Tatalaksana Komprehensif Sindrom Wolff-Parkinson-White: Panduan Praktis untuk Dokter Umum dalam Diagnosis dan Terapi WPW

13 Apr 2026 • Kardiologi

Deskripsi

Tatalaksana Komprehensif Sindrom Wolff-Parkinson-White: Panduan Praktis untuk Dokter Umum dalam Diagnosis dan Terapi WPW

Pendahuluan

Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) adalah suatu kondisi pre-eksitasi jantung kongenital yang disebabkan oleh adanya jalur konduksi listrik tambahan antara atrium dan ventrikel. Meskipun prevalensinya dalam populasi umum relatif jarang, diperkirakan antara 0.1% hingga 0.3% (atau 1 hingga 3 per 1000 individu) , kondisi ini memiliki relevansi klinis yang signifikan bagi Dokter Umum (GP). 

Hal ini dikarenakan WPW dapat bermanifestasi sebagai takiaritmia simtomatik yang mengganggu kualitas hidup, dan pada kasus yang lebih jarang namun serius, dapat menyebabkan aritmia ventrikel maligna hingga kematian jantung mendadak (Sudden Cardiac Death - SCD), bahkan terkadang sebagai manifestasi klinis pertama.

Penting bagi GP untuk memahami perbedaan antara WPW pattern dan WPW syndrome. WPW pattern merujuk pada temuan elektrokardiogram (EKG) yang khas (interval PR pendek, gelombang delta, kompleks QRS lebar) pada individu yang tidak memiliki riwayat gejala aritmia. 

Mayoritas individu dengan WPW pattern akan tetap asimtomatik sepanjang hidupnya. Sebaliknya, WPW syndrome adalah diagnosis yang ditegakkan ketika WPW pattern pada EKG ditemukan bersamaan dengan riwayat takiaritmia simtomatik, seperti palpitasi, pusing, presinkop, atau sinkop. Diagnosis dini, stratifikasi risiko yang akurat, dan tatalaksana yang tepat merupakan langkah krusial dalam manajemen pasien WPW untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi risiko aritmia yang mengancam jiwa.

Gambar 1. Wolff Parkinson White Syndrome. Dengan karakteristik gelombang delta yang tampak pada EKG

Memahami WPW: Patofisiologi Jalur Aksesori

Pada jantung normal, impuls listrik berasal dari nodus sinoatrial (SA), menyebar melalui atrium, kemudian mengalami perlambatan fisiologis saat melewati nodus atrioventrikular (AV) sebelum diteruskan ke ventrikel melalui sistem His-Purkinje. Nodus AV berfungsi sebagai "gerbang" yang memastikan atrium berkontraksi dan mengosongkan isinya ke ventrikel sebelum ventrikel berkontraksi.

Pada WPW, terdapat satu atau lebih jalur konduksi tambahan, yang disebut jalur aksesori (Accessory Pathway - AP). AP ini merupakan koneksi otot abnormal yang secara langsung menghubungkan atrium dan ventrikel, melewati (bypass) nodus AV dan sistem His-Purkinje. Jalur ini diduga merupakan sisa dari perkembangan jantung embrionik yang tidak sempurna.

Keberadaan AP memungkinkan impuls listrik dari atrium mencapai sebagian otot ventrikel lebih awal daripada impuls yang melalui jalur normal. Fenomena ini disebut pre-eksitasi ventrikel. Berbeda dengan nodus AV, konduksi melalui AP biasanya bersifat non-dekremental, artinya tidak mengalami perlambatan yang signifikan.

Jalur aksesori ini menjadi dasar terjadinya takiaritmia pada WPW melalui dua mekanisme utama:

  1. Pembentukan Sirkuit Re-entry (AVRT): AP dapat menjadi bagian integral dari sirkuit listrik abnormal yang berputar (re-entry) antara atrium dan ventrikel, melibatkan nodus AV, sistem His-Purkinje, dan AP itu sendiri. Sirkuit re-entry ini adalah penyebab paling umum dari takikardia supraventrikular (SVT) paroksismal pada pasien WPW, yang dikenal sebagai Atrioventricular Re-entrant Tachycardia (AVRT). AVRT menyumbang sebagian besar kasus SVT pada WPW.

  2. Konduksi Cepat Aritmia Atrial: AP dapat berfungsi sebagai "jembatan" yang menghantarkan impuls atrium yang sangat cepat, seperti pada Fibrilasi Atrium (AF) atau flutter atrium, langsung ke ventrikel tanpa perlambatan oleh nodus AV. Kemampuan konduksi cepat AP ini (terutama jika AP memiliki periode refrakter yang pendek) dapat mengakibatkan respons ventrikel yang sangat tinggi, yang berpotensi memicu Fibrilasi Ventrikel (VF) dan SCD.

Gambar 2. Konduksi atrioventricular pada pre-eksitasi ventricular

Dengan demikian, AP pada WPW tidak hanya sekadar "jalan pintas" pasif, tetapi secara aktif dapat berpartisipasi dalam inisiasi dan pemeliharaan sirkuit takikardia (AVRT) serta bertindak sebagai konduktor berbahaya bagi aritmia atrial lainnya (AF/Flutter), yang mendasari spektrum manifestasi klinis dan risiko pada pasien WPW.

Diagnosis WPW: Kunci Pengenalan Klinis dan EKG

Strategi Diagnosis dan Terapi WPW yang efektif dimulai dengan pengenalan kondisi ini secara klinis dan elektrokardiografis.

Manifestasi Klinis:

Pasien dengan WPW syndrome biasanya datang dengan keluhan akibat takiaritmia. Gejala yang paling sering dilaporkan adalah palpitasi (jantung berdebar kencang atau tidak teratur). Gejala lain dapat berupa pusing, sesak napas, nyeri dada ringan, presinkop (rasa ingin pingsan), atau sinkop (pingsan). 

Gejala ini seringkali bersifat paroksismal (datang dan pergi) dan onsetnya sering terjadi pada usia remaja atau dewasa muda. Studi menunjukkan sinkop terjadi pada sekitar 20% pasien WPW yang dirujuk untuk evaluasi takikardia. Sangat penting untuk diingat bahwa pada sebagian kecil pasien, manifestasi pertama dan satu-satunya bisa berupa SCD, terutama pada individu muda atau atlet.

Kriteria EKG Klasik (WPW Pattern):

Diagnosis awal WPW pattern ditegakkan berdasarkan temuan khas pada EKG 12 sadapan saat pasien dalam irama sinus normal. Trias EKG klasik WPW meliputi :

  1. Interval PR Pendek: Kurang dari 120 milidetik (<120 ms atau <0.12 detik), disebabkan oleh konduksi atrium-ventrikel yang lebih cepat melalui AP dibandingkan melalui nodus AV.

  2. Gelombang Delta: Adanya slurring (kelandaian) pada bagian awal kompleks QRS. Gelombang delta ini merepresentasikan aktivasi (depolarisasi) prematur sebagian otot ventrikel oleh impuls yang melewati AP. Ini adalah temuan patognomonik WPW.

  3. Kompleks QRS Lebar: Durasi QRS total melebihi 110 atau 120 milidetik (>110 ms atau >120 ms). Pelebaran QRS ini terjadi karena kompleks QRS merupakan hasil fusi (gabungan) antara aktivasi ventrikel yang lebih awal melalui AP (gelombang delta) dan aktivasi ventrikel yang sedikit lebih lambat melalui sistem konduksi normal (His-Purkinje).

Variasi EKG dan Mimikri:

GP perlu mewaspadai bahwa gambaran EKG WPW tidak selalu konstan atau jelas. Pola pre-eksitasi bisa bersifat intermiten (kadang muncul, kadang tidak). Selain itu, WPW pattern dapat menyerupai (mimikri) kondisi jantung lain pada EKG, seperti hipertrofi ventrikel kanan atau kiri, atau bahkan infark miokard (adanya gelombang delta negatif yang menyerupai gelombang Q patologis, disebut "pseudo-infark pattern"). Kehadiran gelombang Q septal normal pada sadapan lateral tidak secara otomatis menyingkirkan kemungkinan pre-eksitasi.

Penentuan Lokasi AP (Prinsip Dasar):

Meskipun penentuan lokasi AP secara pasti memerlukan studi elektrofisiologi (EPS), morfologi gelombang delta pada 12 sadapan EKG dapat memberikan petunjuk awal. Sebagai contoh kasar, gelombang delta yang positif di sadapan V1 (kadang disebut Tipe A) sering dikaitkan dengan AP di sisi kiri jantung, sedangkan gelombang delta negatif di V1 dan V2 (Tipe B) lebih sering menunjukkan AP di sisi kanan. Algoritma EKG yang lebih kompleks telah dikembangkan untuk lokalisasi yang lebih akurat.

EKG merupakan alat skrining dan diagnostik awal yang krusial, murah, dan non-invasif untuk mencurigai WPW. Namun, interpretasinya memerlukan kehati-hatian. GP harus waspada terhadap variabilitas gambaran EKG (intermiten, mimikri) dan tidak mengabaikan kecurigaan klinis (misalnya, riwayat palpitasi atau sinkop berulang pada usia muda) meskipun EKG awal tampak normal atau atipikal. Perlu diingat bahwa EKG saat irama sinus bisa tampak normal jika AP hanya menghantarkan secara retrograde (dari ventrikel ke atrium), kondisi ini disebut concealed pathway.

Perbedaan antara WPW pattern (hanya temuan EKG, asimtomatik) dan WPW syndrome (temuan EKG disertai gejala aritmia) adalah fundamental karena implikasi manajemennya berbeda secara signifikan. Pasien dengan WPW syndrome umumnya memerlukan intervensi terapeutik (ablasi), sementara pasien dengan WPW pattern memerlukan stratifikasi risiko untuk menentukan langkah selanjutnya.

Stratifikasi Risiko: Mengidentifikasi Pasien Berisiko Tinggi

Tujuan utama stratifikasi risiko pada pasien WPW, terutama yang asimtomatik (WPW pattern), adalah untuk mengidentifikasi individu yang memiliki jalur aksesori (AP) dengan karakteristik berisiko tinggi. AP berisiko tinggi adalah AP yang mampu menghantarkan impuls listrik dari atrium ke ventrikel dengan sangat cepat, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap Fibrilasi Ventrikel (VF) dan Kematian Jantung Mendadak (SCD) jika pasien mengalami Fibrilasi Atrium (AF). 

Risiko SCD pada pasien WPW simtomatik diperkirakan sekitar 0.25-0.39% per tahun, sedangkan pada pasien asimtomatik sekitar 0.1% per tahun. Meskipun risiko absolutnya rendah, SCD bisa menjadi manifestasi pertama penyakit pada sebagian pasien.

Faktor Risiko Klinis:

Beberapa faktor klinis dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi, antara lain: usia muda (biasanya <30−40 tahun), jenis kelamin pria, riwayat sinkop sebelumnya, riwayat AF terdokumentasi, riwayat keluarga WPW atau SCD (terutama terkait mutasi gen PRKAG2), adanya penyakit jantung struktural penyerta (seperti anomali Ebstein atau kardiomiopati hipertrofik), dan keberadaan lebih dari satu jalur aksesori (multiple AP).

Peran Tes Non-Invasif:

Tes non-invasif digunakan sebagai langkah awal stratifikasi risiko:

  • EKG Holter (24-48 jam): Digunakan untuk mendeteksi adanya pre-eksitasi yang bersifat intermiten (hilang timbul) atau untuk mendokumentasikan aritmia spontan. Namun, perlu dicatat bahwa pre-eksitasi intermiten saat istirahat tidak secara otomatis mengindikasikan AP berisiko rendah, karena sifat konduksi AP dapat berubah di bawah pengaruh sistem saraf otonom (misalnya, saat stres atau aktivitas).

  • Uji Latih Jantung Beban (Exercise Stress Test - EST): Tes ini sangat penting untuk menilai respons konduksi AP terhadap peningkatan denyut jantung dan stimulasi adrenergik. Interpretasi kunci adalah hilangnya gambaran pre-eksitasi (gelombang delta) secara mendadak dan persisten selama latihan. Fenomena ini menunjukkan bahwa AP memiliki periode refrakter anterograde yang relatif panjang dan tidak mampu menghantarkan impuls pada denyut jantung tinggi, sehingga dianggap berisiko rendah. Sebaliknya, hilangnya gelombang delta secara bertahap kurang memiliki nilai prognostik. Namun, EST memiliki keterbatasan; sebagian pasien yang menunjukkan hilangnya pre-eksitasi saat EST ternyata masih memiliki AP berisiko tinggi saat dilakukan studi elektrofisiologi invasif (EPS). Oleh karena itu, EST dengan hasil "risiko rendah" memiliki nilai prediksi negatif yang baik tetapi tidak sempurna.

  • Ekokardiografi: Dilakukan untuk menyingkirkan kelainan jantung struktural yang mungkin menyertai WPW, seperti anomali Ebstein atau kardiomiopati hipertrofik.

Indikasi Studi Elektrofisiologi (EPS) Invasif:

EPS merupakan pemeriksaan definitif (standar baku emas) untuk menilai secara langsung sifat elektrofisiologi AP, termasuk kecepatan konduksi dan periode refrakternya, serta untuk menginduksi aritmia dan menilai risiko SCD. EPS diindikasikan pada:

  • Semua pasien WPW simtomatik: Untuk konfirmasi diagnosis, mekanisme aritmia, penilaian risiko, dan seringkali dilanjutkan dengan ablasi kateter pada sesi yang sama.

  • Pasien WPW asimtomatik dalam kondisi berikut:

  • Memiliki pekerjaan dengan risiko tinggi jika terjadi sinkop (misalnya, pilot, pengemudi kendaraan komersial) atau merupakan atlet yang berkompetisi secara profesional (Rekomendasi Kelas I atau IIa menurut panduan ESC/AHA).

  • Hasil tes non-invasif (terutama EST) tidak menunjukkan hilangnya pre-eksitasi atau hasilnya meragukan.

  • Atas dasar preferensi pasien yang terinformasi dengan baik setelah diskusi mengenai risiko SCD (meskipun kecil) versus risiko prosedur EPS/ablasi (Rekomendasi Kelas IIa atau IIb).

Kriteria Risiko Tinggi pada EPS:

Penilaian risiko tinggi pada EPS berfokus pada kemampuan AP untuk menghantarkan impuls secara cepat dari atrium ke ventrikel, terutama saat terjadi AF. Parameter kunci (sering dinilai dengan stimulasi obat seperti isoproterenol untuk meniru kondisi stres) meliputi :

  • Interval RR Pre-eksitasi Terpendek (Shortest Pre-excited RR Interval - SPERRI) saat AF induksi ≤250 ms pada dewasa (atau ≤220 ms pada anak). Nilai ini dianggap sebagai prediktor terbaik risiko VF. Nilai SPERRI <200 ms saat stimulasi isoproterenol juga menunjukkan risiko tinggi.

  • Periode Refrakter Efektif Anterograde AP (Anterograde Accessory Pathway Effective Refractory Period - APERP) ≤250 ms (beberapa sumber menyebut ≤240 ms atau ≤270 ms).

  • Mudahnya terinduksi AVRT atau AF selama prosedur EPS.

  • Adanya lebih dari satu jalur aksesori (Multiple APs).

Rekomendasi Manajemen Berdasarkan Stratifikasi:

  • Risiko Tinggi (kriteria EPS terpenuhi): Ablasi kateter sangat direkomendasikan untuk menghilangkan AP dan risiko aritmia maligna.

  • Risiko Rendah (misalnya, blok AP komplit saat EST, EPS tidak menunjukkan kriteria risiko tinggi): Pendekatan konservatif dengan observasi dapat dipertimbangkan. Namun, pasien tetap perlu diedukasi mengenai gejala yang harus diwaspadai, dan obat-obatan yang memblokir nodus AV sebaiknya tetap dihindari.

Terdapat pergeseran paradigma dalam manajemen WPW asimtomatik. Jika dahulu pendekatan cenderung konservatif, data terbaru yang menunjukkan keterbatasan tes non-invasif , risiko SCD yang mungkin tidak jauh berbeda antara kelompok asimtomatik dan simtomatik , serta bukti manfaat mortalitas jangka panjang dari ablasi , telah mendorong pendekatan yang lebih proaktif. Saat ini, EPS dan ablasi lebih sering dipertimbangkan pada pasien asimtomatik, terutama jika ada faktor risiko tambahan atau berdasarkan preferensi pasien setelah diskusi mendalam. 

GP perlu menyadari perubahan tren ini saat memberikan konseling atau merujuk pasien. Pentingnya simulasi kondisi stres fisiologis, baik melalui EST maupun penggunaan obat seperti isoproterenol saat EPS , juga perlu dipahami, karena sifat konduksi AP dapat berubah dan risiko yang sebenarnya mungkin tidak terlihat saat istirahat.

Tatalaksana Akut Takiaritmia pada WPW

Penanganan episode akut takiaritmia pada pasien WPW memerlukan identifikasi cepat kondisi pasien (stabil atau tidak stabil) dan jenis aritmia berdasarkan EKG.

Pasien Tidak Stabil:

Jika pasien menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan hemodinamik (seperti hipotensi berat, penurunan kesadaran, nyeri dada iskemik, atau tanda-tanda syok) yang disebabkan oleh takiaritmia, tindakan prioritas utama adalah kardioversi listrik tersinkronisasi (Direct Current Cardioversion - DCCV).

  • Energi: Direkomendasikan memulai dengan energi 50-100 Joule (untuk modalitas bifasik) atau 100 Joule (monofasik). Jika tidak berhasil, energi dapat ditingkatkan secara bertahap. Pastikan alat defibrilator diatur dalam mode sinkronisasi untuk menghindari fenomena R-on-T yang dapat memicu VF.

Pasien Stabil:

Pada pasien yang hemodinamiknya stabil, pendekatan tatalaksana bergantung pada jenis takiaritmia yang terlihat pada EKG (morfologi kompleks QRS dan regularitas irama):

  1. AVRT Ortodromik (Irama Reguler, Kompleks QRS Sempit):

  • Langkah Awal: Coba lakukan manuver vagal (misalnya, manuver Valsava, pemijatan sinus karotis unilateral dengan hati-hati dan setelah menyingkirkan kontraindikasi seperti bruit karotis).

  • Obat Pilihan Pertama: Jika manuver vagal gagal, Adenosine IV adalah pilihan utama.

  • Dosis Obat Aritmia: Dosis awal 6 mg diberikan secara bolus cepat melalui vena perifer besar, diikuti flush saline. Jika tidak ada respons, dapat diulang dengan dosis 12 mg. Dosis ketiga 18 mg dapat dipertimbangkan.

  • Perhatian Penting: Meskipun sangat efektif untuk menghentikan AVRT ortodromik, Adenosine dapat memicu AF transien. Pada pasien WPW, AF ini berpotensi dihantarkan dengan cepat melalui AP dan menyebabkan kolaps hemodinamik atau VF. Oleh karena itu, Adenosine harus diberikan dengan kewaspadaan tinggi dan hanya jika peralatan resusitasi (termasuk defibrilator) segera tersedia.

  • Alternatif: Jika Adenosine gagal atau dikontraindikasikan, Verapamil atau Diltiazem IV dapat dipertimbangkan, namun harus dihindari jika ada kecurigaan AF dengan pre-eksitasi atau takikardia ventrikel (VT). Beta-blocker IV (seperti Esmolol atau Metoprolol) juga merupakan pilihan.

  1. Fibrilasi Atrium (AF) dengan Pre-eksitasi (Irama Irreguler, Kompleks QRS Lebar dan Bervariasi Morfologinya) ATAU AVRT Antidromik (Irama Reguler, Kompleks QRS Lebar):

  • KONTRAINDIKASI MUTLAK: Obat-obatan yang bekerja primer memblokir nodus AV tidak boleh diberikan pada kondisi ini. Ini termasuk Verapamil, Diltiazem, Adenosine, Digoxin, dan Beta-blocker. Pemberian obat-obat ini akan memblokade jalur konduksi normal (nodus AV) dan "memaksa" semua impuls AF yang cepat untuk melewati AP tanpa hambatan, mengakibatkan laju ventrikel yang sangat cepat (sering >220−250 bpm) dan meningkatkan risiko degenerasi menjadi VF. Ini adalah poin keselamatan pasien yang paling krusial dalam manajemen WPW.

  • Obat Pilihan (Pasien Stabil): Pilihan utama adalah obat yang dapat memperlambat atau memblok konduksi melalui jalur aksesori:

  • Procainamide IV: Dianggap sebagai obat pilihan pertama dan teraman untuk AF pre-eksitasi atau AVRT antidromik pada pasien stabil.

  • Dosis Obat Aritmia: Dosis muatan (loading dose) 15 mg/kg berat badan diberikan melalui infus IV dengan kecepatan 20-50 mg/menit (tidak melebihi 17 mg/kg total). Alternatif: 1000 mg diinfuskan selama 30 menit. Hentikan infus jika aritmia terkonversi, terjadi hipotensi, atau kompleks QRS melebar lebih dari 50% dari baseline. Dosis pemeliharaan dapat diberikan 1-4 mg/menit (atau 2-6 mg/menit menurut label pabrik).

  • Perhatian: Monitor EKG dan tekanan darah secara ketat. Waspadai hipotensi dan pemanjangan interval QRS/QT. Hati-hati pada gagal ginjal/hati.

  • Ibutilide IV: Merupakan alternatif yang efektif jika Procainamide tidak tersedia atau kontraindikasi.

  • Dosis Obat Aritmia: Untuk pasien ≥60 kg: 1 mg IV diinfuskan selama 10 menit. Untuk pasien <60 kg: 0.01 mg/kg IV diinfuskan selama 10 menit. Jika aritmia belum terkonversi 10 menit setelah infus pertama selesai, dosis dapat diulang satu kali.

  • Perhatian: Risiko utama adalah Torsades de Pointes (TdP). Wajib dilakukan pemantauan EKG kontinu selama dan setidaknya 4 jam setelah infus. Pastikan kadar Kalium (>4.0 mEq/L) dan Magnesium serum normal sebelum pemberian. Pertimbangkan pemberian Magnesium Sulfat IV profilaksis. Defibrilator harus siap sedia.

  • Amiodarone IV: Dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lini kedua atau ketiga jika Procainamide/Ibutilide tidak tersedia, namun onset kerjanya lebih lambat dan memiliki efek blokade nodus AV yang tidak diinginkan pada AF pre-eksitasi.

  • Flecainide atau Propafenone IV: Disebutkan sebagai pilihan oleh beberapa panduan (misalnya ESC Kelas IIa untuk AVRT antidromik) , namun penggunaannya memerlukan kehati-hatian karena potensi efek proaritmia dan efek pada nodus AV.

Tabel Ringkasan: Tatalaksana Farmakologis Akut Takiaritmia WPW pada Pasien Stabil

Jenis Aritmia

Obat Pilihan Pertama

Dosis IV Kunci ("Dosis Obat Aritmia")

Alternatif

Obat Kontraindikasi

Catatan Penting

AVRT Ortodromik (QRS Sempit, Reguler)

Adenosine

6 mg bolus cepat, ulangi 12 mg jika perlu (max 18 mg)

Verapamil/Diltiazem IV, Beta-blocker IV

-

Waspada potensi picu AF pada WPW; Siapkan defibrilator.

AF Pre-eksitasi (QRS Lebar, Irreguler) ATAU AVRT Antidromik (QRS Lebar, Reguler)

Procainamide

Loading: 15 mg/kg @ 20-50 mg/min (max 17 mg/kg) atau 1000 mg / 30 menit. Maintenance: 1-4 mg/min

Ibutilide IV, Amiodarone IV (hati-hati), Flecainide/Propafenone IV (hati-hati)

Verapamil, Diltiazem, Adenosine, Digoxin, Beta-blocker

Hindari mutlak obat pemblokir nodus AV! Monitor EKG & TD ketat.

Ibutilide

≥60 kg: 1 mg / 10 menit. <60 kg: 0.01 mg/kg / 10 menit. Ulangi 1x jika perlu.

Procainamide IV, Amiodarone IV (hati-hati)

Verapamil, Diltiazem, Adenosine, Digoxin, Beta-blocker

Risiko TdP; Monitor EKG min. 4 jam; Koreksi K/Mg; Siapkan defibrilator.

Catatan: Tabel ini adalah ringkasan. Selalu rujuk panduan lengkap dan pertimbangkan kondisi klinis pasien.

Hierarki terapi pada pasien stabil jelas: manuver vagal diikuti Adenosine untuk AVRT kompleks sempit. Untuk AF pre-eksitasi atau AVRT kompleks lebar, Procainamide atau Ibutilide adalah pilihan utama, dengan penekanan mutlak untuk menghindari obat pemblokir nodus AV. Kesalahan dalam pemilihan obat pada AF pre-eksitasi dapat berakibat fatal, menjadikannya poin pembelajaran paling kritis bagi GP.

Tatalaksana Jangka Panjang: Ablasi Kateter

Setelah penanganan fase akut, fokus beralih ke tatalaksana jangka panjang untuk mencegah rekurensi aritmia dan risiko SCD. Terapi WPW definitif adalah eliminasi jalur aksesori (AP) melalui prosedur ablasi kateter. Prosedur ini menggunakan energi (biasanya radiofrekuensi atau cryo/dingin) yang dihantarkan melalui kateter untuk menghancurkan jaringan AP.

Indikasi Ablasi Kateter:

Berdasarkan panduan terbaru (misalnya, ESC/AHA):

  • Pasien Simtomatik: Ablasi kateter merupakan rekomendasi Kelas I (indikasi kuat) untuk semua pasien dengan WPW syndrome (yaitu, WPW pattern di EKG disertai riwayat aritmia simtomatik seperti AVRT atau AF pre-eksitasi).

  • Pasien Asimtomatik (WPW Pattern): Keputusan untuk ablasi lebih kompleks dan didasarkan pada stratifikasi risiko:

  • Ablasi direkomendasikan atau dipertimbangkan secara kuat (Kelas IIa/IIb) jika hasil stratifikasi risiko (biasanya melalui EPS) menunjukkan adanya AP berisiko tinggi (misalnya, SPERRI ≤250 ms, APERP ≤250 ms, mudah terinduksi aritmia, multiple AP).

  • Ablasi juga direkomendasikan untuk individu asimtomatik yang memiliki pekerjaan berisiko tinggi (misalnya, pilot, pengemudi) atau merupakan atlet kompetitif, di mana episode aritmia mendadak dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.

  • Ablasi dapat dipertimbangkan berdasarkan preferensi pasien setelah diskusi mendalam mengenai potensi risiko SCD (meskipun rendah) versus risiko prosedur ablasi. Meskipun masih ada kontroversi, tren saat ini cenderung mendukung ablasi profilaksis pada pasien asimtomatik yang teridentifikasi berisiko tinggi.

Tingkat Keberhasilan, Rekurensi, dan Komplikasi:

  • Keberhasilan: Ablasi kateter untuk WPW memiliki tingkat keberhasilan akut yang sangat tinggi, umumnya dilaporkan lebih dari 90-95% dalam menghilangkan konduksi AP. Tingkat keberhasilan ini terus meningkat seiring dengan kemajuan teknologi dan pengalaman operator.

  • Rekurensi: Konduksi AP dapat kembali muncul pada sebagian kecil pasien setelah ablasi awal yang berhasil. Tingkat rekurensi jangka panjang dilaporkan berkisar antara 4% hingga 8%, dengan rata-rata sekitar 6.2% dalam sebuah meta-analisis. Pasien dengan rekurensi mungkin memerlukan prosedur ablasi ulang.

  • Komplikasi: Meskipun umumnya aman, ablasi kateter adalah prosedur invasif dan memiliki risiko komplikasi. Tingkat komplikasi mayor dilaporkan rendah, biasanya berkisar antara 1% hingga 4%. Komplikasi yang mungkin terjadi meliputi: tamponade jantung (perdarahan di kantung perikardium), blok AV komplet permanen yang memerlukan pemasangan alat pacu jantung (risiko lebih tinggi pada ablasi AP di dekat septum), kejadian tromboemboli (stroke), komplikasi vaskular di lokasi akses kateter (hematoma, pseudoaneurisma), perforasi dinding jantung, cedera arteri koroner, hingga kematian (sangat jarang, sekitar 0.1%).

Ablasi Radiofrekuensi (RFA) vs. Cryoablation:

Dua modalitas energi utama yang digunakan adalah RFA (menggunakan energi panas) dan Cryoablation (menggunakan energi dingin/beku). Keduanya efektif. Cryoablation terkadang lebih dipilih untuk AP yang lokasinya berdekatan dengan sistem konduksi normal (misalnya, AP anteroseptal atau midseptal) karena dianggap memiliki risiko lebih rendah menyebabkan blok AV permanen dibandingkan RFA. 

Namun, cryoablation mungkin memiliki tingkat rekurensi yang sedikit lebih tinggi pada beberapa studi. Bagi GP, pemahaman bahwa kedua teknik ini tersedia dan sangat efektif sudah cukup; pemilihan teknik spesifik biasanya diserahkan kepada ahli elektrofisiologi berdasarkan lokasi AP dan faktor pasien lainnya.

Manfaat Jangka Panjang Ablasi:

Selain menghilangkan gejala dan risiko SCD yang terkait langsung dengan konduksi cepat AP, studi jangka panjang menunjukkan bahwa pasien WPW yang menjalani ablasi memiliki tingkat mortalitas keseluruhan yang lebih rendah dibandingkan pasien WPW yang tidak diablasio. Ablasi juga dapat memperbaiki fungsi ventrikel kiri pada pasien yang mengalami disinkroni mekanik akibat pola aktivasi ventrikel abnormal dari pre-eksitasi.

Meskipun ablasi kateter sangat efektif dan relatif aman, penting bagi GP untuk menyampaikan informasi yang seimbang mengenai risiko dan manfaat kepada pasien, terutama pada kasus asimtomatik. Namun, bukti manfaat jangka panjang, termasuk potensi penurunan mortalitas, semakin memperkuat posisi ablasi sebagai terapi pilihan pada pasien WPW yang tepat.

Menariknya, beberapa data menunjukkan bahwa meskipun ablasi menghilangkan AP, risiko AF 'biasa' (tidak pre-eksitasi) mungkin tetap ada atau bahkan sedikit meningkat di kemudian hari pada sebagian pasien WPW, menunjukkan kemungkinan adanya kelainan substrat atrial yang mendasari selain AP itu sendiri. Hal ini mengimplikasikan perlunya kewaspadaan jangka panjang terhadap AF bahkan setelah ablasi AP berhasil.

Kesimpulan dan Poin Kunci untuk Praktik Sehari-hari

Sindrom Wolff-Parkinson-White merupakan kondisi klinis penting yang perlu dikenali dan dipahami oleh Dokter Umum. Pengenalan pola EKG klasik (interval PR pendek, gelombang delta, QRS lebar) adalah langkah awal diagnosis WPW. Penting untuk membedakan antara WPW pattern (asimtomatik) dan WPW syndrome (simtomatik) karena implikasi tatalaksananya berbeda.

Stratifikasi risiko sangat krusial, terutama pada pasien asimtomatik, untuk mengidentifikasi individu berisiko tinggi terhadap aritmia maligna. Tes non-invasif seperti EST dapat memberikan petunjuk awal, namun EPS tetap menjadi standar baku emas untuk penilaian risiko definitif dan seringkali diindikasikan pada pasien simtomatik, serta pasien asimtomatik dengan pekerjaan berisiko tinggi, temuan non-invasif yang meragukan, atau berdasarkan preferensi pasien.

Dalam tatalaksana akut takiaritmia terkait WPW, prioritas utama pada pasien tidak stabil adalah kardioversi listrik segera. Pada pasien stabil, pemilihan terapi farmakologis bergantung pada jenis aritmia. Poin keselamatan paling kritis adalah menghindari penggunaan obat pemblokir nodus AV (Verapamil, Diltiazem, Adenosine, Digoxin, Beta-blocker) pada kasus AF dengan pre-eksitasi karena berpotensi memicu VF. Procainamide dan Ibutilide adalah obat pilihan utama untuk AF pre-eksitasi atau AVRT antidromik pada pasien stabil; mengetahui dosis obat aritmia yang tepat sangat penting.

Terapi WPW jangka panjang yang paling efektif dan kuratif adalah ablasi kateter jalur aksesori. Prosedur ini memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi dan risiko komplikasi yang rendah, serta terbukti menurunkan mortalitas jangka panjang pada kelompok pasien yang tepat. Ablasi diindikasikan untuk semua pasien simtomatik dan pasien asimtomatik yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi.

Peran Dokter Umum sangat vital dalam mengenali tanda dan gejala WPW, melakukan interpretasi EKG awal, memahami prinsip dasar stratifikasi risiko dan tatalaksana akut (termasuk kontraindikasi obat), serta melakukan rujukan tepat waktu ke spesialis jantung atau ahli elektrofisiologi untuk evaluasi lebih lanjut dan manajemen definitif.

Referensi

  1. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32119324/#:~:text=Wolff%2DParkinson%2DWhite%20(WPW,symptomatic%20and%20life%2Dthreatening%20arrhythmias.

  2. Wolff-Parkinson-White Syndrome - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32119324/

  3. Wolff-Parkinson-White Syndrome - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554437/

  4. Wolff-Parkinson-White syndrome: Diagnostic and management strategies, diakses April 19, 2025, https://www.ccjm.org/content/92/2/119

  5. Wolf–Parkinson–White Syndrome: Diagnosis, Risk Assessment, and ..., diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10855590/

  6. Wolf-Parkinson-White Syndrome: Diagnosis, Risk Assessment, and Therapy-An Update, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38337810/

  7. The Wolff–Parkinson–White pattern in neonates: results from a large population-based cohort study - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10354624/

  8. Evaluation and Management of Wolff-Parkinson-White in Athletes - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4065555/

  9. Electrocardiography in the patient with the Wolff-Parkinson-White syndrome: diagnostic and initial therapeutic issues - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10597097/

  10. Evaluation and management of wolff-Parkinson-white in athletes - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24982705/

  11. Wolff-Parkinson-White Syndrome Presenting After a Motorcycle Accident | Kaya | Journal of Medical Cases, diakses April 19, 2025, https://www.journalmc.org/index.php/JMC/article/view/331/230

  12. Sudden cardiac death due to the Wolff–Parkinson–White syndrome: A case report with genetic analysis, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6320009/

  13. Catheter Ablation of the Accessory Pathway in the Asymptomatic Patient with Wolff-Parkinson-White - UND Scholarly Commons, diakses April 19, 2025, https://commons.und.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1076&context=pas-grad-papers

  14. Wolff-Parkinson-White syndrome: lessons learnt and lessons remaining - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28084962/

  15. Prophylactic Ablation in Asymptomatic Patients with Wolff-Parkinson-White Syndrome, diakses April 19, 2025, https://brieflands.com/articles/jkums-107589

  16. Wolff-Parkinson-White syndrome: Diagnostic and management strategies - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39900448/

  17. Review paper on WPW and athletes: Let sleeping dogs lie? - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7403723/

  18. Brief history of arrhythmia in the WPW syndrome – the contribution of George Ralph Mines, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3779102/

  19. Incidence, clinical, electrophysiological characteristics and outcomes of patients with Wolff-Parkinson-White syndrome and atrial fibrillation, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6994406/

  20. [Atrial fibrillation in Wolff-Parkinson-White syndrome. Development and therapy] - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8454253/

  21. Electrophysiological evaluation of Wolff-Parkinson-White Syndrome - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1557416/

  22. Approach to a patient with asymptomatic pre-excitation | Heart, diakses April 19, 2025, https://heart.bmj.com/content/109/16/1254

  23. Pre-excitation syndromes • LITFL • ECG Library Diagnosis, diakses April 19, 2025, https://litfl.com/pre-excitation-syndromes-ecg-library/

  24. Syncope in the Wolff-Parkinson-White syndrome: incidence and electrophysiologic correlates - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6204291/

  25. Wolff-Parkinson-White–type ventricular preexcitation mimicking left ventricular hypertrophy and an inferoposterior myocardial infarct - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2446427/

  26. Wolff-Parkinson-White syndrome: illustrative case and brief review - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2703690/

  27. [Non-invasive evaluation of a population with WPW syndrome] - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/1786167/

  28. Presence of Septal Q Waves in a Patient with WPW and Manifest Preexcitation - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6931527/

  29. a novel ECG-algorithm for easy and reliable localization of manifest accessory pathways in children and adults - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9935024/

  30. When should we recommend catheter ablation for patients with the ..., diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18281825/

  31. Risk Stratification for Arrhythmic Events in Patients With ..., diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/cir.0000000000000309

  32. Electrocardiographic Clues for Early Diagnosis of Ventricular Pre-Excitation and Non-Invasive Risk Stratification in Athletes: A Practical Guide for Sports Cardiologists - PubMed Central, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11508300/

  33. Risk Stratification for Arrhythmic Events in Patients With Asymptomatic Pre-Excitation: A Systematic Review for the 2015 ACC/AHA/HRS Guideline for the Management of Adult Patients With Supraventricular Tachycardia, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/abs/10.1161/cir.0000000000000309

  34. Asymptomatic Ventricular Pre-excitation: Between Sudden Cardiac ..., diakses April 19, 2025, https://www.aerjournal.com/articles/asymptomatic-ventricular-pre-excitation-between-sudden-cardiac-death-and-catheter-ablation?language_content_entity=en

  35. Asymptomatic Ventricular Pre-excitation: Between Sudden Cardiac Death and Catheter Ablation - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5889808/

  36. Risk stratification in Wolff-Parkinson-White syndrome: the correlation between noninvasive and invasive testing in pediatric patients - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22978820/

  37. Risk assessment in patients with symptomatic and asymptomatic pre-excitation | EP Europace | Oxford Academic, diakses April 19, 2025, https://academic.oup.com/europace/article/26/2/euae036/7608623

  38. When to Perform Catheter Ablation in Asymptomatic Patients With a Wolff-Parkinson-White Electrocardiogram | Circulation - American Heart Association Journals, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/circulationaha.104.483321

  39. Electrophysiologic Profile and Results of Invasive Risk Stratification in Asymptomatic Children and Adolescents With the Wolff–Parkinson–White Electrocardiographic Pattern | Circulation - American Heart Association Journals, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/circep.113.000930

  40. Prophylactic Radiofrequency Ablation in Asymptomatic Patients With Wolff–Parkinson–White Is Not Yet a Good Strategy | Circulation: Arrhythmia and Electrophysiology - American Heart Association Journals, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/circep.112.970459

  41. Management of Young Athletes with Asymptomatic Preexcitation—A Review of the Literature - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7602380/

  42. Radiofrequency ablation of multiple accessory pathways - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12134973/

  43. Long-Term Natural History of Adult Wolff–Parkinson–White Syndrome Patients Treated With and Without Catheter Ablation | Circulation: Arrhythmia and Electrophysiology, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/CIRCEP.115.003013?url_ver=Z39.88-2003&rfr_id=ori:rid:crossref.org&rfr_dat=cr_pub=pubmed

  44. Radiofrequency ablation of accessory pathways in patients with the Wolff–Parkinson–White syndrome: long-term risk of mortality and coronary events | EP Europace | Oxford Academic, diakses April 19, 2025, https://academic.oup.com/europace/article/20/6/1035/3866458

  45. Atrial Fibrillation in Wolff-Parkinson-White Syndrome - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8288628/

  46. Inpatient Management of Acute Atrial Fibrillation and Atrial Flutter in Non-Pregnant Hospitalized Adults - NCBI, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK579414/

  47. Supraventricular Tachycardia - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441972/

  48. Tachyarrhythmia in Wolff-Parkinson-White Syndrome - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4944806/

  49. Wolff-Parkinson-White Syndrome Treatment & Management ..., diakses April 19, 2025, https://emedicine.medscape.com/article/159222-treatment

  50. Supraventricular tachycardia (SVT) - EMCrit Project, diakses April 19, 2025, https://emcrit.org/ibcc/svt/

  51. ACC/AHA/ESC Guidelines for the Management of Patients With Supraventricular Arrhythmias*—Executive Summary | Circulation - American Heart Association Journals, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/01.cir.0000091380.04100.84

  52. Review of the 2019 European Society of Cardiology Guidelines for the management of patients with supraventricular tachycardia: What is new, and what has changed?, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6955050/

  53. ACC/AHA/ESC 2006 guidelines for the management of patients with atrial fibrillation–executive summary | European Heart Journal | Oxford Academic, diakses April 19, 2025, https://academic.oup.com/eurheartj/article/27/16/1979/408863

  54. ACC/AHA/ESC Guidelines for the Management of Patients With Supraventricular Arrhythmias*—Executive Summary, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/01.cir.0000091380.04100.84?%20sid=19aadfd7-e701-4544-b963-51bbda1c0a03

  55. Antiarrhythmics - EMCrit Project, diakses April 19, 2025, https://emcrit.org/ibcc/antiarrhythmic/

  56. Procainamide - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557788/

  57. Antiarrhythmic Medications - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482322/

  58. Atrial fibrillation in the Wolff-Parkinson-White syndrome: ECG recognition and treatment in the ED - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17543664/

  59. Termination of acute atrial fibrillation in the Wolff-Parkinson-White syndrome by procainamide and propafenone: importance of atrial fibrillatory cycle length - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2229793/

  60. Use of procainamide in patients with the Wolff-Parkinson-White syndrome to disclose a short refractory period of the accessory pathway - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7137035/

  61. Electrophysiological Effects of Ibutilide in Patients With Accessory Pathways | Circulation, diakses April 19, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/hc4101.097538

  62. Ibutilide for the Cardioversion of Paroxysmal Atrial Fibrillation during Radiofrequency Ablation of Supraventricular Tachycardias - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3123907/

  63. Conversion efficacy and safety of intravenous ibutilide compared with intravenous procainamide in patients with atrial flutter or fibrillation - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9581743/

  64. Ibutilide - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526021/

  65. Antiarrhythmic actions of intravenous ibutilide compared with procainamide during human atrial flutter and fibrillation: electrophysiological determinants of enhanced conversion efficacy - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9416896/

  66. Comparative efficacy of intravenous ibutilide versus procainamide for enhancing termination of atrial flutter by atrial overdrive pacing - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8644646/

  67. Flecainide in clinical practice - PMC - PubMed Central, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10287070/

  68. The success rate of radiofrequency catheter ablation in Wolff ..., diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10123428/

  69. (PDF) The success rate of Radiofrequency catheter ablation in Wolff-Parkinson-White-syndrome patients: A Systematic review and Meta-analysis - ResearchGate, diakses April 19, 2025, https://www.researchgate.net/publication/368337891_The_success_rate_of_Radiofrequency_catheter_ablation_in_Wolff-Parkinson-White-syndrome_patients_A_Systematic_review_and_Meta-analysis

  70. The success rate of radiofrequency catheter ablation in Wolff-Parkinson-White-Syndrome patients: A systematic review and meta-analysis - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36758831/

  71. pmc.ncbi.nlm.nih.gov, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10123428/#:~:text=The%20pooled%20effect%20estimates%20showed,1.5%2C%20p%20%3C%200.001%5D).

  72. Radiofrequency catheter ablation in patients with Wolff-Parkinson-White syndrome, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8087753/

  73. Radiofrequency catheter ablation of accessory pathways: a learning experience - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/1746468/

  74. Success rate and safety of catheter ablation in preexcitation syndrome: A comparison between adult and pediatric patients - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8890416/

  75. Catheter Ablation - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470203/

  76. Risk assessment in patients with symptomatic and asymptomatic pre-excitation - PMC, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10873488/

  77. Risk Factors Associated With Ventricular Dysfunction in Wolff-Parkinson-White Syndrome, diakses April 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11955726/

  78. Mechanisms for the genesis of paroxysmal atrial fibrillation in the Wolff Parkinson-White syndrome: intrinsic atrial muscle vulnerability vs. electrophysiological properties of the accessory pathway - PubMed, diakses April 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18308751/