Terapi Batuk Pilek pada Bayi

Penyakit yang sering ditemui pada anak-anak adalah infeksi pada sistem saluran pernapasan. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus, yang menimbulkan gejala common cold, yaitu batuk, pilek dan suara serak. Infeksi virus pada saluran pernafasan menimbulkan morbiditas dan mortalitas. Pada bayi yang terpapar infeksi sejak dini maka di kemudian hari lebih rentan berkembang menjadi asma.

Diagnosis dan Terapi Batuk Pilek pada Bayi

Dalam pemeriksaan infeksi saluran nafas atas, dapat ditemukan rhinitis dan faringitis yang dapat disertai dengan gangguan mata dan telinga. Pada bayi, infeksi saluran nafas atas sering disertai demam dan dapat menimbulkan lethargy dan pemberian makan yang kurang. Gejala yang paling umum ditemukan adalah batuk, bersin, hidung buntu dan pilek.

Pada kondisi infeksi saluran nafas atas, tatalaksana utamanya adalah mengurangi gejala demam, hidung buntu dan batuk. Beberapa obat yang sering digunakan adalah antihistamin generasi pertama, antipiretik (paracetamol), obat antiinflamasi (ibuprofen), antitusif (dextrometorphan), ekspektoran (guaifenesin) dan dekongestan (pseudoefedrin dan phenylpropanolamine). Walau dapat meringankan gejala, tetapi obat-obatan tersebut tidak terbukti dapat mengurangi durasi gejala.

Food and Drug Adinistration juga memberikan peringatan untuk tidak memberikan obat-obatan tersebut pada anak dibawah 2 tahun. Tidak ada keuntungan yang terbukti dapat diberikan oleh obat over the counter (OTC) bandingkan dengan placebo pada anak-anak, dan risiko efek sampingnya besar.

Analgesik antipiretik seperti paracetamol mungkin bermanfaat dalam mengurangi ketidaknyamanan dan gejala, serta lebih mudah dalam memberikan makanan, dan cairan oral. Paracetamol dapat diberikan dengan dosis 10 mg/kgBB perkali.

Penggunaan antibiotik pada infeksi saluran nafas atas sebenarnya tidak diperlukan karena lebih dari 90% infeksi disebabkan oleh virus. Pemberian antibiotik sering kali overprescribed dan malah menimbulkan resistensi. Studi menunjukkan alasan pemberian antibiotik oleh klinisi adalah karena diagnosis yang masih belum jelas, tekanan sosiokultural dan ekonomi, ketakutan akan malpraktik dan harapan dari orang tua agar anaknya diberi antibiotik.

Namun antibiotik dapat diberikan bila terdapat indikasi yaitu rhinosinusitis akut yang berat dan menetap lebih dari 10 hari dan otitis media akut yang berat. Selain itu efikasi antibiotik lebih baik pada pasien dengan risiko komplikasi yang lebih tinggi.

Akhir-akhir ini berkembang obat-obatan herbal sebagai salah satu terapi alternatif untuk infeksi saluran nafas atas. Dua obat herbal yang sering digunakan dan diteliti adalah Echinacea dan Andrographis paniculata yang merupakan imunostimulan. Selain itu propolis dari lebah juga banyak diteliti dapat meningkatkan produksi antibodi. Akan tetapi obat-obatan herbal tersebut masih belum terstandardisasi. Data penelitian yang ada masih belum cukup untuk dapat menyimpulkan penggunaan obat-obatan alternatif dalam pencegahan dan terapi. Efek imunostimulan terhadap sistem imun yang belum matur juga masih belum diketahui.

Terdapat beberapa intervensi lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi infeksi saluran nafas atas. Larutan saline nasal spray mungkin bermanfaat untuk mengurangi gejala common cold. Pada kondisi obstruksi hidung oleh sekret, dapat dilakukan irigasi dengan menggunakan larutan saline diikuti dengan aspirasi secara hati-hati dapat efektif dilakukan pada bayi. Suplementasi besi juga efektif pada area endemik defisiensi besi.

Madu sebenarnya bermanfat dalam terapi batuk karena efek antioksidan atau antimikrobialnya, namun madu tidak dapat digunakan untuk bayi dibawah 12 bulan karena dapat menimbulkan botulisme. Kebiasaan mencuci tangan di rumah tangga perlu digalakkan untuk dapat mengurangi insiden penyakit saluran nafas. Orang tua yang merokok juga dapat memicu eksaserbasi infeksi respirasi pada anak dan dapat menjadi faktor predisposisi dari asma.

Sekitar sepertiga dari bayi dengan infeksi virus pada saluran nafas akan berkembang menjadi infeksi saluran nafas bawah dengan gejala takipnea, wheezing, batuk yang berat, sulit bernafas dan distres nafas. Gejala klinis yang muncul meliputi pernafasan cuping hidung, retraksi, hingga sianosis. Dari pemeriksaan fisik dapat ditemukan wheezing, crackles, krepitasi, dan ronchi inspirasi.

Beberapa klinisi menggolongkannya menjadi bronkitis, bronkiolitis dan pneumonia berdasarkan lokasinya, namun terapi yang diberikan kurang lebih sama. Tatalaksana dari infeksi saluran pernafasan bawah tergantung dari derajat keparahan yang dinilai dari saturasi oksigen dan analisa gas darah. Ketidakmampuan dalam pemberian makanan dan minuman juga menentukan tatalaksana pada bayi.

Untuk virus influenza A dan B, obat penghambat neuraminidase seperti oseltamivir dan zanamivir dapat digunakan sebagai obat antivirus pada pasien usia 1-5 tahun namun tidak untuk bayi. Obat ini dapat digunakan sebagai profilaksis setelah paparan dan sebagai terapi virus influenza jika dapat diberikan dalam 48 jam setelah paparan atau 36 jam setelah gejala pertama muncul. Obat ini direkomendasikan pada anak dengan morbiditas kronik dan berisiko terkena penyakit yang lebih berat karena influenzanya.

Karena tidak adanya antivirus yang efektif pada bayi, maka terapi hanya fokus kepada obat yang dapat mengatasi obstruksi jalan nafas dan distres nafas. Bronkodilator digunakan secara luas, seperti agonis beta 2, epinefrin nebul, dan antimuskarinik seperti ipatropium bromide. Namun secara umum hasil pengobatan dengan obat-obatan tersebut kurang memuaskan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa bronkodilator tidak memberi efek pada bronkiolitis pada bayi. American Academy of Pediatrics tidak merekomendasikan bronkodilator untuk rutin digunakan pada pasien bronkiolitis. Kecuali pada pasien dengan penyakit dasar reactive-airway dimana didapatkan wheezing. Namun agonis beta dua kerja cepat harus digunakan dengan hati-hati pada bayi karena berisiko bereaksi paradoks.

Kortikosteroid juga sering digunakan untuk mengontrol inflamasi saluran pernafasan dan gejala yang mengikutinya. Namun lagi-lagi hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan gejala klinis dan lama perawatan di rumah sakit pada bayi dengan infeksi saluran nafas bawah yang diberi kortikosteroid inhalasi maupun sistemik dibanding dengan placebo. Kortikosteroid mungkin berguna pada wheezing rekuren dan croup.

Penggunaan antibiotik seperti golongan penicillin dan golongan macrolide pada infeksi saluran nafas bawah pada bayi juga tidak memberikan manfaat. Tidak ada perbedaan antara durasi perawatan rumah sakit, suplementasi oksigen, dan pemberian makanan dengan gastric tube dengan pemberian azithromycin dan ampicillin. Karena kurangnya medikasi yang efektif pada infeksi saluran nafas bawah pada bayi, maka hanya terapi suportif yang bisa diberikan.

Sebuah terapi yang memiliki perkembangan yang menjanjikan adalah penggunaan inhalasi saline hipertonik. Penelitian menunjukkan berkurangnya lama perawatan sebanyak 26 % pada pasien bronkiolitis akut karena virus dengan terapi ini. Studi yang difokuskan pada bayi di bawah 6 bulan menunjukkan adanya manfaat saline hipertonik inhalasi sehingga dapat berguna sebagai terapi baru penyakit saluran nafas bawah (alv).

Semoha Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

Buku paling dicari dokter puskesmas, IGD dan Klinik Pratama dari aceh-papua ini sudah mau terbit lagi. Versi update tahun 2018 "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER"

cover-155-Diagnosis-Terapi-Faskes-Primer

Harganya 155 ribu. Tapi, kalau kamu ikut pre-order, kamu akan dapat bonus DVD TERAPI CAIRAN DI IGD DAN PUSKESMAS senilai 156 ribu.

Tanggal 21-28 Februari ini kita buka pre-order. Langsung aja WA 085608083342 Yahya atau klik link order ini.

Buku akan dikirim ke rumahmu tanggal 18-04-18

Jangan sampai nggak kebagian kayak kemarin^^