Tatalaksana Pasien Perdarahan Akut di IGD

Pasien perdarahan akut sering kali memerlukan terapi cairan atau transfusi darah begitu sampai di IGD. Perburukan klinis yang berlangsung cepat membuat pasien rentan jatuh dalam kondisi syok.

Begitu pasien sudah cukup stabil secara hemodinamik, selanjutnya segera dapat dipikirkan work up lanjutan. Mencari diagnosis spesifik pasien untuk memberikan terapi secara spesifik pula.

Tatalaksana Umum Perdarahan Akut

Beberapa hal yang paling ditakutkan pada pasien perdarahan akut adalah syok dan anemia. Sehingga, strategi paling logis adalah meastikan kondisi hemodinamik pasien stabil sebelum berlanjut pada terapi yang lebih spesifik.

Pendekatan tatalaksana umum perdarahan akut sedikit banyak mengadopsi dari prinsip ABCD (Airway, Breathing, Circulation, Disability). Tatalaksana umum perdarahan akut di IGD meliputi

  1. Hindari trauma yang dapat menyebabkan perdarahan, misalnya injeksi intramuskular, pungsi arteri, penggunaan OAINS (termasuk aspirin), bila akan dipasang CVP, hindari pemasangan melalui v.subklavia, lebih baik melalui v.jugularis interna,
  2. Perhatikan kemungkinan timbulnya perdarahan di kulit, mukosa atau fundus okuli,
  3. Perbaiki hemodinamik, kalau perlu lakukan transfusi darah (baca pedoman transfusi darah)

Begitu hemodinamik stabil, selanjutnya dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Kamu dapat mengacu pada artikel sebelumnya yang menjelaskan diagnosis klinis perdarahan akut.

Tatalaksana Spesifik Perdarahan Akut

Tatalaksana spesifik diberikan bila diagnosis klinis spesifik telah ditagakkan. Beberapa tearpi spesfik keluhan perdarahan akut adalah

1. Kelainan Koagulasi

Terapi perdarahan akut karena kelainan koagulasi adalah

  1. Fresh Frozen Plasma (FFP), diberikan pada DIC akut dengan perdarahan, gagal hati dekompensata, perdarahan akibat waferin. Berikan FFP 25 ml/kgBB, hati-hati kelebihan beban cairan, kalau perlu dapat diberikan furosemid,
  • Vitamin K (fitomenadion), 5-10 mg IV, perlahan-lahan, selama 3-4 hari, bila diduga defisiensii vitamin K,
  • Protemin sulfat,1 mg IV dapat menetralkan 100 U heparin, dalam praktek jarang diperlukan, karena dengan menghentikan heparin, APTT akan kembali normal dalam 2-4 jam,
  • Faktor pembekuan, untuk terapi defisiensi faktor pembekuan, misalnya hemofilia
  • Antifibrinolitik (asam traneksamat), diberikan pada per-darahan pasca terapi trombolitik, atau operasi besar atau hiper-plasminemia.

2. Peradrahan pada Terapi Warfarin

Terapi perdarahan akut karena efek samping terapi warfarin adalah

  1. Bila INR 5-8, tanpa perdarahan, stop warfarin dan tidak dibutuhkan terapi spesifik lainnya,
  • Bila INR 8-12 dan tanpa perdarahan, stop warfarin dan berikan vit K (fitomenadion) 2 mg IV, ulangi INR 1 hari kemudian. Bila INR < 5, warfarin dapat dimulai lagi,
  • Bila INR > 12 dan tanpa perdarahan, stop warfarin dan berikan vit K (fitomenadion) 2 mg IV, ulangi INR 1 hari kemudian. Bila INR < 5, warfarin dapat dimulai lagi,
  • Bila terdapat perdarahan akibat warfarin, berikan Prothromin complex concentrate (berisi faktor pembekuan II, VII, IX dan X) dan vitamin K 5-10 mg IV. Bila tidak terdapat faktor pembekuan dapat diberikan FFP 15 ml/kgBB

3. Peradrahan Akibat Heparin

Terapi perdarahan akut karena heoarin adalah

  1. Stop heparin, APTT akan kembali normal dalam 3-4 jam,
  • Protamin sulfat, 1 mg dapat menetralisir 100 U heparin, dalam praktek jarang dibutuhkan
  • Pada trombositopenia akibat heparin, transfusi trombosit tidak boleh diberikan (kontraindikasi)

4. Perdarahan Akibat Terapi Fibrinolitik

Terapi perdarahan akut karena terapi fibrinolitik adalah

  1. Terapi suportif (koloid atau transfusi darah)
  • Kriopresipitat atau konsentrat fibrinogen
  • Asam traneksamat 0,5-1 gram, IV perlahan-lahan

5. Kelainan Trombotik

  1. Pada ITP, berikan prednison 1 mg/kgBB selama 2-4 minggu, kemudian diturunkan, atau IVIG 0,4 gr/kgBB/hari, pre-drip IV perlahan-lahan, selama 5 hari.
  2. Pada trombositopenia kronik yan stabil, bila tidak ada perdarahan transfusi trombosit hanya dilakukan bila jumlah trombosit < 10.000/ml.
  3. Operasi, trombosit dipertahankan pada jumlah > 50.000/ ml, sedang pada penderita yang akan dilakukan operasi pada Susunan Saraf Pusat atau trauma multipel, trombosit dipertahankan pada jumlah > 100.000/ml.

6. Koagulasi Intravaskular \diseminata (KID, DIC)

Terapi perdarahan akut karena DIC adalah

  1. Terapi penyakit dasar (bila memungkinkan),
  2. Atasi syok, hipoksia dan asidosis
  3. Terapi pengganti :
  • Traspusi packed red cells untuk mengkoreksi anemia
  • Fres Frozen Plasma,, 15 mg/kgBB, bila pT atau APTT > 1,5 x kontrol,
  • Transfusi trombosit bila jumlah trombosit < 50.000/ml
  • Kriopresipitat 10-15 U atau konsentrat fibrinogen, bila kadar fibrinogen < 50 g/dl
  1. Heparinisasi, bila didapatkan DIC yang cepat atau disertai trombosis mikrovaskular (insufisiensi ginjal, nekrosis kulit pada sepsis, purpura fulminan). Berikan drip heparin 300-500 U/jam, evaluasi respons klinis dan perdarahan; target APTT 1,5-2,5 x kontrol
  2. AT III atau activated protein C dapat dipertimbangkan pada DIC dengan sepsis berat dan kegagalan multiorgan, dengan kadar AT III < 70%.

7. Perdarahan Pada Penyakit Hati

Terapi perdarahan akut karena penyakit hati adalah

  1. Vitamin K 10 mg, IV perlahan-lahan, dosis tunggal,
  • Fresh Frozen Plasma
  • Prothrombin complex xonxentrate (berisi faktor pembekuan II, VII, IX dan X) bila perdarahan mengancam nyawa

8. Perdarahan Pada Uremia

Terapi perdarahan akut karena uremia adalah

  1. Hemodialisis
  • Kriopresipitat
  • Desmopresin
  • Eritropoetin, untuk meningkatkan Hb dan Ht

Perdarahan akut harus segera ditangani dengan tatalaksana umum perdarahan. Begitu hemodinamik stabil, pasien perlu mendapatkan workup untuk mengetahui diagnosis spesifik.

Diagnosis dan terapi diagnosis spesifik pasien dengan perdarahan akut secara lebih detail dapat kamu baca di EIMED BIRU PAPDI.

Semoga Bermanfaat^^


=

Sponsored Content

EIMED Merah adalah buku yang banyak direkomendasikan sebagai pegangan Dokter Umum di Instalasi Gawat Darurat. Buku ini adalah dasar untuk mempelajari buku EIMED Biru.

Buku ini membahas kasus gawat darurat secara mendasar berdasar keluhan utama.

Bayangkan ketika anda jaga IGD, pasien akan datang dengan keluhan utama (misal muntah, hematemesis-melena, penurunan kesadaran) atau dengan diagnosis spesifik (mis ketoasidosis diabetes, perforasi gaster, stroke perdarahan) ?

Betul, pasien datang dengan keluhan utama. Seperti itulah sistematika penulisan EIMED MERAH. Jadi kamu akan diajak untuk

  1. Menganalisis kasus berdasar keluhan utama
  2. Menganalisis diagnosis spesifik,
  • Apa saja anamenesis yang ditanyakan?
  • Apa saja pemeriksaan klinis yang harus dilakukan?
  • Apa saja pemeriksaan penunjang yang akan diusulkan?
  • Terapi umum untuk stabilisasi pasien, sembari melakukan work up untuk mencari diagnosis spesifik

Salah satu topik favorit di EIMED MERAH adalah kegawatdaruratan kardiologi (EMERGENCY CARDIO).

Seperti kita ketahui bersama, 9 dari 10 pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan henti jantung akan meninggal. Hanya 1 pasien yang hidup, yakni pasien yang mendapatkan cardiac life support yang bagus.

Kegawatdaruratan bidang kardiologi yang dengan angka mortalitas tinggi adalah henti jantung dan arritmia (bradiaritmia dan takiaritmia). Upaya terbaik untuk mencegah kematian pasien yang berada dalam kondisi tersebut adalah melakukan adult cardiac life support, yang dibahas secara mendalam di BUKU EIMED MERAH.

Berita baiknya, setiap pemesanan EIMED MERAH via DokterPost.com kamu akan mendapatkan bonus DVD EMERGENCY CARDIO (senilai 156 ribu)

Mau Pesan EIMED MERAH?

Kamu bisa langsung inbox admin

Bisa juga SMS/WA 0856 0808 3342 (YAHYA) atau 0857 3130 6999 (ANISA)