Diagnosis dan Terapi Sudden Hearing Loss: Panduan Komprehensif untuk Dokter Umum

9 Jun 2026 • THT

Deskripsi

Diagnosis dan Terapi Sudden Hearing Loss: Panduan Komprehensif untuk Dokter Umum

1. Pendahuluan: Mengenali Kedaruratan THT – Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL)

Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL), atau tuli sensorineural mendadak, merupakan kondisi penurunan pendengaran yang terjadi secara cepat dan signifikan. Secara umum, SSNHL didefinisikan sebagai kehilangan pendengaran sensorineural sebesar 30 desibel (dB) atau lebih, yang terjadi setidaknya pada tiga frekuensi audiometri berurutan dalam periode 72 jam. Definisi ini menjadi landasan penting dalam penegakan diagnosis dan penentuan langkah tatalaksana selanjutnya.

Secara epidemiologis, insidensi SSNHL diperkirakan berkisar antara 5 hingga 27 kasus per 100.000 populasi setiap tahunnya. Angka ini mungkin lebih rendah dari kenyataan, mengingat tidak semua individu yang mengalami SSNHL mencari pertolongan medis, terutama jika terjadi pemulihan pendengaran secara spontan. 

Variasi data insidensi antar wilayah, seperti yang dilaporkan dari Amerika, Asia, dan Jepang , mengisyaratkan kemungkinan adanya faktor geografis, genetik, atau perbedaan dalam sistem pelaporan dan kesadaran masyarakat. Kondisi ini paling sering menyerang individu pada dekade kelima dan keenam kehidupan (usia 40-60 tahun) , dengan distribusi yang serupa antara pria dan wanita. 

Umumnya, SSNHL bersifat unilateral, hanya mengenai satu telinga. Puncak insidensi pada usia paruh baya ini mungkin berkaitan dengan akumulasi faktor risiko vaskular atau perubahan sistem imunitas seiring bertambahnya usia, mengingat usia merupakan faktor risiko bagi banyak kondisi kronis, termasuk penyakit vaskular yang menjadi salah satu teori etiologi SSNHL.

Penting untuk ditekankan bahwa SSNHL merupakan suatu kedaruratan di bidang Telinga Hidung Tenggorok (THT). Prinsip "time is cochlea" sangat berlaku, di mana penundaan dalam diagnosis dan terapi dapat berdampak negatif signifikan terhadap prognosis pemulihan pendengaran. Kegagalan dalam mengenali dan menangani SSNHL, terutama dalam 72 jam pertama, berpotensi mengakibatkan kehilangan pendengaran permanen. 

Status kedaruratan ini tidak hanya disebabkan oleh potensi kehilangan fungsi pendengaran, tetapi juga karena SSNHL dapat menjadi manifestasi awal dari kondisi medis lain yang lebih serius dan memerlukan penanganan spesifik, seperti schwannoma vestibularis atau penyakit autoimun sistemik. Meskipun sebagian besar kasus bersifat idiopatik, sekitar 10-30% kasus memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi, beberapa di antaranya memerlukan manajemen jangka panjang yang berbeda.

2. Etiologi dan Patofisiologi: Mengapa Pendengaran Bisa Hilang Tiba-Tiba?

Sebagian besar kasus SSNHL, sekitar 70-90%, tidak diketahui penyebab pastinya meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh, sehingga diklasifikasikan sebagai idiopatik. Ketidakjelasan etiologi ini menjadi tantangan utama dalam menentukan terapi yang spesifik dan menjadi dasar mengapa terapi empiris dengan kortikosteroid, yang memiliki efek anti-inflamasi luas, menjadi andalan.

Gambar 1. Etiologi SSNHL

Beberapa teori patofisiologi utama telah diajukan untuk menjelaskan SSNHL idiopatik:

  • Teori Vaskular: Gangguan pada mikrosirkulasi koklea, seperti oklusi vaskular, trombosis, atau spasme arteri labirin, diduga menyebabkan iskemia dan kerusakan sel-sel rambut di telinga dalam. Koklea, sebagai organ dengan suplai darah terminal, sangat rentan terhadap kondisi hipoksia.

  • Teori Viral: Infeksi virus, seperti Herpes simplex, Varicella zoster, Cytomegalovirus, Influenza, Mumps, hingga COVID-19, diduga dapat menyebabkan kokleitis (peradangan koklea), kerusakan langsung pada struktur telinga dalam atau saraf pendengaran, atau melalui reaktivasi virus laten. Mekanisme kerusakan bisa melalui invasi viral langsung atau sebagai akibat dari respons inflamasi sekunder.

  • Teori Autoimun: Respons imun yang keliru dapat menyerang struktur telinga dalam. Ini bisa terjadi sebagai bagian dari penyakit autoimun sistemik (misalnya, Lupus Eritematosus Sistemik, Sindrom Cogan) atau sebagai proses autoimun primer yang terbatas pada telinga dalam. Beberapa penelitian telah mengidentifikasi adanya antibodi terhadap protein spesifik telinga dalam, seperti cochlin dan heat shock protein 70 (HSP-70), pada pasien SSNHL.

  • Teori Ruptur Membran Intrakoklea: Meskipun pernah dihipotesiskan, ruptur membran di dalam koklea (seperti membran Reissner atau membran basilaris) yang menyebabkan pencampuran perilimf dan endolimf serta mengganggu homeostasis koklea, saat ini dianggap kurang memiliki bukti histopatologis yang kuat sebagai penyebab umum SSNHL idiopatik.

Adanya berbagai teori patofisiologi yang mungkin tumpang tindih dan saling terkait ini mengindikasikan bahwa SSNHL idiopatik kemungkinan bukan merupakan satu entitas penyakit tunggal, melainkan sebuah sindrom dengan berbagai kemungkinan pemicu yang akhirnya konvergen pada jalur kerusakan koklea. Hal ini didukung oleh temuan beragam pada pemeriksaan MRI 3D-FLAIR yang dapat menunjukkan perdarahan minor, peningkatan permeabilitas vaskular, atau kerusakan sawar darah-labirin pada beberapa kasus SSNHL.

Selain kasus idiopatik, terdapat beberapa penyebab spesifik SSNHL yang dapat diidentifikasi:

  • Neoplastik: Schwannoma vestibularis (tumor jinak pada saraf pendengaran dan keseimbangan) adalah penyebab retrokoklea yang paling sering teridentifikasi, ditemukan pada sekitar 2-10% pasien SSNHL. Tumor lain pada area sudut serebelopontin juga dapat menjadi penyebab. Potensi keberadaan schwannoma vestibularis, meskipun pada persentase kecil, menjadi alasan utama mengapa pemeriksaan MRI direkomendasikan untuk setiap kasus SSNHL unilateral.


Gambar 2. MRI pasien dengan SSNHL. Tampak masa pada masaintra canalicular kiri, merupakan Schwannoma vestibular

  • Trauma: Trauma kepala (misalnya, fraktur tulang temporal), barotrauma (akibat menyelam atau terbang), atau paparan bising keras yang mendadak.

  • Penyakit Otologik Lain: Penyakit Meniere dapat, pada beberapa kasus, memiliki presentasi awal yang mirip SSNHL, meskipun umumnya memiliki pola gejala yang berbeda dan berulang. Fistula perilimfatik juga dapat dipertimbangkan.

  • Penyakit Sistemik/Metabolik: Kondisi seperti diabetes melitus, hipotiroidisme, dan penyakit ginjal kronis telah dikaitkan dengan SSNHL.

  • Ototoksisitas: Beberapa obat diketahui memiliki efek toksik pada telinga dalam, misalnya antibiotik golongan aminoglikosida, diuretik loop poten, dan beberapa agen kemoterapi.

  • Penyakit Infeksi Spesifik: Sifilis dan penyakit Lyme merupakan contoh infeksi spesifik yang dapat bermanifestasi sebagai SSNHL.

3. Manifestasi Klinis: Gejala Khas Sudden Hearing Loss

Manifestasi klinis utama SSNHL adalah penurunan pendengaran yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat, biasanya hanya pada satu telinga (unilateral). Pasien mungkin menyadari penurunan pendengaran ini saat bangun tidur di pagi hari, ketika menggunakan telepon, atau setelah terpapar suara bising.

Selain keluhan utama tersebut, beberapa gejala penyerta sering dilaporkan oleh pasien SSNHL:

  • Tinitus: Sensasi suara berdenging, berdengung, menderu, atau suara abnormal lainnya di telinga yang terkena. Tinitus dilaporkan terjadi pada sekitar 70-85% kasus SSNHL dan dapat muncul bersamaan atau bahkan mendahului penurunan pendengaran. Tinitus yang persisten pasca-SSNHL, bahkan jika pendengaran membaik sebagian, dapat menjadi masalah jangka panjang yang signifikan dan mempengaruhi kualitas hidup pasien.

  • Rasa Penuh di Telinga (Aural Fullness): Sensasi telinga terasa tersumbat, tertekan, atau penuh, sering kali menyertai SSNHL. Keluhan "telinga tersumbat" atau perasaan "seperti ada infeksi" ini seringkali membuat pasien dan bahkan tenaga medis pada kontak pertama salah mendiagnosis sebagai otitis media atau disfungsi tuba Eustachius, yang dapat menunda diagnosis SSNHL yang sebenarnya dan inisiasi terapi yang tepat waktu.

  • Vertigo atau Pusing (Dizziness): Sensasi berputar (vertigo) atau rasa tidak seimbang dan pusing dilaporkan pada sekitar 30-50% pasien SSNHL. Kehadiran vertigo umumnya dikaitkan dengan prognosis pemulihan pendengaran yang lebih buruk, kemungkinan karena mengindikasikan kerusakan yang lebih luas pada struktur labirin telinga dalam yang juga berfungsi untuk keseimbangan.

Gejala lain yang lebih jarang menyertai SSNHL antara lain mual dan muntah (terutama jika vertigo yang dialami cukup berat) serta peningkatan sensitivitas terhadap suara (hiperakusis). Variasi kombinasi gejala ini antar pasien mungkin mencerminkan lokasi dan luasnya kerusakan pada koklea atau struktur terkait di telinga dalam.

4. Diagnosis di Layanan Primer: Peran Dokter Umum dalam Deteksi Awal "Diagnosis dan terapi Sudden hearing loss"

Deteksi dini SSNHL di layanan primer memegang peranan krusial. Dokter Umum harus mampu melakukan anamnesis yang cermat dan pemeriksaan fisik dasar untuk mengidentifikasi kasus yang dicurigai SSNHL.

  • Anamnesis Terarah:

  • Onset dan Durasi: Tanyakan secara spesifik kapan dan bagaimana penurunan pendengaran dimulai (mendadak, dalam beberapa jam, saat bangun tidur) dan sudah berapa lama berlangsung. Ingat, definisi SSNHL mencakup periode onset dalam 72 jam.

  • Lateralitas: Apakah keluhan terjadi pada satu telinga (unilateral) atau kedua telinga (bilateral)?.

  • Gejala Penyerta: Gali informasi mengenai tinitus, vertigo, rasa penuh di telinga, mual, atau muntah. Tanyakan juga adanya gejala neurologis lain seperti kelemahan wajah, gangguan penglihatan, atau sakit kepala hebat yang baru dirasakan.

  • Faktor Pencetus/Risiko: Cari tahu riwayat infeksi saluran napas atas (ISPA) sebelumnya, trauma kepala atau telinga, paparan bising keras, riwayat penyakit sistemik (diabetes, hipertensi, penyakit autoimun), penggunaan obat-obatan yang berpotensi ototoxic, dan riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran.

  • Tanyakan apakah pernah mengalami episode serupa sebelumnya.

  • Pemeriksaan Fisik:

  • Pemeriksaan THT Umum: Lakukan inspeksi pada pinna dan liang telinga luar.

  • Otoskopi: Ini adalah pemeriksaan wajib untuk menyingkirkan penyebab konduktif yang jelas seperti serumen impakta, otitis eksterna, otitis media akut atau efusi, dan perforasi membran timpani. Pada kasus SSNHL idiopatik, hasil pemeriksaan otoskopi biasanya normal. Jika terdapat temuan abnormal yang signifikan, kemungkinan besar bukan SSNHL idiopatik primer.

  • Lakukan pemeriksaan neurologis singkat, terutama pemeriksaan nervus kranialis, jika ada kecurigaan keterlibatan sistem saraf pusat.

  • Tes Penala (Garpu Tala 512 Hz direkomendasikan, atau 256 Hz sebagai alternatif): Tes ini sangat penting untuk membedakan antara tuli sensorineural (SNHL) dan tuli konduktif (CHL) di fasilitas layanan primer. Kemampuan Dokter Umum untuk melakukan dan menginterpretasikan tes penala dengan benar merupakan keterampilan kritis. Kesalahan interpretasi dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi.

  • Tes Rinne: Membandingkan konduksi udara (getaran garpu tala di dekat liang telinga) dengan konduksi tulang (getaran garpu tala di prosesus mastoideus). Pada telinga normal atau SNHL, konduksi udara terdengar lebih keras atau lebih lama daripada konduksi tulang (Rinne positif). Pada CHL, konduksi tulang terdengar lebih keras atau lebih lama (Rinne negatif).

  • Tes Weber: Meletakkan pangkal garpu tala yang bergetar di garis tengah dahi atau gigi seri atas. Pada SNHL unilateral, suara akan terdengar lebih keras (lateralisasi) ke telinga yang sehat. Pada CHL unilateral, suara akan lateralisasi ke telinga yang sakit.

  • Tes Hum (Rauch Test): Jika garpu tala tidak tersedia, pasien dapat diminta untuk bersenandung dengan nada rendah. Pada SNHL, suara senandung akan dirasakan lebih keras di telinga yang sehat; pada CHL, suara akan dirasakan lebih keras di telinga yang sakit.

  • Identifikasi Tanda Bahaya (Red Flags):

  • Penurunan pendengaran unilateral yang terjadi mendadak itu sendiri merupakan tanda bahaya yang memerlukan rujukan segera.

  • Adanya gejala neurologis fokal penyerta (misalnya, kelemahan wajah, penglihatan ganda, ataksia, disartria, sakit kepala hebat yang baru atau berbeda dari biasanya).

  • Riwayat trauma kepala yang signifikan.

  • SSNHL yang terjadi pada kedua telinga (bilateral). Dokter Umum harus waspada terhadap tanda bahaya neurologis ini karena SSNHL bisa menjadi gejala dari kondisi yang lebih serius seperti stroke atau tumor.

Tabel berikut merangkum perbedaan kunci antara tuli konduktif dan sensorineural berdasarkan pemeriksaan awal:

Tabel 1: Perbedaan Kunci antara Gangguan Dengar Sensorineural dan Konduktif pada Pemeriksaan Awal

Fitur Pemeriksaan

Tuli Konduktif (CHL)

Tuli Sensorineural (SNHL)

Otoskopi

Mungkin abnormal (serumen, infeksi, cairan, perforasi)

Biasanya normal (pada SSNHL idiopatik)

Tes Rinne (Telinga Sakit)

Negatif (Konduksi Tulang > Konduksi Udara)

Positif (Konduksi Udara > Konduksi Tulang) atau normal

Tes Weber

Lateralisasi ke telinga sakit

Lateralisasi ke telinga sehat (pada SNHL unilateral)

Tes Hum (Rauch Test)

Suara dirasakan lebih keras di telinga sakit

Suara dirasakan lebih keras di telinga sehat

5. Pemeriksaan Penunjang: Mengonfirmasi Diagnosis dan Menyingkirkan Patologi Lain

Setelah kecurigaan SSNHL muncul di layanan primer, pemeriksaan penunjang diperlukan untuk mengonfirmasi diagnosis, menentukan tingkat keparahan, dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain.

  • Audiometri Nada Murni (Pure Tone Audiometry, PTA):

  • Merupakan standar emas untuk diagnosis SSNHL. Pemeriksaan ini secara objektif mengukur ambang dengar pasien pada berbagai frekuensi, sehingga dapat mengonfirmasi adanya SNHL, menentukan derajat keparahannya (ringan, sedang, berat, sangat berat/profound), dan mengidentifikasi pola atau konfigurasi gangguan pendengaran (misalnya, upsloping, downsloping, flat, profound).

  • Idealnya, PTA dilakukan sesegera mungkin, dalam 24-48 jam setelah onset gejala, untuk dokumentasi awal dan sebagai dasar evaluasi respons terhadap terapi. Namun, jika kecurigaan SSNHL tinggi berdasarkan pemeriksaan klinis, terapi steroid tidak boleh ditunda hanya karena menunggu hasil audiogram.

  • Selain sebagai alat diagnostik, audiometri juga memiliki nilai prognostik. Derajat dan pola gangguan pendengaran awal dapat memberikan petunjuk mengenai kemungkinan pemulihan. Pemeriksaan audiometri serial juga penting untuk memantau perjalanan penyakit dan respons terhadap pengobatan.

  • Pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging):

  • Indikasi utama pemeriksaan MRI adalah pada semua kasus SSNHL unilateral untuk menyingkirkan adanya patologi retrokoklea, terutama schwannoma vestibularis (VS) atau tumor lain di sudut serebelopontin. Schwannoma vestibularis ditemukan pada sekitar 3-10% pasien dengan presentasi SSNHL.

  • Modalitas pilihan adalah MRI dengan kontras gadolinium yang difokuskan pada regio kanalis auditorius internus (KAI) dan otak.

  • Teknik MRI khusus seperti 3D-FLAIR (Fluid-Attenuated Inversion Recovery) dapat memberikan informasi tambahan mengenai kondisi telinga dalam, seperti adanya perdarahan intralabirin, labirinitis, atau hidrops endolimfatik, yang mungkin berkaitan dengan etiologi atau prognosis SSNHL.

  • Waktu pelaksanaan MRI umumnya setelah diagnosis SSNHL ditegakkan dan tidak harus menghambat inisiasi terapi steroid. Rekomendasi MRI untuk SSNHL unilateral, meskipun prevalensi VS relatif rendah, mencerminkan prinsip kehati-hatian dalam praktik medis untuk menyingkirkan kondisi serius.

  • Pemeriksaan Laboratorium:

  • Secara umum, pemeriksaan laboratorium tidak direkomendasikan secara rutin untuk semua kasus SSNHL idiopatik karena hasilnya jarang mengubah manajemen awal. Fokus utama adalah diagnosis klinis cepat dan inisiasi terapi empiris.

  • Pemeriksaan laboratorium dipertimbangkan secara selektif berdasarkan anamnesis dan temuan klinis yang mengarah pada dugaan penyebab spesifik:

  • Kecurigaan penyakit autoimun: Laju Endap Darah (LED), C-Reactive Protein (CRP), Antinuclear Antibody (ANA), Rheumatoid Factor (RF), atau tes spesifik lain jika ada kecurigaan kuat.

  • Kecurigaan infeksi: Tes serologi untuk sifilis (VDRL/RPR, TPHA), atau penyakit Lyme (jika relevan secara epidemiologis).

  • Kecurigaan gangguan metabolik: Gula darah puasa/sewaktu, HbA1c (jika ada riwayat diabetes atau faktor risiko), profil lipid, atau fungsi tiroid (TSH).

  • Pemeriksaan Lain (jarang pada evaluasi awal oleh Dokter Umum):

  • Auditory Brainstem Response (ABR): Dapat digunakan untuk evaluasi fungsi retrokoklea jika MRI merupakan kontraindikasi atau tidak tersedia, namun ABR kurang sensitif dibandingkan MRI untuk mendeteksi tumor kecil.

  • Tes fungsi vestibular (misalnya, videonistagmografi/VNG, vestibular evoked myogenic potentials/VEMP): Dipertimbangkan jika vertigo merupakan gejala yang dominan atau persisten, untuk mengevaluasi fungsi sistem keseimbangan.

6. Tatalaksana Komprehensif Sudden Hearing Loss: Fokus pada "Terapi Sudden hearing loss"

Prinsip utama dalam tatalaksana SSNHL adalah kegawatdaruratan. Waktu adalah faktor krusial; semakin cepat terapi dimulai setelah onset gejala, semakin besar kemungkinan pemulihan pendengaran. Idealnya, terapi dimulai dalam 72 jam pertama, dengan manfaat terbesar terlihat jika dimulai dalam 1-2 minggu pertama. Manfaat terapi akan minimal jika dimulai setelah 4-6 minggu dari onset gejala.

  • Terapi Lini Pertama: Kortikosteroid Sistemik

  • Kortikosteroid sistemik merupakan terapi utama dan paling umum diterima untuk SSNHL idiopatik.

  • Mekanisme Kerja (Dugaan): Kortikosteroid bekerja dengan mengurangi inflamasi dan edema di koklea, serta memodulasi respons imun yang mungkin berperan dalam kerusakan telinga dalam.

  • Pilihan Obat, Dosis, Durasi, dan Jadwal Tapering Off: Disajikan dalam Tabel 2. Deksametason memiliki efek anti-inflamasi yang lebih kuat dan waktu paruh biologis yang lebih lama dibandingkan prednison, yang mungkin memberikan keuntungan pada kasus SSNHL dengan dugaan etiologi viral atau autoimun.

  • Potensi Efek Samping (Jangka Pendek): Dokter Umum perlu memantau dan memberikan edukasi mengenai potensi efek samping jangka pendek seperti gangguan tidur (insomnia), peningkatan nafsu makan, perubahan suasana hati, iritasi lambung, hiperglikemia (terutama pada pasien diabetes), peningkatan tekanan darah, dan retensi cairan.

  • Kontraindikasi Relatif dan Perhatian Khusus: Kontraindikasi absolut meliputi infeksi jamur sistemik dan herpes simpleks keratitis aktif. Perhatian khusus diperlukan pada pasien dengan diabetes melitus (monitor gula darah ketat), hipertensi tidak terkontrol, riwayat ulkus peptikum aktif, glaukoma, osteoporosis berat, atau psikosis.

Tabel 2: Contoh Regimen Kortikosteroid Sistemik untuk SSNHL Idiopatik


Jenis Kortikosteroid

Dosis Harian Awal (dewasa)

Durasi Dosis Penuh

Contoh Jadwal Tapering Off

Catatan Penting

Prednison

1 mg/kgBB/hari (maksimal 60 mg/hari), dosis tunggal pagi

7-14 hari

Turun 20 mg setiap 3 hari, kemudian turun 10 mg setiap 2 hari, hingga berhenti. (Contoh dari )

Monitor gula darah pada pasien diabetes. Pertimbangkan proteksi lambung jika ada riwayat dispepsia.

Metilprednisolon

0.8 mg/kgBB/hari (maksimal 48 mg/hari), dosis tunggal pagi

7-14 hari

Dosis diturunkan secara bertahap selama 5-9 hari.

Serupa dengan prednison, perhatikan dosis ekuivalen.

Deksametason

Dosis ekuivalen (misal, 10 mg/hari setara ~60-75mg prednison)

7-10 hari

Dosis diturunkan secara bertahap.

Memiliki efek anti-inflamasi lebih poten dan waktu paruh biologis lebih panjang.

  • Terapi Adjuvan dan Salvage

  • Kortikosteroid Intratimpani (ITS): Injeksi steroid (biasanya deksametason atau metilprednisolon) langsung ke telinga tengah melalui membran timpani.

  • Indikasi: Dapat digunakan sebagai terapi primer (tunggal) pada pasien dengan kontraindikasi terhadap steroid sistemik atau yang menolak penggunaannya. Dapat juga diberikan sebagai terapi kombinasi bersamaan dengan steroid sistemik, terutama pada kasus SSNHL yang berat; beberapa studi menunjukkan hasil yang lebih baik dengan terapi kombinasi. Indikasi paling umum adalah sebagai terapi salvage jika tidak ada respons atau respons tidak adekuat terhadap steroid sistemik setelah periode tertentu (misalnya, 2 minggu setelah onset). Semakin dini terapi salvage ITS dimulai, hasil pemulihan pendengaran mungkin lebih baik. Prosedur ini dilakukan oleh spesialis THT.

  • Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT): Pasien menghirup oksigen murni pada tekanan yang lebih tinggi dari tekanan atmosfer normal di dalam sebuah ruangan khusus.

  • Mekanisme Kerja (Dugaan): Meningkatkan oksigenasi jaringan koklea yang mungkin mengalami iskemia, mengurangi edema, dan memiliki efek anti-inflamasi.

  • Status Rekomendasi: Dianggap sebagai terapi opsional atau adjuvan, seringkali dikombinasikan dengan terapi steroid. Pedoman dari American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS) merekomendasikan HBOT dapat dipertimbangkan dalam 2 minggu setelah onset gejala sebagai pilihan terapi. Beberapa studi menunjukkan manfaat HBOT, terutama sebagai bagian dari terapi kombinasi. Prosedur ini memerlukan fasilitas khusus dan rujukan ke pusat yang menyediakannya.

  • Peran Terapi Lain (Umumnya Tidak Direkomendasikan Secara Rutin untuk SSNHL Idiopatik):

  • Antiviral: Meskipun teori infeksi viral menjadi salah satu hipotesis penyebab SSNHL, penggunaan rutin agen antivirus (misalnya, asiklovir, valasiklovir) bersama dengan steroid tidak terbukti memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada SSNHL idiopatik dalam berbagai uji klinis.

  • Vasodilator atau Agen Reologik: Penggunaan obat-obatan seperti pentoxifylline, naftidrofuryl, carbogen, atau prostaglandin E1 untuk memperbaiki aliran darah koklea masih kontroversial dan tidak konsisten buktinya; sehingga tidak direkomendasikan secara rutin. Beberapa pedoman di negara tertentu (misalnya, Jerman, Cina) masih mencantumkan agen defibrinogen seperti batroxobin, namun efikasinya juga masih menjadi perdebatan.

  • Vitamin dan Antioksidan: Penggunaan suplemen seperti Vitamin C, Vitamin E, Magnesium, atau ekstrak Ginkgo biloba belum didukung oleh bukti ilmiah berkualitas tinggi yang kuat untuk SSNHL idiopatik.

Kecepatan inisiasi terapi steroid sistemik oleh Dokter Umum dapat menjadi penentu utama prognosis. Keterlambatan rujukan atau penundaan terapi sambil menunggu konfirmasi audiometri lengkap dapat merugikan pasien. Pilihan antara steroid sistemik dan ITS (atau kombinasi keduanya) seringkali bergantung pada profil individu pasien (komorbiditas, preferensi pribadi), tingkat keparahan SSNHL, dan bagaimana respons pasien terhadap terapi awal, yang biasanya merupakan keputusan yang dibuat oleh spesialis THT. Meskipun banyak terapi adjuvan telah diteliti, kurangnya bukti kuat yang konsisten untuk SSNHL idiopatik mengarahkan fokus kembali pada steroid sebagai landasan terapi utama.

7. Prognosis dan Pemulihan Pendengaran

Prognosis pemulihan pendengaran pada SSNHL bervariasi. Sekitar 32-65% pasien SSNHL idiopatik dapat mengalami perbaikan pendengaran secara spontan tanpa terapi spesifik, meskipun pemulihan penuh mungkin tidak selalu tercapai. Adanya angka pemulihan spontan yang cukup tinggi ini mempersulit interpretasi efikasi terapi dalam uji klinis dan praktik sehari-hari, serta menekankan pentingnya studi terkontrol plasebo berkualitas tinggi.

Beberapa faktor prognostik telah diidentifikasi memengaruhi kemungkinan pemulihan:

Tabel 3: Faktor-Faktor Prognostik Utama pada SSNHL


Faktor Prognostik

Prognosis Lebih Baik

Prognosis Lebih Buruk

Usia Pasien

Usia lebih muda (umumnya <40-60 tahun)

Usia lebih tua (>60 tahun)

Derajat Awal Gangguan Dengar

Ringan hingga sedang

Berat hingga sangat berat (profound, >90 dB)

Kehadiran Vertigo

Tidak ada vertigo

Ada vertigo

Pola Audiogram Awal

Upsloping (gangguan frekuensi rendah), mid-frequency

Downsloping (gangguan frekuensi tinggi), flat (merata), profound

Waktu Inisiasi Terapi

Cepat (<7 hari, idealnya <72 jam)

Lambat (>2-4 minggu)

Komorbiditas

Tidak ada penyakit sistemik mayor

Adanya Diabetes Melitus, Hiperlipidemia

Temuan MRI Telinga Dalam

Normal

Adanya perdarahan intralabirin, inflamasi berat

Banyaknya faktor prognostik yang saling berinteraksi menunjukkan bahwa SSNHL adalah kondisi yang heterogen dengan respons individual terhadap kerusakan dan terapi. Pendekatan "satu ukuran untuk semua" mungkin kurang optimal.

Luaran jangka panjang dari SSNHL dapat bervariasi. Pemulihan pendengaran bisa lengkap, parsial, sedikit, atau tidak ada sama sekali. Studi menunjukkan bahwa tingkat pendengaran cenderung stabil setelah 2 bulan pasca onset jika tidak ada perbaikan lebih lanjut yang signifikan. Namun, beberapa pasien dapat mengalami fluktuasi atau bahkan perburukan pendengaran di telinga yang terkena atau telinga kontralateral dalam jangka panjang. Gejala sisa seperti tinitus dan pusing atau ketidakseimbangan bisa menjadi masalah persisten pada sebagian pasien dan berdampak pada kualitas hidup mereka, sehingga memerlukan perhatian dan manajemen jangka panjang, yang mungkin melibatkan rehabilitasi auditori dan vestibular.

8. Kapan Merujuk ke Spesialis THT? Panduan untuk Dokter Umum

Prinsip utama dalam penanganan SSNHL di layanan primer adalah rujukan segera ke spesialis THT untuk semua kasus yang dicurigai SSNHL. Mengingat SSNHL adalah suatu kegawatdaruratan THT yang memerlukan konfirmasi diagnosis melalui audiometri, evaluasi untuk menyingkirkan patologi retrokoklea dengan MRI, dan pertimbangan terapi lanjutan seperti kortikosteroid intratimpani (ITS) atau terapi oksigen hiperbarik (HBOT), semua pasien yang dicurigai SSNHL setelah pemeriksaan awal oleh Dokter Umum harus dirujuk secepatnya, idealnya dalam hari yang sama atau paling lambat dalam 24-48 jam.

Alasan spesifik untuk rujukan mendesak meliputi:

  • Konfirmasi Diagnosis: Diperlukan pemeriksaan audiometri nada murni untuk memastikan diagnosis SSNHL, serta menentukan derajat dan pola gangguan pendengaran. Pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan secara akurat hanya dengan tes penala di layanan primer.

  • Evaluasi Etiologi Lanjutan: Spesialis THT akan mempertimbangkan perlunya pemeriksaan MRI untuk menyingkirkan patologi retrokoklea seperti schwannoma vestibularis dan pemeriksaan lain jika ada kecurigaan penyebab spesifik berdasarkan temuan klinis.

  • Manajemen Terapi Lanjutan: Spesialis THT akan mengevaluasi kebutuhan dan kelayakan terapi kortikosteroid intratimpani (ITS), baik sebagai terapi primer, terapi kombinasi dengan steroid sistemik, atau sebagai terapi salvage. Pertimbangan untuk Terapi Oksigen Hiperbarik (HBOT) juga akan dilakukan jika fasilitas tersedia dan ada indikasi. Selain itu, penyesuaian dosis atau jenis steroid berdasarkan respons awal dan profil pasien juga menjadi pertimbangan spesialis.

  • Konseling Prognostik dan Rehabilitasi: Spesialis THT akan memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai prognosis berdasarkan temuan lengkap dan merencanakan program rehabilitasi pendengaran jika diperlukan (misalnya, penggunaan alat bantu dengar, implan koklea untuk kasus tuli berat permanen) atau manajemen tinitus dan vertigo kronis.

Peran Dokter Umum sebelum merujuk sangatlah penting. Setelah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik awal termasuk otoskopi dan tes penala untuk membentuk kecurigaan klinis SSNHL , dan jika sangat yakin dengan diagnosis SSNHL (setelah menyingkirkan tuli konduktif) serta tidak ada kontraindikasi absolut, Dokter Umum dapat mempertimbangkan untuk memulai terapi kortikosteroid sistemik segera sambil mengatur proses rujukan. 

Tindakan ini penting karena penundaan terapi dapat memperburuk prognosis. Pemberian steroid sistemik oleh Dokter Umum sebelum rujukan dapat menjadi "jembatan" terapeutik yang krusial, terutama jika akses ke spesialis THT atau fasilitas audiometri tidak dapat segera diperoleh. Komunikasi dengan spesialis THT yang akan menerima rujukan sangat dianjurkan jika memungkinkan.

Informasi penting yang harus disertakan dalam surat rujukan meliputi:

  • Tanggal dan waktu pasti onset gejala.

  • Hasil anamnesis kunci, termasuk gejala utama, gejala penyerta, dan riwayat medis yang relevan.

  • Temuan pemeriksaan otoskopi dan hasil interpretasi tes penala (Rinne dan Weber).

  • Terapi yang sudah diberikan (jika ada), termasuk jenis obat, dosis, dan waktu pemberian.

  • Adanya tanda bahaya (red flags) yang teridentifikasi.

Alur rujukan yang efisien dan komunikasi yang baik antara Dokter Umum dan Spesialis THT adalah kunci untuk optimalisasi penanganan SSNHL. Edukasi berkelanjutan bagi Dokter Umum mengenai SSNHL, termasuk cara melakukan tes penala yang benar dan kriteria rujukan yang tepat, sangat penting untuk meningkatkan kualitas penanganan di layanan primer dan memastikan pasien mendapatkan intervensi yang cepat dan akurat.

9. Kesimpulan: Optimalisasi "Diagnosis dan terapi Sudden hearing loss" di Layanan Primer

Sudden Sensorineural Hearing Loss (SSNHL) adalah suatu kondisi kegawatdaruratan di bidang THT yang memerlukan diagnosis dan intervensi segera untuk memaksimalkan peluang pemulihan pendengaran. Dokter Umum memegang peran vital sebagai garda terdepan dalam mengenali, melakukan penapisan awal, dan merujuk pasien SSNHL secara tepat waktu.

Berikut adalah poin-poin kunci yang perlu diingat oleh Dokter Umum terkait diagnosis dan terapi Sudden hearing loss:

  • SSNHL ditandai dengan penurunan pendengaran sensorineural ≥30 dB pada minimal tiga frekuensi berurutan yang terjadi dalam periode ≤72 jam.

  • Gejala utama adalah penurunan pendengaran unilateral mendadak, sering disertai tinitus, vertigo, dan/atau rasa penuh di telinga.

  • Lakukan pemeriksaan otoskopi (yang biasanya normal pada SSNHL idiopatik) dan tes penala (Weber dan Rinne) untuk membedakan SSNHL dari tuli konduktif.

  • Jika terdapat kecurigaan kuat terhadap SSNHL, segera rujuk pasien ke spesialis THT untuk konfirmasi diagnosis dengan audiometri dan evaluasi lebih lanjut.

  • Pertimbangkan untuk memberikan terapi kortikosteroid sistemik (misalnya, Prednison 1 mg/kgBB/hari) jika tidak ada kontraindikasi absolut, sambil menunggu proses rujukan, karena waktu adalah faktor kritis dalam prognosis.

Pemberdayaan Dokter Umum dengan pengetahuan yang komprehensif dan keterampilan diagnostik dasar, seperti interpretasi tes penala, dapat secara signifikan mengurangi keterlambatan dalam penanganan SSNHL dan pada akhirnya meningkatkan prognosis pasien. 

Tantangan utama adalah menerjemahkan pengetahuan teoritis ini menjadi tindakan klinis yang cepat dan tepat dalam praktik layanan primer yang seringkali sibuk dengan keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, panduan yang praktis dan mudah diimplementasikan menjadi sangat penting. Kolaborasi yang erat dan komunikasi yang efektif antara Dokter Umum dan Spesialis THT akan memastikan bahwa setiap pasien dengan SSNHL mendapatkan tatalaksana yang optimal dan berbasis bukti.

Referensi

  1. Sudden Sensorineural Hearing Loss: A Review of Diagnosis, Treatment, and Prognosis, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4040829/

  2. Time from sudden sensory neural hearing loss to treatment as a prognostic factor - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10140592/

  3. Sudden Sensorineural Hearing Loss and Why It's an Emergency - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8855894/

  4. Sudden Sensorineural Hearing Loss: A Review - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9587755/

  5. Clinical characteristics and prognosis of sudden sensorineural hearing loss in single-sided deafness patients - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10565856/

  6. Sudden sensorineural hearing loss: early diagnosis improves outcome - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3722837/

  7. MR Imaging in Sudden Sensorineural Hearing Loss. Time to Talk - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7960407/

  8. Clinical and audiological profile of patients with sudden sensorineural hearing loss after exposure to recreational noise - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12018033/

  9. Anatomical and Pathological Findings of Magnetic Resonance Imaging in Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7575921/

  10. Prognostic Factors and Clinical Characteristics in Pediatric Sudden Sensorineural Hearing Loss: A Retrospective Analysis - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11983780/

  11. Management of sudden sensorineural hearing loss: A time-critical diagnosis - RACGP, accessed May 25, 2025, https://www1.racgp.org.au/ajgp/2024/supplement-november/management-of-sudden-sensorineural-hearing-loss

  12. Early and Accurate Diagnosis of Sudden Sensorineural Hearing Loss - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3034434/

  13. Sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) - NCBI, accessed May 25, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK536521/

  14. A Systematic Review on Heritability of Sudden Sensorineural Hearing Loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38270208/

  15. Editorial: Etiological mechanisms and treatments of idiopathic sudden sensorineural hearing loss - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10569293/

  16. Update on Findings about Sudden Sensorineural Hearing Loss and Insight into Its Pathogenesis - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9653771/

  17. Urgency in the Treatment of Sudden Sensorineural Hearing Loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37456426/

  18. Sudden Sensorineural Hearing Loss: Primary Care Update - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4928516/

  19. Contemporary Review of Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss: Management and Prognosis - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38254304/

  20. Approach to hearing loss - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8302436/

  21. Prevalence and Intriguing Clinical Profiles of Autoimmune Inner Ear Diseases in Sudden Sensorineural Hearing Loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39663802/?dopt=Abstract

  22. Current Role of the Nonsteroid Treatment of Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss (ISSNHL): A Narrative Review - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40283640/?utm_source=Other&utm_medium=rss&utm_campaign=pubmed-2&utm_content=1bGVAOyPwMu3IIXKZm9IcYNzC73RCj9t8SQIMRHDFu15dDa9iS&fc=20200910061718&ff=20250506144839&v=2.18.0.post9+e462414

  23. Pathology and pathophysiology of idiopathic sudden sensorineural hearing loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15793397/

  24. A systematic review and network meta-analysis of existing pharmacologic therapies in patients with idiopathic sudden sensorineural hearing loss, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6733451/

  25. Prognostic Significance of Early Posttreatment Audiometry in Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11773447/

  26. Update on Findings about Sudden Sensorineural Hearing Loss and Insight into Its Pathogenesis - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36362614/

  27. Neurovascular coupling dysfunction associated with inflammatory factors in sudden sensorineural hearing loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39826671/

  28. Endothelial Dysfunction and Metabolic Disorders in Patients with Sudden Sensorineural Hearing Loss - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10608295/

  29. Systematic review and meta-analysis of intratympanic steroid injection in sudden sensory neural hearing loss as initial, combined, or salvage treatment compared to systemic steroids alone - SciOpen, accessed May 25, 2025, https://www.sciopen.com/article/10.26599/JOTO.2025.9540008

  30. Prognostic Factors for Recovery from Sudden Sensorineural Hearing Loss: A Retrospective Study - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5392005/

  31. Systematic Review of Sensorineural Hearing Loss Associated With COVID-19 Infection, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8684886/

  32. The Role of Autoimmunity in the Pathogenesis of Sudden Sensorineural Hearing Loss, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6020465/

  33. Sensorineural Hearing Loss in Autoimmune Diseases: A Systematic Review and Meta-analysis - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10544475/

  34. Is BPPV a Prognostic Factor in Idiopathic Sudden Sensory Hearing Loss? - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3010538/

  35. Prognostic factors in sudden hearing loss - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3018969/

  36. Hearing Loss - FPnotebook, accessed May 25, 2025, https://mobile.fpnotebook.com/ENT/Hearing/HrngLs.htm

  37. Sudden sensorineural hearing loss: long-term follow-up results - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16647539/

  38. Long-term Audiometric Outcomes in Unilateral Sudden Sensorineural Hearing Loss without Recurrence - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31058596/

  39. Hearing Loss in Adults: Differential Diagnosis and Treatment - AAFP, accessed May 25, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2019/0715/p98.html

  40. Optimal timing of salvage intratympanic steroids in idiopathic sudden sensorineural hearing loss - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9575068/

  41. Trends in Use and Timing of Intratympanic Corticosteroid Injections for Sudden Sensorineural Hearing Loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33287664/

  42. Assessing the Effectiveness of Different Hyperbaric Oxygen Treatment Methods in Patients with Sudden Sensorineural Hearing Loss - MDPI, accessed May 25, 2025, https://www.mdpi.com/2039-4349/14/2/29

  43. Contemporary Review of Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss: Management and Prognosis - PMC, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10808390/

  44. Local and Systemic Side Effects of Corticosteroid Injections for Musculoskeletal Indications, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38117096/

  45. Intratympanic steroid as salvage therapy for sudden sensorineural hearing loss: an overview of systematic reviews and meta-analyses - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39961837/

  46. Hyperbaric Oxygen Therapy for Patients With Sudden Sensorineural Hearing Loss: A Systematic Review and Meta-analysis - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34709348/

  47. Antivirals for idiopathic sudden sensorineural hearing loss - PubMed, accessed May 25, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22895957/

  48. Vasodilators and vasoactive substances for idiopathic sudden sensorineural hearing loss - PMC - PubMed Central, accessed May 25, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7170414/