/ pediatri

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Infeksi Virus Dengue Pasien Anak (4): Terapi Cairan Demam Berdarah Dengue Pasien Anak

Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami outbreak di banyak daerah di Indonesia. Laporan kematian pasien yang silih berganti menghiasi media lokal dan nasional meningkatkan ambang "kengerian" masyarakat.

Inti dari penatalaksanaan DBD adalah terapi cairan yang baik. Terapi supportif ini sesuai dengan patogenesis DBD yang disebabkan kebocoran plasma. Bila terapi cairan yang diberikan tidak adekuat, pasien anak akan rentan mengalami syok ataupun expanded dengue syndrome.

Terapi Cairan Demam Berdarah Dengue Pada Pasien Anak

Pasien anak bukanlah pasien dewasa yang berukuran kecil. Ada banyak aspek yang harus diperhatikan ketika merawat pasien anak. Pasien anak memiliki sistem organ yang sedang tumbuh, tidak sematang pasien dewasa. Terapi cairan yang terlalu agresif atau tidak adekuat akan berbahaya bagi pasien anak. Terapi cairan yang proporsional diharapkan akan memberikan outcome klinis yang baik.

Indikasi pemberian terapi cairan pada pasien DBD adalah

  1. Trombositopenia < 100.000/mm3
  2. Peningkatan Hematokrit > 10-20%
  3. Pasien tidak dapat makan-minum melalui jalur oral
  4. Tanda-tanda syok yang jelas

Jenis cairan yang dapat dipilih adalah cairan kristaloid atau koloid. Jumlah cairan yang diberikan bergantung fase penyakit dan berat badan pasien. Pada pasien DBD yang memasuki fase kritis, jumlah cairan yang harus diberikan adalah jumlah cairan rumatan ditambah defisit 5-8%. Jumlah tersebut setara dengan jumlah cairan yang dibutuhkan pada kondisi dehidrasi sedang.

Pada pasien dengan berat badan lebih dari 40 kg, total cairan intravena yang diberikan setara dengan 2 kali jumlah cairan rumatan. Pada pasien obesitas, perhitungan cairan intravena berdasar atas berat badan ideal.

Pedoman Tetesan Infus pada Demam Berdarah Dengue Anak

Pada kasus DBD non syok, pasien dengan berat badan 15-40 kg diawali dengan tetesan 5 mL/kgBB/jam. Sedangkan pada anak dengan berat badan lebih dari 40 kg, mulai dengan 3-4 mL/kgBB/jam. Pada kasus DBD derajat 3, mulai dengan tetesan 10 mL/kgBB/jam.

Pada anak dengan DBD derajat 4, "grojok" cairan selama 10-15 menit sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur. Kemudian setelah nadi dan tensi dapat terukur, turunkan pemberian cairan hingga 10 mL/kgBB/jam.

Setelah masa kritis terlampaui, pasien akan masuk dalam fase penyembuhan. Waspadai kemungkinan bahaya overload cairan. Pada pasien seperti ini, cairan intravena harus diberikan minimal agar tidak terjadi kebocoran ke dalam rongga pleura dan abdominal yang dapat menyebabkan distres nafas dalam perjalanan penyakitnya.

Indikator klinis yang perlu diperhatikan dalam penentuan jumlah cairan yang diberikan meliputi:

  1. Kondisi klinis: penampilan umum, pengisian kapiler, nafsu makan
  2. Tanda vital: tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nafas
  3. Kadar hematokrit
  4. Produksi urin

Monitoring Syok

Setelah syok teratasi, pantau pasien 1-2 jam. Ulangi pemeriksaan hematokrit bila nadi dan tensi tidak stabil (tekanan nadi cepat dan lemah) dalam 2 jam pertama. Pemeriksaan tersebut penting untuk memutuskan apakah perlu digunakan cairan koloid sebagai cairan pengganti.

Apabila hematokrit terbukti naik dan tanda vital tetap tidak stabil, ganti cairan kristaloid dengan cairan koloid dengan tetesan 10 mL/kgBB/jam. Pada kondisi seperti ini, mulai persiapkan darah untuk transfusi.

Pada pasien DBD derajat 4, apabila kadar hematokrit sejak awal rendah, pikirkan kemungkinan perdarahan internal. Pantau hematokrit lebih sering. Berikan transfusi darah segera.

Monitoring dan lakukan koreksi jika ada gangguan metabolit dan atau elektrolit contohnya: hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia dan asidosis.

Setelah 6 jam pemberian cairan koloid namun hematokrit terus turun dan tanda vital tetap tidak stabil, pertimbangkan untuk pemberian transfusi darah segera. Indikasi dilakukan transfusi darah pada pasien DBD derajat 4 adalah bila dapat dibuktikan kehilangan darah yang bermakna secara klinis dan pasien mengalami perdarahan yang tersembunyi.

Apabila pasien mengalami kehilangan darah bermakna (>10% volume darah total), berikan transfusi darah sesuai kebutuhan. Total volume darah adalah 80 ml/kgBB. Dianjurkan menggunakan Packed Red Cell (PRC), namun jika tidak tersedia maka transfusi darah segar dapat menjadi pilihan. Pada pasien dengan perdarahan tersembunyi, jumlah transfusi yang dianjurkan adalah 10 mL/kgBB/kali (darah segar) atau 5 mL/kgBB/kali (PRC).

Cairan Koloid Pilihan

Dekstran-40 (10% dekstran dalam normal salin) adalah cairan dengan osmolaritas 3 kali plasma darah, sehingga diharapkan dapat mengikat air lebih baik. Tetesan dekstran-40 harus 10 mL/kgBB/jam sehingga dapat mempertahankan osmolaritas maksimum ketika diberikan kepada pasien anak. Dosis maksimumnya adalah 30 mL/kgBB/jam. Pemberian yang melebihi dosis maksimum dapat menyebabkan gagal ginjal akut iatrogenik. Lama pemberian yang dianjurkan tidak lebih dari 24-48 jam.

Semoga bermanfaat.


=
Sponsored Content

Outbreak DBD sudah terjadi di belasan daerah di Indonesia lho. Puluhan pasien sudah "tumbang". Pastikan sejawat telah memiliki bekal pengetahuan terbaru untuk diagnosis dan tata laksana Demam Berdarah Dengue.

Buku dari yang diterbitkan IDAI di akhir 2015 ini ditulis untuk mempersiapkan outbreak dengue pada awal tahun 2016. Berisi

  1. Materi yang singkat, padat dan jelas
  2. Mudah diaplikasikan bahkan dalam penyedia layanan kesehatan dengan sumber daya terbatas
  3. Berisi 7 hal baru dalam pedoman tatalaksana demam berdarah dengue.

Murah kok, hanya 156 ribu saja.

Ayo, persiapkan lebh dini.

Pesan aja buku ini di SMS/WA 081234008737!