Tatalaksana Infeksi Saluran Kemih dengan Pendekatan Evidence Based Medicine

Artikel kali ini aku tulis kembali, dari komentar dr Rizky Perdana, SpPD-KPTI di Page Dokter Post. Atas seizin beliau, aku edit untuk menyesuaikan dengan format DokterPost.com

=

Tatalaksana Infeksi Saluran Kemih dengan Pendekatan Evidence Based Medicine

Seorang laki laki yang berusia 52 tahun, mengeluh nyeri saat BAK disertai dengan badan yang demam selama 2 hari. Pemeriksaan fisik ; tampak sakit, tekanan darahnya normal, nadi 115 x/menit, pernafasan (RR) 16 x/menit dan Temp 39 C Tidak ada nyeri tekan pada sudut kostovertebral dan hanya nyeri tekan suprapubik namun kondisi bladder tidak full blast. Tidak ada riwayat DM dan Hipertensi..

Pertanyaannya, apakah pasien ini memerlukan antibiotika ?

Pertama saya dapat jurnal nya tentang usia penderita :

  1. Mellors J.W., Horwitz R.I., Harvey M.R., Horwitz S.M.: A simple index to identify occult bacterial infection in adults with acute unexplained fever. Arch Intern Med 1987; 147:666-671. (Link Jurnal)
  2. Leibovici L., Cohen O., Wysenbeek A.J.: Occult bacterial infection in adults with unexplained fever: validation of a diagnostic index. Arch Intern Med 1990; 150:1270-1272. (Link Jurnal

Disebutkan bahwa hati-hati bila usia 50 tahun ke atas dengan demam, resiko terjadinya bakteremia sekitar 1,4 kali (LR +1,4) bila tidak mendapat pengobatan yang maksimal.

Kedua saya juga dapat info tentang Temperature dari jurnal :
3. Pfitzenmeyer P., Decrey H., Auckenthaler R., Michel J.P.: Predicting bacteremia in older patients. J Am Geriatr Soc 1995; 43:230-235.Link Jurnal
4. Nakamura T., Takahashi O., Matsui K., et al: Clinical prediction rules for bacteremia and in-hospital death based on clinical data at the time of blood withdrawal for culture: an evaluation of their development and use. J Eval Clin Pract 2006; 12(6):692-703.Link Jurnal

Bahwa temperatur di atas 37,5 C, resiko mendapatkan bakteremia sebesar 1,2 kali (LR+1,2) bila tidak mendapat pengobatan yang maksimal

Ketiga saya menilai nadi nya berdasarkan jurnal berikut ini :
5. Parker M.M., Shelhamer J.H., Natanson C., et al: Serial cardiovascular variables in survivors and nonsurvivors of human septic shock: heart rate as an early predictor of prognosis. Crit Care Med 1987; 15(10):923-929. (Link Jurnal)
6. Deakin C.D., Low J.L.: Accuracy of the advanced trauma life support guidelines for predicting systolic blood pressure using carotid, femoral, and radial pulses: observation study. BMJ 2000; 321:673-674. (Link Jurnal)

Bahwa pada pasien infeksi dengan nadi lebih dari 100 x/menit, mempunyai resiko mengalami syok hipovolemia sebesar 1,3 kali (LR +1,3).bila infeksi nya tidak di atasi dengan baik.

Keempat saya pun mencari evidence based berdasarkan keluhan pasien yaitu Dysuria, dan saya pun mendapatkan jurnalnya :
7. Foxman B, Barlow R. D’Arey. H. Gillespie. B. Sobel JD. Urinary Tract Infection, self reported incidence and associated cost. Ann Epidemiol 2000:10:509-15 (Link Jurnal)
8. Csaja CA, Scholes D, Hooton TM, Stamm WE. Population based epidemiologic analysis of acute pyelonephritis. Clin Infect Dis. 2007;45;273-80 (Link Jurnal)

Berdasarkan jurnal tersebut, adanya keluhan dysuria itu merupakan tanda dari adanya Infeksi Saluran Kencing (ISK) sebesar 1,5 kali (LR+1,5) dibandingkan 0,5 kali (LR-0,5) yang bukan dari tanda infeksi.

Dengan demikian saya melihat adanya resiko terjadi nya bakteremia dan syok hipovolemia pada pasien orang tua tersebut sangat tinggi sekali bila infeksi saluran kencing nya tidak diberikan antibiotika. Maka saya pun memutuskan untuk memberikan obat antibiotika pada pasien yg sudah berumur itu.

Pemilihan antibiotikanya, saya merujuk pada buku Guideline Antibiotic Essentials 2015 dari Cunha bahwa pasien dengan ISK terkait dysuria, maka pilihannya adalah Levofloxacin 500 mg sekali sehari selama 7 hari.

Semoga bermanfaat


=

Sponsored Content

"Resep Sukses Berkarier: Amati, Tiru, Modifikasi" (Anonim)

Saya lupa ungkapan itu diucapkan pertama kali oleh siapa, tapi saya sangat menyadari bahwa ungkapan tersebut benar adanya. Beberapa konsulen pernah bercerita bahwa, salah satu "resep" sukses praktek adalah "rajin ngintip resep senior".

Bagaimana pun, dokter senior adalah sumber ilmu yang sangat berharga. Akumulasi jam belajar, jam praktek dan pengalaman klinis yang sudah matang, adalah keunggulan kompetitif yang tidak bisa dipungkiri.

Apa yang bisa dilakukan dokter junior?

Intip Resep Senior, Aplikasikan dan Modifikasi seiring bertambahnya pengalaman klinis.

Senior-senior kita para konsulen PAPDI sudah dengan senang hati membagikan resep-resep rekomendasi mereka dalam BUKU PANDUAN PRAKTIK KLINIS PENATALAKSANAAN. Jadi, kita dibebaskan untuk "ngintip legal" Lho!!!

Terima Kasih, para Senior PAPDI. Semoga menjadi ilmu bermanfaat yang jadi Amal Sholeh di Surga kelak. Amien.

Buku setebal 1000 halaman dengan berat 2,3 kg ini mungkin bisa jadi solusi yang pas buat kamu. Berisi pedoman diagnosis terapi yang paling lengkap saat ini terkait kasus-kasus medik (Penyakit Dalam, Jantung dan Paru).

Buku ini akan memberikan sejawat pengetahuan dasar yang lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan klinis sehari-hari: diagnosis-nya apa, terapi-nya apa, prognosisnya bagaimana?

Info tambahan, Buku PPK Penatalaksanan PAPDI ini juga banyak dicari dokter manajer Rumah Sakit sebagai referensi menyusun Panduan Praktik Klinis internal di Rumah Sakit dalam menghadapi Akreditasi versi KARS 2012.

Harganya 499 ribu, belum termasuk Ongkos Kirim.

Jika kamu belum punya, segera saja SMS/WA 085608083342 (Yahya) untuk pemesanan^^