Tatalaksana Gagal Ginjal Akut dengan Penurunan Kesadaran

Tadi pagi, di Group WA Diskusi Kasus Klinis (dr Gusti, SpPD), dr Anita menanyakan tentang sebuah kasus. Pasien penurunan kesadaran dengan kecurigaan hipoglikemia, diterapi D40 gula darah membaik namun kesadaran tetap.

"Share kasus.. sy pernah dpt pasien umur 63thn perempuan masuk IGD dgn kesadaran menurun GCS 3, menurut keterangan keluarga sdh 1 hari tdk sadar dirmh. Riwayat penyakit DM berobat tdk teratur, HT disangkal. TD : 120/80. Pemfis : terdapat ronkhi (+/+). Pitting edema (+). Ureum : 256, kreatinin : 3,4. GDS : 92. Penyebab penurunan kesadaranx apa ya? Awalx sy kira hipoglikemix, jd sy memberikan D40 1flakon. Lanjut D10 20tts. 1jam berikutx cek GDS sdh naik 120, tp pasien msh tdk sadar." Curhat dr Anita di Group.

Baik, mari kita perhatikan beberapa indikator klinis abnormal. Kalau dari nilai GCS (3) jelas bahwa pasien mengalami penurunan kesadaran. Kemudian ronkhi di paru mengindikasikan kemungkinan pasien sudah jatuh pada kondisi edema paru akut. Pasien ini juga mengalami gangguan fungsi ginjal. Hal tersebut didukung dengan hasil tes ureum 256 dan kadar kreatinin 3,4. Kadar gula darah mulai menurun meskipun belum bisa dikatakan hipoglikemia.

Tatalaksana Ginjal Akut dengan Penurunan Kesadaran

Jadi, apa penyebab penurunan kesadaran pada kasus ini?

Dokter Gusti, SpPD menjelaskan dengan gamblang analisis kasus ini dan bagaimana terapi yang bisa diberikan.

"Kalau kasus ini salah satu sumber penurunan kesadarannya adalah si uremikum-nya. Kalau BUN > 100 maka itu juga sudah salah satu indikasi HD cito bila kita sudah gagal untuk konservatif."

"Maksudnya begini, pasien hanya mual muntah saja dengan BUN > 100 maka pikirkan HD cito. Namun, faktor-faktor prerenal harus sudah kita singkirkan."

"Misalnya pasien dengan dehidrasi lama dan tidak ada produksi urine maka segera rehidrasi dulu sampai status hidrasi tercukupi. Bila masih belum ada produksi urine maka bisa kita lakukan forced diuresis. Bila dalam 6 jam urine tidak keluar maka putuskan untuk HD."

"Kasus ini bisa saja hanya GGA atau Acute on Chronic Renal Failure. Tapi kembali ke kaidah-kaidah awal bahwa tindakan saat ini tetap dilakukan HD cito."

Selanjutnya, dr Gusti juga menjelaskan tentang beberapa teknik forced diuresis yang banyak dipakai oleh dokter-dokter senior:

  1. Bolus Furosemide 1 amp, 1 jam urine tidak keluar ulang 2 amp dan seterusnya
  2. Drip Furosemide dalam syringe pump mulai dari 5 mg/jam di up titrasi tiap 5 mg (5, 10, 15, 20, 25 dst).

Perlu diperrhatikan bahwa dosis maksimal furosemide adalah 1000 mg atau sudah terjadi efek samping yaitu tinnitus.

"Meskipun dalam beberapa kepustakaan pemberian furosemide pada GGA juga tidak memperbaiki apapun (ada beberapa kontroversi). Tapi kalau (pendapat) saya, selama batas dosis tidak terlewati atau belum ada efek samping maka tidak ada salahnya (furosemide) dicoba. Tapi ini debatable. Daripada kita diam gigit jari maka pilih mana?" Lanjut dr Gusti, SpPD

Kegawatdaruratan Ensefalopati Uremik

Ensefalopati Uremik dapat terjadi pada 20% pasien Gagal Ginjal Akut yang dirawat di unit intensif (ICU), sedangkan ada PGK lebih jarang, dan sering tidak berkaitan dengan tingginya konsentrasi ureum. Gangguan kognitif pada pasien PGK dengan hemodialisis dapat terjadi pada 30% pasien dimana 10% nya mengalami gangguan yang berat. Tatalaksana ensefalopati uremik ini dijelaskan secara gamblang di EIMED BIRU PAPDI.

Manifestasi Ensefalopati Uremik (EU) ini berupa gangguan mental atau gangguan motorik, pada yang berat dapat berakibat kematian. Dalam tabel dibawah ini dapat dilihat berbagai tingkat manifestasi klinik EU.

Manifestasi EU yang berat terutama terjadi pada pasien yang belum menjalani dialisis. Selain itu keadaan depresi, rasa cemas, keinginan untuk bunuh diri sering tak terdiagnosis dan berkaitan dengan keadaan metabolik, malnutrisi buruk, rasa takut untuk menghadapi dialisis dan kematian.

Tatalaksana Ensefalopati Uremik yang utama adalah HD Cito. Selain memulai hemodialisis segera, diperlukan juga diet rendah protein untuk mengurangi peningkatan ureum dan toksin uremik. Setelah keadaan stabil dapat dilakukan perubahan diet dan dialisis yang seusai dengan keadaan saat itu.


=
Sponsored Content

Anda Seorang Internis?? PPDS Interna?? atau Dokter Umum di IGD???

Buku EIMED BIRU (Emergency in Internal Medicine Advance) adalah buku yang anda butuhkan.

Buku Seberat 1,3 kg ini berisi puluhan topik kegawatdaruratan spesifik di bidang penyakit dalam

  1. Kegawatdaruratan Sidroma Koroner Akut
  2. Kegawatdaruratan Pneumonia (CAP, HAP dan VAP)
  3. Kegawatdaruratan Krisis Hiperglikemia (KAD dan HONK)
  4. Kegawatdaruratan Sepsis
  5. Kegawatdaruratan Infeksi Virus Dengue
  6. Kegawatdaruratan Penyakit Ginjal Kronik
  7. dan Puluhan Topik Kegawatdaruratan Spesifik yang lain

Jika anda sudah membaca EIMED MERAH (Emergency in Internal Medicine Basic), melengkap kompetensi anda dengan EIMED BIRU adalah pilihan cerdas di era BPJS dan MEA seperti saat ini.

Harga Buku EIMED BIRU Rp 399.000,00,

Jadi Tunggu Apalagi, segera pesan buku EIMED BIRU melalui SMS/WA ke 085608083342 (Yahya)