Kapan VAR Diperlukan? Panduan Praktis Diagnosis dan Terapi Digigit Anjing untuk Dokter Umum

18 Jun 2026 • bedah

Deskripsi

Kapan VAR Diperlukan? Panduan Praktis Diagnosis dan Terapi Digigit Anjing untuk Dokter Umum

Pendahuluan: Ancaman Rabies dan Peran Vital Dokter Umum dalam Diagnosis dan Terapi Digigit Anjing

Rabies merupakan penyakit yang menakutkan, dengan tingkat fatalitas mencapai 100% begitu gejala klinis muncul. Namun, penyakit ini juga 100% dapat dicegah melalui Profilaksis Pasca Pajanan (PEP) yang cepat dan efektif. Fakta kontras ini menempatkan tanggung jawab besar pada dokter umum sebagai garda terdepan dalam penanganan kasus gigitan hewan, terutama anjing.

Gigitan anjing menyumbang hingga 99% kasus rabies pada manusia, menjadikan anjing sebagai reservoir utama virus rabies di seluruh dunia. Secara global, rabies diperkirakan menyebabkan sekitar 59.000 hingga 60.000 kematian setiap tahunnya, dengan beban penyakit yang signifikan terjadi di Asia dan Afrika.

Peran dokter umum menjadi sangat krusial dalam memulai PEP secara tepat waktu. Setiap keterlambatan atau kesempatan yang terlewat untuk memberikan PEP dapat berakibat fatal bagi pasien. Oleh karena itu, kemampuan untuk melakukan "Diagnosis dan terapi digigit anjing" secara akurat dan cepat adalah kompetensi esensial.

Keputusan klinis yang diambil oleh dokter umum dalam kasus gigitan anjing bukan hanya menyelamatkan nyawa individu, tetapi juga berkontribusi pada upaya pengendalian rabies yang lebih luas di tingkat kesehatan masyarakat, mengingat tingginya angka kejadian global dan peran sentral anjing dalam penularan. Setiap kasus gigitan anjing yang datang ke fasilitas layanan primer merupakan kesempatan emas untuk mencegah kematian akibat rabies.

Langkah Awal Krusial: Penilaian dan Tatalaksana Luka Gigitan Anjing

Penanganan awal yang tepat pada luka gigitan anjing merupakan fondasi penting dalam mencegah infeksi, termasuk rabies. Langkah-langkah ini harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi pajanan.

  • Sub-bagian 1: Perawatan Luka Lokal Segera – Fondasi Pencegahan Infeksi

Tindakan pencucian luka yang menyeluruh merupakan langkah penyelamat jiwa yang bertujuan untuk mengurangi jumlah virus rabies (inokulum virus) secara mekanis di lokasi luka. Prosedur ini sangat krusial, terutama jika akses pasien ke fasilitas kesehatan yang menyediakan serum atau vaksin rabies tertunda. Luka harus segera dicuci dan dibilas dengan air mengalir yang banyak, idealnya selama 15 menit, menggunakan sabun atau deterjen. Kotoran yang terlihat pada luka harus dibersihkan, dilanjutkan dengan irigasi yang cukup dan debridemen jaringan nekrotik atau yang sudah mati.

Irigasi luka dapat dilakukan menggunakan larutan saline normal atau larutan povidon-iodin 1% (bukan sediaan scrub yang mengandung deterjen). Penggunaan jarum suntik ukuran 19-20G yang terpasang pada spuit 30-60 ml dapat menghasilkan tekanan irigasi optimal sekitar 5-8 psi. Penting untuk menghindari irigasi bertekanan tinggi pada area dengan jaringan ikat longgar, seperti kelopak mata atau pipi anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan edema berlebih. 

Setelah pencucian dengan sabun dan air, penggunaan agen virucidal seperti povidon-iodin atau benzalkonium klorida 1-2% juga direkomendasikan untuk lebih lanjut mengurangi kontaminasi virus. Penekanan pada pencucian yang melimpah dan durasi 15 menit menunjukkan bahwa aksi mekanis pembilasan sangat penting untuk mengurangi muatan virus secara signifikan di lokasi gigitan, bahkan sebelum aplikasi antiseptik spesifik. Perawatan luka ini merupakan komponen pertama dan fundamental dari keseluruhan protokol PEP.

  • Sub-bagian 2: Pertimbangan Penutupan Luka Primer dan Profilaksis Tetanus

Secara umum, luka tusuk (<em>puncture wounds</em>) akibat gigitan anjing sebaiknya tidak ditutup secara primer. Penutupan luka primer juga tidak direkomendasikan untuk luka yang sudah berusia lebih dari 8 jam. Untuk luka pada area tangan atau kaki, konsultasi dengan spesialis bedah mungkin diperlukan. 

Keputusan untuk tidak menutup luka jenis ini didasarkan pada upaya untuk memprioritaskan drainase dan mengurangi risiko terperangkapnya bakteri dan potensi virus rabies di dalam luka, meskipun mungkin menghasilkan penyembuhan awal yang kurang ideal secara kosmetik. Selain itu, status imunisasi tetanus pasien harus selalu dinilai, dan pemberian vaksin tetanus atau imunoglobulin tetanus (ATS/HTIG) dilakukan jika diindikasikan.

  • Sub-bagian 3: Kapan Antibiotik Profilaksis Dipertimbangkan dalam Tatalaksana Gigitan Anjing?
    Penggunaan antibiotik profilaksis secara rutin pada semua kasus gigitan anjing tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat; perawatan luka lokal yang adekuat secara substansial telah terbukti menurunkan angka infeksi.Namun, antibiotik profilaksis diindikasikan pada kondisi luka berisiko tinggi, antara lain: jika luka gigitan dilakukan penutupan primer; luka gigitan kategori sedang atau berat (terutama jika disertai edema, cedera remuk, atau adanya jaringan mati); luka tusuk (khususnya jika ada penetrasi hingga tulang, selubung tendon, atau sendi); gigitan pada wajah; gigitan pada tangan, kaki, atau area genital; atau jika korban gigitan adalah individu dengan kondisi imunokompromais atau asplenia.
    Pilihan antibiotik lini pertama untuk profilaksis pada luka gigitan anjing berisiko tinggi pada pasien sehat adalah amoksisilin-klavulanat, diberikan selama 3 hingga 5 hari. Pilihan ini didasarkan pada spektrumnya yang luas, mencakup bakteri aerob dan anaerob yang umum ditemukan pada mulut anjing, termasuk Pasteurella canis, streptokokus, stafilokokus, Fusobacterium, dan Bacteroides. Bagi pasien dengan alergi penisilin, alternatifnya adalah sefalosporin spektrum luas atau kombinasi trimetoprim-sulfametoksazol dengan klindamisin. Pendekatan selektif ini, bukan pemberian antibiotik rutin, mengharuskan dokter umum memiliki penilaian klinis yang cermat untuk mengidentifikasi secara akurat kondisi-kondisi berisiko tinggi tersebut.

Evaluasi Risiko Rabies: Kunci Utama dalam Diagnosis dan Terapi Digigit Anjing

Penilaian risiko rabies yang cermat merupakan langkah krusial yang akan menentukan keputusan pemberian PEP. Evaluasi ini mencakup penilaian terhadap hewan penggigit dan karakteristik pajanan pada korban.

  • Sub-bagian 1: Menilai Hewan Penggigit – Anamnesis dan Observasi

Beberapa faktor penting dalam menilai risiko rabies pada anjing penggigit meliputi:

  • Gejala Klinis pada Anjing: Hipersalivasi (peningkatan produksi air liur), paralisis (kelumpuhan), dan letargi (lesu) merupakan tanda-tanda yang secara signifikan berhubungan dengan anjing rabies.

  • Status Vaksinasi Anjing: Anjing yang tidak pernah divaksinasi rabies memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita rabies.

  • Status Kepemilikan Anjing: Anjing liar atau tidak berpemilik memiliki risiko lebih tinggi.

  • Perilaku Anjing: Anjing yang menggigit beberapa orang atau menunjukkan perubahan perilaku agresif yang tidak biasa patut dicurigai.

  • Hasil Observasi Anjing: Anjing yang ditemukan mati pada saat investigasi memiliki risiko rabies yang sangat tinggi. Pada satu penelitian, sebagian besar anjing rabies (75%) mati atau dibunuh sebelum masa karantina berakhir, dan semua anjing rabies yang dikarantina mati dalam 3 hari.

Untuk anjing domestik (anjing, kucing, atau ferret) yang menggigit dan tampak sehat, direkomendasikan untuk dilakukan observasi selama 10 hari. Jika selama periode observasi hewan tersebut tetap sehat, maka PEP pada korban tidak diperlukan atau dapat dihentikan jika sudah dimulai. Namun, jika hewan tersebut menunjukkan gejala rabies atau mati dalam periode observasi, PEP harus segera dimulai atau dilanjutkan. 

Penting untuk diingat bahwa virus rabies dapat diekskresikan melalui air liur anjing sebelum hewan tersebut menunjukkan gejala klinis rabies. Kemungkinan anjing tampak sehat namun sudah menyebarkan virus ini memperumit penilaian risiko yang hanya didasarkan pada kondisi hewan saat menggigit dan menggarisbawahi pentingnya periode observasi 10 hari untuk hewan domestik yang diketahui. Meskipun jarang, anjing juga dilaporkan dapat sembuh dari rabies klinis namun tetap dapat menyebarkan virus secara intermiten. 

Penilaian oleh dokter hewan yang terlatih mengenai kemungkinan rabies pada hewan penggigit merupakan faktor prediktif yang sangat signifikan. Jika memungkinkan, kolaborasi atau konsultasi dengan dokter hewan dapat sangat meningkatkan akurasi penilaian risiko. Proses penilaian risiko ini bersifat dinamis; keputusan awal untuk memulai PEP bisa bersifat sementara sambil menunggu hasil observasi hewan.

  • Sub-bagian 2: Menilai Karakteristik Pajanan – Kategori WHO dan Lokasi Luka

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan pajanan rabies ke dalam tiga kategori untuk memandu keputusan pemberian PEP 6:

  • Kategori I: Menyentuh atau memberi makan hewan, jilatan hewan pada kulit yang intak (tidak ada luka). PEP tidak diperlukan jika riwayat pajanan dapat dipercaya.

  • Kategori II: Gigitan kecil pada kulit yang tidak tertutup, cakaran atau abrasi minor tanpa perdarahan. Pemberian vaksin rabies segera diindikasikan.

  • Kategori III: Satu atau lebih gigitan atau cakaran transdermal (menembus kulit), jilatan pada kulit yang tidak utuh, kontaminasi membran mukosa (mata, hidung, mulut) dengan air liur hewan, atau pajanan terhadap kelelawar. Pemberian vaksin rabies dan Imunoglobulin Rabies (RIG) segera diindikasikan.

Lokasi luka gigitan juga sangat mempengaruhi risiko. Gigitan pada area kepala, leher, wajah, tangan, dan alat kelamin dianggap sebagai pajanan Kategori III karena area tersebut memiliki persarafan yang kaya dan lebih dekat dengan sistem saraf pusat (SSP), sehingga virus dapat mencapai otak lebih cepat. Gigitan yang dalam atau multipel pada area-area ini memerlukan PEP yang sangat segera. Hierarki risiko anatomis ini, yang didasarkan pada neuroanatomi dan kinetika virus, menjelaskan mengapa pajanan pada lokasi-lokasi tersebut memerlukan perhatian dan tindakan PEP yang lebih agresif.

  • Sub-bagian 3: Pentingnya Mempertimbangkan Endemisitas Rabies Lokal

Pengetahuan mengenai epidemiologi rabies lokal sangat penting dalam pengambilan keputusan. Di negara-negara endemis rabies anjing, WHO merekomendasikan untuk segera memulai PEP setelah terjadi pajanan dari hewan yang dicurigai menderita rabies. Ketidaktahuan klinisi mengenai epidemiologi rabies lokal di tempat terjadinya gigitan dapat menyebabkan terlewatnya kesempatan pemberian PEP. 

Anjing merupakan sumber utama infeksi rabies pada manusia, terutama di Asia dan Afrika, di mana cakupan vaksinasi rabies pada populasi anjing seringkali rendah. Oleh karena itu, di daerah dengan endemisitas rabies yang tinggi, pendekatan yang lebih berhati-hati (ambang batas yang lebih rendah untuk memulai PEP) sangat dianjurkan, bahkan jika informasi mengenai hewan penggigit tidak sepenuhnya jelas atau ambigu. Konteks geografis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan kritis dari penilaian risiko.

Gambar 1. Asesmen Risiko Luka

Panduan Komprehensif Profilaksis Pasca Pajanan (PEP) Rabies: Kapan VAR dan RIG Diberikan?

Profilaksis Pasca Pajanan (PEP) adalah intervensi medis darurat yang bertujuan untuk mencegah berkembangnya penyakit rabies setelah terjadi pajanan.

  • Sub-bagian 1: Prinsip Umum dan Komponen PEP

PEP terdiri dari lima komponen utama, yaitu: (1) perawatan luka yang adekuat; (2) evaluasi risiko pajanan rabies; (3) pemberian Imunoglobulin Rabies (RIG) atau Rabies Monoclonal Antibodies (RmAbs) jika diindikasikan; (4) pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR); dan (5) konseling pasien. Bagi individu yang belum pernah divaksinasi rabies sebelumnya, PEP selalu mencakup pemberian RIG dan VAR, baik untuk pajanan berupa gigitan maupun non-gigitan, dan terlepas dari interval waktu antara pajanan dan dimulainya pengobatan, selama pasien belum menunjukkan gejala rabies. Kelima komponen PEP ini bekerja secara sinergis: pencucian luka mengurangi jumlah virus awal, RIG memberikan imunitas pasif segera, dan vaksin merangsang imunitas aktif jangka panjang. Melewatkan atau menunda salah satu komponen (jika diindikasikan) akan mengkompromikan efektivitas PEP secara keseluruhan.

  • Sub-bagian 2: Pemberian Imunoglobulin Rabies (RIG/HRIG/ERIG/RmAbs)

RIG diindikasikan untuk semua pajanan Kategori III pada individu yang belum pernah divaksinasi rabies sebelumnya. RIG hanya diberikan satu kali pada awal rangkaian PEP. Dosis yang direkomendasikan adalah 20 IU/kg berat badan untuk Human Rabies Immune Globulin (HRIG) dan 40 IU/kg berat badan untuk Equine Rabies Immune Globulin (ERIG). Untuk Rabies Monoclonal Antibodies (RmAbs), contoh dosisnya adalah 3.33 IU/kg.
Cara pemberian RIG adalah dengan menginfiltrasikan sebanyak mungkin dosis yang telah dihitung ke dalam dan di sekitar semua luka gigitan, sejauh anatomis memungkinkan. Jika setelah infiltrasi luka masih ada sisa volume RIG, maka sisa tersebut disuntikkan secara intramuskular (IM) pada lokasi yang berjauhan dari lokasi penyuntikan dosis pertama vaksin rabies. Perlu dihindari terjadinya sindrom kompartemen saat infiltrasi. Jika RIG tidak diberikan bersamaan dengan dosis pertama vaksin, RIG masih dapat diberikan hingga hari ke-7 setelah dosis pertama vaksin (atau sebelum dosis ketiga vaksin diberikan menurut beberapa panduan, namun panduan CDC menyebutkan hingga dosis ketiga/Hari ke-7, setelah itu tidak direkomendasikan karena respons imun aktif dari vaksin diasumsikan sudah mulai terbentuk). RIG tidak boleh diberikan dalam spuit yang sama atau pada lokasi anatomis yang sama dengan dosis pertama vaksin. Dosis RIG yang diberikan tidak boleh melebihi dosis yang direkomendasikan karena RIG dapat menekan sebagian produksi antibodi aktif oleh tubuh. Batasan pemberian RIG hingga hari ke-7 ini menggarisbawahi adanya "jendela kritis" di mana imunitas pasif paling bermanfaat sebelum respons imun aktif dari vaksin mengambil alih sepenuhnya. Penundaan pemberian RIG melebihi periode ini tidak memberikan manfaat tambahan dan bahkan berpotensi mengganggu proses vaksinasi. Pertimbangan mengenai kelayakan anatomis untuk infiltrasi dan kemungkinan dilusi RIG untuk luka yang luas atau multipel menyoroti tantangan praktis yang mungkin dihadapi dokter dan pentingnya memastikan RIG mencapai semua potensi lokasi masuknya virus.

  • Sub-bagian 3: Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) – Regimen dan Jadwal
    Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) bertujuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar membentuk antibodi terhadap virus rabies.

  • Untuk individu yang belum pernah divaksinasi rabies sebelumnya (rekomendasi standar WHO/CDC):

  • Intramuskular (IM): Regimen 4 dosis (modifikasi regimen Essen) adalah yang paling umum digunakan: satu dosis vaksin (1.0 mL atau 0.5 mL tergantung jenis vaksin) disuntikkan di daerah deltoid pada orang dewasa, atau di aspek anterolateral paha pada anak kecil, pada hari ke-0, 3, 7, dan 14. (Regimen Essen 5 dosis pada hari ke-0, 3, 7, 14, dan 28 masih disebutkan dalam beberapa literatur , namun regimen 4 dosis kini diadopsi secara luas oleh CDC/WHO untuk individu imunokompeten).

  • Intradermal (ID): Terdapat beberapa regimen ID yang secara signifikan lebih hemat vaksin. Contohnya adalah regimen 2 lokasi suntikan ID (masing-masing 0.1 mL) pada hari ke-0, 3, dan 7 (misalnya, Updated Thai Red Cross Regimen). Lokasi penyuntikan ID dapat di daerah deltoid, paha anterolateral, atau area supraskapular. Regimen ID menawarkan keuntungan penting di daerah dengan sumber daya terbatas karena penghematan vaksin yang signifikan (hingga 60-80%). Dokter umum sebaiknya mengetahui validitas dan teknik administrasi yang benar jika regimen ini merupakan bagian dari panduan nasional.

  • Untuk individu yang sudah pernah divaksinasi rabies sebelumnya (misalnya, telah menyelesaikan seri PrEP atau PEP lengkap): Diberikan 2 dosis booster vaksin (IM atau ID) pada hari ke-0 dan hari ke-3. RIG tidak diperlukan pada kelompok ini. Regimen yang disederhanakan ini bergantung pada memori imunologis (respons anamnestik) individu tersebut.

  • Untuk individu dengan gangguan sistem kekebalan (imunokompromais): Memerlukan dosis kelima vaksin pada hari ke-28 (jika menggunakan jadwal IM 4 dosis standar) dan konfirmasi serologis (pemeriksaan titer antibodi) untuk memastikan respons imun yang adekuat telah terbentuk.

  • Vaksin rabies tidak boleh disuntikkan di daerah gluteal (bokong) karena absorpsinya tidak dapat diandalkan.

Berikut adalah tabel ringkasan regimen PEP rabies yang umum direkomendasikan WHO untuk individu yang belum pernah divaksinasi:

Tabel 1: Ringkasan Regimen Profilaksis Pasca Pajanan (PEP) Rabies WHO untuk Individu yang Belum Divaksinasi

Karakteristik

Regimen Intramuskular (IM) - 4 Dosis

Regimen Intradermal (ID) - 2 Lokasi (Contoh: Updated Thai Red Cross)

Dosis Vaksin/Suntikan

Sesuai kemasan (0.5 mL atau 1.0 mL)

0.1 mL per lokasi suntikan

Jumlah Lokasi/Kunjungan

1 lokasi

2 lokasi

Jadwal Suntikan

Hari ke-0, 3, 7, dan 14

Hari ke-0, 3, dan 7

Total Volume Vaksin

4 dosis (misal, 2.0 mL atau 4.0 mL total)

0.6 mL total

Lokasi Suntikan

Deltoid (dewasa), Anterolateral paha (anak kecil)

Deltoid, Paha anterolateral, Supraskapular

Catatan

Imunokompromais: tambah dosis ke-5 hari ke-28 + serologi.

Signifikan hemat vaksin. Membutuhkan pelatihan teknik khusus.


Edukasi Pasien dan Rencana Tindak Lanjut

Komunikasi yang efektif dan edukasi pasien merupakan bagian integral dari tatalaksana gigitan anjing dan PEP.

  • Pasien harus diedukasi mengenai pentingnya menyelesaikan seluruh jadwal PEP yang direkomendasikan untuk mendapatkan perlindungan penuh. Ketidakpatuhan terhadap jadwal dapat meningkatkan risiko kegagalan PEP.

  • Berikan kartu vaksinasi rabies yang mencatat tanggal pemberian setiap dosis dan ingatkan pasien mengenai jadwal kunjungan berikutnya.

  • Informasikan mengenai potensi efek samping ringan pasca vaksinasi dan anjurkan pasien untuk menunggu di fasilitas kesehatan selama 15-20 menit setelah penyuntikan untuk observasi.

  • Lakukan pencatatan informasi mengenai pajanan dan terapi yang diberikan untuk kepentingan surveilans nasional.

  • Jika pasien mengetahui ada orang lain yang terpajan oleh hewan yang sama, anjurkan mereka untuk segera mencari pertolongan medis dan PEP. Peran dokter umum dalam hal ini dapat menjadi penanda (sentinel) bagi potensi adanya hewan rabies di komunitas, yang informasinya dapat memicu tindakan kesehatan masyarakat lebih lanjut.

  • Perlu disadari bahwa status asuransi pasien dapat mempengaruhi kepatuhan dalam menyelesaikan seri vaksinasi. Oleh karena itu, upaya untuk mengidentifikasi dan membantu mengatasi potensi hambatan sosioekonomi juga menjadi penting. Penekanan berulang pada penyelesaian kursus PEP lengkap dan temuan bahwa faktor non-medis seperti asuransi dapat memengaruhi kepatuhan menunjukkan bahwa peran dokter umum melampaui sekadar meresepkan; diperlukan upaya aktif untuk memastikan pasien dapat mengakses dan menyelesaikan pengobatan.

Kesimpulan: Poin Penting untuk Praktik Dokter Umum dalam Diagnosis dan Terapi Digigit Anjing

Rabies adalah penyakit yang fatal, namun dapat dicegah sepenuhnya dengan PEP yang tepat dan segera. "Diagnosis dan terapi digigit anjing" merupakan serangkaian keterampilan kritis yang harus dikuasai oleh setiap dokter umum. Langkah-langkah kunci meliputi perawatan luka segera dan adekuat, penilaian risiko yang komprehensif terhadap hewan penggigit dan karakteristik pajanan, penggunaan RIG dan VAR sesuai panduan WHO, serta memastikan kepatuhan pasien terhadap seluruh rangkaian PEP. 

Dengan pemahaman yang mendalam dan penerapan panduan berbasis bukti, dokter umum dapat secara signifikan mengurangi risiko kematian akibat rabies dan memberdayakan diri mereka untuk menangani kasus-kasus berisiko tinggi ini secara efektif, sehingga mengurangi peluang terlewatnya pemberian PEP yang krusial.

Referensi

  1. Rabies post-exposure prophylaxis delivery to ensure treatment ..., accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10752235/

  2. Rabies - PubMed, accessed May 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28846292/

  3. Assessing the practicalities of joint snakebite and dog rabies control programs: Commonalities and potential pitfalls - PubMed Central, accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8482506/

  4. Recent updates on laboratory diagnosis of rabies - PMC, accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10954107/

  5. Rabies Post-exposure Prophylaxis | Rabies | CDC, accessed May 27, 2025, https://www.cdc.gov/rabies/hcp/prevention-recommendations/post-exposure-prophylaxis.html

  6. A prospective study on health seeking behaviour and post exposure ..., accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11249507/

  7. Management of dog bites in children - PMC, accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3470506/

  8. Maxillofacial Injuries Due to Animal Bites - PMC, accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4444665/

  9. Retrospective Cohort Study to Assess the Risk of Rabies in Biting ..., accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6082081/

  10. Rabies Post Exposure prophylaxis (RPEP)1 Algorithm, accessed May 27, 2025, https://www.health.ny.gov/publications/3028.pdf

  11. Canine rabies - PubMed, accessed May 27, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7777331/

  12. Rabies-specific antibodies among confined and free-roaming dogs ..., accessed May 27, 2025, https://www.one-health.panafrican-med-journal.com/content/article/7/3/full/

  13. New Rabies Vaccines for Use in Humans - PMC, accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6631309/

  14. Characterization of Emergency Department Rabies Post-Exposure Prophylaxis Procedures with an Infectious Diseases Clinic Referral Process - PubMed Central, accessed May 27, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9065527/