Tatalaksana Preklampsia di Faskes Primer

Berbicara tentang indikator kemajuan negara, saat ini kita mengenal Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih di bawah target. Salah satu penyebabnya adalah kejadian penyakit metabolik sebagai komplikasi kehamilan yang semakin lama semakin meningkat, salah satunya yaitu preeklamsia.

(Penulis) Rizqy Rahmatyah

Sebagai tenaga medis, kita mengenal pre-eklampsia sebagai bagian dari hipertensi pada kehamilan. Perlu kita bersama ingat bahwa preeklampsia/eklampsia merupakan penyebab kedua terbanyak kematian ibu setelah perdarahan. Prevalensi preeklampsia/eklampsia di negara berkembang (salah satunya Indonesia) jauh lebih tinggi dibandingkan di negara maju.1

Saat ini telah banyak pedoman klinis untuk diagnosis dan manajemen preeklampsia di pusat rujukan atau layanan kesehatan tersier, namun, berbeda cerita dengan pedoman untuk tatalaksana di faskes tingkat pertama (FKTP). Bagaimana cara penanganan preeklampsia di FKTP dan apa pentingnya? Mari simak artikel berikut untuk memahami lebih lanjut!

Tentang Preeklampsia

Preeklampsia adalah hipertensi yang disebabkan kehamilan dan terkait dengan peningkatan proteinuria (> 0,3 g dalam 24 jam) ± edema dan dapat mempengaruhi hampir semua sistem organ.4 Selain itu, preeklampsia menurut ACOG (2013) didefinisikan sebagai tekanan darah >140/90 mmHg dan ada minimal 1 dari gejala berikut:

  1. Protenuria : dipstick > +1 atau > 300 mg/24 jam
  2. Serum kreatinin > 1,1 mg/dL
  3. Edema paru
  4. Peningkatan fungsi hati > 2 kali
  5. Trombosit > 100.0000
  6. Nyeri kepala, nyeri epigastrium dan gangguan penglihatan

Berbeda dengan preeklampsia biasa, pre-eklampsia berat didefinisikan dengan beragam. Ada konsensus yang menerangkan bahwa hipertensi berat dikonfirmasi dengan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg pada dua kesempatan atau tekanan darah sistolik ≥ 170 mmHg pada dua kesempatan dan, proteinuria yang signifikan (1 g / liter).

Varian penting dari pre-eklampsia berat adalah sindrom HELLP (hemolisis, peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit yang rendah). Pada akhirnya, banyak gejala klinis yang cenderung subyektif, maka seorang wanita hamil harus mendapatkan tatalaksana menurut penilaian klinis yang cermat.

Mengapa Manajemen Preeklampsia di FKTP Penting?

Diagnosis dini preeklampsia di faskes layanan pertama diperlukan untuk memastikan kesejahteraan ibu dan janin. Berbeda dari wanita dengan preeklamsia berat, wanita hamil dengan preeklampsia sedang umumnya tidak memiliki gejala. Oleh karena itu, keterlambatan dalam diagnosis dan perawatan primer yang memadai, dan rujukan ke spesialis dapat menjadi faktor penting dari hasil yang merugikan bagi ibu dan janin.

Langkah awal yang paling penting dalam melakukan diagnosa preeklampsia dalam tingkatan FKTP adalah penilaian risiko. Penilaian dilakukan setelah usia kehamilan 20 minggu dengan cara mengidentifikasi mengenali tanda dan gejala termasuk kejadian hipertensi baru, proteinuria baru, gejala sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri epigastrium, muntah, berkurangnya pergerakan janin, dan ukuran bayi yang kecil untuk usia kehamilan, faktor-faktor di atas dapat membantu mengidentifikasi kasus berisiko tinggi untuk rujukan ke perawatan spesialis.

Catatan Penting: Penilaian resiko di tingkat FKTP dapat dilakukan melalui penilaian gerakan janin dan pengukuran janin dibandingkan usia kehamilan. Penilaian terutama dilakukan pada trimester kedua.

Tatalaksana Preeklamsia di Faskes Primer

Menurut PNPK Pre-eklamsia dari POGI (2016), tujuan utama dari manajemen ekspektatif adalah untuk memperbaiki luaran perinatal dengan mengurangi morbiditas neonatal serta memperpanjang usia kehamilan tanpa membahayakan ibu. Beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan di FKTP adalah sebagai berikut:

  1. Manajemen ekspektatif direkomendasikan pada kasus preeklampsia tanpa gejala berat dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan evaluasi maternal dan janin yang lebih ketat
  2. Perawatan poliklinis secara ketat dapat dilakukan pada kasus preeklampsia tanpa gejala berat.
  3. Evaluasi ketat yang dilakukan adalah:
    • Evaluasi gejala maternal dan gerakan janin setiap hari oleh pasien
    • Evaluasi tekanan darah 2 kali dalam seminggu secara poliklinis
    • Evaluasi jumlah trombosit dan fungsi liver setiap minggu
    • Evaluasi USG dan kesejahteraan janin secara berkala (dianjurkan 2 kali dalam seminggu)
    • Jika didapatkan tanda pertumbuhan janin terhambat, evaluasi menggunakan doppler velocimetry terhadap arteri umbilikal direkomendasikan

Berikut adalah bagan penatalaksanaan preeklamsia tanpa gejala berat

algoritma-tatalaksana-preeklampsia

Apakah Perlu Pasien Diberi Antihipertensi?

  1. Indikasi utama pemberian obat antihipertensi pada kehamilan adalah untuk keselamatan ibu dalam mencegah penyakit serebrovaskular.
  2. Antihipertensi direkomendasikan pada preeklampsia dengan hipertensi berat, atau tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau diastolik ≥ 110 mmHg. Target penurunan tekanan darah adalah sistolik < 160 mmHg dan diastolik < 110 mmHg.
  3. Pemberian antihipertensi pilihan pertama adalah nifedipin oral short acting, hidralazine dan labetalol parenteral. Nifedipin diberikan dengan regimen yang direkomendasikan adalah 10 mg kapsul oral, diulang tiap 15 – 30 menit, dengan dosis maksimum 30 mg.

Kapan Penggunaan Magnesium Sulfat?

Sejatinya, magnesium sulfat sudah digunakan untuk eklampsia di Eropa dan Amerika Serikat, sejak tahun 1920. Perlu dipahami bahwa tujuan utama pemberian magnesium sulfat pada preeklampsia adalah untuk mencegah dan mengurangi angka kejadian eklampsia, serta mengurangi morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal, namun cara kerja magnesium sulfat belum dapat dimengerti sepenuhnya.

Saat ini, pemberian magnesium sulfat tidak direkomendasikan untuk diberikan secara rutin ke seluruh pasien preeklampsia, jika tidak didapatkan gejala pemberatan. Bila telah ada perburukan gejala, maka merupakan indikasi untuk rujuk ke faskes layanan yang lebih tinggi. Perlu dipahami bahwa magnesium sulfat penting diberikan sebagai obat lini pertama eklampsia, bukan pada preeklampsia.

Penutup

Semua wanita yang pernah mengalami komplikasi hipertensi dalam kehamilan harus mendapatkan konseling postnatal mengenai kehamilan selanjutnya. Untuk wanita dengan hipertensi gestasional, risiko kekambuhan hipertensi pada kehamilan berikutnya adalah 16% -47% dan risiko preeklampsia adalah 2% -7%.

Untuk wanita dengan preeklamsia, risiko kekambuhan adalah 16% jika mereka melahirkan pada saat aterm, 25% jika mereka melahirkan sebelum 34 minggu, dan 55% jika mereka melahirkan sebelum 28 minggu.

Wanita-wanita ini harus disarankan untuk memeriksakan diri di awal kehamilan berikutnya atas pertimbangan pemberian aspirin dosis rendah sebagai profilaksis terhadap preeklampsia. Mereka juga harus lebih sering memantau tekanan darah dan dipstik urin selama kehamilan.

Wanita yang menggunakan terapi antihipertensi jangka panjang harus dinasihati untuk menstabilkan tekanan darah menggunakan obat yang aman digunakan pada trimester pertama, sebelum mengupayakan untuk hamil. (TYA)


Sponsored Content

buku-curretage-obgyn

Buku Current Update in Obstetric and Gynecology Emergency (Bhs Indonesia)

Tenang aja meskipun judulnya bahasa inggris, tapi isinya bahasa Indonesia semua kok.

Penulisnya pun konsulen Obsgyn di Surabaya. Jadi dijamin isinya aplikatif banget.

Banyak diagram dan tabel-tabel pentingnya, yang bikin kamu mudah mengaplikasikan ilmu di bukunya.

Harganya 156 ribu

Untuk pemesanan dan tanya-tanya info daftar isi dsb, kamu bisa langsung kontak Yahya WA aja ke 085608083342

Semoga Bermanfaat^^


REFERENSI

  1. Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 2016. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran, Diagnosis dan Tata Laksana Pre-eklamsia.
  2. Milne F, Redman C, Walker J, Baker P, Black R, Blincowe J, et al. Assessing the onset of pre-eclampsia in the hospital day unit: Summary of the pre-eclampsia guideline (PRECOG II) BMJ. 2009;339:b3129.
  3. Milne F, Redman C, Walker J, Baker P, Bradley J, Cooper C, et al. The pre-eclampsia community guideline (PRECOG): How to screen for and detect onset of pre-eclampsia in the community. BMJ. 2005;330:576–80.
  4. Douglas KA, Redman CW. Eclampsia in the United Kingdom. BMJ 1994;309:1395–400.
  5. Bramham K, Nelson-Piercy C, Brown MJ, Chappell LC. Manajemen hipertensi postpartum. BMJ. 2013; 346: f894