/ neurologi

Diltiazem vs Nikardipin: Terapi Anti-Hipertensi Intravena dalam Tatalaksana Hipertensi Emergensi pada Pasien Stroke Akut

Hipertensi emergensi adalah komplikasi yang sering dijumpai pada pasien stroke fase akut di Intalasi Gawat Darurat (IGD). Dokter IGD perlu memiliki pengetahuan update tentang tatalaksana hipertensi emergensi pada pasien stroke akut. Sehingga, outcome klinis dan prognosis pasien stroke akut yang datang ke IGD lebih baik. Salah satu issue penting dalam tatalaksana pasien stroke akut adalah penggunaan diltiazem intravena pada pasien stroke akut yang memiliki komplikasi hipertensi emergensi.

Hipertensi emergensi adalah peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi ( > 180/120 mmHg) sehingga mengakibatkan kerusakan organ target yang pprogresif (eg ensefalopati, kerusakan jantung dan insufisiensi ginjal). Hipertensi emergensi terjadi pada 22,5% pasien stroke. Sedangkan 77,8% pasien stroke mengalami hipertensi akut (Tekanan Darah Sistolik > 140 mmHg pada satu jam pertama setelah serangan stroke.

Sebuah penelitian oleh Qureshi et al (2007) melaporkan bahwa 15% pasien stroke akut yang datang ke IGD mengalami hipertensi emergensi dengan tekanan darah sistolik > 185 mmHg. Pasien dengan riwayat hipertensi kronik memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami hipertensi emergensi setelah serangan stroke akut.

Sedangkan di IRD RSUD dr Soetomo, prevalensi hipertensi emergensi pada stroke akut mencapai 41,99%. Hipertensi emergensi dapat dijumpai pada pasien stroke hemoragik, maupun stroke iskemik. Namun, hipertensi emergensi lebih sering dijumpai pada pasien stroke hemoragik dari pada stroke iskemik.

Tatalaksana Hipertensi Emergensi Pada Stroke Akut

Pada pasien stroke hemoragik akut, tekanan darah sistolik > 180 mmHg harus diturunkan dengan target 140 mmHg. Sedangkan, pada stroke iskemik sebaiknya tekanan darah sistolik > 180 mmHg tidak diintervensi sampai masa akut lewat (7 hari), kecuali pada kondisi tertentu tekanan darah sistolik perlu diturunkan (15% dalam 24 jam), yaitu pada salah satu kondisi di bawah ini:

  1. Tekanan Darah Sistolik > 220 mmHg
  2. Tekanan Darah Diastolik > 120 mmHg
  3. Mean Arterial Pressure > 130 mmHg
  4. Dicurigai adanya end organ failure:
    • Diseksi Aorta
    • Infark Miokard Akut
    • Ensefalopati Hipertensi
    • Gagal Ginjal Akut
    • Edema Paru Akut

Penurunan tekanan darah pada stroke iskemik diyakini akan memperkecil kemungkinan terjadinya edema serebral, transformasi perdarahan, mencegah kerusakan vaskuler lebih lanjut dan terjadinya serangan stroke ulang (early reccurrent stroke). Namun, di sisi lain, penurunan tekanan darah pada stroke iskemik akut dapat mengakibatkan penurunan perfusi serebral sehingga kerusakan daerah iskemik di otak akan menjadi semakin luas, terlebih pada pasien dengan hipertensi kronik.

Penurunan tekanan darah tinggi pada pasien stroke iskemik fase akut, tidak dianjurkan sebagai tindakan rutin. Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa tindakan penurunan tekanan darah pada pasien stroke akut justru dapat memperburuk kondisi pasien, meningkatkan kecacatan dan kematian.

Banyak pasien stroke akut yang mengalami penurunan tekanan darah tanpa intervensi medis dalam 24 jam pertama setelah onset serangan stroke. Pemahaman terhadap patofosiologi hipertensi pada stroke fase akut akan sangat bermanfaat dalam membantu merencanakan tatalaksana yang tepat.

Rekomendasi Penurunan Tekanan Darah Pasien Stroke Akut dengan Hipertensi Emergensi

Pada prinsipnya, sebagian besar rekomendasi menganjurkan penurunan tekanan darah pada pasien stroke fase akut dengan hipertensi emergensi harus dilakukan secara hati-hati. Berikut adalah beberapa pedoman yang perlu diperhatikan ketika memilih obat antihipertensi untuk pasien stroke akut dengan hipertensi emergensi.

  1. Short Acting. Gunakan obat anti-hipertensi dengan masa kerja singkat
  2. Start Low. Berikan obat anti-hipertensi dimulai dengan dosis rendah
  3. Hindari obat anti-hipertensi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke otak
  4. Hindari Diuretika (kecuali pada keadaan dengan gagal jantung)
  5. Patuhi konsensus yang telah disepakati sebagai target tekanan darah yang akan dicapai

Ada dua golongan obat anti-hipertensi intravena yang sering dipakai pada stroke fase akut dengan hipertensi emergensi

  1. Calcium Channel Blocker dihydropyridine: nikardipin
  2. Calcium Channel Blocker non-dihydropyridine: diltiazem

Nikardipin kurang disukai karena merupakan kontraindikasi untuk pasien dengan peningkatan tekanan intra-kranial (TIK). Pada pasien stroke hemorrage yang mengalami peningkatan tekanan intra-kranial, pemberian nikardipin justru beresiko semakin meningkatkan tekanan intrakranial.

Dalam kondisi peningkatan tekanan intra-kranial (TIK), diltiazem dapat menjadi pilihan anti-hipertensi yang tepat untuk pasien stroke akut yang mengalami hipertensi emergensi.

Sediaan parenteral diltiazem dipilih karena memenuhi kriteria 5 rekomendasi dalam memilih obat anti-hipertensi pada pasien stroke akut dengan hipertensi emergensi. Diltiazem adalah obat anti-hipertensi yang dapat dititrasi dengan mudah dan memiliki efek vasodilatasi serebral yang minimal. Selain itu, pengaruh diltiazem terhadap tekanan intra-kranial dan perfusi serebra sangat minimal.

Dalam upaya menurunkan tekanan darah pada stroke akut, diltiazem sebaiknya diberikan secara intravena secara kontinyu (menggunakan pump) dengan dosis 5-15 ug/kgBB/menit. Efek samping diltiazem minimal, namun diltiazem tidak boleh diberikan pada pasien dengan blok sinoatrial, blok AV derajat 2 atau 3.

Semoga Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

Sering Dapat Pasien Stroke? Kamu mesti punya buku ini...

Inbox admin ya untuk pemesanan^^

Limited Edition^^