Tatalaksana Edema Paru Pada Pasien Dengan Dengue Shock Syndrome

Salah satu komplikasi terapi cairan pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah overload cairan, dengan gejala paling ditakutkan adalah edema paru.

Dilema muncul ketika pasien tersebut ada dalam kondisi syok hipovolemik atau Dengue Shock Syndrome (DSS), namun mengalami komplikasi Edema Paru Akut akibat overload cairan. Jika cairan dihentikan, pasien masih dalam kondisi syok, jika diteruskan akan memperburuk kondisi edema paru pada pasien.

Tatalaksana Edema Paru pada Pasien dengan Dengue Shock Syndrome

Sebelum membahas tatalaksana, sebaiknya dipahami dulu bagaimana edema paru akut bisa terjadi pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD).

Edema paru akut pada pasien DBD paling sering terjadi karena pemberian cairan yang terlalu cepat pada pasien dengan kebocoran plasma (48 jam fase kritis). Sederhananya, edema paru akut pada pasien DBD terjadi karena overload cairan selama terapi fase kritis. Selain edema paru akut, overload cairan juga dapat menimbulkan manifestasi lain seperti asites dan ARDS. Penyabab lain overload cairan meliputi

  1. Penggunaan larutan kristaloid (hipotonik) yang tidak tepat (mis. 1/2 NS)
  2. Pemberian transfusi darah yang tidak tepat
  3. Pemberian terapi cairan yang prolonged (mis. Terapi cairan masih diberikan walaupun sudah lewat 48 jam fase kritis)
  4. Ada komorbid yang mendasari (penyakit jantung kongenital, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, penyakit paru kronik dan penyakit ginjal kronik)

Ketika terjadi tanda-tanda overload cairan, tentu harus diidentifikasi penyebab terjadi overload cairan. Penyebab yang telah diidentifikasi harus segera diatasi.

Sekarang pertanyaannya, kapan kita harus curiga seorang pasien menderita overload cairan?

Diagnosis Klinis Overload Cairan pada Pasien Demam Berdarah Dengue

Ada beberapa tanda klinis yang bisa kamu jadikan patokan untuk mengenali seseorang yang mungkin mengalami overload cairan. Kita dapat membaginya menjadi tanda klinis awal dan tanda klinis akhir.

Tanda klinis awal meliputi

  1. Napas cepat
  2. Distres napas, pasien sulit bernapas
  3. Wheezing, krepitasi
  4. Efusi pleura luas
  5. Abdomen tegang (persisten) => curigai Asites
  6. Peningkatan tekanan vena jugular (JVP)

Tanda klinis lanjut meliputi

  1. Edema paru (batuk pink, wheesing, krepitasi, sianosis) => bedakan dengan perdarahan paru
  2. Gagal Jantung => sering kali diikuti dengan irreversible shock

Jika kamu menemukan satu atau lebih tanda di atas, curigai bahwa pasien DBD telah mengalami overload cairan. Itu artinya kamu harus segera melakukan tindakan koreksi, sehingga kondisi pasien tidak semakin memburuk.

Jika di tempat praktekmu ada fasilitas diagnostik yang cukup memadai, kamu sebaiknya mempertimbangkan untuk melakukan serangkaian tes penunjang di bawah

  1. Analisis Gas Darah
  2. Kadar Laktat
  3. Foto Thoraks (evaluasi kardiomegali, efusi pleura, tanda "bat's wings", Kerley B lines)
  4. EKG (untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan iskemia dan aritmia jantung)
  5. Biomarker Jantung

Karley B Lines dan Bat's Wings adalah dua tanda spesifik yang dapat kamu temukan pada gambaran foto thoraks pasien dengan edema paru akut. Namun hati-hati membedakan antara Karley B Lines dengan gambaran pembuluh darah.


Gambar: Bat's Wing Sign

Karley B Lines
Gambar: Karley B Lines

Tatalaksana Pasien Overload Cairan Dengan Dengue Shock Syndrome

Setelah kamu yakin bahwa pasien DSS yang kamu tangani mengalami overload cairan (mis. Edema Paru), segara tatatalaksana kegawatdaruratan. Hal pertama yang harus kamu pastikan adalah pastikan bahwa pasien mendapat oksigen yang cukup.

Pasien yang masih dalam kondisi syok dengan peningkatan kadar hematokrit, sebaiknya dilakukan titrasi secara hati-hati dengan pemberian cairan koloid hiperonkotik (5-10 mL/kgBB/jam) selama 1-2 jam. Biasanya cara ini efektif untuk menarik cairan di jaringan interstitial ke intravaskuler. Pemberian cairan dikurangi secara bertahap, sambil memonitor Tanda-Tanda Vital (TTV). Pada pasien dengan tipikal seperti ini, semua pemberian cairan sebaiknya sudah dihentikan maksimal 48 jam setelah kebocoran plasma terjadi (2x24 jam bebas demam tanpa parasetamol).

Pada pasien dewasa dapat dipertimbangkan pemberian furosemide untuk membantu proses diuresis. Furosemide dosis rendah 0.1-0.5 mg/kgBB/kali, diberikan 2-3 kali perhari cukup bermanfaat dalam membantu meresolusi keluhan edema paru. Kalau punya infussion pump, bisa juga diberikan furosemide 0.1 mg/kgBB/jam.

Dulu pernah ada kasus yang menarik di Bali. Ada seorang pasien dewasa dengan DBD derajat III (DSS) yang mengalami edema paru setelah pemberian Ringer Laktat 10 cc/kgBB (grojok) dan cairan rumatan. Kemudian diberikan cairan HAES 6% sebanyak 500 cc/24 jam dan Furosemide. Terjadi perbaikan setelah 36 jam kemudian.

Semoga Bermanfaat^^


=
Sponsored Content

Saat ini sudah ada 300++ dokter yang sudah pesan DVD DBD, sebagian besar ternyata pesan sebagai persiapan "outbreak DBD" beberapa bulan lagi. Bahkan ada yang bikin acara "nonton bareng" satu tim IGD dan Rawat Inap di Puskesmas... hehe. CERDAS.

Jika kamu pesan DVD DBD ini, dan mengajarkannya ke tim di Puskesmas/Klinik, maka angka kematian pasien DBD-mu akan turun signifikan tahun ini.

Salam Zero Death^^

Nb: Harganya 156 ribu. Mau Pesan? WA aja YAHYA di 085608083342