20 Feb 2026 •
Manajemen yang berhasil pada pasien dengan pneumonia komunitas yang berkomplikasi menjadi syok sepsis bergantung pada satu faktor fundamental: identifikasi yang cepat dan akurat. Bagi dokter di lini depan, kemampuan untuk mengenali tanda-tanda bahaya dan mengklasifikasikan keparahan penyakit secara tepat waktu merupakan fondasi dari seluruh intervensi penyelamatan jiwa yang akan mengikuti.
Bagian ini bertujuan untuk membekali para klinisi dengan perangkat diagnostik dan kerangka berpikir yang diperlukan untuk menavigasi presentasi klinis yang kompleks ini, mulai dari definisi dasar hingga aplikasi praktis skor penilaian dan interpretasi investigasi awal.

Penting untuk dipahami bahwa pneumonia komunitas (Community-Acquired Pneumonia/CAP), pneumonia berat (Severe CAP/SCAP), dan syok sepsis bukanlah tiga diagnosis yang terpisah, melainkan sebuah kontinum atau spektrum keparahan dari proses penyakit yang sama.
CAP didefinisikan sebagai infeksi akut pada parenkim paru yang gejalanya muncul di lingkungan komunitas. Diagnosis ini masih dapat ditegakkan bahkan jika pasien baru masuk rumah sakit dalam 48 jam pertama.Ketika infeksi ini menjadi cukup parah hingga memerlukan terapi suportif di unit perawatan kritis (ICU), kondisi ini disebut sebagai SCAP.
SCAP seringkali tidak lagi hanya merupakan penyakit paru, melainkan telah berkembang menjadi penyakit multisistem yang ditandai dengan kegagalan organ ganda. Data epidemiologi menunjukkan bahwa sekitar 10% hingga 20% dari semua pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit dengan CAP pada akhirnya memerlukan perawatan di ICU.
Dari populasi pasien CAP di ICU ini, proporsi yang signifikan, mencapai hingga 50%, datang dengan syok sepsis.Syok sepsis merupakan manifestasi paling berat dalam spektrum ini. Kondisi ini didefinisikan sebagai subset dari sepsis di mana terdapat abnormalitas sirkulasi dan seluler-metabolik yang sangat dalam sehingga risiko mortalitas meningkat secara substansial.
Secara operasional, diagnosis syok sepsis ditegakkan pada pasien dengan hipotensi yang persisten dan memerlukan terapi vasopresor untuk mempertahankan Mean Arterial Pressure (MAP) di atas 65 mmHg, disertai dengan peningkatan kadar laktat plasma di atas 2 mmol/L, meskipun resusitasi cairan telah diberikan secara adekuat.
Pemahaman akan spektrum ini krusial, karena memungkinkan klinisi untuk mengantisipasi progresi penyakit. Pasien mungkin datang hanya dengan gambaran CAP, tetapi pengenalan dini tanda-tanda SCAP adalah kunci untuk intervensi proaktif sebelum syok yang ireversibel terjadi.
Untuk menerjemahkan konsep spektrum keparahan menjadi tindakan klinis, beberapa alat penilaian telah dikembangkan dan divalidasi. Penggunaannya secara hirarkis dapat membantu dokter di unit gawat darurat (UGD) atau fasilitas layanan primer dalam membuat keputusan yang cepat dan tepat.
Skrining Awal: qSOFA dan CURB-65
Untuk identifikasi cepat di samping tempat tidur, dua skor sederhana sangat berguna. Quick Sequential Organ Failure Assessment (qSOFA) telah terbukti lebih bermanfaat secara klinis daripada kriteria SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome) untuk manajemen cepat pasien CAP di UGD.. Skor ini menilai tiga parameter: perubahan status mental, laju napas
≥ 22 kali/menit, dan tekanan darah sistolik ≤ 100 mmHg.
Skor CURB-65 adalah alat skrining lain yang mudah diingat, merupakan akronim dari: Confusion (kebingungan), Urea (kadar urea nitrogen > 19.6 mg/dL), Respiratory rate (laju napas ≥ 30 kali/menit), Blood pressure (tekanan darah rendah, sistolik ≤ 90 mmHg atau diastolik ≤ 60 mmHg), dan usia ≥ 65 tahun.
Kedua skor ini sangat baik digunakan sebagai alat triase awal untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami perburukan.
Penilaian Definitif: Kriteria IDSA/ATS
Jika hasil skrining awal menunjukkan risiko tinggi, evaluasi yang lebih komprehensif menggunakan kriteria dari Infectious Diseases Society of America/American Thoracic Society (IDSA/ATS) diperlukan untuk menentukan kebutuhan perawatan ICU. Kriteria ini dianggap sebagai standar emas untuk mendefinisikan SCAP. Diagnosis SCAP ditegakkan jika pasien memenuhi satu kriteria mayor ATAU tiga atau lebih kriteria minor.
Kriteria Mayor:
Syok sepsis dengan kebutuhan vasopresor.
Gagal napas yang memerlukan ventilasi mekanik invasif.
Kriteria Minor:
Laju napas ≥ 30 kali/menit.
Rasio PaO2/FiO2≤250.
Infiltrat multilobar pada radiografi toraks.
Konfusi atau disorientasi.
Uremia (kadar Blood Urea Nitrogen ≥ 20 mg/dL).
Leukopenia (jumlah sel darah putih < 4000 sel/mm).
Trombositopenia (jumlah trombosit < 100,000/mm).
Hipotermia (suhu inti < 36°C).
Hipotensi yang memerlukan resusitasi cairan agresif.
Penting untuk ditekankan bahwa skor-skor ini adalah alat bantu, bukan pengganti penilaian klinis.
Pedoman secara eksplisit menyarankan penggunaan kriteria minor IDSA/ATS "bersama dengan penilaian klinis" untuk memandu keputusan mengenai tingkat perawatan yang lebih tinggi. Seorang klinisi muda mungkin tergoda untuk mengikuti skor secara kaku, namun gestalt klinis—kesan keseluruhan berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang cermat—tetap tidak tergantikan.
Alur kerja yang ideal adalah menggunakan qSOFA atau CURB-65 untuk skrining cepat, yang jika positif, memicu evaluasi lebih lanjut dengan kriteria IDSA/ATS yang memerlukan data laboratorium dan radiologi untuk keputusan definitif mengenai disposisi pasien ke ICU.
Investigasi awal memiliki dua tujuan utama: mengkonfirmasi diagnosis pneumonia dan menilai tingkat keparahan disfungsi organ.
Radiologi
Radiografi toraks adalah pemeriksaan esensial untuk menegakkan diagnosis CAP. Pemeriksaan fisik untuk mendeteksi rales atau suara napas bronkial tidak cukup sensitif maupun spesifik. Foto toraks tidak hanya mengkonfirmasi adanya infiltrat paru tetapi juga membantu menyingkirkan diagnosis banding seperti gagal jantung kongestif atau emboli paru, serta menilai tingkat keparahan (misalnya, adanya infiltrat multilobar, yang merupakan salah satu kriteria minor IDSA/ATS).
Lebih dari sekadar alat diagnostik, keharusan melakukan konfirmasi radiologis juga berfungsi sebagai mekanisme stewardship antibiotik yang fundamental. Prevalensi pneumonia pada orang dewasa dengan gejala pernapasan yang sugestif hanya berkisar antara 3% di layanan rawat jalan umum hingga 28% di UGD.
Tanpa konfirmasi radiografi, banyak pasien dengan infeksi saluran napas atas atau bronkitis akut—yang sebagian besar disebabkan oleh virus dan tidak memerlukan antibiotik—akan menerima terapi antimikroba yang tidak perlu.
Dengan demikian, penegakan diagnosis berbasis radiografi membantu mencegah penggunaan antibiotik yang berlebihan dan memerangi resistensi antimikroba.
Gambar 1. Foto thorax Pneumonia berat terintubasi dengan ventilator

Laboratorium
Serangkaian tes laboratorium harus dilakukan pada semua pasien yang dirawat inap dengan dugaan CAP. Ini termasuk hitung darah lengkap dengan hitung jenis (untuk mendeteksi leukopenia atau leukositosis), panel metabolik komprehensif (untuk menilai fungsi ginjal, elektrolit, glukosa, dan fungsi hati), dan analisis gas darah arteri (untuk menilai status oksigenasi, ventilasi, dan asam-basa).
Biomarker inflamasi seperti C-reactive protein (CRP) dan procalcitonin (PCT) dapat menjadi alat bantu tambahan. Meskipun bukti ekstensif mendukung peran mereka dalam membantu diagnosis dan penilaian keparahan, pedoman saat ini menegaskan bahwa kadar biomarker tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk memulai atau menunda terapi antibiotik empiris.
Peningkatan kadar laktat serum (> 2 mmol/L) adalah temuan kunci yang, bersama dengan hipotensi yang memerlukan vasopresor, mendefinisikan adanya syok sepsis.
Mikrobiologi
Identifikasi patogen penyebab sangat penting untuk terapi definitif dan de-eskalasi. Pedoman merekomendasikan pengambilan spesimen mikrobiologis sebelum pemberian dosis pertama antibiotik, terutama pada pasien dengan SCAP. Prosedur ini mencakup:
Dua set kultur darah: Diambil dari lokasi venepunksi yang berbeda.
Kultur sputum dengan pewarnaan Gram: Jika pasien dapat menghasilkan sputum berkualitas baik.
Meskipun Streptococcus pneumoniae tetap menjadi patogen paling umum pada SCAP, insiden patogen lain seperti Staphylococcus aureus (termasuk MRSA), Legionella species, dan basil Gram-negatif (seperti Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella pneumoniae) semakin meningkat.
Pengambilan kultur awal yang tepat, meskipun seringkali menantang dalam situasi darurat, sangat krusial karena memberikan data yang diperlukan untuk menyesuaikan terapi antibiotik di kemudian hari.
Pada pasien dengan pneumonia yang telah berkembang menjadi syok sepsis, prioritas utama bergeser dari diagnosis ke intervensi penyelamatan jiwa. Hipoperfusi jaringan akibat vasodilatasi sistemik dan kebocoran kapiler adalah ciri patofisiologis utama yang harus segera diatasi.
Tatalaksana hemodinamik yang cepat dan tepat, yang mencakup terapi cairan dan vasopresor, merupakan pilar untuk memulihkan perfusi organ dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
Pilihan cairan resusitasi telah menjadi subjek perdebatan selama bertahun-tahun, namun konsensus saat ini telah bergeser ke arah rekomendasi yang lebih spesifik.
Kristaloid sebagai Lini Pertama
Pedoman secara konsisten merekomendasikan penggunaan cairan kristaloid sebagai terapi lini pertama untuk resusitasi pada sepsis dan syok sepsis. Kristaloid efektif, tersedia luas, dan memiliki profil keamanan yang lebih baik dibandingkan koloid.
Kristaloid Seimbang vs. Salin Normal
Diskusi modern tidak lagi hanya tentang "kristaloid vs. koloid", tetapi lebih bernuansa pada "kristaloid yang mana".
Bukti yang semakin kuat menunjukkan keunggulan kristaloid seimbang (seperti Ringer Laktat atau PlasmaLyte) dibandingkan salin normal (0.9% NaCl). Salin normal, yang bersifat non-fisiologis karena kandungan klorida yang tinggi (154 mmol/L), telah dikaitkan dengan peningkatan risiko asidosis metabolik hiperkloremik, cedera ginjal akut (AKI), dan bahkan mortalitas yang lebih tinggi pada pasien sakit kritis.
Sebaliknya, kristaloid seimbang memiliki komposisi elektrolit dan pH yang lebih mendekati plasma, sehingga dapat memitigasi risiko-risiko ini. Oleh karena itu, Surviving Sepsis Campaign (SSC) menyarankan penggunaan larutan seimbang daripada salin normal untuk resusitasi pasien sepsis.
Pesan praktis bagi klinisi adalah untuk beralih dari penggunaan rutin salin normal dan lebih memilih kristaloid seimbang sebagai cairan resusitasi utama.
Peran Koloid dan Albumin
Penggunaan koloid semisintetik (seperti hydroxyethyl starch/HES) secara umum harus dihindari, karena studi telah menunjukkan hubungan dengan peningkatan risiko AKI dan mortalitas. Albumin, sebuah koloid alami, tidak direkomendasikan sebagai cairan resusitasi lini pertama karena biayanya yang signifikan lebih tinggi dan tidak adanya bukti manfaat mortalitas yang jelas dibandingkan kristaloid pada populasi sepsis secara umum.
Namun, pedoman SSC menyarankan untuk mempertimbangkan pemberian albumin pada pasien yang memerlukan volume kristaloid dalam jumlah besar untuk resusitasi, dengan harapan efek onkotiknya dapat membantu mempertahankan volume intravaskular.
Jenis Cairan | Komposisi Kunci (per Liter) | Keuntungan Klinis | Kerugian & Risiko | Rekomendasi Pedoman (SSC) |
Kristaloid Seimbang (contoh: Ringer Laktat) | Na+: 130 mEq, Cl−: 109 mEq, pH: ~6.5, Buffer: Laktat | Komposisi lebih fisiologis, meminimalkan risiko asidosis hiperkloremik dan AKI. | Potensi hiperkalemia (jarang signifikan secara klinis), laktat dapat mengganggu interpretasi laktat serum (sementara). | Disarankan sebagai cairan kristaloid pilihan pertama di atas Salin Normal. |
Salin Normal (0.9% NaCl) | Na+: 154 mEq, Cl−: 154 mEq, pH: ~5.5, Buffer: Tidak ada | Tersedia luas, murah. | Kandungan klorida suprafisiologis, risiko tinggi asidosis metabolik hiperkloremik dan cedera ginjal akut (AKI). | Tidak dianjurkan sebagai pilihan pertama jika kristaloid seimbang tersedia. |
Albumin 5% | Na+: 130-160 mEq, Cl−: ≤130 mEq, pH: 6.4-7.4, Protein: 50 g | Koloid alami, memberikan tekanan onkotik untuk mempertahankan volume intravaskular. | Biaya tinggi, tidak ada bukti manfaat mortalitas yang konsisten sebagai lini pertama. | Pertimbangkan penggunaannya pada pasien yang memerlukan volume kristaloid yang sangat besar. |
Manajemen cairan pada syok sepsis adalah pedang bermata dua. Resusitasi yang kurang akan menyebabkan hipoperfusi persisten, sementara resusitasi yang berlebihan (overload cairan) dikaitkan dengan edema paru, perpanjangan masa ventilasi mekanik, dan peningkatan mortalitas. Oleh karena itu, pendekatan yang dinamis dan terukur sangat penting.
Pedoman SSC merekomendasikan pemberian awal minimal 30 mL/kg cairan kristaloid intravena yang harus diselesaikan dalam 3 jam pertama resusitasi pada pasien dengan hipotensi atau hiperlaktatemia (kadar laktat ≥ 4 mmol/L).
Penting untuk dicatat bahwa ini adalah rekomendasi lemah berdasarkan bukti berkualitas rendah, yang berarti ini harus dilihat sebagai titik awal resusitasi, bukan resep yang kaku. Pendekatan praktis yang dapat diterima adalah memberikan bolus awal 1 Liter selama 30 menit pertama, kemudian melanjutkan sisa volume dengan bolus berulang sambil terus memantau respons pasien.
Hal ini menggarisbawahi pergeseran paradigma yang signifikan dalam manajemen cairan: dari pendekatan "lebih banyak lebih baik" di masa lalu, ke filosofi "jumlah yang tepat pada waktu yang tepat". Terapi cairan harus dipandang memiliki fase-fase yang berbeda:
fase Resusitasi awal yang cepat, diikuti oleh fase Optimalisasi di mana bolus cairan lebih lanjut dipandu oleh penilaian responsivitas, kemudian fase Stabilisasi, dan akhirnya fase De-eskalasi di mana kelebihan cairan dihilangkan secara aktif.
Setelah bolus awal, keputusan untuk memberikan cairan lebih lanjut harus didasarkan pada penilaian objektif apakah pasien masih fluid responsive (yaitu, apakah penambahan volume akan meningkatkan curah jantung). Penggunaan ukuran statis seperti Central Venous Pressure (CVP) tidak lagi direkomendasikan karena kemampuannya yang buruk dalam memprediksi responsivitas cairan. Sebaliknya, klinisi harus menggunakan ukuran dinamis, yang meliputi:
Passive Leg Raising (PLR): Mengangkat kaki pasien ke sudut 45 derajat secara pasif akan memindahkan sekitar 300 mL darah dari ekstremitas bawah ke sirkulasi sentral, mensimulasikan bolus cairan. Peningkatan curah jantung (diukur dengan ekokardiografi atau alat lain) lebih dari 10% selama manuver ini sangat prediktif terhadap responsivitas cairan.
Capillary Refill Time (CRT): Metode sederhana dan non-invasif ini, yang mengukur waktu yang dibutuhkan warna untuk kembali ke dasar kuku setelah ditekan, merupakan indikator perfusi jaringan perifer. Perbaikan CRT setelah bolus cairan menunjukkan respons yang baik.
Variasi Tekanan Nadi (PPV) dan Variasi Volume Sekuncup (SVV): Pada pasien yang terintubasi dan tersedasi penuh, variasi curah jantung selama siklus ventilasi mekanik dapat digunakan untuk memprediksi responsivitas cairan. Namun, metode ini memiliki banyak keterbatasan (misalnya, tidak akurat pada pasien dengan napas spontan, aritmia, atau volume tidal rendah).
Ketika hipotensi (didefinisikan sebagai MAP < 65 mmHg) menetap meskipun telah dilakukan resusitasi cairan awal yang adekuat, penundaan lebih lanjut dalam memulihkan tekanan perfusi organ sangat berbahaya. Pada titik ini, inisiasi terapi vasopresor menjadi krusial.
Indikasi, Target, dan Pilihan Obat
Vasopresor diindikasikan jika MAP tetap di bawah target 65 mmHg.
Norepinefrin adalah vasopresor pilihan pertama yang direkomendasikan secara universal karena efek vasokonstriksi alfa-adrenergik yang kuat dengan efek takikardia beta-adrenergik yang relatif minimal. Dosis awal dan titrasi norepinefrin biasanya berkisar antara 0.1 hingga 1.2 μg/kg/menit, disesuaikan untuk mencapai target MAP 65 mmHg.
Jika target MAP tidak tercapai dengan dosis norepinefrin yang meningkat, vasopresin dapat ditambahkan sebagai agen lini kedua untuk mengurangi kebutuhan norepinefrin.
Waktu dan Akses Pemberian
Kecepatan adalah segalanya. Data menunjukkan bahwa setiap jam penundaan dalam memulai vasopresor pada pasien syok sepsis dikaitkan dengan peningkatan mortalitas sekitar 7%. Hal ini menciptakan dilema klinis:
memulai vasopresor dengan cepat seringkali terhambat oleh waktu yang dibutuhkan untuk memasang akses vena sentral (Central Venous Catheter/CVC), yang secara tradisional dianggap sebagai satu-satunya rute aman untuk infus vasopresor.
Untuk mengatasi penundaan yang berpotensi fatal ini, pedoman SSC 2021 membuat rekomendasi pragmatis yang baru: infus vasopresor dapat dimulai melalui kateter vena perifer (peripherally inserted venous catheter/PiVC) untuk jangka waktu terbatas (hingga 6 jam) sambil menunggu pemasangan CVC.
Rekomendasi ini mencerminkan keseimbangan antara "terapi ideal" (melalui CVC) dan "terapi yang cukup baik untuk saat ini" demi mencapai tujuan yang paling mendesak, yaitu memulihkan tekanan perfusi. Namun, pendekatan ini bukannya tanpa risiko. Ada laporan tentang cedera jaringan akibat ekstravasasi, terutama jika infus diberikan melalui vena kecil di lokasi distal (misalnya, tangan atau pergelangan tangan).
Oleh karena itu, jika rute perifer digunakan, klinisi harus melakukannya dengan sangat hati-hati: memilih vena yang besar dan proksimal (misalnya, di fossa antecubiti), memantau lokasi infus secara ketat untuk tanda-tanda infiltrasi, dan memahami bahwa ini adalah tindakan jembatan menuju akses vaskular definitif, bukan solusi jangka panjang.
Jika resusitasi hemodinamik adalah upaya untuk menopang "bangunan" yang runtuh, maka terapi antimikroba adalah upaya untuk memadamkan "api" yang menjadi penyebab keruntuhan tersebut.
Pemberian antibiotik yang efektif adalah intervensi definitif dalam tatalaksana pneumonia dengan syok sepsis. Kecepatan, ketepatan spektrum, dan dosis yang adekuat adalah tiga pilar yang menentukan keberhasilan terapi ini. Bagian ini secara spesifik membahas strategi dan dosis obat untuk terapi pneumonia dengan syok sepsis.
Pada pasien dengan syok sepsis, waktu adalah kelangsungan hidup. Hubungan antara waktu pemberian antibiotik dan mortalitas telah terbukti secara kuat.
Sebuah studi fundamental menunjukkan bahwa setiap jam penundaan dalam pemberian terapi antimikroba yang efektif sejak onset hipotensi dikaitkan dengan penurunan angka kelangsungan hidup rata-rata sebesar 7.6%.
Hubungan yang dramatis ini jauh lebih kuat pada pasien dengan syok sepsis dibandingkan dengan pasien sepsis tanpa syok.
Oleh karena itu, pedoman secara tegas merekomendasikan bahwa terapi antibiotik empiris spektrum luas harus dimulai sesegera mungkin, idealnya dalam satu jam pertama setelah diagnosis presumtif syok sepsis ditegakkan.
Meskipun pengambilan kultur sebelum terapi sangat penting, proses ini tidak boleh menunda pemberian dosis pertama antibiotik. Ini adalah pesan kritis yang harus menjadi refleks bagi setiap dokter yang merawat pasien kritis.
Pemilihan regimen antibiotik empiris harus mencakup patogen yang paling mungkin menyebabkan SCAP, terutama S. pneumoniae, patogen atipikal (seperti Legionella pneumophila), dan potensi patogen Gram-negatif.
Berdasarkan pedoman IDSA/ATS 2019, untuk pasien dewasa dengan SCAP yang dirawat di ICU tanpa faktor risiko untuk Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) atau Pseudomonas aeruginosa, terdapat dua regimen kombinasi yang direkomendasikan dengan kuat :
Kombinasi β-laktam PLUS Makrolida (Rekomendasi kuat, bukti kualitas sedang):
β-laktam: Pilihan meliputi Ceftriaxone, Cefotaxime, atau Ampisilin-sulbaktam.
Makrolida: Pilihan meliputi Azitromisin atau Klaritromisin.
Kombinasi β-laktam PLUS Fluorokuinolon Respirasi (Rekomendasi kuat, bukti kualitas rendah):
β-laktam: Pilihan yang sama seperti di atas.
Fluorokuinolon Respirasi: Pilihan meliputi Levofloxacin atau Moxifloxacin.
Penting untuk dicatat bahwa monoterapi dengan fluorokuinolon tidak lagi direkomendasikan untuk tatalaksana empiris SCAP karena kurangnya data pada populasi pasien yang sangat sakit ini.
Pilihan antara makrolida dan fluorokuinolon sebagai agen pendamping β-laktam dapat bergantung pada faktor-faktor seperti pola resistensi lokal, komorbiditas pasien, dan potensi efek samping (misalnya, pemanjangan interval QT).
Salah satu perubahan paradigma paling signifikan dalam pedoman terbaru adalah pendekatan yang lebih hati-hati dan bertarget terhadap penggunaan antibiotik spektrum sangat luas. Konsep lama "Healthcare-Associated Pneumonia" (HCAP), yang secara otomatis mendorong pemberian cakupan untuk MRSA dan P. aeruginosa pada pasien dari panti jompo atau yang baru dirawat, telah ditinggalkan.
Pendekatan baru ini menuntut pemikiran klinis yang lebih bernuansa. Cakupan empiris untuk MRSA atau P. aeruginosa hanya boleh ditambahkan jika pasien memiliki faktor risiko spesifik yang telah divalidasi secara lokal untuk patogen tersebut. Faktor-faktor risiko ini meliputi :
Riwayat isolasi MRSA atau P. aeruginosa dari saluran napas sebelumnya.
Riwayat rawat inap dan pemberian antibiotik parenteral dalam 90 hari terakhir.
Ini berarti seorang klinisi tidak bisa lagi hanya mengikuti flowchart global; mereka harus aktif mencari tahu riwayat pasien dan, yang terpenting, memahami data epidemiologi dan pola resistensi (antibiogram) di rumah sakit atau komunitas mereka sendiri. Pergeseran ini dari protokol kaku ke presisi berbasis risiko adalah langkah penting dalam stewardship antimikroba.
Jika cakupan tambahan diperlukan:
Untuk dugaan MRSA: Tambahkan Vancomycin atau Linezolid.
Untuk dugaan P. aeruginosa: Gunakan β-laktam anti-pseudomonal seperti Piperacillin-tazobactam, Cefepime, Ceftazidime, Meropenem, Imipenem, atau Aztreonam.
Tabel ini menyediakan panduan dosis spesifik untuk orang dewasa dengan fungsi ginjal normal. Penyesuaian dosis pada gangguan ginjal dibahas di Bagian 4.
Skenario Klinis | Regimen Pilihan | Obat | Dosis Dewasa (Fungsi Ginjal Normal) |
SCAP Tanpa Faktor Risiko Patogen Resisten | Opsi 1: β-Laktam + Makrolida | Ceftriaxone PLUS Azithromycin | 2 g IV setiap 24 jam 500 mg IV setiap 24 jam |
Opsi 2: β-Laktam + Fluorokuinolon | Ceftriaxone PLUS Levofloxacin | 2 g IV setiap 24 jam 750 mg IV setiap 24 jam | |
Tambahan untuk Dugaan P. aeruginosa | Ganti β-laktam standar dengan β-laktam anti-pseudomonal | Piperacillin-tazobactam | 4.5 g IV setiap 6 jam |
Cefepime | 2 g IV setiap 8 jam | ||
Meropenem | 1 g IV setiap 8 jam | ||
Tambahan untuk Dugaan MRSA | Tambahkan agen anti-MRSA ke regimen dasar | Vancomycin | Loading dose 25-30 mg/kg, diikuti dosis pemeliharaan 15-20 mg/kg IV setiap 8-12 jam (disesuaikan berdasarkan kadar obat dalam darah/TDM) |
Linezolid | 600 mg IV setiap 12 jam |
Catatan: Dosis yang tercantum adalah dosis umum dan harus disesuaikan dengan berat badan pasien, keparahan penyakit, dan data farmakokinetik/farmakodinamik. Dosis yang lebih tinggi dalam rentang yang direkomendasikan seringkali diperlukan pada pasien sakit kritis.
Strategi "pukul keras dan cepat" dengan antibiotik spektrum luas di awal harus selalu diimbangi dengan rencana untuk melakukan de-eskalasi. De-eskalasi adalah praktik meninjau kembali terapi antimikroba setelah sekitar 48-72 jam, ketika lebih banyak data klinis dan mikrobiologis (hasil kultur dan tes kepekaan) tersedia.
Tujuannya adalah untuk mempersempit spektrum antibiotik ke agen yang paling efektif dan paling sempit yang menargetkan patogen yang teridentifikasi, atau bahkan menghentikan antibiotik jika infeksi bakteri tidak terbukti.
De-eskalasi terbukti aman dilakukan pada pasien dengan syok sepsis yang menunjukkan perbaikan klinis dan tidak berdampak buruk pada kelangsungan hidup. Praktik ini sangat penting untuk mengurangi tekanan seleksi yang mendorong resistensi antimikroba, meminimalkan toksisitas obat, dan menurunkan biaya perawatan.
Memberikan antibiotik yang tepat hanyalah setengah dari pertempuran; memastikan obat tersebut mencapai konsentrasi yang efektif di lokasi infeksi adalah setengah lainnya. Pasien dengan syok sepsis mengalami perubahan fisiologis dramatis yang secara signifikan mengubah cara tubuh memproses obat (farmakokinetik/PK), membuat pedoman dosis standar seringkali tidak memadai. Memahami tantangan ini, terutama pada pasien dengan komplikasi gangguan ginjal akut (AKI), sangat penting untuk menghindari kegagalan terapi.
Fisiologi pasien syok sepsis sangat berbeda dari sukarelawan sehat di mana data dosis obat biasanya diperoleh. Dua perubahan utama yang terjadi adalah:
Peningkatan Volume Distribusi (Vd):Resusitasi cairan agresif dan peningkatan permeabilitas kapiler ("kebocoran kapiler") menyebabkan pergeseran cairan masif dari ruang intravaskular ke ruang interstisial (dikenal sebagai third-spacing). Hal ini secara dramatis meningkatkan volume di mana obat didistribusikan dalam tubuh. Efek ini sangat terasa pada antibiotik yang larut dalam air (hidrofilik) seperti β-laktam (misalnya, piperacillin-tazobactam, meropenem), vankomisin, dan aminoglikosida. Akibatnya, pemberian dosis standar akan menghasilkan konsentrasi obat dalam plasma yang lebih rendah dari yang diharapkan (sub-terapeutik).
Perubahan Klirens Obat: Fungsi ginjal pada pasien sepsis bisa sangat bervariasi. Beberapa pasien mengalami AKI dengan penurunan klirens, sementara yang lain (terutama pada fase awal syok) dapat mengalami augmented renal clearance (ARC), di mana klirens ginjal justru meningkat, yang selanjutnya mempercepat eliminasi obat.
Kombinasi dari perubahan-perubahan ini berarti bahwa risiko utama pada pasien sakit kritis bukanlah toksisitas akibat overdosis, melainkan kegagalan terapi akibat underdosing.
Banyak klinisi memiliki refleks untuk mengurangi dosis antibiotik pada pasien dengan bukti gangguan ginjal. Namun, pada tatalaksana awal syok sepsis, pendekatan ini bisa berbahaya. Penting untuk memisahkan secara konseptual antara dosis muat (loading dose) dan dosis pemeliharaan (maintenance dose).
Dosis Muat bertujuan untuk secara cepat mencapai konsentrasi terapeutik target dalam plasma. Besarnya dosis ini terutama ditentukan oleh volume distribusi (Vd).
Dosis Pemeliharaan bertujuan untuk mempertahankan konsentrasi terapeutik tersebut dari waktu ke waktu, dengan menggantikan jumlah obat yang dieliminasi oleh tubuh. Besarnya dosis ini terutama ditentukan oleh klirens (clearance) obat.
Seperti yang telah dibahas, pasien sepsis seringkali memiliki Vd yang meningkat. Oleh karena itu, untuk mengisi "wadah" yang lebih besar ini dan mencapai konsentrasi target, mereka memerlukan dosis muat yang penuh, atau bahkan lebih tinggi, terlepas dari fungsi ginjal mereka saat itu.
Mengurangi dosis muat karena adanya AKI adalah kesalahan konseptual yang dapat menyebabkan konsentrasi obat awal yang tidak memadai pada saat yang paling kritis. Bukti dan pedoman ahli secara eksplisit menyatakan bahwa ada sangat sedikit literatur yang mendukung pengurangan dosis awal (loading dose) antibiotik hanya karena adanya gagal ginjal. Pesan praktisnya jelas: Selalu berikan loading dose penuh. Kekhawatiran tentang penyesuaian ginjal berlaku untuk dosis-dosis pemeliharaan berikutnya.
Setelah dosis muat penuh diberikan, penyesuaian dosis pemeliharaan menjadi perlu pada pasien dengan AKI persisten. Namun, pendekatan ini harus dilakukan dengan hati-hati. AKI pada sepsis seringkali bersifat sementara dan dapat pulih dengan cepat seiring stabilisasi hemodinamik; satu studi menemukan bahwa 57.2% kasus AKI pada saat masuk rumah sakit pulih dalam 48 jam. Pengurangan dosis yang terlalu dini dan agresif dapat membuat pasien menjadi underdosed tepat saat fungsi ginjal mereka mulai membaik.
Berikut adalah algoritma berpikir yang aman dan praktis untuk penyesuaian dosis pemeliharaan:
Prioritaskan Menghindari Underdosing: Ingatlah bahwa risiko utama pada pasien ICU dengan AKI adalah underdosing, bukan overdosis. Jika ragu, lebih baik memilih dosis yang berada di batas atas rentang yang direkomendasikan.
Tunda Penyesuaian Dosis Awal: Untuk antibiotik dengan indeks terapi yang luas (seperti β-laktam), pertimbangkan untuk menunda pengurangan dosis selama 24-48 jam pertama untuk melihat tren fungsi ginjal.
Perkirakan Klirens Total: Untuk penyesuaian yang lebih akurat, perkirakan klirens total pasien. Pada pasien yang tidak menjalani RRT, ini adalah klirens kreatinin (CrCl) yang diukur atau diestimasi. Pada pasien yang menjalani Terapi Pengganti Ginjal Kontinu (Continuous Renal Replacement Therapy/CRRT), klirens total adalah jumlah dari klirens ginjal sisa (jika ada) ditambah klirens yang disediakan oleh mesin CRRT.
Gunakan Sumber Daya yang Andal: Gunakan database obat terkemuka (misalnya, Micromedex, Lexi-Comp) untuk mencari rekomendasi dosis berdasarkan perkiraan CrCl total.
Terapkan Prinsip PK/PD: Untuk antibiotik yang bergantung pada waktu (time-dependent) seperti β-laktam, strategi yang lebih baik daripada hanya mengurangi dosis adalah dengan mempertahankan dosis dan memperpanjang interval pemberian, atau idealnya, memberikan obat melalui infus diperpanjang (extended infusion) untuk memaksimalkan waktu di atas Konsentrasi Hambat Minimum (MIC). Untuk antibiotik yang bergantung pada konsentrasi (concentration-dependent) seperti aminoglikosida, tujuannya adalah memberikan dosis tinggi dengan interval yang diperpanjang.
Gunakan Therapeutic Drug Monitoring (TDM): Jika tersedia, TDM adalah cara paling andal untuk memastikan konsentrasi obat yang adekuat. Ini sangat penting untuk obat dengan indeks terapi sempit seperti vankomisin dan aminoglikosida.
Tabel ini memberikan panduan awal untuk penyesuaian dosis pemeliharaan setelah loading dose penuh diberikan. Dosis ini adalah titik awal dan harus disesuaikan lebih lanjut berdasarkan respons klinis dan data TDM jika tersedia.
Antibiotik | Prinsip PK/PD | Dosis Pemeliharaan Berdasarkan Klirens Kreatinin (CrCl) | Catatan Penting |
CrCl > 50 mL/min: 4.5 g IV setiap 6 jam | Pertimbangkan infus diperpanjang (mis., 4.5 g selama 3-4 jam, setiap 8 jam) untuk mengoptimalkan paparan pada infeksi berat. | ||
Piperacillin-tazobactam | Time-dependent | CrCl 20-50 mL/min: 3.375 g IV setiap 6 jam | Jangan kurangi loading dose. |
CrCl < 20 mL/min: 2.25 g IV setiap 8 jam | |||
Pada CRRT: 3.375 - 4.5 g IV setiap 8 jam | |||
CrCl > 50 mL/min: 1-2 g IV setiap 8 jam | Risiko kejang meningkat pada dosis tinggi dan gangguan ginjal. | ||
Meropenem | Time-dependent | CrCl 26-50 mL/min: 1 g IV setiap 12 jam | Jangan kurangi loading dose. |
CrCl 10-25 mL/min: 500 mg IV setiap 12 jam | |||
Pada CRRT: 1 g IV setiap 12 jam | |||
CrCl > 50 mL/min: 750 mg IV setiap 24 jam | |||
Levofloxacin | Concentration-dependent | CrCl 20-49 mL/min: 750 mg IV dosis awal, lalu 750 mg setiap 48 jam | Jangan kurangi loading dose. |
CrCl < 20 mL/min & RRT: 750 mg IV dosis awal, lalu 500 mg setiap 48 jam | |||
CrCl > 50 mL/min: 15-20 mg/kg IV setiap 8-12 jam | Wajib TDM untuk memastikan target AUC/MIC tercapai dan menghindari toksisitas. | ||
Vancomycin | Time-dependent (AUC/MIC) | CrCl 20-49 mL/min: 15-20 mg/kg IV setiap 24 jam | Jangan kurangi loading dose (25-30 mg/kg). |
CrCl < 20 mL/min & RRT: Dosis disesuaikan berdasarkan kadar obat dalam darah. |
Selain pilar utama resusitasi hemodinamik dan terapi antimikroba, terdapat intervensi tambahan atau adjuvan yang dapat memainkan peran penting dalam memodulasi respons inflamasi yang berlebihan dan meningkatkan hasil pada subkelompok pasien tertentu. Selain itu, pemahaman kita tentang sepsis terus berkembang, bergerak menuju era pengobatan yang lebih personal.
Penggunaan kortikosteroid pada sepsis telah menjadi topik kontroversial selama beberapa dekade. Namun, meta-analisis dan uji klinis acak terkontrol (RCT) yang lebih baru telah memberikan kejelasan yang lebih besar mengenai peranannya.
Bukti dan Indikasi
Bukti terkini dengan tingkat kepastian yang tinggi menunjukkan bahwa pemberian kortikosteroid pada pasien dengan syok sepsis secara signifikan meningkatkan pembalikan syok (shock reversal), yang berarti pasien lebih cepat terlepas dari kebutuhan vasopresor.
Selain itu, bukti dengan kepastian sedang menunjukkan bahwa kortikosteroid mungkin mengurangi mortalitas jangka pendek. Berdasarkan bukti ini, indikasi utama untuk terapi kortikosteroid adalah pada pasien dewasa dengan syok sepsis yang refrakter terhadap vasopresor, yaitu mereka yang memerlukan dukungan vasopresor berkelanjutan untuk mempertahankan target MAP.
Dosis Optimal dan Efek Samping
Analisis dosis-respons telah membantu mengidentifikasi rejimen yang optimal. Dosis harian sekitar 200 hingga 260 mg hidrokortison (atau ekuivalennya) tampaknya memberikan manfaat maksimal. Dosis yang lebih tinggi dari 260 mg per hari tidak terbukti memberikan manfaat tambahan dalam hal mortalitas. Dosis ini dapat diberikan sebagai infus kontinu atau dalam dosis terbagi secara intermiten (misalnya, 50 mg IV setiap 6 jam).
Meskipun bermanfaat, penggunaan kortikosteroid tidak bebas dari efek samping. Efek samping yang paling umum dilaporkan termasuk hiperglikemia (memerlukan pemantauan glukosa darah yang lebih ketat dan mungkin terapi insulin), hipernatremia, dan potensi kelemahan neuromuskular pada penggunaan jangka panjang. Keputusan untuk memulai kortikosteroid harus menimbang potensi manfaat ini terhadap risikonya pada setiap individu pasien.
Tatalaksana sepsis saat ini sebagian besar mengikuti pendekatan "satu ukuran untuk semua". Namun, penelitian mutakhir mulai mengungkap bahwa sepsis bukanlah penyakit tunggal, melainkan sindrom heterogen dengan respons biologis yang berbeda-beda pada setiap pasien.
Penelitian genomik telah berhasil mengidentifikasi "endotipe" sepsis yang berbeda berdasarkan pola ekspresi gen respons imun inang. Sebagai contoh, beberapa studi telah mengklasifikasikan pasien ke dalam endotipe seperti Mars2 dan Mars4 (ditandai dengan ekspresi gen pro-inflamasi dan imunitas bawaan yang tinggi dan mortalitas tinggi) atau Mars3 (ditandai dengan ekspresi gen imunitas adaptif yang lebih tinggi dan mortalitas lebih rendah).
Kemampuan untuk membedakan fenotipe atau endotipe yang terkait dengan hasil yang buruk ini membuka jalan bagi pengobatan personal di masa depan. Bayangkan sebuah skenario di mana, alih-alih memberikan terapi yang sama untuk semua orang, kita dapat memberikan imunomodulator spesifik kepada pasien dengan endotipe hiper-inflamasi, atau imunostimulan kepada mereka dengan endotipe imunosupresif.
Terapi lain yang sedang diteliti juga menargetkan jalur spesifik yang terdisregulasi dalam sepsis, seperti jalur koagulasi (misalnya, dengan trombomodulin rekombinan untuk mengobati Disseminated Intravascular Coagulation/DIC).
Meskipun pendekatan ini sebagian besar masih dalam tahap penelitian dan belum menjadi praktik klinis standar, ini menunjukkan bahwa masa depan tatalaksana sepsis akan bergerak melampaui protokol umum menuju terapi yang disesuaikan dengan profil biologis unik setiap pasien. Bagi klinisi muda, penting untuk menyadari bahwa bidang ini berkembang pesat dan bersiap untuk era baru pengobatan presisi pada pasien kritis.
Manajemen pneumonia berat dengan syok sepsis adalah proses yang kompleks dan sensitif terhadap waktu yang menuntut tindakan cepat, tepat, dan terkoordinasi. Berikut adalah ringkasan poin-poin paling kritis dan rekomendasi kunci yang dapat berfungsi sebagai panduan praktis bagi dokter di lini depan:
Identifikasi Cepat adalah Kunci: Gunakan skor skrining sederhana seperti qSOFA atau CURB-65 di triase awal. Jika berisiko tinggi, segera lakukan evaluasi komprehensif menggunakan kriteria keparahan IDSA/ATS (1 kriteria mayor atau ≥3 minor) untuk menentukan kebutuhan perawatan ICU.
Resusitasi Cairan yang Cerdas: Mulai resusitasi segera dengan 30 mL/kg kristaloid seimbang (misalnya, Ringer Laktat) dalam 3 jam pertama. Hindari penggunaan rutin salin normal (0.9% NaCl). Setelah bolus awal, hentikan pemberian cairan secara otomatis dan gunakan penilaian dinamis (seperti CRT atau PLR) untuk memandu kebutuhan cairan lebih lanjut dan mencegah overload cairan.
Dukungan Hemodinamik Tanpa Penundaan: Jangan menunda inisiasi vasopresor jika MAP tetap < 65 mmHg setelah resusitasi cairan awal. Norepinefrin (0.1-1.2 μg/kg/menit) adalah agen pilihan pertama. Untuk menghindari penundaan, infus dapat dimulai sementara melalui vena perifer yang besar dan proksimal sambil mempersiapkan akses vena sentral.
Antibiotik dalam "The Golden Hour": Berikan dosis pertama antibiotik spektrum luas (misalnya, Ceftriaxone 2g + Azithromycin 500mg IV) dalam 1 jam pertama setelah diagnosis syok sepsis ditegakkan. Ambil kultur darah dan sputum sebelum dosis pertama tanpa menunda terapi. Berikan cakupan untuk MRSA atau P. aeruginosa hanya jika pasien memiliki faktor risiko spesifik yang jelas.
Dosis Antibiotik yang Tepat pada AKI: Selalu berikan loading dose penuh terlepas dari fungsi ginjal. Penyesuaian dosis karena gangguan ginjal hanya berlaku untuk dosis pemeliharaan berikutnya, bukan dosis awal. Pada pasien kritis, risiko underdosing lebih besar daripada overdosis, jadi jika ragu, pilih dosis yang lebih tinggi dalam rentang yang direkomendasikan.
Pertimbangkan Kortikosteroid: Pada pasien dengan syok sepsis yang terus memerlukan vasopresor meskipun resusitasi cairan dan terapi antibiotik sudah adekuat, pertimbangkan pemberian Hidrokortison IV dengan dosis sekitar 200 mg per hari.
Lakukan De-eskalasi: Selalu nilai kembali terapi antibiotik pada 48-72 jam. Berdasarkan hasil kultur, tes kepekaan, dan respons klinis pasien, persempit spektrum antibiotik ke agen yang paling efektif dan bertarget.
Severe community-acquired pneumonia - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7104960/
Severe Community-Acquired Pneumonia - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7126707/
Sepsis and septic shock - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5538252/
2023 Update on Sepsis and Septic Shock in Adult Patients ..., diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10179263/
Host-targeted approaches to sepsis due to community-acquired pneumonia - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9782809/
How Does One Diagnose and Manage Severe Community-Acquired Pneumonia? - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7152406/
Diagnosis and Treatment of Adults with Community-acquired ..., diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6812437/
Practice Guidelines for the Management of Community-Acquired Pneumonia in Adults - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7109923/
The Use of Fluids in Sepsis - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4829411/
New Insights into the Fluid Management in Patients with Septic ..., diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10301281/
Fluid Resuscitation in Septic Patients - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37779759/
Choice of Fluid Therapy in the Initial Management of Sepsis, Severe Sepsis, and Septic Shock - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26844975/
Viewpoint: Weak Scientific Basis for the Recommendation of Executive Summary of Surviving Sepsis Campaign Guidelines 2021 - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9363812/
Viewpoint: Weak Scientific Basis for the Recommendation of Executive Summary of Surviving Sepsis Campaign Guidelines 2021 - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36042756/
Considerations for Empiric Antimicrobial Therapy in Sepsis and Septic Shock in an Era of Antimicrobial Resistance - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7372215/
Empiric Antimicrobial Therapy in Severe Sepsis and Septic Shock ..., diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4581522/
Optimizing Pharmacokinetics-Pharmacodynamics of Antimicrobial Management in Patients with Sepsis: A Review - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7372216/
Antimicrobial Dosing in Acute Renal Replacement - PMC, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3807249/
Renal Dosing of Antibiotics: Are We Jumping the Gun? - Oxford Academic, diakses Juli 25, 2025, https://academic.oup.com/cid/article-abstract/68/9/1596/5096845
Renal Dosing of Antibiotics: Are We Jumping the Gun? - PubMed, diakses Juli 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30219824/
Antibiotic dosing in critically ill patients with septic shock and on continuous renal replacement therapy: can we resolve this problem with pharmacokinetic studies and dosing guidelines? - PMC - PubMed Central, diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4075254/
Corticosteroids in Sepsis and Septic Shock: A Systematic Review ..., diakses Juli 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10798738/
A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled, Phase 2b Study to Evaluate the Safety and Efficacy of Recombinant Human Soluble Thrombomodulin, ART-123, in Patients With Sepsis and Suspected Disseminated Intravascular Coagulation - ResearchGate, diakses Juli 25, 2025, https://www.researchgate.net/publication/256119790_A_Randomized_Double-Blind_Placebo-Controlled_Phase_2b_Study_to_Evaluate_the_Safety_and_Efficacy_of_Recombinant_Human_Soluble_Thrombomodulin_ART-123_in_Patients_With_Sepsis_and_Suspected_Disseminated_I