan bahwa terapi antibiotik secara umum, termasuk metronidazole, terbukti sangat efektif dalam menyembuhkan VB selama kehamilan. Dibandingkan dengan plasebo, terapi antibiotik mampu mengurangi keberadaan VB secara signifikan, dengan rasio risiko (RR) rata-rata sebesar 0.42 (95% CI 0.31 hingga 0.56). 

Hal ini menunjukkan efek pengobatan yang substansial. Efikasi ini diperkuat oleh sebuah uji klinis acak terkontrol (RCT) berskala besar yang melibatkan 1953 wanita hamil. Dalam studi tersebut, pengobatan dengan metronidazole berhasil menyembuhkan VB pada 77.8% wanita dalam kelompok perlakuan, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok plasebo yang hanya mencapai 37.4%.

Studi-studi komparatif yang mengevaluasi berbagai formulasi metronidazole juga melaporkan tingkat kesembuhan yang tinggi. Sebuah penelitian menemukan tingkat kesembuhan klinis sebesar 84.2% untuk regimen metronidazole oral (dosis 500 mg dua kali sehari selama 7 hari) dan 75.0% untuk metronidazole dalam bentuk gel vagina 0.75% (dosis dua kali sehari selama 5 hari). Data-data ini secara kolektif menetapkan metronidazole sebagai agen yang andal untuk mencapai penyembuhan mikrobiologis dan klinis dari VB.

Pemahaman ini membentuk sebuah landasan penting sebelum melangkah lebih jauh ke dalam analisis yang lebih kompleks mengenai apakah penyembuhan infeksi ini juga berarti pencegahan komplikasinya. Muncul sebuah paradoks klinis yang menjadi inti dari diskusi ini: metronidazole sangat efektif dalam mengobati infeksi, namun efektivitas ini tidak secara otomatis berimplikasi pada kemampuannya untuk mencegah komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur. 

Hal ini mengindikasikan bahwa proses patofisiologis yang menghubungkan VB dengan kelahiran prematur kemungkinan lebih kompleks daripada sekadar keberadaan bakteri anaerob. Kaskade inflamasi yang dipicu oleh disbiosis mungkin telah berjalan dan tidak dapat sepenuhnya dihentikan oleh antibiotik, atau proses tersebut telah dimulai sebelum pengobatan dapat memberikan efek preventif. 

Oleh karena itu, tujuan klinis pemberian metronidazole harus didefinisikan dengan jelas: apakah untuk meredakan gejala dan memulihkan flora normal, atau untuk mencegah kelahiran prematur. Bukti yang ada sangat mendukung tujuan pertama, namun tidak untuk yang kedua.

Bagian 2: Evaluasi Kritis Efikasi Metronidazole dalam Pencegahan Kelahiran Prematur: Sebuah Analisis Bukti yang Berkembang

Bagian ini merupakan inti dari laporan, yang secara mendalam menganalisis bukti-bukti yang kompleks dan seringkali bertentangan mengenai peran metronidazole dalam mencegah kelahiran prematur (PTB). Analisis disajikan secara kronologis dan metodologis untuk menyoroti pergeseran pemahaman seiring dengan tersedianya bukti-bukti berkualitas lebih tinggi.

2.1. Tinjauan Awal dan Harapan dari Meta-analisis Terdahulu

Penelitian-penelitian awal dan meta-analisis terdahulu memberikan secercah harapan dan menjadi justifikasi kuat untuk praktik skrining dan pengobatan VB pada kehamilan. Sebuah tinjauan sistematis Cochrane pada tahun 2012, meskipun tidak menemukan penurunan risiko PTB secara keseluruhan sebelum 37 minggu (RR 0.88; 95% CI 0.71 hingga 1.09), melaporkan temuan signifikan lainnya. Tinjauan tersebut menemukan bahwa pengobatan VB secara signifikan mengurangi risiko keguguran trimester lanjut (RR 0.20; 95% CI 0.05 hingga 0.76), sebuah hasil yang sangat penting secara klinis.

Tinjauan yang sama juga mengisyaratkan adanya potensi manfaat pada subkelompok tertentu. Pada wanita dengan flora vagina abnormal (baik VB maupun flora intermediet), pengobatan dikaitkan dengan penurunan risiko PTB sebelum 37 minggu (RR 0.53; 95% CI 0.34 hingga 0.84). Dukungan lebih lanjut datang dari tinjauan lain yang menyimpulkan bahwa pemberian antibiotik oral selama setidaknya 7 hari secara signifikan mengurangi risiko PTB dibandingkan plasebo (OR 0.42; 95% CI: 0.27, 0.67). 

Hipotesis bahwa waktu intervensi adalah kunci juga sempat menguat; sebuah meta-analisis menemukan bahwa pengobatan yang dimulai sebelum usia kehamilan 20 minggu dikaitkan dengan penurunan risiko PTB sebelum 37 minggu (Peto OR 0.72, 95% CI 0.55 hingga 0.95). Temuan-temuan awal yang menjanjikan ini secara kolektif memberikan dasar rasional untuk praktik skrining dan pengobatan, terutama pada populasi berisiko tinggi atau ketika terapi dapat dimulai pada awal kehamilan.

2.2. Pergeseran Paradigma: Bukti Definitif dari Meta-analisis Data Partisipan Individual (IPD)

Seiring berjalannya waktu, kemajuan metodologi penelitian, terutama dengan munculnya meta-analisis data partisipan individual (IPD), telah menyebabkan pergeseran paradigma yang signifikan. IPD, yang mengumpulkan dan menganalisis data mentah dari setiap partisipan dalam uji klinis, dianggap sebagai standar emas dalam sintesis bukti karena kemampuannya untuk melakukan analisis yang lebih standar dan andal. 

Meta-analisis IPD terbaru yang dipublikasikan pada tahun 2023, yang mengintegrasikan data dari 23 uji klinis dengan total lebih dari 11,000 partisipan, memberikan kesimpulan yang paling kuat hingga saat ini. Hasilnya sangat jelas: pengobatan dengan metronidazole tidak menunjukkan manfaat dalam mencegah PTB. 

Odds ratio (OR) untuk PTB pada kelompok metronidazole dibandingkan plasebo Adalah 1.00 (95% CI 0.84, 1.17) sebelum imputasi data, dan 0.95 (95% CI 0.81, 1.11) setelah imputasi data dari studi yang tidak menyediakan data mentah. Nilai OR yang mendekati 1.0 dengan interval kepercayaan yang menyilangi angka 1 ini secara definitif menunjukkan tidak adanya efek pengobatan.

Temuan ini diperkuat oleh analisis lain yang berfokus pada pengobatan sebelum 28 minggu kehamilan, yang juga tidak menemukan adanya penurunan insiden persalinan prematur dengan metronidazole oral (OR 0.94, 95% CI 0.71-1.25). Selain itu, sebuah RCT besar yang dilakukan oleh NICHD Network pada hampir 2000 wanita hamil menemukan bahwa angka kelahiran prematur hampir identik antara kelompok metronidazole (12.2%) dan kelompok plasebo (12.5%), dengan rasio risiko 1.0. Bukti-bukti berkualitas tinggi ini secara konsisten menyanggah temuan-temuan optimis dari studi-studi sebelumnya.

2.3. Analisis Sub-kelompok: Mencari Populasi yang Responsif

Meskipun temuan secara keseluruhan negatif, analisis sub-kelompok tetap penting untuk mengeksplorasi apakah ada populasi spesifik yang mungkin mendapat manfaat dari pengobatan. Namun, harapan ini pun tidak terbukti.

  • Wanita dengan Riwayat PTB (Risiko Tinggi): Kelompok ini secara historis dianggap sebagai target utama intervensi. Namun, tinjauan Cochrane menemukan bahwa pada wanita dengan riwayat PTB, pengobatan VB tidak memengaruhi risiko PTB berikutnya (RR rata-rata 0.78; 95% CI 0.42 hingga 1.48). Tinjauan oleh USPSTF juga melaporkan hasil yang tidak konsisten dari lima uji klinis pada kelompok ini. Kesimpulan ini dipertegas oleh meta-analisis IPD terbaru yang juga tidak menemukan manfaat pada subkelompok berisiko tinggi ini.

  • Wanita Risiko Rendah: Pada wanita tanpa riwayat PTB, sebuah meta-analisis tidak menemukan perbedaan signifikan secara statistik dalam tingkat PTB (OR 1.25; 95% CI: 0.86, 1.81). Temuan ini mengarah pada rekomendasi untuk tidak mengalokasikan sumber daya untuk program skrining dan pengobatan pada populasi risiko rendah.

  • Waktu Pemberian Terapi: Hipotesis bahwa "lebih awal lebih baik" juga telah diuji dan dibantah. Tinjauan Cochrane 2012 menemukan bahwa pengobatan sebelum 20 minggu kehamilan tidak mengurangi risiko PTB (RR 0.85; 95% CI 0.62 hingga 1.17). Temuan ini dikonfirmasi oleh meta-analisis IPD 2023, yang tidak menemukan bukti bahwa pemberian terapi lebih awal lebih efektif.

Evolusi bukti ini menyoroti pentingnya kualitas metodologi penelitian. Studi-studi awal yang menunjukkan potensi manfaat seringkali merupakan meta-analisis tradisional yang menggabungkan data ringkasan dari berbagai uji klinis. Studi-studi ini seringkali memiliki heterogenitas yang tinggi (nilai I2 yang tinggi seperti 48% dan 72% dicatat dalam ), yang berarti uji klinis yang digabungkan sangat berbeda satu sama lain, membuat hasil gabungannya kurang dapat diandalkan. 

Sebaliknya, meta-analisis IPD secara langsung menguji hipotesis-hipotesis yang menjanjikan tersebut dengan metodologi yang superior dan menemukan bahwa hipotesis tersebut tidak terdukung. Oleh karena itu, praktik klinis harus didasarkan pada bukti berkualitas tertinggi, yang saat ini menunjukkan bahwa metronidazole tidak efektif untuk pencegahan PTB.

Studi/Sumber (Tahun)

Jenis Studi

Populasi

Hasil Kunci (OR/RR dengan 95% CI untuk PTB <37 minggu)

Kesimpulan Utama

Brocklehurst et al. (2013)

Cochrane Review

Umum/Subkelompok

Umum: RR 0.88 (0.71, 1.09) Flora Abnormal: RR 0.53 (0.34, 0.84)

Tidak ada manfaat secara keseluruhan, tetapi mungkin bermanfaat pada subkelompok dengan flora abnormal dan mengurangi keguguran lanjut.

McDonald et al. (2005)

Meta-analisis

Risiko Tinggi & Rendah

Risiko Rendah: OR 1.25 (0.86, 1.81) Oral ≥7 hari: OR 0.42 (0.27, 0.67)

Tidak ada manfaat pada risiko rendah. Potensi manfaat dengan terapi oral durasi panjang.

Carey et al. (2000)

RCT (N=1953)

Populasi Umum

RR 1.0 (0.8, 1.2)

Pengobatan VB asimtomatik tidak mengurangi kelahiran prematur.

Sangkomkamhang et al. (2019)

Meta-analisis

Terapi <28 minggu

Metronidazole: OR 0.94 (0.71, 1.25)

Pengobatan dengan metronidazole sebelum 28 minggu tidak mengurangi insiden persalinan prematur.

Roberts et al. (2023)

IPD Meta-analisis (N>11,000)

Umum/Subkelompok

Metronidazole: OR 0.95 (0.81, 1.11)

Bukti Definitif: Tidak ada bukti bahwa metronidazole mengurangi PTB pada populasi manapun, terlepas dari waktu terapi atau riwayat PTB.


Bagian 3: Profil Keamanan Metronidazole pada Kehamilan: Penilaian Risiko Teratogenisitas dan Efek Samping Lainnya

Bagian ini memberikan tinjauan komprehensif dan meyakinkan mengenai profil keamanan metronidazole, mengatasi secara langsung kekhawatiran umum di kalangan klinisi. Analisis ini secara sistematis mengevaluasi risiko teratogenisitas dan efek samping lainnya untuk memberikan panduan yang seimbang.

3.1. Risiko Malformasi Kongenital dan Teratogenisitas (Trimester Pertama)

Kekhawatiran mengenai potensi efek teratogenik dari obat yang digunakan pada awal kehamilan adalah hal yang utama. Untungnya, bukti ilmiah yang menentang efek teratogenik dari metronidazole sangat luas, konsisten, dan meyakinkan. Metronidazole diklasifikasikan sebagai Kategori B Kehamilan oleh FDA, yang berarti studi pada hewan tidak menunjukkan adanya bahaya pada janin, meskipun studi terkontrol pada manusia secara historis masih kurang. Namun, data observasional pada manusia yang terakumulasi selama beberapa dekade terakhir kini memberikan jaminan yang kuat.

Sebuah meta-analisis yang menggabungkan data dari lima studi, termasuk lebih dari 2,500 wanita yang terpapar metronidazole pada trimester pertama, tidak menemukan adanya hubungan antara paparan obat dan cacat lahir. Odds Ratio (OR) ringkasan adalah 1.08 (95% CI: 0.90, 1.29), menunjukkan tidak adanya peningkatan risiko. Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis lain yang dikutip dalam tinjauan USPSTF, yang juga melaporkan tidak ada asosiasi signifikan antara paparan metronidazole dan malformasi kongenital (OR 0.96; 95% CI 0.75 hingga 1.22).

Lebih lanjut, sebuah studi kohort besar yang melibatkan 2,829 pasangan ibu-bayi juga tidak menemukan adanya hubungan antara pengobatan metronidazole pada trimester pertama dan anomali kongenital (OR yang disesuaikan 0.86; 95% CI 0.30 hingga 2.45). Sebuah tinjauan literatur yang komprehensif menyimpulkan bahwa data yang dipublikasikan selama hampir empat dekade mengindikasikan bahwa metronidazole bukanlah teratogen bagi manusia, terlepas dari trimester penggunaannya. Konsistensi temuan di berbagai studi berkualitas tinggi ini memberikan sinyal yang sangat kuat dan dapat diandalkan mengenai keamanan metronidazole terkait risiko teratogenisitas.

3.2. Risiko Maternal dan Fetal Lainnya

Selain teratogenisitas, penting untuk mengevaluasi risiko potensial lainnya bagi ibu dan janin.

  • Aborsi Spontan: Sebuah tinjauan literatur mencatat adanya asosiasi dengan peningkatan risiko aborsi spontan sebesar 70% pada pengguna metronidazole. Namun, studi yang sama memberikan peringatan penting bahwa temuan ini harus diinterpretasikan dengan sangat hati-hati. Terdapat faktor perancu (confounder) yang signifikan, yaitu keparahan infeksi genitourinari itu sendiri. Ini berarti bahwa wanita dengan infeksi yang lebih parah secara inheren memiliki risiko keguguran yang lebih tinggi dan pada saat yang sama lebih mungkin untuk diresepkan antibiotik. Dengan demikian, peningkatan risiko tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh penyakit yang mendasarinya, bukan oleh obatnya. Ini adalah contoh klasik dari "confounding by indication".

  • Efek Samping Maternal: Efek samping pada ibu akibat pengobatan metronidazole umumnya jarang terjadi dan bersifat ringan. Efek samping yang paling umum dilaporkan adalah kandidiasis vulvovaginal pasca-pengobatan. Sebuah studi mencatat tingkat kandidiasis pasca-terapi sebesar 12.5% pada kelompok metronidazole oral dan 30.4% pada kelompok gel metronidazole vagina. Meskipun ringan, beberapa efek samping terkadang cukup mengganggu sehingga menyebabkan pasien menghentikan atau mengubah pengobatan (RR 1.66; 95% CI 1.02 hingga 2.68).

  • Luaran Neonatal Lainnya: Pengobatan dengan metronidazole tidak terbukti mengurangi insiden sepsis neonatal atau kebutuhan perawatan di NICU. Studi kohort besar juga tidak menemukan hubungan antara penggunaan metronidazole dengan berat badan lahir rendah (OR yang disesuaikan 1.05; 95% CI 0.77 hingga 1.43). Satu studi melaporkan tidak ada peningkatan insiden kanker pada masa kanak-kanak di antara anak-anak yang terpapar metronidazole secara in utero, meskipun diakui bahwa bukti ini memiliki keterbatasan.

Potensi Risiko

Temuan Kunci (OR/RR dengan 95% CI)

Interpretasi Klinis/Komentar

Malformasi Kongenital (Trimester 1)

OR 1.08 (0.90, 1.29) OR 0.96 (0.75, 1.22)

Sangat Meyakinkan: Tidak ada bukti peningkatan risiko teratogenik. Metronidazole aman digunakan pada trimester pertama jika ada indikasi klinis.

Aborsi Spontan

Dilaporkan peningkatan risiko 70%

Perlu Interpretasi Hati-hati: Risiko kemungkinan besar disebabkan oleh keparahan infeksi (confounding by indication), bukan oleh obat itu sendiri.

Efek Samping Maternal

RR 1.66 (1.02, 2.68) untuk penghentian terapi Kandidiasis umum terjadi.

Efek samping umumnya ringan (mual, rasa logam, kandidiasis), namun dapat memengaruhi kepatuhan pasien.

Luaran Neonatal (Berat Lahir Rendah)

OR 1.05 (0.77, 1.43)

Tidak ada asosiasi antara pengobatan metronidazole dengan berat badan lahir rendah.


Bagian 4: Konteks Klinis Praktis: Dosis, Rute Pemberian, dan Analisis Komparatif

Bagian ini menyajikan informasi praktis yang dapat langsung diterapkan oleh dokter umum dalam praktik sehari-hari, dengan fokus pada dosis spesifik, perbandingan rute pemberian, dan analisis komparatif dengan alternatif utama, yaitu klindamisin.

4.1. Analisis Regimen Dosis dan Rute Pemberian Metronidazole

Berikut adalah rincian regimen dosis metronidazole yang didukung oleh bukti ilmiah yang tersedia, yang secara langsung menjawab pertanyaan seputar "Dosis Obat Metronidazole dalam Kehamilan".

  • Regimen Oral:

  • Dosis Standar: 500 mg diminum dua kali sehari selama 7 hari. Ini merupakan regimen yang paling umum digunakan dan telah terbukti efektif dalam mencapai kesembuhan klinis VB.

  • Dosis Alternatif: Sebuah studi besar mengevaluasi regimen dua dosis tunggal 2-gram yang diberikan pada interval tertentu (misalnya, pada 16-24 minggu dan diulang pada 24-30 minggu). Namun, perlu dicatat bahwa regimen ini digunakan dalam konteks studi pencegahan PTB, bukan untuk pengobatan akut VB simtomatik.

  • Regimen Vaginal:

  • Dosis Standar: 0.75% metronidazole gel vagina, 5 gram, diaplikasikan dua kali sehari selama 5 hari.

  • Dosis Alternatif: Sebuah formulasi 1.3% metronidazole gel vagina dosis tunggal juga telah terbukti aman dan efektif (dibandingkan plasebo) pada wanita tidak hamil, yang memberikan opsi terapi yang lebih nyaman bagi pasien.

  • Perbandingan Rute Oral vs. Vaginal:

  • Pilihan antara rute oral dan vaginal melibatkan pertimbangan efikasi, efek samping, dan preferensi pasien.

  • Sebuah studi yang membandingkan kedua rute pada wanita hamil berisiko tinggi menemukan bahwa terapi oral (baik metronidazole maupun klindamisin) menunjukkan luaran yang lebih baik dibandingkan formulasi intravaginal dalam hal peningkatan berat lahir dan perpanjangan usia kehamilan. Tinjauan lain juga mencatat beberapa keuntungan antibiotik oral dibandingkan vaginal terkait luaran neonatal dalam satu uji coba.

  • Namun, dari segi kepuasan pasien, produk intravaginal dilaporkan lebih disukai, kemungkinan karena efek samping sistemik yang lebih rendah.

Regimen Terapi

Rute

Dosis Spesifik

Durasi

Tingkat Kesembuhan Klinis

Metronidazole Oral

Oral

500 mg, 2 kali sehari

7 hari

84.2%

Metronidazole Gel Vaginal

Vaginal

0.75% gel, 5 g, 2 kali sehari

5 hari

75.0%

Klindamisin Krim Vaginal (untuk perbandingan)

Vaginal

2% krim, 5 g, 1 kali sehari

7 hari

86.2%


4.2. Efektivitas Komparatif: Metronidazole versus Klindamisin

Klindamisin merupakan antibiotik alternatif utama untuk pengobatan VB, dan perbandingannya dengan metronidazole sangat relevan dalam praktik klinis.

  • Angka Kesembuhan VB: Dalam hal penyembuhan infeksi, kedua obat ini menunjukkan efektivitas yang hampir setara. Sebuah RCT tidak menemukan perbedaan statistik yang signifikan dalam tingkat kesembuhan antara metronidazole oral (84.2%), metronidazole gel (75.0%), dan klindamisin krim vagina (86.2%). Hal ini menunjukkan bahwa keduanya adalah pilihan yang valid untuk eradikasi VB.

  • Pencegahan PTB: Di sinilah perbandingan menjadi paling menarik dan akhirnya konvergen. Meta-analisis IPD 2023 pada awalnya menunjukkan temuan yang menarik: ketika hanya menganalisis studi yang menyediakan data mentah, klindamisin—tidak seperti metronidazole—tampak bermanfaat dalam mengurangi PTB (OR 0.59; 95% CI 0.42, 0.82). Temuan awal ini sempat memicu perdebatan mengenai superioritas klindamisin.

  • Namun, setelah para peneliti melakukan imputasi data (sebuah teknik statistik untuk memperhitungkan data yang hilang dari studi yang tidak menyediakan data mentah), manfaat klindamisin ini menghilang. OR yang telah disesuaikan menjadi 0.90 (95% CI: 0.72, 1.12), yang tidak lagi signifikan secara statistik.

  • Analisis yang lebih lengkap dan metodologis ini menunjukkan bahwa keunggulan klindamisin yang tampak pada awalnya kemungkinan besar merupakan artefak dari data yang hilang. Kesimpulan akhir dari bukti berkualitas tertinggi adalah bahwa baik metronidazole maupun klindamisin tidak efektif dalam mengurangi risiko PTB.

  • Pilihan Klinis: Pilihan antara kedua obat ini harus didasarkan pada faktor-faktor lain. Sebuah studi pada wanita hamil berisiko tinggi merekomendasikan metronidazole oral sebagai obat pilihan karena tingkat kesembuhan yang tinggi, luaran yang lebih baik (dibandingkan formulasi vagina), dan biaya yang lebih rendah. Keputusan klinis harus mempertimbangkan profil efek samping (misalnya, klindamisin memiliki risiko lebih tinggi untuk
    Clostridium difficile colitis), biaya, dan preferensi pasien, bukan pada premis yang keliru bahwa salah satunya lebih baik dalam mencegah kelahiran prematur.

Bagian 5: Sintesis dan Implikasi Klinis untuk Praktik Dokter Umum

Bagian akhir ini menyintesis seluruh analisis menjadi serangkaian kesimpulan dan rekomendasi klinis yang jelas, ringkas, dan dapat ditindaklanjuti, yang dirancang khusus untuk audiens dokter umum.

5.1. Ringkasan Bukti Kunci

  • Efikasi: Metronidazole sangat efektif untuk mencapai penyembuhan klinis dan mikrobiologis dari Vaginosis Bakterialis pada kehamilan. Kemampuannya untuk memberantas infeksi sudah terbukti dengan baik.

  • Pencegahan PTB: Bukti berkualitas tertinggi saat ini, terutama dari meta-analisis IPD, secara konsisten menunjukkan bahwa pengobatan VB (baik dengan metronidazole maupun klindamisin) pada wanita hamil tidak mengurangi risiko kelahiran prematur. Manfaat ini tidak terbukti, terlepas dari populasi risiko pasien (risiko tinggi atau rendah) atau waktu dimulainya pengobatan (awal atau akhir kehamilan).

  • Keamanan: Metronidazole memiliki profil keamanan yang sangat baik untuk digunakan selama kehamilan. Secara khusus, tidak ada bukti peningkatan risiko malformasi kongenital, bahkan dengan paparan pada trimester pertama. Laporan mengenai peningkatan risiko aborsi spontan kemungkinan besar dipengaruhi oleh keparahan infeksi yang mendasarinya (confounding by indication) dan bukan disebabkan oleh obat itu sendiri.

5.2. Implikasi untuk Praktik Klinis

Berdasarkan sintesis bukti di atas, berikut adalah implikasi praktis bagi dokter umum:

  • Indikasi Pengobatan: Pengobatan VB pada kehamilan harus ditujukan untuk meredakan gejala maternal (seperti keputihan yang mengganggu) dan memulihkan flora vagina yang sehat. Pengobatan tidak boleh dimulai dengan ekspektasi atau tujuan utama untuk mencegah kelahiran prematur.

  • Skrining: Skrining universal dan pengobatan VB asimtomatik pada populasi kehamilan umum atau bahkan pada kelompok risiko tinggi, dengan satu-satunya tujuan untuk mencegah PTB, tidak didukung oleh bukti saat ini. Sumber daya klinis lebih baik dialokasikan untuk intervensi lain yang terbukti efektif.

  • Pilihan Terapi dan Dosis:

  • Regimen Metronidazole oral 500 mg dua kali sehari selama 7 hari adalah pilihan lini pertama yang efektif, didukung oleh bukti kuat, dan hemat biaya.

  • Formulasi vaginal (metronidazole atau klindamisin) merupakan alternatif yang valid, terutama jika ada kekhawatiran mengenai efek samping sistemik atau jika pasien memiliki preferensi yang kuat untuk terapi lokal.

  • Klinisi harus merasa yakin untuk meresepkan metronidazole pada setiap trimester kehamilan ketika diindikasikan secara klinis (yaitu, untuk VB simtomatik), berdasarkan profil keamanannya yang kuat terkait risiko teratogenisitas.

5.3. Komunikasi dengan Pasien

Komunikasi yang efektif dengan pasien sangat penting untuk mengelola ekspektasi dan memastikan pengambilan keputusan bersama yang terinformasi.

  • Jelaskan kepada pasien bahwa tujuan pengobatan adalah untuk mengatasi infeksi dan menghilangkan gejala yang mungkin mereka alami. Penting untuk secara jujur menyampaikan bahwa meskipun infeksi ini dikaitkan dengan risiko persalinan prematur, pengobatan dengan antibiotik saat ini belum terbukti dapat mengurangi risiko tersebut.

  • Saat membahas keamanan obat, berikan jaminan yang kuat berdasarkan bukti ekstensif bahwa metronidazole tidak menyebabkan cacat lahir. Pada saat yang sama, jelaskan bahwa infeksi itu sendiri (jika tidak diobati) dapat membawa risiko bagi kehamilan. Pendekatan yang seimbang ini memberdayakan pasien untuk menerima pengobatan yang diperlukan tanpa rasa takut yang tidak berdasar, sambil memahami alasan klinis di balik terapi tersebut.

Referensi

  1. Antibiotics for treating bacterial vaginosis in pregnancy - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23440777/

  2. Bacterial vaginosis in pregnancy: an approach for the 1990s - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7659396/

  3. The safety of metronidazole in pregnancy - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33739240/

  4. Investigation of Metronidazole Use during Pregnancy and Adverse ..., accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3421860/

  5. Metronidazole to prevent preterm delivery in pregnant women with asymptomatic bacterial vaginosis. National Institute of Child Health and Human Development Network of Maternal-Fetal Medicine Units - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10684911/

  6. Treatment of bacterial vaginosis: a comparison of oral metronidazole ..., accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7595261/

  7. Antibiotic treatment of bacterial vaginosis in pregnancy: a meta-analysis - NCBI, accessed July 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK69960/

  8. Antibiotics for treating bacterial vaginosis in pregnancy - PMC - PubMed Central, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4164464/

  9. Antibiotic treatment of bacterial vaginosis to prevent preterm delivery ..., accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10171232/

  10. Antibiotic treatment of bacterial vaginosis to prevent preterm delivery: Systematic review and individual participant data meta-analysis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36651636/

  11. Treatment of bacterial vaginosis before 28 weeks of pregnancy to reduce the incidence of preterm labor - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31022300/

  12. Screening for Bacterial Vaginosis in Pregnant Adolescents and Women to Prevent Preterm Delivery: Updated Evidence Report and Systematic Review for the US Preventive Services Task Force - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32259235/

  13. Is metronidazole teratogenic: a meta-analysis - Database of ... - NCBI, accessed July 21, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK66832/

  14. Metronidazole Appears Not to Be a Human Teratogen: Review of Literature - PMC, accessed July 21, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2364581/

  15. A Phase 3, Multicenter, Randomized, Double-Blind, Vehicle-Controlled Study Evaluating the Safety and Efficacy of Metronidazole Vaginal Gel 1.3% in the Treatment of Bacterial Vaginosis - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26222750/

  16. Treatment options for bacterial vaginosis in patients at high risk of preterm labor and premature rupture of membranes - PubMed, accessed July 21, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18001442/