Pasien Jantung Berdebar di Puskesmas, Dokter Jaga Ikut Berdebar!

Sekilas judul artikel ini mirip dengan linetoday, ya! Tapi memang pasien dengan jantung berdebar akan membuat jantung dokter jaga berdebar. Tidak hanya karena banyak differential diagnosis, beberapa pasien jantung berdebar juga dapat berakhir fatal jika tidak ditangani dengan tepat.

Pendekatan Klinis Pasien dengan Keluhan Jantung Berdebar

Berdebar atau palpitasi adalah keluhan subjektif pasien yang merasakan ketidaknyamanan detak jantungnya sendiri. Sensasi ini dapat berupa detak jantung terasa lebih cepat, lebih kuat, maupun tidak beraturan. Berdebar seringkali bukanlah sesuatu yang berbahaya. Dokter jaga perlu waspada jika keluhan berdebar berhubungan dengan gejala-gejala mata berkunang-kunang, sinkop, angina, dan sesak.

Berdebar dapat timbul dari kelainan primer jantung, kelainan sekunder yang merupakan respon fisiologis maupun patologis, dan dari faktor psikologis. Keadaan cemas berlebih akan meningkatkan aktivitas saraf otonom sehingga meningkatkan frekuensi, irama, dan kekuatan kontraksi jantung. Hal ini yang kemudian dirasakan sebagai rasa berdebar. Tidak semua berdebar menandakan suatu disritmia jantung, oleh karena itu diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang untuk menemukan bukti objektif adanya gangguan jantung.

Disritmia jantung dapat berupa gangguan pembentukan maupun penghantaran impuls jantung. Gangguan ini bisa berupa takiaritmia maupun bradiaritmia. Takiaritmia bisa berasal dari mekanisme re-entry, peningkatan otomatisitas, dan triggered activity. Bradiaritmia bisa berasal dari gangguan otomatisitas intrinsik maupun penghantaran impuls di nodus AV maupun berkas HIS.

Disritmia yang mengganggu hemodinamik merupakan keadaan serius yang dapat mengancam jiwa.

SVT-vs-Sinus-Takikardia

Anamnesis Pasien dengan Palpitasi

Hal-hal yang perlu ditanyakan pada pasien dengan keluhan berdebar adalah awitan gejala, terus menerus atau hilang timbul, durasi, faktor pencetus, faktor yang memperberat atau meringankan, gejala penyerta, riwayat psikososial, riwayat penyakit jantung pada pasien maupun keluarga, termasuk riwayat sudden death pada keluarga, laju irama jantung, dan keteraturan, reguler atau ireguler.

Perlu ditanyakan juga kemungkinan penyakit yang dapat mencetuskan keluhan berdebar, misalnya hipertiroid dan gangguan elektrolit. Penyakit komorbid yang perlu ditanyakan adalah hipertensi dan diabetes mellitus.

Pemeriksaan fisik di fasilitas kesehatan primer

Pemeriksaan sederhana kadang sudah dapat menetukan adanya disritmia. Namun, pemeriksaan yang normal tidak langsung menyingkirkan kemungkinan disritmia karena disritmia ada yang muncul pada saat tertentu saja dan luput saat pemeriksaan.
Beberapa pasien memiliki gejala berdebar sebagai wujud dari kecemasan dan faktor psikologis lain. Oleh karena itu, perlu pemeriksaan fisik lebih lanjut untuk mencari bukti objektif adanya disritmia.

Pada pemeriksaan fisik, dapat dilakukan palpasi arteteri di berbagai tempat, misalnya karotis, femoralis, radialis, dan/ atau brakialis. Dinilai laju irama permenit, regularitas, dan ekualitas pada masing-masing tempat pengukuran.
Hemodinamik diukur dengan meraba akral, nadi, dan pengukuran tekanan darah. Kasus disritmia yang serius dapat mempengaruhi hemodinamik.

Pemeriksaan EKG harus dilakukan segera bila ada fasilitas. Secara ideal, pemeriksaan
EKG dilakukan pada 10 menit pertama pasien datang ke fasilitas kesehatan. Di sini dokter ditantang untuk dapat menginterpretasi EKG dengan cepat dan tepat untuk menentukan disritmia. Perekaman EKG yang normal dapat berarti 2 kemungkinan, tidak ada kelainan atau tidak terdapat kelainan saat perekaman jantung dilakukan.

EKG patologis yang dapat ditemui sangat beragam. Aritmia dapat berasal dari atrium, junctional, maupun ventrikel. Aritmia atrial dapat menunjukkan gambaran atrial takikardia, atrial ekstrasystole, atrial flutter, dan atrial fibrilasi. Aritmia junctional dapat berupa junctional extrasystole, junctional escape rhytm, accelerated junctional tachycardia, av nodal reentrant tachycardia, dan atrioventricular reciprocating tachycardia. Aritmia ventrikel yang dapat ditemukan pada EKG adalah ventricle extrasystole, vetricular tachycardia, dan fibrilasi ventrikular.

Gangguan penghantaran impuls menunjukkan gambaran blok pada EKG. Blok dapat berupa SA blok maupun AV blok. Beberapa aritmia bisa muncul karena gangguan koroner. Oleh karena itu, kita harus tetap waspada.

Derajat gangguan irama jantung biasanya berbanding lurus dengan kondisi klinis pasien. Pasien yang terlihat gelisah, keringat dingin, nyeri dada, ada gejala gagal jantung akut, maupun penurunan kesadaran biasanya terdapat disritmia yang sudah mengganggu hemodinamik. Tekanan darah dapat normal sampai tejadi hipotensi sebagai tanda syok kardiogenik.

Pasien dengan instabilitas hemodinamik harus diberi penanganan segera dan dipertimbangkan untuk dirujuk. Pasien dengan keluhan yang tidak membaik tetapi pemeriksaan fisik dan EKG normal juga dapat dirujuk untuk mendapat tatalaksana lebih lnjut baik diagnostik maupun terapi di fasilitas kesehatan tingkat lanjut.

Pemeriksaan Fisik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjut

Rekaman EKG Holter

Pemasangan EKG Holter memungkinkan perekaman yang lebih panjang pada pasien dengan palpitasi. EKG Holter dapat dipasang 24 jam sampai 7 hari. Pada pasien rawat jalan, alat dapat dibawa pulang. Pasien tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan alat yang menempel di tubuh. Tapi, pasien tidak boleh mandi karena alat tidak boleh terkena air. Hasil perekaman kemudian dianalisis dengan program khusus. perekaman dapat dilakukan lebih panjang lagi dengan implantable loop recorder. Dengan alat ini, pasien dapat mengaktifkan tombol rekam ketika merasakan keluhan berdebar.

Treadmill Test

Uji latih jantung dengan treadmill test maupun sepeda statis berguna untuk memastikan bahwa gangguan irama tidak berhubungan dengan aktivitas berat.

Ekokardiografi

Pada beberapa kasus, pemeriksaan ekokardiografi dilakukan untuk mengetahui keadaan berbagai struktur jantung. Beberapa aritmia berhubungan dengan gangguan anatomi jantung. Pada ekokardiografi, dinilai ukuran ruang jantung, ketebalan dinding, katup-katup jantung, trombus, defek dinding, dan fungsi sistolik dan diastolik jantung.

Elektrofisiologi Jantung

Pemeriksaan ini hanya dilakukan untuk pasien yang akan dilakukan ablasi kateter. Baik pada nodus AV, ablasi fokal pada kasus atrial fibrilasi, maupun pasien dengan accessory pathway pada Wolf Parkinson White Syndrome.

Terapi Jantung Berdebar di Fasilitas Kesehatan Primer

Pasien berdebar akibat kecemasan harus ditenangkan. Pasien dijelaskan bahwa keluhan berdebarnya tidak berbahaya. Faktor pencetus juga harus dihilangkan. Misalnya, obat-obatan, kopi, alkohol, teh, dan tembakau.

Pasien dengan SVT dapat diberikan massage pada arteri karotis bila tidak ada kontraindikasi. Kardioversi biasanya tidak dapat dilakukan karena keterbatasan fasilitas. Pasien dengan AV blok derajat 2 atau 3 perlu dirujuk untuk pemasangan pacemaker.

Pasien dengan palpitasi akibat penyakit lain harus diatasi penyakit primernya. Misalnya pada pasien hipertiroid dan gangguan elektrolit. Terapi farmakologik spesifik dapat dipilih dari 4 kelas obat antiaritmia menurut Vaughan-William, yaitu golongan penyekat Na misalnya Lidocaine, golongan penyekat beta misalnya Propranolol dan Bisorolol, golongan yang memperpanjang potensial aksi dan repolarisasi misalnya Amiodaron, dan golongan antagonis kalsium non-dihidropiridin misalnya Verapamil dan Diltiazem.

Palpitasi mempunyai range diagnosis yang luas. Mulai masalah psikologis hingga kegawatdaruratan yang dapat berujung pada kematian, sinkop, stroke, tromboemboli sistemik, syok, dan takikardiomiopati. Prognosis beragam tergantung dari penyebab palpitasi.

Gali informasinya, kenali gejalanya, rujuk di saat yang tepat, dan ketika pasien berdebar, dokter jaga harus tetap tenang. Semoga mencerahkan. (mqa)


Sponsored Content

Penjelasan praktis tentang tatalaksana pasien takikardia (palpitasi) dibahas lebih lengkap di versi update tahun 2018 "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER" halaman 224-226.

Buku paling dicari dokter puskesmas, IGD dan Klinik Pratama dari aceh-papua ini sudah mau terbit lagi, setelah 3000 eksemplar sold out < 30 hari.

promo-buku-155-diagnosis-terapi-pak-dhe-wahono

Ini kata dr Nares, TS dari Jakarta tentang "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER"

testimoni-Buku-155-drNares

Kamu bisa pesan bukunya via WA 085608083342 (Yahya) atau link order ini

Jangan sampai nggak kebagian kayak kemarin^^