/ saraf

Pil KB Memicu Stroke?


Hari ini, 29 Oktober 2015, adalah World Stroke Day (WSD). Pada peringatan tahun ini, World Stroke Organization mengusung tema spesial "I am Woman". Tema tersebut dipilih dengan alasan: wanita memiliki kerentanan lebih tinggi menderita stroke, meninggal karena stroke, mendapatkan pelayanan kesehatan yang kurang memadai dibandingkan laki-laki dan beberapa alasan gender lain.

Hubungan Pil KB dan Stroke

Ada satu hal menarik dalam tema peringatan WSD 2015, salah satu isu yang diangkat adalah penggunaan pil kontrasepsi (pil KB) di negara berkembang yang meningkatkan resiko serangan stroke di kemudian hari.

Sebenarnya isu ini sudah lama diwacanakan. Pada tahun 1962, sebuah penelitian melaporkan hubungan antara pil kontrasepsi dan stroke untuk pertama kalinya. Gagasan yang mendasari adalah efek hormon estradiol dalam dosis tinggi (150 mcgs) yang diduga meningkatkan resiko stroke karena meningkatkan kekentalan darah.

Penemuan itu diikuti dengan banyak hasil penelitian lain yang mendukung gagasan tersebut. Gillum dkk (2000) melaporkan peningkatan resiko stroke yang kecil namun cukup signifikan pada populasi pengguna pil kontrasepsi.

Penelitian yang dimuat di jurnal JAMA tersebut, melaporkan bahwa pil kontrasepsi meningkatkan resiko stroke iskemik, bukan perdarahan. Pil kontrasepsi meningkatkan resiko stroke, namun angka kejadian sesungguhnya sangat kecil, sehingga kita tidak perlu panik. Resiko stroke meningkat jauh lebih tinggi pada wanita yang merokok, memiliki riwayat migrain dan hipertensi.

Penelitian lain oleh Petitti dkk (1996) sebaliknya membantah hipotesis hubungan stroke dengan pil kontrasepsi, dengan syarat dosis estrogen harus rendah. Dokter asal USA tersebut menyatakan dengan tegas bahwa wanita usia produktif (usia subur) sangat jarang menderita stroke. Hal tersebut mendukung argumen bahwa jika dosis estrogen tidak besar, maka resiko terkena stroke karena penggunaan estrogen akan sangat kecil.

Bagaimana Kita Sebaiknya Menyikapi Isu Pil KB dan Stroke?

Indonesia adalah salah satu negara berkembang dengan jumlah populasi yang sangat besar di dunia. Indonesia saat ini diperkirakan memiliki jumlah penduduk mencapai 255 juta orang. Angka tersebut akan terus bertambah mengingat laju pertumbuhan populasi kita yang mencapai 1,49%. Sederhananya, jika tidak dikendalikan dengan baik, suatu saat nanti jumlah penduduk kita akan melampaui jumlah penduduk USA!

Sejawat, pasti sudah tidak asing lagi dengan teori Malthus tentang populasi dan sumber daya. Thomas Malthus (1766-1834) secara sederhana menjelaskan bahwa populasi manusia tumbuh secara eksponensial, sedangkan sumberdaya makanan tumbuh secara aritmetika (sangat lambat).

Hal tersebut menyebabkan suatu saat jumlah orang di dunia akan jauh lebih banyak dari jumlah makanan yang tersedia. Secara teoritis, akan terjadi kompetisi memperebutkan makanan, perang untuk makanan (bukan lagi untuk minyak). Bila hal itu terjadi, bencana besar (katastropi) tidak dapat dielakkan lagi.

Diilihami dari teori Malthus tersebut, dirancanglah program pengendalian populasi. Di Indonesia kita memiliki program Keluarga Berencana (KB). KB di Indonesia cukup efektif dalam mengendalikan populasi, namun kendala religius dan kepercayaan masyarakat lokal sering menjadi hambatan.

Pil KB adalah komponen yang penting dalam program pengendalian populasi di Indonesia. Isu yang mengaitkan pil KB dengan resiko stroke benar namun kurang bijak. Benar karena didasarkan fakta ilmiah yang valid, kurang bijak karena berpotensi meningkatkan resistensi masyarakat awam terhadap program KB.

Bagaimana kita menyikapi secara ilmiah? Key point yang harus dipegang adalah pil KB meningkatkan resiko stroke pada wanita-wanita tertentu: perokok, riwayat migrain dan hipertensi. Pada wanita beresiko tinggi, sebaiknya disarankan menggunakan alat kontrasepsi non-hormonal: kondom, IUD dan sebagainya.

Semoga bermanfaat.

=====

Sponsored:

Ayo Beli Kaos Dokter, Gratis Buku Kedokteran Impor Klasik. Info lebih lanjut KLIK DISINI!!!

====

Sebuah Catatan Kecil

Sebuah novel fiksi ilmiah yang ditulis Dan Brown, Inferno, memberikan ide segar bagaimana kita mengendalikan populasi "secara paksa namun penuh kedamaian". Dalam novel tersebut Dan Brown menceritakan tentang seorang ilmuan ahli genetika, yang berhasil membuat sebuah virus artificial yang memiliki kemampuan "memandulkan" orang yang diinfeksi.

Virus itu adalah virus yang ditularkan secara air-borne, direkayasa secara genetik untuk disisipkan "gen-gen pemicu kemandulan" (viroterapi), saat terinfeksi orang hanya akan merasakan common cold tanpa gejala sakit yang berat. Sebuah alat kontrasepsi "tanpa rasa sakit" dan "tanpa efek samping".

Saat membaca novel tersebut saya hanya berfikir, "mungkin asik juga kalo kita bisa bikin vaksin kontrasepsi".

Bagaimana menurut Anda, sejawat?