/ DKA

Diagnosis dan Terapi Krisis Hiperglikemia (2): Terapi DKA

Gambar 1. Protokol Alur Kerja Diabetes Ketoasidosis (Gosmanov dkk, 2014)

Krisis hiperglikemia adalah kegawatdaruratan di bidang endokrinologi yang perlu mendapatkan perawatan intensif. Jumlahnya cukup banyak dan terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring peningkatan prevalensi Diabetes Mellitus (DM). Jika tidak mendapat perawatan yang sesuai, krisis hiperglikemia sering akan berakhir pada kematian.

Menentukan diagnosis krisis hiperglikemia dengan tepat, Diabetes Ketoasidosis (DKA) atau Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS), akan memberikan panduan untuk melakukan penatalaksanaan yang tepat pula. Diagnosis krisis hiperglikemia telah diulas pada artikel sebelumnya.

Tujuan Umum Terapi Krisis Hiperglikemia

Terapi krisis hiperglikemia, DKA dan HHS, memiliki beberapa kesamaan. Namun, beberapa langkah spesifik memiliki perbedaan yang nyata. Menentukan diagnosis secara tepat, akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi.

Secara umum, tujuan terapi krisis hiperglikemia adalah

  1. mengelola faktor pencetus (precipitating factors)
  2. menjaga volume cairan darah
  3. mengurangi ketonemia
  4. mengoreksi asam basa
  5. mengembalikan kadar gula darah dalam batas normal
  6. memperbaiki status mental
  7. memperbaiki perfusi ginjal
  8. mengoreksi kadar elektrolit
  9. mencegah komplikasi.

Terapi Diabetes Ketoasidosis

Sekitar 80% pasien DKA adalah pasien DM yang sudah teridentifikasi. Anamnesis tentang riwayat penyakit DM sebelumnya sangat penting untuk mengenali DKA.

Pada pasien DKA gejala yang sering muncul adalah nafas cepat dan dalam (Kussmaul), dehidrasi ringan-berat, kadang-kadang dijumpai dalam kondisi hipovolemia hingga syok. Muntah-muntah dan nyeri perut mungkin berhubungan dengan gejala gastroparesis diabetikum. Jangan lupa mencari faktor resiko infeksi, yang menyumbang 80% kasus DKA.

Setelah diagnosis DKA ditegakkan, selanjutnya perlu dipertimbangkan perawatan intensif, jika memungkinkan ICU. Prinsip manajemen DKA adalah:

  1. Penggantian cairan dan garam yang hilang
  2. Insulin (menekan lipolisis dan glukoneogenesis)
  3. Mengendalikan stres, faktor pencetus
  4. Monitoring ketat, mengembalikan kondisi fisiologis tubuh

Terapi Cairan

Disarankan menggunakan larutan garam fisiologis (normal saline) untuk mengatasi dehidrasi. Kira-kira jumlah cairan yang hilang adalah 100 mL/kgBB, sehingga pada satu jam pertama diberikan 1-2 Liter, satu jam kedua diberikan 1 liter, begitu seterusnya sesuai protokol.

Insulin

Insulin diberikan sesaat setelah diagnosis DKA ditegakkan. Insulin dosis rendah, bolus intravena sebagai terapi inisiasi 0,1 U/kgBB diikuti 5-10 U/jam yang diberikan kontinyu, lebih disukai dibanding insulin bolus yang dibagi dalam beberapa jam. Insulin pump lebih dipilih bila dibandingkan insulin subkutan atau bolus intravena, karena lebih jarang menyebabkan hipoglikemia. Terapi insulin tetap diberikan sampai DKA mengalami resolusi, meskipun kadar gula darah < 200 mg/dL. Untuk mencegah hipoglikemia, laju terapi insulin dapat dikurangi dan cairan diganti dengan Dekstrose 5% atau 10%.

Kalium

Pasien DKA sering mengalami hiperkalemia, bahkan terkadang menyebabkan gambaran gelombang T tinggi (tall T) pada EKG. Namun, pada manajemen pasien DKA yang lebih ditakutkan adalah kondisi hipokalemia yang diakibatkan pemberian insulin dan cairan pada pasien DKA. Sehingga pemantauan kadar elektrolit darah perlu dilakukan. Kalium dapat mulai diberikan setelah produksi urin cukup adekuat.

Glukosa

Tujuan terapi DKA adalah meresolusi ketogenesis. Setelah pemberian cairan 2 jam pertama dan pemberian insulin, kadar gula darah bisa turung 60 mg/dL setiap jam hingga mencapai < 200 mg/dL. Pada kondisi ini dapat dimulai pemberian infus mengandung dekstrose 5% untuk mencegah hipoglikemia.

Bikarbonat

Bikarbonat masih menjadi perdebatan dalam penangan DKA. Sampai sejauh ini para ahli sepakat memberikan bikarbonat bila pH arteri < 7.1.

Terapi antibiotik diberikan bila ada kecurigaan infeksi yang mendahului. Oksigen diberikan bila pO2 < 80 mmHg. Heparin dapat diberikan bila diketahui timbul Disseminated Intravascular Coagulation (DIC).

Apa Saja yang Perlu Dimonitoring?

Monitoring ketat adalah aktivitas yang sangat penting dalam memastikan keselamatan pasien DKA. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Pantau konsentrasi gula darah setiap 2-3 jam
  2. Periksa kadar elektrolit setiap 6 jam pada 24 jam pertama, setelah itu menyesuaikan kondisi.
  3. Periksa Blood Gas Analysis (BGA) setiap 6 jam bila pasien masuk dengan pH < 7, hingga pH > 7.1. Selanjutnya dipantau setiap hari satu kali hingga stabil.
  4. Monitoring ketat tekanan darah,frekuensi nafas dan nadi, setiap jam.
  5. Gejala Dehidrasi dan Balance Cairan
  6. Waspadai kemungkinan DIC (Gosmanov dkk, 2014)

Manajemen terapi pada kasus HHS, akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Semoga bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Kamu Seorang Dokter Umum di IGD?? Internis?? PPDS Interna atau PPDS Interna "Wanna Be"??

Buku EIMED BIRU (Emergency in Internal Medicine Advance) adalah buku yang kamu butuhkan.

Buku Seberat 1,3 kg ini berisi puluhan topik kegawatdaruratan spesifik di bidang penyakit dalam

  1. Kegawatdaruratan Sidroma Koroner Akut
  2. Kegawatdaruratan Pneumonia (CAP, HAP dan VAP)
  3. Kegawatdaruratan Krisis Hiperglikemia (KAD dan HONK)
  4. Kegawatdaruratan Sepsis
  5. Kegawatdaruratan Infeksi Virus Dengue
  6. Kegawatdaruratan Penyakit Ginjal Kronik
  7. dan Puluhan Topik Kegawatdaruratan Spesifik yang lain

Jika kamu sudah membaca EIMED MERAH (Emergency in Internal Medicine Basic), melengkap kompetensi anda dengan EIMED BIRU adalah pilihan cerdas di era BPJS dan MEA seperti saat ini.

Jadi Tunggu Apalagi, segera pesan buku EIMED BIRU melalui SMS/WA ke 085608083342 (Yahya)!!!