Tatalaksana Reaksi Alergi post Vaksinasi MR

Bulan ini banyak sekolah sudah melaksanakan vaksinasi MR. Tidak dapat dipungkiri, salah satu kejadian yang tidak diharapkan setelah vaksinasi MR adalah reaksi alergi (bahkan bisa terjadi reaksi anafilaktik). Meskipun vaksinasi MR telah mendapatkan label sebagai vaksin yang sangat aman dan efektif, namun adverse events masih bisa terjadi.

Logis kan, dengan pelaksanaan imunisasi MR yang bersifat massal tentu akan terjadi peningkatan laporan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi). Sehingga dokter dan tenaga kesehatan di Puskesmas mesti aware tentang KIPI ini dan cara penatalaksanaannya.

Kemarin ada curhatan di Group Diskusi Kasus Klinis, tentang KIPI yang terjadi pada siswa yang baru saja menjalani imunisasi MR.

"Konsul dok. Anak habis vaksin MR gatal2 badannya. Gatal muncul 30 menit setelah vaksin. Itu masuk anafilaktik kah? Skrng Anak sedang dlm perjalanan ke Puskesmas." Tanya dr Hendro.

"Masuk reaksi alergi itu, urtikaria. Tatalaksana sebagai anafilaksis saja sampai disimpulkan bukan anafilaksis." Jawab dr Andi, SpA

"Pas nyampe Puskesmas bentol bentolnya Makin banyak dok leher, perut, punggung, tangan. ABC clear dok. Anak sadar.
Td saya cuma inj. Dexamethasone sambil observasi. 30 menit setelah kasih dexa, Alhamdulillah bentolnya hilang." Jelas dr Hendro.

Tatalaksana Alergi post Vaksinasi MR

Reaksi anafilaksis post vaksinasi MR adalah adverse event perlu diwaspadai karena dapat mengancam nyawa. Biasanya terjadi antara 0-2 jam post vaksinasi MR. Jarang sekali, hanya terjadi pada 1 dari 100 ribu pasien.

Yuk, kita merujuk pada petunjuk teknis kemenkes dalam penanggulangan Reaksi anafilaksis post vaksin MR. Kamu bisa juga download file PDF-nya di sini.

Petunjuk Teknis Kemenkes post Vaksinasi MR

Reaksi anafilaksis adalah KIPI paling serius yang juga menjadi risiko pada setiap pemberian obat. Tatalaksananya harus cepat dan tepat mulai dari penegakkan diagnosis sampai pada terapinya di tempat kejadian, dan setelah stabil baru dipertimbangkan untuk dirujuk ke RS terdekat.

Setiap petugas pelaksana imunisasi harus sudah kompeten dalam menangani reaksi anafilaksis. Reaksi kecemasan karena suntikan berbeda dengan reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas generalisata atau sistemik yang terjadi dengan cepat (umumnya 5-30 menit sesudah suntikan) serius dan mengancam jiwa.

Jika reaksi tersebut cukup hebat dapat menimbulkan syok yang disebut sebagai syok anafilaktik. Syok anafilaktik membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Gambaran atau gejala klinik suatu reaksi anafilaktik berbeda-beda sesuai dengan berat-ringannya reaksi antigen-antibodi atau tingkat sensitivitas seseorang, namun pada tingkat yang berat berupa syok anafilaktik gejala yang menonjol adalah gangguan sirkulasi dan gangguan respirasi.

Reaksi anafilaksis biasanya melibatkan beberapa sistem tubuh, tetapi ada juga gejala-gejala yang terbatas hanya pada satu sistem tubuh (contoh: gatal pada kulit) juga dapat terjadi.

Tanda awal anafilaksis adalah kemerahan (eritema) menyeluruh dan gatal (urtikaria) dengan obstruksi jalan nafas atas dan/atau bawah. Pada kasus berat dapat terjadi keadaan lemas, pucat, hilang kesadaran dan hipotensi.

Petugas sebaiknya dapat mengenali tanda dan gejala anafilaksis. Pada dasarnya makin cepat reaksi timbul, makin berat keadaan penderita. Penurunan kesadaran jarang sebagai manifestasi tunggal anafilaksis, ini hanya terjadi sebagai suatu kejadian lambat pada kasus berat. Denyut nadi sentral yang kuat (contoh: karotis) tetap ada pada keadaan pingsan, tetapi tidak pada keadaan anafilaksis.

Sekali diagnosis ditegakkan, maka harus diingat bahwa pasien berpotensi untuk menjadi fatal tanpa menghiraukan berat ringannya gejala yang muncul. Mulai tangani pasien dengan cepat dan pada saat yang sama buat rencana untuk merujuk pasien ke rumah sakit dengan cepat.

Pemberian adrenalin (ephinephrin) akan merangsang jantung dan melonggarkan spasme pada saluran nafas serta mengurangi edema dan urtikaria. Tetapi adrenalin dapat menyebabkan denyut jantung tidak teratur, gagal jantung (heart failure), hipertensi berat dan nekrosis jaringan jika dosis yang dipergunakan tidak tepat.

Petugas harus terlatih dalam penanganan anafilaksis, memiliki kesiapan kit anafilaktik yang lengkap untuk tatalaksana reaksi anafilaktik dan memiliki akses yang cepat untuk merujuk pasien

Langkah-langkah awal penanganan:

  1. Airway : membebaskan jalan nafas. Jika pasien tidak sadar, tempatkan pasien pada posisi tidur terlentang atau berbaring dengan leher hiperekstensi dan kedua tungkai diangkat (diganjal dengan kursi). Yakinkan jalan nafas lancar dengan menghisap lendir (suction), tahan lidah agar tidak jatuh ke belakang.
  2. Breathing : berikan oksigen 2–4 L/menit melalui nasal kanul
  3. Circulation : Nilai frekuensi denyut jantung dan frekuensi pernafasan. Kemudian mulai lakukan resusitasi kardiopulmonal sesuai keadaan
  4. Drug : Berikan adrenalin 1:1000 (0,2 ml untuk anak usia < 6 tahun) secara intramuskular pada paha yang berlawanan dengan lokasi penyuntikan. Adrenalin dapat diulangi 5-15 menit. Dosis ulangan umumnya diperlukan karena lama kerja adrenalin cukup singkat. Beri setengah dosis tambahan di sekitar lokasi suntikan (untuk memperlambat absorsi antigen)
  5. Jika pasien sadar sesudah pemberian adrenalin, letakkan kepalanya lebih rendah dari pada kaki dan jaga pasien dengan suhu tetap hangat
  6. Kemudian pasang infus dengan menggunakan cairan NaCl 0,9 % berikan dosis pemeliharaan (maintenance) sebanyak 80-100 mL/kgBB/24 jam, maksimal cairan yang diberikan 1.500 mL/24 jam. Pemberian cairan infus sebaiknya dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal dan stabil.
  7. Jangan meninggalkan pasien sendirian. Setelah suntikan pertama adrenalin atau sesegera mungkin panggil tenaga kesehatan lain yang ada kemudian panggil ambulan atau alat angkutan untuk transportasi ke RS rujukan terdekat.
  8. Lihat respon bayi atau anak. Jika ada perbaikan maka bayi atau anak akan kembali sadar, aktif, menangis dan denyut nadi teraba kuat. Jika kondisi pasien tidak ada perbaikan dalam 5-15 menit setelah suntikan pertama, ulangi pemberian dosis adrenalin, sampai maksimum total tiga dosis. Penyembuhan syok anafilaksis umumnya cepat sesudah pemberian adrenalin.
  9. Catat tanda-tanda vital (kesadaran, frekuensi denyut jantung, frekuensi pernafasan, denyut nadi) setiap waktu dan catat dosis setiap pengobatan yang diberikan. Yakinkan catatan detail tersebut juga dibawa bersama pasien ketika dirujuk.
  10. Tandai catatan imunisasi dengan jelas, sehingga anak tersebut tidak boleh lagi mendapatkan jenis vaksin tersebut

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Update pengetahuanmu tentang imunisasi anak dan dewasa. Karena DokterPost sedang ada promo untuk 250 pembeli pertama buku Pedoman Imunisasi Dewasa dari PAPDI dapat bonus Buku Saku Imunisasi IDAI.

Buruan, jangan sampai nggak kebagian bonusnya ya^^

Hubungi segera Yahya 085608083342 (SMS/WA)