6 Trik Meningkatkan Kepatuhan Pasien Asma

Sebuah studi yang dilakukan di Turki dan dilaporkan pada tahun 2012 mencoba menjelaskan perilaku pasien asma selama bulan Ramadhan. Penelitian ini menggunakan sampel yang cukup besar, 300 orang yang terdiri dari 150 pasien asma dan 150 pasien PPOK (penyakit paru obstruktif kronis).

Secara umum pasien tidak melihat asma sebagai halangan untuk berpuasa, 98% dari pasien tetap berpuasa. Berbeda dengan pasien asma, secara umum pasien PPOK tidak menggunakan lagi inhaler mereka, sebanyak 90% melaporkan hal ini. Sementara pasien asma 82% tetap menggunakan inhaler mereka dan biasa menggunakannya saat sahur dan buka puasa.

Kemudian saat dikonfrontasi mengenai penggunaan reliever saat puasa, 52% pasien melaporkan penggunaan tersebut. Perlu diketahui oleh dokter umum juga bahwa penggunaan tetes mata dan inhaler saat puasa tidak membatalkan puasa. Sementara penggunaan metode lain seperti obat per oral, injeksi, tetes hidung, tetes mulut, serta obat supositoria dapat membatalkan puasa.

Walaupun penggunaan obat inhaler diperbolehkan selama puasa, studi ini melaporkan bahwa sebagian besar pasien tetap menggunakan inhaler yang berisi obat controller dua kali yaitu saat sahur dan berbuka. Studi ini kemudian merekomendasikan penggantian obat menjadi kortikostreoid inhalasi yang memiliki frekuensi penggunaan dua belas jam sekali.

cover-buku-puasa-1

Kortikostreoid yang dapat digunakan adalah kortikostreoid tradisional selain mometasone dan ciclesonid. Perlu diperhatikan juga bahwa jarak antara buka dan sahur tidak selalu dua belas jam dan tergantung dari lokasi tempat tinggal.

Studi lain yang dilakukan juga di Turki pada 120 pasien asma menunjukkan hasil yang serupa. 96% pasien mengatakan bahwa penggunaan obat inhalasi dapat dilakukan selama puasa walau hanya 13% yang tetap melanjutkan pengobatan dengan cara yang sama sebelum puasa.

Sisanya 87% menggunakan obat di waktu yang berbeda dengan sebelum puasa. 96% pasien mengatakan telah mendapatkan edukasi dari dokter mengenai asma, namun hanya 37% yang melaporkan bahwa dokter memberikan informasi mengenai penggunaan obat asma selama puasa.

Setelah membahas beberapa dampak buruk puasa yang mungkin terjadi, ada beberapa dampak baik yang juga menyertai pasien asma yang berpuasa ramadhan. Menurut sebuah studi yang dilakukan di Razavi, Iran, puasa Ramadhan dapat membawa dampak yang baik bagi pasien asma.

Studi ini berbentuk kohort dan menggunakan 29 subyek dengan asma yang terkontrol. Subyek ini kemudian berpuasa selama rata-rata 26,5 hari. Untuk mengukur dampak puasa pada penyakit mereka, peneliti melakukan anamnesis untuk melihat perbaikan gejala. Pasien juga diperiksa daily peak expiratory flow, peak expiratory flow variability, dan peak expiratory flow monitoring. Gejala yang diperiksa adalah batuk, mengi, sesak, dan rasa penuh di dada.

Hasilnya, didapatkan tidak ada perubahan signifikan pada gejala klinis pasien pada akhir puasa Ramadhan. Tidak ada perbaikan klinis dari gejala-gejala seperti batuk, mengi, sesak, dan rasa penuh di dada. Sementara untuk variabel spirometrik, terdapat peningkatan peak expiratory flow. Dengan temuan ini peneliti menarik kesimpulan bahwa puasa Ramadhan dapat menyebabkan peningkatan peak expiratory flow.

Walaupun secara umum pasien asma tidak melihat puasa sebagai hambatan dalam penyakitnya atau pengobatannya, masih ada sebagian kecil yang menjadi buruk compliancenya selama dan setelah puasa Ramadhan. Pasien dengan compliance yang baik memang telah dibuktikan oleh berbagai studi bahwa pasien dengan compliance dan kepatuhan yang baik memiliki angka ekasaserbasi yang lebih rendah.

Untuk beberapa pasien dengan kepatuhan yang buruk ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Secara umum langkah yang dapat diambil adalah pergantian dosis yang lebih mudah dikonsumsi, edukasi terhadap pasien, serta memperbaiki komunikasi dokter dan pasien.

Ketidakpatuhan pasien dapat dibagi menjadi dua, yaitu intentional dan non intentional. Non intentional berarti ketidakpatuhan yang dicirikan dengan pasien yang mau untuk mengkonsumsi obat, namun terganggu oleh alasan-alasan praktikal seperti pasien lupa untuk minum obat, salah mengerti instruksi dari dokter dan pemberi obat, tidak bisa meminum obat karena tidak tahu caranya, atau tidak bisa membeli obat.

Ketidakpatuhan pasien yang intentional dicirikan ketika pasien memutuskan untuk tidak mengikuti rekomendasi terapi dari dokter. Alasan ini mengikuti pola tingkah laku yang rumit dan lebih komplek seperti denial, kepercayaan mengenai pengobatan dan kesehatan, serta alasan-alasan lain. Walaupun cukup berbeda, kedua ketidakpatuhan ini bisa terjadi bersamaan dan dalam porsi yang berbeda-beda.

Untuk kondisi sosial, tidak ada hubungan antara ketidakpatuhan dan status sosioekonomi. Review meta analisis menunjukan adanya hubungan positif antara tingkat penghasilan dan ketidakpatuhan, tapi tidak dengan status sosioekonomi secara umum.

Ketidakpatuhan juga banyak ditemukan pada wanita, dibandingkan pria. Walau hal ini tidak selalu konsisten pada berbagi studi. Faktor lain yang juga dapat memberikan dampak untuk ketidakpatuhan adalah gangguan mood. Pasien dengan gangguan mood ditemukan memiliki hubungan positif dengan ketidakpatuhan.

Selain itu harga dari obat juga dapat memberikan sumbangsih pada ketidakpatuhan. Amerika serikat melaporkan bahwa pasien dengan penyakit kronis cenderung untuk membeli obat lebih sedikit dari yang diresepkan. Hal ini dikarenakan harga obat yang terus naik dan semakin tinggi.

Enam Taktik Meningkatkan Kepatuhan Pasien Asma Bronkiale Selama Puasa

Penting untuk mengidentifikasi faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan. Intervensi dari ketidakpatuhan dilakukan dengan spesifik, sesuai dengan ketidakpatuhan pasien. Beberapa cara spesifik yang dapat dilakukan dokter untuk pasien dengan kepatuhan yang buruk adalah:

  1. Memberikan pasien instruksi tertulis mengenai hal-hal yang harus diingat seperti larangan,pantangan, anjuran, serta penggunaan dosis obat
  2. Meminta pasien untuk menulis buku harian mengenai keluhan dan perjalanan terapi
  3. Memberikan dosis yang lebih jarang dan nyaman untuk pasien
  4. Memberikan obat long acting
  5. Memberikan dosis obat yang tidak rumit
  6. Memberikan pilihan terapi dengan durasi pengobatan yang lebih pendek

(Rizki Nur Rachman Putra Gofur-RPG).

Sumber

  1. Aydin, O. et al. (2014) ‘How do patients with asthma and COPD behave during fasting?’, Allergologia et Immunopathologia, 42(2), pp. 115–119. doi: 10.1016/j.aller.2012.07.010.
  2. Erkekol, F. Ö. et al. (2006) ‘Fasting: An important issue in asthma management compliance’, Annals of Allergy, Asthma and Immunology, 97(3), pp. 370–374. doi: 10.1016/S1081-1206(10)60803-4.
  3. Heaney, L. and Lindsay (2013) ‘Nonadherence in difficult asthma – facts, myths, and a time to act’, Patient Preference and Adherence, p. 329. doi: 10.2147/ppa.s38208.
  4. Kaiser, H. B. (2007) ‘Compliance and noncompliance in asthma’, Allergy and Asthma Proceedings, 28(5), pp. 514–516. doi: 10.2500/aap2007.28.3040.
  5. Norouzy, A. et al. (2013) ‘Effects of Ramadan fasting on spirometric values and clinical symptoms in asthmatic patients’, Mashhad University of Medical Sciences (MUMS), 1(1), pp. 23–27. doi: 10.22038/JFH.2013.303.