TATALAKSANA FRAKTUR RADIUS DI FKTP

Familiar, kata yang tepat untuk menghubungkan antara patah tulang dan unit gawat darurat. Patah tulang terutama bagian ekstremitas adalah salah satu kasus yang paling sering ditemukan di unit gawat darurat. Patah tulang, atau yang dalam bahasa medis disebut fraktur, merupakan kompetensi dokter umum untuk melakukan tatalaksana awal sebelum melakukan rujukan ke spesialis ortopedi dan traumatologi.

(Penulis) Rizki Nur Rachman Putra Gofur

Tatalaksana awal yang baik, di FKTP, akan memberikan prognosis yang baik pula pada pasien, selain itu juga dapat menghindarkan pasien dari komplikasi yang dapat menyebabkan kecacacatan permanen. Dokter harus bisa memberikan edukasi yang cukup sehingga pasien tidak mencari alternatif pengobatan di tempat lain.

Dokter umum adalah profesi yang mampu dan kompeten untuk melakukan tatalaksana awal pada fraktur. Edukasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan pasien mencari alternatif lain seperti dukun pijat tulang dan dari banyak kasus yang telah terdokumentasi, telah menyebabkan kecacatan permanen hingga amputasi. Untuk itu, artikel ini akan membahas tatalaksana fraktur radius beserta etiologic, patofisiologi, diagnosis serta terapi yang perlu dilakukan oleh dokter umum.

Tatalaksana Fraktur Radius di FKTP

Fraktur radius terutama yang terjadi pada bagian distal dari radius merupakan salah satu kasus trauma yang paling sering ditemukan di kasus ortopedi. Fraktur radius mengisi 8%-15% dari kasus fraktur pada orang dewasa.

Penyebab fraktur tidak hanya trauma, fraktur dapat disebabkan oleh beberapa sebab lain. Sebab-sebab dari fraktur yang mungkin terjadi adalah:

  • Fraktur yang disebabkan oleh trauma: fraktur yang disebabkan oleh gaya yang besar dan mendadak pada tulang dan area sekitar. Gaya yang terjadi dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Pada gaya langsung jaringan yang terdapat di sekitar tulang dapat ikut rusak, sementara pada gaya tidak langsung gaya terjadi bukan di area yang terdapat fraktur.
  • Stress fracture atau fatigue fracture: fraktur yang terjadi akibat tekanan berulang. Tulang akan retak kemudian fraktur dapat terjadi.
  • Fraktur patologis: fraktur yang terjadi akibat kondisi patologis pada tulang seperti osteoporosis.

Fraktur pada Proksimal Radius

  • Terjadi saat terjatuh pada lengan bawah yang terulur, dengan siku yang ekstensi, dan pronasi pada tangan
  • Pasien mengeluh terdapat nyeri dan rasa panas di bagian proksimal dari radius
  • Jika terdapat mesin x-ray dapat, fraktur pada dewasa biasanya menunjukan patahan vertikal atau marginal pada kepala radius, pada kasus yang jarang patahan transversal pada radial neck dapat terjadi. Patah dapat berbentuk kominutif atau hancur.
  • Pada anak-anak, fraktur biasa terjadi pada radial neck dengan patahan mengarah ke frontal atau dorsal.
  • Tatalaksana yang dapat dilakukan adalah stabilisasi, lakukan primary survey dan secondary survey.
  • Pada anak-anak jika pergeseran radial head kurang dari 30 derajat dan pergeseran transversal dari radial head kurang dari 3 mm, fraktur ini dapat dirawat secara konservatif. Jika lebih, reduksi harus dilakukan oleh spesialis ortopedi. Setelah itu tangan akan difleksikan 90 derajat dan dipertahankan selama 1-2 minggu
  • Pada dewasa jika terjadi undisplaced fracture pada radial head atau fraktur tanpa pergesaran, terapi dilakukan dengan memberikan sanggahan menggunakan collar pada siku. Fraktur lain pada dewasa harus dirujuk ke spesialis ortopedi.
  • Komplikasi yang dapat terjadi adalah kekakuan pada sendi baik radioulnar dan siku, serta instabilitas yang didapatkan pada sendi siku.

Fraktur Galezzi

fraktur-gallezi-1

  • Definisi: merupakan fraktur pada sepertiga distal radius yang disertai dengan dislokasi atau subluksasi dari sendi radioulnar.
  • Penonjolan pada sepertiga distal dari radius, penting untuk dilakukan pemeriksaan nervus ulnaris karena umumnya dapat terluka akibat fraktur ini.
  • Pada pemeriksaan X-ray fraktur cukup jelas ditemukan pada sepertiga radial, poin yang harus diperhatikan adalah melakukan pengecekan sendi radioulnar untuk mencari adanya dislokasi dan subluksasi
  • Tatalaksan yang dapat dilakukan adalah melakukan imobilisasi dengan splint agar tidak terjadi pergeseran pada tulang dan melukai jaringan sekitar. Terapi harus dilakukan oleh spesialis ortopedi dengan melakukan reduksi tertutup (umumnya pada anak) dan reduksi terbuka pada orang dewasa.

Fraktur Colles

fraktur-gallezi

  • Fraktur traversus pada radius bagian distal dekat dengan pergelangan tangan dengan displacement ke dorsal

  • Fraktur paling umum pada usia lanjut. Fraktur ini sering dikaitkan dengan osteoporosis pada masa menopause. Pasien yang paling sering datang dengan fraktur ini adalah perempuan usia lanjut yang terjatuh dengan tangan terulur,

  • Pada fraktor tanpa adanya pergeseran, terkadang deformitas tidak ditemukan. Bengkak dan nyeri merupakan keluhan lain yang dapat diutarakan pasien.

  • Pada pemeriksaan x-ray patah dapat ditemukan pada corticocancelous junction, 2 cm dari pergelangan tangan. Sering juga diapatkan fraktur pada ulnar styloid. Patahan bagian dorsal bergeser ke arah sisi radial, fraktur dapat berupa impacted atau kominutif.

  • Pada patah tanpa pergeseran, dilakukan pemasangan dorsal splint selama 1-2 hari sampai bengkak berkurang, kemudian dilakukan pemasanan gips. Gips dipasang selama empat minggu kemudian hingga fraktur stabil. Setelah empat minggu gips dapat dilepas untuk memberikan lengan kesempatan mobilisasi.

  • Pada fraktur dengan pergeseran, reduksi harus dilakukan oleh spesialis ortopedi dan traumatology.

  • Pada fraktur kominutif, tatalaksana dilakukan sebagaimana fraktur tanpa pergeseran, kecuali jika fraktur tidak stabil.

  • Komplikasi yang dapat muncul pada fraktur ini adalah :

    1. Gangguan sirkulasi : gangguan sirkulasi harus diperiksa sebelum dan sesudah pemasangan gips
    2. Trauma pada nervus : bengkak yang pada terowongan karpal terjadi dapat menekan saraf medianus. Jika gejala ringan dapat dilakukan elevasi dan pelonggaran gips. Namun jika gejala berat, pembedahan perlu dilakukan untuk membebaskan nervus medianus.
    3. Trauma carpal dan radioulnar lainnya : pada fraktur-fraktur kompresi dapat terjadi perpendekan radius jika dibandingkan dengan ulna atau kerusakan pada sendi radioulnar yang dapat menyebabkna nyeri hebat. Nyeri tersebut dapat diakibatkan oleh strain dari ligament sekitar yang dapat tetap nyeri meskipun fraktur telah sembuh
    4. Ruptur tendon : tendon dapat rupture pada fraktur ini, terutama tendon ekstensor policis longus. Ruptur ini dapat terjadi bahkan setelah beberapa minggu setelah fraktur terjadi. Tatalaksana harus dilakukan oleh spesialis ortopedi untuk mengembalikan fungsi tendon dengan melakukan tendon transfer dari ekstensor lain karena tendon tidak gampang dijahit
    5. Kaku sendi : kaku sendi merupakan komplikasi umum yang terjadi setelah penyembuhan patah tulang. Umum terjadi pada pergelangan tangan.
    6. Complex regional pain syndrome : merupakan sindrom yang terjadi setelah mobilisasi lama. Gejala awal yang muncul adalah bengkak pada jari. Mobilisasi jari perlu dilakukan walaupun dalam pemakaian gips.

Trauma merupakan kasus yang sering ditemukan pada unit gawat darurat. Fraktur radius adalah salah satu yang tersering, baik karena trauma maupun tidak. Tatalaksana awal yang penting perlu dilakukan untuk mendapatkan prognosis yang baik bagi pasien. Edukasi yanga adekuat juga penting agar pasien tidak mencari pengobatan alternatif demi mendapatkan prognosis yang baik. Dokter adalah profesi yang kompeten untuk melakukan penanganan pada kasus-kasus trauma seperti fraktur radius. (RPG).


Sponsored Content

Buku Dissection adalah Buku Update Klinis di Bidang Ilmu Bedah.

Cocok untuk kamu yang

  1. Dokter IGD yang sering dapat kasus bedah
  2. Dokter umum yang pengen melanjutkan PPDS Bedah
  3. Sedang internship

Buku-Dissection-Cover

Buku-Dissection-4

Buku-Dissection-1

Harga 156 ribu

Pesan sekarang di Yahya 085608083342 (WA)

Referensi

  1. Apley, A., Solomon, L., Warwick, D., Nayagam, S. and Apley, A. (2005). Apley's concise system of orthopaedics and fractures. London: Hodder Arnold.
  2. Meena, S. et al. (2014) ‘Fractures of distal radius: An overview’, Journal of Family Medicine and Primary Care, 3(4), p. 326. doi: 10.4103/2249-4863.148101.