29 May 2026 • THT
Pendahuluan
Penggunaan cotton bud (kapas lidi) merupakan praktik yang umum dilakukan oleh masyarakat dengan persepsi untuk menjaga kebersihan telinga. Namun, praktik ini justru berisiko tinggi menyebabkan berbagai masalah telinga, dengan otorea (keluarnya cairan dari telinga) sebagai salah satu manifestasi klinis yang sering dijumpai.
Penting bagi dokter umum untuk memahami bahwa liang telinga memiliki mekanisme pembersihan alami, dan intervensi menggunakan cotton bud dapat mengganggu proses fisiologis ini serta berpotensi menimbulkan cedera. Otorea adalah keluhan yang kerap ditemui di layanan primer dan memerlukan pendekatan diagnostik serta tatalaksana yang cermat dan sistematis.
Kesalahan dalam diagnosis atau tatalaksana yang tidak adekuat dapat berujung pada komplikasi yang lebih serius atau otorea yang bersifat persisten, bahkan dapat mengarah pada kondisi berbahaya seperti otitis eksterna nekrotikans.

Artikel ini bertujuan untuk menyediakan panduan praktis yang berbasis bukti ilmiah dari jurnal-jurnal yang terindeks di Pubmed, guna membantu para dokter umum dalam melakukan diagnosis dan terapi otorrhea yang efektif, khususnya pada kasus-kasus yang disebabkan oleh penggunaan cotton bud.
Pembahasan akan mencakup pertimbangan mengenai dosis obat otorrhea yang relevan untuk populasi dewasa. Terdapat kesenjangan yang signifikan antara persepsi masyarakat umum mengenai manfaat cotton bud untuk kebersihan telinga dan pemahaman medis mengenai risiko yang sebenarnya ditimbulkannya. Banyak individu tetap menggunakan cotton bud meskipun telah ada peringatan dari produsen dan berbagai laporan medis mengenai potensi bahayanya.
Hal ini mengindikasikan bahwa informasi mengenai risiko tersebut belum sepenuhnya tersampaikan atau dipahami secara luas oleh masyarakat. Sebagai lini pertama kontak pasien dengan layanan kesehatan, dokter umum memegang peranan kunci dan strategis dalam memberikan edukasi yang akurat dan berulang mengenai risiko penggunaan cotton bud.
Penekanan pada tatalaksana yang tepat dan edukasi oleh dokter umum tidak hanya bertujuan untuk mencegah komplikasi pada tingkat individual, tetapi juga berpotensi mengurangi beban rujukan ke spesialis Telinga Hidung Tenggorok (THT) yang sebenarnya tidak diperlukan, serta menekan biaya perawatan kesehatan jangka panjang.
Dengan membekali dokter umum pengetahuan komprehensif mengenai diagnosis dan terapi otorrhea akibat cotton bud, kasus-kasus yang tidak rumit dapat ditangani secara tuntas di tingkat layanan primer, mengoptimalkan alur rujukan, dan mencegah komplikasi seperti infeksi kronis atau gangguan pendengaran permanen.
Bahaya Umum dan Mekanisme Cedera Telinga Akibat Cotton Bud
Penggunaan cotton bud di dalam liang telinga dapat menyebabkan berbagai jenis cedera, yang seringkali menjadi pemicu timbulnya otorea:
Trauma Liang Telinga dan Otitis Eksterna Traumatika: Kulit liang telinga luar sangat tipis dan sensitif. Gesekan atau tusukan cotton bud dapat dengan mudah melukai kulit ini, menghilangkan lapisan serumen yang berfungsi sebagai pelindung alami, dan mengubah pH normal liang telinga. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri atau jamur, memicu reaksi inflamasi dan infeksi yang dikenal sebagai Otitis Eksterna (OE). Gejala klasik OE meliputi otalgia (nyeri telinga) yang khas, yaitu memberat saat tragus ditekan atau daun telinga (pinna) ditarik, liang telinga tampak eritema (kemerahan) dan edema (bengkak), serta adanya otorea. Penting untuk diingat bahwa liang telinga memiliki mekanisme pembersihan mandiri (migrasi epitel dari medial ke lateral); intervensi menggunakan cotton bud justru mengganggu proses fisiologis ini dan meningkatkan risiko infeksi.
Impaksi Serumen: Bertentangan dengan tujuan awal penggunaannya, cotton bud seringkali tidak mengeluarkan serumen (kotoran telinga), melainkan mendorongnya lebih jauh ke dalam liang telinga, mendekati atau bahkan menempel pada membran timpani. Hal ini dapat menyebabkan sumbatan serumen atau impaksi, yang bermanifestasi sebagai rasa penuh di telinga (aural fullness), penurunan pendengaran tipe konduktif, dan kadang-kadang tinitus (telinga berdenging) atau pusing. Ini merupakan ironi yang sering terjadi: alat yang dianggap membersihkan justru menyebabkan sumbatan.
Perforasi Membran Timpani Traumatika: Tusukan langsung oleh ujung cotton bud dapat dengan mudah menyebabkan robekan atau lubang (perforasi) pada membran timpani. Gejala yang timbul bisa berupa nyeri hebat yang muncul mendadak saat kejadian trauma, diikuti oleh otorea (cairan yang keluar bisa jernih, serosanguinosa/bercampur darah, atau menjadi purulen/nanah jika terjadi infeksi sekunder), tinitus, dan berbagai tingkat gangguan pendengaran. Membran timpani adalah struktur yang sangat tipis dan rapuh, sehingga sangat rentan terhadap trauma mekanis semacam ini.
Benda Asing (Kapas Tertinggal/Retained Cotton Bud Tip): Fragmen ujung kapas dari cotton bud dapat terlepas dan tertinggal di dalam liang telinga. Benda asing ini dapat menjadi nidus (fokus) bagi pertumbuhan kuman, menyebabkan iritasi kronis, inflamasi, dan otorea yang persisten atau rekuren. Komplikasi ini mungkin tidak segera disadari oleh pasien. Bahkan, dalam kasus yang dilaporkan, kapas cotton bud yang tertinggal dapat memicu kondisi serius seperti otitis eksterna nekrotikans.
Penggunaan cotton bud secara langsung menciptakan kondisi patologis di telinga. Trauma mekanis merupakan mekanisme primer, yang kemudian dapat memicu atau diperburuk oleh infeksi sekunder. Proses ini dapat dijelaskan sebagai berikut: penggunaan cotton bud menyebabkan trauma mekanis pada kulit liang telinga atau membran timpani.
Trauma ini mengakibatkan kerusakan pada barier pelindung alami kulit atau terbentuknya perforasi pada membran timpani. Kondisi ini membuka jalan bagi kolonisasi dan invasi mikroorganisme (bakteri atau jamur). Invasi mikroorganisme ini kemudian menyebabkan infeksi, baik berupa otitis eksterna pada liang telinga maupun otitis media sekunder jika terjadi perforasi membran timpani.
Manifestasi akhir dari proses infeksi dan inflamasi ini adalah timbulnya otorea. Oleh karena itu, riwayat penggunaan cotton bud harus dianggap sebagai "petunjuk penting" dan selalu ditanyakan secara spesifik pada setiap pasien yang datang dengan keluhan telinga, terutama otorea akut atau nyeri telinga. Mengingat cotton bud dapat menyebabkan spektrum cedera yang luas, informasi mengenai riwayat penggunaannya akan sangat mengarahkan proses diagnosis banding dan fokus pemeriksaan fisik.
Diagnosis Otorea Akibat Cotton Bud
Penegakan diagnosis otorea akibat penggunaan cotton bud memerlukan pendekatan yang sistematis, meliputi anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik telinga yang teliti, dan interpretasi temuan otoskopi yang akurat.
Anamnesis Kunci:
Riwayat penggunaan cotton bud harus digali secara spesifik: frekuensi penggunaan, cara penggunaan (misalnya, seberapa dalam dimasukkan, gerakan memutar atau mendorong), dan kapan terakhir kali digunakan.
Detail mengenai otorea sangat penting: onset (mendadak atau bertahap), durasi, karakteristik cairan (warna – jernih, kekuningan, kehijauan, kemerahan/darah; konsistensi – encer, kental, seperti lendir/mukoid, seperti nanah/purulen; bau – tidak berbau, berbau amis, atau busuk), dan volume perkiraan (sedikit, sedang, atau banyak).
Gejala penyerta yang harus ditanyakan meliputi: otalgia (nyeri telinga – tanyakan lokasi, intensitas, faktor yang memperberat atau memperingan), gangguan pendengaran (tipe dan derajat berdasarkan persepsi pasien), tinitus (telinga berdenging), vertigo (sensasi pusing berputar), demam, atau gejala sistemik lainnya seperti malaise.
Riwayat trauma lain pada telinga, paparan air (misalnya, berenang atau kemasukan air saat mandi), atau riwayat penyakit telinga sebelumnya juga merupakan informasi penting yang perlu digali. Anamnesis yang cermat dan terarah akan sangat membantu dalam mempersempit kemungkinan diagnosis banding, apakah mengarah ke otitis eksterna, perforasi membran timpani, atau kemungkinan adanya benda asing.
Pemeriksaan Fisik Umum dan Telinga:
Inspeksi daun telinga (pinna) dan area periaurikular (sekitar telinga) untuk mencari adanya tanda-tanda inflamasi seperti eritema (kemerahan), edema (pembengkakan), nyeri tekan, atau adanya fistula (saluran abnormal).
Lakukan palpasi pada tragus dan manuver tarikan lembut pada pinna. Nyeri yang signifikan saat manuver ini sangat sugestif untuk otitis eksterna.
Palpasi kelenjar getah bening regional (preaurikular, retroaurikular, servikal superior) untuk menilai adanya pembesaran (limfadenopati) atau nyeri tekan, yang dapat mengindikasikan adanya proses infeksi. Temuan-temuan ini membantu melokalisasi sumber masalah, apakah terbatas pada liang telinga luar atau melibatkan struktur yang lebih dalam.
Pemeriksaan Otoskopi (Kunci Diagnosis Otorea):
Visualisasi liang telinga luar (LTL) dan membran timpani (MT) secara menyeluruh adalah langkah esensial. Jika pandangan terhalang oleh debris, serumen, atau sekret, pertimbangkan untuk melakukan pembersihan liang telinga (aural toilet) secara hati-hati jika kondisi memungkinkan dan aman (lihat bagian Tatalaksana).
Gambar 1. Penampakan otoskopi otitis eksterna

Gambaran Khas Otitis Eksterna Traumatika: Liang telinga akan tampak eritema, edema, dan mungkin terdapat debris skuamosa atau sekret purulen. Membran timpani biasanya intak dan dapat terlihat normal atau sedikit hiperemis, kecuali jika trauma juga melibatkan MT.
Tanda-tanda Perforasi Membran Timpani Traumatika: Akan terlihat adanya robekan atau lubang pada membran timpani. Perhatikan dan catat ukuran perforasi (persentase dari luas MT), lokasi (sentral, marginal, atik), dan kondisi tepi perforasi (misalnya, rata, tergulung ke dalam, atau ada jaringan granulasi). Mungkin terlihat adanya pulsasi cairan dari kavum timpani jika terdapat otitis media akut (OMA) yang menyertai, atau adanya otorea aktif yang keluar melalui perforasi tersebut. Jika riwayat mendukung adanya OMA yang mendahului perforasi, mungkin dapat ditemukan tanda-tanda seperti membran timpani yang sebelumnya tampak sangat menonjol (bulging) atau sangat hiperemis.
Identifikasi Sisa Kapas (Cotton Bud): Perhatikan dengan seksama apakah ada massa keputihan, serat-serat kapas, atau benda asing lain yang mungkin merupakan fragmen cotton bud yang tertinggal di liang telinga.
Otoskopi adalah alat diagnostik utama bagi dokter umum. Kemampuan untuk melakukan pemeriksaan otoskopi dengan benar dan menginterpretasikan temuan secara akurat sangat krusial dalam diagnosis dan terapi otorrhea.
Otorea akibat trauma cotton bud seringkali bersifat unilateral, sesuai dengan sisi telinga yang biasa "dibersihkan" oleh pasien. Nyeri yang sangat hebat dan terlokalisir saat tragus ditekan atau pinna dimanipulasi lebih mengarah ke diagnosis otitis eksterna. Sebaliknya, riwayat nyeri telinga hebat yang kemudian mereda secara tiba-tiba setelah diikuti keluarnya cairan dari telinga lebih mengarah ke perforasi membran timpani akibat otitis media akut yang ruptur (yang mungkin dipicu atau diperburuk oleh trauma cotton bud atau infeksi sekunder).
Ditemukannya debris berupa serpihan kapas pada pemeriksaan otoskopi merupakan bukti langsung adanya hubungan kausal dengan penggunaan cotton bud. Selain itu, liang telinga yang tampak "terlalu bersih" dari serumen namun menunjukkan tanda-tanda inflamasi (eritema, edema) juga bisa menjadi petunjuk adanya praktik pembersihan telinga yang agresif menggunakan cotton bud.
Tatalaksana Otorea Akibat Cotton Bud di Layanan Primer
Tatalaksana otorea akibat penggunaan cotton bud di layanan primer bertujuan untuk mengatasi infeksi, mengurangi inflamasi, meredakan nyeri, dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Prinsip Umum Tatalaksana:
Manajemen Nyeri (Mengatasi Otalgia): Nyeri merupakan keluhan yang paling sering mengganggu pasien dan harus segera ditangani.
Analgesik oral seperti Paracetamol atau Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS), contohnya Ibuprofen, merupakan lini pertama untuk mengatasi nyeri telinga.
Dosis Obat Otorrhea (Analgesik Dewasa): Disajikan dalam tabel berikut. Tabel 1: Dosis Analgesik Oral Umum untuk Otalgia pada Dewasa
Nama Obat | Dosis Tunggal Dewasa | Frekuensi Pemberian | Dosis Maksimal per 24 jam | Catatan Khusus |
Paracetamol | 500mg – 1000mg | Setiap 4-6 jam | 4 gram | Perhatikan fungsi hati pada penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi. |
Ibuprofen | 200mg – 400mg | Setiap 4-6 jam | 1.2 gram – 2.4 gram | Hati-hati pada pasien dengan riwayat gastritis atau gangguan ginjal. Sebaiknya dikonsumsi setelah makan. |
Tatalaksana Spesifik Berdasarkan Penyebab (Fokus pada Dosis Obat Otorrhea):
Otitis Eksterna Traumatika (dengan Membran Timpani Intak):
Terapi lini pertama adalah antibiotik topikal, seringkali dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal untuk mengurangi inflamasi dan edema. Pilihan antibiotik topikal meliputi golongan kuinolon (misalnya, Ciprofloxacin, Ofloxacin) atau kombinasi Polimiksin B/Neomisin dengan Hidrokortison (hanya jika membran timpani dipastikan intak dan tidak ada riwayat alergi terhadap Neomisin). Antibiotik topikal memberikan konsentrasi obat yang tinggi langsung di lokasi infeksi dengan efek samping sistemik yang minimal.
Dosis Obat Otorrhea (Topikal Dewasa untuk Otitis Eksterna dengan MT Intak): Disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 2: Pilihan Obat Topikal untuk Otitis Eksterna Akibat Trauma Cotton Bud (Dewasa, Membran Timpani Intak)
Nama Obat/Kandungan Aktif | Contoh Merek Dagang (Indonesia) | Dosis Dewasa | Durasi Terapi | Catatan Penting |
Ciprofloxacin 0.3% | Baquinor®, Bernoflox® | 3-5 tetes, 2 kali sehari | 7-10 hari | Spektrum luas, termasuk Pseudomonas aeruginosa. |
Ofloxacin 0.3% | Tarivid Otic®, Akilen® | 5-10 tetes, 2 kali sehari | 7-10 hari | Spektrum luas, alternatif untuk Ciprofloxacin. |
Ciprofloxacin 0.2% + Hydrocortisone 1% | Ciproxin HC® | 3 tetes, 2 kali sehari | 7 hari | Kombinasi antibiotik dan steroid untuk mengurangi inflamasi. |
Polimiksin B + Neomisin + Hidrokortison | Otolin®, Enkacetyn® | 3-4 tetes, 3-4 kali sehari | 7-10 hari | Hanya jika MT intak dan tidak ada alergi Neomisin. Risiko ototoksisitas jika ada perforasi. Mengandung steroid. |
Flumetasone pivalate 0.02% + Clioquinol 1% | Locacorten-Vioform® | 2-3 tetes, 2 kali sehari | Hingga beberapa hari setelah gejala hilang | Mengandung antijamur dan steroid, dapat digunakan jika ada kecurigaan infeksi jamur atau bakteri. |
Tabel 3: Pilihan Antibiotik untuk Perforasi Membran Timpani Traumatika dengan Otorea/Infeksi (Dewasa)**
Jenis Antibiotik | Nama Generik | Contoh Merek Dagang (Indonesia) | Dosis Dewasa | Durasi Terapi | Pertimbangan Khusus |
Topikal | Ofloxacin 0.3% | Tarivid Otic®, Akilen® | 10 tetes, 2 kali sehari | 10-14 hari atau hingga sekret kering beberapa hari | Pilihan utama karena non-ototoksik. |
Topikal | Ciprofloxacin 0.3% | Baquinor®, Bernoflox® | 3-5 tetes, 2 kali sehari | 7-14 hari atau hingga sekret kering beberapa hari | Alternatif non-ototoksik. |
Sistemik | Amoxicillin | Amoxsan®, Corsamox® | 500mg tiap 8 jam atau 875mg tiap 12 jam | 5-10 hari | Lini pertama untuk OMA. Dosis tinggi mungkin diperlukan. Pertimbangkan alergi penisilin. |
Sistemik | Amoxicillin-Clavulanate | Augmentin®, Clavamox® | 500/125mg tiap 8 jam atau 875/125mg tiap 12 jam | 5-10 hari | Jika riwayat antibiotik baru, infeksi diduga resisten, atau tidak respons dengan Amoxicillin. |
Kesadaran akan risiko ototoksisitas adalah faktor penentu utama dalam pemilihan antibiotik topikal ketika terdapat perforasi membran timpani. Golongan fluoroquinolone menjadi pilihan utama karena profil keamanannya yang superior dibandingkan aminoglikosida pada kondisi ini.
Ini adalah poin diferensiasi krusial dalam tatalaksana otorea antara kondisi membran timpani intak versus perforasi. Kesalahan pemilihan dapat berakibat fatal pada fungsi pendengaran dan keseimbangan. Keberhasilan terapi otorea tidak hanya bergantung pada pemilihan jenis obat yang tepat tetapi juga pada pemahaman dan penerapan dosis yang benar, durasi terapi yang adekuat, cara pemberian yang optimal, serta tingkat kepatuhan pasien.
Dokter umum perlu memberikan edukasi yang jelas mengenai cara penggunaan tetes telinga yang benar (misalnya, posisi kepala miring, memompa tragus dengan lembut setelah meneteskan obat) untuk memastikan penetrasi obat yang maksimal ke area target. Sebagian besar perforasi membran timpani traumatik berukuran kecil hingga sedang memiliki kecenderungan untuk sembuh secara spontan tanpa intervensi bedah.
Oleh karena itu, intervensi antibiotik (baik topikal maupun sistemik) hanya diindikasikan jika terdapat bukti klinis adanya infeksi. Hal ini menekankan pentingnya strategi observasi ("watchful waiting") dan penerapan dry ear precautions sebagai landasan tatalaksana awal pada kasus perforasi traumatik tanpa komplikasi infeksi.
Edukasi Pasien dan Pencegahan
Edukasi pasien memegang peranan sentral dalam tatalaksana otorea akibat cotton bud dan, yang lebih penting, dalam pencegahan kejadian serupa di masa mendatang.
Bahaya Penggunaan Cotton Bud: Jelaskan secara gamblang kepada pasien mengenai berbagai risiko yang terkait dengan memasukkan cotton bud ke dalam liang telinga. Ini termasuk risiko mendorong serumen lebih dalam hingga menyebabkan impaksi, melukai kulit liang telinga yang sensitif, memicu infeksi (otitis eksterna), dan bahkan menyebabkan robekan (perforasi) pada membran timpani.
Praktik Membersihkan Telinga yang Aman: Tekankan bahwa liang telinga memiliki mekanisme pembersihan diri alami (self-cleaning mechanism) melalui proses migrasi epitel, di mana kulit liang telinga secara perlahan bergerak dari dalam ke luar, membawa serta serumen dan debris. Edukasi pasien bahwa serumen dalam jumlah normal bersifat protektif, berfungsi sebagai pelumas, antibakteri, dan penangkap kotoran, sehingga tidak perlu dihilangkan secara agresif. Pembersihan telinga sebaiknya hanya difokuskan pada daun telinga (pinna) dan bagian paling luar dari liang telinga, cukup dengan menggunakan waslap atau handuk basah secara lembut.
Pentingnya Menjaga Telinga Tetap Kering: Ingatkan kembali pasien mengenai pentingnya menjaga telinga tetap kering (dry ear precautions) selama masa penyembuhan, terutama jika terdapat perforasi membran timpani atau sedang mengalami otitis eksterna aktif.
Instruksi Kontrol dan Tanda Bahaya: Informasikan kepada pasien mengenai jadwal kontrol yang diperlukan (misalnya, jika gejala tidak membaik dalam 2-3 hari setelah memulai pengobatan, atau untuk evaluasi penyembuhan perforasi sesuai jadwal yang ditentukan dokter). Sampaikan juga tanda-tanda bahaya yang mengharuskan pasien untuk segera mencari pertolongan medis lanjutan (lihat bagian Rujukan).
Edukasi yang efektif harus bertujuan untuk mengubah persepsi dan kebiasaan pasien yang salah terkait "kebersihan telinga" secara jangka panjang. Menggunakan analogi sederhana atau penjelasan visual mengenai mekanisme self-cleaning alami telinga dan fungsi protektif serumen dapat lebih efektif daripada sekadar larangan. Banyak pasien memiliki keyakinan keliru bahwa telinga "kotor" jika terdapat serumen. Dokter umum perlu meluruskan miskonsepsi ini dengan menjelaskan bahwa serumen adalah substansi normal dan bermanfaat bagi kesehatan telinga.
Kapan Merujuk ke Spesialis THT?
Meskipun banyak kasus otorea akibat cotton bud dapat ditangani di layanan primer, terdapat beberapa kondisi atau tanda bahaya (red flags) yang memerlukan rujukan segera atau terencana ke dokter spesialis THT untuk evaluasi dan tatalaksana lebih lanjut :
Kegagalan Terapi Awal: Otorea yang tidak menunjukkan perbaikan atau bahkan memburuk setelah pemberian terapi antibiotik yang adekuat di layanan primer (misalnya, dalam 1-2 minggu untuk otitis eksterna, atau jika otorea dari perforasi membran timpani tidak berkurang setelah terapi yang sesuai).
Perforasi Membran Timpani yang Tidak Menutup: Perforasi membran timpani traumatik yang tidak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan atau tidak menutup secara spontan setelah periode observasi yang cukup (misalnya, > 6-8 minggu), atau jika perforasi berukuran besar, terletak di daerah marginal, atau dicurigai adanya keterlibatan kolesteatoma.
Gangguan Pendengaran Signifikan: Timbulnya gangguan pendengaran yang signifikan secara tiba-tiba setelah trauma, atau gangguan pendengaran yang menetap meskipun otorea telah teratasi.
Gejala Vestibular atau Tinitus Berat: Adanya vertigo (pusing berputar) atau tinitus (telinga berdenging) yang berat dan persisten.
Paresis Nervus Fasialis: Timbulnya kelemahan atau kelumpuhan pada otot-otot wajah di sisi telinga yang sakit. Ini merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera.
Nyeri Hebat yang Tidak Terkontrol: Nyeri telinga yang sangat hebat dan tidak merespons terhadap analgesik standar.
Kecurigaan Komplikasi Serius:
Otitis Eksterna Maligna/Nekrotikans: Terutama pada pasien dengan diabetes melitus atau kondisi imunokompromais. Gejala meliputi nyeri telinga yang sangat hebat dan dalam (seringkali tidak sebanding dengan temuan fisik awal), otorea purulen persisten, dan mungkin ditemukan adanya jaringan granulasi di dasar liang telinga pada pemeriksaan otoskopi.
Mastoiditis Akut: Inflamasi dan infeksi pada tulang mastoid di belakang telinga, ditandai dengan nyeri, pembengkakan, dan kemerahan di area retroaurikular, serta protrusi pinna (daun telinga terdorong ke depan dan ke bawah).
Komplikasi Intrakranial: Meskipun jarang, penyebaran infeksi ke intrakranial dapat terjadi, ditandai dengan sakit kepala hebat, kaku kuduk, penurunan kesadaran, atau defisit neurologis fokal.
Retensi Kapas (Cotton Bud) yang Sulit Diekstraksi: Jika fragmen kapas tertinggal di liang telinga dan sulit atau tidak aman untuk diekstraksi oleh dokter umum di layanan primer.
Kecurigaan Kolesteatoma: Ditandai dengan otorea kronis yang berbau busuk, adanya debris berwarna putih seperti keju atau keratin di liang telinga atau telinga tengah (terlihat melalui perforasi), atau adanya kantong retraksi pada membran timpani, terutama di daerah atik.
Tidak semua rujukan bersifat darurat. Dokter umum perlu mampu membedakan antara kondisi yang memerlukan evaluasi segera oleh spesialis THT (misalnya, paresis nervus fasialis, kecurigaan otitis eksterna maligna atau komplikasi intrakranial) dengan kondisi yang dapat dirujuk secara terencana (misalnya, perforasi membran timpani kronis tanpa infeksi aktif untuk pertimbangan timpanoplasti).
Bahkan ketika tidak merujuk, dokter umum memiliki peran penting dalam safety netting, yaitu memberikan instruksi yang jelas kepada pasien mengenai kapan harus kembali kontrol jika kondisi tidak membaik atau justru memburuk.
Kesimpulan
Otorea yang disebabkan oleh penggunaan cotton bud merupakan masalah klinis yang sering dihadapi oleh dokter umum. Pemahaman yang komprehensif mengenai mekanisme cedera, presentasi klinis yang beragam (mulai dari otitis eksterna traumatika hingga perforasi membran timpani dan retensi benda asing), serta pendekatan diagnostik yang tepat sangatlah krusial. Anamnesis yang teliti mengenai riwayat penggunaan cotton bud dan pemeriksaan otoskopi yang cermat adalah kunci utama dalam diagnosis dan terapi otorrhea jenis ini.
Tatalaksana di layanan primer meliputi manajemen nyeri yang adekuat, aural toilet yang dilakukan dengan hati-hati dan hanya jika aman, serta pemilihan antibiotik topikal atau sistemik dengan mempertimbangkan dosis obat otorrhea yang tepat untuk dewasa dan profil keamanan obat (terutama non-ototoksisitas pada kasus perforasi membran timpani).
Edukasi pasien mengenai bahaya penggunaan cotton bud, praktik kebersihan telinga yang aman, dan pentingnya menjaga telinga tetap kering (dry ear precautions) selama masa penyembuhan memegang peranan vital dalam pencegahan primer dan sekunder.
Dokter umum juga harus mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahaya yang mengindikasikan perlunya rujukan ke spesialis THT untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Pada akhirnya, pesan utama yang perlu disampaikan adalah bahwa penggunaan cotton bud di dalam liang telinga lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat.
Edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat adalah intervensi terpenting. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, dokter umum dapat secara signifikan mengurangi morbiditas akibat cedera cotton bud dan berperan aktif sebagai agen perubahan dalam meningkatkan kesadaran akan praktik kebersihan telinga yang aman di masyarakat.
Use and abuse of cotton buds - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1181836/
The Awareness Among Parents About Cotton Earbud (Q-tips) Use in ..., accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10505834/
Review article: Topical antibiotic treatments for acute otitis externa: Emergency care guidelines from an ear, nose and throat perspective - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9293151/
Ear wax management - RACGP, accessed May 19, 2025, https://www.racgp.org.au/afp/2015/october/ear-wax-management
Management of patients presenting with otorrhoea: diagnostic and ..., accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3553644/
A primary care approach to the discharging ear - RACGP, accessed May 19, 2025, https://www1.racgp.org.au/ajgp/2024/supplement-december/a-primary-care-approach-to-the-discharging-ear
Cotton bud in external ear canal causing necrotising otitis externa ..., accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6424386/
Pediatric Ear, Nose, and Throat Emergencies - PMC - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7126702/
Otoscope Exam - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK553163/
Perforated Eardrum: Causes, Symptoms, and Treatment - Patient.info, accessed May 19, 2025, https://patient.info/ears-nose-throat-mouth/hearing-problems/perforated-eardrum
Tympanic Membrane Perforation - MD Searchlight, accessed May 19, 2025, https://mdsearchlight.com/ear-nose-and-throat/tympanic-membrane-perforation/
Tympanic Membrane Perforation Article Review - ijrpr, accessed May 19, 2025, https://ijrpr.com/uploads/V6ISSUE3/IJRPR39514.pdf
Ear Foreign Body Removal - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459136/
Otitis media - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7097351/
Clinical Practice Guidelines : Acute otitis media - The Royal Children's Hospital, accessed May 19, 2025, https://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/acute_otitis_media/
Paracetamol (acetaminophen) or non‐steroidal anti‐inflammatory drugs, alone or combined, for pain relief in acute otitis media in children - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6463789/
Paracetamol (acetaminophen) or non‐steroidal anti‐inflammatory drugs, alone or combined, for pain relief in acute otitis media in children - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10436353/
Otitis Media: Diagnosis and Treatment | Request PDF - ResearchGate, accessed May 19, 2025, https://www.researchgate.net/publication/258053584_Otitis_Media_Diagnosis_and_Treatment
Ear, Nose, and Throat Emergencies (Chapter 6) - Clinical Manual of Emergency Pediatrics, accessed May 19, 2025, https://www.cambridge.org/core/books/clinical-manual-of-emergency-pediatrics/ear-nose-and-throat-emergencies/AFD77E56B5E02B83B27A9B2B00355B29
Acute Otitis Externa: An Update | AAFP, accessed May 19, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2012/1201/p1055.html
How and when to take paracetamol for adults - NHS, accessed May 19, 2025, https://www.nhs.uk/medicines/paracetamol-for-adults/how-and-when-to-take-paracetamol-for-adults/
How and when to take or use ibuprofen - NHS, accessed May 19, 2025, https://www.nhs.uk/medicines/ibuprofen-for-adults/how-and-when-to-take-ibuprofen/
Clinical practice guideline: Acute otitis externa, accessed May 19, 2025, https://neuron.mefst.hr/docs/katedre/orl/seminari_2013/Rosenfeld-_AOE_-_Clinical_Guideline.pdf
Acute otitis externa - Management by GPs in North Queensland - RACGP, accessed May 19, 2025, https://www.racgp.org.au/getattachment/5635a887-98bd-45c4-9546-248c13afc210/Acute-otitis-externa.aspx
Clinical Practice Guideline: Acute Otitis Externa - Shasta Community Health Center, accessed May 19, 2025, https://shastahealth.org/sites/default/files/2024-01/acute_otitis_externa.pdf
www.hweclinicalguidance.nhs.uk, accessed May 19, 2025, https://www.hweclinicalguidance.nhs.uk/all-clinical-areas-documents/download?cid=1607&checksum=e25dcac17483f6156f79e1f526760290&document=22&field=1
Otitis Externa and Painful, Discharging Ears - Patient.info, accessed May 19, 2025, https://patient.info/doctor/otitis-externa-and-painful-discharging-ears
Chronic Suppurative Otitis Media: CSOM information | Doctor - Patient.info, accessed May 19, 2025, https://patient.info/doctor/chronic-suppurative-otitis-media
accessed January 1, 1970, https://www.racgp.org.au/afp/2013/june/otitis-externa/
External Otitis (Acute) - Ear, Nose, and Throat Disorders - MSD Manual Professional Edition, accessed May 19, 2025, https://www.msdmanuals.com/professional/ear-nose-and-throat-disorders/external-ear-disorders/external-otitis-acute
Clinical Effectiveness of Ototopical Application of Mupirocin Ointment in Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus Otorrhea - ResearchGate, accessed May 19, 2025, https://www.researchgate.net/publication/23135587_Clinical_Effectiveness_of_Ototopical_Application_of_Mupirocin_Ointment_in_Methicillin-Resistant_Staphylococcus_aureus_Otorrhea
Perioperative and postoperative management of tympanostomy tube insertion: a survey of otorhinolaryngologists in Israel - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11805859/
TM treated with FGF2. A, FGF2‐treated patient with closure. A1 - ResearchGate, accessed May 19, 2025, https://www.researchgate.net/figure/TM-treated-with-FGF2-A-FGF2-treated-patient-with-closure-A1-Pre-FGF2-treatment-A2_fig3_341378468
chronic ear infections: Topics by Science.gov, accessed May 19, 2025, https://www.science.gov/topicpages/c/chronic+ear+infections
Perforated eardrum - NHS 111 Wales - Health A-Z, accessed May 19, 2025, https://111.wales.nhs.uk/encyclopaedia/p/article/perforatedeardrum/
Perforated eardrum - NHS, accessed May 19, 2025, https://www.nhs.uk/conditions/perforated-eardrum/
Ruptured eardrum (perforated eardrum) - Diagnosis & treatment ..., accessed May 19, 2025, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ruptured-eardrum/diagnosis-treatment/drc-20351884
How to live with a punctured ear drum. | Mayo Clinic Connect, accessed May 19, 2025, https://connect.mayoclinic.org/discussion/how-to-live-with-a-punctured-ear-drum/
Acute otitis externa in children - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3498014/
Effects of miR-33a-5P on ABCA1/G1-Mediated Cholesterol Efflux ..., accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4201478/
Indole Diterpene Alkaloids as Novel Inhibitors of the Wnt/β-catenin ..., accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3884952/
accessed January 1, 1970, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7118834/
The use of otic powder in the treatment of acute external otitis - PubMed, accessed May 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12019482/
Ear drop - Wikipedia, accessed May 19, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Ear_drop
Outer ear infection (otitis externa) - Patient.info, accessed May 19, 2025, https://patient.info/ears-nose-throat-mouth/earache-ear-pain/ear-infection-otitis-externa
Effect of Ceftriaxone versus Amoxicillin + Clavulanic Acid for Treatment of Acute Bacterial Rhino Sinusitis: Short Course Therapy - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6108821/
Tympanic Membrane Perforation - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557887/
Repair of large traumatic tympanic membrane perforation using ofloxacin otic solution and gelatin sponge | Brazilian Journal of Otorhinolaryngology - Elsevier, accessed May 19, 2025, https://www.elsevier.es/en-revista-brazilian-journal-otorhinolaryngology-english-edition--497-articulo-repair-large-traumatic-tympanic-membrane-S1808869420300537
Repair of large traumatic tympanic membrane perforation using ..., accessed May 19, 2025, http://www.bjorl.org/en-repair-large-traumatic-tympanic-membrane-articulo-S1808869420300537
Topical Fluoroquinolones for Eye and Ear - AAFP, accessed May 19, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2000/1015/p1870.html
Acute otitis externa - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3567906/
Anterior Glenohumeral Joint Dislocation - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557862/
Treatment of Otitis Media with Perforated Tympanic Membrane | AAFP, accessed May 19, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2009/0415/p650.html
Acute Otitis Media—a Structured Approach - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3965963/
Treatment of acute otitis media consensus recommendations - PubMed, accessed May 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12166789/
(PDF) Management of Acute Otitis Media: Update - ResearchGate, accessed May 19, 2025, https://www.researchgate.net/publication/232927248_Management_of_Acute_Otitis_Media_Update
Amoxicillin - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482250/
Ear, Nose, and Throat Disorders - PMC - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7114993/
A Child With Retroauricular Tenderness: Is It Really Mastoiditis?, accessed May 19, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37362478/
Therapeutic approach to pediatric acute mastoiditis – an update - PMC - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9443014/
Otitis Externa, Otitis Media, and Mastoiditis - PMC - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7173526/
Acute Otitis Media and Acute Coalescent Mastoiditis - PMC, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7122426/
Anatomy, Head and Neck, Lymph Nodes - StatPearls - NCBI Bookshelf, accessed May 19, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513317/
Facial paralysis associated with acute otitis media - ResearchGate, accessed May 19, 2025, https://www.researchgate.net/publication/26338615_Facial_paralysis_associated_with_acute_otitis_media
Acute and Chronic Otitis Media - PMC - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7111681/
Duration of antibiotic therapy for common infections - PMC - PubMed Central, accessed May 19, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9615468/