/ Internal Medicine

Panduan Praktik Klinis Alergi Obat: Kasus Jarang yang Kompetensi Wajib Dokter

Reaksi alergi adalah "mimpi buruk" bagi banyak Dokter. Alergi obat adalah kejadian tidak diinginkan yang diakibatkan karena pemberian suatu obat. Tuntutan kerap dilayangkan kepada dokter karena pasien menderita alergi obat setelah mendapat terapi dari dokter.

Alergi obat merupakan reaksi simpang obat yang tidak diinginkan akibat adanya interaksi antara agen farmakologi dan sistem imun manusia. Ada empat jenis reaksi imunologi menurut Gell dan Coombs, yaitu hipersensitivitas tipe 1 (reaksi dengan IgE), tipe 2 (reaksi sitotoksik), tipe 3 (reaksi kompleks imun) dan tipe 4 (reaksi imun selular).

Manifestasi alergi obat tersering adalah di kulit, yang terbanyak yaitu berupa ruam makulopapular. Selain di kulit, alergi obat dapat bermanifestasi pada ogan lain, seperti hati, paru, ginjal, dan darah.

Reaksi alergi obat dapat terjadi cepat atau lambat, dapat terjadi setelah 30 menit pemberian obat hingga beberapa minggu. Kehati-hatian dalam memberikan obat injeksi "wajib" dikembangkan seorang dokter. Guru besar kami dulu punya prosedur meminta pasien pasca-injeksi obat intravena untuk menunggu di "ruang tunggu khusus" selama 30 menit, untuk berjaga-jaga terjadi reaksi alerg obat cepat.

PENDEKATAN DIAGNOSIS ALERGI OBAT

Anamnesis

Data-data yang perlu digali untuk menajamkan diagnosis alergi obat diantaranya adalah riwayat obat-obatan yang sedang dipakai pasien, riwayat obat-obatan masa lampau, lama pemakaian dan reaksi yang pernah timbul, lama waktu yang diperlukan mulai dari pemakaian obat hingga timbulnya gejala, gejala hilang setelah pemakaian obat dihentikan dan timbul kembali bila diberikan kembali, dan riwayat pemakaian antibiotika topikal jangka lama.

Yang perlu diingat dalam diagnosis alergi obat adalah keluhan alergi obat tidak selalu terjadi seketika setelah injeksi. Gejala yang dialami pasien dapat timbul segera ataupun beberapa hari setelah pemakaian obat (pasien dapat mengeluh pingsan, sesak, batuk, pruritus, demam, nyeri sendi, mual.)

Pemeriksaan Fisik

Reaksi alergi obat dapat muncul dalam banyak manifestasi klinis. Pasien bisa tampak sesak, hipotensi, limfadenopati, ronki, mengi, urtikaria, angioedema, eritema, makulopapular, eritema multiforme, bengkak dan kemerahan pada sendi.

Pemeriksaan Penunjang

Beberapa pemeriksaan penunjang dapat dilakukan. Pemeriksaan penunjang terutama dilakukan untuk memantau adanya manifestasi alergi obat pada banyak organ yang mungkin berakibat fatal.

  • Pemeriksaan hematologi: darah lengkap, fiungsi ginjal, fungsi hati
  • Urinalisis lengkap
  • Foto toraks
  • Pemeriksaan RAST (Radio Allergo Sorbent Test)
  • Pemeriksaan Coombs indirek
  • Pemeriksaan fiksasi komplemen, reaksi aglutinasi
  • Uji tusuk kulit (skin prict test)
  • Uji kulit intradermal
  • Uji tempel (patch test)

DIAGNOSIS BANDING

  • Sindrome karsinoid
  • Gigitan serangga
  • Mastositosis
  • Asma
  • Alergi makanan
  • Keracunan makanan
  • Alergi lateks
  • Infeksi
  • Penyakit graft-versus-host
  • Penyakit kawasaki
  • Psoriasis
  • Infeksi virus
  • Infeksi streptococcus

TATALAKSANA ALERGI OBAT

Non Farmakologis

Tindakan pertama adalah menghentikan pemakaian obat yang dicurigai.

Farmakologis

  • Terapi tergantung dari manifestasi dan mekanisme terjadinya alergi obat. Pengobatan simtomatik tergantung atas berat ringannya reaksi alergi obat. Gejala ringan biasanya hilang sendiri setelah obat dihentikan. Pada kasus yang berat kortikosteroid sistemik dapat mempercepat penyembuhan.
  • Pada kelainan kulit yang berat seperti saja SSJ, pasien harus menjalani perawatan. Pasien memerlukan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat. Perawatan kulit juga memerlukan waktu yang cukup lama, mulai dari hitungan hari hingga minggu. Hal lain yang harus diperhatikan adalah terjadinya infeksi sekunder yang membuat pasien perlu diberikan antibiotika.
  • Tatalaksana anafilaksis membutuhkan penjelasan tersendiri, dapat dibaca pada buku Panduan Praktik Klinis Pennatalaksanaan PAPDI.
  • Pada kasus urtikaria dan angioedema pemberian antihistamin saja biasanya sudah memadai, tetapi untuk kelainan yang lebih berat seperti vaskulitis, penyakit serum, kelainan darah, hepatitis, atau nefritis interstisial biasanya memerlukan kortikosteroid sistemik dosis tinggi (60-100mg prednisolon atau setaranya) sampai gejala tekendali. Kortikosteroid tersebut selanjutnya diturunkan dosisnya secara bertahap selama satu sampai dua minggu.

Semoga bermanfaat.

Referensi: Buku Panduan Praktik Klinis Penatakasanaan PAPDI

=
Tahukah anda bahwa menurut survei yang dilakukan admin dokter post, buku Panduan Praktik Klinis Penatakasanaan PAPDI (TENGAH) adalah buku yang paling diinginkan oleh dokter di seluruh Indonesia?

Yang menarik, buku setebal 1000 halaman ini adalah buku yang tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan medik Dokter Umum dan Dokter Spesialis saja, buku seberat 2,3 kg ini juga banyak dicari dokter manajer Rumah Sakit sebagai referensi menyusun Panduan Praktik Klinis internal di Rumah Sakit dalam menghadapi Akreditasi versi KARS 2012.

Jika kamu belum punya, segera saja SMS/WA 081234008737untuk pemesanan

Sebelum kehabisan!