Dokter Post - Diagnosis & Tatalaksana DKA dan HHS: Panduan Lengkap Berbasis Evidence untuk Dokter Umum, SpPD, dan SpA

Webinar SKP Kemenkes: Hiperglikemia pada Situasi Emergensi: Strategi Diagnosis dan Terapi Berbasis Bukti

30 Aug 2025 • SKP

Deskripsi

Webinar SKP Kemenkes: Hiperglikemia pada Situasi Emergensi: Strategi Diagnosis dan Terapi Berbasis Bukti

Pendahuluan

Hiperglikemia berat—khususnya Diabetic Ketoacidosis (DKA) dan Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS)—merupakan emergensi endokrin yang dapat mengancam jiwa. Terapi yang cepat, diagnosis tepat dan berbasis bukti sangat menentukan prognosis pasien. Artikel ini menyajikan informasi terkini berdasarkan literatur ilmiah, termasuk protokol dewasa dan pediatrik, dengan fokus pada diagnosis dan terapi.

A. Diagnosis dan Terapi Ketoasidosis Diabetik dan Hiperosmolar Hiperglikemik State (SpPD – Spesialis Penyakit Dalam)

Diagnosis

  • Kriteria diagnostik: menurut ISPAD/ADA, DKA dicirikan oleh hiperglikemia ≥200 mg/dL (≥11 mmol/L), pH vena ≤7,30 atau HCO₃⁻ ≤15 mmol/L, serta ketonuria atau β‑hydroxybutyrate (B‑OHB) ≥2 mmol/L SpringerLink+9NCBI+9MDPI+9.

  • Derajat keparahan dibagi: ringan (pH 7,20–7,30), sedang (7,10–7,20), berat (<7,10) Wikipedia.

  • HHS: glukosa sangat tinggi (>600 mg/dL), osmolalitas plasma tinggi >320 mOsm/kg, dehidrasi berat, tanpa ketosis signifikan WikipediaPMC.

  • Penting membedakan DKA, HHS, dan bentuk campuran. ADA profesional kini menurunkan batas hiperglikemia ke ≥200 mg/dL karena kejadian euglycemic DKA pada pengguna SGLT‑2 inhibitors sciencedirect.com+15medscape.com+15ccjm.org+15.

Terapi

  • Prinsip utama adalah rehidrasi agresif, infus insulin kontinu, penggantian elektrolit (terutama kalium), dan identifikasi serta manajemen pemicu PMCpubmed.ncbi.nlm.nih.govuspharmacist.com.

  • Infus cairan: bolus awal 0,9% NaCl (15–20 mL/kg), kemudian 250–500 mL/jam sampai glukosa turun, lalu lanjut 150–250 mL/jam hingga resolusi DKA SpringerLink+2ouci.dntb.gov.ua+2.

  • Sebagai alternatif, larutan kristaloid seimbang (Plasmalyte, Ringer Laktat) dapat mengurangi risiko hyperchloremic acidosis dan mempercepat pemulihan metabolik ouci.dntb.gov.ua+1.

  • Insulin: tepatan minimal 0,05–0,1 unit/kg/jam IV setelah kalium ≥3,3 mEq/L mdanderson.org+1. Penurunan glukosa yang aman kira‑kira 50–75 mg/dL per jam.

  • Kalium: jika kali serum ≤5,2 mEq/L, suplementasi sesuai kebutuhan (sering 20–30 mEq/L dalam infus cairan).

  • Monitoring ketat: glukosa darah setiap jam, elektrolit, fungsi ginjal, status neurologis (GCS) setiap jam untuk mendeteksi cerebral edema vumc.org.

  • Resolusi DKA: dinyatakan saat pH >7,30, anion gap ≤12, HCO₃⁻ ≥18 atau B‑OHB <0,6 mmol/L mdanderson.org+1.

  • Untuk HHS, terapi mirip namun fokus pada koreksi osmolalitas, lebih lambat. Insulin dimulai setelah sebagian besar rehidrasi tercapai PMC.

B. Diagnosis dan Terapi DKA pada Ibu Hamil (SpPD)

Diagnosis

  • Ibu hamil dapat mengalami Euglycemic DKA, yaitu kadar glukosa kurang dari 200 mg/dL tetapi terdapat ketosis dan asidosis ceemjournal.org.

  • Diagnosis tetap menggunakan pH, HCO₃⁻, ketonemia/ketonuria meski glukosa tidak tinggi.

Terapi

  • Prinsip serupa dengan dewasa, namun perlu perhatian tambahan terhadap status maternal dan janin.

  • Rehidrasi dengan larutan seimbang sering direkomendasikan untuk menghindari over­chlore mic acidosis dan meminimalkan risiko ke padatan uteroplasental.

  • Insulin infus diberikan dan dosis modifikasi harus dipertimbangkan faktor kehamilan dan peningkatan volume distribusi.

  • Monitoring ketonemia maternal dan elektrolit ketat. Tim multidisiplin wajib, termasuk obgyn dan endokrinologi.

C. Diagnosis dan Terapi DKA pada Anak (SpA – Spesialis Anak)

Diagnosis

  • Pada anak, DKA paling sering terjadi pada tipe 1 DM baru (13 %–80 %) atau pasien lama yang tidak patuh insulin atau terinfeksi MDPIMDPI+1.

  • Trias biokimia sama: glukosa >200 mg/dL, β‑OHB >3 mmol/L, pH <7,3 atau HCO₃⁻ <18 mmol/L MDPIispad.org.

  • Gejala klinis: dehidrasi, pernapasan Kussmaul, bau keton, mual, muntah, nyeri abdomen, kelelahan, bingung, bahkan koma MDPI.

  • Cerebral edema merupakan penyebab utama kematian (kurang dari 1 % mortalitas di negara maju) MDPImed.emory.edu.

Terapi

  • Rehidrasi perlahan: bolus cairan 10–20 mL/kg (0,9% NS) diikuti cairan pengganti maintenance dengan dua kantong jika tersedia (contoh: 0,45% NS + glukosa setelah glukosa turun <250) vumc.orgmdanderson.org.

  • Insulin infus rendah: rekomendasi minimal 0,05–0,1 unit/kg/jam setelah kalium aman; tidak berhenti sebelum ketosis terselesaikan mdanderson.orgeoeneonatalpccsicnetwork.nhs.uk.

  • Monitoring elektrolit, status neurologis, glukosa tiap jam sangat penting. Penurunan glukosa terlalu cepat harus dicegah untuk menghindari cerebral edema.

  • Ganti kalium sesuai kebutuhan, serta magnesium jika defisiensi.

  • HHS juga dapat terjadi pada anak, meski jarang; namun protokol dewasa disesuaikan berat badan dan status hemodinamik anak MDPIPMC.

D. Protokol Pasien Tidak Sadar pada Anak: Fokus pada KAD (Cerebral Adema DKA) (SpA)

  • Pada anak dengan DKA dan penurunan kesadaran atau tanda hipoksia/perubahan mental, evaluasi kemungkinan cerebral edema sangat mendesak.

  • Gejala peringatan: muntah berulang, perubahan perilaku, reflek pupil abnormal, hipertensi sistolik, bradikardia med.emory.eduPMC.

  • Jika dicurigai: stop insulin, cairan pelan, tekanan intracranial dinaikkan – berikan mannitol 0,5–1 g/kg IV atau hipertonik NaCl (3 %) 2–5 mL/kg secara bolus med.emory.eduPMC.

  • ICU monitoring ketat dengan CT scan jika perlu, penanganan oleh tim anak dan neurologi/intensif.

E. Terapi Cairan pada Ketoasidosis Diabetik: NS vs Ringer Laktat / Plasmalyte (SpPD)

  • Studi terbaru memperbandingkan 0,9 % NaCl (normal saline) dengan larutan kristaloid seimbang seperti Plasmalyte atau Ringer Laktat.

  • Walaupun NaCl merupakan pilihan tradisional (15–20 mL/kg bolus, lalu 250–500 mL/jam) SpringerLinkuspharmacist.com, cairan ini dapat menyebabkan hyperchloremic metabolic acidosis, memperlambat resolusi asidosis.

  • Penelitian SKOPE‑DKA menunjukkan bahwa penggunaan Plasmalyte dapat mempercepat pemulihan DKA tanpa kejadian akumulasi klorida atau asidosis iatrogenik SpringerLink.

  • Dengan demikian, rekomendasi berbasis bukti kini mulai mendukung penggunaan cairan seimbang sebagai alternatif lebih aman dan efektif.

Kesimpulan

Penanganan hiperglikemia emergensi seperti DKA dan HHS memerlukan:

  1. Diagnostik cepat dan akurat berdasarkan kriteria biokimia: hiperglikemia, asidosis, ketosis, osmolalitas.

  2. Rehidrasi awal agresif, diikuti dengan cairan infus berkelanjutan.

  3. Insulin infus kontinu setelah kalium aman, dan monitoring ketat.

  4. Penggantian elektrolit sesuai kebutuhan.

  5. Variasi protokol khusus pada ibu hamil dan anak-anak; pengawasan ketat pada anak untuk mencegah cerebral edema.

  6. Pemilihan cairan—cairan seimbang seperti Plasmalyte memberikan keuntungan dibandingkan NaCl.

Dengan mengikuti protokol berbasis bukti dari literatur ilmiah dan panduan internasional (ISPAD, ADA), manajemen emergensi hiperglikemia dapat dilakukan dengan aman dan efektif.

Penutup

Hiperglikemia emergensi memerlukan pendekatan interdisipliner dengan standar diagnosis dan terapi yang telah terbukti. Memahami perbedaan antara DKA dan HHS, serta aspek khusus pada kelompok populasi seperti anak dan ibu hamil sangat krusial. Penggunaan protokol cairan seimbang dan monitoring ketat dapat meningkatkan hasil klinis dan menurunkan komplikasi.

Referensi:

  1. Wolfsdorf, J. I., Glaser, N. S., Agus, M. S. D., Codner, E., Craig, M. E., Daneman, D., ... & ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines Committee. (2022). Diabetic Ketoacidosis and Hyperglycemic Hyperosmolar State. In: ISPAD Clinical Practice Consensus Guidelines 2022. Retrieved from https://endoped.ro/wp-content/uploads/2023/09/Cap_11_DKA.pdf

  2. Rao, S., & Ramakrishna, K. (2024). Diabetic Ketoacidosis and Hyperosmolar Hyperglycemic State: Pathophysiology, Diagnosis and Treatment. Open Journal of Endocrine and Metabolic Diseases, 14(1), 1–15. https://www.scirp.org/journal/paperinformation?paperid=137373

  3. Pasquel, F. J., Umpierrez, G. E., & Smiley, D. (2021). Management of Hyperglycemic Crises in Adults With Diabetes. Emergency Medicine Clinics of North America, 39(3), 515–530. https://doi.org/10.1016/j.emc....

  4. Driessen, G. J. A., Thal, S., Fuchs, O., & Asmus, F. (2024). Pediatric Diabetic Ketoacidosis and the Risk of Cerebral Edema. Children, 12(1), 110. https://www.mdpi.com/2227-9067/12/1/110

  5. Ramanan, M., Attokaran, A., Murray, L., Gross, G., Rajbhandari, D., & Bellomo, R. (2021). Plasma-Lyte Versus Saline for Fluid Resuscitation in Diabetic Ketoacidosis. Intensive Care Medicine, 47, 1312–1314. https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s00134-021-06527-7.pdf