/ dispepsia

Dispepsia Fungsional

ACG merekomendasikan pemeriksaan endoskopi hanya pada pasien yang memiliki resiko tinggi berkembang menjadi keganasan lambung. Pasien yang beresiko tinggi berkembang menjadi kanker lambung adalah pasien dispepsia yang berusia lebih dari 55 tahun dan disertai alarming features.

Pasien laki-laki 18 tahun datang dengan keluhan abdominal discomfort intermiten yang sudah dirasakan 12 bulan terakhir. Dia mengeluh rasa penuh setelah makan. Rasa terbakar di ulu hati (-), nyeri epigastrik (-), nyeri telan (-), mual (+), muntah (-). Penurunan berat badan (-). Riwayat minum NSAID atau aspirin dalam jangka waktu lama disangkal. Riwayat penyakit demam (-), menggigil (-), keringat malam (-), melena (-), hematochezia (-). Riwayat sosial: Mahasiswa semester 2 fakultas kedokteran di Surabaya, berasal dari Jakarta. Tinggal di Kos. Makan jajan (+) di luar. Riwayat penyakit keluarga: Keganasan saluran cerna (-), Alergi (-). Pemeriksaan tanda vital normal, pemeriksaan abdomen: supel, bising usus (+) normal. Pemeriksaan fisik yang lain normal.
Pemeriksaan darah lengkap normal. Pemeriksaan Kimia klinik normal.
Apa rencana penatalaksanaan yang anda usulkan selanjutnya?
A. Endoscopy
B. Resepkan PPI 1x1
C. Tes H. pylori
D. Resepkan Amitriptylin 10 mg
E. CT-scan Abdomen

Jawaban: C

Dispepsia fungsional adalah etiologi tersering pasien dengan keluhan dispepsia. Dispepsia fungsional adalah sindrom yang mencakup satu atau lebih dari gejala-gejala berikut: perasaan perut penuh setelah makan, cepat kenyang, atau rasa terbakar di ulu hati, yang berlangsung sedikitnya dalam 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala sedikitnya timbul 6 bulan sebelum diagnosis (berdasar kriteria Rome III).

Dispepsia fungsional adalah keluhan klinis yang sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Prevalensi dispepsia fungsional di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama mencapai 5%, dengan 20% diantaranya terinfeksi H.Pylori.

Berdasarkan panduan ACG (American College of Gastroenterology), pasien dengan dispepsia fungisonal disarankan untuk menjalani tes diagnostik infeksi H. pylori sebagai first line approach. Pertanyaan yang paling sering muncul dibenak praktisi adalah kapan pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan?

Pertanyaan tersebut wajar muncul karena dispepsia bisa merepresentasikan keganasan lambung, meski proporsinya hanya 1%. ACG merekomendasikan pemeriksaan endoskopi hanya pada pasien yang memiliki resiko tinggi berkembang menjadi keganasan lambung. Pasien yang beresiko tinggi berkembang menjadi kanker lambung adalah pasien dispepsia yang berusia lebih dari 55 tahun dan disertai alarming features.

Alarming fatures adalah gejala dan tanda yang meliputi: perdarahan saluran cerna, anemia, penurunan berat badan>10% yang tidak diketahui penyebabnya, kesulitan menelan (dysphagia) yang memberat, sampai nyeri telan berat (odynophagia), muntah profus, riwayat keluarga dengan keganasan saluran cerna, riwayat keganasan lambung atau esofagus, riwayat ulkus peptik, limfadenopati atau didapatkan massa abdomen. Pasien yang memenuhi satu atau lebih kriteria diatas direkomendasikan untuk dilakukan endoskopi saluran cerna atas. Tujuan endoskopi adalah untuk memeriksa kemungkinan adanya keganasan atau penyakit ulkus peptik.

Pada pasien dengan usia yang lebih muda dari 55 tahun dan tidak memiliki alarming fetaures, ada dua strategi utama untuk penatalaksanaan dispepsia fungsional. Strategi pertama adalah melakukan tes H. pylori, dan di terapi bila hasilnya postif terinfeksi H. pylori. Bila protokol terapi telah diimplementasikan namun gejala masih muncul, maka dipertimbangkan strategi kedua yaitu penghambatan aktivitas asam lambung dengan PPI.

Bila kedua strategi di atas telah diimplementasikan namun gejala masih ada, maka perlu dipertimbangkan pemeriksaan endoskopi. Pemeriksaan endoskopi pada pasien usia muda tanpa alarming features kurang dianjurkan secara cost effective analysis. Pemeriksaan endoskopi pada kelompok pasien tersebut diambil dengan judgement klinis dokter yang merawat.

Alternatif lain terapi pasien dengan dispepsia fungsional yang tidak sembuh dengan kedua strategi di atas adalah pemanfaatan terapi herbal. Tentu ini adalah pilihan terakhir setelah semua pendekatan medis dilakukan. Efek placebo dari terapi herbal diharapkan dapat memberikan sugesti positif bagi pasien dispepsia yang diinduksi stres psikogenik.

Semoga bermanfaat.