25 Mar 2026 • Kulit
Pendahuluan
Hiperpigmentasi pasca inflamasi (HPI) merupakan konsekuensi umum dari berbagai kondisi peradangan kulit, termasuk jerawat atau akne vulgaris. Kondisi ini ditandai dengan munculnya bercak-bercak gelap pada area kulit yang sebelumnya mengalami peradangan. HPI cenderung lebih sering terjadi dan dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi pada individu dengan warna kulit lebih gelap.
Jerawat merupakan salah satu penyebab utama HPI, dan bagi sebagian pasien, perubahan warna kulit ini bahkan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang lebih besar dibandingkan dengan jerawat itu sendiri. Meskipun banyak penelitian berfokus pada HPI di wajah, jerawat di punggung dan HPI yang menyertainya juga merupakan masalah yang umum dan dapat secara signifikan memengaruhi kualitas hidup pasien.
Mengingat dokter umum sering menjadi titik kontak pertama bagi pasien dengan keluhan kulit, pemahaman yang komprehensif mengenai tatalaksana HPI bekas jerawat di punggung menjadi sangat penting untuk praktik sehari-hari.
Gambar 1. Hiperpigmentasi post inflamasi setelah light electrodessication

Dampak psikologis dari HPI, terutama pada individu dengan kulit berwarna, menunjukkan betapa pentingnya strategi penanganan yang efektif bagi dokter umum yang sering menjadi garda terdepan dalam perawatan pasien ini. Perubahan pigmen ini bukan hanya masalah kosmetik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional pasien.
Selain itu, penelitian yang lebih banyak berfokus pada HPI wajah dapat berarti bahwa nuansa spesifik dalam mengobati HPI di punggung kurang terdokumentasi, sehingga memerlukan kehati-hatian dalam menerapkan pengetahuan yang ada. Mayoritas kasus HPI yang diteliti cenderung berlokasi di wajah, yang mengindikasikan adanya kemungkinan bias penelitian. Oleh karena itu, meskipun prinsip-prinsip umum berlaku, dokter perlu menyadari potensi perbedaan ketika menangani HPI di area punggung.

Memahami Hiperpigmentasi Pasca Inflamasi Bekas Jerawat di Punggung
Hiperpigmentasi pasca inflamasi adalah kondisi hiperpigmentasi yang didapat dan terjadi setelah adanya peradangan atau cedera pada kulit, seperti yang disebabkan oleh jerawat. Proses peradangan memicu pelepasan berbagai mediator inflamasi, termasuk prostaglandin dan spesies oksigen reaktif. Mediator-mediator ini kemudian merangsang melanosit, yaitu sel-sel penghasil pigmen, untuk memproduksi melanin secara berlebihan. Melanin yang berlebihan ini kemudian ditransfer ke keratinosit, sel-sel kulit di sekitarnya, di lapisan epidermis dan terkadang dapat merembes ke lapisan dermis.
Patogenesis pasti dari HPI belum sepenuhnya dipahami, namun diyakini sebagai bagian dari respons normal kulit terhadap rangsangan inflamasi. Aktivasi melanosit oleh mediator inflamasi menyebabkan peningkatan sintesis melanin. Menariknya, tingkat pigmentasi kulit seseorang mungkin lebih berperan dalam timbulnya HPI dibandingkan dengan ras atau etnis. Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya HPI bekas jerawat di punggung.
Individu dengan warna kulit lebih gelap (tipe kulit Fitzpatrick III-VI) lebih rentan terhadap HPI karena ukuran melanosom yang lebih besar, jumlah melanin yang lebih banyak, serta peningkatan eumelanin. Selain itu, tingkat keparahan dan durasi peradangan jerawat juga dapat memengaruhi kemungkinan dan intensitas HPI. Paparan radiasi ultraviolet (UV) juga diketahui dapat memperburuk HPI.
Pemahaman mengenai perbedaan lokasi melanin yang berlebihan (epidermal vs. dermal) sangat penting karena memengaruhi pendekatan pengobatan dan prognosis. HPI epidermal, yang tampak sebagai perubahan warna cokelat, cenderung membaik lebih cepat seiring waktu. Sebaliknya, HPI dermal, yang seringkali disebabkan oleh peradangan yang lebih dalam atau kronis dan tampak sebagai warna biru keabu-abuan, cenderung lebih persisten. Perbedaan ini penting untuk memberikan ekspektasi yang realistis kepada pasien dan dalam memilih strategi pengobatan yang tepat.
Pilihan Terapi Topikal untuk Hiperpigmentasi Bekas Jerawat di Punggung
Berbagai agen topikal tersedia dan umum digunakan dalam mengatasi hiperpigmentasi bekas jerawat di punggung. Beberapa di antaranya meliputi retinoid (seperti tretinoin, adapalene, tazarotene) , hydroquinone , asam azelat , asam kojik , niacinamide , vitamin C (asam askorbat) , asam traneksamat , thiamidol (isobutylamido-thiazolyl-resorcinol) , arbutin , ekstrak licorice , dan cysteamine.
Setiap agen topikal ini bekerja melalui mekanisme yang berbeda dalam mengatasi hiperpigmentasi. Retinoid bekerja dengan memodulasi proliferasi sel, diferensiasi, dan kohesivitas, serta menginduksi apoptosis dan menunjukkan sifat anti-inflamasi. Hydroquinone menghambat enzim tirosinase, yang berperan penting dalam produksi melanin, sehingga menghalangi konversi DOPA menjadi melanin. Selain itu, hydroquinone juga dapat menghambat sintesis DNA/RNA dan secara selektif merusak melanosit.
Asam azelat adalah asam dikarboksilat alami yang memiliki sifat depigmentasi meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya jelas. Asam kojik juga merupakan penghambat tirosinase. Niacinamide diduga bekerja dengan menghambat transfer melanosom ke keratinosit. Vitamin C memiliki sifat antioksidan dan dapat mengganggu produksi melanin. Asam traneksamat memiliki efek depigmentasi. Thiamidol adalah penghambat tirosinase yang efektif. Arbutin dan ekstrak licorice juga bekerja sebagai penghambat tirosinase. Cysteamine merupakan pilihan yang kuat untuk mengatasi gangguan hiperpigmentasi.
Banyaknya pilihan agen topikal yang tersedia menunjukkan kompleksitas pengobatan HPI dan perlunya pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Tidak ada satu agen pun yang dapat dianggap sebagai solusi tunggal, dan pemilihan agen bergantung pada berbagai faktor seperti jenis kulit, tingkat keparahan HPI, dan toleransi pasien terhadap pengobatan. Selain itu, perlu diperhatikan bahwa banyak dari agen topikal ini juga berperan dalam pengobatan jerawat aktif, sehingga menjadikannya pilihan yang sangat berguna ketika mengatasi baik penyebab maupun akibat dari masalah kulit ini.
Panduan Dosis dan Penggunaan Terapi Topikal
Berikut adalah panduan dosis umum, frekuensi aplikasi, dan durasi terapi yang direkomendasikan untuk beberapa agen topikal utama dalam pengobatan HPI bekas jerawat di punggung:
Agen Topikal | Konsentrasi Umum | Frekuensi Penggunaan | Durasi Umum |
Hydroquinone | 2-4% | 1-2 kali sehari | 3-6 bulan |
Azelaic Acid | 15-20% | 2 kali sehari | 12-16 minggu |
Tretinoin | 0.025-0.1% | 1 kali sehari | Beberapa bulan |
Adapalene | 0.1-0.3% | 1 kali sehari | Beberapa bulan |
Tazarotene | 0.045-0.1% | 1 kali sehari | Beberapa bulan |
Clindamycin/Tretinoin | 1.2%/0.025% | 1 kali sehari | 12 minggu |
Hydroquinone/Retinol | 4%/0.15% | 2 kali sehari | 12 minggu |
Sunscreen | SPF 30 atau lebih | Setiap hari | Jangka panjang |
Hydroquinone umumnya digunakan pada konsentrasi 2-4%, dan dapat diresepkan hingga 10%. Krim ini dioleskan tipis-tipis pada area yang terkena 1-2 kali sehari selama 3-6 bulan. Untuk pemeliharaan, penggunaan dapat dikurangi menjadi akhir pekan saja atau tiga kali seminggu. Jika tidak ada perbaikan setelah 2-3 bulan, penggunaan hydroquinone harus dihentikan.
Gel asam azelat 15% yang digunakan dua kali sehari selama 16 minggu menunjukkan perbaikan yang signifikan. Krim asam azelat 20% yang digunakan dua kali sehari selama 12 minggu memiliki efektivitas yang sebanding dengan larutan asam traneksamat 5%. Tretinoin dengan konsentrasi 0.04%, 0.05%, dan 0.1% telah menunjukkan efikasi parsial. Krim 0.1% menunjukkan perbaikan sejak minggu ke-4 dan berlangsung selama 40 minggu , sementara losion 0.05% menunjukkan perbaikan selama 12 minggu.
Penggunaan retinoid sebaiknya dimulai dengan konsentrasi rendah dan ditingkatkan sesuai kebutuhan, hingga dua atau tiga kali sehari. Jika terjadi reaksi merugikan seperti kulit kering atau kemerahan, frekuensi aplikasi dapat dikurangi. Adapalene gel 0.1% yang digunakan sekali sehari selama 12 minggu menunjukkan penurunan jumlah makula. Tazarotene krim 0.1% yang digunakan sekali sehari selama 18 minggu menunjukkan pengurangan intensitas pigmentasi.
Gel kombinasi clindamycin 1.2% dan tretinoin 0.025% yang digunakan sekali sehari selama 12 minggu menunjukkan perbaikan HPI yang lebih besar. Krim kombinasi hydroquinone 4% dan retinol 0.15% yang digunakan dua kali sehari selama 12 minggu menunjukkan penurunan pigmentasi. Penggunaan tabir surya setiap hari dengan SPF 30 atau 60 selama delapan minggu juga terbukti memperbaiki HPI.
Penting untuk memulai terapi topikal dengan konsentrasi rendah untuk meminimalkan risiko iritasi dan memantau toleransi pasien terhadap pengobatan. Variabilitas dosis dan durasi yang efektif di berbagai penelitian menunjukkan perlunya pertimbangan klinis dan individualisasi pengobatan. Dokter perlu mempertimbangkan respons pasien terhadap terapi dan menyesuaikan rejimen pengobatan sesuai kebutuhan. Rekomendasi yang konsisten untuk penggunaan tabir surya menekankan peran fundamentalnya dalam mencegah dan mengobati HPI.
Perbandingan Efektivitas Terapi Topikal
Beberapa studi komparatif telah meneliti efektivitas berbagai agen topikal dalam mengatasi HPI. Sebuah studi yang membandingkan krim asam azelat 20% dengan larutan asam traneksamat 5% menemukan efikasi yang sebanding dalam mengobati HPI terkait jerawat, dengan asam traneksamat menunjukkan profil keamanan yang lebih baik pada bulan pertama pengobatan.
Studi lain menunjukkan bahwa penggunaan gel asam azelat 15% dua kali sehari selama 16 minggu menghasilkan perbaikan HPI yang signifikan secara statistik. Terapi kombinasi tiga agen (hydroquinone, retinoid topikal, kortikosteroid topikal) telah menunjukkan efikasi yang lebih unggul dibandingkan dengan monoterapi hydroquinone untuk melasma. Sebuah tinjauan sistematis mencatat bahwa retinoid topikal sering digunakan (22% dari intervensi) dan menunjukkan perbaikan parsial pada 85% peserta.
Tinjauan sistematis lainnya menyimpulkan bahwa pendekatan pengobatan saat ini menghasilkan tingkat respons lengkap yang tidak memuaskan, tetapi terapi kombinasi, laser, perangkat berbasis energi, dan terapi topikal menunjukkan tingkat respons parsial yang tinggi.
Gambar 2. Dua pasien grup dengan terapi asam tranexamat sebelum terapi (A) dan setelah 12 minggu terapi (B)

Meskipun hydroquinone sering dianggap sebagai standar emas, agen lain seperti asam azelat dan asam traneksamat menunjukkan hasil yang menjanjikan dan mungkin lebih dapat ditoleransi oleh beberapa pasien. Efektivitas asam azelat dan asam traneksamat yang sebanding dengan hydroquinone, serta potensi efek samping dari penggunaan hydroquinone jangka panjang , menunjukkan bahwa alternatif ini perlu dipertimbangkan, terutama untuk terapi pemeliharaan. Selain itu, terapi kombinasi tampaknya menjadi strategi kunci untuk memaksimalkan keberhasilan pengobatan HPI. Penggunaan beberapa agen dengan mekanisme kerja yang berbeda dapat lebih efektif daripada monoterapi.
Pertimbangan Khusus untuk Hiperpigmentasi di Punggung
Terdapat beberapa pertimbangan khusus dalam menangani hiperpigmentasi bekas jerawat di punggung dibandingkan dengan area tubuh lain seperti wajah. Sebuah studi mencatat bahwa hiperpigmentasi pasca inflamasi lebih dominan terjadi di wajah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun prinsip-prinsip pengobatan serupa, tingkat keparahan dan perhatian pasien mungkin berbeda untuk area punggung.
Benzoyl peroxide dengan konsentrasi hingga 10% ditemukan dapat ditoleransi dengan baik untuk jerawat di badan (truncal acne) ketika digunakan sebagai sabun pembersih atau busa emolien dengan kontak singkat. Ini mungkin mengindikasikan bahwa konsentrasi agen topikal tertentu yang lebih tinggi dapat ditoleransi di punggung dibandingkan dengan wajah. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi hal ini.
Aksesibilitas untuk aplikasi sendiri obat topikal di punggung mungkin menjadi tantangan, yang berpotensi memengaruhi kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Selain itu, kulit di punggung mungkin lebih tebal daripada di wajah, yang berpotensi memengaruhi penetrasi agen topikal. Toleransi konsentrasi benzoyl peroxide yang lebih tinggi pada tubuh menunjukkan kemungkinan bahwa prinsip serupa mungkin berlaku untuk agen topikal lain untuk HPI di punggung, meskipun hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Pertimbangan praktis seperti kemudahan aplikasi pada punggung perlu diperhitungkan dalam perencanaan pengobatan untuk memastikan kepatuhan pasien.
Peran Prosedur Dermatologis
Prosedur dermatologis seperti chemical peeling dan laser dapat berperan dalam mengatasi HPI bekas jerawat di punggung, terutama pada kasus yang refrakter terhadap terapi topikal. Chemical peeling dapat membantu mengatasi hiperpigmentasi yang sulit diobati. Peeling superfisial umumnya ditoleransi dengan baik dan memberikan hasil yang baik pada kulit yang lebih gelap. Namun, kehati-hatian diperlukan untuk menghindari iritasi yang dapat memperburuk HPI. Peeling asam salisilat dapat membantu mengatasi jerawat yang menyertai , dan peeling asam glikolat juga menunjukkan beberapa manfaat. Peeling dengan kedalaman sedang dan dalam harus digunakan dengan hati-hati pada tipe kulit yang lebih gelap karena risiko hiperpigmentasi yang berkepanjangan.
Terapi laser dapat menjadi terapi tambahan yang efektif atau alternatif untuk kegagalan pengobatan topikal. Studi terbaru menunjukkan manfaat dengan laser Q-switched Nd:YAG. Fractional photothermolysis juga telah digunakan. Kehati-hatian harus dilakukan dalam memilih parameter laser dan mempertimbangkan jenis kulit pasien untuk menghindari komplikasi seperti diskromia dan jaringan parut. Terapi Intense Pulsed Light (IPL) juga menunjukkan perbaikan pada HPI akibat jerawat.
Kontraindikasi untuk chemical peeling dapat meliputi infeksi kulit aktif, kehamilan, dan riwayat penyembuhan luka yang buruk. Untuk laser, kontraindikasi mungkin termasuk paparan sinar matahari baru-baru ini, infeksi aktif, dan kondisi medis tertentu. Meskipun prosedur dermatologis dapat efektif, risiko memperburuk HPI, terutama pada kulit yang lebih gelap, memerlukan pemilihan pasien yang cermat dan praktisi yang berpengalaman. Ketersediaan dan aksesibilitas prosedur dermatologis mungkin terbatas bagi dokter umum, menjadikan terapi topikal sebagai fokus utama penanganan mereka. Dokter umum perlu mengetahui pilihan-pilihan ini untuk merujuk pasien dengan kasus refrakter.
Strategi Pencegahan Hiperpigmentasi Setelah Jerawat di Punggung
Pencegahan HPI bekas jerawat di punggung dimulai dengan penanganan jerawat yang efektif dan tepat waktu. Penggunaan tabir surya secara teratur pada area yang rentan sangat penting untuk mencegah perburukan HPI akibat paparan sinar UV. Hindari tindakan yang dapat memicu peradangan lebih lanjut, seperti memencet atau memecahkan jerawat. Penggunaan sabun pembersih yang lembut dan pelembap non-komedogenik juga dapat membantu meminimalkan iritasi. Pertimbangkan penggunaan retinoid topikal sejak dini, karena agen ini dapat mengobati baik jerawat maupun HPI.
Edukasi pasien mengenai langkah-langkah pencegahan sangat penting untuk manajemen jangka panjang dan mengurangi risiko kekambuhan HPI. Menekankan peran perlindungan matahari, menghindari manipulasi lesi, dan pengobatan jerawat yang konsisten memberdayakan pasien untuk mengambil peran aktif dalam mencegah HPI. Hal ini dapat menghasilkan hasil yang lebih baik dan meningkatkan kepuasan pasien.
Rekomendasi Terkini dan Kesimpulan
Terapi lini pertama untuk HPI bekas jerawat di punggung umumnya terdiri dari agen depigmentasi topikal dan perlindungan terhadap sinar matahari. Retinoid topikal sering direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk mengatasi baik jerawat maupun HPI. Hydroquinone tetap menjadi andalan pengobatan , dan asam azelat merupakan pilihan efektif untuk kedua kondisi tersebut.
Terapi kombinasi seringkali memberikan hasil yang lebih baik. Chemical peeling dan terapi laser dapat dipertimbangkan untuk kasus yang refrakter. Penanganan jerawat yang dini dan agresif sangat penting untuk manajemen dan pencegahan HPI.
Pendekatan individual dalam memilih terapi dan pentingnya edukasi pasien sangat ditekankan. Rejimen pengobatan dapat berubah seiring waktu berdasarkan respons dan toleransi pasien. Komunikasi yang berkelanjutan antara pasien dan dokter mengenai perbaikan gejala dan efek samping sangat dianjurkan. Edukasi pasien mengenai penggunaan obat yang tepat, perlindungan matahari, dan ekspektasi yang realistis sangat penting untuk keberhasilan manajemen HPI.
Konsensus mengenai pentingnya pengobatan jerawat yang dini dan efektif sebagai landasan manajemen HPI menggarisbawahi perlunya intervensi proaktif oleh dokter umum. Mengingat hubungan erat antara peradangan jerawat dan HPI, penanganan jerawat aktif merupakan langkah pertama dan paling penting dalam mencegah dan mengobati hiperpigmentasi yang timbul.
Postinflammatory Hyperpigmentation: A Review of the Epidemiology ..., accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2921758/
Post-inflammatory hyperpigmentation: A systematic review of treatment outcomes - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37843491/
Postinflammatory Hyperpigmentation: Epidemiology, Clinical Presentation, Pathogenesis and Treatment - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29222629/
A focused review on acne-induced and aesthetic procedure-related postinflammatory hyperpigmentation in Asians - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23205540/
www.ncbi.nlm.nih.gov, accessed March 31, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559150/#:~:text=Postinflammatory%20hyperpigmentation%20results%20from%20overproduction,%2C%20trauma%2C%20or%20dermatologic%20procedures.
Effects of Topical Retinoids on Acne and Post-inflammatory ..., accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8776661/
Postinflammatory Hyperpigmentation - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed March 31, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559150/
Psychosocial impact of acne and postinflammatory hyperpigmentation - PMC, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5595597/
Treatment of Post-Inflammatory Hyperpigmentation in Skin of Colour: A Systematic Review - Kristie Mar, Bushra Khalid, Mahan Maazi, Rayan Ahmed, Ou Jia (Emilie) Wang, Touraj Khosravi-Hafshejani, 2024 - Sage Journals, accessed March 31, 2025, https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/12034754241265716
Treatment of Post-Inflammatory Hyperpigmentation in Skin of Colour: A Systematic Review, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11514325/
Managing Post-inflammatory Hyperpigmentation in Patients with Acne - PMC, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8565877/
Effects of Topical Retinoids on Acne and Post-inflammatory Hyperpigmentation in Patients with Skin of Color: A Clinical Review and Implications for Practice - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34751927/
Topical treatment for postinflammatory hyperpigmentation: a systematic review - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34525885/
Treatment of Post-Inflammatory Hyperpigmentation in Skin of Colour: A Systematic Review - Kristie Mar, Bushra Khalid, Mahan Maazi, Rayan Ahmed, Ou Jia (Emilie) Wang, Touraj Khosravi-Hafshejani, 2024 - Sage Journals, accessed March 31, 2025, https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/12034754241265716
Topical agents used in the management of hyperpigmentation - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15334278/
Dermatology: how to manage facial hyperpigmentation in skin of colour - PubMed Central, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9165630/
[Topical treatment of pigmentation disorders with cosmetic and pharmaceutical agents], accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33146766/
Hydroquinone - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed March 31, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539693/
A comparative study of 20% azelaic acid cream versus 5 ..., accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10199364/
Effects of 15% Azelaic Acid Gel in the Management of Post-Inflammatory Erythema and Post-Inflammatory Hyperpigmentation in Acne Vulgaris - PMC - PubMed Central, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11116308/
A comparative study of 20% azelaic acid cream versus 5% tranexamic acid solution for the treatment of postinflammatory hyperpigmentation in patients with acne vulgaris: A single-blinded randomized clinical trial - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37213446/
Hyperpigmentation Therapy: A Review - PMC - PubMed Central, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4142815/
Treatment of Acne Vulgaris-Associated Post-Inflammatory Dyschromia With Combination of Non-Ablative Laser Therapy and Topical Antioxidants - PubMed, accessed March 31, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39231081/
Acne treatment: research progress and new perspectives - PMC, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11266290/
Evidence and Considerations in the Application of Chemical Peels ..., accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2921757/
Intense Pulsed Light Therapy Improves Acne-Induced Post-inflammatory Erythema and Hyperpigmentation: A Retrospective Study in Chinese Patients - PMC - PubMed Central, accessed March 31, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9110597/