Strategi Optimal Diagnosis dan Terapi Herpes Zoster pada Lansia: Fokus Penyesuaian Dosis Berbasis Bukti

29 May 2026 • Kulit

Deskripsi

Strategi Optimal Diagnosis dan Terapi Herpes Zoster pada Lansia: Fokus Penyesuaian Dosis Berbasis Bukti

1. Pendahuluan: Herpes Zoster pada Lansia – Tantangan Klinis yang Perlu Perhatian Khusus

Herpes Zoster (HZ), atau dikenal awam sebagai cacar ular, merupakan penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus Varicella-Zoster (VZV), virus yang sama penyebab cacar air. Meskipun dapat terjadi pada usia berapa pun, insidensi dan keparahan HZ meningkat signifikan seiring bertambahnya usia, terutama pada populasi lansia. Penurunan imunitas seluler terkait usia (immunosenescence) menjadi faktor utama yang menyebabkan lansia lebih rentan terhadap reaktivasi VZV. 

Lebih jauh lagi, lansia memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi paling umum dan seringkali melemahkan dari HZ, yaitu Neuralgia Pasca Herpes (PHN) – nyeri neuropatik kronis yang dapat bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah ruam sembuh. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup secara drastis, menimbulkan depresi, gangguan tidur, dan penurunan nafsu makan , tetapi juga menambah beban sosioekonomi yang signifikan.

Dalam konteks ini, peran Dokter Umum (GP) menjadi sangat krusial. Deteksi dini HZ, inisiasi terapi antivirus yang tepat waktu (idealnya dalam 72 jam pertama sejak onset ruam), dan manajemen komprehensif terhadap nyeri akut serta pencegahan atau penanganan PHN adalah kunci utama dalam tatalaksana HZ pada lansia. 

Mengingat tantangan unik yang dihadapi pada kelompok usia ini, pendekatan Diagnosis dan Terapi Herpes Zoster Lansia memerlukan perhatian khusus yang melampaui sekadar pengobatan ruam kulit. Perubahan fisiologis terkait usia, terutama penurunan fungsi ginjal dan peningkatan sensitivitas terhadap efek samping obat, menuntut kehati-hatian ekstra dalam pemilihan dan penentuan dosis terapi.

Artikel ini bertujuan memberikan panduan praktis berbasis bukti ilmiah yang terindeks PubMed bagi para dokter umum mengenai strategi optimal tatalaksana HZ pada lansia. Fokus utama akan diberikan pada aspek krusial yang sering terlewatkan namun sangat vital: penyesuaian dosis obat antivirus dan obat untuk PHN berdasarkan fungsi ginjal pasien lansia, demi mencapai efikasi maksimal dengan risiko efek samping minimal.

2. Diagnosis Herpes Zoster pada Lansia: Cepat dan Tepat

Diagnosis HZ pada lansia umumnya ditegakkan secara klinis berdasarkan gambaran klasik berupa erupsi vesikular (lepuh berisi cairan) unilateral yang berkelompok pada dasar eritematosa (kemerahan), terbatas pada satu atau beberapa dermatom (area kulit yang dipersarafi oleh satu saraf spinal). 

Seringkali, erupsi ini didahului atau disertai dengan nyeri prodromal yang bersifat neuropatik (rasa terbakar, tertusuk, gatal, atau kesemutan) pada area dermatom yang sama. Anamnesis yang cermat mengenai riwayat nyeri, karakteristiknya, serta onset ruam sangat membantu penegakan diagnosis.

Meskipun demikian, diagnosis pada lansia terkadang dapat menjadi tantangan. Presentasi klinis bisa jadi atipikal, misalnya lesi yang tidak terlalu jelas, nyeri hebat tanpa ruam yang signifikan (zoster sine herpete), atau keterlibatan organ lain seperti pada Ramsay Hunt Syndrome (HZ oticus) yang bisa sulit terdiagnosis terutama pada lansia. 

Selain itu, beberapa kondisi lain perlu dipertimbangkan dalam diagnosis banding, seperti herpes simpleks, dermatitis kontak, atau infeksi bakteri. Pemeriksaan fisik yang teliti dan menyeluruh sangat penting.

Penegakan diagnosis yang cepat dan akurat menjadi sangat krusial karena efektivitas terapi antivirus sangat bergantung pada waktu inisiasi. Pemberian antivirus oral dalam 72 jam pertama sejak munculnya ruam terbukti secara signifikan mengurangi durasi dan keparahan penyakit akut, mempercepat penyembuhan lesi, serta menurunkan risiko berkembangnya PHN.

Keterlambatan diagnosis dan terapi, yang mungkin lebih sering terjadi pada lansia karena berbagai faktor (presentasi atipikal, kesulitan akses ke layanan kesehatan, atau hambatan komunikasi), secara langsung meningkatkan kemungkinan terjadinya PHN yang sulit ditangani.

3. Terapi Antivirus Oral: Pilihan Utama dan Kewajiban Penyesuaian Dosis

Terapi antivirus oral merupakan landasan utama dalam tatalaksana HZ akut. Tiga agen antivirus yang umum digunakan dan direkomendasikan sebagai lini pertama adalah Acyclovir, Valacyclovir, dan Famciclovir. 

Obat-obat ini bekerja dengan menghambat replikasi VZV, sehingga membantu memperpendek durasi penyakit dan mengurangi risiko komplikasi. Untuk pasien dewasa dengan fungsi ginjal normal, dosis standar yang direkomendasikan adalah Acyclovir 800 mg lima kali sehari, Valacyclovir 1000 mg tiga kali sehari, atau Famciclovir 500 mg tiga kali sehari, biasanya selama 7 hari.

Namun, pada pasien lansia, pemberian dosis standar ini tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa evaluasi fungsi ginjal terlebih dahulu. Penyesuaian dosis menjadi suatu kewajiban klinis. Alasan utamanya adalah penurunan fungsi ginjal yang umum terjadi seiring bertambahnya usia, bahkan pada lansia yang tidak memiliki riwayat penyakit ginjal sebelumnya. 

Penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) ini menyebabkan ketiga obat antivirus tersebut, yang mayoritas diekskresikan melalui ginjal, dapat terakumulasi dalam tubuh jika diberikan dalam dosis standar. Akumulasi ini meningkatkan risiko toksisitas yang signifikan, terutama neurotoksisitas (seperti kebingungan, halusinasi, pusing, bahkan kejang atau koma) dan nefrotoksisitas (kerusakan ginjal lebih lanjut).

Gambar 1. Farmakokinetik obat

Oleh karena itu, langkah pertama sebelum meresepkan antivirus pada pasien lansia adalah menilai fungsi ginjal mereka dengan menghitung estimasi Creatinine Clearance (CrCl) atau eGFR (estimated Glomerular Filtration Rate). Rumus Cockcroft-Gault sering digunakan untuk estimasi CrCl dalam konteks penyesuaian dosis obat.

Namun, penting untuk diingat bahwa rumus ini mengandalkan kadar kreatinin serum (SCr), yang produksinya bergantung pada massa otot. Pada lansia, terutama yang tampak kurus, lemah (frail), atau mengalami sarkopenia (penurunan massa otot), kadar SCr bisa jadi rendah meskipun fungsi ginjal sudah menurun signifikan. 

Akibatnya, nilai CrCl/eGFR yang dihitung mungkin lebih tinggi dari fungsi ginjal sebenarnya, berpotensi menyebabkan pemberian dosis obat yang berlebihan jika hanya berpatokan pada angka semata. Interpretasi hasil perhitungan CrCl/eGFR harus selalu disertai penilaian klinis terhadap kondisi umum dan status nutrisi pasien. Jika terdapat keraguan, pendekatan dosis yang lebih konservatif (memilih rentang dosis yang lebih rendah dalam pedoman) lebih dianjurkan.

Untuk mempermudah penerapan di praktik klinis, tabel berikut menyajikan panduan praktis penyesuaian dosis antivirus oral untuk HZ pada lansia berdasarkan tingkat CrCl/eGFR. Perlu dicatat bahwa mungkin terdapat sedikit variasi ambang batas CrCl antar sumber referensi ; tabel ini menyajikan rekomendasi yang umum diterima dan bersumber dari pedoman klinis atau informasi peresepan terkini. Selalu rujuk pada sumber informasi obat terbaru jika memungkinkan.

Tabel 1: Panduan Praktis Penyesuaian Dosis Antivirus Oral untuk Herpes Zoster pada Lansia Berdasarkan Fungsi Ginjal (CrCl/eGFR)


Obat

Dosis Standar HZ (Fungsi Ginjal Normal)

CrCl/eGFR (mL/min)

Dosis/Frekuensi yang Disesuaikan

Acyclovir

800 mg, 5 kali/hari

> 50

Tidak perlu penyesuaian

26–50

800 mg, setiap 8 jam



10–25

800 mg, setiap 8 jam



< 10

800 mg, setiap 12 jam

Valacyclovir

1000 mg (1 g), 3 kali/hari

≥ 50

Tidak perlu penyesuaian



30–49

1000 mg (1 g), setiap 12 jam



10–29

1000 mg (1 g), setiap 24 jam



< 10

500 mg, setiap 24 jam

Famciclovir

500 mg, 3 kali/hari

≥ 60

Tidak perlu penyesuaian



30–59

500 mg, setiap 12 jam



< 30

500 mg, setiap 24 jam

Catatan: CrCl = Estimasi Creatinine Clearance. Dosis dapat bervariasi tergantung sumber; tabel ini sebagai panduan umum. Selalu pertimbangkan kondisi klinis pasien.

Penerapan penyesuaian dosis ini secara rutin merupakan langkah fundamental untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi antivirus pada populasi lansia yang rentan.

4. Manajemen Nyeri Akut Herpes Zoster

Nyeri merupakan gejala dominan pada HZ akut dan seringkali menjadi keluhan utama pasien. Manajemen nyeri yang efektif tidak hanya penting untuk kenyamanan pasien tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup dan pemulihan secara keseluruhan. Pendekatan manajemen nyeri pada lansia harus dilakukan secara bertahap dan hati-hati, mempertimbangkan potensi efek samping dan komorbiditas.

  • Analgesik Non-Opioid: Paracetamol (Acetaminophen) sering menjadi pilihan awal untuk nyeri ringan hingga sedang. Namun, perlu diingat batas dosis harian maksimal (umumnya 3000-4000 mg/hari, lebih rendah pada gangguan hati atau konsumsi alkohol kronis). Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS/NSAID) seperti Ibuprofen juga dapat digunakan, tetapi harus dengan sangat hati-hati pada lansia karena peningkatan risiko efek samping gastrointestinal (perdarahan lambung), kardiovaskular, dan terutama nefrotoksisitas (kerusakan ginjal). Penggunaan NSAID sebaiknya dihindari atau dibatasi pada durasi sesingkat mungkin pada pasien dengan riwayat penyakit ginjal atau risiko tinggi lainnya.

  • Analgesik Opioid: Untuk nyeri sedang hingga berat yang tidak teratasi dengan analgesik non-opioid, opioid lemah (seperti Tramadol) atau opioid kuat (seperti Oxycodone atau Morphine) dapat dipertimbangkan. Namun, penggunaannya pada lansia harus disertai kewaspadaan tinggi terhadap efek samping seperti konstipasi (yang seringkali berat), sedasi, pusing, mual, dan risiko jatuh. Dosis awal harus rendah dan dititrasi perlahan sesuai respons dan toleransi pasien.

  • Terapi Ajuvan Topikal: Penggunaan losion Calamine atau kompres basah dingin dengan larutan Burow (aluminium asetat 5%) dapat membantu meredakan gatal dan memberikan efek menenangkan pada lesi kulit.

  • Peran Kortikosteroid Sistemik: Pemberian kortikosteroid oral (misalnya Prednison 40-60 mg/hari dengan tapering off selama 2-3 minggu) bersamaan dengan antivirus kadang direkomendasikan untuk mengurangi inflamasi dan nyeri akut, serta mempercepat penyembuhan lesi. Namun, manfaatnya dalam mencegah perkembangan PHN masih kontroversial dan bukti ilmiahnya tidak konsisten atau cenderung tidak mendukung. Mengingat potensi risiko efek samping steroid pada lansia (hiperglikemia, imunosupresi, retensi cairan, perubahan mood, dll.), penggunaannya harus dipertimbangkan secara individual berdasarkan tingkat keparahan nyeri akut dan profil risiko pasien, serta umumnya tidak direkomendasikan secara rutin hanya untuk tujuan pencegahan PHN.

5. Neuralgia Pasca Herpes (PHN): Komplikasi Tersering dan Penanganannya pada Lansia

Neuralgia Pasca Herpes (PHN) didefinisikan sebagai nyeri neuropatik yang menetap selama 90 hari (3 bulan) atau lebih setelah onset ruam HZ pada dermatom yang sama. Ini merupakan komplikasi HZ yang paling sering terjadi dan paling ditakuti, terutama pada populasi lansia, di mana insidensinya meningkat tajam seiring bertambahnya usia. Nyeri PHN sering digambarkan sebagai rasa terbakar, tertusuk, tersetrum, atau sangat sensitif terhadap sentuhan ringan (allodynia), dan dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, tidur, mood, serta kualitas hidup secara keseluruhan.

Penanganan PHN pada lansia memerlukan pendekatan multimodal dan individual, dengan mempertimbangkan efikasi, potensi efek samping, interaksi obat (mengingat lansia seringkali mengalami polifarmasi), dan fungsi organ pasien, terutama fungsi ginjal. Pedoman klinis internasional merekomendasikan beberapa golongan obat sebagai terapi lini pertama :

  1. Ligand Kalsium Kanal α2-δ: Gabapentin dan Pregabalin merupakan obat antikonvulsan yang efektif untuk berbagai jenis nyeri neuropatik, termasuk PHN. Keduanya bekerja dengan memodulasi neurotransmisi di sistem saraf pusat.

  2. Antidepresan Trisiklik (TCA): Obat seperti Amitriptyline, Nortriptyline, dan Desipramine juga memiliki efek analgesik independen dari efek antidepresannya dan efektif untuk PHN. Mekanismenya melibatkan inhibisi reuptake serotonin dan norepinefrin.

  3. Patch Lidocaine 5%: Merupakan terapi topikal yang bekerja secara lokal dengan menstabilkan membran saraf pada kulit yang nyeri. Keuntungan utamanya adalah efek samping sistemik yang minimal.

Pemilihan terapi lini pertama pada lansia seringkali dipengaruhi oleh profil efek samping dan kemudahan penggunaan. Patch Lidocaine 5% sering menjadi pilihan awal yang menarik karena profil keamanannya yang baik pada lansia, dengan absorpsi sistemik dan risiko efek samping sentral (seperti pusing atau sedasi) yang sangat rendah.

Sebaliknya, penggunaan TCA dan gabapentinoid (Gabapentin dan Pregabalin) pada lansia memerlukan kehati-hatian ekstra. Efek samping utama golongan ini adalah efek pada sistem saraf pusat, seperti pusing, somnolen (rasa mengantuk), kebingungan, gangguan keseimbangan, dan mulut kering.

Efek samping ini dapat meningkatkan risiko jatuh secara signifikan pada populasi lansia, yang seringkali sudah memiliki risiko jatuh yang lebih tinggi. TCA juga memiliki efek antikolinergik yang dapat menyebabkan retensi urin, konstipasi, dan penglihatan kabur, yang juga lebih sering menimbulkan masalah pada lansia. 

Jika TCA dipilih, Nortriptyline atau Desipramine umumnya lebih disukai daripada Amitriptyline karena profil efek samping antikolinergik dan sedatif yang relatif lebih ringan. Dosis awal TCA harus sangat rendah (misalnya Nortriptyline 10-25 mg pada malam hari) dan dititrasi sangat perlahan setiap beberapa hari atau minggu sesuai toleransi.

Gabapentin dan Pregabalin juga harus dimulai dari dosis rendah dan dititrasi perlahan. Yang tidak kalah penting, kedua obat ini diekskresikan secara primer melalui ginjal dalam bentuk tidak berubah. Oleh karena itu, penyesuaian dosis berdasarkan fungsi ginjal (CrCl/eGFR) adalah mutlak diperlukan pada pasien lansia untuk menghindari akumulasi obat dan toksisitas (terutama peningkatan risiko sedasi, pusing, dan edema perifer).

Tabel 2: Panduan Praktis Dosis Obat Lini Pertama untuk PHN pada Lansia (Fokus Penyesuaian pada Gangguan Ginjal)


Obat

Dosis Awal Umum (PHN)

Dosis Maksimal Umum (PHN)*

Penyesuaian Berdasarkan CrCl (mL/min)

Catatan Penting/Peringatan

Gabapentin

100-300 mg, 1-3 kali/hari

1800 - 3600 mg/hari (dibagi 2-3 dosis)

CrCl 50-79: Max 1800 mg/hari (dibagi 3 dosis)

Mulai dosis rendah, titrasi lambat (tiap 1-7 hari). Waspada pusing, somnolen, edema perifer, risiko jatuh. Wajib penyesuaian dosis ginjal.




CrCl 30-49: Max 900 mg/hari (dibagi 2-3 dosis)





CrCl 15-29: Max 600 mg/hari (dibagi 1-2 dosis)





CrCl < 15: Max 300 mg/hari (dosis tunggal)


Pregabalin

25-75 mg, 1-2 kali/hari

300 - 600 mg/hari (dibagi 2-3 dosis)

CrCl 30-60: Max 300 mg/hari (dibagi 2-3 dosis)

Mulai dosis rendah, titrasi lambat (tiap 3-7 hari). Waspada pusing, somnolen, edema perifer, penambahan BB, risiko jatuh. Wajib penyesuaian dosis ginjal.




CrCl 15-30: Max 150 mg/hari (dibagi 1-2 dosis)





CrCl < 15: Max 75 mg/hari (dosis tunggal)


Nortriptyline (Contoh TCA)

10-25 mg, malam hari

75 - 150 mg/hari

Tidak memerlukan penyesuaian dosis ginjal primer, namun eliminasi metabolit bisa terpengaruh pada gangguan ginjal berat. Gunakan dengan sangat hati-hati.

Mulai dosis sangat rendah, titrasi sangat lambat (tiap 3-7 hari). Waspada efek antikolinergik (mulut kering, konstipasi, retensi urin), sedasi, hipotensi ortostatik, risiko jatuh. Lebih disukai daripada Amitriptyline pada lansia.

Lidocaine 5% Patch

1 patch diaplikasikan pada area nyeri selama 12 jam dalam periode 24 jam (maksimal 3 patch bersamaan jika area luas)

Maksimal 3 patch/hari

Tidak memerlukan penyesuaian dosis ginjal.

Efek samping sistemik minimal. Dapat menyebabkan iritasi kulit lokal (kemerahan, ruam, rasa terbakar). Jangan digunakan pada kulit yang luka atau meradang. Pilihan aman untuk lansia.

Catatan: Dosis maksimal dapat bervariasi; titrasi harus berdasarkan respons klinis dan tolerabilitas. CrCl = Estimasi Creatinine Clearance.

Jika terapi lini pertama tidak efektif atau tidak dapat ditoleransi, pilihan lini kedua atau ketiga meliputi opioid (digunakan dengan sangat hati-hati karena risiko adiksi dan efek samping pada lansia) atau patch Capsaicin konsentrasi tinggi (yang memerlukan aplikasi oleh tenaga medis terlatih). Rujukan ke spesialis nyeri mungkin diperlukan untuk kasus PHN yang refrakter terhadap terapi standar, di mana intervensi lain seperti blok saraf atau neuromodulasi dapat dipertimbangkan.

6. Pencegahan Herpes Zoster pada Lansia

Meskipun fokus utama artikel ini adalah diagnosis dan terapi, strategi pencegahan primer melalui vaksinasi memegang peranan penting dalam mengurangi beban penyakit HZ dan komplikasinya, termasuk PHN, pada populasi lansia. Saat ini, vaksin HZ direkomendasikan untuk individu berusia 50 tahun ke atas, terlepas dari riwayat pernah menderita cacar air atau HZ sebelumnya.

Vaksin rekombinan zoster (RZV), yang dikenal dengan nama dagang Shingrix, merupakan vaksin yang saat ini dianjurkan oleh banyak badan kesehatan dunia, termasuk CDC (Centers for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat. RZV menunjukkan efikasi yang sangat tinggi (lebih dari 90%) dalam mencegah HZ pada semua kelompok usia lansia, termasuk mereka yang berusia di atas 70 tahun, dan efikasi ini bertahan selama beberapa tahun setelah vaksinasi. 

Vaksin ini diberikan dalam dua dosis intramuskular dengan interval 2-6 bulan. Vaksin zoster hidup (ZVL, Zostavax) yang lebih dulu ada, memiliki efikasi yang lebih rendah terutama pada usia sangat lanjut dan kini sudah tidak lagi tersedia atau direkomendasikan di banyak negara. Mendorong vaksinasi HZ pada pasien lansia yang memenuhi syarat merupakan bagian integral dari upaya komprehensif Diagnosis dan Terapi Herpes Zoster Lansia.

7. Kesimpulan dan Pesan Kunci untuk Praktik Dokter Umum

Herpes Zoster pada lansia merupakan tantangan klinis yang signifikan, ditandai dengan peningkatan insidensi, keparahan, dan risiko komplikasi jangka panjang seperti Neuralgia Pasca Herpes (PHN). Diagnosis dini dalam 72 jam pertama onset ruam dan inisiasi terapi antivirus yang tepat waktu adalah langkah krusial untuk meminimalkan dampak penyakit akut dan menurunkan kemungkinan terjadinya PHN.

Namun, pilar fundamental dalam tatalaksana HZ pada lansia yang tidak boleh diabaikan adalah penilaian fungsi ginjal dan penyesuaian dosis obat secara individual. Mengingat penurunan fungsi ginjal yang umum terjadi seiring usia dan fakta bahwa obat antivirus utama (Acyclovir, Valacyclovir, Famciclovir) serta beberapa obat lini pertama untuk PHN (Gabapentin, Pregabalin) diekskresikan melalui ginjal, maka wajib hukumnya bagi dokter untuk:

  1. Menilai fungsi ginjal (dengan menghitung estimasi CrCl atau eGFR) pada setiap pasien lansia sebelum meresepkan obat-obat tersebut.

  2. Menginterpretasi hasil estimasi fungsi ginjal dengan bijaksana, mempertimbangkan potensi keterbatasan rumus pada lansia dengan massa otot rendah.

  3. Melakukan penyesuaian dosis secara cermat sesuai dengan panduan berbasis bukti (seperti yang disajikan dalam tabel di atas) atau merujuk pada informasi peresepan terbaru.

Kelalaian dalam melakukan penyesuaian dosis dapat menyebabkan akumulasi obat, meningkatkan risiko toksisitas (neurotoksisitas, nefrotoksisitas), dan memperburuk kondisi pasien. Meskipun pedoman penyesuaian dosis telah tersedia luas , studi menunjukkan bahwa kepatuhan dalam praktik klinis masih rendah , menyoroti adanya implementation gap yang perlu diatasi.

Manajemen HZ pada lansia juga memerlukan pendekatan komprehensif terhadap nyeri akut menggunakan analgesik yang dipilih secara hati-hati sesuai profil risiko pasien, serta strategi penanganan PHN yang memprioritaskan keamanan, terutama dengan mempertimbangkan pilihan seperti patch Lidocaine 5% atau penggunaan TCA dan gabapentinoid dengan dosis awal rendah, titrasi lambat, dan pemantauan efek samping yang ketat. Terakhir, jangan lupakan peran penting pencegahan primer melalui vaksinasi HZ (RZV) pada populasi lansia.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip Diagnosis dan Terapi Herpes Zoster Lansia yang berbasis bukti ini, terutama kewajiban rutin menilai fungsi ginjal dan menyesuaikan dosis obat, para dokter umum dapat secara signifikan meningkatkan keamanan dan efektivitas tatalaksana, serta memperbaiki luaran klinis bagi pasien lansia yang menderita Herpes Zoster.

Referensi

  1. Herpes Zoster: Practice Essentials, Background, Pathophysiology, diakses April 26, 2025, https://emedicine.medscape.com/article/1132465-overview

  2. Postherpetic Neuralgia - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses April 26, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK493198/

  3. Herpes zoster | The BMJ, diakses April 26, 2025, https://www.bmj.com/content/334/7605/1211

  4. Pharmacology: Current Practice - CEUfast, diakses April 26, 2025, https://ceufast.com/course/pharmacology-current-practice

  5. Prescribing in renal disease, diakses April 26, 2025, https://australianprescriber.tg.org.au/articles/prescribing-in-renal-disease.html

  6. Orofacial Pain - Exodontia.info, diakses April 26, 2025, https://exodontia.info/wp-content/uploads/2021/07/Orofacial_Pain._A_Guide_to_Medications_Management._2012.pdf

  7. (PDF) Herpes Zoster: Diagnostic, Therapeutic, and Preventive Approaches - ResearchGate, diakses April 26, 2025, https://www.researchgate.net/publication/257647499_Herpes_Zoster_Diagnostic_Therapeutic_and_Preventive_Approaches

  8. Herpes Zoster Treatment & Management - Medscape Reference, diakses April 26, 2025, https://emedicine.medscape.com/article/1132465-treatment

  9. Herpes Zoster and Postherpetic Neuralgia: Prevention and ... - AAFP, diakses April 26, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2017/1115/p656.html

  10. aging.arizona.edu, diakses April 26, 2025, https://aging.arizona.edu/sites/default/files/2023-05/Herpes%20Zoster.pdf

  11. Pain management in patients with chronic kidney disease and end-stage kidney disease - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7753951/

  12. Neuropathic cancer pain: prevalence, pathophysiology, and management - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6234399/

  13. Aciclovir Monograph - Paediatric - Perth Children's Hospital, diakses April 26, 2025, https://pch.health.wa.gov.au/~/media/Files/Hospitals/PCH/General%20documents/Health%20professionals/ChAMP%20Monographs/Aciclovir.pdf

  14. Renal Function Based Dose Adjustments Adult Inpatient - Ambulatory 17.06.27 - Scribd, diakses April 26, 2025, https://www.scribd.com/document/427199730/Renal-Function-Based-Dose-Adjustments-Adult-Inpatient-ambulatory-17-06-27

  15. Renal Dosage Adjustment Guidelines for Antimicrobials, MP01 Attachment A, diakses April 26, 2025, https://www.unmc.edu/intmed/_documents/id/asp/dose-nm-anti-infective-renal-dosing-guidelines.pdf

  16. 3364-133-100 Renal Dosing Adjustments - University of Toledo, diakses April 26, 2025, https://www.utoledo.edu/policies/utmc/pharmacy_hsc/pdfs/3364-133-100.pdf

  17. Creatinine-Based Renal Function Estimates and Dosage of Postoperative Pain Management for Elderly Acute Hip Fracture Patients - ResearchGate, diakses April 26, 2025, https://www.researchgate.net/publication/327735626_Creatinine-Based_Renal_Function_Estimates_and_Dosage_of_Postoperative_Pain_Management_for_Elderly_Acute_Hip_Fracture_Patients

  18. Consensus Guidelines for Oral Dosing of Primarily Renally Cleared Medications in Older Adults - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2640432/

  19. Table 6. Dosing Recommendations for Drugs Used to Treat or Prevent Opportunistic Infections that Require Dosage Adjustment in Adults With Renal Insufficiency - Clinical Info HIV.gov, diakses April 26, 2025, https://clinicalinfo.hiv.gov/en/guidelines/hiv-clinical-guidelines-adult-and-adolescent-opportunistic-infections/dosing-recommendations-drugs-used

  20. Optimizing Pharmacotherapy During Implementation of Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) in Ambulatory Urologic Oncology Surgery: Narrative Review - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11853187/

  21. Postherpetic neuralgia: epidemiology, pathophysiology, and pain ..., diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5036669/

  22. repository.stikesbcm.ac.id, diakses April 26, 2025, https://repository.stikesbcm.ac.id/id/eprint/422/1/ebook-buku-ajar-nyeri-r31jan2019.pdf

  23. Postherpetic Neuralgia Treatment & Management - Medscape Reference, diakses April 26, 2025, https://emedicine.medscape.com/article/1143066-treatment

  24. Pharmacological and Nonpharmacological Treatments for Painful Diabetic Peripheral Neuropathy - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10695723/

  25. Individual Pharmacotherapy Management (IPM-II) for Patient and Drug Safety in Polypharmacy via Clinical Electronic Health Record Is Associated with Significant Fall Prevention - PMC - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11676629/

  26. Palliative Pharmacotherapy for Cardiovascular Disease: A Scientific Statement From the American Heart Association | Circulation, diakses April 26, 2025, https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/HCQ.0000000000000131?doi=10.1161/HCQ.0000000000000131

  27. Pattern and Predictors of Medication Dosing Errors in Chronic Kidney Disease Patients in Pakistan: A Single Center Retrospective Analysis - PubMed Central, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4930166/

  28. (PDF) Renal drug dosage adjustments and adverse drug events in patients with chronic kidney disease admitted to the hospital: a cross-sectional study - ResearchGate, diakses April 26, 2025, https://www.researchgate.net/publication/378101516_Renal_drug_dosage_adjustments_and_adverse_drug_events_in_patients_with_chronic_kidney_disease_admitted_to_the_hospital_a_cross-sectional_study

  29. Older Persons Services Research Report - Lenus.ie, diakses April 26, 2025, https://www.lenus.ie/bitstream/handle/10147/623119/Murphy_2018_Older.pdf?sequence=1&isAllowed=y

  30. Herpes Zoster Guidelines - Medscape Reference, diakses April 26, 2025, https://emedicine.medscape.com/article/1132465-guidelines

  31. Compliance with Dosing Guidelines in Patients with Chronic Kidney Disease | Request PDF, diakses April 26, 2025, https://www.researchgate.net/publication/8647361_Compliance_with_Dosing_Guidelines_in_Patients_with_Chronic_Kidney_Disease

  32. Prescribing Renally Inappropriate Medication to Hospitalized Geriatric Patients in Makkah, Saudi Arabia - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11070154/

Use of renally inappropriate medications in older veterans: A national study - PMC, diakses April 26, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4733653/