/ Internal Medicine

Zika Virus, Apa yang Dokter Harus Tahu?

Zika membuat heboh Indonesia. Virus zika, yang sebenarnya sudah sejak tahun 1947 di Uganda, kali ini membuat "histeris" pasien di Indonesia, terutama ibu hamil. Fenomena zika menyebar dengan cepat tak lepas dari laporan Pemerintah Brazil tentang "outbreak" bayi-bayi dengan mikrosefali. Efek media semakin kuat ketika gambar-gambar bayi dengan lingkar kepala yang "mengecil" menyebar luas melaui sosial media. Namun, apa sebenarnya yang dokter harus tahu tentang virus zika?

Gejala Klinis Infeksi Virus Zika

Setidaknya 1 dari 5 pasien yang terinfeksi virus zika akan berkembang menjadi demam zika. Namun, pada sebagian besar kasus infeksi virus zika hanya menimbulkan gejala klinis ringan dengan hanya sedikit pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Meski tidak mengancam nyawa, infeksi virus zika dilaporkan dapat menyebabkan mikrosefali pada bayi yang baru lahir. Namun, ketika mendapat pasien bayi dengan mikrosefali, tidak dapat langsung didiagnosis sebagai infeksi virus zika. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut kemungkinan penyebab lain: congenital rubella syndrome, pemakaian obat-obatan, dan sebagainya. Sebuah laporan juga menyebutkan kemungkinan infeksi virus zika menyebabkan Guillain Barr Syndrome, namun jarang.

Virus zika, golongan flavivirus, adalah virus yang memiliki "kekerabatan" yang dekat dengan virus dengue. Virus zika juga ditularkan melalui nyamuk Aedes, sama dengan virus dengue. Yang menjadi masalah adalah, gejala klinis virus zika sangat sulit dibedakan dengan infesi virus dengue.

Gejala klinis virus zika meliputi demam, rash makulopapular, arthralgia dan konjungtivitis. Keluhan lain yang juga sering muncul adalah nyeri kepala dan nyeri otot (myalgia). Gejala-gejala tersebut sangat sulit dibedakan dengan infeksi virus dengue dan chikungunya secara klinis saja.

Untuk mengetahui diagnosis pasti virus zika diperlukan pemeriksaan penunjang khusus.

Diagnosis Infeksi Virus Zika

Diagnosis infeksi virus zika ditegakkan dengan diagnosis klinis dan penunjang. Secara klinis, dokter harus dapat membedakan apakah pasien yang dicurigai terinfeksi virus zika bukan karena infeksi virus dengue. Penting untuk membedakan antara dengue atau bukan untuk kepentingan penatalaksanaan. Selain dengue, diagnosis banding infeksi virus zika meliputi malaria, leptospirosis, rubella, campak dan chikungunya.

Untuk menengakkan diagnosis pasti infeksi virus zika, pendekatan serologis masih menjadi pilihan terbaik. Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah mendeteksi RNA virus zika, antibodi IgM dan neutralizing Antibody virus zika. Namun sayang, di Indonesia tidak banyak rumah sakit yang memiliki kemampuan melakukan diagnosis virus zika. Sehingga hampir "mustahil" dokter praktek di Indonesia berhasil menegakkan diagnosis infeksi virus zika, kecuali ada program surveilans dari kementrian kesehatan.

Di Amerika Serikat, infeksi virus zika sudah mendapat perhatian secara nasional. Hal tersebut diwujudkan dengan pelaksanaan program surveilans melalui ARBOnet, program surveilans Arbovirus (virus yang ditularkan melalui nyamuk). Departemen Kesehatan masing-masing negara bagian di Amerika Serikat menghimbau dokter praktek untuk melaporkan kasus-kasus suspek infeksi virus zika.

Kasus yang dilaporkan selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan serum dan plasma untuk mengetahui apakah pasien tersebut benar terinfeksi virus zika atau virus yang lain. Jika hasil pemeriksaan tersebut positif, maka akan dilaporkan ke Center for Disease Control (CDC). Selanjutnya CDC akan melakukan tindakan pencegahan penularan penyakit sampai mitigasi penduduk jika diperlukan.

Kementrian kesehatan Indonesia sampai saat ini hanya menghimbau masyarakat untuk mewaspadai infeksi virus zika. Masih belum terlihat tindakan sistematis untuk melakukan surveilans penyakit ini di Indonesia. Tanpa dukungan pemerintah, hampir "mustahil" persebaran virus zika dapat terdeteksi di Indonesia. Sebagian besar kasus hanya akan berkhir dengan diagnosis suspek demam dengue.

Terapi Infeksi Virus Zika

Tidak ada anti-virus khusus yang cukup efektif untuk mengobati infeksi virus zika. Vaksin yang memadai untuk mencegah infeksi virus zika juga masih belum ada. Terapi untuk virus zika lebih bersifat supportif: istirahat cukup, terapi cairan yang memadai, penggunaan antipiretik dan analgesik.

Yang diperlu diingat adalah JANGAN MERESEPKAN ASPIRIN ATAU NSAID yang lain, pada pasien suspek infeksi virus zika, sampai terbukti bahwa gejala demam dan nyeri tersebut tidak disebakan oleh infeksi virus dengue. Penggunaan Aspirin dan NSAID pada infeksi virus dengue dapat meningkatkan resiko perdarahan. Antipiretik dan analgesik yang direkomendasikan adalah parasetamol.

Pencegahan Infeksi Virus Zika

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa sampai saat ini belum ada vaksin spesifik untuk virus zika yang tersedia. Pencegahan terbaik adalah mencegah gigitan nyamuk Aedes. Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan menggunakan repellent, jaring tempat tidur dan baju lengan panjang.

Beraktivitas selama pagi-sore hari di rungan ber-AC adalah langkah yang efektif dilakukan. Memasang pelindung jendela dan pintu untuk mencegah nyamuk masuk dari luar juga langkah yang feasible dilakukan. Sebenarnya inti dari pencegahan infeksi virus zika adalah sama dengan pencegahan infeksi virus dengue dan chikungunya karena vektor ketiga virus tersebut sama, nyamuk Aedes.

Semoga bermanfaat.


=
Sponsored Content

DISKON 10%!!!

Menyambut awal bulan Februari ini, Dokter Post akan bagi-bagi diskon 10% untuk setiap pembelian BUKU SAKU PRAKTEK DOKTER.

Buku Fenomenal yang paling laris di kalangan dokter umum ini sudah terjual puluhan ribu eksemplar.

Catat Periode Promo-nya!!!

01 Februari 2016 10.00 WIB - 01 Februari 2016 22.00 WIB

Catat ya, Periode Promosi cuma berlaku 12 jam!
Jadi tunggu apa lagi, buruan SMS/WA 081234008737 untuk pemesanan lebih lanjut!!!