Tatalaksana Fraktur Tulang

Trauma benda tumpul pada sistem muskuloskeletal dapat menimbulkan fraktur pada tulang. Kondisi fraktur terutama fraktur terbuka mungkin nampak mengerikan namun sebenarnya tidak mengancam nyawa secara langsung, kecuali pada kondisi fraktur tulang panjang dengan perdarahan hebat. Walaupun begitu, kondisi fraktur harus didiagnosis dan diterapi dengan tepat untuk mencegah disabilitas dan komplikasi jangka panjang.

Tatalaksana Fraktur Tulang

Saat menemukan pasien trauma, pertama kali yang harus dilakukan adalah melakukan primary survey dengan memastikan masalah ABCDE teratasi. Setelah airway dan breathing diatasi, bila terdapat fraktur kemungkinan terdapat laserasi jaringan yang terbuka sehingga dapat menimbulkan perdarahan, maka langkah awal yang dilakukan adalah mengontrol perdarahan dengan penekanan pada lokasi perdarahan.

Pembidaian sementara dapat dilakukan untuk mengurangi perdarahan karena dapat mengurangi pergerakan dan memberikan efek tamponade pada otot. Bila fraktur terbuka, berikan penekanan pada luka dengan kassa steril. Berikan resusitasi cairan sesuai kebutuhan. Bila layanan kesehatan mempunyai fasilitas radiologi, dapat dilakukan foto X ray jika fraktur dicurigai sebagai penyebab syok.
Promo-Mahir-Terapi-Cairan-001-1

Selanjutnya dilakukan secondary survey dengan menanyakan mekanisme dari kecelakaan, keadaan lingkungan, faktor predisposisi, serta pertolongan pertama apa saja yang telah dilakukan sebelum di bawa ke fasilitas kesehatan. Untuk mengetahui biomekanisme dari trauma perlu ditanyakan beberapa hal, misalnya pada kecelakaan kendaraan roda empat dimana posisi pasien, kursi pengemudi atau kursi penumpang, apakah memakai sabuk pengaman, lalu terbentur pada bagian apa. Keadaan lingkungan ditanyakan untuk mengetahui adanya kemungkinan sumber kontaminasi bakteri pada luka.

Keluhan yang dapat muncul pada pasien dengan fraktur adalah adanya nyeri, pergerakan yang sulit atau terbatas, bengkak, bentuk yang berubah, perubahan warna, gangguan perabaan, kelemahan otot, atau terdapat patahan luka terbuka. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, seluruh pakaian dilepas agar dapat memeriksa dengan seksama.

Pemeriksaan Fisik Pada Fraktur Tulang

Pertama lakukan inspeksi pada luka, apakah terdapat luka terbuka, apakah ada bagian tulang yang keluar, bagaimana warna kulit, perfusi, bentuk luka, adanya deformitas berupa angulasi atau pemendekan, apakah ada bengkak dan diskolorasi atau lebam.

Palpasi dilakukan untuk mengidentifikasi adanya nyeri, kaku, bengkak, deformitas, atau adanya sensasi perabaan yang berkurang. Krepitasi dapat ditemukan, namun tidak direkomendasikan untuk secara sengaja mencari krepitasi. Lakukan palpasi pulsasi arteri distal setiap ekstremitas dan periksa capillary refill time dari jari-jari.

Pasien diminta menggerakkan ekstremitas, adanya pergerakan yang salah (false movement) menunjukkan adanya fraktur. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang berupa foto Xray. Pada ekstremitas minimal dilakukan Xray dari dua posisi yaitu AP dan lateral.

fracture-xray

Fraktur Tulang Terbuka

Fraktur terbuka adalah fraktur yang terdapat hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri dan dapat menimbulkan komplikasi infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi tiga kelompok, fraktur grade I merupakan fraktur terbuka dengan luka di kulit kurang dari 1 cm dan bersih, kerusakan jaringan minimal, jenis fraktur simple atau oblique dan sedikit kominutif.

Fraktur grade II adalah fraktur dengan luka robek lebih dari 1 cm tanpa ada kerusakan jaringan lunak, didapatkan kontusio avulsi yang luas serta fraktur kominutif sedang dengan kontaminasi sedang. Sedangkan fraktur grade III adalah fraktur terbuka segmental, atau kerusakan jaringan lunak yang luas atau amputasi traumatik. Derajat kontaminasinya berat dan biasa terjadi pada trauma kecepatan tinggi.

Fraktur terbuka grade III dibagi lagi menjadi tiga, IIIa yaitu fraktur segmental atau sangat kominutif namun penutupan tulang dengan jaringan lunak cukup adekuat. Fraktur terbuka IIIb bila trauma sangat berat atau kehilangan jaringan lunak yang cukup luas, terkelupasnya daerah periosteum dan tulang tampak terbuka, serta adanya kontaminasi yang cukup berat. Sedangkan fraktur terbuka grade IIIc adalah fraktur dengan kerusakan pembuluh darah.

Tatalaksana dari fraktur terbuka setelah melakukan stabilisasi ABCDE adalah dengan imobilisasi yang sesuai dengan lokasi fraktur. Beri suntikan anti tetanus sebagai profilaksis dengan dosis 250 U tetanus imunoglobulin. Semua pasien dengan fraktur terbuka harus diberikan antibiotik intravena sesegera mungkin.

Saat ini cephalosporin generasi pertama diberikan pada semua pasien fraktur terbuka dan aminoglikosida atau antibiotik untuk bakteri gram negatif lainnya dapat diberikan pada luka yang lebih berat. Antibiotik diberikan setelah berkonsultasi dengan ahli bedah.

Fraktur Tulang Tertutup

Pada fraktur tertutup penatalaksanaan awal tetap sama yaitu stabilisasi ABCDE, kemudian lakukan imobilisasi pada lokasi fraktur. Imobilisasi dengan pembidaian dapat dilakukan pada secondary survey kecuali bila luka tersebut mengancam nyawa.

Namun, setiap fraktur harus diimobilisasi sebelum transportasi pasien. Selalu evaluasi status neurovaskular dari ekstremitas setelah melakukan reduksi dan pembidaian.

Fraktur femur diimobilisasi sementara dengan menggunakan skin traction. Sedangkan pada jejas di daerah lutut, dapat diimobilisasi dengan long-plaster splint dengan posisi lutut fleksi sekitar 10 derajat untuk mengurangi tekanan pada struktur neurovaskular.

Fraktur pada tibia dan ankle dapat diimobilisasi dengan bidai yang diberi padding pada tonjolan tulang untuk mencegah penekanan. Jika terdapat fraktur pada ekstremitas atas, splinting dilakukan pada posisi anatomis fungsional dari tangan, yaitu pergelangan tangan yang sedikit dorsofleksi, dan jari-jari di posisi fleksi 45 derajat pada sendi metacarpophalangeal. Pada lengan bawah dan pergelangan tangan dapat dilakukan pemasangan bidai dengan padding, sedangkan pada siku posisi imobilisasinya adalah fleksi dengan bidai maupun armsling.

Analgesik diindikasikan pada fraktur walaupun dengan imobilisasi yang baik maka nyeri secara signifikan akan berkurang. Narkotik dapat diberikan dengan dosis kecil intravena dan dapat diulangi bila diperlukan. Namun hati-hati dalam pemberian analgesik, pelemas otot atau sedatif karena dapat menimbulkan efek depresi nafas.

Setelah dilakukan penatalaksanaan sementara, pasien perlu dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap untuk dapat dilakukan tindakan definitif bila diperlukan. (alv)

Semoga Bermanfaat^^


Buku paling dicari dokter puskesmas, IGD dan Klinik Pratama dari aceh-papua ini sudah mau terbit lagi. Versi update tahun 2018 "BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER"

cover-155-Diagnosis-Terapi-Faskes-Primer

Suah di pesan 1500++ dokter pada masa pre-order kemarin

Harganya 199 ribu.

Tanggal 18 April 2018 buku sudah ready. Buat kamu yang sudah pre-order, buku akan dikirim segera setelah ready.

Kalau kamu belum pre-order kemarin, isi form waiting list supaya kamu nggak ketinggalan info rilisnya => FORM WAITING LIST BUKU 155 DIAGNOSIS DAN TERAPI FASKES PRIMER

Jangan sampai nggak kebagian kayak kemarin^^