/ Vaksin

Mengapa Anak Saya Kejang Demam, Dok?

Banyak orang tua di Indonesia yang beranggapan bahwa anak yang demam tinggi bila tidak segera diturunkan suhunya akan mengalami kejang (step). Sehingga saat anak mereka demam sedikit,mereka akan sangat ketakutan (dan akhirnya datang ke tempat praktek dokter). Pada perkembangannya, anggapan sebagian orang tua tersebut kurang tepat.

Faktanya, kejang demam hanya dialami 5-10% anak di Asia Tenggara. Kami belum mendapat data dari Indonesia, namun kira-kira frekuensi kejadian kejang demam di Indonesia berada dalam rentang nilai tersebut.

Lantas, Mengapa anak saya kejang, Dok?

Itu adalah pertanyaan yang sering diajukan saat kita melakukan edukasi pada orang tua pasien. Kejang demam pada dasarnya selalu diawali dengan kondisi demam tinggi, bisa karena infeksi atau paska imunisasi.

Namun, sering beberapa "oknum" mengkambinghitamkan vaksin atau imunisasi sebagai penyebab kejang demam. Kalau itu jelas salah besar! Vaksin tidak pernah menyebabkan kejang tanpa didahului demam. Banyak anak divaksin, tapi tidak pernah kejang seumur hidupnya. Jadi sekali lagi, bukan vaksin yang menyebabkan kejang, tetapi demam.

Memang ada beberapa populasi anak yang lebih rentan mengalami kejang demam. Faktor resiko yang berpengaruh terjadinya kejang demam adalah: Usia dan Keturunan.

  1. Usia. Kejang demam sebagian besar dialami anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Anak berusia kurang dari 6 bulan tidak lazim mengalami kejang demam, sehingga jika ada anak berusia < 6 bulan mengalami kejang, sangat dianjurkan untuk melakukan pungsi lumbal untuk menyelidiki resiko terjadi meningitis. Anak berusia lebih dari 3 tahun juga sangat jarang mengalami kejang demam.
  2. Keturunan. Faktor keturunan atau genetika diduga kuat berhubungan dengan kejadian kejang demam. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa ada sekelompok gen (kromosom 5q14-q15) yang bertanggungjawab terhadap terjadinya kejang demam (Nakayama dkk, 2000). Anamnesis riwayat keluarga mengalami kejang demam menjadi penting untuk mendukung diagnosis. Pasien yang pernah mengalami kejang demam sebelumnya juga memiliki kerentanan untuk mengalami kejang demam dimasa depan.

Kejang demam adalah sesuatu yang menakutkan bagi sebagian besar orang tua, meskipun sebagian besar memiliki prognosis yang baik. Kejang demam hampir selalu memiliki outcome klinis yang baik: kecacatan kognitif (-), retardasi mental (-) dan gangguan belajar (-). Namun, mengambil tindakan segera untuk dibawa ke dokter anak atau dokter umum terdekat adalah pilihan terbaik untuk mencegah kejang demam dikemudian hari.

Pencegahan kejang demam akan kami bahas pada artikel selanjutnya.