Anti-Hipertensi Pilihan Pasien yang Berpuasa

Setiap tahun, ada 1 juta lebih penduduk dunia yang berpuasa wajib selama satu bulan Ramadhan. Tentunya, ini akan menjadi permasalahan tersendiri bagi pasien dengan hipertensi, dengan adanya perubahan pola makan, minum obat, dan juga pola tidur.

Perubahan gaya hidup ini mempengaruhi waktu dan dosis asupan obat. Perubahan pada farmakokinetik dan farmakodinamik obat juga dapat menjadi masalah tambahan.

Dalam Islam, ada beberapa alasan yang dapat ditolerir untuk tidak menjalani puasa Ramadhan, yaitu jika dengan berpuasa menyebabkan kerugian bagi dirinya, termasuk diperbolehkan pula bagi pasien dengan penyakit kronis untuk tidak berpuasa demi kesehatan.

Banyak faktor yang secara teori dapat mempengaruhi tekanan darah selama bulan Ramadhan, termasuk pola makan, pola tidur, dan waktu minum obat. Pada bulan ramadhan, setiap pemeluk agama Islam berpuasa kira-kira 12-18 jam dalam sehari.

Perawatan bagi pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi memerlukan suatu tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan. Jadwal pengobatan harus disesuaikan agar dapat dikonsumsi pada saat berbuka puasa dan sahur.

Penelitian Efek Puasa Terhadap Hipertensi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa memperbaiki tekanan sistolik, Nematy et al (2012), melakukan penelitian prospektif observasional yang dilakukan pada sekelompok pasien dengan setidaknya satu faktor risiko kardiovaskular yang menjalani minimal 10 jam puasa. Pasien diminta minimal berpuasa 10 hari, kemudian dibandingkan berbagai parameter klinis antara sebelum dan sesudah bulan Ramadhan.

Dalam penelitian tersebut, didapatkan perbaikan faktor risiko penyakit jantung koroner yang signifikan dalam 10 tahun penelitian, termasuk turunnya tekanan darah sistolik.

Berbeda dengan pelitian oleh Habbal et al. (1998) yang mempelajari konsekuensi puasa Ramadhan pada variasi tekanan darah dalam 99 pasien hipertensi selama 24 jam. Semua pasien melakukan pengukuran tekanan darah sebelum puasa dan selama puasa Ramadhan, dan didapatkan hasil tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik mengenai tekanan darah sistolik dan diastolik selama 24 jam dalam kedua periode tersebut.

Perk et al (2001) meneliti efek puasa pada 17 pasien hipertensi yang menjalani pengobatan dengan pengukuran tekanan darah sebelum puasa dan selama minggu terakhir bulan Ramadhan. Semua pasien melanjutkan pengobatannya yang diberikan sekali sehari, dan didapatkan hasil tidak ada perbedaan rata-rata tekanan darah sebelum atau selama bulan Ramadhan.

Namun penelitian yang berbeda lagi oleh Salahuddin et al. (2014), diungkapkan bahwa terdapat penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada 15 pasien antara usia 35-65 tahun dengan hipertensi yang signifikan lebih rendah selama bulan Ramadhan ketika dibandingkan sebelum dan selama bulan Ramadhan.


cover-buku-hipertensi-fktp

Pesan Sekarang via WA Yahya 085608083342 atau klik link pesan ini


Penelitian oleh Ural et al (2007) yang menganalisis puasa pada hipertensi stage 2-3 yang terkontrol menunjukkan bahwa pada pasien yang mengonsumsi obat sekali sehari dan pasien yang menggunakan terapi kombinasi mengonsumsi obat dalam dua waktu terpisah, yaitu sebelum dan sesudah berbuka puasa dan dilakukan observasi tekanan darah selama 24 jam, pada siang dan malam hari tekanan darah tidak berubah selama puasa Ramadhan. Meskipun begitu, perubahan secara signifikan dalam analisis tiap jam, dan perubahan ini berada dalam batas normal karena terkait dengan perubahan gaya hidup seperti bangun pagi-pagi.

Beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat ditoleransi dengan baik untuk pasien dengan esensial hipertensi, bahkan untuk pasien dengan hipertensi stage 2-3, kecuali pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, dengan tetap mematuhi terapi yang diberikan.

Rekomendasi Tatalaksana Hipertensi Selama Bulan Ramadhan

Berdasarkan pengamatan, rekomendasi dibuat pada manajemen hipertensi dan pengelolaan terapi untuk pasien hipertensi sebagai berikut:

  1. Pengelolaan terapi untuk pasien dengan hipertensi memiliki kondisi berbeda tiap orang, sehingga harus dikelola secara individual.
  2. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, harus dilakukan persiapan kira-kira 1-2 bulan sebelumnya sehingga dapat dilakukan penilaian status klinis dan penyesuaian obat-obatan.
  3. Penggunaan obat disarankan yang long acting dan sekali sehari. Untuk penggunaan obat sekali sehari, dapat dikonsumsi pada saat berbuka puasa atau pada saat sahur. Untuk penggunaan obat 2 kali sehari, dapat dikonsumsi pada saat berbuka puasa dan saat sahur. Penggunaan diuretik sebaiknya dihindari, terutama pada musim kemarau atau pada sore hari berhubungan dengan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit yang sering dialami pasien. Namun, bila tidak ada pilihan, bisa dikonsumsi setelah berbuka puasa.
  4. Jika ternyata obat yang dipilih harus dikonsumsi 3-4 kali, maka tidak memungkinkan untuk dikonsumsi selama berpuasa. Untuk itu dapat diganti dengan obat dengan sediaan yang dilepas perlahan, atau obat lain yang memiliki manfaat sama namun durasi lebih panjang. Misalnya, Captopril yang biasanya dikonsumsi 2-3 kali sehari dapat diganti dengan Lisinopril yang dikonsumsi 1 kali sehari.
  5. Jika obat tidak dapat diganti, maka penggunaan obat sebaiknya dalam rentang waktu yang sama, yaitu sekitar 5 jam jika 3 kali sehari, yaitu pada saat berbuka (18.00), kemudian pukul 23.00, dan pada saat sahur 04.00 (sahur). Penggunaan obat 4 kali sehari tidak disarankan.
  6. Selain manajemen farmakologis, pasien harus diedukasi untuk melakukan diet rendah garam dan rendah lemak.
  7. Pasien dengan hipertensi yang sulit dikendalikan, disarankan untuk tidak berpuasa sampai tekanan darahnya terkontrol. Perlu dilakukan penelusuran kemungkinan adanya diagnosis lain, CKD atau feokromositoma.
  8. Pasien dengan keadaan hipertensi urgency/emergency harus dirawat dengan tepat dan secepatnya tanpa memerhatikan puasa
    (PAY)

Sponsored Content

BUKU TIPS PUASA dr DECSA, SpPD

Sudah ready, siap kirim dari aceh-papua...

BONUS JOIN GROUP WA PUASA

Puasa hari ke tiga banyak banget yang tanya ke aku tentang tips menatalaksana pasien puasa dengan penyakit kronik.

Misal, pasien dengan asma yang sering kambuh. Perubahan pola terapi pasien diabetes. Pantangan pasien decomp cordis yang mau puasa, dsb.

Oleh sebab itu, akhirnya aku meminta dr Decsa, SpPD untuk bikin Group Support pembeli buku "Tips Puasa Pasien Penyakit Kronik" selama 30 hari ke depan.

cover-buku-puasa-4

Kenapa Group Support "Tips Puasa dr Decsa, SpPD" akan sangat aplikatif untuk praktek sehari-hari?

  1. dr Decsa, SpPD adalah salah satu seniorku di FK Unair yang paling cemerlang, dan baru aja tahun ini terpilih sebagai 1 dari 2 PNS yang diterima sebagai Dosen FK Unair untuk (konsulen) Dept. Penyakit Dalam

  2. dr Decsa, SpPD adalah penulis utama buku "Tips Praktis Klinis Penyakit Kronik Pasien Puasa", jadi kepakaran-nya jelas tidak dapat diragukan lagi

  3. Kasus yang dikonsultasikan di Group adalah kasus real yang ditemui TS dalam praktek sehari-hari. So, pasti aplikatif.

Biaya Investasi: Hanya Rp 156 ribu saja.

Biasanya Group Konsultasi dokter Spesialis DokterPost biaya membership nya 299 ribu/bulan lho...

Apa lagi, kalau join sekarang kamu akan dapat

  1. Buku Tips Praktis Klinis Penyakit Kronik Pasien Puasa (karya dr Decsa, SpPD dan Tim) => senilai 199 ribu

  2. Akses konsultasi semua kasus klinik yang kamu temui selama bulan puasa

  3. Tips-tips puasa terupdate dari dokter spesialis yang lain (SpA, SpOG, SpJP, SpP dsb)

Dan masih banyak manfaat yang lain...

So, murah banget kan...

Pokoknya... Join group WA Tips Puasa dr Decsa => Ditangani Dokter FKTP, Pake ilmu SpPD

Segera aja kontak Yahya 085608083342 atau klik link pesan ini

Soalnya seatnya terbatas cuma untuk 250 orang, sudah keisi 100 tinggal 150 lagi.

Semoga Bermanfaat^^


Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Hasil Utama Riskesdas 2018. Tersedia di: http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi_rakorpop_2018/Hasil Riskesdas 2018.pdf (Diakses pada 16 April 2019)
  2. Ural E et al. 2007. The effect of Ramadan fasting on ambulatory blood pressure in hypertensive patients using combination drug therapy. Tersedia di: https://www.nature.com/articles/1002296 (Diakses pada 16 April 2019)
  3. Grindrod, Kelly & Wasem Alsabbagh. 2017. Managing medications during Ramadan fasting. Can Pharm J (Ott). 2017 May-Jun; 150(3): 146–149. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5415064/ (Diakses pada 16 April 2019)
  4. Chamsi-Pasha, Majed & Hassan Chamsi-Pasha. 2016. The cardiac patient in Ramadan. Avicenna J Med. 2016 Apr-Jun; 6(2): 33–38. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4849186/ (Diakses pada 16 April 2019)
  5. Nematy, Mohsen et al. 2012. Effects of Ramadan fasting on cardiovascular risk factors: a prospective observational study. Nutr J. 2012; 11: 69. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3487759/ (Diakses pada 16 April 2019)
  6. Habbal, R, Azzouzi L, Adnan K, Tahiri A, Chraibi N. 1998. Variations of blood pressure during the month of Ramadan. Arch Mal Coeur Vaiss. 1998 Aug;91(8):995-8. . Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9749152 (Diakses pada 16 April 2019)
  7. Perk, G, Ghanem J, Aamar S, Ben-Ishay D, Bursztyn M. 2001. The effect of the fast of Ramadan on ambulatory blood pressure in treated hypertensives. J Hum Hypertens. 2001 Oct;15(10):723-5. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11607803/ (Diakses pada 16 April 2019)
  8. Salahuddin, M, Sayed Ashfak AH, Syed SR, dan Badaam KM. 2014. Effect of Ramadan Fasting on Body Weight, (BP) and Biochemical Parameters in Middle Aged Hypertensive Subjects: An Observational Trial. J Clin Diagn Res. 2014 Mar; 8(3): 16–18. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4003623/ (Diakses pada 16 April 2019)