/ diabetes

Obat Hipertensi Dapat Mencegah Diabetes Bila Diminum Sebelum Tidur

Obat hipertensi ternyata memiliki "efek samping" mencegah penyakit diabetes melitus bila dikonsumsi sebelum tidur. Itu adalah kesimpulan dari sebuah penelitian menarik yang dipublikasikan oleh dokter Hermida dkk (2015) di jurnal Diabetologia.

Obat Hipertensi Bekerja pada Hormon Angiotensin

Beberapa obat hipertensi memang memiliki fokus mekanisme obat pada upaya penghambatan aktivitas protein angiotensin II: ARB, ACE Inhibitor dan Beta Blocker. Tiga obat diatas adalah obat-obat yang dilaporkan memiliki efek yang sangat baik dalam mencegah penyakit diabetes mellitus.


Untuk memahami bagaimana ketiga obat tersebut bekerja menurunkan tekanan darah, kita harus mengetahui bagaimana sebenarnya mekanisme Renin-Angiotensin-Aldosteoron System (RAAS).

Obat Hipertensi berbasis Renin-Angiotensin-Aldosteron System (RAAS)

RAAS adalah sebuah sistem dalam tubuh yang berperan dalam meregulasi tekanan darah. Ketidakseimbangan dalam sistem ini dapat mengakibatkan terjadinya penyakit darah tinggi (hipertensi).

Dalam kondisi tekanan darah rendah atau stimulus stres oleh sistem saraf pusat, ginjal akan memproduksi enzim yang disebut renin. Renin selanjutnya akan memecah protein angiotensinogen, yang dihasilkan hati, menjadi angiotensin I. Angiotensin I selanjutnya diubah oleh Angiotensin Converting Enzym (ACE) menjadi angiotensin II.

Angiotensi II yang meningkat dalam pembuluh darah akan memicu penyempitan (vasokonstriksi) pembuluh darah, sekresi hormon vasopresin oleh kelenjar hipofisis, sekresi hormon adrenalin, noradrenalin dan aldosteron oleh kelenjar adrenal.

Sekresi hormon vasopresin akan meningkatkan retensi air. Sekresi hormon adrenalin dan noradrenalin akan "memperberat" vasokonstriksi pembuluh darah. Sekresi hormon aldosteron akan mempengaruhi fungsi filtrasi ginjal, yaitu meningkatkan retensi natrium dan air. Semua efek tersebut pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.

Angiotensin Receptor Blocker (ARB) adalah obat antihipertensi yang bekerja dengan memblok reseptor angiotensin, sehingga hormon angiotensin II tidak dapat "menempel" ke reseptornya. Akibatnya, angiotensin II tidak dapat memicu pelepasan hormon vasopresin, adrenalin, noradrenalin dan aldosteron. Tekanan darah tinggi dicegah.

ACE inhibitor adalah obat anti-hipertensi yang bekerja dengan mencegah angiotensin I berubah menjadi angiotensi II. Sedangkan Beta blocker bekerja lebih ke hulu, yaitu mencegah pelepasan renin oleh ginjal. Ketiga obat tersebut pada intinya bekerja dengan cara menghambat terbentuknya angiotensin II.

Obat Hipertensi Berbasis RAAS Menghambat Diabetes Mellitus

Obat anti-hipertensi yang bekerja pada RAAS ternyata memiliki khasiat untuk mencegah diabetes mellitus tipe 2. Teori yang dikemukakan oleh Prof Kwan Yi Chu dan Po Sing Leung mungkin dapat menjelaskannya.

Dokter Chu mengatakan dalam artikel ilmiahnya bahwa ternyata angiotensin II, selain diproduksi di hati juga diproduksi dalam jumlah yang besar di jaringan lemak (adiposa), pankreas dan otot, pada pasien dengan diabetes.

Prof Chu menduga angiotensin II memicu resistensi insulin pada jaringan-jaringan tersebut. Akibatnya, pasien dengan produksi angiotensin II yang tinggi akan rentan mengidap diabetes mellitus. Pun, konsumsi obat anti-hipertensi berbasis RAAS akan memiliki efek pencegahan penyakit diabetes mellitus.

Obat Hipertensi, Mengapa Lebih Efektif Malam Hari Dalam Mencegah Diabetes?

Sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan pasti, mengapa obat anti-hipertensi memberi manfaat pencegahan penyakit diabetes mellitus lebih baik bila diminum sebelum tidur bila dibandingkan bila diminum pada pagi hari.

Namun, para peneliti menduga ada peran siklus sirkardian dalam mekanisme tersebut. Pada pasien hipertensi, dikenal istilah non-dipping yang merujuk pada orang-orang yang tekanan darahnya tidak menurun meskipun dalam kondisi tertidur. Pada pasien-pasien non-dipping, pemberian obat anti-hipertensi golongan ARB, ACE inhibitor dan Beta Blocker ternyata dapat menurunkan tekanan darah saat tidur lebih baik.

Sebuah dugaan mengatakan bahwa pada pasien non-dipping, angiotensin II diproduksi lebih banyak saat tidur. Kondisi tersebut selain menyebabkan tekana darah tinggi juga berpotensi meningkatkan resistensi insulin di malam hari. Pemberiaan obat anti-hipertensi yang mampu mem-blok aktivitas angiotensi II mungkin bermanfaat mengurangi resistensi insulin di malam hari, sehingga diabetes mellitus dapat dicegah.

Semoga bermanfaat.