4 Jul 2026 • Obgyn
Dalam praktik klinis sehari-hari, seorang dokter umum sering kali berada di persimpangan antara berbagai spesialisasi, bertugas menyintesis rekomendasi untuk memberikan nasihat terbaik bagi pasien. Sebuah skenario yang umum terjadi adalah kedatangan seorang pasien primigravida dengan riwayat miopia tinggi, misalnya dengan koreksi kacamata −8.00 dioptri.
Pasien tersebut mungkin datang dengan membawa surat rujukan dari dokter spesialis mata yang merekomendasikan persalinan melalui operasi Seksio Sesarea (SC) elektif. Di tengah kehamilan yang dinanti, rekomendasi ini sering kali menimbulkan kecemasan dan kebingungan, baik bagi pasien yang mungkin menginginkan persalinan normal maupun bagi dokter yang harus menavigasi antara praktik yang telah lama berjalan dan bukti ilmiah terkini.
Selama beberapa dekade, telah tertanam sebuah dogma dalam komunitas medis, baik di kalangan dokter obstetri dan ginekologi maupun oftalmologi, bahwa miopia (terutama miopia derajat tinggi) merupakan kontraindikasi untuk persalinan spontan pervaginam.
Keyakinan ini, yang akarnya dapat ditelusuri kembali ke rekomendasi pada awal tahun 1970-an, didasarkan pada kekhawatiran teoretis bahwa peningkatan tekanan intraokular (TIO) selama manuver Valsalva (mengejan) pada kala dua persalinan dapat memicu komplikasi serius berupa ablasi retina.
Akibatnya, miopia tinggi menjadi salah satu indikasi oftalmologis non-obstetri yang paling sering menjadi alasan dilakukannya SC. Data menunjukkan bahwa miopia menyumbang hingga 57% dari seluruh indikasi okular untuk SC dalam analisis kasus dari tahun 2000 hingga 2008.
Namun, tesis utama dari tinjauan klinis ini adalah untuk menegaskan bahwa keyakinan historis tersebut tidak lagi dapat dipertahankan di era kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine). Sejumlah besar literatur ilmiah modern, yang didasarkan pada observasi klinis langsung alih-alih spekulasi teoretis, secara konsisten gagal menunjukkan adanya hubungan kausal antara persalinan normal dan terjadinya ablasi retina pada pasien dengan miopia tinggi.
Kesenjangan antara praktik yang masih sering dilakukan dengan bukti yang ada merupakan sebuah artefak dari evolusi kedokteran itu sendiri. Rekomendasi awal lahir dari sebuah era di mana keputusan klinis lebih banyak didasarkan pada asumsi patofisiologis.
Seiring waktu, ketika studi observasional yang lebih ketat dilakukan untuk menguji hipotesis ini, data yang dihasilkan justru membantahnya. Namun, dogma lama cenderung bertahan, sebagian karena kelembaman praktik dan diperparah oleh pertimbangan medikolegal.
Laporan ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menyediakan tinjauan komprehensif yang ditujukan bagi para dokter umum sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan. Dengan membedah bukti secara sistematis, laporan ini akan memandu pembaca melalui (1) perubahan fisiologis normal pada mata selama kehamilan, (2) patofisiologi miopia tinggi dan risiko yang melekat padanya, (3) analisis kritis terhadap bukti klinis terkait metode persalinan, (4) identifikasi indikasi oftalmologis yang sebenarnya untuk SC, dan (5) sebuah alur kerja klinis yang praktis untuk diagnosis dan manajemen.
Tujuannya adalah untuk memberdayakan para klinisi dengan pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mendampingi pasien dalam membuat keputusan persalinan yang terinformasi, aman, dan berbasis bukti, sekaligus mengurangi angka SC yang tidak perlu, sejalan dengan tujuan kesehatan global.

Untuk dapat membedakan antara kekhawatiran yang beralasan dan mitos yang tidak berdasar, pemahaman mengenai perubahan fisiologis normal yang terjadi pada sistem okular selama kehamilan adalah fundamental. Kehamilan menginduksi serangkaian adaptasi hormonal, metabolik, dan hemodinamik yang memengaruhi seluruh tubuh, tidak terkecuali mata. Sebagian besar perubahan ini bersifat jinak, sementara, dan akan kembali normal setelah masa nifas. Diperkirakan hingga 15% wanita hamil mengalami beberapa bentuk perubahan okular.
Beberapa perubahan fisiologis yang paling relevan meliputi:
Perubahan Refraksi: Sekitar 14% wanita hamil mengalami pergeseran refraksi ke arah miopia ringan atau perburukan miopia yang sudah ada. Fenomena ini utamanya disebabkan oleh retensi cairan yang dimediasi oleh hormon, yang menyebabkan peningkatan ketebalan dan kelengkungan kornea, serta perubahan indeks refraksi lensa. Perubahan ini bersifat sementara dan menjelaskan mengapa tindakan bedah refraktif seperti LASIK merupakan kontraindikasi selama kehamilan dan masa menyusui.
Penurunan Tekanan Intraokular (TIO): Secara paradoks, meskipun terjadi retensi cairan secara umum, TIO justru cenderung menurun selama kehamilan. Penurunan fisiologis ini berkisar antara 2-3 mmHg dan menjadi lebih nyata pada paruh kedua kehamilan. Mekanisme yang mendasarinya adalah peningkatan aliran keluar humor akuos melalui jalur uveosklera, yang diyakini dimediasi oleh peningkatan kadar progesteron dan relaksin.
Film Air Mata dan Permukaan Kornea: Perubahan hormonal dapat mengganggu sel-sel asinar kelenjar lakrimal, mengubah komposisi film air mata dan sering kali menyebabkan gejala mata kering (dry eye syndrome). Hal ini, ditambah dengan perubahan kelengkungan kornea, dapat menyebabkan intoleransi terhadap pemakaian lensa kontak.
Perubahan Retina dan Koroid: Dengan teknologi pencitraan modern seperti Optical Coherence Tomography (OCT), perubahan yang lebih halus pada segmen posterior mata dapat diamati. Studi menunjukkan bahwa ketebalan lapisan koroid, yang merupakan struktur vaskular, cenderung meningkat selama kehamilan, kemungkinan karena perubahan hemodinamik.
Gambar 1. Perdarahan konjungtiva
Namun, sebuah temuan yang menarik dan relevan dengan topik ini berasal dari studi kasus-kontrol yang secara spesifik mengamati wanita hamil dengan miopia tinggi. Studi ini menemukan bahwa pada trimester ketiga, ketebalan retina di area makula (pusat penglihatan) pada wanita hamil dengan miopia tinggi secara signifikan lebih tipis dibandingkan dengan kelompok kontrol wanita tidak hamil dengan miopia tinggi yang usianya sepadan.
Temuan ini menciptakan sebuah "paradoks fisiologis": di satu sisi, kehamilan menyebabkan penurunan TIO yang secara teoretis bersifat protektif bagi struktur okular. Di sisi lain, pada populasi berisiko, kehamilan mungkin berhubungan dengan penipisan retina, yang secara intuitif dapat dianggap meningkatkan kerentanan.
Resolusi dari paradoks ini terletak pada pemisahan antara temuan struktural dan hasil klinis. Meskipun OCT menunjukkan adanya penipisan retina, data hasil klinis dari berbagai studi persalinan—seperti yang akan dibahas lebih lanjut—secara konsisten menunjukkan tidak adanya peningkatan insiden ablasi retina.
Hal ini menyiratkan bahwa penipisan retina yang teramati mungkin merupakan bagian dari spektrum adaptasi fisiologis yang kompleks selama kehamilan, dan dampaknya mungkin dikompensasi oleh faktor-faktor protektif lain seperti penurunan TIO. Ini memberikan pelajaran klinis yang penting: temuan diagnostik struktural tidak secara otomatis dapat diekstrapolasi menjadi risiko fungsional yang lebih tinggi tanpa adanya bukti hasil klinis yang mendukung. Penting juga untuk membedakan perubahan fisiologis ini dari kondisi patologis nyata yang dapat diperburuk oleh kehamilan, seperti retinopati diabetik (risiko perburukan hingga 55%) dan perubahan vaskular retina terkait preeklamsia (terjadi pada 40-100% kasus).
Setelah memahami konteks fisiologis kehamilan, langkah selanjutnya adalah memahami kondisi miopia tinggi itu sendiri. Miopia tinggi, atau yang juga dikenal sebagai High-Grade Myopia (HGM), bukanlah sekadar masalah kebutuhan kacamata dengan lensa tebal.
Ini adalah sebuah kondisi patologis mata yang ditandai oleh perubahan struktural permanen. Secara klinis, miopia tinggi umumnya didefinisikan sebagai kesalahan refraksi sferis yang memerlukan koreksi sebesar −6.00 dioptri atau lebih, atau memiliki panjang aksial bola mata (dari kornea hingga retina) sebesar 26 mm atau lebih.
Patofisiologi inti dari miopia tinggi adalah pemanjangan bola mata yang berlebihan pada sumbu anteroposterior. Bayangkan bola mata yang seharusnya berbentuk seperti bola basket, secara bertahap meregang menjadi lebih lonjong seperti bola rugbi. Proses pemanjangan mekanis ini menyebabkan penipisan dan peregangan pada seluruh lapisan dinding bola mata: sklera (lapisan luar yang putih), koroid (lapisan vaskular di tengah), dan yang paling krusial, retina (lapisan saraf di dalam). Peregangan inilah yang menjadi sumber dari berbagai komplikasi yang melekat pada kondisi ini, yang ada terlepas dari status kehamilan atau metode persalinan.
Risiko-risiko intrinsik yang terkait dengan miopia tinggi meliputi:
Degenerasi Retina Perifer: Peregangan retina membuatnya lebih tipis dan rapuh, terutama di bagian perifer (tepi). Hal ini dapat menyebabkan munculnya area-area lemah yang disebut degenerasi lattice, yang ditemukan pada sekitar 34% wanita miopia dalam sebuah studi. Area ini lebih rentan terhadap pembentukan robekan.
Robekan dan Lubang Retina: Tekanan atau tarikan dari korpus vitreum (jeli yang mengisi bola mata) pada retina yang sudah tipis dapat dengan mudah menyebabkan robekan atau lubang. Studi yang sama menemukan adanya robekan retina pada 22% subjek sebelum persalinan.
Ablasi Retina Regmatogen (Rhegmatogenous Retinal Detachment/RRD): Ini adalah komplikasi yang paling ditakuti. RRD terjadi ketika cairan dari dalam rongga vitreus masuk melalui robekan atau lubang retina dan memisahkan retina dari lapisan koroid di bawahnya. Tanpa perlekatan ini, retina tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen, yang menyebabkan kematian sel fotoreseptor dan kehilangan penglihatan permanen jika tidak ditangani segera. Miopia tinggi adalah faktor risiko utama untuk RRD.
Miopia Patologis: Pada kasus yang lebih parah, peregangan dapat menyebabkan atrofi retina dan koroid di area makula (pusat penglihatan), serta perkembangan pembuluh darah abnormal yang rapuh di bawah retina, yang dikenal sebagai neovaskularisasi koroid (CNV).
Poin krusial yang harus dipahami oleh klinisi adalah perlunya pemisahan konsep antara dua jenis risiko. Pertama, ada "risiko kronis" yang melekat pada anatomi mata miopia tinggi itu sendiri. Risiko ini ada setiap saat dan akan terus ada sepanjang hidup pasien. Kedua, ada "risiko akut" yang secara teoretis diduga dipicu oleh peristiwa persalinan. Kebingungan historis dan praktik yang keliru sering kali muncul dari kegagalan untuk membedakan kedua jenis risiko ini, dengan asumsi bahwa peristiwa akut (persalinan) secara otomatis akan memicu manifestasi dari risiko kronis (ablasi).
Dengan secara sadar memisahkan kedua konsep ini, kita dapat membingkai ulang pertanyaan klinis secara lebih tepat. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah pasien miopia tinggi berisiko mengalami ablasi retina?" (jawabannya adalah ya, secara umum dalam hidupnya), melainkan "Apakah persalinan normal pervaginam merupakan faktor pemicu independen yang secara signifikan meningkatkan risiko ablasi retina akut pada pasien ini?". Kerangka berpikir ini memungkinkan dokter untuk memberikan konseling yang jauh lebih akurat dan menenangkan bagi pasien: "Anda memiliki kondisi mata yang memang memerlukan pemantauan rutin oleh dokter spesialis mata karena risiko yang melekat. Namun, bukti ilmiah yang ada saat ini dengan kuat menunjukkan bahwa cara Anda melahirkan bayi Anda tidak akan mengubah risiko dasar tersebut." Ini adalah pesan yang memberdayakan, mengurangi kecemasan yang tidak perlu, dan mengalihkan fokus ke manajemen yang tepat: pemantauan oftalmologis rutin, bukan intervensi obstetri yang tidak terindikasi.
Analisis kritis terhadap peran manuver Valsalva mengungkapkan beberapa poin kunci yang membantah teori lama:
Hubungan Tekanan Intra-Abdomen dan Intraokular Tidak Langsung: Asumsi pertama adalah bahwa peningkatan tekanan intra-abdomen yang masif saat mengejan akan secara langsung ditransmisikan menjadi peningkatan tekanan di dalam bola mata. Namun, bukti fisiologis menunjukkan bahwa hubungan ini tidak sesederhana itu. TIO utamanya diatur oleh keseimbangan antara produksi dan aliran keluar humor akuos di bilik mata depan, sebuah sistem yang relatif terisolasi dari fluktuasi tekanan sistemik umum. Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa peningkatan tekanan intra-abdomen secara linear dan signifikan meningkatkan TIO.
Efek Paradoksal Peningkatan TIO: Protektif, Bukan Destruktif: Bahkan jika kita menerima premis bahwa TIO memang meningkat selama mengejan, logika bahwa ini akan menyebabkan ablasi retina kemungkinan besar terbalik. Ketika TIO meningkat, tekanan di dalam seluruh bola mata naik secara merata. Hal ini akan menekan korpus vitreum (badan kaca) ke arah dalam, menempelkannya lebih erat pada retina. Efek "bantalan" ini secara teoretis justru akan menstabilkan retina dan mengurangi risiko terjadinya robekan atau masuknya cairan ke bawah retina, bukan meningkatkannya. Ini adalah pembalikan total dari pemikiran lama, di mana mekanisme yang sama dianggap sebagai pemicu bahaya.
Mekanisme Pelindung Tambahan: Ekspansi Koroid: Penelitian yang lebih baru, yang memanfaatkan pemahaman hemodinamik yang lebih baik, menunjukkan mekanisme pelindung lain yang mungkin terjadi. Manuver Valsalva, dengan meningkatkan tekanan vena sentral, menyebabkan kongesti dan peningkatan volume darah di dalam lapisan koroid. Ekspansi lapisan vaskular yang terletak tepat di bawah retina ini dapat berfungsi sebagai bantalan hidrolik, yang menyerap sebagian gaya dan melindungi retina yang rapuh di atasnya dari stres mekanis.
Pergeseran pemahaman mengenai efek manuver Valsalva ini merupakan salah satu pembalikan konseptual paling dramatis dalam topik ini. Apa yang dulunya dianggap sebagai faktor risiko utama kini, berdasarkan pemahaman fisiologis yang lebih dalam, lebih mungkin bersifat netral atau bahkan protektif.
Ini adalah argumen yang sangat kuat untuk menantang praktik konservatif yang merekomendasikan intervensi untuk "mempersingkat kala dua" atau "menghindari mengejan," seperti penggunaan forsep, vakum, atau SC elektif. Jika manuver Valsalva memang memiliki efek protektif, maka intervensi yang bertujuan untuk menghindarinya tidak hanya tidak perlu, tetapi secara teoretis dapat menghilangkan mekanisme perlindungan alami dari proses persalinan fisiologis.
Meskipun ini masih dapat dianggap sebagai "hipotesis protektif" yang memerlukan penelitian lebih lanjut, hal ini secara dramatis menyoroti betapa dalamnya kesalahpahaman historis dan memperkuat argumen untuk membiarkan persalinan berjalan secara alami tanpa intervensi yang tidak didasarkan pada bukti yang kuat.
Setelah membantah dasar teoretis dari praktik lama, pilar terkuat untuk mengubah praktik klinis adalah bukti dari dunia nyata—data dari studi observasional yang secara langsung mengamati hasil persalinan pada wanita dengan miopia tinggi. Di sinilah argumen untuk persalinan normal menjadi paling meyakinkan. Sebuah fakta yang sangat kuat dan sering dikutip adalah bahwa meskipun ada kekhawatiran yang meluas selama puluhan tahun, literatur medis yang ditinjau oleh rekan sejawat (peer-reviewed) hingga saat ini tidak mengandung satu pun laporan kasus yang terverifikasi yang mendeskripsikan terjadinya ablasi retina regmatogen pada pasien dengan miopia tinggi (tanpa komplikasi lain) sebagai akibat langsung dari persalinan spontan pervaginam.
Ketiadaan bukti bahaya ini diperkuat oleh serangkaian studi klinis yang secara aktif mencari bukti tersebut dan secara konsisten gagal menemukannya. Studi-studi ini, yang dilakukan selama beberapa dekade, memberikan gambaran yang sangat konsisten:
Studi seminal oleh Neri et al. (1985): Studi prospektif ini menjadi salah satu pilar bukti awal. Para peneliti memeriksa fundus (bagian belakang mata) dari 50 wanita hamil dengan miopia berkisar antara −4.5 hingga −15 dioptri, sebelum dan sesudah persalinan normal. Meskipun pada pemeriksaan awal ditemukan adanya patologi retina yang signifikan—34% memiliki degenerasi lattice dan 22% memiliki robekan retina—pemeriksaan pasca-persalinan tidak menunjukkan adanya perubahan, perburukan, atau komplikasi baru pada retina satupun dari mereka.
Studi pada populasi risiko lebih tinggi oleh Landau D. et al. (1995): Studi ini secara spesifik mengamati 10 wanita yang dianggap memiliki risiko retina sangat tinggi. Delapan dari mereka memiliki degenerasi lattice yang luas, delapan mata telah menjalani terapi laser atau kriopeksi untuk robekan retina sebelumnya, dan enam mata bahkan telah menjalani operasi perbaikan ablasi retina sebelum hamil. Setelah melalui total 19 persalinan (beberapa wanita melahirkan lebih dari sekali), pemeriksaan retina pasca-persalinan secara konsisten tidak menunjukkan perubahan signifikan apa pun dibandingkan dengan temuan antenatal. Para penulis menyimpulkan bahwa persalinan normal aman bahkan pada populasi dengan patologi retina risiko tinggi yang sudah ada sebelumnya.
Studi oleh Prost M. (dikutip dalam berbagai tinjauan): Dalam penelitian terhadap 42 pasien dengan miopia tinggi dan 4 pasien dengan riwayat operasi ablasi retina, tidak ditemukan adanya progresi perubahan retina degeneratif atau munculnya robekan baru setelah persalinan. Meskipun beberapa pasien dilaporkan mengalami perdarahan retina kecil atau edema makula, temuan ini bersifat sementara dan tidak menyebabkan kerusakan permanen, serta tidak terkait langsung dengan mekanisme ablasi.
Studi prospektif modern oleh Moneta-Wielgos et al. (2019): Studi yang lebih baru ini melibatkan 69 wanita hamil dengan berbagai lesi retina degeneratif. Pasien diklasifikasikan berdasarkan risiko. Hasilnya, tidak ada satu pun komplikasi pasca-persalinan (selama periode tindak lanjut dua tahun) yang dapat diatribusikan pada metode persalinan, baik pada kelompok risiko rendah, sedang, maupun tinggi.
Bukti ini semakin diperkuat ketika melihat subkelompok pasien dengan riwayat operasi ablasi retina. Kekhawatiran bahwa persalinan normal dapat menyebabkan ablasi berulang (re-detachment) juga tidak terbukti. Sebuah tinjauan sistematis dan studi modern menyimpulkan bahwa metode persalinan tidak memiliki pengaruh terhadap risiko kekambuhan ablasi retina, sehingga riwayat operasi RRD sebelumnya bukanlah kontraindikasi untuk persalinan normal.
Untuk menyajikan bukti ini secara visual dan mudah dicerna, tabel berikut merangkum temuan dari studi-studi kunci.
Penulis & Tahun | Desain Studi | Populasi (Jumlah, Tingkat Miopia, Patologi Lain) | Temuan Utama Pasca Persalinan Normal |
Neri et al. (1985) | Prospektif | 50 wanita, miopia −4.5 hingga −15 D. 34% dengan degenerasi lattice, 22% dengan robekan retina. | Tidak ada perubahan atau perburukan kondisi retina. |
Landau D. et al. (1995) | Prospektif & Retrospektif | 10 wanita (19 persalinan). Risiko tinggi: riwayat terapi laser, riwayat operasi ablasi. | Tidak ada perubahan signifikan pada status retina. |
Prost M. (dikutip 1996) | Uji Klinis | 42 wanita dengan miopia tinggi, 4 dengan riwayat operasi ablasi. | Tidak ada progresi perubahan retina atau robekan baru. |
Moneta-Wielgos et al. (2019) | Prospektif | 69 wanita dengan lesi retina degeneratif (risiko rendah, sedang, tinggi). | Tidak ada komplikasi pasca-persalinan yang diatribusikan pada metode persalinan (follow-up 2 tahun). |
Berbagai studi (Tinjauan 2023) | Tinjauan Sistematis | Wanita dengan riwayat operasi ablasi retina regmatogen (RRD). | Metode persalinan tidak memengaruhi risiko ablasi berulang. |
Secara kolektif, bobot bukti dari berbagai studi selama hampir empat dekade ini mengarah pada satu kesimpulan yang solid: persalinan normal pervaginam adalah pilihan yang aman bagi mayoritas wanita dengan miopia tinggi, bahkan bagi mereka yang memiliki patologi retina perifer yang stabil atau riwayat operasi retina sebelumnya.
Setelah secara ekstensif menetapkan bahwa miopia tinggi per se bukanlah indikasi untuk SC, adalah tugas klinis yang sama pentingnya untuk mengidentifikasi kondisi-kondisi langka di mana SC memang direkomendasikan dari sudut pandang oftalmologis. Mengganti dogma lama dengan pendekatan nihilistik—bahwa tidak ada kondisi mata yang memerlukan SC—juga merupakan sebuah kesalahan. Tujuannya adalah untuk beralih ke praktik yang lebih bernuansa, di mana keputusan didasarkan pada penilaian risiko individual yang akurat.
Bukti yang ada menunjuk pada beberapa kondisi spesifik, di mana risiko komplikasi visual yang akut dan parah selama persalinan pervaginam dianggap nyata. Indikasi-indikasi ini tidak didasarkan pada tingkat kesalahan refraksi, melainkan pada adanya patologi aktif yang spesifik:
Neovaskularisasi Koroid (CNV) Aktif: Ini adalah satu-satunya indikasi yang diterima secara luas dan konsisten di seluruh literatur sebagai alasan kuat untuk mempertimbangkan SC elektif. CNV adalah pertumbuhan pembuluh darah baru yang abnormal dan rapuh di bawah makula, yang bisa menjadi komplikasi dari miopia patologis atau kondisi lain. Kekhawatiran utama adalah bahwa fluktuasi tekanan hemodinamik dan intraokular yang tajam selama mengejan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang rapuh ini. Akibatnya adalah perdarahan subretina atau intraretina masif di area makula, yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan sentral yang tiba-tiba, parah, dan sering kali permanen. Dalam kasus ini, risiko kehilangan penglihatan yang menghancurkan dianggap lebih besar daripada manfaat persalinan normal, sehingga SC menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
Glaukoma Lanjut dengan Kerusakan Lapang Pandang yang Tidak Stabil: Indikasi ini lebih bernuansa dan memerlukan penilaian kasus per kasus. Glaukoma adalah penyakit yang merusak saraf optik, sering kali terkait dengan TIO. Jika seorang pasien memiliki glaukoma pada stadium sangat lanjut, dengan kerusakan lapang pandang yang sudah parah dan menunjukkan tanda-tanda perburukan (tidak stabil) meskipun sudah diobati, ada kekhawatiran teoretis bahwa fluktuasi TIO selama persalinan dapat memberikan "pukulan terakhir" pada sel-sel ganglion retina yang sudah sekarat. Dalam skenario spesifik ini—glaukoma lanjut dan tidak stabil—SC dapat dipertimbangkan untuk menghindari potensi stres tambahan pada saraf optik. Namun, untuk glaukoma ringan, sedang, atau bahkan lanjut yang terkontrol dengan baik, persalinan normal umumnya dianggap aman.
Kondisi Risiko Tinggi Lainnya (Kasus per Kasus): Literatur juga menyebutkan beberapa kondisi lain yang mungkin memerlukan pertimbangan SC secara individual, meskipun buktinya kurang kuat dibandingkan CNV. Ini termasuk retinopati diabetik proliferatif yang aktif dan belum diobati, di mana ada risiko perdarahan vitreus, atau keratokonus stadium lanjut, di mana ada kekhawatiran (meskipun sebagian besar teoretis) terhadap ruptur kornea.
Poin krusial dalam menerapkan pedoman ini adalah penekanan pada kata sifat "aktif," "lanjut," atau "tidak stabil." Diagnosis suatu kondisi saja tidak secara otomatis menjadi indikasi SC. Misalnya, riwayat CNV yang telah berhasil diobati dan kini tidak aktif (tidak ada kebocoran), atau riwayat operasi ablasi retina yang telah sembuh dengan baik, umumnya bukan merupakan indikasi untuk SC.
Pergeseran ini—dari pendekatan berbasis kondisi ("pasien ini punya glaukoma") ke pendekatan berbasis status penyakit ("pasien ini punya glaukoma lanjut yang tidak terkontrol")—menuntut penilaian klinis yang lebih canggih dan, yang terpenting, kolaborasi interdisipliner yang erat. Peran dokter umum atau obgyn bukanlah untuk membuat diagnosis oftalmologis akhir, melainkan untuk mengidentifikasi pasien yang berpotensi berisiko dan mengajukan pertanyaan yang tepat saat merujuk.
Surat rujukan ke dokter spesialis mata seharusnya tidak lagi hanya bertanya, "Bolehkah pasien ini melahirkan normal?". Sebaliknya, pertanyaan yang lebih informatif adalah, "Pasien dengan riwayat miopia tinggi, mohon evaluasi fundus dengan dilatasi untuk menyingkirkan adanya neovaskularisasi koroid aktif atau patologi retina lain yang tidak stabil yang dapat menjadi kontraindikasi untuk persalinan pervaginam." Pendekatan ini meningkatkan kualitas konsultasi, menghormati keahlian masing-masing bidang, dan mengarah pada keputusan klinis terbaik untuk pasien.
Untuk menerjemahkan semua bukti dan nuansa ini ke dalam praktik sehari-hari, diperlukan sebuah alur kerja yang jelas dan sistematis. Bagian ini dirancang untuk menjadi panduan praktis bagi dokter umum, yang secara langsung menjawab kebutuhan akan "Diagnosis dan Terapi Miopia pada Kehamilan" dengan fokus pada penentuan metode persalinan yang aman.
Kunci dari manajemen yang baik adalah identifikasi dini. Pada kunjungan antenatal pertama atau sedini mungkin, setiap wanita hamil harus diskrining untuk riwayat okular. Pertanyaan-pertanyaan sederhana namun penting meliputi:
"Apakah Anda memakai kacamata atau lensa kontak? Jika ya, kira-kira berapa ukuran minus Anda?"
"Apakah Anda pernah diberitahu memiliki miopia tinggi atau minus lebih dari 6?"
"Apakah Anda pernah menjalani operasi mata, seperti LASIK, operasi katarak, atau operasi untuk retina yang lepas?"
"Apakah Anda memiliki riwayat penyakit mata seperti glaukoma, degenerasi makula, atau masalah retina lainnya?"
"Selama kehamilan ini, apakah Anda mengalami gejala mata baru seperti melihat kilatan cahaya, peningkatan 'lalat terbang' (floaters), atau area gelap yang menutupi pandangan Anda?"
Pasien yang menjawab "ya" untuk salah satu dari pertanyaan ini, terutama mereka dengan miopia tinggi (dilaporkan oleh pasien sekitar −6.00 D atau lebih) atau riwayat okular yang signifikan, harus diidentifikasi sebagai kelompok yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Semua wanita hamil dengan miopia tinggi harus direkomendasikan untuk menjalani konsultasi oftalmologi, bahkan jika mereka tidak memiliki gejala. Rujukan ini idealnya dilakukan pada trimester kedua atau awal trimester ketiga. Waktu ini memberikan cukup kesempatan bagi dokter mata untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh, memberikan terapi jika diperlukan (misalnya, laser pada robekan retina simtomatik), dan memberikan rekomendasi yang matang kepada tim obstetri jauh sebelum tanggal perkiraan persalinan.
Pemeriksaan oftalmologi yang komprehensif harus mencakup pemeriksaan fundus dengan pupil yang dilebarkan (dilatasi) untuk memungkinkan visualisasi yang jelas dari seluruh retina, termasuk bagian perifer yang sering menjadi lokasi lesi pada miopia tinggi. Penggunaan OCT dapat dipertimbangkan jika ada kecurigaan patologi di area makula.
"Terapi" atau manajemen dalam konteks ini adalah pengambilan keputusan kolaboratif mengenai metode persalinan yang paling aman. Keputusan ini harus didasarkan secara eksklusif pada temuan patologi retina, bukan pada angka dioptri miopia itu sendiri.
Tabel berikut menyajikan panduan berbasis bukti untuk membantu dokter umum dan tim obstetri dalam menginterpretasikan laporan oftalmologi dan membuat rekomendasi.
Temuan Oftalmologis | Tingkat Risiko untuk Persalinan Normal | Rekomendasi Metode Persalinan | Rasional dan Bukti Kunci |
Miopia tinggi (≥−6.00 D) tanpa patologi retina lain yang signifikan | Sangat Rendah | Persalinan Normal | Bukti kuat dari berbagai studi menunjukkan tidak ada peningkatan risiko ablasi retina. Persalinan normal dianggap aman. |
Degenerasi lattice atau robekan/lubang retina perifer yang stabil dan asimtomatik | Rendah | Persalinan Normal | Studi menunjukkan keamanan pada populasi ini. Terapi laser profilaksis untuk lesi asimtomatik selama kehamilan umumnya tidak diindikasikan. |
Riwayat operasi ablasi retina (RRD) yang berhasil dan stabil | Rendah | Persalinan Normal | Bukti menunjukkan metode persalinan tidak memengaruhi risiko ablasi berulang. |
Riwayat bedah refraktif (misalnya, LASIK) | Sangat Rendah | Persalinan Normal | Tidak ada bukti yang menunjukkan peningkatan risiko komplikasi kornea atau retina. |
Neovaskularisasi Koroid (CNV) Aktif | Tinggi | Seksio Sesarea Elektif | Risiko tinggi perdarahan subretina akibat fluktuasi tekanan, yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan sentral akut dan permanen. |
Glaukoma lanjut yang tidak stabil dengan kerusakan lapang pandang berat | Sedang-Tinggi | Pertimbangkan Seksio Sesarea | Keputusan individual berdasarkan diskusi antara obgyn dan oftalmolog. Tujuannya adalah untuk menghindari potensi stres tambahan pada saraf optik yang sudah rapuh. |
Retinopati Diabetik Proliferatif Aktif | Sedang-Tinggi | Pertimbangkan Seksio Sesarea | Risiko perdarahan vitreus. Keputusan individual, sering kali bergantung pada status pengobatan (misalnya, fotokoagulasi panretinal). |
Dengan menggunakan alur kerja dan tabel panduan ini, dokter umum dapat memainkan peran sentral dalam memastikan bahwa setiap wanita hamil dengan miopia tinggi menerima perawatan yang sesuai, menghindari intervensi yang tidak perlu, dan merasa diberdayakan dengan informasi yang akurat untuk menjalani persalinannya dengan aman.
Perdebatan mengenai metode persalinan pada wanita dengan miopia tinggi adalah contoh klasik tentang bagaimana dogma medis yang sudah lama dapat bertahan meskipun bukti ilmiah yang kuat telah membantahnya. Berdasarkan tinjauan ekstensif terhadap literatur yang tersedia di PubMed, kesimpulan yang dapat ditarik sangat jelas dan memiliki implikasi praktis yang signifikan bagi para klinisi.
Ringkasan Pesan Utama:
Miopia tinggi per se bukan merupakan indikasi untuk Seksio Sesarea. Keyakinan bahwa persalinan normal berbahaya bagi wanita dengan miopia tinggi adalah mitos yang tidak didukung oleh bukti klinis berkualitas. Angka dioptri pada resep kacamata tidak boleh menjadi faktor penentu metode persalinan.
Persalinan normal terbukti aman bagi sebagian besar wanita dengan miopia tinggi. Ini berlaku bahkan bagi mereka yang memiliki patologi retina perifer yang stabil (seperti degenerasi lattice atau robekan yang telah lama ada) dan mereka yang memiliki riwayat operasi perbaikan ablasi retina sebelumnya.
Dasar pengambilan keputusan haruslah status retina, bukan tingkat refraksi. Praktik klinis harus bergeser dari pendekatan berbasis tingkat miopia ke pendekatan berbasis penilaian risiko retina individual yang dilakukan oleh spesialis mata.
Indikasi oftalmologis absolut untuk Seksio Sesarea sangat jarang. Indikasi utama yang diterima secara luas adalah adanya neovaskularisasi koroid (CNV) aktif, di mana risiko perdarahan subretina selama persalinan dianggap nyata. Kondisi lain seperti glaukoma lanjut yang tidak stabil memerlukan pertimbangan kasus per kasus.
Rekomendasi Praktis untuk Dokter Umum:
Skrining Universal: Lakukan skrining riwayat okular pada semua wanita hamil pada kunjungan antenatal pertama untuk mengidentifikasi mereka yang memiliki miopia tinggi atau faktor risiko lainnya.
Rujukan Cerdas: Rujuk semua pasien dengan miopia tinggi ke dokter spesialis mata untuk pemeriksaan fundus dengan dilatasi, idealnya pada trimester kedua. Ajukan pertanyaan spesifik dalam rujukan untuk menyingkirkan patologi retina aktif yang menjadi kontraindikasi.
Edukasi dan Pemberdayaan Pasien: Gunakan bukti yang disajikan dalam tinjauan ini untuk mendidik pasien, mengurangi kecemasan mereka yang tidak beralasan, dan mendukung mereka dalam membuat keputusan persalinan yang terinformasi dan sesuai dengan keinginan mereka.
Fasilitasi Kolaborasi: Berperanlah sebagai penghubung komunikasi yang efektif antara pasien, dokter spesialis mata, dan dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama dan keputusan dibuat secara kolaboratif.
Dengan berpegang teguh pada prinsip kedokteran berbasis bukti, para klinisi dapat dengan percaya diri menantang dogma yang sudah usang dan mendukung pilihan pasien untuk persalinan normal. Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas perawatan dan kepuasan pasien, tetapi juga berkontribusi pada upaya yang lebih luas untuk mengurangi angka Seksio Sesarea yang tidak perlu, memastikan hasil yang paling optimal bagi ibu dan bayi.
A survey of ophthalmologists and gynecologists regarding termination of pregnancy and choice of delivery mode in the presence of eye diseases - PubMed Central, accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5463005/
(PDF) Delivery Mode On Myopic Women (Literature Review) - ResearchGate, accessed June 14, 2025, https://www.researchgate.net/publication/360959409_Delivery_Mode_On_Myopic_Women_Literature_Review
A State-of-the-Art Review of Ophthalmological Indications for a ..., accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11854471/
Delivery in Myopic Women: A Comparison of Mode of Delivery in Years 1990, 2000, and 2010 - PMC, accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6812470/
High-grade myopia and vaginal delivery: A narrative review - Science Midwifery, accessed June 14, 2025, https://midwifery.iocspublisher.org/index.php/midwifery/article/download/1700/1326/
[Severe myopia and delivery] - PubMed, accessed June 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9026570/
[Cesarean section and eye disorders] - PubMed, accessed June 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27306132/
The effect of normal childbirth on eyes with abnormalities predisposing to rhegmatogenous retinal detachment - PubMed, accessed June 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8543212/
Does the Method of Delivery Influence the Recurrence of ..., accessed June 14, 2025, https://openophthalmologyjournal.com/VOLUME/17/ELOCATOR/e187436412308180/FULLTEXT/
High-grade myopia and vaginal delivery: A narrative review ..., accessed June 14, 2025, https://midwifery.iocspublisher.org/index.php/midwifery/article/view/1700
Ocular Changes During Pregnancy - PMC, accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4165189/
Ocular changes during pregnancy - PMC - PubMed Central, accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6127369/
Ocular changes during pregnancy - PubMed, accessed June 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30197948/
Ocular changes during pregnancy - PubMed, accessed June 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17651545/
Ocular Changes During Pregnancy - PMC - PubMed Central, accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10416176/
The thickness changes of retina in high myopia patients during the ..., accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8549153/
Obstetric opinions regarding the method of delivery in women that have had surgery for retinal detachment, accessed June 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3085969/