Panduan Komprehensif: Diagnosis dan Terapi ISK pada Ibu Hamil Beserta Dosis Obat yang Aman dan Efektif

27 Jun 2026 • Interna

Deskripsi

Panduan Komprehensif: Diagnosis dan Terapi ISK pada Ibu Hamil Beserta Dosis Obat yang Aman dan Efektif

1. Pendahuluan: Urgensi Penanganan ISK dalam Kehamilan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling sering dijumpai selama periode kehamilan. Data global menunjukkan bahwa prevalensi ISK, baik yang bersifat simtomatik maupun asimtomatik, pada ibu hamil dapat mencapai sekitar 23.9%. Angka ini mengindikasikan bahwa dokter umum di layanan primer akan sering berhadapan dengan kasus ini. Lebih lanjut, ISK yang tidak terdiagnosis atau tidak mendapatkan penanganan yang adekuat selama kehamilan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, tidak hanya bagi ibu tetapi juga bagi janin dan neonatus. Komplikasi maternal dapat berupa pielonefritis (infeksi ginjal) hingga sepsis, sementara komplikasi pada janin/neonatus mencakup persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan bahkan dapat berkontribusi terhadap mortalitas perinatal.

Tingginya prevalensi ISK pada kehamilan secara global bukan hanya merupakan masalah klinis individual, tetapi juga berpotensi menjadi beban kesehatan masyarakat yang signifikan apabila tidak diimbangi dengan strategi skrining dan tatalaksana yang efektif serta merata. Dengan prevalensi yang mencapai hampir seperempat populasi ibu hamil , risiko peningkatan komplikasi seperti pielonefritis dan BBLR menjadi nyata jika penanganan tidak optimal. Pielonefritis umumnya memerlukan rawat inap, dan BBLR seringkali membutuhkan perawatan neonatal intensif, yang keduanya akan meningkatkan beban biaya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, panduan yang jelas dan praktis bagi dokter umum sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan menjadi sangat krusial untuk memungkinkan intervensi dini dan pencegahan komplikasi yang lebih berat dan mahal.

Artikel ilmiah populer ini bertujuan untuk membekali para dokter umum dengan panduan yang komprehensif, praktis, dan didasarkan pada bukti ilmiah terkini yang bersumber dari jurnal terindeks PubMed. Fokus utama adalah pada aspek diagnosis dan tatalaksana berbagai jenis ISK pada ibu hamil, termasuk rekomendasi pilihan dan dosis obat yang aman dan efektif. Penekanan pada penggunaan sumber ilmiah terindeks PubMed menggarisbawahi pentingnya pendekatan kritis terhadap praktik klinis yang sudah ada. Beberapa pedoman atau praktik yang telah lama diadopsi mungkin saja didasarkan pada studi-studi lama dengan kualitas metodologi yang kini dipertanyakan, sebagaimana disorot dalam beberapa tinjauan sistematis terkait skrining bakteriuria asimtomatik. Hal ini menyiratkan bahwa dokter umum perlu dibekali tidak hanya dengan informasi mengenai "apa yang harus dilakukan", tetapi juga pemahaman "mengapa" tindakan tersebut direkomendasikan, berdasarkan bukti ilmiah termutakhir, serta kesiapan untuk menghadapi area-area di mana bukti mungkin belum sepenuhnya definitif.

2. Memahami ISK pada Kehamilan: Faktor Risiko dan Klasifikasi

Kehamilan membawa serangkaian perubahan fisiologis signifikan yang secara kolektif meningkatkan kerentanan seorang wanita terhadap ISK. Pemahaman mendalam mengenai faktor-faktor risiko ini penting bagi dokter untuk memberikan edukasi yang tepat kepada pasien dan untuk meningkatkan kewaspadaan klinis.

  • Perubahan Fisiologis sebagai Faktor Risiko Utama Selama kehamilan, terjadi perubahan anatomis dan fungsional pada sistem urinarius yang menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi kolonisasi dan pertumbuhan bakteri. Dilatasi ureter dan kaliks ginjal, yang dikenal sebagai hidronefrosis fisiologis kehamilan, terjadi pada sekitar 90% wanita hamil, dimulai sejak minggu ke-6 dan mencapai puncaknya pada minggu ke-22 hingga ke-24. Dilatasi ini disebabkan oleh kombinasi faktor hormonal, terutama peningkatan kadar progesteron yang menyebabkan relaksasi otot polos, dan faktor mekanis berupa penekanan uterus yang membesar terhadap ureter dan kandung kemih. Relaksasi otot polos ini tidak hanya menyebabkan pelebaran pasif, tetapi juga mengurangi peristaltik ureter yang normalnya membantu mendorong urin ke kandung kemih. Akibatnya, terjadi stasis urin, di mana aliran urin melambat dan urin dapat tertahan lebih lama dalam saluran kemih, memberikan kesempatan lebih besar bagi bakteri untuk berkembang biak sebelum dikeluarkan.
    Selain itu, volume kandung kemih meningkat, namun tonusnya justru menurun. Dapat pula terjadi refluks vesikoureter, yaitu aliran balik urin dari kandung kemih ke ureter. Perubahan komposisi urin, seperti peningkatan pH urin, glikosuria (adanya glukosa dalam urin pada sekitar 70% ibu hamil), dan aminoasiduria (adanya asam amino dalam urin), juga turut berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih subur bagi pertumbuhan bakteri. Glikosuria, misalnya, menyediakan sumber nutrisi tambahan bagi bakteri. Kombinasi dari stasis urin, perubahan komposisi urin, dan penurunan mekanisme pertahanan alami inilah yang menjelaskan mengapa bakteriuria asimtomatik (ASB) pada ibu hamil dapat dengan cepat berkembang menjadi pielonefritis jika tidak terdeteksi dan ditangani secara adekuat.

  • Klasifikasi ISK pada Kehamilan

ISK pada kehamilan secara umum diklasifikasikan berdasarkan lokasi infeksi dan ada atau tidaknya gejala:

  • Bakteriuria Asimtomatik (ASB): Didefinisikan sebagai keberadaan bakteri dalam jumlah signifikan pada kultur urin (umumnya ≥105 colony-forming units (CFU)/mL) tanpa disertai adanya tanda atau gejala klinis ISK.

  • Sistitis Akut (ISK Bawah Simtomatik): Merupakan infeksi pada kandung kemih yang ditandai dengan gejala-gejala iritatif seperti disuria (nyeri saat berkemih), urgensi (keinginan kuat untuk segera berkemih), frekuensi (peningkatan frekuensi berkemih), dan nyeri atau rasa tidak nyaman di area suprapubik.

  • Pielonefritis Akut (ISK Atas Simtomatik): Ini adalah infeksi serius yang melibatkan parenkim dan pelvis ginjal. Gejalanya bersifat lebih sistemik, meliputi demam (seringkali tinggi, >38°C), menggigil, nyeri pada pinggang atau sudut kostovertebra (CVAT), mual, dan muntah. Gejala sistitis dapat menyertai ataupun tidak.

  • Patogen Penyebab Umum

Spektrum mikroorganisme penyebab ISK pada ibu hamil umumnya serupa dengan populasi wanita tidak hamil. Escherichia coli merupakan patogen yang paling dominan, bertanggung jawab atas sekitar 80-90% kasus ISK. Patogen Gram-negatif lainnya yang juga sering diisolasi meliputi Klebsiella pneumoniae dan Proteus mirabilis. Bakteri Gram-positif seperti Streptococcus grup B (SGB) dan Staphylococcus saprophyticus juga dapat menjadi penyebab, meskipun dengan frekuensi yang lebih rendah. Penting untuk dicatat bahwa identifikasi Streptococcus grup B (SGB) dari kultur urin ibu hamil memiliki implikasi ganda. Selain sebagai patogen penyebab ISK itu sendiri, temuan SGB dalam urin (berapapun jumlah koloninya untuk tujuan profilaksis intrapartum menurut beberapa pedoman, atau ≥105 CFU/mL untuk diagnosis ISK) juga mengindikasikan kolonisasi maternal oleh SGB. Kolonisasi maternal SGB merupakan faktor risiko utama transmisi vertikal SGB ke neonatus saat persalinan, yang dapat menyebabkan penyakit SGB awitan dini yang serius pada bayi baru lahir, seperti sepsis, pneumonia, atau meningitis. Oleh karena itu, temuan SGB pada urin ibu hamil memerlukan tidak hanya tatalaksana ISK jika terindikasi, tetapi juga perencanaan profilaksis antibiotik intrapartum sesuai pedoman untuk mencegah infeksi SGB pada neonatus. Ini adalah contoh bagaimana satu temuan diagnostik dalam konteks ISK memiliki implikasi penting lainnya dalam manajemen obstetri secara keseluruhan.

3. Diagnosis ISK pada Ibu Hamil: Kunci Tatalaksana Efektif

Penegakan diagnosis yang akurat dan tepat waktu merupakan landasan fundamental untuk tatalaksana ISK yang efektif pada ibu hamil, yang pada akhirnya bertujuan untuk mencegah komplikasi maternal dan fetal. Proses diagnostik meliputi skrining untuk bakteriuria asimtomatik serta evaluasi klinis dan laboratoris untuk kasus-kasus simtomatik.

  • A. Skrining dan Diagnosis Bakteriuria Asimtomatik (ASB)

ASB didefinisikan sebagai keberadaan bakteri dalam urin dengan jumlah ≥105 CFU/mL dari satu jenis bakteri pada spesimen urin aliran tengah (midstream urine, MSU) yang diambil dengan benar, tanpa adanya keluhan atau gejala ISK pada pasien. Untuk Streptococcus grup B, beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlah koloni >104 CFU/mL sudah dianggap sebagai indikator kolonisasi yang signifikan. Mayoritas pedoman klinis dari organisasi profesi terkemuka seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan Infectious Diseases Society of America (IDSA) merekomendasikan skrining ASB pada semua ibu hamil menggunakan kultur urin. Skrining ini idealnya dilakukan pada kunjungan prenatal pertama atau antara minggu ke-12 hingga ke-16 kehamilan. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) dan US Preventive Services Task Force (USPSTF) juga mendukung praktik skrining awal ini. Namun demikian, penting untuk disadari bahwa terdapat perdebatan ilmiah yang terus berkembang mengenai manfaat dan biaya-efektivitas dari skrining ASB universal pada kehamilan. Beberapa tinjauan sistematis yang lebih baru, termasuk yang dilakukan oleh Angelescu et al. (2016) dan oleh Canadian Task Force on Preventive Health Care (CTFPHC), menyoroti bahwa kualitas bukti ilmiah yang mendukung skrining rutin ASB cenderung rendah hingga sangat rendah. Studi-studi ini menemukan tidak adanya bukti yang kuat mengenai manfaat skrining dalam memperbaiki beberapa luaran kehamilan yang penting, seperti persalinan prematur. Akibatnya, beberapa pedoman nasional, seperti yang diterapkan di Malaysia, mungkin tidak merekomendasikan skrining ASB rutin untuk semua ibu hamil, terutama karena pertimbangan biaya-efektivitas dan kekhawatiran akan peningkatan penggunaan antibiotik yang dapat memicu resistensi, kecuali jika terdapat faktor risiko tertentu pada ibu hamil tersebut.
Kontroversi seputar skrining ASB universal ini mencerminkan suatu pergeseran paradigma dalam kedokteran berbasis bukti, di mana praktik-praktik yang telah lama diterima kini ditinjau ulang secara lebih kritis. Hal ini menempatkan dokter umum dalam posisi yang memerlukan pemahaman yang lebih bernuansa dan kemampuan untuk mendiskusikan ketidakpastian ini dengan pasien. Pedoman lama dari ACOG dan IDSA sangat mendukung skrining ASB, terutama didasarkan pada studi-studi yang lebih tua yang menunjukkan adanya pengurangan risiko pielonefritis dengan pengobatan ASB. Namun, tinjauan sistematis yang lebih baru mengkritisi metodologi studi-studi lama tersebut dan menemukan bahwa dasar bukti untuk manfaat skrining, khususnya terhadap luaran seperti persalinan prematur, tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya. Ini tidak secara otomatis berarti bahwa skrining ASB adalah tindakan yang salah, tetapi lebih kepada pengakuan bahwa dasar buktinya mungkin tidak seabsolut yang diyakini selama ini. Implikasinya, dokter umum perlu menyadari bahwa "rekomendasi" dapat berubah seiring waktu dan mungkin terdapat variasi antar pedoman yang berbeda. Diskusi partisipatif dengan pasien mengenai risiko dan manfaat skrining, terutama pada pasien dengan risiko rendah, mungkin menjadi semakin penting.

Meskipun demikian, kultur urin tetap merupakan baku emas untuk diagnosis ASB. Tes cepat menggunakan dipstick urin tidak dianggap cukup akurat untuk tujuan skrining ASB pada kehamilan. Walaupun terdapat perdebatan mengenai skrining universal, penting untuk ditekankan bahwa identifikasi dan pengobatan ASB pada wanita hamil yang terdeteksi (baik melalui program skrining maupun secara insidental) tetap dianggap penting oleh sebagian besar pedoman saat ini. Hal ini didasarkan pada hubungan yang kuat antara ASB yang tidak diobati dengan peningkatan risiko progresivitas menjadi pielonefritis akut, yang dilaporkan dapat mencapai 20-30% hingga 30-50% pada kasus yang tidak ditangani. Oleh karena itu, jika ASB terdeteksi, pengobatan tetap diindikasikan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius bagi ibu dan janin.

  • B. Diagnosis Sistitis Akut

Diagnosis sistitis akut pada ibu hamil ditegakkan berdasarkan adanya gejala klinis yang khas, meliputi disuria, peningkatan frekuensi berkemih, urgensi, dan nyeri atau rasa tidak nyaman di area suprapubik. Pemeriksaan urinalisis dapat menunjukkan adanya leukosituria (piuria), bakteriuria, dan kadang-kadang hematuria. Temuan nitrit positif pada dipstick urin sangat sugestif adanya infeksi oleh bakteri Gram-negatif yang mampu mereduksi nitrat menjadi nitrit. Kultur urin harus selalu dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis, mengidentifikasi patogen penyebab, dan menentukan pola sensitivitasnya terhadap antibiotik. ACOG menyatakan bahwa ISK simtomatik terkonfirmasi dengan hasil kultur urin ≥105 CFU/mL. Namun, beberapa sumber lain dan pedoman menyebutkan bahwa pada pasien dengan gejala yang jelas, jumlah koloni bakteri yang lebih rendah (misalnya, ≥102–103 CFU/mL) sudah dapat dianggap signifikan secara klinis.

  • C. Diagnosis Pielonefritis Akut

Pielonefritis akut merupakan kondisi yang lebih serius dan memerlukan diagnosis serta penanganan segera. Gejala klinisnya bersifat lebih sistemik, mencakup demam (biasanya >38°C), menggigil, nyeri pada pinggang atau pada sudut kostovertebra (CVAT), mual, dan muntah. Gejala-gejala sistitis dapat menyertai atau tidak. Pada pemeriksaan fisik, sering ditemukan nyeri ketok pada CVA dan dapat pula ditemukan tanda-tanda dehidrasi atau bahkan sepsis, seperti takikardia dan hipotensi. Pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting. Urinalisis akan menunjukkan piuria, bakteriuria, dan seringkali hematuria. Kultur urin dan kultur darah (untuk menyingkirkan kemungkinan bakteremia) harus selalu dilakukan sebelum memulai terapi antibiotik. Pemeriksaan darah lengkap (CBC) dapat menunjukkan adanya leukositosis dengan pergeseran ke kiri (peningkatan jumlah neutrofil muda). Pemeriksaan pencitraan, seperti ultrasonografi (USG) ginjal, dipertimbangkan apabila tidak ada perbaikan klinis setelah 48-72 jam pemberian terapi antibiotik intravena, atau jika terdapat kecurigaan adanya komplikasi seperti obstruksi saluran kemih (misalnya oleh batu) atau pembentukan abses renal/perinefrik. CT scan memiliki sensitivitas yang lebih tinggi untuk mendeteksi komplikasi tersebut, namun penggunaannya pada kehamilan dihindari kecuali jika benar-benar diperlukan dan manfaatnya melebihi potensi risiko radiasi terhadap janin.

  • D. Peran Pemeriksaan Laboratorium: Urinalisis dan Kultur Urin

  • Urinalisis (Dipstick): Tes dipstick urin menyediakan informasi cepat mengenai kemungkinan adanya ISK. Parameter yang relevan meliputi leukosit esterase (LE), yang mendeteksi adanya enzim yang dilepaskan oleh leukosit (sel darah putih) sebagai tanda piuria, dan nitrit, yang mendeteksi adanya bakteri Gram-negatif tertentu yang memiliki kemampuan mereduksi nitrat (normal ada di urin) menjadi nitrit. Kombinasi hasil LE negatif dan nitrit negatif memiliki nilai prediksi negatif yang cukup baik, artinya dapat membantu menyingkirkan kemungkinan ISK pada beberapa kasus. Namun, penting untuk diingat bahwa sensitivitas dan spesifisitas tes dipstick dapat bervariasi. Tes dipstick saja tidak cukup untuk diagnosis definitif ISK atau untuk menyingkirkan ASB secara pasti, terutama karena sensitivitas nitrit bisa rendah jika bakteri penyebab bukan pereduksi nitrat (misalnya, beberapa bakteri Gram-positif) atau jika waktu inkubasi urin di dalam kandung kemih terlalu singkat untuk terjadinya reduksi nitrat yang cukup. Ketergantungan berlebihan pada hasil tes dipstick urin tanpa konfirmasi melalui kultur urin, terutama untuk keputusan memulai terapi antibiotik pada kasus-kasus yang meragukan atau untuk skrining ASB, berpotensi menyebabkan penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Hal ini tidak hanya berdampak pada biaya dan potensi efek samping obat bagi pasien, tetapi juga berkontribusi terhadap masalah yang lebih besar yaitu peningkatan resistensi antibiotik.

  • Mikroskopi Urin: Pemeriksaan mikroskopis sedimen urin dapat memberikan informasi tambahan dengan mengidentifikasi secara langsung adanya bakteri, leukosit (piuria), eritrosit (hematuria), dan cast (silinder) yang dapat mengindikasikan keterlibatan ginjal.

  • Kultur Urin: Kultur urin tetap merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Pemeriksaan ini tidak hanya mengkonfirmasi adanya infeksi dan mengidentifikasi jenis patogen penyebab, tetapi yang lebih penting lagi adalah menyediakan informasi mengenai pola sensitivitas bakteri terhadap berbagai jenis antibiotik. Informasi ini sangat krusial untuk pemilihan terapi antibiotik yang tepat dan efektif, terutama di era meningkatnya prevalensi resistensi antibiotik global. Untuk memastikan hasil kultur urin yang akurat, teknik pengambilan sampel urin aliran tengah (midstream specimen of urine, MSSU) yang benar sangatlah penting untuk meminimalkan risiko kontaminasi oleh flora normal dari uretra distal atau perineum. Sampel urin yang terkontaminasi dapat menghasilkan pertumbuhan bakteri polimikroba atau bakteri yang sebenarnya bukan merupakan patogen urologi, yang dapat membingungkan interpretasi hasil kultur dan mengarah pada diagnosis yang salah serta terapi yang tidak tepat. Hal ini dapat berujung pada perlunya pengulangan tes (yang menambah biaya dan menunda diagnosis) atau pemberian antibiotik yang tidak sesuai. Oleh karena itu, edukasi yang jelas dan cermat kepada pasien mengenai prosedur pengambilan sampel urin yang benar merupakan tanggung jawab penting bagi dokter.

4. Terapi ISK pada Ibu Hamil: Pilihan Aman dan Efektif

Tatalaksana ISK pada ibu hamil memerlukan pertimbangan cermat terhadap efikasi antibiotik dan keamanannya bagi ibu dan janin. Pemilihan antibiotik harus didasarkan pada prinsip-prinsip farmakoterapi yang rasional, dengan memperhatikan spektrum patogen, pola resistensi lokal, dan profil keamanan obat selama kehamilan.

  • A. Prinsip Dasar Pemilihan Antibiotik Selama Kehamilan

Pemilihan antibiotik selama kehamilan harus selalu menyeimbangkan antara kebutuhan untuk mengobati infeksi secara efektif pada ibu dan potensi risiko terhadap janin yang sedang berkembang. Beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Keamanan Maternal dan Fetal: Prioritaskan penggunaan antibiotik yang memiliki profil keamanan yang baik selama kehamilan. Klasifikasi risiko obat pada kehamilan, seperti kategori FDA yang lama (A, B, C, D, X) mungkin masih digunakan sebagai referensi di beberapa tempat, meskipun FDA sendiri telah menggantinya dengan Pregnancy and Lactation Labeling Rule (PLLR) yang memberikan narasi lebih deskriptif mengenai risiko.

  • Spektrum Antibiotik: Idealnya, pilih antibiotik dengan spektrum paling sempit yang efektif terhadap patogen penyebab, berdasarkan hasil kultur urin dan uji sensitivitas jika tersedia. Penggunaan antibiotik spektrum luas secara tidak perlu dapat meningkatkan risiko resistensi dan gangguan flora normal.

  • Hindari Obat Berisiko Tinggi: Obat-obatan yang diketahui memiliki efek teratogenik atau risiko signifikan lainnya pada janin harus dihindari. Contohnya termasuk golongan tetrasiklin (misalnya, doksisiklin, minosiklin) yang dapat menyebabkan pewarnaan gigi permanen dan mempengaruhi perkembangan tulang janin, serta golongan fluoroquinolon (misalnya, siprofloksasin, levofloksasin) yang dikaitkan dengan artropati pada studi hewan, meskipun data pada manusia terbatas.

  • Pertimbangan Khusus untuk Nitrofurantoin dan Trimetoprim-Sulfametoksazol (TMP-SMX):

  • Kedua antibiotik ini umumnya dihindari penggunaannya pada trimester pertama kehamilan jika terdapat alternatif lain yang lebih aman. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa studi yang mengindikasikan potensi (meskipun terbatas dan kadang kontradiktif) peningkatan risiko cacat lahir tertentu. Namun, ACOG menyatakan bahwa obat-obat ini dapat dipertimbangkan jika manfaat yang diharapkan melebihi potensi risiko, terutama jika alternatif lain tidak sesuai atau tidak tersedia.

  • Nitrofurantoin sebaiknya dihindari pada periode aterm (setelah usia kehamilan 38 minggu) dan selama proses persalinan. Penggunaan pada periode ini berisiko menyebabkan anemia hemolitik pada neonatus, terutama pada bayi dengan defisiensi enzim glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD).

  • TMP-SMX juga dihindari pada trimester ketiga, khususnya menjelang aterm, karena komponen sulfonamidnya dapat bersaing dengan bilirubin untuk berikatan dengan albumin, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kernikterus (ensefalopati bilirubin) pada neonatus.

  • Resistensi terhadap Amoksisilin dan Ampisilin: Tingkat resistensi E. coli (patogen ISK tersering) terhadap amoksisilin dan ampisilin dilaporkan cukup tinggi di banyak wilayah. Oleh karena itu, kedua antibiotik ini umumnya tidak direkomendasikan sebagai terapi empiris utama untuk ISK tanpa didukung oleh data sensitivitas dari hasil kultur urin.

Perlu dipahami bahwa perubahan farmakokinetik yang terjadi selama kehamilan, seperti peningkatan volume plasma maternal, peningkatan laju filtrasi glomerulus (GFR), dan perubahan metabolisme hepar, dapat mempengaruhi kadar obat antibiotik dalam sirkulasi ibu. Kadar obat dalam plasma bisa jadi 10-50% lebih rendah pada wanita hamil dibandingkan wanita tidak hamil. Hal ini berpotensi menyebabkan dosis standar yang efektif pada populasi umum menjadi subterapeutik pada ibu hamil, yang pada gilirannya dapat mengurangi efikasi terapi. Meskipun tidak semua antibiotik memerlukan penyesuaian dosis rutin selama kehamilan, kesadaran akan potensi perubahan farmakokinetik ini penting, terutama dalam penanganan infeksi berat seperti pielonefritis, di mana pencapaian kadar terapeutik yang adekuat dan cepat sangat krusial. Ini juga menggarisbawahi pentingnya memilih antibiotik yang profil farmakokinetiknya telah cukup dipelajari pada populasi ibu hamil.Konsep "keamanan" antibiotik pada kehamilan bersifat dinamis dan relatif, seringkali melibatkan pertimbangan yang matang antara risiko infeksi yang tidak diobati (yang bisa sangat berbahaya bagi ibu dan janin) terhadap potensi risiko yang mungkin ditimbulkan oleh obat itu sendiri. Keputusan terapi seringkali bersifat individual dan memerlukan pemahaman yang mendalam mengenai data ilmiah terbaru serta penilaian klinis yang cermat. Contohnya adalah penggunaan nitrofurantoin dan TMP-SMX pada trimester pertama. Beberapa sumber menyarankan untuk menghindarinya jika ada alternatif yang lebih aman , namun pedoman lain menyatakan bahwa penggunaannya dapat dipertimbangkan jika manfaatnya dinilai lebih besar daripada risikonya. Ini menunjukkan bahwa tidak selalu ada jawaban absolut "aman" atau "tidak aman" secara hitam putih. Dokter harus mampu menjelaskan nuansa ini kepada pasien dalam proses pengambilan keputusan bersama.

  • B. Tatalaksana Bakteriuria Asimtomatik (ASB) dan Sistitis Akut

Tujuan utama pengobatan ASB dan sistitis akut pada ibu hamil adalah untuk meredakan gejala (pada sistitis), mengeliminasi bakteri dari saluran kemih, dan yang terpenting, mencegah progresi infeksi menjadi pielonefritis akut serta komplikasi kehamilan lainnya seperti persalinan prematur dan BBLR.

Durasi terapi antibiotik untuk ASB dan sistitis akut pada kehamilan umumnya adalah 5 hingga 7 hari. Pedoman IDSA menyarankan durasi 4-7 hari. Meskipun beberapa studi telah membandingkan efikasi antara kursus terapi singkat (misalnya, 1-3 hari) dengan kursus yang lebih panjang, untuk populasi ibu hamil, kursus terapi yang lebih panjang (5-7 hari) seringkali lebih disukai untuk memastikan eradikasi bakteri yang optimal dan mengurangi risiko relaps atau progresi. Berikut adalah pilihan antibiotik oral yang umum digunakan beserta dosisnya untuk tatalaksana ASB dan sistitis akut pada ibu hamil,:

Tabel 1: Pilihan dan Dosis Antibiotik Oral untuk ASB dan Sistitis Akut pada Kehamilan

Nama Antibiotik

Dosis

Frekuensi

Durasi

Catatan Keamanan Trimester/Lainnya

Nitrofurantoin monohidrat/makrokristal

100 mg

Setiap 12 jam

5-7 hari

Lini pertama menurut NICE. Hindari pada trimester pertama jika ada alternatif, hindari pada aterm (>38 minggu) & persalinan (risiko anemia hemolitik pada neonatus dengan defisiensi G6PD).

Sefaleksin

250-500 mg

Setiap 6-12 jam

5-7 hari

Umumnya aman di semua trimester.

Amoksisilin

500 mg

Setiap 8-12 jam

5-7 hari

Gunakan jika patogen terbukti sensitif karena tingginya resistensi E. coli.

Amoksisilin-klavulanat

500/125 mg atau 875/125 mg

Setiap 12 jam

5-7 hari

Gunakan jika patogen sensitif dan manfaat > risiko. Beberapa pedoman menyarankan kehati-hatian, terutama >20 minggu kehamilan (potensi risiko NEC pada neonatus).

Fosfomisin trometamol

3 gram

Dosis tunggal

1 hari

Efektif, namun beberapa sumber menyatakan tidak untuk pielonefritis karena kadar jaringan ginjal kurang adekuat.

Sefuroksim aksetil

250 mg

Setiap 12 jam

3-7 hari

Pilihan lain dari golongan sefalosporin.

Trimetoprim-sulfametoksazol (TMP-SMX)

160/800 mg (DS)

Setiap 12 jam

3-7 hari

Hindari pada trimester pertama (risiko defek tuba neural karena antagonis folat) dan trimester ketiga/aterm (risiko kernikterus).




  • C. Tatalaksana Pielonefritis Akut

Pielonefritis akut pada kehamilan merupakan kondisi serius yang memerlukan penanganan agresif dan segera. Umumnya, semua ibu hamil yang didiagnosis dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk mendapatkan hidrasi intravena yang adekuat, terapi antibiotik intravena (IV) awal, serta pemantauan ketat terhadap kondisi ibu dan janin.
Terapi antibiotik IV empiris harus segera dimulai setelah spesimen urin dan darah untuk kultur diambil, sambil menunggu hasil identifikasi patogen dan uji sensitivitas. Durasi terapi IV biasanya dilanjutkan hingga pasien afebris (tidak demam) selama minimal 24-48 jam dan menunjukkan perbaikan gejala klinis yang signifikan. Penting untuk dicatat bahwa nitrofurantoin dan fosfomisin tidak direkomendasikan untuk pengobatan pielonefritis. Kedua antibiotik ini, meskipun efektif untuk ISK bawah, memiliki penetrasi yang buruk ke jaringan ginjal sehingga kadar terapeutiknya di ginjal mungkin tidak adekuat untuk mengobati infeksi parenkim ginjal. Setelah kondisi pasien stabil dengan terapi IV, pengobatan dilanjutkan dengan antibiotik oral (terapi step-down). Pilihan antibiotik oral ini idealnya disesuaikan dengan hasil kultur urin dan pola sensitivitas bakteri penyebab. Durasi total terapi antibiotik (kombinasi IV dan oral) untuk pielonefritis akut pada kehamilan umumnya adalah 10 hingga 14 hari.


Tabel 2: Pilihan dan Dosis Antibiotik untuk Pielonefritis Akut pada Kehamilan (IV Awal dan Oral Lanjutan) Bagian 1: Terapi Intravena (IV) Awal (Empiris)

Nama Antibiotik

Dosis

Frekuensi

Catatan Khusus

Seftriakson

1-2 gram

Setiap 24 jam

Sering menjadi lini pertama. Umumnya aman pada kehamilan.

Sefepim

1 gram

Setiap 12 jam

Alternatif sefalosporin spektrum luas.

Ampisilin + Gentamisin

Ampisilin 2 gram IV PLUS Gentamisin 1.5 mg/kg IV atau 5 mg/kg IV

Setiap 6 jam (Amp) / Setiap 8 jam atau 24 jam (Gent)

Regimen klasik, namun pertimbangkan resistensi E. coli terhadap ampisilin. Gentamisin memerlukan pemantauan fungsi ginjal.

Aztreonam

1 gram

Setiap 8-12 jam

Untuk pasien dengan riwayat alergi berat terhadap antibiotik beta-laktam.






Nama Antibiotik

Dosis

Frekuensi

Durasi Total Terapi (IV + Oral)

Catatan Keamanan

Sefaleksin

500 mg

Setiap 6 jam

10-14 hari

Umumnya aman.

Sefpodoksim

200 mg

Setiap 12 jam

10-14 hari

Pilihan sefalosporin oral generasi ketiga.

Amoksisilin-klavulanat

875/125 mg

Setiap 12 jam

10-14 hari

Jika patogen sensitif. Pertimbangkan risiko-manfaat.

TMP-SMX

160/800 mg (DS)

Setiap 12 jam

10-14 hari

Jika patogen sensitif. Hindari pada trimester pertama dan ketiga akhir.

5. Mengatasi ISK Berulang Selama Kehamilan

ISK berulang (recurrent UTI, RUTI) pada kehamilan dapat menjadi masalah yang menantang dan berpotensi meningkatkan risiko komplikasi. Definisi umum ISK berulang adalah terjadinya ≥2 episode ISK simtomatik dalam periode 6 bulan, atau ≥3 episode dalam periode 12 bulan. Pada konteks kehamilan, wanita dengan riwayat ISK berulang sebelum hamil atau yang mengalami lebih dari satu episode ISK selama kehamilan saat ini memerlukan perhatian dan manajemen khusus.

Strategi manajemen ISK berulang pada kehamilan meliputi beberapa langkah. Pertama, pastikan bahwa infeksi akut sebelumnya telah benar-benar tereradikasi dengan melakukan kultur urin pasca-terapi. Kedua, berikan edukasi kepada pasien mengenai tindakan pencegahan non-farmakologis, seperti menjaga hidrasi yang adekuat, mempraktikkan kebersihan perineal yang baik (misalnya, membersihkan dari arah depan ke belakang setelah buang air), dan membiasakan diri untuk berkemih setelah melakukan hubungan seksual.

Pada kasus-kasus tertentu, terutama jika ISK berulang sering terjadi dan terkonfirmasi dengan kultur, pemberian profilaksis antibiotik jangka panjang dapat dipertimbangkan. Pilihan antibiotik yang umum digunakan untuk profilaksis meliputi Nitrofurantoin dengan dosis 50-100 mg sekali sehari, biasanya diminum sebelum tidur, atau Sefaleksin dengan dosis 250-500 mg sekali sehari, juga diminum sebelum tidur. Durasi profilaksis seringkali dilanjutkan selama sisa masa kehamilan untuk mencegah kekambuhan. Namun, keputusan untuk memulai terapi profilaksis antibiotik harus bersifat individual, dengan mempertimbangkan frekuensi dan keparahan episode ISK sebelumnya, potensi risiko dan manfaat dari penggunaan antibiotik jangka panjang bagi ibu dan janin, serta preferensi pasien.

Penting untuk diketahui bahwa bukti ilmiah dari uji klinis terkontrol acak (randomized controlled trials, RCTs) berkualitas tinggi yang secara spesifik mengevaluasi efikasi dan keamanan profilaksis antibiotik untuk ISK berulang pada kehamilan masih terbatas. Sebuah tinjauan sistematis Cochrane hanya berhasil mengidentifikasi satu studi dengan risiko bias sedang hingga tinggi yang membandingkan pemberian nitrofurantoin harian ditambah dengan pengawasan klinis ketat, dengan kelompok yang hanya menerima pengawasan klinis ketat. Hasil studi tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam hal pencegahan pielonefritis berulang atau ISK simtomatik sebelum persalinan. Meskipun demikian, ditemukan adanya penurunan kejadian bakteriuria asimtomatik pada kelompok yang menerima nitrofurantoin dan memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap terapi.

Keterbatasan bukti berkualitas tinggi ini menunjukkan bahwa keputusan untuk memulai profilaksis antibiotik pada kasus ISK berulang selama kehamilan tidak dapat diambil secara rutin. Sebaliknya, keputusan tersebut harus didasarkan pada penilaian klinis yang cermat terhadap profil risiko individual pasien dan melalui proses pengambilan keputusan bersama (shared decision-making) antara dokter dan pasien. Diskusi ini harus mencakup pertimbangan mengenai ketidaknyamanan dan potensi risiko yang ditimbulkan oleh ISK berulang itu sendiri, dibandingkan dengan potensi risiko dan manfaat dari paparan antibiotik jangka panjang selama kehamilan.

Sebelum memutuskan untuk memulai terapi profilaksis antibiotik, penting juga untuk mempertimbangkan dan, jika mungkin, menyingkirkan adanya faktor predisposisi lain yang dapat dikoreksi yang mungkin berkontribusi terhadap ISK berulang. Faktor-faktor ini bisa meliputi anomali struktural pada saluran kemih atau adanya urolitiasis (batu saluran kemih). Meskipun investigasi ekstensif seperti sistoskopi atau pencitraan detail tidak direkomendasikan secara rutin untuk semua kasus ISK berulang kecuali jika terdapat kecurigaan klinis yang kuat , pada kasus-kasus ISK berulang yang sangat sering atau sulit diatasi, memikirkan kemungkinan adanya faktor komorbid lain (yang mungkin sudah ada sebelum kehamilan) adalah langkah yang bijaksana. Evaluasi lebih lanjut untuk kondisi ini mungkin dapat ditunda hingga periode pascapersalinan jika tidak mendesak. Perlu diingat bahwa profilaksis antibiotik hanya bertujuan untuk menekan pertumbuhan bakteri, bukan untuk mengatasi masalah struktural yang mendasari jika memang ada.

6. Poin Kunci untuk Praktik Dokter Umum

Dokter umum memegang peranan sentral dalam sistem pelayanan kesehatan dan seringkali menjadi titik kontak pertama bagi ibu hamil. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif dan kemampuan untuk menerapkan praktik terbaik dalam diagnosis dan tatalaksana ISK pada kehamilan sangatlah krusial. Berikut adalah beberapa poin kunci yang perlu diperhatikan:

  • Skrining Bakteriuria Asimtomatik (ASB): Lakukan skrining ASB dengan kultur urin pada kunjungan prenatal awal (misalnya, antara minggu ke-12 hingga ke-16 kehamilan, atau pada kunjungan pertama) sesuai dengan mayoritas pedoman klinis yang berlaku. Namun, penting juga untuk menyadari adanya perdebatan ilmiah yang sedang berlangsung mengenai kualitas bukti yang mendukung manfaat skrining universal ini, sehingga diskusi dengan pasien mengenai risiko dan manfaat mungkin diperlukan, terutama pada kasus risiko rendah.

  • Diagnosis Cepat dan Tepat: Manfaatkan kombinasi anamnesis gejala klinis, pemeriksaan fisik, hasil urinalisis, dan kultur urin untuk menegakkan diagnosis sistitis akut dan pielonefritis akut secara akurat dan tepat waktu.

  • Pemilihan Antibiotik yang Bijak: Prioritaskan penggunaan antibiotik yang memiliki profil keamanan yang baik selama kehamilan dan efektif terhadap patogen penyebab. Jika memungkinkan, sesuaikan pilihan antibiotik dengan hasil uji sensitivitas dari kultur urin. Perhatikan dengan saksama kontraindikasi dan peringatan khusus penggunaan antibiotik pada trimester tertentu atau pada kondisi maternal tertentu (misalnya, defisiensi G6PD).

  • Tatalaksana Pielonefritis Akut yang Agresif: Pielonefritis akut pada kehamilan adalah kondisi serius yang memerlukan penanganan segera. Pasien dengan pielonefritis umumnya memerlukan rawat inap untuk mendapatkan hidrasi intravena dan terapi antibiotik intravena awal.

  • Tindak Lanjut (Follow-up): Lakukan kultur urin pasca-terapi (tes kesembuhan) untuk memastikan eradikasi bakteri secara tuntas setelah pengobatan ISK, baik ASB, sistitis, maupun pielonefritis.

  • Edukasi Pasien: Berikan edukasi yang jelas dan komprehensif kepada pasien mengenai gejala-gejala ISK, pentingnya pengobatan yang tuntas, cara-cara pencegahan ISK (misalnya, hidrasi yang cukup, kebersihan perineal, miksi pasca-senggama), dan teknik pengambilan sampel urin aliran tengah yang benar untuk meminimalkan kontaminasi.

  • Waspadai Streptococcus grup B (SGB): Jika ditemukan SGB pada hasil kultur urin ibu hamil (berapapun jumlah koloninya untuk tujuan profilaksis intrapartum, atau ≥105 CFU/mL untuk diagnosis ISK), pastikan pasien mendapatkan informasi dan manajemen yang sesuai untuk pencegahan penyakit SGB awitan dini pada neonatus, termasuk rencana profilaksis antibiotik intrapartum jika terindikasi.

Dokter umum berada di garis depan dalam mengidentifikasi dan mengelola ISK pada kehamilan. Peran mereka sangat krusial dalam mencegah terjadinya komplikasi serius melalui deteksi dini, pemberian terapi yang tepat dan rasional (termasuk pemilihan "Dosis Obat ISK pada ibu hamil" yang benar), serta melakukan rujukan yang tepat waktu ke spesialis obstetri dan ginekologi atau ke fasilitas rumah sakit untuk kasus-kasus yang lebih kompleks seperti pielonefritis atau ISK berulang yang sulit ditangani.

Mengingat dinamika bukti ilmiah yang terus berkembang (seperti dalam isu skrining ASB) dan tantangan global berupa peningkatan resistensi antibiotik, maka komitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dan adaptasi terhadap pedoman klinis terbaru adalah kunci bagi dokter umum untuk dapat memberikan perawatan ISK yang optimal pada ibu hamil. Hal ini akan memastikan bahwa "Diagnosis dan Terapi ISK pada ibu hamil" yang diberikan selalu didasarkan pada praktik terbaik yang didukung oleh bukti ilmiah termutakhir, demi kesehatan ibu dan bayi yang optimal.

7. Kesimpulan: Penanganan ISK yang Tepat, Kehamilan Lebih Sehat

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan tantangan klinis yang signifikan selama kehamilan, dengan potensi dampak buruk bagi kesehatan ibu dan luaran perinatal jika tidak ditangani secara adekuat. Perubahan fisiologis selama kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap ISK, mulai dari bakteriuria asimtomatik (ASB) hingga infeksi simtomatik seperti sistitis dan pielonefritis akut yang lebih serius.

Diagnosis yang akurat, melalui kombinasi evaluasi klinis, urinalisis, dan kultur urin sebagai baku emas, adalah langkah awal yang krusial. Skrining ASB pada kunjungan prenatal awal tetap direkomendasikan oleh banyak pedoman, meskipun diskusi mengenai bukti manfaatnya terus berkembang. Pemilihan terapi antibiotik harus mempertimbangkan keamanan maternal-fetal, efikasi terhadap patogen penyebab (idealnya berdasarkan uji sensitivitas), dan potensi risiko pada trimester tertentu. Dosis obat ISK pada ibu hamil, baik untuk terapi oral pada ASB dan sistitis, maupun terapi intravena awal yang dilanjutkan dengan oral pada pielonefritis, harus sesuai dengan rekomendasi berbasis bukti untuk memastikan eradikasi infeksi dan meminimalkan risiko.

Penanganan pielonefritis akut memerlukan pendekatan yang lebih agresif dengan rawat inap dan terapi intravena awal. ISK berulang mungkin memerlukan strategi profilaksis antibiotik jangka panjang pada kasus tertentu, meskipun keputusan ini harus individual dan didasarkan pada diskusi risiko-manfaat dengan pasien, mengingat keterbatasan bukti berkualitas tinggi.

Dengan pemahaman yang mendalam mengenai patofisiologi, diagnosis, dan prinsip-prinsip terapi ISK pada kehamilan, serta dengan tindakan yang cepat dan tepat, dokter umum memainkan peran vital dalam menjaga kesehatan ibu hamil dan mendukung tercapainya luaran kehamilan yang positif. Pembelajaran berkelanjutan dan adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap ibu hamil mendapatkan penanganan ISK terbaik sesuai dengan standar terkini.

Referensi

  1. Global prevalence of urinary tract infection in pregnant mothers: a systematic review and meta-analysis - PubMed, diakses Mei 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37734277/

  2. Urinary tract infections in pregnancy: old and new unresolved diagnostic and therapeutic problems - PubMed Central, diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4379362/

  3. Urinary Tract Infection in Pregnancy - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537047/

  4. (PDF) Benefits and harms of screening for and treatment of asymptomatic bacteriuria in pregnancy: A systematic review - ResearchGate, diakses Mei 14, 2025, https://www.researchgate.net/publication/309659592_Benefits_and_harms_of_screening_for_and_treatment_of_asymptomatic_bacteriuria_in_pregnancy_A_systematic_review

  5. Urinary Tract Infections During Pregnancy - AAFP, diakses Mei 14, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2000/0201/p713.html

  6. Urinary Tract Infection in Pregnancy | SA Health, diakses Mei 14, 2025, https://www.sahealth.sa.gov.au/wps/wcm/connect/public+content/sa+health+internet/resources/policies/urinary+tract+infection+in+pregnancy+-+sa+perinatal+practice+guidelines

  7. Benefits and harms of screening for and treatment of asymptomatic bacteriuria in pregnancy: a systematic review - PubMed, diakses Mei 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27806709/

  8. Benefits and harms of screening for and treatment of asymptomatic bacteriuria in pregnancy: a systematic review - PubMed Central, diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5093995/

  9. Clinical Practice Guideline for the Management of Asymptomatic Bacteriuria: 2019 Update by IDSA, diakses Mei 14, 2025, https://www.idsociety.org/practice-guideline/asymptomatic-bacteriuria/

  10. Clinical Practice Guideline for the Management of Asymptomatic Bacteriuria: 2019 Update by the Infectious Diseases Society of Americaa - Oxford Academic, diakses Mei 14, 2025, https://academic.oup.com/cid/article/68/10/e83/5407612

  11. hq.moh.gov.my, diakses Mei 14, 2025, https://hq.moh.gov.my/bpkk/images/3.Penerbitan/2.Orang_Awam/6.Kesihatan_Ibu/PDF/3.GARIS_PANDUAN/consensus_guidelines_on_the_management_of_urinary_tract_infection_in_pregnancy_disember_2021.pdf

  12. Cystitis - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482435/

  13. Antenatal pyelonephritis: a three-year retrospective cohort study of ..., diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10266991/

  14. Acute Pyelonephritis - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519537/

  15. Asymptomatic bacteriuria in pregnancy: systematic reviews of screening and treatment effectiveness and patient preferences - PMC, diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6429717/

  16. Asymptomatic bacteriuria in pregnancy: systematic reviews of ..., diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6429717/

  17. Screening and treating asymptomatic bacteriuria in pregnancy - PubMed, diakses Mei 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20139763/

  18. Pyelonephritis in Pregnancy | CE Article | NursingCenter, diakses Mei 14, 2025, https://www.nursingcenter.com/cearticle?an=01938899-202201150-00001&Journal_ID=5188715&Issue_ID=6175005

  19. Uncomplicated Urinary Tract Infections - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470195/

  20. The urine dipstick test useful to rule out infections. A meta-analysis of the accuracy - PMC, diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC434513/

  21. Asymptomatic bacteriuria in pregnant mothers: A valid and cost-effective screening test in Bangladesh - ResearchGate, diakses Mei 14, 2025, https://www.researchgate.net/publication/51903633_Asymptomatic_bacteriuria_in_pregnant_mothers_A_valid_and_cost-effective_screening_test_in_Bangladesh

  22. Antibiotic Prescribing in Primary Care for Urinary Tract Infections ..., diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7564384/

  23. ACOG Releases Report on Antimicrobial Therapy in Pregnancy - AAFP, diakses Mei 14, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/1998/1015/p1477.html

  24. Nitrofurantoin - StatPearls - NCBI Bookshelf, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470526/

  25. (PDF) Use of antimicrobials in obstetric practice – A narrative review, diakses Mei 14, 2025, https://www.researchgate.net/publication/341075886_Use_of_antimicrobials_in_obstetric_practice_-_A_narrative_review

  26. Volume 3, Chapter 35. Antibiotics in Maternal-Fetal Medicine, diakses Mei 14, 2025, https://www.glowm.com/resources/glowm/cd/pages/v3/v3c035.html

  27. Recommended treatment for urinary tract infection in pregnancy - PubMed, diakses Mei 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8173146/

  28. Treatments for symptomatic urinary tract infections during pregnancy ..., diakses Mei 14, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7144687/

  29. Acute pyelonephritis in pregnancy: a prospective study of oral versus intravenous antibiotic therapy - PubMed, diakses Mei 14, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2193265/

  30. Evidence review for the effectiveness of methenamine hippurate in the prevention of recurrent urinary tract infections (UTIs) - NCBI, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK611982/

  31. Urinary tract infection (recurrent) - NCBI Bookshelf, diakses Mei 14, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK611967/

  32. Interventions for preventing recurrent urinary tract infection during pregnancy | Request PDF, diakses Mei 14, 2025, https://www.researchgate.net/publication/233418866_Interventions_for_preventing_recurrent_urinary_tract_infection_during_pregnancy