/ Internal Medicine

(KLINIS) Pedoman Diagnosis dan Terapi Infeksi Virus Hepatitis A


Infeksi virus hepatitis A adalah penyakit yang masih banyak terjadi di Indonesia. Banyak pasien yang dibawa ke Instalasi Gawat Darurat karena pasien atau keluarga "takut" dengan perubahan kondisi penyakit: Demam tinggi, mata kuning dan air kencing seperti teh.

Infeksi virus hepatitis A dapat dibuat diagnosis klinisnya relatif mudah, meskipun tetap dibutuhkan pemeriksaan serologis yang tepat untuk menegakkan diagnosis. Tatalaksana pasien lebih bersifat supportif dengan tidak ada terapi spesifik berbasis etiologi yang dapat diberikan. Namun, kewaspadaan harus diberikan karena pada beberapa kasus pemberian parasetamol sebagai antipiretik dapat menginduksi komplikasi gagal hati akut.

Diagnosis Klinis Infeksi Virus Hepatitis A

Infeksi virus hepatitis A akur menyebabkan proses nekroinflamasi akut pada hati, yang normalnya akan sembuh spontan tanpa sekuele kronik. Masa inkubasi virus hepatitis A biasanya 14-28 hari, bahkan sampai 50 hari.

Gejala yang muncul selama infeksi virus hepatitis A akut berhubungan dengan usia pasien. Hampir 70% anak-anak usia kurang dari 6 tahun mempunyai gambaran klinis yang ringan dan asimptomatik, dan sebagian pasen biasanya tidak dijumpai ikterus. Anak-anak diatas usia 6 tahun dan khususnya pada dewasa, lebih dari 70% pasien mengalami ikterus dan gejala berlangsung selama 2-8 minggu.

Gejala prodromal hepatitis akut adalah lemas, cepat lelah, anoreksia, muntah, rasa tidak nyaman pada abdomen, diare. Pada stadium lanjutan yang tidak umum, dapat dijumpai demam, sakit kepala, artralgia, dan mialgia. Gejala prodomal biasanya hilang seiring dengan munculnya ikterus.

Lima pola klinis infeksi hepatitis A adalah:

  1. Infeksi hepatitis A asimptomatik, biasanya terjadi pada anak-anak usia dibawah 5-6 tahun
  2. Infeksi virus hepatitis A simptomatik dengan urin berwarna seperti teh dan feses berwara dempul, biasanya disertai dengan ikterus
  3. Hepatitis kolestasis, yang ditandai dengan pruritus, peningkatan jangka panjang dari alkaline fosfatase, gamma glutamyl transeptidase, hiperbilirubinemia, dan penurunan berat badan
  4. Hepatitis A relaps, yang bermanifestasi kembali munculnya sebagian besar atau seluruh tanda klinis, penanda biokimia virus, dan penanda serologi infeksi virus hepatitis A akut setelah resolusi inisial
  5. Hepatitis fulminan, yang jarang terjadi dan dapat hilang spontan, tetapi dapat juga fatal, bahkan sampai membutuhkan transplantasi hati.

Pola klinis infeksi hepatitis A berupa kolestasis, relaps dan fulminan merupakan pola klinis yang jarang terjadi.

Berdasarkan beberapa sumber, tanda paling sering ditemukan pada pemeriksaan fisik adalah hepatomegali (78%) dan ikterus (71%) pada pasien dewasa yang simptomatik. Splenomegali dan limfadenopati jarang dijumpai.

Manifestasi ekstrahepatik dan atipikal yang dapat dijumpai, meskipun jarang adalah keterlibatan kulit (kemerahan), vaskulitis leukositoklastik, pankreatitis, karditis, glomerulonefritis, pneumonitis, hemolisis (terutama pada pasien defisiensi G-6PD), trombositopenia, anemia aplastik, krioglobunemia, artritis, kelainan neurologis berupa mononeuritis, ensefalitis, sindrom Guillain-Barre, dan meilitis transversal.

Sindrom pasca hepatitis dapat terjadi pada sebagian kecil pasien, berupa gejala kelemahan berkepanjangan, rasa tidak nyaman pada abdomen kuadran kanan atas, intoleransi dan gangguan pencernaan lemak, turunnya berat badan, instabilitas emosional, dan hiperbilirubinemia indirek yang berkepanjangan.

Infeksi hepatitis A akut dapat sembuh spontan, yang terjadi pada lebih dari 99% pasien terinfeksi. Case fatality ratio berkisar 0,3%-0,6%. Infeksi hepatitis A relaps dapat terjadi pada 3-20% kasus. Hepatitis A relaps dan kolestatis dapat sembuh spontan, dengan beberapa pengecualian. Hepatitis fulminan sangat jarang terjadi, dengan angka kejadian 1:10.000 pada individu yang sehat dan imunokompeten.

Angka mortalitas hepatitis fulminan dapat menurun akibat adanya perawatan intensif yang lebih baik dan fasilitas transplantasi hati. Hepatitis A fulminan berhubungan dengan usia diatas 50 tahun (case fatality rate 1,8%). Namun, beberapa tahun terakhir ini, kasus hepatitis A fulminan meningkat pada anak-anak di Afrika Selatan dan Korea.

Faktor risiko utama yang berhubungan dengan hepatitis A fulminan adalah usia, adanya penyakit hati kronik sebelumnya, konsumsi parasetamol dosis tinggi, koinfeksi dengan virus hepatitis lainnya, atau koinfeksi dengan infeksi virus lainnya.

Pada kehamilan, hasil akhir dari infeksi hepatitis A akut tidak berbeda dengan populasi umum, meskipun gejala dan tanda klinis biasanya lebih berat pada wanita yang berusia lebih tua. Kasus transmisi vertikal dari ibu ke janin sangat jarang, tetapi persalinan prematur dan komplikasi selama kehamilan telah dilaporkan pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.

Diagnosis banding paling sering dari infeksi hepatitis A akut adalah infeksi virus hepatitis lainnya (hepatitis B, C, dan E), virus Epstein-Barr, cytomegalovirus, campak, varicella, demam Q, reaksi obat hepatotoksik, termasuk obat herbal, infeksi bakteri, sepsis, hepatitis alkoholik, dan hepatitis autoimun.

Terapi Farmakologis Infeksi Virus Hepatitis A

Tidak ada terapi medikamentosa spesifik untuk hepatitis A, karena belum ada antivirus yang spesifik untuk infeksi virus hepatitis A. Terapi simptomatik dan hidrasi yang adekuat sangat penting pada penatalaksanaan infeksi virus hepatitis A akut. Penggunaan obat yang potensial bersifat hepatotoksik sebaiknya dihindari, misalnya parasetamol.

Anttipiretik alternatif yang dapat digunakan adalah metamizole. Efek samping hepatotoksik metamizole dilaporkan minimal. Beberapa NSAID seperti ibuprofen juga dapat dipertimbangkan. Beberapa suplemen yang diduga bersifat hepatoprotektif (mis. Curcumin) diresepkan oleh beberapa dokter senior, namun evidence based secara klinis masih diperdebatkan.

Sediaan metamizole yang banyak tersedia di Indonesia adalah ampul 1 gram/2 mL. Pada pasien infeksi virus hepatitis A, pemberian metamizole dapat mengurangi keluhan nyeri plus memberi efek antipiretik. Dosis yang diberikan adalah 500 mg (1 cc) diinjeksikan secara IM/IV setiap 8 jam.

Pencegahan penularan infeksi hepatitis A dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu pemberian imunglobulin, vaksinasi, dan kondisi higienis yang baik, seperti cuci tangan dan desinfeksi.

Semoga Bermanfaat.


=
Sponsored Content

Anda Seorang Internis?? PPDS Interna?? atau Dokter Umum di IGD???

Buku EIMED BIRU (Emergency in Internal Medicine Advance) adalah buku yang anda butuhkan.

Buku Seberat 1,3 kg ini berisi puluhan topik kegawatdaruratan spesifik di bidang penyakit dalam

  1. Kegawatdaruratan Sidroma Koroner Akut
  2. Kegawatdaruratan Pneumonia (CAP, HAP dan VAP)
  3. Kegawatdaruratan Krisis Hiperglikemia (KAD dan HONK)
  4. Kegawatdaruratan Sepsis
  5. Kegawatdaruratan Infeksi Virus Dengue
  6. Kegawatdaruratan Penyakit Ginjal Kronik
  7. dan Puluhan Topik Kegawatdaruratan Spesifik yang lain

Jika anda sudah membaca EIMED MERAH (Emergency in Internal Medicine Basic), melengkap kompetensi anda dengan EIMED BIRU adalah pilihan cerdas di era BPJS dan MEA seperti saat ini.

Harga Buku Rp 375.000,00, Anda sudah dapat memiliki buku EIMED BIRU. Garansi 30 hari Free Retur, artinya jika dalam 30 hari anda menemukan kecacatan dalam cetakan buku (Halaman Kurang atau Halaman Tercetak Kosong) anda dapat mengirimkan kembali buku untuk kami tukar dengan buku yang baru, FREE ONGKIR!!!

Jadi Tunggu Apalagi, segera pesan buku EIMED BIRU melalui SMS/WA ke 081234008737!!!

Limited Stock^^