Terapi Disengat Kalajengking

Sengatan kalajengking merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi di negara tropis maupun subtropis terutama Afrika, India, Timur Tengah, Meksiko, dan Amerika Latin. Diperkirakan 1,2 juta orang terkena sengatan kalajengking setiap tahunya dan menimbulkan 3250 kematian (0,27%). Meskipun di Indonesia masih belum ada data yang pasti, namun tenaga kesehatan perlu mengetahui penanganan dan tatalaksana yang tepat untuk sengatan kalajengking.

Pemeriksaan Klinis dan Terapi Disengat Kalajengking

Dari 1500 lebih spesies kalajengking, sejumlah 50 kalajengking berbahaya pada manusia. Penyebab sengatan kalajengking umumnya karena ketidaksengajaan, karena kalajengking adalah hewan yang hanya menyengat bila merasa terancam, atau terganggu. Sengatan kalajengking dapat menimbulkan gejala yang bervariasi, dari reaksi pada kulit yang berat, hingga reaksi neurologis, respirasi, dan kardiovaskular.

Prognosis pasien tergantung dari banyak faktor termasuk spesies kalajengking, kondisi kesehatan pasien, dan akses menuju pelayanan kesehatan. Gejala-gejala umumnya menetap selama 10-48 jam. Jika pasien dapat melewati beberapa jam pertama tanpa gejala kardiorespirasi atau neurologi yang berat, prognosisnya biasanya baik. Dapat bertahan selama 24 jam pertama setelah sengatan juga merupakan pertanda yang baik. Sebaliknya bila muncul gejala seperti kolaps, gagal nafas, kejang hingga koma, maka prognosisnya tidak baik.

pertolongan-pertama-sengatan-kalajengking

Bila terdapat pasien dengan sengatan kalajengking, kita perlu menanyakan kapan kejadiannya, bagaimana bisa tersengat kalajengking, deskripsi bentuk kalajengking, dan gejala lokal atau sistemik apa yang muncul. Gejala lokal yang mungkin ada adalah nyeri tajam seperti terbakar, paresthesia, gatal, eritema atau bengkak pada lokasi sengatan. Makula atau papula dapat muncul pada lokasi sengatan pada jam pertama, selanjutnya dapat berkembang menjadi purpura, lalu nekrosis atau menjadi lesi ulseratif. Limfangitis dapat terjadi karena racun yang dialirkan ke pembuluh limfe.

Sengatan kalajengking dapat berefek pada sistem saraf otonom. Bila terjadi overdrive pada saraf simpatik, maka akan muncul gejala takikardi, hipertensi, hipertermia dan edema paru.

Sebaliknya bila terdapat gejala parasimpatik lebih dominan maka pasien akan mengalami hipotensi, bradikardi, salivasi, lakrimasi, urinasi, defekasi, dan pengosongan lambung dengan gejala mual dan muntah. Racun kalajengking juga dapat memengaruhi saraf kranialis yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan seperti pandangan kabur, selain itu juga dapat terjadi fasikulasi pada lidah, dan kesulitan menelan.

Efek somatik yang ditimbulkan oleh sengatan kalajengking meliputi gerakan otot secara involunter yang dapat disalah artikan sebagai kejang. Namun beberapa spesies kalajengking dapat memunculkan gejala kejang. Gejala respirasi yang dapat terjadi adalah gagal nafas yang disebabkan kondisi anafilaksis, bronkokonstriksi, sekresi bronkus dan faring yang berlebih, dan/atau paralisis diafragma.

Kolaps kardiovaskular terjadi karena toksin menginduksi disfungsi bilik jantung dan karena hilangnya cairan secara profus dari keringat, muntah, diare dan hipersalivasi. Hal ini dapat menimbulkan kematian.

Terapi Tersengat Kalajengking

Penatalaksanaan awal sebelum sampai di rumah sakit adalah dengan dilakukan primary assessment seperti airway, breathing, dan circulation. Bawa pasien segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Karena gejalanya yang bervariasi, observasi harus terus dilakukan untuk dapat menangani gejala dengan lebih cepat.


Sponsored Content

Buku Rekomendasi Persiapan PPDS Interna

ppk-penatalaksanaan-papdi-1

Pemesanan via WA 085608083342 Yahya atau klik link order ini


Penanganan lokal menggunakan kantong berisi es dapat mengurangi nyeri dan memperlambat penyerapan racun karena vasokonstriksi. Hal ini efektif dilakukan pada dua jam pertama setelah sengatan. Lakukan imobilisasi pada bagian tubuh yang disengat untuk menunda penyerapan racun. Tenangkan pasien untuk dapat mengurangi nadi dan tekanan darah yang juga akan mengurangi persebaran racun ke seluruh tubuh.

Anestetik lokal atau topikal dapat diberikan untuk mengurangi paresthesia. Lakukan perawatan lokal pada luka, berikan profilaksis anti tetanus, antibiotik sistemik bila terdapat tanda-tanda infeksi sekunder, dan pelemas otot bila terdapat spasme otot berat (misal benzodiazepine).

scorpion

Penanganan sistemik meliputi tatalaksana suportif pada organ spesifik yang terpengaruh. Stabilisasi ABC supaya jalan nafas, ventilasi, dan perfusi adekuat. Monitor tanda-tanda vital pada pasien. Berikan oksigen, infus intravena untuk mencegah hipovolemia.

Lakukan intubasi dan ventilasi mekanik bila pasien mengalami distres nafas. Pada gangguan kardiovaskular hiperdinamik, pemberian kombinasi penyekat beta dan penyekat alfa dapat diberikan. Hindari penggunaan penyekat beta tanpa penyekat alfa karena akan menimbulkan efek unopposed alpha-adrenergic. Nitrat dapat diberikan pada kondisi hipertensi dan iskemi miokard.

Bila terdapat gangguan hipodinamik dari sistem kardiovaskular, monitor infus cairan karena reduksi afterload dapat mengurangi kematian. Diuretik dapat diberikan pada kondisi edema paru tanpa adanya hipovolemia. Obat-obatan yang dapat mengurangi afterload seperti prazosin, nifedipin, nitroprusside, hydralazin, dan penghambat ACE lebih baik diberikan.

Obat-obatan inotropik seperti digitalis hanya sedikit memberikan efek, dopamin dapat menimbulkan kerusakan miokard, dobutamin adalah pilihan yang lebih baik. Norepinefrin dapat digunakan sebagai terapi untuk memperbaiki hipotensi yang refrakter terhadap terapi cairan. Atropin diberikan untuk melawan efek parasimpatomimetik.

Pemberian insulin dapat digunakan untuk membantu organ-organ vital menggunakan substrat metabolik dengan lebih efisien, namun penelitiannya baru dilakukan pada hewan. Barbiturat dan/atau benzodiazepin infus kontinyu dapat diberikan bila terdapat aktivitas motorik yang berlebih. Hati-hati pada efek depresi nafas yang mungkin terjadi pada pemberiannya. Pada beberapa kasus, meperidine dan morfin dapat meningkatkan potensi dari racun kalajengking.

Antivenom adalah pilihan terapi yang dapat diberikan setelah stabilisasi dan tatalaksana suportif. Karena spesies kalajengking yang heterogen, antivenom spesies satu hanya akan memiliki efek terbatas pada spesies lainnya. Pengenalan spesies dari kalajengking merupakan hal yang penting dalam pemberian antivenom.

Antivenom yang terbaru merupakan fragmen imunoglobulin yang dimurnikan sehingga efek sampingnya minimal, namun dosis pastinya masih belum ditentukan. Kuantitas yang diberikan tergantung dari keparahan pasien, evolusi gejala dan respons terhadap terapi, namun hal ini sulit diperkirakan.

Antivenom akan dapat mengurangi jumlah racun yang beredar di sirkulasi dalam beberapa jam. Gejala yang menetap dapat disebabkan oleh racun kalajengking yang sudah berikatan dengan reseptor targetnya, sehingga tidak dapat dinetralisir kembali. Jika hal itu terjadi, maka yang bisa dilakukan adalah terapi simtomatik dan suportif serta imunoterapi.

Pasien dengan gejala sistemik berat perlu dirawat di ICU karena gejala yang muncul tidak dapat diprediksi. Anak-anak memerlukan observasi yang lebih ketat karena proses penyembuhannya yang tidak secepat orang dewasa. Rujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap bila diperlukan. (alv)

Semoga Bermanfaat^^


Sponsored Content

Buku paling dicari dokter puskesmas, IGD dan Klinik Pratama dari aceh-papua ini sudah mau terbit lagi. Versi update tahun 2018 "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER"

promo-buku-155-diagnosis-terapi-pak-dhe-wahono

Harganya 199 ribu.

Untuk pemesana, langsung aja WA 085608083342 Yahya atau klik link order ini.

Jangan sampai nggak kebagian kayak kemarin^^