Diagnosis Klinis Kelemahan Anggota Gerak

Kelemahan anggota gerak bisa jadi adalah salah satu kasus kegawatdaruratan. Kasus ini dapat kita temui ketika jaga di mana saja. Jangan sampai kita ikut paralisis saat ada pasien dengan paralisis, ya!

Definisi Kelemahan dan Paralisis

Kelemahan adalah penurunan kekuatan pada satu atau lebih otot. Paralisis mengindikasikan terjadinya kelemahan otot yang berat sampai otot tidak dapat berkontraksi sama sekali.

Parese adalah kondisi antara kelemahan dan paralisis, kelemahan otot pada parese masih ringan atau sedang. Istilah “hemi” mengarah pada salah satu sisi tubuh, istilah “para” terjadi pada kedua kaki, dan “quadri” atau “tetra” mengarah pada kelemahan seluruh anggota gerak. “Plegia” sama dengan paralisis.

Penyebab Umum dari Kelemahan Anggota Gerak

Kelemahan anggota gerak bisa disebabkan oleh lesi upper motor neuron dan motor unit. Lesi upper motor neuron dibagi lagi menjadi lesi di cortex, subkorteks, brainstem, dan spinal cord. Lesi motor unit dibagi dari spinal motor neuron, spinal root, saraf tepi, neuromuscular junction, dan otot.

Lesi cortex dapat disebabkan oleh iskemia, perdarahan, massa intrinsik baik primer maupun metastasis pada tumor atau abses cerebri, massa ekstrinsik misalnya pada SDH, dan penyakit degeneratif.

Lesi subcortex dapat disebabkan oleh iskemia, perdarahan, massa intrinsik baik primer maupun metastasis pada tumor atau abses cerebri, imunologik pada kasus multipel sklerosis, dan proses infeksi. Lesi pada brainstem dapat disebabkan oleh iskemia dan proses imunologik misalnya pada kasus multiple sclerosis.

Lesi spinal cord dapat disebabkan oleh kompresi ekstrinsik misalnya spondilosis, metastasis kanker, abses epidural; proses imunologi misalnya multipel sklerosis, myelitis; infeksi, misalnya pada AIDS-associated myelopathy, HTLV-I associated myelopathy, tabes dorsalis; dan defisiensi nutrisi yang menyebabkan degenerasi subakut dari spinal cord.

Lesi spinal motor neuron misalnya pada penyakit degeneratif. Lesi spinal root terjadi pada kasus kompresi (degenertive disc disease), imunologi pada kasus Guillain Barre Syndrome (GBS), infeksi pada AIDS-associated polyradiculopathy dan Lyme Disease.

Lesi saraf tepi dapat disebabkan oleh kelainan metabolik pada kasus diabetes mellitus, uremia, porfiria; toksin dari ethanol, logam berat, beberapa obat, dan difteri; kekurangan nutrisi yaitu vitamin B12; inflamasi misalnya pada poliartritis nodosa; herediter misalnya pada kasus Charcot Marie Tooth; imunologi pada kasus paraneoplastik, paraproteinemia; infeksi pada pasien dengan imunokompromais; dan kompresi.

Lesi pada neuromuscular junction terjadi pada myasthenia gravis, dan gangguan toksin botulism dan aminoglikosida. Lesi pada otot terjadi pada poliomyelitis, inclusion body myositis, muscular dystrophy; toksis glukokortikoid, ethanol, dan AZT, infeksi trichinosis, hipotoroid, ketidakseimbangan elektrolit, dan kelainan kongenital misalnya pada central core disease.

Anamnesis dan Gejala Klinis Kelainan Anggota Gerak

Anamnesis dapat mengerucutkan diagnosis. Anamnesis harus mengarah pada onset keluhan kelemahan, kelaianan sensoris yang menyertai, dan tanda defisit neurologis lain. Kelemahan dan paralisis biasanya disertai dengan abnormalitas di tempat lesi. Perlu ditanyakan adalah:

  1. Onset kelemahan
  2. Sifat kelemahan
  3. Demam untuk mencari kemungkinan penyakit infeksi
  4. Riwayat trauma
  5. Riwayat makan
  6. Riwayat pengobatan
  7. Riwayat penyakit metabolik
  8. Kemungkinan penyakit infeksi misalnya TB, HIV

Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan vital sign, pemeriksaan nervus kranialis yang lengkap, dan refleks fisiologis maupun patologis. Gejala klinis kelemahan dapat menggambarkan lokasi lesi baik pada lesi upper motor neuron maupun lesi motor unit.

  1. Lesi korteks serebri: hemiparesis dominan pada ekstremitas bawah, kehilangan fungsi sensorik, kejang, homonim hemianopsia atau quadrantanopia, afasia, apraksia
  2. Lesi kapsula interna: hemiparesis dengan kelemahan yang sama, defisit hemisensori, homonim hemianopsia atau quadrantanopia
  3. Lesi brainstem: hemiparesis, namun persarafan wajah masih normal, vertigo, mual, muntah, ataksia, disartria, kelainan pergerakan bola mata, disfungsi beberapa nervus kranialis, sampai penurunan kesadaran
  4. Lesi spinal cord: kuadriparesis bila lesi berada di atas level cervical, paraparesis bila lesi di antara level cervical dan thoracal, dan hemiparesis bila lesi berada di level lebih bawah lagi (Brown Sequard), terjadi disfungsi sensorik dari sistem pencernaan dan urinari.
  5. Lesi spinal motor neuron: kelemahan menyeluruh, dapat mempengaruhi fungsi berbicara, terjadi atrofi otot tanpa kehilangan fungsi sensori
  6. Lesi spinal root: terjadi kelemahan dengan tipe radikuler, kehilangan fungsi sensori mengikuti dermatom
  7. Lesi saraf tepi: dibagi menjadi polineuropati dan mononeuropati. Polineuropati lebih banyak terjadi pada daerah distal tubuh, kaki lebih berat daripada telapak tangan, dan biasanya simetris. Gangguan sensorik telapak kaki juga lebih berat. Pada mononeuropati, kelemahan terjadi sesuai dengan perjalanan saraf.
  8. Lesi pada neuromuscular junction: kelemahan fatig, kadang disertai dengan diplopia dan/ atau ptosis, tidak ada kelainan sensoris maupun refleks.
  9. Lesi pada otot: kelemahan proksimal, tidak ada gangguan sensorik, gangguan refleks terjadi bila lesi sudah berat, kadang otot menjadi kaku dan kencang. Keluhan pada otot kadang dapat dipengaruhi oleh rasa nyeri.

Pemeriksaan penunjang dilakukan berdasarkan kemampuan dari fasilitas kesehatan setempat. Idealnya, pasien dengan kelemahan anggota gerak diperiksakan darah lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, dan serum elektrolit.

Alur diagnosis pasien dengan kelemahan dapat dilihat pada algoritma di bawah ini. Pemeriksaan penunjang yang disarankan elektromiografi (EMG), Nerve Conduction Studies (NCS), Magnetic Resonance Images (MRI), dan/ atau Computed Tomography (CT) scan kepala baik tanpa maupun menggunakan kontras. Pemeriksaan dilakukan berdasar keperluan dan indikasi.

algoritma-diagnosis-kelemahan-anggota-gerak

Gejala yang menunjukkan lokasi penyebab kelemahan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Gejala-yang-Menunjukkan-Lokasi-Penyebab-Kelemahan-Anggota-Gerak

Indikasi Merujuk Pasien Dengan Kelemahan Anggota Gerak

Pasien dengan kelemahan anggota gerak sebaiknya dirujuk untuk proses penegakan diagnosis maupun pengobatan lebih lanjut. Sebagian besar pasien dengan kelemahan anggota gerak merupakan kasus gawat darurat.

Pasien dirujuk segera apabila diperlukan terap lanjutan dan diagnosis segera. Kelemahan anggota gerak yang termasuk dalam keadaan kegawatdaruratan adalah pasien dengan kecurigaan stroke, peningkatan tekanan intrakranial, perdarahan otak, pasien yang disertai kejang, ketidakseimbangan elektrolit yang berat, dan pasien dengan intoksikasi.

Sebelum dilakukan rujukan, kita harus memastikan kondisi pasien stabil. Pasien dengan penurunan kesadaran harus diamankan airway, breathing, dan circulation. Pasien perlu dipasang akses intravena untuk terapi awal. Pasien dengan kejang dapat diberikan Diazepam 10 mg dan/atau loading Fenitoin dengan dosis: 18-20 mg/kgBB (PO/IV). Untuk memperkecil risiko hipotensi, maka pemberian harus perlahan. Dosis parenteral, sebaiknya tidak melebihi 50 mg/menit (hipotensi dan aritmia dapat terjadi).

Pasien dengan kelemahan anggota gerak mempunyai range diagnosis yang luas. Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), kompetensi kelemahan anggota gerak cukup bervariasi mulai dari 2, sampai 3A dan 3B. Kita yang berada di fasilitas kesehatan primer bertugas untuk mengatasi kegawatan, melakukan rujukan, dan membuat kemungkinan-kemungkinan diagnosis dari kelemahan anggota gerak serta memberikan terapi inisial. (mqa)

Semoga Bermanfaat^^


Sponsored Content

Salah satu penyebab kelemahan anggota gerak yang membutuhkan penanganan gawat darurat adalah stroke iskemik yang dipicu atrial fibrilasi. Sehingga penting bagi dokter IGD untuk dapat menilai risiko terjadinya stroke pada pasien atrial fibrilasi. Gunakan CHAD2 VASC Score.

Atrial fibrilasi mudah dikenali, asalkan kamu mahir baca EKG...

Masalahnya, ternyata skill baca EKG ini adalah momok buat banyak TS di IGD dan Puskesmas.

Padahal sejak Juni 2017 aku sudah punya 3 DVD Mahir Baca EKG (MBE)

  1. DVD MBE Basic
  2. DVD MBE Non Aritmia
  3. DVD MBE Aritmia

Jangan lewatkan kesempatan beli 3 DVD MBE di akhir tahun (periode promo berakhir 7 Januari 2018) karena setiap pembelian DVD MBE lengkap (3 DVD) akan mendapat bonus buku Simple Notes ECG (plus Akses ke Group FB Secret ECG Short Course)

Kamu bisa minta tolong Yahya (085608083342) untuk ngirimin DVD MBE ke alamat kamu, langsung sampai ke rumahmu.

Atau kalau males ngetik no hape Yahya, klik aja https://kontakin.com/dokterpost/dvdekglengkap

Semoga Bermanfaat^^